Tuesday, July 29, 2025

Kontrol yang Terkendali

Aksi besaran-besan kemarin di lapangan Merdeka memaksa menengok kembali buku ini. Gambar sampul hanya perlu mengganti Razaleigh Hamzah dengan Hamzah Zainuddin. 

Dari judul, kita bisa membayangkan negara tetangga perlu beranjak dari Mahathirisme. Namun Tun M masih terlalu kuat untuk dianggap bukan penarik kubuan. Oposisi tidak sebulat suara menyodorkan tokoh utama, bila Anwar Turun, Shahidan Kassim naik, misalnya. 

Azmin dan Ezzam adalah bekas orang dekat Anwar. Anehnya, tokoh muda PAS kurang ditonjolkan. Semestinya, Muhammad Sanusi diberi panggung besar kemarin. Suka atau tidak suka, gubernur Kedah adalah pemidato yang bisa menarik kerumunan. 

Sayangnya, Azli Rahman tak merespons demonstrasi kemarin dari kaca mata kritis, sebagaimana lulusan Universitas Colombia tersebut menyoroti politik kekuasaan dalam karya ini. Algoritma belum menyimpan pandangannya.

 

Menunggu

Truk trailer lewat. Ibunya menunjuk pada mobil BYD yang diangkut oleh kendaraan besar itu. 

Saya pun bilang bahwa Tesla kini kalah dengan mobil listrik RRC. Kakak menimpali, China kini lebih baik. Saya pun bertanya pada Zumi, Elok Musk atau Tiongkok? 

Indonesia, sahut Zumi dengan tangan terkepal. Pagi pun jadi hangat. Saya sendiri dukung Jepang. Toshihiko Izutsu. Apa pun, menunggu harus diisi dengan percakapan dan pengambilan foto bersama. 

Silaturahmi

Saya sowan ke Kiai Kuswaidi, pengasuh pondok al-Rumi, Yogyakarya. 

Sang kiai berujar bahwa kuasa Tuhan mengatur apa pun dari apa yang terjadi. Keyakinan ini akan menutup pintu keraguan bila kita hidup dalam aturan-Nya. 

Terima kasih, Pak Bahrul. Kami adalah lulusan Akidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga. Seperguruan seringkali mendorong kita untuk senantiasa menemukan bahasa yang sama dalam merespons banyak masalah. 

Sunday, July 27, 2025

Sore yang Hilang

Dulu, pada 2016, kami duduk bercengkerama. Kini, masing-masing sudah memiliki telepon pintar. Keasyikan ngobrol mulai hilang. Untuk itu, kami pun sepakat untuk berbuka, setiap orang tidak boleh membawa gawai ke meja. Alhamdulillah, kami berhasil dan berusaha di hari biasa.

Maklum, kami pun makan dengan melihat telepon pintar masing-masing.
 

Dulu dan Kini

30 September 2015

Di sini, dulu saya terbangun tengah malam. Aha, X menjadi ruang untuk berkongsi cerita. 

Tape radio hitam itu memutar banyak lagu. Sekarang pun saya melakukan hal yang sama. Nyanyian Jiwang 90-an memantik pikir, apa pengungkapan dari tekanan itu membuat kita lebih nyaman? 

Hannah Arndt memang pernah berujar kita lega bila mengekspresikan gelegak. Tetapi di negeri ini, sebuah lukisan ditafsir normatif. Kita sering berlindung di balik sopan santun untuk membungkam kebedaan.

 

Masjid Tiban

30 Juni 2013

Masjid Tiban Malang tersimpan dalam memori komputer. Kami datang untuk melihat dari dekat fungsi dari tempat ibadah bersama rekan-rekan UUM. 

Kini, apa yang dihadirkan dengan kenangan ini? Secara fenomenologis, kita bisa bertanya pada pengelola dan pengunjung. Kira-kira apa yang akan dilihat oleh mahasiswa Perbankan Syariah Universitas Nurul Jadid - UNUJA bila melawat tempat ini nanti?

Bagi saya yang tua, masjid itu tempat bersujud, untuk melatih kerendahan hati. Setelah itu, kita berhati-hati dalam bicara dan diam.

Saturday, July 26, 2025

Pasar Jitra

Pasar tradisional ini sebentar akan dihimpit oleh dua pusat perbelanjaan. Bagaimana nasib pasar Jitra? #Ekonomi

Ini status akun Twitter 26 April 2014. Kini, kami jarang pergi  ke pasar karena ada penjual keliling yang menyediakan kebutuhan sehari-hari, seperti tempe, ikan, sayur, dan makanan ringan. 

Sebenarnya, mengajak anak ke pasar adalah cara kita untuk mengenalkan mereka bagaimana ekonomi bekerja.

Menengok Dunia Luar