Inilah komentar saya di miol Media Indonesia.
Saya baca FPI juga terlibat dalam kerja kemanusiaan di Aceh. Mungkin, ke depan, organisasi ini lebih memfokuskan kerja-kerja sosial yang langsung dirasakan oleh masyarakat.
Ia tak perlu dibubarkan, sebab semangatnya perlu dihargai dan mendapat ruang untuk turut serta dalam kegiatan amal.
Semoga, perselisihan ini berakhir dengan keyakinan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Energi jangan habis untuk mengobral kata, sementara kita asyik dengan 'pikiran' saja, bukan tindakan.
Ayo, FPI turun ke Yogyakarta!
Wednesday, May 31, 2006
Tuesday, May 30, 2006
Tentang Yogya
Gempa yang meruntuhkan sebagian daerah Yogyakarta ini menimbulkan ingatan yang pejal. Ia tidak hanya mengingatkan gempa kecil ketika saya masih berada di kota ini. Bahkan, pada suatu masa, saya melihat cahaya kemerahan dari lava tahun 1994 dan akhirnya menyemburkan letusan hebat.
Lalu, kemarin saya meminjam dua novel tentang Yogya yang ditulis oleh N Morewo, Pulang dan Satu Hari di Yogya. Saya berharap saya lebih mengenal kedalaman, bukan permukaan dari hiruk-pikuk kehidupan lapisan bawah. Ternyata, banyak kehidupan mahasiswa yang tak sempat mampir di benak saya. Benar-benar pengingat yang berharga untuk memikirkan kembali 'peran' yang setengah hati. Mereka telah berebut 'jatah' hidup dengan kemiskinan.
Lalu, apa yang akan saya ceritakan tentang diri ketika di Yogya?
Lalu, kemarin saya meminjam dua novel tentang Yogya yang ditulis oleh N Morewo, Pulang dan Satu Hari di Yogya. Saya berharap saya lebih mengenal kedalaman, bukan permukaan dari hiruk-pikuk kehidupan lapisan bawah. Ternyata, banyak kehidupan mahasiswa yang tak sempat mampir di benak saya. Benar-benar pengingat yang berharga untuk memikirkan kembali 'peran' yang setengah hati. Mereka telah berebut 'jatah' hidup dengan kemiskinan.
Lalu, apa yang akan saya ceritakan tentang diri ketika di Yogya?
Sunday, May 28, 2006
Yogya berduka
Kemarin keluarga Yogya mengirim kabar tentang gempa yang meluluhlantakkan sebagian daerah dan meninggalkan korban masih pada angka ratusan.
Sebagai warga kota Pelajar sejak 1992, saya merasakan kehadiran kota ini hingga ke sumsum. Tiba-tiba, sekarang ia harus menanggung bencana yang dahsyat. Kemanakah mereka berteduh?
Membaca berita dari surat kabar Malaysia Utusan telah cukup untuk menyadarkan kami tentang penderitaan yang akan diusung.
Sebagai warga kota Pelajar sejak 1992, saya merasakan kehadiran kota ini hingga ke sumsum. Tiba-tiba, sekarang ia harus menanggung bencana yang dahsyat. Kemanakah mereka berteduh?
Membaca berita dari surat kabar Malaysia Utusan telah cukup untuk menyadarkan kami tentang penderitaan yang akan diusung.
Saturday, May 27, 2006
Hujan Semalam
Hujan selalu mendatangkan harap bahwa esok pagi akan segar. Meskipun tidak deras, tapi tetesannya bisa terlihat dari dekat lampu jalan.
Setelah makan malam, saya kembali ke kamar. Untuk melemaskan otot, saya nonton film 'ringan' Charlie's Angles: Full Throttle. Tak perlu banyak mengerutkan dahi, tema, plot dan karakternya jelas, tidak rumit. Tidak puas dengan film laga ini, saya masih berkutat untuk melanjutkan nonton film lain berjudul Trapped. Alurnya memang menegangkan, tapi masih menyisakan haru untuk menguras emosi. Kehadiran Charlize Theron, Courtney Love (Si Janda Court Cobin) dan yang menggemaskan Dakota Fanning membuat film ini enak ditonton. Seperti biasa, ia berakhir bahagia. Yang benar dimenangkan dan yang jahat dikalahkan, bahkan mati.
Lalu, naik ke lantai atas, saya membuka kembali buku yang baru dipinjam The Politics of Islam in Contemporary Malaysia oleh Kamarulnizam Abdullah. Dengan pendekatan konsep 'keamanan' (The Concept of Security), ia mencoba untuk menjelaskan pertarungan kelompok sekuler (UMNO) dan agama (PAS) dalam memperebutkan otoritas politik dan agama di tanah Melayu ini.
Pembacaan ini membuka banyak kemungkinan penjelasan tentang pertarungan pelbagai kelompok untuk meraih kekuasaan politik dan ekonomi. Tentu saja, keterlibatan orang Indonesia sangat menarik karena turut meramaikan hiruk-pikuk pertengkaran di tanah Jiran ini.
Setelah makan malam, saya kembali ke kamar. Untuk melemaskan otot, saya nonton film 'ringan' Charlie's Angles: Full Throttle. Tak perlu banyak mengerutkan dahi, tema, plot dan karakternya jelas, tidak rumit. Tidak puas dengan film laga ini, saya masih berkutat untuk melanjutkan nonton film lain berjudul Trapped. Alurnya memang menegangkan, tapi masih menyisakan haru untuk menguras emosi. Kehadiran Charlize Theron, Courtney Love (Si Janda Court Cobin) dan yang menggemaskan Dakota Fanning membuat film ini enak ditonton. Seperti biasa, ia berakhir bahagia. Yang benar dimenangkan dan yang jahat dikalahkan, bahkan mati.
Lalu, naik ke lantai atas, saya membuka kembali buku yang baru dipinjam The Politics of Islam in Contemporary Malaysia oleh Kamarulnizam Abdullah. Dengan pendekatan konsep 'keamanan' (The Concept of Security), ia mencoba untuk menjelaskan pertarungan kelompok sekuler (UMNO) dan agama (PAS) dalam memperebutkan otoritas politik dan agama di tanah Melayu ini.
Pembacaan ini membuka banyak kemungkinan penjelasan tentang pertarungan pelbagai kelompok untuk meraih kekuasaan politik dan ekonomi. Tentu saja, keterlibatan orang Indonesia sangat menarik karena turut meramaikan hiruk-pikuk pertengkaran di tanah Jiran ini.
Thursday, May 25, 2006
Singapura: Bayang dan Kenyataan
Saya banyak bertanya pada teman-teman tentang cara mudah untuk masuk ke negeri Tamasek ini. Bejibun informasi yang diberikan, tapi justeru dihadapkan pelbagai pilihan. Pukul 7 kami berangkat dari Terminal Larkin dengan bis BBS. Herannya, karcisnya cuma RM 1.70. Tiba-tiba, saya sudah diperlihatkan penumpang yang antri naik dengan teratur, sehingga serentak saya membayangkan bahwa ini adalah awal dari budaya tertib negeri Singa ini.
Perjalanan terhambat karena saya dengan Mas Tauran mesti mengecap paspor keluar dari Malaysia dan mencari bis dengan perusahaan yang sama untuk melanjutkan tour ini. Karena pertama kali masuk, di imigrasi, kami ditanya maksud kedatangan. Bermodal surat keterangan dari Kampus USM untuk mengunjungi Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) dan National University of Singapore, tak lebih dari sebelas menit kami melenggang mencari bis menuju stasiun Queen Street. Di dalam bis, di belakang kami tiga anak Jakarta yang jalan-jalan ke kota denda (Fine City). Saya tahu keduanya keturunan Cina, tapi logat Betawinya medok. Dengan senang, mereka memberitahu tempat murah untuk menginap, "Coba aja di sekitar Jalan Arab."
Ups, di tengah jalan kami melihat pemutaran film di tanah lapang, seperti layar tancap atawa misbar di Indonesia, yang sedang menayangkan film India. Saya rasa di sini memang kawasan pekerja India. Kami sempat ke hotel murah yang bisa dihuni enam orang, tapi karena ingin lebih leluasa, kami berbalik ke hotel $ 40 semalam. Setelah mandi, kami beranjak untuk menelusuri Jalan Orchad. Meski jauh dari tempat penginapan, kami bergegas untuk segera menikmati malam di Singapura.
Orang banyak menyebut jalan ini tempat yang harus dilewati jika melawat Singapura. Karena udah tengah malam, saya hanya melihat beberapa orang yang masih bergeming untuk bersahabat dengan dingin malam. Sepanjang jalan Orchard hanya temaram lampu dan gedung yang berdiri angkuh. Hanya dua toko masih buka. Kami berdua berhenti sejenak untuk membeli oleh-oleh cenderamata. Lalu, melanjutkan perjalanan mengukur tapak yang membuat kaki pegal.
***
Esok paginya, kami berdua ke ISEAS untuk mencari bahan. Kebetulan lembaga ini berada di areal Universitas Nasional Singapura yang menduduki tempat ke 22 di dunia (Times Supplement, 2005). Tempat yang asri membuat kami betah. Apalagi, mereka berlangganan koran negara Asia Tenggara. Untuk Indonesia, mereka berlangganan KOMPAS, Republika, dan Media Indonesia. Bahkan, kami juga sempat berbincang dengan Senior Research Fellow Dr. Aris Ananta yang udah tujuh tahun berada di Singapura. Keindonesiaan benar-benar menjadi pengikat emosi dan intelektual untuk bertegur sapa dan akhirnya membincangkan kondisi tanah air. Beliau mengungkapkan istilah brain drain, untuk mengukuhkan sumbangsih perantau Indonesia terhadap negerinya.
Jalan pulang adalah kebingunan tersendiri. Udah dua kali naik bis umum untuk pergi ke Stasiun Queen Street, tapi gagal. Kami seperti masuk labirin. Bahkan, ada anak India yang berbaik hati untuk menunjukkan jalan ke terminal, tapi di pom bensin, kami gagap karena dua penjaganya menyarankan naik taksi saja. Di tengah gerimis, kami naik bis lain ke stasiun kereta bawah tanah, tapi tidak jadi karena memilih taksi sebab khawatir terlambat sampai Johor. Taksi Comfort menjadi pilihan (tel. 6550 8515). Supirnya Cina yang baik karena meminta kami untuk memilih: jalan memutar atau lurus tapi harus membayar $ 1 untuk melewati jalur sibuk (Peak Time). Akhirnya, kami sampai di terminal. Dengan tiket $ 2.40, bus Singapore Johor Express melaju membelah malam. Tapi, akhirnya kami juga sampai ke terminal Malaysia untuk melanjutkan jalan pulang Pulau Pinang.
Perjalanan terhambat karena saya dengan Mas Tauran mesti mengecap paspor keluar dari Malaysia dan mencari bis dengan perusahaan yang sama untuk melanjutkan tour ini. Karena pertama kali masuk, di imigrasi, kami ditanya maksud kedatangan. Bermodal surat keterangan dari Kampus USM untuk mengunjungi Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) dan National University of Singapore, tak lebih dari sebelas menit kami melenggang mencari bis menuju stasiun Queen Street. Di dalam bis, di belakang kami tiga anak Jakarta yang jalan-jalan ke kota denda (Fine City). Saya tahu keduanya keturunan Cina, tapi logat Betawinya medok. Dengan senang, mereka memberitahu tempat murah untuk menginap, "Coba aja di sekitar Jalan Arab."
Ups, di tengah jalan kami melihat pemutaran film di tanah lapang, seperti layar tancap atawa misbar di Indonesia, yang sedang menayangkan film India. Saya rasa di sini memang kawasan pekerja India. Kami sempat ke hotel murah yang bisa dihuni enam orang, tapi karena ingin lebih leluasa, kami berbalik ke hotel $ 40 semalam. Setelah mandi, kami beranjak untuk menelusuri Jalan Orchad. Meski jauh dari tempat penginapan, kami bergegas untuk segera menikmati malam di Singapura.
Orang banyak menyebut jalan ini tempat yang harus dilewati jika melawat Singapura. Karena udah tengah malam, saya hanya melihat beberapa orang yang masih bergeming untuk bersahabat dengan dingin malam. Sepanjang jalan Orchard hanya temaram lampu dan gedung yang berdiri angkuh. Hanya dua toko masih buka. Kami berdua berhenti sejenak untuk membeli oleh-oleh cenderamata. Lalu, melanjutkan perjalanan mengukur tapak yang membuat kaki pegal.
***
Esok paginya, kami berdua ke ISEAS untuk mencari bahan. Kebetulan lembaga ini berada di areal Universitas Nasional Singapura yang menduduki tempat ke 22 di dunia (Times Supplement, 2005). Tempat yang asri membuat kami betah. Apalagi, mereka berlangganan koran negara Asia Tenggara. Untuk Indonesia, mereka berlangganan KOMPAS, Republika, dan Media Indonesia. Bahkan, kami juga sempat berbincang dengan Senior Research Fellow Dr. Aris Ananta yang udah tujuh tahun berada di Singapura. Keindonesiaan benar-benar menjadi pengikat emosi dan intelektual untuk bertegur sapa dan akhirnya membincangkan kondisi tanah air. Beliau mengungkapkan istilah brain drain, untuk mengukuhkan sumbangsih perantau Indonesia terhadap negerinya.
Jalan pulang adalah kebingunan tersendiri. Udah dua kali naik bis umum untuk pergi ke Stasiun Queen Street, tapi gagal. Kami seperti masuk labirin. Bahkan, ada anak India yang berbaik hati untuk menunjukkan jalan ke terminal, tapi di pom bensin, kami gagap karena dua penjaganya menyarankan naik taksi saja. Di tengah gerimis, kami naik bis lain ke stasiun kereta bawah tanah, tapi tidak jadi karena memilih taksi sebab khawatir terlambat sampai Johor. Taksi Comfort menjadi pilihan (tel. 6550 8515). Supirnya Cina yang baik karena meminta kami untuk memilih: jalan memutar atau lurus tapi harus membayar $ 1 untuk melewati jalur sibuk (Peak Time). Akhirnya, kami sampai di terminal. Dengan tiket $ 2.40, bus Singapore Johor Express melaju membelah malam. Tapi, akhirnya kami juga sampai ke terminal Malaysia untuk melanjutkan jalan pulang Pulau Pinang.
Wednesday, May 24, 2006
Perjalanan Ke Kongres PPI VIII
Malam Sabtu, kami, Indah, Iqbal, Hilal, Tauran diantarkan Baim ke Terminal Sungai Nibong untuk berangkat ke Kongres PPI VIII di UTM (Universiti Teknologi Malaysia). Bus Konsortium molor beberapa menit dari jadual yang telah diberikan. Seharusnya, kami berangkat 10.30, tapi 10.45 ia meninggalkan sarangnya. Sebelumnya, Iqbal telah mengantongi karcis bis yang masing-masing seharga RM 50. Kebetulan, pihak KRJI membantu kami RM 150, dan sisanya diambilkan dari kas PPI sehingga berlima kami berangkat dengan tenang. Tapi, sayangnya, untuk ongkos pulang, kami harus merogoh kocek sendiri.
Saya sendiri membayangkan perjalanan ini akan menyenangkan, tidak hanya bus yang kita tumpangi luas karena hanya 3 kursi per barisnya, tapi juga akan melalui jalan tol hingga sampai tujuan. Sebelum melewati jembatan yang membelah Pulau Pinang dan Malaysia daratan (kiran-kira 13 km), saya mendengarkan lagu KLA Project melalui walkman. Hampir semuanya saya suka, tapi Tak Bisa Ke Lain Hati benar-benar membuat saya tentram, karena ia memberikan ruang yang besar untuk pelbagai ingatan. Lagu ini pernah dijadikan soundtrack drama radio romantik di Yogyakarta ketika saya menyelesaikan program sarjana muda, sekaligus mengingatkan peristiwa lain yang agak susah untuk membubuhkan dalam catatan singkat ini.
Di sebelah saya, Iqbal bercakap ringan untuk menghabiskan waktu sebelum asyik dengan mimpinya masing-masing. Di depan saya, Tauran dan Hilal berbincang, tapi saya tak bisa mendengarnya dengan jelas. Indah tampak asyik dengan dunianya. Saya sengaja menutup lubang AC di atas kepala karena udaranya menusuk ubun-ubun. Kami berhenti dua kali untuk melemaskan otot dan melaksanakan hajat ke kamar kecil. Tapi, saya kecewa pas perhentian Yong Peng karena toilet benar-benar buruk. Ternyata ia bukan milik perusahaan PLUS yang menangani tol utara-selatan negeri Jiran ini. Kapan ya kita akan menikmati perjalanan dengan lebuh raya yang memanjang dari Sabang sampai Merauke, tanpa direcoki dengan hambatan jalan yang rusak, atau tersendat karena melewati pasar yang menggunakan bahu jalan untuk areal perdagangan, dan dengan leluasa menggunakan toilet yang disanggongi petugas kebersihan hampir 24 Jam?
Tiba di Sri Puteri jam 6 45, kami menyewa taksi tidak resmi ke lokasi kongres. Di sana, kami disambut oleh ketua PPI dan panitia untuk mendaftar mendapatkan kunci dan sarung bantal. Saya sekamar dengan Mas Hilal. Meskipun di bus, saya tertidur, namun tidak nyenyak karena bus terguncang-guncang membawa penumpang. Jalan yang baik dan kondisi kenderaan yang prima bukan jaminan untuk tidur pulas. Mungkin, karena ia bergerak sementara kita tidur dalam keadaan diam.
Tempat istirahat kami cukup nyaman karena terletak di antara bangunan yang tidak tinggi sehingga tidak membuat kepala mendongak dan lanskap yang nyaman di mata. Di mana-mana pohon bertebaran menemati gedung-gedung yang dirancang rapi. Menurut Profesor Rahmalan, Dekan Pascasarjana UTM (asal Indonesia), luas universitas yang bertetangga dekat dengan Singapura ini adalah 1200 hektar dengan 2400 staf.
Tidur sejenak di ranjang membuat badan lebih nyaman. Jam 8.30 kami diminta untuk sarapan di lokasi sekaligus persiapan pembukaan kongres. Kedatangan Pejabat KBRI dan Diknas RI melegaskan kami karena acara bisa segera dimulai. Lazimnya seremoni, kami disuguhkan sambutan, yang isinya pujian dan harapan.
Mungkin, serangkaian acara yang menarik adalah paparan dari wakil Diknas, Dr. Bambang Widyanto, tentang kondisi pendidikan di Indonesia. Bagi saya, ini adalah sebuah asupan informasi dari lingkaran pertama Departemen Pendidikan Indonesia. Dengan lugas, pria yang menyelesaikan Ph D di Pittsburgh Amerika ini mengolok birokrasi yang tidak kritis, sebab ini akan mencelakakan posisinya. Nah, ini tentu membantu kita bahwa semestinya birokrasi itu harus rasional agar berjalan efisien dan efektif. Tapi, dengan dana cekak, harapan ini raib bersama angin lalu.
***
Secara keseluruhan kongres kali ini berjalan lancar, meskipun diselipi pertengkaran pendapat. Perbedaan ini tentu saja tidak terlalu mencemaskan karena masih berada di dalam koridor kebersamaan. Pertanggungjawaban pengurus lama diterima secara bulat, tanpa ada keluhan. Sidang komisi dan pleno juga tak mengalami hambatan berarti. Terkadang, agenda molor dan percekcokan muncul. Bahkan, pembahasan AD/ART tidak mengalami deadlock. Pemilihan ketua berjalan mulus. Hall pascasarjana UTM menjadi saksi tentang kebebasan bicara dan berpendapat tetapi masih memperhatikan kepentingan bersama yang lebih luas untuk memupuk solidaritas sebagai sesama anak bangsa. Kesadaran inilah yang menyebabkan kongres tak perlu berdarah-darah atau melahirkan organisasi tandingan.
Bertambahnya cabang Uniten dan Unitar akan makin mengukuhkan keberadaan PPI Malaysia untuk merapatkan barisan mengumpulkan teman-teman membincangkan dirinya dan keberadaan warga Indonesia di tanah Melayu ini. Di sidang pleno, kedua cabang baru ini akhirnya disyahkan dan diterima oleh seluruh anggota untuk menjadi bagian dari keluarga besar.
Lalu, acara ditutup dengan tour ke Danga Bay, daerah pantai Johor yang elok dan penanganan yang bagus. Panitia lokal berbaik hati mengantarkan kami ke tempat peranginan (wisata). Garis pantai yang membentang panjang memungkinkan kami menelusuri sepanjang jalan. Hari minggu yang beda, karena kami telah menyemarakkan pariwisata negeri yang menyebut Asia yang sebenarnya. Dari USM, hanya saya dan Tauran yang mengikuti acara pamungkas ini, dan empat yang lain memilih pulang ke Pulau Mutiara, Pulau Pinang.
Saya sendiri membayangkan perjalanan ini akan menyenangkan, tidak hanya bus yang kita tumpangi luas karena hanya 3 kursi per barisnya, tapi juga akan melalui jalan tol hingga sampai tujuan. Sebelum melewati jembatan yang membelah Pulau Pinang dan Malaysia daratan (kiran-kira 13 km), saya mendengarkan lagu KLA Project melalui walkman. Hampir semuanya saya suka, tapi Tak Bisa Ke Lain Hati benar-benar membuat saya tentram, karena ia memberikan ruang yang besar untuk pelbagai ingatan. Lagu ini pernah dijadikan soundtrack drama radio romantik di Yogyakarta ketika saya menyelesaikan program sarjana muda, sekaligus mengingatkan peristiwa lain yang agak susah untuk membubuhkan dalam catatan singkat ini.
Di sebelah saya, Iqbal bercakap ringan untuk menghabiskan waktu sebelum asyik dengan mimpinya masing-masing. Di depan saya, Tauran dan Hilal berbincang, tapi saya tak bisa mendengarnya dengan jelas. Indah tampak asyik dengan dunianya. Saya sengaja menutup lubang AC di atas kepala karena udaranya menusuk ubun-ubun. Kami berhenti dua kali untuk melemaskan otot dan melaksanakan hajat ke kamar kecil. Tapi, saya kecewa pas perhentian Yong Peng karena toilet benar-benar buruk. Ternyata ia bukan milik perusahaan PLUS yang menangani tol utara-selatan negeri Jiran ini. Kapan ya kita akan menikmati perjalanan dengan lebuh raya yang memanjang dari Sabang sampai Merauke, tanpa direcoki dengan hambatan jalan yang rusak, atau tersendat karena melewati pasar yang menggunakan bahu jalan untuk areal perdagangan, dan dengan leluasa menggunakan toilet yang disanggongi petugas kebersihan hampir 24 Jam?
Tiba di Sri Puteri jam 6 45, kami menyewa taksi tidak resmi ke lokasi kongres. Di sana, kami disambut oleh ketua PPI dan panitia untuk mendaftar mendapatkan kunci dan sarung bantal. Saya sekamar dengan Mas Hilal. Meskipun di bus, saya tertidur, namun tidak nyenyak karena bus terguncang-guncang membawa penumpang. Jalan yang baik dan kondisi kenderaan yang prima bukan jaminan untuk tidur pulas. Mungkin, karena ia bergerak sementara kita tidur dalam keadaan diam.
Tempat istirahat kami cukup nyaman karena terletak di antara bangunan yang tidak tinggi sehingga tidak membuat kepala mendongak dan lanskap yang nyaman di mata. Di mana-mana pohon bertebaran menemati gedung-gedung yang dirancang rapi. Menurut Profesor Rahmalan, Dekan Pascasarjana UTM (asal Indonesia), luas universitas yang bertetangga dekat dengan Singapura ini adalah 1200 hektar dengan 2400 staf.
Tidur sejenak di ranjang membuat badan lebih nyaman. Jam 8.30 kami diminta untuk sarapan di lokasi sekaligus persiapan pembukaan kongres. Kedatangan Pejabat KBRI dan Diknas RI melegaskan kami karena acara bisa segera dimulai. Lazimnya seremoni, kami disuguhkan sambutan, yang isinya pujian dan harapan.
Mungkin, serangkaian acara yang menarik adalah paparan dari wakil Diknas, Dr. Bambang Widyanto, tentang kondisi pendidikan di Indonesia. Bagi saya, ini adalah sebuah asupan informasi dari lingkaran pertama Departemen Pendidikan Indonesia. Dengan lugas, pria yang menyelesaikan Ph D di Pittsburgh Amerika ini mengolok birokrasi yang tidak kritis, sebab ini akan mencelakakan posisinya. Nah, ini tentu membantu kita bahwa semestinya birokrasi itu harus rasional agar berjalan efisien dan efektif. Tapi, dengan dana cekak, harapan ini raib bersama angin lalu.
***
Secara keseluruhan kongres kali ini berjalan lancar, meskipun diselipi pertengkaran pendapat. Perbedaan ini tentu saja tidak terlalu mencemaskan karena masih berada di dalam koridor kebersamaan. Pertanggungjawaban pengurus lama diterima secara bulat, tanpa ada keluhan. Sidang komisi dan pleno juga tak mengalami hambatan berarti. Terkadang, agenda molor dan percekcokan muncul. Bahkan, pembahasan AD/ART tidak mengalami deadlock. Pemilihan ketua berjalan mulus. Hall pascasarjana UTM menjadi saksi tentang kebebasan bicara dan berpendapat tetapi masih memperhatikan kepentingan bersama yang lebih luas untuk memupuk solidaritas sebagai sesama anak bangsa. Kesadaran inilah yang menyebabkan kongres tak perlu berdarah-darah atau melahirkan organisasi tandingan.
Bertambahnya cabang Uniten dan Unitar akan makin mengukuhkan keberadaan PPI Malaysia untuk merapatkan barisan mengumpulkan teman-teman membincangkan dirinya dan keberadaan warga Indonesia di tanah Melayu ini. Di sidang pleno, kedua cabang baru ini akhirnya disyahkan dan diterima oleh seluruh anggota untuk menjadi bagian dari keluarga besar.
Lalu, acara ditutup dengan tour ke Danga Bay, daerah pantai Johor yang elok dan penanganan yang bagus. Panitia lokal berbaik hati mengantarkan kami ke tempat peranginan (wisata). Garis pantai yang membentang panjang memungkinkan kami menelusuri sepanjang jalan. Hari minggu yang beda, karena kami telah menyemarakkan pariwisata negeri yang menyebut Asia yang sebenarnya. Dari USM, hanya saya dan Tauran yang mengikuti acara pamungkas ini, dan empat yang lain memilih pulang ke Pulau Mutiara, Pulau Pinang.
Friday, May 19, 2006
Futsal yang Melelahkan
Biasanya, saya main futsal dengan teman-teman Indonesia di KDU, bahkan pernah di Seberang Pulau. Karena pemainnya banyak, saya hanya bermain 15-20 menit. Tapi, kemarin, bersama dengan teman-teman Malaysia, saya hampir lebih dari 1 jam bermain bola. Benar-benar melelahkan.
Pulang, teman Malay mampir beli 100plus dingin. Ketika saya meneguknya, tubuh seperti disiram es dan dinginnya menusuk gigi, campur aduk antara enak dan sakit. Terbersit di benak, saya ingin mengulangi peristiwa ini.
Makan malam bersama Hilal, saya melepaskan lelah di warung sambil menonton acara favorit Buletin Malam TV 3.
Jam 9, tubuh saya udah tergeletak lelah. Tertidur dan bangun jam 1 30 untuk shalat Isya'. Lalu, buku Putu Wijaya, Teror Mental membantu saya melewati dini hari. Saya kira kita mesti lelah untuk bisa tidur dengan lelap.
Pulang, teman Malay mampir beli 100plus dingin. Ketika saya meneguknya, tubuh seperti disiram es dan dinginnya menusuk gigi, campur aduk antara enak dan sakit. Terbersit di benak, saya ingin mengulangi peristiwa ini.
Makan malam bersama Hilal, saya melepaskan lelah di warung sambil menonton acara favorit Buletin Malam TV 3.
Jam 9, tubuh saya udah tergeletak lelah. Tertidur dan bangun jam 1 30 untuk shalat Isya'. Lalu, buku Putu Wijaya, Teror Mental membantu saya melewati dini hari. Saya kira kita mesti lelah untuk bisa tidur dengan lelap.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Mengaji Syarh al-Hikam
ربما اطلعك على غيب ملكوته وحجب عنك الاشتغراف على اسرار العباد Pagi ini, pukul 6, kami mengikuti pengajian kitab anggitan Imam Athoillah Al-S...
-
Buku terjemahan saya berjudul Truth and Method yang diterbitkan Pustaka Pelajar dibuat resensinya di http://www.mediaindo.co.id/resensi/deta...
-
Ahmad Sahidah lahir di Sumenep pada 5 April 1973. Ia tumbuh besar di kampung yang masih belum ada aliran listrik dan suka bermain di bawah t...
-
Kami berdua salat di masjid tempat orang dewasa, remaja, dan anak-anak bersembahyang. Di sini, saf pertama bisa diisi oleh jamaah dari sega...