Friday, May 31, 2024

Yasinan

Di kampus, kami membahas corak tafsir abad klasik, tengah, dan modern/kontemporer.

Di masjid, kami membaca surah Yasin di malam Jum'at. Betapa senang ada banyak remaja dan anak-anak turut hadir. Haji Fauzan merapal doa dan Haji As'adi memimpin bacaan jemaah.

Setiap orang menjangkau kitab suci sesuai daya nalar masing-masing. Maknanya bersemayam di kepala. Dari sini, kepahaman menjelma aksi nyata. Dari kemungkinan tindakan, salah satu warga membawa gorengan, bungkusan nasi, dan kopi. Di sini, kami pun bercengkerama.

 

Thursday, May 30, 2024

Belajar Filsafat

Pak Zuhri Humaidi menggelar sekolah filsafat IAIN Kediri. Ini adalah salah satu ikhtiar agar mahasiswa AFI dapat melihat cakrawala yang lain.

Dengan dua materi di hari pertama, metode berpikir dan tema-tema pokok Filsafat Islam, kami hendak mengulik warisan Yunani dan Arab. 

Melalui pandangan Kritis (Kriths), dua negeri di atas kini jelas memiliki batas-batas yang telah retak. Tak pelak, sejak mula orang tak pernah sama dalam melihat sesuatu. 

Apa pun, Ibn Sina memiliki kebiasaan untuk mengunjungi makam para wali tatkala penulis Asy-Syifa (Pengobatan) tersebut mengalami kebuntuan dalam memahami bacaan. Saya pun mendengar dari teman sendiri yang melakukan hal serupa. 

Kami pun meneladankan laku tersebut dengan berziarah ke makam Syaikh Washil Syamsuddin di malam hari setelah menikmati bebek di warung Pak Slamet. Di depan nisan kami tepekur bersama pengunjung yang lain. Sementara, di masjid sebelah ada pengajian kitab Jalalain yang dihadiri oleh banyak jemaah. 

Lalu, kami pun keluar melewati pintu gerbang. Di depan masjid banyak orang sedang menyesap kopi dan menghebuskan rokok di beberapa kedai.  Betapa harmonis keadaan di sini. Satu sama lain tak perlu saling menyangkal atau mendabik dada siapa yang terbaik. Bukankah hampir setiap insan melakukan itu semua dalam waktu, cara, dan tempat yang berbeda dalam keseharian?

Hidup baik adalah tema abadi yang sejak awal telah dipikirkan oleh orang bijak bestari. Pekerjaan terbesar kita bukan hanya  mengulang-ulang ide mereka (ontologi) tetapi melaksanakan di mana kita bertempat tinggal (aksiologi) dengan memanfaatkan nalar (epistemologi). 

Akhirnya, kebaikan itu mempunyai banyak pintu. Setelah memilih, kita akan kembali menyepi untuk berada dalam sunyi. Sejati.

 

Wednesday, May 29, 2024

Bebek Carok

Seusai kegiatan sekolah filsafat Islam di IAIN, kami makan siang di warung Bebek Carok Tretan Muslim cabang Kediri. Karena pada malamnya saya telah menikmati bebek di Pak Salamet, saya memilih menu lain di sini. Dengan jeruk panas, saya begitu lahap merasakan gurihnya ayam.

Enak dan rangup. Apa betul musik Korea itu satu-satunya genre yang diperdengarkan di sini? Belum lagi, ada pengumuman di pintu masuk bahwa pengamen yang tidak bisa membawakan NCT akan diskip.

Pak Zuhri Humaidi, Pak Asy'ari dan Pak Mujid menjadikan acara makan siang ini semakin menyenangkan, karena bertukar banyak kisah.

Musik Hidup

Mereka menyanyikan I Live My Life For You oleh Firehouse. Ini mengingatkan saya pada teman baik, Ahmala, yang dulu mengoleksi kasetnya. Pemilik penerbit Bildung ini juga menyukai KLA. Dulu, grup Band asal Amrik ini pernah pentas di Jogja. Sayangnya, saya tidak datang untuk menikmati penampilannya secara langsung. Apa pun, setelah bunyi, kita akan menemukan diri dalam sunyi.

Lalu, ingatan ini bisa muncul tanpa diduga, sebagaimana saya raih ketika melewati mereka yang sedang bernyanyi. Pengalaman ini juga didapat tatkala saya berada di Kuala Lumpur, tempat saya mendengar band indie berdendang di sebuah warung tak jauh dari Bukit Bintang.
 

Ziarah

Tatkala saya berkunjung ke kota Kediri, kami berziarah ke makam Syaikh al-Washil Syamsuddin. Beliau pendakwah asal Turki yang berdakwah di Kediri pada abad ke-10 dan merupakan guru spiritual Sri Aji Jayabaya. Di masjidnya ada pengajian tafsir Jalalain yang diikuti oleh banyak jemaah. Ilmu dihayati. Di depan gerbang, ada beberapa warung kopi. Pengunjung di sini juga banyak. Mereka tampak menikmati qahwah dan rokok. Betapa lahir dan batin tidak perlu saling menyangkal.

Biarlah manusia menjalani hidup sesuai dengan alam pikiran dan perasaan masing-masing. Dengan hidup bersama secara harmoni, setiap individu akan menemukan diri.


Pengamen di Bus

Pengamen ini meletakkan pelantang di sebelah saya duduk. Usianya paruh baya. Wah, ia membawakan Setan Pasti Kalah dan Ibu Kotanya Rhoma Irama.

Saya begitu menikmati cabikan gitar pada nomor yang pertama dalam perjalanan dari Paiton ke Surabaya. Meskipun suaranya tidak tinggi, namun lelaki itu tampak membawakannya sepenuh hati.

Dengan merogoh Rp2000, saya turut serta mendukungnya sebagaimana para penumpang yang lain. Suasana dalam bus seakan-akan lebih nyaman, meskipun panas udara dari luar memancar ke dalam dengan cukup sengit.
 

Sunday, May 26, 2024

Ote-Ote dan Ekonomi

Pagi ini, saya membeli 4 te-ote hangat seharga Rp2000,00 dari Nyi Bu'a. Saya menyalami tangan nenek ini dengan takzim. Di tengah usianya yang sepuh  ia masih menggendong bakul dagangannya dan berjalan kaki ke sekolah Sumber Payung.

Kami mengenalnya  sejak SD. Beliau menjual kudapan, krupuk, dan gorengan untuk murid sekolah hingga kini (3 November 2019). Kesetiaan pada pekerjaan yang perlu diresapi untuk dimengerti. 

Keponakan saya adalah lulusan ekonomi UNESA. mungkin kisah ini adalah bahan perenungan yang perlu diketengahkan agar sorotan tidak melulu soal ide besar yang dibahas dalam buku teks. Pendidikan tinggi tidak hanya menghitung neraca perdangan dunia, tetapi juga pendapatan pedagang kecil. 

 

Zip Zap Pop

Saya akan membelikan zip zap pop (made in China) bila kamu mau tarawih. Zumi pun sigap. Di masjid, banyak anak seusianya juga berada di sini...