Sunday, January 30, 2011

Belajar dari Dora

Dalam toko buku itu, kita akan menemukan begitu banyak pilihan rujukan. Tapi, bagi anak kecil, ia hanya mau menikmati sesuatu yang dekat, dikenal dan dipahami. 

Dora tentu adalah pilihannya. Tidak saja ia bisa mengikuti cerita tokoh tersebut dalam pelbagai judul, Nabbiyya juga memiliki tas bergambar dora, yang dulu dengan bangga memanggulnya.

Dari film ini, ia bisa belajar bahasa Inggris dan Spanyol. Anak-anak mendapatkan pengetahuan melalui hiburan.

Friday, January 28, 2011

Anjung Semarak

Tanpa mengabaikan kantin lain di kampus, terutama kantin Anjung Budi yang berpemandangan pantai dan pohon cemara, warung di atas adalah tempat yang menyeronokkan. Namanya pun unik, Anjung Semarak. Ia mungkin diambil dari nama pohon Semarak Api, yang mengeluarkan bunga berwarna merah menyala setelah diterjang hujan. Terletak di sebelah kedai buku, ia menjadi ruang mahasiswa untuk makan dan minum, bercengkerama, bahkan berdiskusi dengan dosen. Ketika saya baru datang, ada beberapa mahasiswa melingkari seorang dosen. Bahkan, di ujung yang lain, saya sempat menyapa seorang profesor yang sedang sendirian menikmati minuman.

Dari atas, pengunjung bisa melemparkan pandangan ke segala penjuru, seperti lalu lalang mahasiswa yang berjalan ke dan dari kampus, bangunan IPS (Institut Pasca Siswazah), Dewan Budaya, DTSP (Dewan Tunku Syed Putra) atau bulatan yang menancapkan tonggak bertulisan salam dalam pelbagai bahasa dunia. Dari sana, mahasiswa hanya perlu melangkah pendek untuk memelototi buku-buku baru dan lama, termasuk membeli koran harian. Ah, betul-betul surga di bumi!

Ia juga tempat yang nyaman untuk menyeruput minuman di waktu senja. Saya sengaja membawa Malam Terakhir Leila S Chudori, yang berisi beberapa cerita pendek. Ditemani air cincau (di kampung saya dikenal cao), buku itu mengalirkan makna ke batin dan gelas itu mengalirkan cairan ke kekerongkongan. Ups, kenapa nomor 13? Adakah itu petanda sial? Mungkin, sebab sehari kemudian, si kecil menumbuk mata saya sehingga perih dan pedih. Hampir semalaman saya menahan beban berat di pelupuk. Malah setelah terlelap dan bangun subuh, mata itu masih tak bisa memandang ringan sekeliling.

Thursday, January 27, 2011

Singapura dan Filsafat

Singapura menawarkan surga untuk melancong, menikmati keteraturan dan kebersihan. Temasek itu juga merupakan surga bagi mereka yang ingin memiliki barang-bareng berjenama (merek). 

Coba Anda berkunjung ke pusat pertokoan Teluk Marina! Di sana, banyak kedai yang mengusung pelbagai barang luar negeri ternama. Alamak! Di bandara, kedai buku Times juga menjual buku The Great Philosopher

Mungkin filsuf menyukai ketertiban dan kenyamanan, tetapi apakah mereka juga menyukai barang mewah? Selintas, saya melihat gambar jas Martin Heidegger tidak bermerek. Saya tak pasti, mungkin saya nanti perlu bertanya pada Budi F Hardiman, yang pernah menulis buku kecil tentang ahli filsafat yang beristrikan Hannah Arendt itu.

Sunday, January 23, 2011

Pondok Jawa Timur

Malam sebelumnya, saya telah merencanakan untuk menikmati ayam penyet. Meski hanya melihat gambarnya di papan tanda, yang dipasang di depan Plaza Singapura, saya membayangkan menu makan malam yang lezat keesokan harinya. Ternyata, sambal ayam penyet yang ditambahi dengan tahu-tempe betul-betul memantik selera. Tak hanya itu, pekerjanya yang berasal dari Sunda dan Kalimantan tampak sangat ramah. Demikian pula, pekerja lokal berlaku sama, dekat dengan pelanggan.

Menikmati ayam penyet akan terasa afdol dengan menggunakan tangan. Ini mengingatkan saya pada masa kuliah,di IAIN Sunan Kalijaga di mana hampir setiap malam mengasup makan malam berupa tempe penyet di warung Pak Hasan, tak jauh dari tempat kos dan kampus. Terus terang, saya tak begitu menikmati makanan cepat saji, karena kadang disebut dengan makanan sampah (junk food), kecuali dalam keadaan terdesak dan menukar kupon yang diperoleh secara gratis ketika berurusan dengan bank. Kata pengamat, budaya kita yang santai tak cocok dengan gaya makan di kedai tersebut yang diperuntukkan untuk orang yang tergesa-gesa.

Malam itu, saya tak hanya memenuhi rasa kangen itu, tetapi juga melihat suasana warung yang kental dengan nuansa Jawa Timuran, seperti topeng, batik jarit, dan sate Madura. Pada waktu yang sama, tak jauh dari warung, Just Beer, warung minuman keras, menyajikan musik hidup (music life), seorang penyanyi perempuan berambut pendek pirang dan pemain gitar lelaki. Semua lagu yang dilantungkan berbahasa Inggeris, termasuk Waka Waka oleh Shakira yang membuat malam terasa lebih hangat. Di Negeri Singa, semua tampak serasi, berjalan harmoni.

Friday, January 21, 2011

Temasek

Ini adalah pengalaman perjalanan kedua ke negeri Temasek. Dulu, saya melakoninya dengan teman baik, Mas Tauran, setelah mengikuti kongres Persatuan Pelajar Indonesia di Johor, tepatnya di Universitas Teknologi Malaysia. Jika yang pertama dengan jalan darat, sekarang bersama keluarga saya menempuh dengan jalan udara. Pertama kali, burung besi mau mendarat, saya melepaskan pandangan ke bawah, sekitar lapangan terbang Changi terbentang hamparan rerumputan dan pepohonan yang menghijau, tersusun rapi dan cantik.

Setiba di gedung bandara, kami menuju ke tempat pemesan penginapan. Dengan lincah, Encik Francis mencarikan tempat dan menjalin komunikasi. Sebelum memastikan, beliau sempat bertanya apakah saya pernah menginjakkan kaki ke negeri ini? Ya, ke Little India, dan beliau tersenyum, mungkin membayangkan kelas penginapan yang saya tempati dulu, sebuah losmen. Lalu, dengan ramah dia menjelaskan tempat-tempat menarik, sambil mencoret peta dengan lingkaran dan menunjukkan penginapan. Kami pun beranjak, dan sempat bertanya pada meja informasi tentang pemesanan taksi, dan dengan agak terkejut, perempuan muda itu menjawab dengan logat bahasa Indonesia, "nggak pakai tiket, langsung antri!"

Kami pun berdiri menunggu taksi yang akan membawa kami ke penginapan. Tak lama kemudian, kami pun dipersilahkan oleh bapak tua, koordinator taksi, sebagaimana tertulis di baju rompi. Sang supir ternyata enak diajak ngobrol. Kami pun bertukar sapa dan cerita. Encik Selamat bin Ismail, tertera di kartu nama di atas dashboard mobil, berbicara banyak tentang keluarga, lingkungan, dan pengalaman naik haji. Malah ketika saya menyebutkan asal dari Madura, serta merta ayah beranak dua ini menimpali, oh, menantu saya berasal dari Boyan (sebutan untuk Bawean, Gresik) di Singapura atau Malaysia. Oh ya, ada pesan terkhir dari beliau yang saya simpan dalam benak, jangan tinggalkan shalat, ketika semua sudah ada di tangan. Terima kasih, Pak Cik.

Sesampai di penginapan, saya mengambil gambar di atas, tembok batu.

Wednesday, January 19, 2011

Perempuan Politik

Ketika hari libur, Ahad, kaum ibu tentu menjadi penjaga keluarga, menikmati masa luang. Namun, mungkin untuk ke sekian kalinya, mereka mengorbankan waktu bersantai dengan anak dan suami, mengikuti perbincangan tokoh wanita UMNO, Aishah Ghani dan Khatijah Sidek di Kepala Batas. Pertemuan ini semacam ini tentu seperti perhimpunan politik yang lain, namun ia bukan acara kampanye yang gegap-gempita, tetapi perenungan.

Begitu banyak dosen mengupas peran dua tokoh di atas untuk menjadi bahan renungan bagi langkah mereka ke depan dalam menekuni dunia politik. Ia tak lagi tentang kemenangan kursi, raihan kekuatan, tetapi lebih jauh apa yang dilakukan dua perempuan luar biasa itu untuk mengangkat harkat kaum ibu. Menariknya, saya sempat berjumpa dengan peserta yang pernah berteman dengan Khatijah Sidek, Ibu Fadilah binti Hasan. Meskipun sudah berumur, beliau masih bersemangat untuk hadir dan mengajak teman-temannya yang lain. Keikhlasan masih terpancar dari wajah tuanya yang jernih. Dalam sesi pertanyaan, dengan lancar beliau bercerita tentang masa kecilnya, di mana perempuan Melayu pada waktu itu tak berani mengucapkan merdeka.

Khatijah Sidek mendobrak kebekuan dengan menjahit kata merdeka di sapu tangan. Ia rela menjadi madu, meskipun tak menyukai poligami, hanya untuk membuatnya leluasa bergerak, membangkitkan semangat kemerdekaan kaumnya. Perjuangannya tentu menjadi teladan, karena ia melawan penjajah tanpa pamrih dan sangat gigih. Meskipun ia pernah duduk sebagai orang nomor satu di Wanita UMNO, ia tak tergiur untuk menumpuk kekayaan. Harta benda yang sempat dihibahkan pada lembaga sosial adalah kursi roda, yang menemani hari-hari terakhirnya.

Monday, January 17, 2011

Melatih Raga

Resimen Mahasiswa (Menwa) kampus sedang bertatih di bawah terik panas matahari. Padahal, ketika pagi yang masih gelap, saya sempat melihat mereka telah berbaris di bawah arahan seorang komando. Tak semua orang bisa melakukannya. Mereka memilih untuk merawat tubuh agar tak mudah loyo di terjang panas dan dingin.

Lari Sore

 Setelah lari sore bersama Zumi di kawasan Paiton Energy POMI, saya melewati KDMP ini. Tak jauh dari lokasi koperasi tergambar, ada toko Vev...