Sunday, March 05, 2006
Malam Indonesia
Selamat untuk teman-teman Persatuan Pelajar Indonesia yang telah menampilkan 'keindonesiaan' berbingkai lagu berbagai daerah di Indonesia. Sebuah atraksi yang betul-betul mengajak saya kembali bertamasya ke bumi pertiwi: Sumatera, Sunda, Jawa dan Jakarta. Tidak itu saja, tarian dan kumpulan band [arie, toni, fermi, didit, niko] makin membuat penampilan tarian hidup. Terus terang, emosi seakan meledak, karena mereka menyuguhkan 'persembahan' yang riang, cantik dan eye-catching. Agak subjektif memang, tapi siapakah yang bisa mengingkari nurani bahwa saya lebih 'ngeh' dengan sesuatu yang saya kenal, mendarah daging dan bagian napas selama ini? Tidak ada. Sebiji zarahpun.
Seluruh rangkaian lagu diakhiri lagu Coklat Merah Putih, sebuah penutup yang manis tapi juga membuat hati miris: patriotisme yang diteriakkan lantang melalui lagu cukup untuk menabuh genderang perang.
Lalu perang melawan apa? Perang melawan diri sendiri. Ini tertanggungkan jika kita bersama untuk melawannya, di sini dan sekarang.
Berikutnya, adalah keinginan untuk mengerti budaya liyan, seperti Cina, Arab, Swedia, Selandia Baru, Malaysia, dan Mongolia. Hanya itu. Meskipun semi-kolosal dan aransemen musik menderu, bahkan, mungkin menaikkan adrenalin, tapi mereka tak cukup menyediakan ruang untuk menghilangkan'haus' nostalgi, menimbulkan keharu-biruan, dan memantik gelegak emosi.
Selamat untuk mereka yang telah menghadirkan Indonesia di panggung.
Thursday, March 02, 2006
Buku

Buku yang mengubah seseorang, seperti Nietzsche yang menemukan buku di toko loak, Levi Strauss dengan buku Jacobson. Ternyata, buku benar-benar telah mengubah secara dramatik kehidupan pembacanya. Bahkan, Strauss menyebut buku itu seperti wahyu. Luar biasa, bukan?
Lalu, pernahkah kita juga mengalami hal sama? Kalau tidak, seberapa seriuskah kita mencoba untuk melakukannya? Pertanyaan ini tentu menggoda banyak orang untuk menjawabnya.
Wednesday, March 01, 2006
Dialektika Peradaban
Penulis : John L. Esposito, Mohammed Arkoun, Mohammed 'Abed Al-Jabri, et.al.Cetakan : I, Oktober 2002
Jumlah Halaman : 384
Penerbit : Qalam
Harga : Rp 42.000
ISBN : 979-9440-22-X
Dari beragam tinjauan dan sudut pandang, para kontributor Dialektika Peradaban ini membongkar hubungan antara Islam dan Barat yang hingga kini masih menyisakan persoalan-persoalan krusial yang tak kunjung usai. Persoalan-persoalan tersebut tidak semata berkisar pada urusan persinggungan agama, tetapi juga pada perbenturan kepentingan hegemoni ekonomi, dominasi politik, dan ekspansionisme satu budaya terhadap yang lainnya. Karena itulah perlu terus diupayakan dialog-dialog lintas kebudayaan dalam iklim kesetaraan untuk mendialektikakan segala persoalan krusial agar sampai pada sintesis yang lebih berkeadilan bagi kedua pihak. Buku ini mencoba mengungkap bagaimana hubungan dialektis antara Islam dan Barat, yang selama ini lebih sering dilihat dari kacamata pandang "perseteruan-oposisional", pada kenyataannya lebih banyak dipengaruhi oleh faktor persepsi negatif, pandangan sepihak, stereotip, dan standar ganda yang tidak diimbangi oleh kearifan sikap untuk bersedia memandang kelompok lain secara objektif dan proporsional. Kenyataan ini semakin diperparah dengan diobralnya klaim-klaim ajaran kitab suci dan digadaikannya sabda-sabda Tuhan untuk kemudian 'diperalat' demi membenarkan pandangan masing-masing. Di sinilah, sederetan pemikir yang berasal dari kedua tradisi-Islam dan Barat, dengan keluasan wawasan dan ketajaman analisanya menguliti dan membedah persoalan-persoalan tersebut hingga di kedalaman akar-akarnya, sembari tidak lupa menyuguhkan tawaran-tawaran kerja strategis-operasional untuk mengatasinya. Untuk mencapai semua itu, prasyarat awal yang mereka perjuangkan adalah mencari semacam "titik temu" guna mengklarifikasi kondisi dan hubungan yang selama ini terjalin lebih dalam kerangka "aku-engkau".
Kebenaran dan Metode

Buku terjemahan saya berjudul Truth and Method yang diterbitkan Pustaka Pelajar dibuat resensinya di http://www.mediaindo.co.id/resensi/details.asp?id=65
Debat Kritis tentang Imanensi Fenomenologis
Oleh: Syafruddin Azhar
Judul buku : Kebenaran dan Metode
Judul asli : Truth and Method
Penulis : Hans-Georg Gadamer
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Edisi : 2005
Tebal buku : xxix + 676 hlm
"Bahasa bukanlah konvensionalismenya yang rumit, juga bukan beban praskematisasi yang membebani kita. Tetapi, bahasa adalah kekuatan generatif dan kreatif yang tanpa henti membuat keseluruhan ini mengalir. (Hans-Georg Gadamer, 1975)
TOPIK hermeneutika merupakan fenomena paling menarik bagi para ilmuwan dan teoretikus modern sekarang ini. Istilah ini dalam historisitasnya berasal dari akar kata Yunani hermeneuein (menafsir) dan hermeneia (tafsiran). Dalam mitologi Yunani, istilah ini identik dengan sosok Dewa Hermes yang bertugas menghubungkan pesan dari Dewa Jupiter kepada manusia. Akan tetapi, pesan tersebut harus ditafsirkan terlebih dahulu oleh si pembawa pesan sebelum disampaikannya kepada manusia. Berawal dari mitologi ini, secara tersirat terkandung unsur penting perilaku menafsir, yakni menjelaskan dan menerjemahkan.
Pada abad ke-19, hermeneutika dianggap sebagai prinsip dasar penafsiran segala bentuk teks sebagai metode khusus dalam ilmu humaniora. Kemudian menjadi kerangka berpikir baru kefilsafatan sejak Martin Heidegger (1889-1976) dan Hans-Georg Gadamer (l. 1900), filsuf terkemuka Jerman. Perjalanan waktu ini menjadikan pengertian di balik istilah “hermeneutika” terus bermetamorfosis dengan kemajuan ilmu pengetahuan (sains).
Kajian utama karya monumental Gadamer ini Kebenaran dan Metode (Truth and Method), hanyalah pengertian mutakhirnya saja sebagai ajang untuk membawa pembaca ke dalam semangat berpolemik. Hans-Georg Gadamer ingin menantang secara konstruktif metode empiris untuk memasuki wilayah humaniora yang diulas secara kritis-estetika modern dan teori pemahaman historis dari perspektif Heideggerian, juga merupakan sebuah hermeneutika filosofis yang bersandarkan pada ontologi bahasa.
Kajian ini menaruh perhatian pada masalah hermeneutik. Fenomena pemahaman dan penafsiran yang benar terhadap apa yang dipahami bukan hanya merupakan masalah yang cocok bagi metodologi ilmu pengetahuan manusia. Untuk waktu lama, ada hermeneutika teologis dan hukum, yang secara teoretis tidak banyak berkaitan dengan, dan merupakan bantuan bagi, aktivitas praktis seorang hakim atau pendeta yang telah menyelesaikan pendidikan teoretisnya. Dari asal usul sejarahnya, masalah hermeneutika melampaui batas-batas konsep tentang metode yang telah ditetapkan oleh ilmu pengetahuan modern. Pemahaman dan penafsiran terhadap teks tidak hanya menjadi perhatian ilmu pengetahuan, tetapi jelas merupakan bagian dari seluruh pengalaman manusia tentang dunia.
Fenomena hermeneutik pada dasarnya juga bukan sebuah metode. Hermeneutika tidak berkaitan dengan metode pemahaman, yang dengan memakai metode tersebut teks diungkap melalui penyelidikan ilmiah seperti semua objek pengalaman yang lain. Ia tidak semata-mata berkaitan dengan pengumpulan pengetahuan yang telah disahkan untuk memuaskan ideal metodologis ilmu pengetahuan, namun hermeneutika juga berkaitan dengan pengetahuan dan kebenaran. Dalam memahami tradisi tidak hanya dengan memahami teks, tetapi wawasan juga harus diperoleh dan kebenaran harus diakui. Tetapi jenis wawasan dan kebenaran apa?
Di hadapan ilmu pengetahuan modern (sains) yang mempunyai posisi dominan dalam penjelasan dan pembenaran filosofis terhadap konsep pengetahuan dan kebenaran, pertanyaan seperti ini tampaknya tidak sahih. Namun pertanyaan ini tidak dapat dihindari, bahkan di dalam ilmu pengetahuan sekalipun. Fenomena pemahaman tidak hanya mencakup semua hubungan manusia dengan dunianya. Ia juga mempunyai kesahihan tersendiri dalam ilmu pengetahuan dan mempertahankan setiap usaha untuk mengubahnya ke dalam metode ilmu pengetahuan. Penyelidikan yang dilakukan di dalam buku karya Gadamer ini dimulai dengan perlawanan di dalam ilmu pengetahuan terhadap klaim universal metode ilmiah. Penyelidikan ini mempunyai perhatian untuk mencari pengalaman kebenaran yang melampaui ruang kontrol metode ilmu pengetahuan di manapun ia ditemukan, dan menyelidiki legitimasinya.
Buku Gadamer ini bersifat fenomenologis di dalam metodenya. Ini tampak paradoksikal sebagaimana juga kritisisme Heidegger terhadap persoalan transendental dan pemikirannya tentang bentuk ‘pembalikan’ dari dasar perlakuan Gadamer terhadap masalah hermeneutika universal. Namun Gadamer melihat bahwa prinsip pemaparan fenomenologi dapat diterapkan pada penggunaan Heidegger ini, yang akhirnya menunjukkan masalah hermeneutik. Karena itulah, Gadamer menyebutnya sebagai "masalah imanensi fenomenologis."
"Kebenaran dan metode" adalah sesuatu yang terus mengembang dalam relasi horizontal-vertikal yang penuh kontradiksi dan paradoks. Dalam kerangka pemikiran filsafat strukturalisme the endless play-nya Jacques Derrida (1930-2004), manusia dalam memahami realitas selalu hanya pada aspek tertentu yang terus saja bermunculan tanpa akhir. Untuk mencapai kebenaran dalam konteks konstelasi penafsiran, seorang hermeneutis harus lari dari cengkeraman metode untuk kemudian menceburkan diri di tengah pusaran dialektika. Menurut Gadamer, dipergunakannya metode justru merintangi kebenaran; sedangkan dialektika tiada henti mengumpulkan serpihan kebenaran itu hingga akhirnya menjadi "bulat dan utuh."
Kajian tentang subjek tertentu yang ada di sini juga menggagas kemungkinan teori hermeneutika berbasis fenomenologi seperti yang dilakukan Heidegger. Gadamer secara eksplisit menjadikan analisis Heidegger tentang prastruktur pemahaman dan historisitas intrinsik keberadaan manusia sebagai fondasi dan titik awal analisisnya tentang kesadaran sejarah. Gadamer mengasumsikan dialektika yang didasarkan pada struktur keberadaan sebagaimana dijelaskan pada prastruktur pemahaman dalam karya Heidegger, Sein und Zeit (1927) atau Being and Time (1962). Heidegger memasuki masalah hermeneutika dan kritisisme historis hanya untuk mengembangkan, demi tujuan ontologi. (hlm. 321)
Rekonsepsi pemahaman radikal Heidegger dalam pemikiran Gadamer digiring ke dalam ekspresi yang sistematis. Konsepsi hermeneutika yang lama sebagai basis metodologis, khususnya ilmu humaniora (Geisteswissenschaften), telah ditinggalkan. Status metode itu sendiri menjadi dipertanyakan karena Gadamer mengulasnya sebagai suatu ironi: metode bukanlah cara menuju kebenaran. Sebaliknya, kebenaran menegasikan manusia yang metodis.
Sekalipun demikian, Gadamer tidaklah bersifat anti-metodologis. Ia berargumen bahwa pretensi metodologi apa pun (positivistik atau bukan) adalah "buta" kalau memandang dirinya sebagai epistemologi, yakni menghilangkan syarat kebenaran (the true) menjadi syarat yang benar (the right) dari sebuah aplikasi teknik. Gadamer menilai karya monumentalnya ini sebagai upaya dalam memenuhi aspirasi metodologi yang terdalam. Di bawah metode ini, ia ingin menjelaskan syarat mendasar bagi munculnya kebenaran yang bukan sekadar suatu teknik tentang sesuatu yang dilakukan subjek, melainkan sebagai akibat dari sesuatu yang "terjadi tanpa kemauan kita dan sesuatu yang terjadi di luar tindakan kita."
Kajian filosofis yang cerdas dan mendalam dalam buku Kebenaran dan Metode ini hanya dapat disejajarkan dengan dua karya monumental lainnya tentang teori hermeneutika yang ditulis pada abad ke-20 karya Joachim Wach, Das Verstehen, dan karya Emilio Betti, Teoria Generalle della Interpretazionne. Karya monumental Betti mencakup lintas wilayah disiplin interpretasi bagi ilmu humaniora. Dengan dipublikasikannya karya Gadamer ini menjadikan teori hermeneutika memasuki suatu fase baru yang penting. Ia telah berjasa dalam menemukan problem filosofis pengembangan ontologi baru peristiwa pemahaman.
Apa yang menarik dari buku ini? Membaca buku karya Gadamer ini memang membutuhkan keseriusan dan ketekunan ekstra mengingat apa yang disajikan dalam buku ini termasuk salah satu topik yang cukup berat dan serius. Kendati demikian, buku ini memberikan nuansa baru dalam berpikir rasional melalui filsafat hermeneutika pada ontologi bahasa. Gadamer tampaknya ingin kembali pada eksistensi humanisme, yakni rasionalitas.
Melalui buku Kebenaran dan Metode ini, Gadamer mengangkat tema kritis terutama tentang kesadaran hermeneutik yang harus dijaga. Ia menyadari klaim superioritas yang dibuat oleh pemikiran filosofis mempunyai sesuatu yang samar dan tidak real. Kesadaran ini mengonfrontasikan kehendak manusia yang lebih dari sekadar memperdalam kritisismenya terhadap apa yang hilang sebelum hal itu menjadi utopian atau kesadaran eskatologis, dengan sesuatu yang berasal dari kebenaran ingatan: "Apa yang masih dan juga nyata."
Karya genius filsafat hermeneutika ini dapat dijadikan sebagai penampakan pengaruh yang kuat dari analisis pemahaman ontologi Heidegger. Akan tetapi beberapa bidang lain perlu dieksplorasi mengenai signifikansi teori hermeneutika. Misalnya, filsafat bahasa, analisis logika, teori informasi, dan teori tentang interpretasi lisan (orasi).
Gadamer melakukan penjelajahan intelektual pada tataran filosofis dan teoretis yang membongkar hingga ke dasar substansinya. Dengan paparan bernas, Gadamer mencoba mengklarifikasi tema interpretasi hermeneut-ekspresivist melalui debat kritis estetika kontemporer beserta segenap kritikannya yang menukik dan cerdas. Dengan demikian medan jelajah buku Kebenaran dan Metode ini berada dalam dataran filsafat, politik, bahasa, sains, seni, dan kajian ilmu humaniora dengan penekanan khusus pada "filsafat hermeneutika" sebagai kerangka konseptual sekaligus metode analisisnya.
Tak dapat dipungkiri gaya penuturan Gadamer dalam buku ini memang memesona walau dalam tataran khazanah filsafat yang njlimet. Ia menyumbangkan pemikirannya yang reformatif dan progresif. Namun demikian, ada satu keterbatasan sebagaimana dalam karya terjemahan umumnya, pembaca kadang tersandung oleh deretan kata atau kalimat yang tidak jelas konsepnya. Ini rupanya tak dapat dihindari karena bahasa adalah ekspresi perasaan dan pikiran penerjemahnya. Mungkin juga perbedaan budaya, ide, dan cita rasa. Karena itu, kajian filsafat seperti ini erat kaitannya dengan ontologi bahasa. Sebagaimana dikatakan Gadamer dalam buku ini (hlm 660), bahwa bahasa adalah kekuatan generatif dan kreatif yang tanpa henti membuat keseluruhan ini mengalir.
Pertanyaan mendasarnya adalah seberapa jauh aspek pemahaman itu sendiri dan linguistisitasnya dapat dicapai? Bisakah ia mendukung rujukan filosofis umum di dalam proposisi, "Apa yang bisa dipahami itu adalah bahasa?" Sejatinya, universalitas bahasa membutuhkan sebuah kesimpulan metafisik yang tak dapat dipertahankan bahwa ‘segala sesuatu’ hanya bahasa dan peristiwa bahasa? Benar, referensi yang jelas terhadap yang tak bisa salah tidak dengan sendirinya memengaruhi universalitas bahasa.
Debat kritis tentang imanensi fenomenologi yang njlimet, namun penuh daya pikat ini diungkapkan secara menarik oleh Gadamer. Buku Kebenaran dan Metode yang diterjemahkan dari edisi Inggris ini dinilai kontroversial di kalangan ahli filsafat hermeneutika Jerman.©
Syafruddin Azhar, pengamat perbukuan dan editor sebuah penerbit di Jakarta.
Lalu, saya menimpali dalam 'ruang' tanggapan:
Saya, sebagai penerjemah buku ini, mengungkapkan terima kasih karena resensi ini telah mencerminkan apa yang dikatakan gadamer bahwa memahami teks adalah sekaligus menafsirkan. Lebih jauh lagi, penafsiran itu dibatasi oleh situasi diri sang penafsir, namun demikian ada makna yang bisa dimiliki bersama, atau dalam bahasa Gadamer disebut dengan die sache.
Peresensi menambahkan:
Terjemahan buku ini menurut hemat saya cukup baik. Namun demikian, karena perbedaan persepsi dan kultur penulisnya, tentu terdapat distorsi makna yang ingin disampaikan oleh penulis buku ini. Saran saya, penerjemah setidaknya dapat memilih pilihan kata sesuai dengan maksud penulis, dan sebisa mungkin mengurangi persepsi atau penafsiran. Dengan demikian, walaupun buku-buku filsafat berkesan njlimet dan 'berat' akan menjadi menarik dan 'enteng' untuk dibaca oleh banyak kalangan (awam dalam bidang filsafat sekalipun). Saya perlu menyampaikan di sini bahwa penerjemah buku ini cukup teliti dan berhati-hati dalam menrik suatu persepsi atau penafsiran pikiran Hans-Georg Gadamer.
(Syafruddin Azhar-peresensi buku ini)
Jazz
Jika saya hanya berkutat pada apa yang telah dialami, tanpa mencoba untuk berubah, dengan membaca, mendengar dan mendialogkan kemungkinan baru, maka dengan sendirinya saya telah 'mematikan' seluruh eksistensi ini.Setelah membaca dua buku dan mendengar jazz yang jarang dinikmati, maka dunia seakan mewartakan bahwa hidup saya masih panjang dan perlu untuk menerokai 'ranah' baru agar terbuka 'isi' dunia. Mungkin, citra jazz sebagai musik kelas menengah, eksklusif turut mendorong cita rasa yang terpendam dalam bawah sadar untuk naik ke permukaan dan akhirnya saya menjadi bagian dari kelas itu. Tidak menarik, bukan?
Kalimantang
Biasanya saya keluar kamar pukul 9, tapi hari ini 8.30, saya udah melangkah, ingin duduk dan membaca cerpen, tepatnya kumpulan, Budi Iman Santoso di pojok asrama Restu USM yang menghadap ke bukit hijau dan di sini angin hilir mudik membelai tubuh.
Benar-benar pagi yang menyenangkan. Ingin rasanya, hawa pagi itu berjalan hingga sore, sebab siang di sini adalah panas yang lembab, tak enak untuk kulit.
Meskipun, acapkali saya berada di ruangan berhawa dingin karena AC, tapi kulit mengering, berbeda dengan angin pagi dari balik bukit yang menyegarkan, menyelusup di pori-pori hingga ke dalam dan tubuh seperti terangkat melayang.
Jam 9, kami pun berangkat ke Kantin Harapan untuk sarapan. Ingat, hindari gorengan! Ah, hidup ternyata perlu memilih. Mau sehat atau tidak? Herannya, dua pilihan ini silih berganti, meskipun yang pertama adalah yang utama.
Tuesday, February 28, 2006
ألارض مسجد
Dalam suatu kesempatan, saya pernah menyatakan bahwa agama jangan dibekap di masjid saja, ia mesti melimpah di manapun jua, bahkan di starbucks. ألارض مسجد kata Nabi. Bumi kita ini adalah masjid. Secara metaforik, beliau menegaskan bahwa semua bisa menjadi tempat untuk 'menyapa' Tuhan, meskipun kadang agak susah jika itu mesti dibacakan di tempat-tempat publik. Oleh karena itu, cukup di hati, jika tidak akan mengundang cemoohan, sebab kita adalah orang aneh yang sedang pamer menjadi orang saleh.
Lalu, pernahkah 'tuhan' hadir dalam keramaian? Agak riskan mengatakan ya. Maka sebelum itu menjadi kesadaran, biarkah kita memulai dari rumahnya [masjid dalam bentuk fisik]. Belajar alif, ba dan ta dengan menyicil, tak perlu instant, karena kita sedang melatih 'kaki' merangkak, berjalan dan akhirnya berlari menuju puncak.
***
Selesai sudah mengisi 'hati' dengan asupan, lalu kami beranjak untuk pergi ke Gelugor, makan malam. Kadang, saya protes, apakah hidup kita ini hanya untuk melakukan 'ritual' ini berulang-ulang? Tidakkah, upacara ini dilompati saja untuk digantikan dengan sesuatu yang baru: makan cukup sekali, tak perlu tiga kali. Hidup cuma sebentar hanya untuk dihabiskan di meja makan.
Pulang dengan bayangan bisa ke katil untuk tidur dan diawali dengan membaca roman Taufik Ikram Jamil Gelombang Sunyi sambil mendengar lamat-lamat suara radio yang tanpa mengenal lelah menghibur. Tak pasti, pukul berapa saya mematikan lampu dan menutup buku untuk memejamkan mata. Lelap. Sungguh lelap karena saya hanya minum air putih setelah makan, tidak teh tarik yang mengandung kafein. Tidak hanya itu, malah mimpi malam ini indah. Saking lelapnya, saya tidak tahu kalau pukul tiga hujan deras dan bel sirine tanda kebakaran berdenting. Saya hanya merasakan pagi yang menyemburatkan sinar, memantulkan kesegaran dan cerita teman karib bahwa bel itu mengganggu tidurnya.
Sarapan di bakti cermai adalah cerita lain tentang tempat favorit karena mata diperlihatkan taman yang kehijauan karena air hujan semalam membuatnya basah. Bahkan, sisa-sisa air berjatuhan dari ranting karena sekawanan burung menginjakkan kakinya. Ups, butiran-butiran itu berkilauan di tempa cahaya pagi. Benar-benar pemandangan yang menentramkan!
Oh ya, tadi saya bertemu dik Woelan, dengan jilbab menutupi rambutnya yang biasanya dibiarkan tergerai. Sapa dan salam menghiasi pertemuan. Telah lama kami tidak bercengkerama, tapi itu udah cukup untuk memulai kembali hari-hari yang penuh canda.
Ahmad : Gi mana persiapan untuk persembahan ISEAC?
Woelan : Nggak tahu, nech lagi batuk.
Ahmad : Dari mana?
Woelan : Ada kelas, tadi.
Fauzi : Wah, sepagi ini udah kelar kuliah? [teman karib Melayu saya]
Woelan : [tersenyum]
Lalu, kami memilih 'tempat' yang berbeda untuk bertemu lagi di lain suasana.
Merenung Keseharian
Dengan membaca kembali buku Falsafah Harian ini, saya dapat menimbang saran teman-teman yang telah membahas tulisan, seperti apakah pijakan ...
-
Buku terjemahan saya berjudul Truth and Method yang diterbitkan Pustaka Pelajar dibuat resensinya di http://www.mediaindo.co.id/resensi/deta...
-
Ahmad Sahidah lahir di Sumenep pada 5 April 1973. Ia tumbuh besar di kampung yang masih belum ada aliran listrik dan suka bermain di bawah t...
-
Kami berdua salat di masjid tempat orang dewasa, remaja, dan anak-anak bersembahyang. Di sini, saf pertama bisa diisi oleh jamaah dari sega...
