Tuesday, February 28, 2006

ألارض مسجد

Semalem, kami melewati malam dengan duduk melingkar, mencoba untuk berbagi tentang 'akar' [baca: batin, religi, ikhwal transenden, atau apapun namanya]. Setiap senin malam, dengan terbata-bata, kami mencoba untuk meresap 'firman' ke dalam seluruh madah kami. Satu persatu mengungkap kegelisahan, keyakinan, keraguan, pencarian, jawaban dan pertanyaan, semua berjalin kelindan menjadi utuh: kerinduan. Ya, setiap orang menelusuri 'jalan' yang masih 'remang', mencari cahaya untuk menerangi agar langkah kaki tak tersandung.

Dalam suatu kesempatan, saya pernah menyatakan bahwa agama jangan dibekap di masjid saja, ia mesti melimpah di manapun jua, bahkan di starbucks. ألارض مسجد kata Nabi. Bumi kita ini adalah masjid. Secara metaforik, beliau menegaskan bahwa semua bisa menjadi tempat untuk 'menyapa' Tuhan, meskipun kadang agak susah jika itu mesti dibacakan di tempat-tempat publik. Oleh karena itu, cukup di hati, jika tidak akan mengundang cemoohan, sebab kita adalah orang aneh yang sedang pamer menjadi orang saleh.

Lalu, pernahkah 'tuhan' hadir dalam keramaian? Agak riskan mengatakan ya. Maka sebelum itu menjadi kesadaran, biarkah kita memulai dari rumahnya [masjid dalam bentuk fisik]. Belajar alif, ba dan ta dengan menyicil, tak perlu instant, karena kita sedang melatih 'kaki' merangkak, berjalan dan akhirnya berlari menuju puncak.

***

Selesai sudah mengisi 'hati' dengan asupan, lalu kami beranjak untuk pergi ke Gelugor, makan malam. Kadang, saya protes, apakah hidup kita ini hanya untuk melakukan 'ritual' ini berulang-ulang? Tidakkah, upacara ini dilompati saja untuk digantikan dengan sesuatu yang baru: makan cukup sekali, tak perlu tiga kali. Hidup cuma sebentar hanya untuk dihabiskan di meja makan.

Pulang dengan bayangan bisa ke katil untuk tidur dan diawali dengan membaca roman Taufik Ikram Jamil Gelombang Sunyi sambil mendengar lamat-lamat suara radio yang tanpa mengenal lelah menghibur. Tak pasti, pukul berapa saya mematikan lampu dan menutup buku untuk memejamkan mata. Lelap. Sungguh lelap karena saya hanya minum air putih setelah makan, tidak teh tarik yang mengandung kafein. Tidak hanya itu, malah mimpi malam ini indah. Saking lelapnya, saya tidak tahu kalau pukul tiga hujan deras dan bel sirine tanda kebakaran berdenting. Saya hanya merasakan pagi yang menyemburatkan sinar, memantulkan kesegaran dan cerita teman karib bahwa bel itu mengganggu tidurnya.

Sarapan di bakti cermai adalah cerita lain tentang tempat favorit karena mata diperlihatkan taman yang kehijauan karena air hujan semalam membuatnya basah. Bahkan, sisa-sisa air berjatuhan dari ranting karena sekawanan burung menginjakkan kakinya. Ups, butiran-butiran itu berkilauan di tempa cahaya pagi. Benar-benar pemandangan yang menentramkan!

Oh ya, tadi saya bertemu dik Woelan, dengan jilbab menutupi rambutnya yang biasanya dibiarkan tergerai. Sapa dan salam menghiasi pertemuan. Telah lama kami tidak bercengkerama, tapi itu udah cukup untuk memulai kembali hari-hari yang penuh canda.

Ahmad : Gi mana persiapan untuk persembahan ISEAC?
Woelan : Nggak tahu, nech lagi batuk.
Ahmad : Dari mana?
Woelan : Ada kelas, tadi.
Fauzi : Wah, sepagi ini udah kelar kuliah? [teman karib Melayu saya]
Woelan : [tersenyum]

Lalu, kami memilih 'tempat' yang berbeda untuk bertemu lagi di lain suasana.

Monday, February 27, 2006

redup, murung, dan terpental

Di meja pinggir Jendela, minggu 26 Februari 2006

Betapa saya sering merindukan hujan di sini. Seperti pagi ini, saya menikmati ‘redup’ karena langit sedang meneteskan air ke bumi. Tapi, redup tidak berarti murung, redup adalah keinginan untuk membuat hati ‘dingin’, otak tidak meradang karena dibebani oleh ‘banyak’ ingatan yang hasus dilesakkan.

Hari ini, semua berjalan seperti biasa. Sarapan, baca dan menulis untuk blog. Saya tidak ingin menyebutnya rutinitas, lebih jauh intensitas. Pengulangan itu tidak mesti membuat kita bosan, apalagi merasa skeptis, karena hidup tak lebih dari mesin raksasa, yang kita adalah bagian komponen. Jika tidak mengikuti alurnya, kita terpental, berada di luar sistem, membuat gamang untuk memulai dari mana lagi mesti mengisi hari-hari.

Menulis artikel tidak hanya membuat otak bekerja, tapi rasa turut andil dalam merubah estetikasi kalimat. Keduanya tak perlu diceraiberaikan, mungkin prosentasenya aja yang tidak imbang. Ya, selalu ada ketegangan antara keduanya, tarik menarik dan tak perlu berada pada titik ekstrim.

Membaca Kembali

Sebelum tidur, saya sering membuka kembali buku Catatan sang Demonstran Gie. Dulu, semasa di S1, saya pernah membacanya dalam bentuk buku saku, dengan warna sampul hijau.

Saya rasa ada banyak 'kejujuran' karena ia ditulis sebagai milik pribadi, bukan milik publik. Menelaah buku yang telah usai konteksnya, saya hanya bisa meraih semangat yang berserak di mana-mana. Untuk itu, Gie mesti membayar mahal, perasaan sepi karena semakin sulit untuk dipahami dan menambah orang yang memusuhi.

Ternyata, saya juga naif karena masih berkutat dengan dunia yang mesti dilalui, dunia gemeretap karena tidak rela pembusukan terjadi, bahkan di sekitar kita sendiri. Usia beranjak tua, seharusnya pendulum tidak lagi bingung ke kanan dan ke kiri, hanya karena menjalankan tugasnya sebagai penanda 'jam' [hidup?] terus berjalan.

Sekarang, saya harus mengambil alih 'tuntutan' kerumunan menjadi 'keyakinan' pribadi yang tidak dapat diusik oleh orang lain. Inilah kesejatian yang perlu ditegakkan, meskipun pondasinya kadang rapuh.

Dimulai, Gelombang Sunyi oleh Taufik Ikram Jamil, saya mencoba mengisi 'masa luang' dengan menerapkan 'kajian' yang ditekuni, aplikasi!!! Ya, saya sedang bergelut dengan hermeneutik, yang dijadikan sandaran untuk memulai 'menyingkap' huruf, menjemput makna dan akhirnya melakukan tindakan.

Kata Georgia Warnke, kita kadang bisa membayangkan isi buku dari Judulnya. Biasanya, saya mendengar kata Gelombang, sesuatu yang muncul pertama adalah laut dan suara: ya, gelombang ombak dan radio saya berbunyi karena ada gelombang. Lalu, sunyi? Ah..kata ini hampir-hampir tidak hanya menjadi kata utama, tapi juga mendera kesendirian adalah suasana tanpa suara, kata bahkan bunyi. Pernahkah ini terjadi di tengah hiruk-pikuk manusia dan jejalan teknologi yang mengepung rumah kita? Mestikah aku lari ke hutan? Di sana masih ada suara mesin menggerus pohon, suara binatang ketakutan karena manusia membabat habis habitatnya, dan akhirnya saya tahu bahwa sunyi bisa hadir di hati, sambil menarik napas akhirnya sunyi itu nyata.

Sebagai sebuah roman [Taufik tidak suka kata Novel], buku ini akan menemani saya sebelum tidur, bahan agar mimpi saya tidak hanya kenyataan tapi juga memang betul-betul impian yang diharapkan menjadi kenyataan. Atau, inikah cara membunuh imsomnia yang kadang menghantui saya menjelang tidur? Tidak, saya susah tidur karena minum teh tarik yang mengandung kafein. Maka, jangan coba-coba mereguknya di waktu malam.

Saturday, February 25, 2006

bertemunya horizon

Saya mengucapkan takzim atas Mas Puji yang telah turun gunung untuk memberikan 'pandangan alternatif' tentang kemelut yang sedang melanda 'padepokan' PPI. Ini langkah elegan untuk meredakan ketegangan sekaligus mencerahkan karena diselipi dengan pelbagai teori, meskipun management, tapi kok "berbau" psikologi ya?

Dalam teori kebenaran korespondensi filsafat, sebuah pernyataan dianggap benar jika ia cocok dengan kenyataan. Saya rasa ini makin menguatkan argumentasi tentang cognitive dissonance yang dikutip Mas Puji.

Kerelaan Mas Puji, Pak Nasir, Rinza, WheezaCute, berbagi di sini dengan latar belakang yang berbeda makin mengkayakan sudut pandang dalam menilai 'posisi' kelompok yang sedang berseteru. Benar-benar, mereka telah menorehkan warna di ruang 'silaturahmi' ini sehingga suasana tidak melulu 'gelap'. Ada pelangi di PPI.

Tentu saja, setiap orang akan membawa premis [pernyataan] yang dibayangi oleh 'tradisi' [latar belakang pendidikan, lingkungan, ideologi] dalam menyoal premis orang lain. Dengan perbincangan ini, adalah mungkin untuk bertukar dan mungkin merubah sehingga memperoleh pemahaman yang lebih baik, lebih maju dan menyeluruh.

Selain itu, keterbukaan terhadap perbedaan ini akan makin mendekatkan kita karena dengan sendirinya kita akan mengerti 'gaya' dan 'suasana' psikologis orang lain. Berkah yang perlu disyukuri bukan?

Wednesday, February 15, 2006

PPI USM dan IPSAA USM

Yang Terhormat teman-teman Indonesia,

Secara pribadi, saya mempunyai keyakinan bahwa acapkali kita terjebak pada perbedaan yang tipis antara Bentuk (form) dan Isi (substance) dari sebuah realitas, sehingga masing-masing bertengkar tanpa menyadari bahwa apa yang diperebutkan adalah kesia-siaan.

Masih ada waktu untuk memikirkan kembali hubungan emosional sesama anak bangsa yang dirobek oleh kemarahan karena keengganan untuk saling memahami.
Meskipun tugas utama kita belajar, tapi tidak menutup pintu untuk menerapkan hasil pembacaan dalam ranah konkret, yaitu mengaplikasikan pengetahuan yang didapat dalam kenyataan keseharian: instrumen yang digunakan bisa PPI dan IPSAA. Lalu, kenapa masing-masing berusaha untuk meraih legitimasi dengan mengabaikan yang lain? Siapakah yang mempunyai otoritas untuk memberikan keleluasaan satu kelompok berkumpul dan mengeluarkan pendapat di sini? Alasan apakah yang bisa diajukan bahwa kebenaran ada di kami dan tidak mereka? saya yakin bahwa jawabannya pasti berbeda dan ini tidak menghalangi terciptanyaa kebersamaan untuk berbuat yang terbaik bagi kita semua di sini.
Hanya saja, pertikaian ini diharapkan tidak menghancurkan bangunan keindonesiaan, sebab harganya terlalu mahal untuk sesuatu yang remeh-temeh.

Saya tidak akan pernah mengusik keasyikan orang lain sebab mereka telah mempunyai dunianya sendiri. Lalu, biarkan saya juga menekuni dan menekuri dunia yang sama pahami. Jika Anda tidak memahami, maka sebenarnya anda memahami dalam bentuk yang berbeda. Semoga.

Ahmad Sahidah
Pendapat Pribadi

Monday, December 26, 2005

Identitas yang Terbelah

Identitas yang Terbelah - Minggu, 25 Desember 2005

Judul : Islam in Southeast Asia: Political, Social and Strategic Challenges for the 21st Century
Pengarang : K. S. Nathan dan Mohammad Hashim Kamali (ed.)
Penerbit : ISEAS, Singapura
Cetakan : I, 2005
Tebal : xxiii + 458 halaman

Buku ini adalah hasil suntingan dari sebuah konperensi bertajuk “Islam in Southeast Asia: Political, Social and Strategic Challenges for the 21st Century” yang diselenggarakan oleh Institut Kajian Asia Tenggara Singapura (ISEAS, Institute for Southeast Asian Studies). Namun demikian, seperti ditulis editor dalam prakata, ia telah mengalami perubahan dan pembaruan dengan memasukkan perkembangan terbaru yang menjelaskan peran, relevansi dan tantangan demikian juga dimensi politik dan strategi Islam di Asia Tenggara masa kini.

Kehadiran kumpulan karangan ini akan membantu memberikan pemahaman lebih luas mengenai dinamika respons gerakan Islam yang tersebar di negara Asia Tenggara. Meskipun, di satu sisi, mereka mempunyai ideologi dan garis perjuangan yang berbeda, namun di sisi lain, mereka menunjukkan pandangan dan reaksi yang sama dalam isu lain. Di Indonesia misalnya, Muhammadiyah, NU dan Majelis Mujahidin mengungkapkan pandangan yang serupa terhadap serangan Amerika ke Afganistan dan Iraq sebagai barbar dan menyalahi norma-norma kemanusiaan.

Menurut penyunting, perkembangan sosial, ekonomi dan politik kawasan ini tidak bisa dilepaskan dari proses globalisasi yang menyebabkan kondisi kemanusiaan tidak aman dan berbahaya. Walaupun globalisasi pada awalnya dijanjikan sebagai kendaraan bagi pembelaan terhadap martabat manusia dan demokrasi, tampaknya hanya makin memusatkan kekayaan dan kekuasaan yang lebih besar bagi Barat.

Tak dapat disangkal, bahwa peristiwa 11 September telah menyebabkan, apa yang disebut Subroto Roy, "runtuhnya sebuah percakapan global", karena dengan kekuasaannya yang besar negeri Paman Sam telah memaksakan kehendaknya menyerang sebuah negara tanpa persetujuan internasional. Peristiwa ini menandai putusnya percakapan kosmopolitan dengan Islam. Usaha George W Bush untuk meyakinkan umat Islam bahwa perang ini bukan perang agama tapi tidak menghapuskan sentimen anti Amerika dengan segala bentuknya. Hal ini, tegas editor, akibat dari sudut pandang negara Islam dan Amerika yang berbeda melihat kebenaran.

Islam Asia Tenggara yang mempunyai peran strategis, berbeda dengan counterpartnya di Timur Tengah, mewakili wajah lain. Perbedaan ini dapat ditelusuri dalam beberapa makalah yang dibagi ke dalam tiga bagian, pertama, doktrin, Sejarah, Perkembangan dan Lembaga-Lembaga Islam di Asia Tenggara, kedua, Isu Politik, pemerintahan, masyarakat sipil dan jender di dalam Islam, ketiga, modernisasi, Globalisasi dan perdebatan Negara Islam di Asia Tenggara dan terakhir adalah Pengaruh 11 September terhadap pemikiran dan praktik Islam.

Tema-tema di atas dibahas oleh para ahli dari negara Asia Tenggara termasuk juga melibatkan penulis asing yang menarut minat pada isu keislaman, seperti Johan H. Mueleman dan Bernard Adeney-Risakotta, sedangkan penyumbang dari Indonesia adalah Azyumardi Azra, Bachtiar Effendy, Lily Zakiah Munir dan Noorhaidi Hasan. Beberapa penulis lain dari Asia Tenggara memang dikenal sebagai ilmuwan yang mempunyai kepedulian yang besar terhadap isu-isu keislaman Asia Tenggara.

Ulasan Azra dan Meuleman tentang sejarah datangnya dan berkembangnya Islam di Asia Tenggara, baik dalam pengertian teknis dan ideologi, menunjukkan keragaman pendapat, yang satu sama lain mengajukan bukti yang berbeda, sehingga makin mengukuhkan bahwa pelbagai mazhab di Indonesia adalah sebuah keniscayaan mengingat sumber pengaruh yang berbeda. Teknik, jelas Meuleman, maksudnya adalah sal daerah, kelompok atau etnik dan periode penyebaran Islam ke Asia Tenggara, sedangkan ideologi berkaitan dengan keyakinan yang meluas bahwa bentuk islam yang paling murni adalah yang lahir pada masa awal kelahiran agama ini. Namun demikian, dengan pelbagai perbedaan temuan, pembawa Islam ke Asia tenggara berasal dari bukan Mekah dan Madinah sebagai tempat lahirnya Islam, tetapi dari Yaman, Mesir, dan Gujarat India.

Sebagaimana kondisi Islam, dua negara tetangga Malaysia dan Filipina, juga dihadapkan dengan polarisasi aliran, tradisional-modernis, konservatif -liberal. Islamisasi di negara tersebut terakhir, tulis Carmen, para missionaris dan pedagang Islam kawin dengan penduduk lokal, para tokoh politik Muslim tiba kemudian dan memperkenalkan lembaga politik dan agama, keluarga berkuasa Muslim Sulu, Maguindanao, Lanau, Borneo dan Maluku membentuk aliansi yang memperkukuh dan memperdalam kesadaran Islam. Jika, demikian, maka sebenarnya proses proselytisasi itu berlangsung secara damai.

Lalu, bagaimana potret masyarakat Muslim di Asia Tenggara sekarang ini? Jawabnya tentu beragam. Setelah peristiwa 11 September, respons terhadap peristiwa ini beragam karena memang peta masyarakat muslim di kawasan ini tidak tunggal. Adeney-Risakotta, pernah mengajar saya di IAIN menyampaikan secara lisan di kelas bahwa dia anti perang Amerika terhadap Irak, menulis dengan versinya sebagai orang Amerika bahwa usaha apa pun Amerika untuk meyakinkan bahwa Islam tidak menjadi target gagal untuk kebanyakan muslim di Asia tenggara. Tambahnya lagi, meskipun terdapat simpati terhadap korban pengeboman WTC, dan kebanyakan Muslim mengutuk tragedi yang menewaskan ribuan orang, tapi serangan kek Afganistan dan Irak lebih jauh mendapat respons emosional (hlm.326).

Carmen memaparkan lebih jauh bahwa 11 September, bagi minoritas muslim sebagai bencana, karena mereka mulai merasa terjepit dan terkadang menempatkan mereka jadi sasaran permusuhan. Mungkin di Filipina, komunitas Muslim dihadapkan dengan tekanan karena di Selatan mereka menjadi kelompok pemisah yang melakukan pemberontakan bersenjata. Sekarang, pemerintah telah menemukan momentum untuk menanggapi sempalan ini dengan stigma perang melawan terorisme.

Berbeda dengan negara-negara tetangganya, Malaysia relatif berhasil menempatkan agama Islam secara harmonis dalam kehidupan masyarakatnya yang relatif majemuk, baik dari segi agama, etik dan budaya. Shamsul, pemikir utama dari Negeri Jiran, dengan baik menyebut Islam politik moderat sebagai alasan keberhasilan mereka menjaga stabilitas, meskipun tidak bisa dilepaskan dari pengaruh birokrasi yagn diwariskan oleh kolonialisme Inggris (hlm. 114). Dengan mengutip Syed Naquib al-Attas, Inggeris telah berhasil melakukan proses sekulerisasi, yang memisahkan praktik agama dan kenegaraan.

Bagi Muslim, Islam dianggap sebagai agama paripurna di mana politik, ekonomi dan agama serta masyarakat berjalin kelindan menjadi satu kesatuan (hlm.xv). Berbeda dengan non-Muslim yang terbiasa dengan proses politik ekonomi dan sosial sekuler, maka pemisahan politik dan agama masih asing, meskipun penerapan agama dalam politik di dalam sejarah Islam beragam. Lalu, pertanyaan yang acapkali apakah, Islam itu sejalan dengan demokrasi yang berpijak pada agenda masyarakat sipil? Jawaban terhadap persoalan ini juga beragam. Tidak ada kata tunggal untuk memberikan kata akhir.

Di dalam inventarisasi pelbagai pendapat tentang kesesuaian Islam dengan demokrasi atau tidak, sebenarnya, persoalan mendasar adalah perdebatan otentisitas tanpa mengabaikan kerusakan yang lebih besar, sebab ulasan beberapa penulis telah menunjukkan bahwa militansi telah menjadi hallmark lanskap politik di Indonesia, termasuk negara-negara Asia tenggara yang lain. Tentu saja, peran Indonesia menentukan karena sebagaimana penerbit buku ini (ISEAS) juga telah merumuskan dalam seminar baru-baru ini di Singapura bahwa Indonenesia akan menjadi negara terpenting dalam ikut menentukan peradaban dunia karena berada di simpang arus ideologi global, sumber daya alam dan kombinasi unik peradaban Muslim, tanpa mengenyampingkan peran negara lain. Semoga.


Ahmad Sahidah Mahasiwa Doktor Peradaban Islam Universitas Sains Malaysia


[Sumber KOMPAS, 16 September 2006]

Saturday, December 24, 2005

Merayakan Ritual Baru

Minggu, 25 Des 2005,
Merayakan Ritual Baru

Judul Buku : Enchanting A Disenchanted World: Revolutionizing the Means of Consumption
Penulis : George Ritzer
Penerbit : Pine Forge Press, Amerika
Cetakan : Edisi kedua, 2005
Tebal : xii+261 halaman


Dalam pengantarnya, Goerge Ritzer memaparkan bahwa seorang konsumen sekarang bisa melakukan banyak hal, seperti berbelanja di sebuah mall penuh warna dengan ratusan toko dari merek terkenal dan jutaan barang dan jasa yang tinggal pilih, atau menghabiskan waktu di sebuah mega-mall yang tidak hanya meliputi toko tetapi juga taman hiburan, atau makan di sebuah restoran “tema”, di mana tempat, staf, dan makanan yang disediakan mengingatkan pada hutan tropis atau dunia musik rock. Pendek kata, manusia hanya perlu ‘kemauan’ untuk memanjakan nafsu hedonis.

Tampaknya, sebuah perubahan revolusioner telah terjadi pada banyak tempat di mana kita bisa mengkonsumsi barang dan jasa. Hal ini, tegas Ritzer, tidak hanya mempengaruhi hakikat konsumsi tetapi juga kehidupan sosial. Dua hal terakhir inilah yang akan dijawab oleh sang penulis. Semua tempat yang tersebut di atas adalah lokasi yang memungkinkan kita untuk mengonsumsi sejumlah barang dan jasa yang disebut sarana konsumsi. Namun, tempat ini terkadang disusun untuk memaksa kita berprilaku konsumtif.

Dengan nada provokatif, sang penulis mengungkapkan bahwa sarana konsumsi ini sebagai katedral yang menunjukkan quasi-religious, yang menarik kita untuk mempraktikkan agama konsumeristik. Lebih dari itu, ia telah mengalahkan tempat publik lain seperti universitas, tempat bermain bola, rumah sakit, musium, gereja dan sebagainya. Sepintas, fenomena ini juga terjadi di sini, di mana mal dan tempat berbelanja yang lain dipenuhi masyarakat, meskipun hanya sekedar cuci-mata (window shopping). Tidak hanya itu, rangsangan untuk berbelanja telah merasuki ruang tamu kita dengan adanya iklan yang merayu pemiarsa untuk berbelanja melalui televisi.

Persoalannya, mengapa begitu banyak masyarakat ingin lebih banyak lagi mengkonsumsi barang? Salah satu alasannya adalah banyaknya orang yang mempunyai sumber keuangan dan mereka bernafsu untuk menghabiskan untuk konsumsi pribadi. Belum lagi, iklan yang progresif dari produsen untuk meyakinkan konsumen akan pentingnya barang dalam kehidupan mereka, meskipun sebenarnya bukan kebutuhan pokok yang mesti segera dipenuhi. Keinginan ini juga diperparah dengan adanya kartu kredit yang memungkinkan pemiliknya tergoda untuk memuaskan keinginan memiliki produk yang dijajakan di rumah, pinggir jalan bahkan kampus tidak luput dari tangan-tangan tenaga penjualan.

Tanpa disadari, meminjam William Leach, pemenuhan kebutuhan artifisial ini dianggap sarana untuk mencapai kebahagiaan, kultus baru, demokratisasi keinginan dan nilai uang sebagai ukuran yang paling menonjol dari semua nilai dalam masyarakat. Hampir semua tempat yang tidak berkaitan dengan lokasi penjualan telah dipenuhi barang-barang konsumsi seperti kampus, gedung bioskop, dan sekolah.

Kalau sebelumnya perusahaan berusaha untuk memberikan apa yang diinginkan konsumen, sekarang bergeser mejadi penekanan untuk memaksa konsumen untuk menginginkan dan “membutuhkan“ barang yang dijual dan dihasilkan mereka. Perusahan hanya tertarik pada “standardisasi, produksi massal dan distribusi massal“ dan konsumen dipandang tak lebih daripada unit dari massa atau sebagai konsumen massa. Akibatnya, jelas Ritzer, masyarakat Amerika semakin terjebak pada apa yang disebut dengan hyperconsumption dan memang kebanyakan dari mereka terobsesi dengan keinginan untuk membeli barang.

Nafsu ini telah mengalahkan perang ideologi abad keduapuluh, menundukkan agama dan politik sebagai jalan yang diikuti oleh jutaan orang Amerika untuk mendapatkan tujuan, makna dan tatanan serta pengagungan yang transenden. Tentu saja, prilaku semacam ini belum merasuk pada masyarakat kita, tapi tanda-tanda ke sana mulai nampak dengan semakin banyaknya dibangun tempat perbelanjaan, misalnya, Yogyakarta sebagai kota kecil telah berbenah diri menjadi pusat belanja. Apalagi daya beli masyarakat yang masih rendah,namun seiring dengan masa transisi ke kehidupan ekonomi yang lebih baik, maka masyarakat akan dihadapkan dengan gejala yang sama seperti di Amerika. Bukankah, pada masa krisis ini, mall masih menjadi tempat yang ramai dikunjungi banyak orang, apa pun motivasinya?

Kemudahan untuk konsumsi ini ditunjukkan dengan sarana yang diciptakan secara kreatif untuk memudahkan pengunjung, seperti One-Stop Shopping, tempat berbelanja yang dibuat semenarik mungkin, swalayan, sehingga model betul-betul ini merubah relasi sosial karena penjual dan pembeli tidak lagi bertatap muka. Singkatnya, sarana konsumsi ditandai dengan interaksi manusia dengan benda bukan dengan orang.

Buku ini juga membantu kita untuk menyelami lebih jauh isu-isu berkenaan dengan konsumen dari segi ras, gender dan kelas di Amerika. Tentu saja, peta di negeri paman Sam akan berbeda dengan di Indonesia, namun secara keseluruhan berguna untuk melihat fenomena dunia konsumeristik di negeri yang belum pulih dari krisis ini, sehingga ia bisa dijadikan sarana pembelajaran bagaimana menjadi pembeli yang baik.

Memang, buku ini tidak berusaha untuk mengkritik nafsu membeli masyarakat, tapi lebih secara deskriptif menggambarkan bagaimana pola konsumsi itu lahir dan diciptakan oleh industri massa untuk mengeruk keuntungan, bahkan mengeksploitasi mereka dengan pelbagai cara mengemas jualannya. Pelbagai teori sosial digunakan untuk memahami fenomena ini.

Selain itu, berdasarkan paparan Ritzer, pembaca bisa mengamati bahwa kebanyakan pusat-pusat konsumsi di negara kita itu adalah derivasi dari model-model Barat, yang belum sepenuhnya bisa dinikmati karena daya beli masyarakat kita yang rendah dan terkadang tidak sejalan dengan kebiasaan mereka sehari-hari. Meskipun, kita bisa melihat bahwa kreativitas untuk meniru KFC (Kentucky Fried Chicken) dengan menjadi ’’Kentuku“ Fried Chicken sebagai cara agar ritual makan kita tidak sepenuhnya adopsi dari sebuah kebudayaan yang sebenarnya asing patut diapresiasi. Semoga. []
------


*) Ahmad Sahidah
Kandidat Doktor Ilmu Humaniora Universitas Sains Malaysia

Lari Sore

Setelah lari sore bersama Zumi di kawasan Paiton Energy POMI, saya melewati KDMP ini. Tak jauh dari lokasi koperasi tergambar, ada toko Veve...