Friday, October 23, 2026

Memberi Jalan Pengetahuan pada Anak-Anak


Pagi ini, saya mendapatkan pesan dari kurir bahwa paket telah diserahkan pada satuan pengaman kampus di pos. Saya pun bersegera untuk mengambilnya. Sebelum membaca ulang, saya membuat kopi agar mata ini melek untuk mengulik huruf-huruf dan foto-foto di akhir halaman. 

Buku lahir dari ikhtiar lahir, batin, dan intelektual Pak Ladang, nama sebutan penulis, Nasrullah Ali Fauzi. Pengalamannya sebagai staf di Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur menjadi pijakan untuk mengenal negara tetangga. Dengan mencatat kegiatan selama bertugas sebagai koordinator Community Service Learning, ia melihat dari dekat bagaimana anak-anak dari buruh migran mendapatkan kesempatan untuk belajar.  

Pak Ladang menyadari bahwa keberhasilan berkat dukungan banyak pihak, dari pemerintah Indonesia dan Malaysia, dan tentu ini bisa dilanjutkan dengan mengintegrasikan CLC dan banyak lembaga pendidikan, termasuk pesantren, agar keberlanjutan tersebut bisa melestarikan pembelajaran.

Wednesday, October 21, 2026

Menjaga Bumi

Memenuhi undangan Mas Zuhri Humaidi, saya berbagi etika lingkungan dengan mahasiswi dan mahasiswa Ma'had Aly Darullughah Wal Karomah, Kraksaan. Dalam kuliah umum bersama mahasantri konsentrasi Fikih Lingkungan, satu-satunya di negeri ini, kami memandang penting fiqhul bi'ah. Tanpa hifzhul bi'ah, misalnya pembakaran hutan dan lahan, kita tidak bisa merawat keturunan (al-nasl). Ratusan ribu bayi mengidap ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) akibat terpapar asap.

Hebatnya, ada banyak pertanyaan kritis dari peserta yang menjadi PR kita, di antaranya apa jaminan dari penguasa untuk memastikan tata kelola lingkungan baik, tidak tunduk pada segelintir pemodal? Sial.

Hari ini, saya merasa terwakili dengan penggiat Greenpeace Indonesia yang mengibarkan spanduk di bundaran HI berbunyi Bencana Semakin Parah, Hidup semakin Susah, Apa Kerja Pemerintah. Justru, pesan ini perlu didengar karena wakil rakyat di Senayan tidak lagi garang. 

Monday, October 19, 2026

Menunggu

Dengan berangkat awal ke sekolah, saya punya waktu lebih lama untuk menunggu di warung kopi Senja. Saya senang karena hanya sendirian. Kehadiran orang lain sebelumnya mencetuskan suasana pengap, karena mereka merokok. 

Saya pun memesan cappuccino sachetan dingin. Buku ini menunjukkan bahwa banyak kejadian intoleransi agama dipicu oleh politikus oportunis untuk memobilisasi para pendukung dan meminggirkan lawan-lawannya. Dengan mengambil objek tiga negara, Amerika, Indonesia, dan India, Cherian George bisa membandingkan politisasi Kristen, Islam dan Hindu dalam dalam kehidupan politik warga. 

Mendekati angka 4, saya pun berdiri karena melihat Biyya sudah keluar dari pintu gerbang sekolah. Saya pun menghampirinya untuk pulang bersama. 

Monday, October 12, 2026

Catur dan Makna

Pemilik buah catur hitam adalah Zumi. Untuk permainan kedua, adik Biyya ini memenangkannya. Dengan demikian, ia akan bermain lagi karena pernah meraih kemenangan. 

Selain itu, kami berdua bisa bercakap-cakap, meskipun seringkali mengernyitkan dahi untuk mengatur langkah. 

Syukur, di sekolah, ada kawannya yang juga suka bermain sejenis. Selain sepak bola, anak-anak memiliki banyak arena, yang memungkinkan setiap anak untuk tidak senantiasa terpapar pada layar gawai. 
 

Saturday, October 10, 2026

Kondangan

Kami datang sebelum acara bermula. Pak Yuli mengundang warga untuk mensyukuri perkawinan anak lelakinya. Pak Sofi mengantarkan undangan pada warga dua hari sebelumnya. 

Di sini, kami mendengar nasihat Kiai Imam, membaca selawat, yang dipimpin oleh Ustaz Abdullah, dan mengaminkan doa. Setelah penutup, kami menikmati rawon. Ada lima hal yang melebihi isi dunia, di antaranya makanan lezat dan istri salehah. 

Menariknya, lezat itu terkait selera. Lebih-lebih lagi, seseorang sedang lapar kala menyantap makanan, kata kiai. Tentu, setiap orang mengenal jam tubuhnya.

Thursday, October 08, 2026

Ecordis


Saya menghubungi Kafe Rooster, apa kedai gunting rambut, sebutan jiran untuk barbershop, buka? Tutup. Saya pun mencari tempat lain. Setelah menemukannya, Geos, saya dan Zumi masuk dan duduk di sofa. Ternyata, tidak ada penjaganya. Kami pun pergi. 

Setelah itu, kami pun melaju ke Ecordis, tempat Zumi merapikan rambutnya. Di sini, ia hanya menghabiskan waktu tak lebih 10 menit. Rp 35 ribu saya serahkan kepada kasir. Ternyata, di sekitar tempat kami, ongkosnya beragama, dari 10 ribu, 25 ribu hingga 35 ribu. Tinggal kita pilih! 

Dulu, saya sering diantar ibu ke Pak Ahmadun, yang membuka lapak dekat bengkel tak jauh dari pasar. Kini, generasi alpha melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda. 

Sunday, October 04, 2026

Do We Have Free Will?

Di dapur, saya membaca kembali isu lama tentang kehendak bebas. Sambil menikmati pisang goreng dan kopi, saya mengingat kembali apa yang didendangkan Rhoma Irama tadi pagi dari soundsystem jiran yang sedang gelar hajatan, "Bebas". 

Kehendak bebas adalah kapasitas khas agen untuk membuat pilihan atas tindakan, yang erat kaitannya dengan baik dan buruk serta isu-isu etika, tanggung jawab moral dan akuntabilitas perilaku. 

Jadi, bebas  itu sendiri berhubungan dengan aturan karena setiap individu hidup bersama dengan orang dan masyarakatnya. Lalu, lawannya determinisme menyela bahwa setiap perbuatan merupakan akibat dari faktor lain sebelumnya. Pendek kata, "takdir" bekerja. 

Hujan

Setelah mengantongi Istana Merah nya June Hur dan Saman nya Ayu Utami pesanan Biyya dari Gramedia, Jalan Kartini Jember, saya mampir ke waru...