Monday, September 28, 2009

Masjid Terapung

Untuk kesekian kalinya, saya mengunjungi tempat ibadah ini, Masjid Terapung Tanjung Bunga. Dulu, saya berkunjung untuk salat magrib bersama kawan karib, Dr Sufyan dan Dr Fauzi, setelah menyusuri jalan Batu Ferringhi yang terkenal itu. Sama dengan masjid lain, namun keunikannya ia dibangun di bibir pantai, seakan-akan sedang terapung. Kehadirannya untuk melengkapi perumbahan susun di sebelahnya yang diperuntukan untuk korban Tsunami tahun 2004. Seperti tertera di papan peresmian, ia diresmikan oleh Perdana Menteri ke-4, Abdullah Badawi pada tanggal 16 Mei 2007.

Dengan jendela dan pintu di sana-sini, angin laut berhembus. Setelah salat, saya sempat berdiri di pagar melihat anak-anak bermain bola volley (di sana disebut tampar) di depan rumah susun. Mereka tampak riang. Malah ketika bolanya terbang jauh, jatuh ke laut, serta merta salah seorang dari mereka berlari untuk mengambilnya, tanpa memerhatikan onggokan batu yang dijadikan pagar penahan ombak. Namanya juga anak kecil. Tampak perahu ditambat oleh nelayan, tenang, karena ombak tak menghempas.

Di beberapa sudut masjid, tampak semacam gazebo, yang dilengkapi dengan kursi beton. Mungkin, inilah tempat yang mengasyikkan untuk menjaring ilham atau iseng menghabiskan waktu sore, sambil menunggu matahari yang akan tenggelam dan menyemburatkan warna jingga. Tak lama, saya pun beranjak untuk pulang, seraya membawa sepotong riang. Lagi-lagi, sepanjang jalan keriangan itu tak ilang-ilang, karena lagu-lagu lembut itu membelai ubun-ubun.

Tuesday, September 22, 2009

Ceramah Idul Fitri yang Menghibur

Sang ustaz memulai dengan takbir. Lalu, selanjutnya sejak awal telah mengungkapkan bahwa khotbah hari raya berbeda dengan Jumat. Ia sedikit bebas, tak terikat pakem. Aha, jadilah ceramah idul fitri pada waktu itu dibawakan dengan santai, penuh humor dan yang menakjubkan ditutup dengan doa yang menyayat, diselingi isak tangis, sehingga suasana beku. Sejak awal, Ustaz Maulana Siregar membuka dengan kalimat puitis. Lelucon berhamburan hingga jamaah tak mengantuk. Suara naik turun, kadang menggelegar. Sosok berdarah Batak ini juga mengenal pendengar, sehingga isi khotbah berkisar persoalan tanggungjawab pegawai konsulat dan para pekerja Indonesia.

Monday, September 21, 2009

Selamat Hari Raya Idul Fitri


Kami mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Mungkin, Tuhan memaafkan kekhilafan kami, namun di tangan Anda, kesalahan itu luruh, tak berbekas. Gambar di atas adalah peristiwa biasa, tapi bagi kami istimewa. Inilah untuk pertama kalinya, kami merayakan hari kemenangan. Si kecil masih berusia 6 bulanan. Seperti warga Indonesia yang lain di Negeri Jiran, kami pun bergambar bersama setelah sebelumnya bersalaman, saling memaafkan. Para pegawai konsulat, pekerja migran, mahasiswa menyatu, menikmati kebersamaan. Berbeda dengan tahun yang lalu, hari itu langit cerah, meski agak mendung sebelum shalat Id ditunaikan. Pas jam 8.39, matahari menyembul, melimpahkan sinar ke bumi.

Acara sembahyang idul fitri dimulai dengan sambutan Pak Karnadi Kasan Sarji, yang diikuti Pak Moenir Ari Soenanda, Konsul Jenderal. Kemudian, Pak Arbi, melantunkan ajakan shalat. Tiba-tiba, suasana senyap. Ratusan orang sepertinya terkunci. Hanya takbir sang imam memecah kesunyian. Setelah usai, imam yang juga bertindak sebagai khotib, berdiri memulai khotbah. Ustaz Maulana Siregar membuka dengan takbir. Jamaah tampak larut dalam setiap kata yang dilontarkan, selain tampak lugas juga diselipkan banyolan. Tak jarang, tawa kami berderai ketika dengan dialek Batak, khotib yang sengaja diundang dari Jakarta ini menceritakan kisah Ibrahim dan Ismail, sebagai latar dari asal-muasal laungan takbir, tahlil, dan tahmid.

Di sela-sela ceramah, sang ustaz juga menyentil jasa para pekerja. Mereka adalah duta bangsa, yang akan merawat nama harum negara. Sebelumnya, Pak Moenir menyajikan data bahwa pulangan (remittance) TKI berjumlah 15 triliun, sebuah angka yang cukup besar untuk mendongkrak nadi perekonomian kampung mereka. Ya, pekerja migran merupakan jamaah terbesar pada masa itu. Meski mereka telah menyumbangkan devisa, tambah ustaz, nasibnya tetap sengsara, sebuah ungkapan yang memantik tawa.

Thursday, September 17, 2009

Dilarang Tidur dalam Surau


Kadang, rumah Tuhan menjadi tempat mereka untuk melepas lelah, bukan ibadah. Masalahnya, tidur itu bisa berbuah pahala di bulan Ramadhan. Tapi, lagi-lagi, ia tidak boleh dilakukan di surau.

Sunday, September 13, 2009

Menjual Yogya pada Negeri Jiran



Sumber: Kedaulatan Rakyat, 27 Agustus 2009

Iklan bertajuk Jalan-jalan ke Yogyakarta hampir setiap hari mengisi celah (slot) acara berita Bulletin Utama TV 3, Malaysia. Malah, kadang juga muncul pada program lain, seperti Wanita Hari Ini. Sebelumnya, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menjual Jakarta dalam rangka Visit Indonesia 2009, lalu pesona kota Budaya ini hadir dihadapkan penonton Malaysia. Malioboro, Batik Plentungan, Ambarrukmo Plaza, SPA hotel, dan Pasar Beringharjo menjadi situs yang ditawarkan. Bahkan, artis yang menjadi ikon iklan, Adibah Nor, juga turut menjual Borobudur, meski disebut sebagai situs wisata dari Jawa Tengah. Cara cerdik untuk menambah daya tarik.

Tentu, dengan sudut pengambilan gambar yang baik, suasana Yogya begitu hidup, akrab dan nyaman di mata. Saya pun yang pernah lama tinggal di kota Gudeg ini takjub karena kota yang panas jika musim kemarau ini tampak elok dan mempesonakan. Objek yang dipilih, seperti Pasar Beringharjo dengan pelbagai barang jualan yang dikatakan murah tentu akan menarik pelancong (sebutan turis di sana). Dengan iringan gamelan, suasana magis juga turut hadir. Pencitraan Yogya sebagai kota tujuan wisata memang luar biasa. Belum lagi kemegahan Ambarrukmo Plaza yang menandakan pusat belanja untuk kalangan menengah-atas. Citra tradisional dan Modern sama-sama ditonjolkan.

Merebut Peluang

Tulisan wartawan Utusan Malaysia (15/8/09) yang ngepos di Jakarta Borhan Samah, tentang penandatanganan kerja sama Malaysia dan Indonesia di Yogyakarta pada 8 Agustus 2009, yang menyatakan persetujuan untuk mempromosikan paket wisata baru, Paket Pariwisata Warisan United Nations Educational, Scientific, Cultural Organization (UNESCO) adalah kabar menggembirakan. Tidak hanya memuat tentang soal jalan-jalan tetapi juga pengakuan kuli tinta tersebut terhadap kedudukan ekonomi Indonesia yang lebih baik karena menunjukkan pertumbuhan positif, dibandingkan dengan negara tetangganya yang minus. Malah dengan tegas, dia menerangkan bahwa Indonesia adalah pemain penting di kawasan Asia Tenggara dalam usaha keluar dari krisis.

Paket wisata diatas mengambil konsep 1, 2, 3 yaitu satu tujuan, dua buah negara dan tiga tempat tujuan wisata akan mempromosikan Borobudur di Yogyakarta dan dua lokasi warisan UNESCO yaitu Pulau Pinang dan Melaka di Malaysia. Tentu dengan paket ini Yogyakarta akan menuai limpahan turis dari dua daerah wisata terkenal Malaysia. Melaka sebagai bekas ‘peradaban Portugis dan Penang sebagai situs warisan Inggris. Kebetulan pada yang terakhir saya telah mengunjungi tempat-tempat yang dimaksud dan perhatian pihak terkait cukup besar untuk merenovasi dan memperbaiki pelayanan dan fasilitas publik. Pemerintah mengucurkan dana berlimpah untuk membuat warisan itu tampak cantik dan layak dinikmati.

Paket ini mendapatkan dukungan 16 agensi pariwisata dan maskapai penerbangan Air Asia Malaysia, yang dikenal sebagai peneraju tiket murah. Tentu, peluang ini perlu disambut agensi-agensi lain yang tidak terlibat dan seluruh pihak terkait yang berkait dengan pariwisata, seperti perhotelan, transportasi, pusat kerajinan, perusahaan lokal dan restoran. Mengacu pada iklan yang ditawarkan, Yogyakarta telah menempatkan dirinya sebagai kota tujuan yang unik. karena menawarkan apa yang tidak diberikan tempat lain dengan pelayanan yang prima dan memuaskan. Namun semua ini akan sia-sia jika tantangan di bawah ini tidak diperhatikan oleh stakeholders pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menjawab Tantangan

Mungkin, peluang di atas tidak akan bisa dimanfaatkan secara maksimal jika fasilitas publik yang lain tak dipikirkan. Contohnya, pembenahan fasilitas pintu masuk, bandara. Pengalaman saya menggunakan pesawat Air Asia dari Kuala Lumpur-Yogyakarta patut mendapat perhatian pengelola bandara Adisucipto. Bagaimanapun, bandara adalah pintu masuk yang bisa dijadikan awal yang manis bagi setiap pengunjung suatu daerah. Sebagaimana diketahui, maskapai Air Asia menggunakan bandara sendiri, Low Cost Carrier Terminal (LCCT) Kuala Lumpur International Airport, namun fasilitas yang ada di dalamnya cukup memuaskan. Toilet luas dan selalu bersih karena petugas kebersihan selalu siap siaga.

Berbeda dengan bandara utama, KLIA Sepang, yang dibangun pemerintah dengan standar kelas dunia, LCCT lebih mengutamakan kenyamanan dengan bahan bangunan bandara yang tidak mahal. Namun, di sini para penumpang dimanjakan dengan langit-langit yang menjulang tinggi, bandingkan dengan bandara Adisucipto yang berplafon rendah. Demikian pula, ruang tunggu keberangkatan yang membuat penumpang merasa sesak karena sempit dan atap-atap langit hampir menyentuh kepala. Belum lagi, pengunjung harus berdiri ke luar bibir bangunan ketika menunggu di konter imigrasi pada waktu kedatangan. Jika hujan, tak ayal mereka akan bertempiaran. Kesan pertama seperti ini tentu akan menjadi kabar buruk bagi mereka untuk bercerita keindahan kota Pelajar tersebut.

Ketika itu, empat orang turis Malaysia dan satu Amerika sepakat untuk patungan taksi. Akhirnya mereka dapat angkutan jenis Kijang yang akan mengantarkan mereka ke Malioboro, meski bukan taksi resmi. Berbeda dengan bandara negara bagian Penang, Malaysia, tempat saya tinggal, kita hanya perlu ke konter untuk membeli tiket taksi sesuai tujuan. Lalu, hanya sekian langkah kita menuju angkutan yang dimaksud tanpa harus kasak-kusuk karena terlalu banyak sopir taksi gelap. Situasi seperti ini akan mengganggu kenyamanan. Pihak terkait harus mengambil langkah tegas untuk membuat suasana di pintu depan bandara tertib dan nyaman.


Sekarang, tantangan dan peluang ini ada di hadapan kita. Yogya yang menyimpan banyak cerita tentu tak akan habis diungkap dan inilah, yang menurut Rhenald Kasali, dosen Manajemen Universitas Indonesia, justru jualan wisata ‘baru’ yang perlu ditonjolkan.

Dengan kata lain, kota Mataram ini tidak hanya digambarkan sebagai tempat turis melepaskan hajat badani, tetapi juga rohani. Masih banyak tempat-tempat yang mengandalkan legenda, seperti Candi Prambanan yang justru tidak ditonjolkan dalam iklan, Parangtritis yang menyimpan misteri Nyi Roro Kidul. Jadi, pihak terkait harus bisa menawarkan cerita-cerita agar turis Jepang dan Tionghoa yang banyak berkunjung ke Melaka dan Penang akan menemukan sesuatu yang membekas dalam benak dan hati mereka. Semoga! q - o. (1507-2009).

*) Dr Ahmad Sahidah,
Dosen Peradaban Islam dan Asia,
KDU College, Pulau Pinang, Malaysia.

Saturday, September 12, 2009

Langkawi dan bebas Pajak


Di sela-sela sosialisasi pemilu 2009 kemarin, saya sempat mengunjungi restoranSinggah Rasa. Terletak di salah satu pusat keramaian Langkawi, ia telah menjadi tempat warga Indonesia mengasup makan. Pak Karno, pemiliknya, adalah pengusaha yang telah puluhan tahun mengumpulkan ringgit di Langkawi, Kedah. Keakraban pemilik warung asal Lamongan ini dengan pengunjung mungkin menjadi salah satu daya tarik dari warung makan ini.

Di sebelah kedai ini, berjejer puluhan toko yang menjual pelbagai barang keperluan yang murah karena bebas pajak. Saya pun membeli coklat dan beberapa barang yang lain. Namun, ternyata, tidak semua barang yang dijual lebih murah dibandingkan dengan Semenanjung. Beberapa item justeru lebih mahal. Dettol yang berukuran kecil lebih mahal sekitar RM 2-3, demikian pula sabun lifebuoy. Namun, yang patut diacungi jempol adalah pemerintah Malaysia yang berhasil menjadikan pulau kecil itu sebagai pusat pelesiran. Dengan fasilitas umum yang baik, siapa pun akan merasa nyaman berkunjung ke pulau yang sangat terkenal dengan Legenda Mahsuri ini.

Saya sempat makan siang di kantin Bandara. Dari lantai dua saya bisa melepas pandangan ke bawah yang dipenuhi restoran dengan tempat yang luas. Belum lagi langit-langit gedung yang menjulang tinggi sehingga siapa pun tak akan merasa pengap. Tampak juga beberapa turis dari negara Timur Tengah sedang duduk melepaskah lelah. Beberapa di antara memakai burqa, pakaian yang menutup hampir seluruh tubuh. Setelah makan, saya bersama teman, Noval, beranjak keluar untuk menuju lokasi pemasyarakatan pilihan presiden.

Friday, September 11, 2009

Sebuah Jalan Keluar dari Kesalahpahaman


Kontan, 11 September 2009

Ahmad Sahidah

Alumnus Program Doktor Falsafah Universitas Sains Malaysia

Peristiwa sweeping orang Malaysia di Jalan Diponegoro memantik respons Menteri Kebudayaan Malaysia Dr Rais Yatim. Beliau yang berdarah Minangkabau menegaskan bahwa negeri serumpun itu tidak akan melakukan hal yang sama. Untuk kesekian kalinya petinggi negara tetangga berusaha untuk menghindari konflik yang lebih besar. Sebelumnya, para pemimpin elit yang lain, Najib dan Muhyidin, perdana menteri dan wakilnya, juga berharap agar hubungan Indonesia dan Malaysia tidak memburuk akibat ulah segelintir pendemo di depan kedutaan besar Malaysia di jalan Rasuna Said yang membakar bendera Jalur Gemilang dan melempar telur busuk.

Berita menggeparkan di atas dilansir oleh Bernama, Kantor Berita Malaysia, yang dimuat di surat kabar lokal, Utusan, Sinar Harian dan portal Berita Malaysia Kini beserta gambar segelintir warga yang tampak menegakkan spanduk dan yang lain memegang bambu runcing (di sana disebut buluh runcing). Tak lama, berita ini telah memantik respons di facebook. Di jejaring sosial ini, berita protes Indonesia terhadap negara Malaysia menyerbu masuk tanpa disaring sebagaimana kebanyakan Media Malaysia. Namun, koran Kosmo! (9/9/09) yang mengutip kembali berita Bernama memberi judul yang agak lain, Samseng Indonesia Ancam Warga Malaysia dengan Buluh Runcing. Samseng adalah kata Malaysia untuk preman atau gangster. Sebuah pilihan kata yang memberi pesan tersirat pada pembaca di sana.

Sweeping Berulang

Ulah segelintir orang di atas mengingatkan tindakan yang sama oleh Aksi sweeping Laskar Islam Surakarta yang terdiri dari Brigade Hizbullah dan Laskar Jundullah ke sejumlah hotel berbintang di Solo untuk mencari wisatawan mancanegara (Wisman) asal Amerika Serikat (AS) buntut protes mereka terhadap kepongahan negara Paman Sam itu. Serta merta pihak kepolisian memberikan peringatan keras bahwa tindakan semacam dianggap bertindak main hakim sendiri. Namun perlakuan yang sama tidak berlaku untuk pelaku yang menamakan diri Benteng Demokrasi Rakyat (BENDERA).

Sebagaimana dimuat dalam situs Bernama, BENDERA bertindak liar dengan mengancam warga Malaysia di jalan Diponegoro. Tampak, pemilihan diksi telah menggambarkan dengan gamblang psikologi pelaku. Meskipun tindak acaman ini dilakukan hanya segelintir orang, namun berita ini telah menyebar di seantero Malaysia. Ketika kebanyakan media di negara serumpun itu telah menganggap selesai kasus Tari Pendet dan harapan dari pemimpin tertinggi Malaysia sendiri yang tidak ingin kasus ini menyeret kedua negara kepada pertikaian yang lebih besar, tiba-tiba aksi sweeping kelompok yang menggelar dirinya BENDERA telah menyulut kembali perseteruan.

Herannya, ulah mereka tampak dibiarkan. Pihak keamanan yang sepatutnya bisa mengambil tindakan cepat tampak kelu. Demikian pula, petinggi Republik yang tidak bersuara keras mengutuk aksi provokatif warganya, berbeda dengan hal yang sama ketika dilakukan terhadap warga Amerika Serikat yang akan dikasari oleh sebuah kelompok Islam. Tentu, masih segar dalam ingatan para petinggi militer kadang bersuara lantang menempalak Malaysia, namun diam seribu bahasa jika berhadapan dengan Amerika.

Jalan Baru

Inisiatif Rais Yatim mengundang wartawan cetak dan televisi dari Indonesia ke Kuala Lumpur dalam sebuah acara buka puasa bersama tentu langkah bijak mengatasi konflik seperti ini. Dengan tegas menteri yang pernah menjalani masa kecilnya di Sawahlunto itu menyatakan bahwa Malaysia akan bekerjasama sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur dalam bidang kebudayaan. Pada masa yang sama secara retorik bekas Menteri Luar Negeri di Era Pak Lah, panggilan akrab Abdullah Badawi bertanya, salahkah imigran dari Bugis, Jawa, Riau, Jambi, Palembang dan daerah lain mempraktikkan budayanya di Malaysia? Sementara Cina dan India tidak pernah memprotes meski kebudayaannya dipraktikkan oleh orang Malaysia dari kedua ras tersebut?

Sekarang, kedua negara seharusnya merintis jalan baru untuk menghapus penghalang kerjasama keduanya yang sebenarnya telah berjalan baik. Bagaimanapun, konflik semacam ini akan menjadi duri jika tidak diakhiri oleh keduabelah pihak. Kerjasama kebudayaan mungkin jalan keluar yagn baik di mana masyarakat di antara kedua negara bisa mengenal akar yang sama, kebudayaan Nusantara. Lebih jauh dari itu, ikhtiar kerjasama masyarakat memerlukan keterlibatan media Indonesia agar kesalahpahaman tidak berbuah pertengkaran. Jika dulu Ir Soekarno menggelorakan slogan Amerika kita setrika dan Inggeris kita linggis, mengapa kita melakukan langkah mundur dengan selalu mengajak perang tetangganya sendiri?

Lari Sore

 Setelah lari sore bersama Zumi di kawasan Paiton Energy POMI, saya melewati KDMP ini. Tak jauh dari lokasi koperasi tergambar, ada toko Vev...