Pak As'adi memberi tahu pelaksanaan acara Maulid melalui grup WhatsApp Rukun Tetangga. Tadi malam, kami menunaikan perayaan dengan penuh khidmat. Seusai maghrib, anak-anak, para remaja, ibu-ibu, dan bapak-bapak berbondong-bondong pergi seraya membawa kotak-kotak makanan. Tidak hanya itu, sebagian warga meletakkan buah di bungkusan untuk melengkapi suguhan.
Abah Fauzan membuka acara dengan tawasul. Lalu, Pak Halim melantunkan selawat yang dilanjutkan oleh Pak Sururi. Pak Mushthofa menutupnya dengan doa. Anak-anak mengikuti bacaan pujian dengan riang. Di sela itu, Pak Jamal mencabuti uang yang ditancapkan pada batang untuk diberikan pada anak-anak. Demikian pula, Pak Sufyan mengambil balon untuk diberikan pada balita, yang menyebabkan mereka gembira alang-kepalang. Pak Joko dan Pak Boniman juga mengagihkan makanan pada hadirin. Semua yang hadir bahagia dengan caranya masing-masing.
Kala mahallul qiyam (momentum berdiri), saya merasakan "kehadiran" nabi, seakan-akan warga menyambut sang rasul. Kalimat ya jaddal hasan, ya jaddal hussain (wahai kakek hasan dan husein), membuat saya tertegun karena tragedi yang menimpa cucu ayah Fatimah ini melahirkan duka. Ada kesedihan yang menjalar.
Tentu, perayaan ini akan menjadi kenangan yang abadi pada anak-anak. Mereka menyambut nabi dengan pujian, bacaan, dan doa. Di sini, silaturahmi, kedermawanan, dan syiar dimakmurkan. Masjid tidak hanya digunakan untuk ibadah (salat berjemaah), tetapi juga tarbiyah (pendidikan budi pekerti).
No comments:
Post a Comment