Bagaimana jika tiga hal di atas dinikmati bersama? Jelas, menyenangkan. Saya mereguknya kemarin bersama keluarga dan teman baik saya, namanya Encik Muzammil. Tentu, saya memulai dengan memesan segelas kopi dan menyesapnya perlahan. Setelah kerongkongan basah dan ngobrol ke sana kemari, saya beranjak menengok rak buku filsafat dan ilmu sosial. Sayangnya, buku keagamaan (Islam) tak begitu banyak, sehingga saya tak perlu singgah di rak bagian ini. Hanya melihat, saya kembali ke tempat duduk.
Dari ketinggian warung itu, saya menikmati pemandangan bukit Jerejak dan pantainya yang landai. Sore itu benar-benar mendatangkan riang tak alang-kepalang. Saya hanya perlu menarik napas dan menghadirkan keindahan alam yang tersaji di depan warung kopi. Oh ya, nama toko buku itu tampak jelas di belakang gambar, Borders. Di sini, pihak manejemen menyediakan ruang untuk membaca, sejumlah kursi dan meja diletakkan di tengah-tengah rak. Para pengunjung tampak khusyuk menekuri huruf. Melihat raut mereka, saya menemukan kegalauan, kesabaran dan keingintahuan. Suasana tenang, sunyi, sepi dari hiruk pikuk.
Sudah kesekian kalinya saya mampir ke toko ini dan baru sekarang mampir ke warung kopi sebelahnya. Saya tak pasti apakah ini yang terakhir sebab warung itu terlalu mahal menjual hanya untuk secangkir kopi. Mungkin, citra yang sedang diperjualbelikan di sini, sebab rasa tak jauh berbeda dengan kopi yang saya seduh di pagi hari. Atau, di sinilah, orang-orang ingin melihat dan dilihat agar diterakan sebagia bagian dari komunitas 'tertentu'.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Magriban
Sang ibu memotret kami sebelum beranjak ke masjid. Di sini, ada banyak anak dan ayah juga menunaikan salat bersama..
-
Ahmad Sahidah lahir di Sumenep pada 5 April 1973. Ia tumbuh besar di kampung yang masih belum ada aliran listrik dan suka bermain di bawah t...
-
Buku terjemahan saya berjudul Truth and Method yang diterbitkan Pustaka Pelajar dibuat resensinya di http://www.mediaindo.co.id/resensi/deta...
-
Kami berdua salat di masjid tempat orang dewasa, remaja, dan anak-anak bersembahyang. Di sini, saf pertama bisa diisi oleh jamaah dari sega...
1 comment:
NIce Article
Post a Comment