Thursday, December 07, 2006

Ketika Bahagia itu Murah

Dalam sebuah penelitian, ternyata uang bisa membeli kebahagiaan. Ini tentu mengejutkan karena ia menjadi antitesis bahwa kekayaan itu tidak identik dengan hidup bahagia.

Saya tidak akan menyoal benar dan tidaknya hasil penelitian ini. Saya hanya ingin menikmati hidup tidak dibebani oleh sesuatu yang membuat saya tidak nyaman. Kata orang bijak bahwa kita harus menemukan 'yang berharga' pada apa yang di diri kita. Tak perlu, berharap bahwa kebahagiaan itu ada di seberang. Biasanya, dalam keseharian selalu saja muncul 'di benak' bahwa kalau saya mempunyai ini tentu akan menyenangkan, atau bahkan membahagiakan. Tidak pernah kita menjadikan milik kita adalah yang terbaik, yang perlu dinikmati. Sehingga secara tidak sadar kita tidak akan pernah mencecap kebahagiaan.


Seperti hari ini, saya mengulang kembali untuk ke sekian kalinya bermain pingpong dengan teman-teman baik. Bagi saya, ia adalah olahraga yang membuat tubuh ini berkeringat, syaraf tidak tegang, tak jarang berteriak jika bola masuk atau keluar lapangan dan kadang diselingi dengan canda. Sesederhana inikah kebahagiaan ? Ya. Kalau diurai mungkin peristiwa ini bisa dijelaskan dengan bahasa yang lebih panjang bahwa (1) saya sehat (2) melakukan olahraga (3) membuat haus sehingga minum air lebih banyak, bahkan hampir 1 liter (4) bercanda, dan siapa pun mengakui bahwa humor membuat orang tidak mengerutkan dahi yang memerlukan energi yang banyak dan tawa hanya memerlukah dua otot untuk menggerakan muka sehingga kita tidak lelah (5) berinteraksi dengan orang lain, sebuah penanda bahwa saya orang yang tidak kesepian dan suka melamun menghitung bunyi detak jantung.

Lagi-lagi, ketika saya menulis ini, sepertinya saya telah meluahkan kembali kegembiraan yang baru direguk bersama, sehingga ia akan menambah kenyamanan. Apalagi, ditemani lagu favorit, lengkap sudah kebahagiaan ini. Lalu, apakah kita harus 'menjejali' diri ini dengan banyak keinginan untuk bahagia? Jika ya, kita hanya membuat hidup ini tak lebih dari mesin.

Monday, December 04, 2006

Menghindari Perangkap Neo-Liberalisme

Iseng-iseng saya browsing di google, ternyata tulisan saya di Republika telah dimuat pada tanggal 4 Oktober [ baca: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=267106&kat_id=16] dan di list google juga terdapat tulisan yang mengkritik Rencana saya di Utusan Malaysia oleh seseorang yang mempunyai alamat URL di http://shah2ello.blogspot.com/2006/09/18092006.html] dengan tajuk Response to Writing by Ahmad Sahidah.

Jadi, ketika saya secara sadar 'mengkritik' tulisan orang lain di Republika, maka saya harus siap 'dikritik'. Inilah hakikat dari pembelajaran hidup bersama. Tentu, kita masih ingat ketika di milis ini muncul 'kritik' terhadap sikap politik saya terhadap Bush yang menimbulkan 'tanggapan' kritis dari teman-teman, Aris, Rinza, Fika, dan Wheeza.

Dengan perbedaan sebenarnya kita bisa menyelamati sisi 'kognitif' ilmiah dan psikologi orang lain. Mungkin, pernyataan saya tentang Bush lebih mendekati luapan psikologis dibandignkan 'ilmiah', meskipun dengan sekuat tenaga saya berusaha untuk memberikan argumentasi yang disertai fakta-fakta empiris.

Syukur, sekarang saya telah dibukakan sedikit tentang suasana psikologis teman-teman yang menyanggah pendapat saya baik secara langsung maupun tidak. Lebih dari itu, pengetahuan ini tidak menyebabkan saya 'ingin' membongkar lebih jauh apa sebenarnya yang terjadi pada orang lain, melainkan saya lebih melihat ke dalam bahwa sesungguhnya saya bertarung dengan diri sendiri. Akur?


Ahmad Sahidah
Sekarang saya sedang ingin menulis 'Bagaimana Perempuan Menafsirkan al-Qur'an', sebagai persiapan menyambut hari Ibu.

Atau baca:

Menghindari Perangkap Neo-Liberalisme

Ahmad Sahidah Kandidat
Doktor Kajian Peradaban Islam Universitas Sains Malaysia

Tulisan Zaim Saidi bertajuk 'Dialektika Palsu Dua Wajah Islam' (Republika 5 Juli 2006) menghentak kesadaran kita. Pertarungan dua wajah Islam, liberalisme dan radikalisme adalah mainan kapitalisme (Neo-Liberalisme?) untuk merontokkan 'potensi' pemahaman yang akan melawan pemilik modal setelah runtuhnya komunisme-sosialisme.

Penolakan Saidi akan pembagian dua model tersebut bisa dipahami jika merujuk pada otentisitas yang ingin diperkenalkan, yaitu praktik komunitas awal, Al Madinah Al Munawarah. Selain itu, pengertian normatif dari Islam itu sendiri yang berarti damai. Namun, gagasan ini terkesan romantik dan ideal, yang sebenarnya memerlukan 'bentuk' agar tidak dikatakan hanya memanjakan dunia idea yang abstrak. Apalagi, Mary Douglas, antropolog Inggris, menyatakan bahwa cara pandang biner semacam ini memang tugas pengetahuan dan selanjutnya realitas adalah lebih rumit.

Sayangnya, tulisan Saudara Saidi tidak menyisakan ruang kebaikan bagi dua wajah yang dianggap palsu ini. Padahal, keduanya adalah respons terhadap modernitas dengan pendekatan yang berbeda. Apalagi, tuduhan palsu telah mencederai kemungkinan dialog karena telah menutup pintu kebenaran bagi yang lain.

Liberalisme dan radikalisme
Dalam sejarahnya, liberalisme adalah respons terhadap dominasi gereja terhadap kehidupan umatnya, termasuk pendakian kebenaran yang dimiliki sepenuhnya oleh otoritas para rahib. Masa ini ditandai sebagai masa pencerahan (aufklarung). Persoalannya adalah jika kata 'liberal' ini dicangkokkan kepada sebuah tradisi yang sebenarnya mempunyai pengalaman sejarah yang berbeda dengan Kristen tempat di mana pemikiran kritis ini tumbuh. Apalagi, Kata Mark R Woodword, pandangan dunia (weltanschauung) Islam dan Kristen berbeda, yang pertama bercorak sosiologis dan yang terakhir adalah kosmologis.

Radikalisme pada hakikatnya adalah fenomena umum yang bisa diusung oleh kelompok apapun yang mengedepankan cara kekerasan untuk tujuan tertentu. Kalaupun misinya baik, keberadaan kelompok ini dihadapkan dengan kuasa besar, baik pada tingkat lokal maupun internasional. Adalah wajar jika posisi mereka acapkali terjepit karena dikeroyok banyak kekuatan.

Karena keduanya sama-sama 'melek' media, dengan sangat kencang kedua kelompok ini menebarkan idealismenya lewat saluran media cetak dan elektronik, yang menyebabkan keduanya berada pada posisi ekstrem. Dalam sebuah kesempatan, keduanya pernah berdebat. Tapi, siapapun tahu, acapkali drama panggung lebih menyeruak. Satu sama lain mencari titik lemah untuk dinafikkan sebagai wakil yang sah dari Islam, tentu saja dengan ungkapan yang berbeda.

Liberalisme telah memasukkan kosa kata baru yang diaku disemangati Islam, sedangkan radikalisme tetap menggunakan 'kata' lama karena keyakinannya akan keabadian pesan Islam. Dibandingkan dengan NU dan Muhammadiyah, kedua kelompok yang berseteru ini memang lebih lantang menyuarakan kembali pentingnya menafsirkan kembali kitab suci agar tidak dipasung oleh 'kepentingan'.

Dalam pandangan Gadamerian, kegagalan liberalisme adalah penolakanya pada otoritas dan tradisi, yang seharusnya keduanya perlu direhabilitasi. Sebab, dunia tafsir akan mengurai kembali siapa yang berhak mengatakan (otoritas) dan melanjutkan dunia pemikiran selanjutnya (tradisi). Sekarang, tampak bahwa Islam liberal hanya ingin mengubah peta, yaitu dengan menggeser otoritas pada intelektual, bukan ulama, dan menggunakan alat baru --hermeneutik dan turunannya untuk memaknai teks.

Radikalisme yang ditempelkan pada gerakan seperti FPI tentu akan menimbulkan pertanyaan. Sebab, secara kasat mata apa yang dilakukan kelompok ini adalah mengambil alih peran polisi dalam memberantas penyakit masyarakat yang mandul. Lebih arif, fenomena ini dilihat sebagai gerakan simbolik agar ada penguatan hukum (law enforcement) yang dicita-citakan bersama oleh seluruh ragam masyarakat.

Betapa banyak ibu merasa suaminya dirampas oleh minuman keras, sebuah keluarga hancur berantakan karena 'maksiat' merajalela dan perjudian yang membuat kepala rumah tangga bangkrut. Sebenarnya, gerakan FPI dan sejenisnya masih berada di dalam payung besar hukum yang pelaksanaannya amburadul dan perlu ditekan agar berfungsi sebagaimana mestinya. Tapi, ironisnya, media hanya menyuguhkan serban, pedang, dan teriakan kemarahan. Jika dibaca berbeda, jargon mereka sebenarnya tak lebih dari penguatan terhadap Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Gerakan alternatif
Di tengah kontroversi ini, saya berbeda dengan Zaim Saidi yang masih mengandaikan masa lalu, tanpa mencoba menyebut model yang mewujudkan gagasannya sendiri tentang Islam Madani. Bagi saya, kedua kelompok ini adalah varian yang juga pernah hidup masa itu, tetapi bukan berarti tidak ada yang mendekati idealisme yang ditawarkan oleh Nabi. Gema Nusantara Zaim Ukhrowi, Al Ma'un Institute Muslim Abdurrahman dan Pusat Pengabdian Pesantren dan Masyarakat (P3M) Masdar Mas'udi adalah beberapa contoh yang perlu disebut sebagai perwujudan idealisme Piagam Madinah.

Akar pertentangan pendapat dari kedua seteru ini berasal dari kebutuhan dasar manusia yang belum dipenuhi oleh negara dan pemerintah. Masyarakat miskin akan selalu mencari kepastian hidupnya. Setelah mereka merasa di dunia tidak beruntung, maka kelompok radikal yang mampu menghiburnya, karena hanya ada satu kata yaitu berjuang di jalan Tuhan tanpa reserve. Sementara, liberalisme di sini menjadi representasi dari kepentingan Islam elite urban, seperti pembelaan terhadap perkawinan campuran, sekulerisme dan demokrasi. Sebaliknya, ketiga contoh organisasi sosial di atas telah melampaui diskursus yang diperdebatkan kedua kelompok 'ekstrem' ini.

Namun demikian, keduanya pada hakikatnya sama-sama mempunyai sumbangan pada pembangunan masyarakat muslim. Namun demikian, kita tidak bisa terlalu berharap banyak bahwa kedua kelompok ini akan melahirkan sebuah tatanan masyarakat yang siap menyongsong terciptanya masyarakat Madinah.

( )

Saturday, December 02, 2006

Malam seperti kemarin

Malam ini sendiri di kamar adalah seperti kemarin, di depan komputer menjelajahi dunia yang tak berujung. Kadang berhenti sejenak di satu 'tempat', lalu pergi lagi mencari sesuatu yang 'mengganjal' di hati. Untuk menyangga badan yang 'lelah' saya memasak air untuk menyeduh 'minuman', milo dan teh 'general'. Rasanya aneh, sebab tak pernah di warung pelanggan memesan jenis campuran semacam ini. Tapi, saya merasa melakukan eksperimen baru yang membuat nyaman lidah.

Kadang, saya melakukan banyak hal di meja untuk mendapatkan ragam 'pengetahuan', dari membaca [sekarang Mohammad Arkoun, The Unthought in Contemporary Islamic Thought], menengok kabar 'terakhir' di detik, memeriksa email, mengoreksi artikel, menyapa teman di YM dan tentu saja mendengarkan musik. Tidak bisa dibayangkan bahwa dari kamar lantai 10 saya bisa mengepakkan sayap mengelilingi 'dunia'. Saya tak perlu melangkahkan kaki bersilaturrahmi dengan Pak Ardi dan berbagi lagu 'Jablai' Titi Kamal. Dari sini, perbincangan mengalir.

Bermula,

ahmadsahidah: Di mana Pak?
razan_dad: Di bilik
razan_dad: kurang sehat nih
ahmadsahidah: Mungkin perlu lagu Titi Kamal
razan_dad: punya mp3 nya?
razan_dad: Thanks
razan_dad: Kocak juga lagunya
razan_dad: Ayo pulang sana
ahmadsahidah: He..he..
razan_dad: ntar ada yg jadi jablai
ahmadsahidah: Saya juga 'ngeh' ama lagu ini
ahmadsahidah: Suaranya nggak bagus kan si Titi Kamal?
razan_dad: Iya, pas-pasan
ahmadsahidah: Tapi, kok ya pas?
ahmadsahidah: Pas lucunya, lugunya, dan nggak masuk akalnya
ahmadsahidah: masak suami nyasar ditanggapi ringan
razan_dad: Ya itu dia kocaknya
razan_dad: 'Emang enak'
ahmadsahidah: He..he..saya ketawa pas bilang, "Emang enak?"

Percakapan ringan di atas mungkin tak perlu melibatkan analisis linguistik atawa pendekatan hermeneutik untuk memahaminya. Saya hanya ingin 'menghibur' teman yang sedang tak enak badan, dan mungkin 'lagu' bisa meringankan beban.

Saya masih percaya bahwa musik bisa melakukan apa saja untuk kita. Ia bisa mengantarkan 'imaji' pada alam yang tak terkatakan, melambungkan harapan yang mulai hilang, menguatkan hati yang sedang dirundung gundah yang anehnya kadang tak tahu sebabnya, dan tentu saja ia menciptakan suasana romantik. Bukankah lagu latar dalam sebuah filem makin mempercantik 'adegan'? menambah efek dramatik? dan bahkan tampak hidup?

Sayangnya, tetangga kamar dan juga teman baik yang lain tak menyukai musik. Katanya ia adalah tradisi luar, yang menjauhkan kita dari Tuhan. Kami berdebat lama untuk mempertahankan keyakinannya masing-masing. Baginya, ia adalah 'racun'. Sedangkan, bagi saya ia adalah 'alat', bukan tujuan, untuk membuat hati ini mengingat eksistensi sejati. Agak susah meyakinkan dia bahwa ketika saya mendengar lagu Ilir-Ilir ciptaan Sunan Bonang yang dibawakan oleh Kiai Kanjeng Cak Nun mata ini tiba-tiba sebak dan degup jantung lebih cepat dari biasa. Isi dan bunyi gamelan telah menggasak kesadaran akan seluruh semesta. Lamat-lamat muncul bayangan masa kecil, remaja, dewasa dan masa depan, berkelebat singkat. Sepersekian detik, jiwa ini melanting ke langit.

Friday, November 24, 2006

Menata Hidup

Acapkali saya menulis apa yang harus dilakukan agar tidak selalu mengulang sesuatu yang tidak perlu, seperti memikirkan apa yang harus ditulis, bukan langsung menulis apa yang dipikirkan. Tidak saja, hal ini sia-sia tapi tidak produktif (bukankah kata Erich Fromm ciri karakter yang baik adalah menghasilkan dan bertanggung jawab dari apa yang dilakukan? Ya, Aku itu bukan to have, tapi to be!)

Sebenarnya, saya telah mempunyai ruang untuk melakukan ini semua, fasilitas internet 24 jam, koleksi buku perpustakaan yang lengkap, ruangan yang nyaman dan tentu saja fisik yang kuat karena rajin berolahraga.

Mungkin, saya perlu menata jadual ulang. Kapan jam tubuh saya nyaman untuk bekerja dan tidak. Meskipun, jadual itu tidak membuat saya seperti mesin. Paling tidak, saya tahu bahwa selepas shalat subuh saya bisa membaca koran on line, terutama rubrik opini. Jam 9, saya sarapan dan berangkat ke ruang kerja untuk menyelesaikan disertasi yang mangkrak.

Ya, saya telah memulainya sekarang!

Sunday, September 24, 2006

Jelang Ramadhan dan Hari Pertama

2 Hari sebelumnya:

Kami main bola dengan teman-teman Arab-Libya. Sebuah upaya untuk lebih dekat mengenal mereka di mana Peradaban Gemilang pernah lahir. Kemenangan meyakinkan 4-2 untuk pelajar Indonesia menumbuhkan semangat untuk meningkatkan performa permainan ke depan.

Tentu, teman-teman penyuka bola lebih tahu bagaimana memoles strategi agar pada masa yang akan datang lebih menggigit. Kemenangan itu memang perlu dirayakan, tetapi proses menuju raihan ini juga perlu dipertimbangkan. Ia lahir dari kekompakan, kebersamaan dan disiplin. Lebih-lebih, jika teman-teman mau mengusung semua ini pada kehidupan keseharian. Kekompakan akan mengatasi keterasingan, kebersamaan akan menghilangkan kesepian dan disiplin membuat hidup tertanggungkan.

Seragam merah-putih tidak hanya sekedar jersi (bahasa Malaysia), ia adalah penanda akan kebanggaan sebagai anak bangsa. Pertandingan persahabatan ini secara tersirat sekaligus memperkenalkan Indonesia pada pelajar Asing (Arab). Bukankan, mereka juga sangat ramah? Ketika salah satu pemain Libya bertanya kepada Ambo kenapa ia merokok?

Menjelang Malam,

Art May tell a truth
Obliquely, do the thing shall breed the thought,
Nor wrong the thought, missing the mediate word.
The Ring and the Book, XII, ll. 858-860.

[Stephen Ullmann, Semantics An Introduction to the Science of Meaning (Oxford: Basil Blackwell, 1972), hlm. 56.]

Saya bergegas ke Dewan Budaya untuk menonton Fusion Jazz. Meskipun terlambat, saya masih bisa mendapatkan kursi sehingga saya betul-betul bisa menikmat suguhan ragam genre Musik. Fusion mengandaikan bahwa sebenarnya genre Musik yang dipagelarkan tidak sepenuhnya murni Jazz. Yang terakhir ini lebih menumpukan pada improvisasi sehingga ketika kita melihat seorang dengan akraktif memainkan sebuah alat musik secara solo, secara spontan sang konduktor pun menunjukkan jari agar penonton memberikan tepukan (applause).

Di sana, saya datang menikmati pagelaran orkestra yang melibatkan kombinasi pelbagai alat, seperti cello, flute, clarinet, saksofon, Trompet, Horn, Trombone dan Perkusi. Paling tidak ada 60-an pemain musik memainkan alat yang menimbulkan bunyi harmoni.

Woelandari tampil meyakinkan membawakan lagu Menghitung Hari. Dengan kebaya dan kain sarung batik, teman kita ini sedang melakukan demonstrasi budaya bahwa Indonesia telah melahirkan calon diva baru. Ya, saya betul-betul menikmati suara emasnya.

Oh ya, Gamelan Groovenya sang konduktor, Razif Mohammad, menyihir ruangan menjadi magis. Tiba-tiba masa lalu sepertinya dihadirkan dipanggung. Dalam suasana mitis, di kepala muncul banyak adegan.

Bahkan, gubahan lagi Keranamu Malaysia lebih enak didengar dengan diselitkan (dalam bahasa Indonesia disisipkan) suara gamelan. Perpaduan tradisional dan modern menepis cara pandang dualistik. Semua menyatu dalam ragam dan perbedaan.

Hati ini juga terobati karena salah satu lagu bercorak dangdut berjudul Relaks juga lantunkan. Yang saya tangkap pesannya adalah kita jangan terburu-buru, tapi tidak berarti menjadi tidak responsif.

Bagi saya, musik selalu membuat diri ini selalu berada pada tiga waktu, masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Masa lalu hadir ketika saya mendengar Caravansary Kitaro (Ernawati Wahyuni Jember), Kemesraan Iwan Fals (Emma Marfu’ah Sunda) That’s Why Michael Learn to Rock (Eny Susilawati Palembang) dan hanya lagu Rhoma Irama yang mampu mengingatkan saya masa kecil di kampung.

Tidak itu saja, musik juga adalah bagian dari perwujudan pembelajaran filsafat. Cabang ilmu tertua ini berbicara tidak hanya epistemologi, logika, etik, tetapi juga estetik. Yang terakhir telah memberikan warna lain tentang hidup. Kehidupan itu tidak selalu dilihat dari perspektif baik atau buruk (etik) dan benar atau salah (logika). Ada sesuatu yang tidak bisa dibekap dalam dua kategori ini, yaitu keindahan.

Satu hari sebelumnya:

Saya bangun lebih awal agar bisa melakukan banyak kegiatan. Sayang, di pagi buta itu saya tidak bisa mengakses internet. Daripada kelimpungan, saya mandi lebih awal agar bisa ke kampus ditemani langit bersih dan angin segar karena belum terlalu disesaki asap kendaraan.

Malam Pertama:

Bersama Mas Tauran, saya melaju sepeda motor untuk segera sampai di masjid kampus. Di sana, saya melihat para jamaah tampak antusias menyambut Ramadhan. Malam itu juga, saya banyak menerima ucapan selamat Ramadhan! Kata-kata yang menyentuh bertaburan. Sebuah sapa yang melambungkan jiwa ke langit ke tujuh.

Setelah selesai tarawih, saya makan di kedai Thailand. Sebuah kebetulan, Mas Mul dan Mas Baim juga makan malam. Sambil bercakap ringan, mata kami memperhatian kotak kaca yang sedang menyiarkan pertandingan Chelsea dan Fulham.

Saturday, September 23, 2006

Ketulusan seorang Kawan

Terima kasih Mas Teuku Andika,

Jika saya berbagi di sini tentang banyak hal, hakikatnya saya ingin menghadirkan sesuatu yang 'alpa', termasuk ketika saya mengulas Heart dan Wicker Park.

Mas Teuku telah membantu saya memunculkan 'perspektif baru' tentang film Barat yang saya bandingkan dengan Heart. Lho, emang Heart film Indonesia? Dari judulnya saja ia adalah bentuk ketidakpercayaan diri untuk menyebutnya Hati?

Mungkin, tafsir saya akan bertambah 'kaya' apabila digabungkan dengan horizon teman lain, seperti Mas Ridho, Romi, Rafika, Aris H, sebagai mahasiswa yang bergelut dengan perfilman dalam pengertian praktik dan teoretik.

Lebih-lebih, bagi teman-teman yang pernah nonton seperti Vega, Wanna, Pak Allwar, Dian, Doni, tentu akan mengungkap sisi yang berbeda dari film yang dibiayai oleh Drs. Chand Parwez.

Apalagi, saya juga baca ulasan film ini di http://www.sinema-indonesia.com/ oleh Ferry Siregar, sepertinya Heart diperlekehkan (Bahasa Malaysia). Terus terang, saya tidak rela sang pengulas ini mengkritik tanpa ampun. Tapi, inilah dunia kita, di mana segala ekspresi dibebaskan demi gelar ' Indonesia adalah salah satu negara demokrasi terbesar' dunia.

Selain itu, Mas Andika boleh juga menulis di situs PPI USM agar pertautan batin ini menjadi sempurna. Jujur, saya menemukan kedalaman dan kepeduliaan yang tulus dari sahabat kita ini.

Ahmad Sahidah [Penikmat Film Indonesia]

Mungkinkah Belajar Islam dari Jepang?

Sebuah Cerita:

Di sela-sela saya menulis disertasi, kadangkala disergap jenuh. Agar, saya masih berada pada jalur utama (penyelesaian disertasi berjudul Hubungan Tuhan, Manusia dan Alam di dalam Al-Qur'an: Satu Kajian terhadap Analisis Semantik Toshihiko Izutsu melalui Pendekatan Hermeneutik), adalah perlu untuk menulis artikel, rencana (Bahasa Malaysia= opini) atau tulisan ringan berkaitan dengan kajian yang satu tulis.

Artikel saya yang dimuat dalam Republika [Indonesia] hari ini (22 September 2006) adalah hasil pengembangan nalar dari bahan bacaan saya untuk menyelesaikan disertasi, yang sekarang telah memasuki bab keempat dan kelima.

Kadang lucu juga, sebab saya membahas banyak hal dalam disertasi, tidak hanya berhubung kait dengan pemikir (Izutsu, Gadamer, Ullmann, Leisi, Ricoeur, Khalid al-Akk, Al-Suyuti, Nasr Abu Zayd, Fazlur Rahman dan lain-lain) tetapi juga tempat (Jepang, Jerman, Timur Tengah dan Eropa dan lain-lain). Sementara saya belum pernah bertemu dengan para pemikir tersebut dan bahkan belum pernah menginjakkan kaki ke negara yang saya sebenarnya harus kunjungi untuk mendapatkan 'data' dan merasakan 'atmosfir' intelektualnya.

Kajian hermeneutik mengandaikan bahwa saya dituntut untuk menerokai banyak horizon (wawasan, atau dalam bahasa Malaysia 'ufuk'). Sayangnya, saya masih dibatasi pada 'dunia teks' (text world), belum memasuki secara nyata 'dunia realitas' (reality world), sehingga sangat susah untuk meraih pandangan dunia (weltanschauung) pemikiran yang saya telaah.

Nah, agar saya masih bisa menjaga ritme dan irama dalam penulisan, maka saya berusaha untuk mengusung kerja disertasi ke dalam suasana yang lebih populer (Surat Kabar) dan perbincangan di milis (dalam menulis komentar acapkali saya dituntun oleh pendekatan hermeneutik). Ya, hermeneutik membuat saya 'melek' (literate) terhadap realitas masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Apapun bentuknya.

Mau baca tulisan saya? Tapi, lebih dari itu saya akan menyatakan terima kasih yang dalam jika Anda juga memberikan komentar. Terima kasih. http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=265601&kat_id=16

atau di sini

Jumat, 22 September 2006

Mungkinkah Belajar Islam dari Jepang?

Oleh :

Ahmad Sahidah Kandidat
Doktor Kajian Peradaban Islam Universitas Sains Malaysia

Tidak hanya dikenal sebagai bangsa yang cakap dan rajin bekerja, Jepang juga luwes menerima peradaban dan kebudayaan lain. Dengan menyerap budaya Cina pada masa sebelum modern juga mengadaptasi kemajuan Barat dalam bidang teknologi, Jepang menjadi sebuah negara industri terkemuka. Bahkan, kedudukan ini diraih tak lama setelah kehancuran luar biasa dalam Perang Dunia II.

Namun, keberhasilan tersebut tidak membuat para intelektual mereka berpuas hati. Eiji Uehero dalam bukunya Practical Ethics for Our Time (1998: 169) mempersoalkan kembali kemajuan yang diraih oleh bangsanya. Ironisnya, kemajuan ini telah membuat mereka mengabaikan nasib kemanusiaan yang lebih luas. Dia juga merasa kesal mengapa Jepang lebih dikenal sebagai negara berteknologi tinggi dibandingkan pemikiran serta kebudayaannya.

Kesadaran ini sebenarnya telah dirasakan oleh bangsa Jepang. Hal ini dapat dilihat dengan adanya usaha membangun pemikiran dan kebudayaan serta interaksinya dengan Islam. Sebenarnya, upaya ini tidak bisa dilepaskan dari kepentingan bahwa banyak negara Islam sebagai produsen minyak yang menjadi keperluan dasar industri mereka.

Islam di Jepang
Orang Jepang mempelajari Islam sebagai sebagian dari sebuah pemikiran Barat. Pada 1877, sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dan Islam mendapat tempat di kalangan intelektual. Kontak dengan Islam juga dilakukan tahun 1890-an ketika kesultanan Turki Utsmaniyah mengirim armada ke Jepang untuk sebuah misi persahabatan. Pengiriman ini telah meningkatkan hubungan antara kedua negara.

Di samping itu, sepanjang Perang Dunia II 'kehadiran Islam sangat kuat', terutama setelah pemerintahan militer Jepang membentuk organisasi dan pusat penyelidikan Islam untuk menaklukkan negara-negara jajahan yang sebahagian besar Muslim di Asia Tenggara. Sikap persuasif mereka telah menarik perhatian para tokoh di negeri ini untuk bersama-sama memerangi Barat.

Organisasi Islam pertama yang didirikan adalah The Japan Muslim Association pada tahun 1952. Tujuannya adalah untuk menyebarkan Islam di Jepang. Dakwah Islam bertambah semarak setelah perang kemerdekaan melalui hubungan pertukaran diplomatik, ekonomi dan kebudayaan. Diperkirakan di seluruh Jepang kini terdapat 50 Islamic center dengan pusat aktivitas dakwah bertempat di Tokyo.

Selain pembangunan masjid sebagai pusat aktivitas ibadah dan sosial, tugas penerjemahan Alquran juga mempunyai sejarah yang panjang. Antara tahun 1920-1970 terdapat lima terjemahan Kitab Suci ini ke dalam bahasa Jepang. Menurut Abu Bakar Morimoto, terjemahan pertama diterbitkan pada tahun 1920 dalam dua jilid yang dilakukan oleh Keuiche Sakamoto, seorang sarjana non-Muslim dari Universitas Tokyo.

Akhirnya pada tahun 1957, Alquran diterjemahkan secara langsung dari bahasa Arab oleh Toshihiko Izutsu, seorang sarjana keislaman yang fasih berbahasa Arab baik denganlisan mahupun tulisan. Selain itu, beliau juga banyak menulis karya-karya lain berkaitan dengan isu keislaman, seperti God and Man in the Qur'an: Semantics of Qur'anic Weltanschauung, Ethico-Religious Concepts in the Qur'an, dan The Concept of Belief in Islamic Theology. Ketiga buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Tiara Wacana.

Pengaruh Izutsu boleh dilihat dalam pandangan salah satu sarjana Muslim Asia Tenggara, Wan Mohammad Nor Wan Daud. Dengan merujuk kepada Izutsu, beliau mempertimbangkan bahwa perbezaan mazhab hukum Islam dan teologi bersumber pada perbedaan metode dalam menafsirkan Alquran dan hadis. Oleh karena itu, cara penafsir klasik menggunakan analisis gramatikal dan filologi dipandang tidak cukup karena tidak bisa mendapatkan penjelasan yang menyeluruh.

Sarjana Jepang lain yang cemerlang adalah Sachiko Murata, yang menulis The Tao of Islam: A Sourcebook on Gender Relationship in Islamic Thought. Buku ini mencoba menguraikan pemikiran Islam tentang hakikat hubungan Tuhan dan alam semesta, alam semesta dan manusia, serta manusia dan Tuhan.

Sedangkan sarjana Indonesianis adalah Hiroko Horikoshi yang telah mempengaruhi banyak pengkaji Islam di Asia Tenggara. Hasil penyelidikannya tentang peran ulama dalam melakukan perubahan dalam masyarakat Jawa Barat, yang bahkan juga dijadikan rujukan para penulis Barat.

Pelajaran
Lazimnya, para mahasiswa di Asia Tenggara ini belajar Islam di Mesir, Arab Saudi, Irak dan Iran. Namun seiring berjalannya waktu, keberhasilan Barat mengembangkan pengkajian Islam mendorong banyak mahasiswa yang melanjutkan PhD-nya ke Amerika, Inggris, Belanda, dan Jerman.

Sebenarnya, intelektual Asia Tenggara telah mempunyai tradisi penulisan tentang keislaman pada zaman kesultanan dulu --seperti Syed Husain Jamaluddin Al Qubra dan Hamzah Fansuri. Tetapi, sekarang para sarjana Muslim di negeri ini lebih banyak memproduksi ulang karya-karya Muslim klasik atau modern. Meskipun ada beberapa karya orisinal intelektual terkemuka yang mempunyai pengaruh dunia luas, seperti Prolegomena to the Metaphysic of Islam oleh Syed Muhammad Naquib Al Attas.

Dibandingkan dengan Jepang, sejarah Asia Tenggara mempunyai tradisi pemikiran keislaman yang lebih panjang. Islam masuk ke Asia tenggara jauh mendahului daripada masuknya Islam ke Jepang, namun sekarang kajian keislaman di Jepang telah memasuki kancah yang lebih luas. Para sarjananya telah melanglang buana ke seluruh dunia untuk mengkaji agama Islam. Menariknya, karya mereka justru menjadi perantara masuknya pemikiran Islam ke Indonesia.

[Sumber: Republika, 22/9/06]

Lari Sore

 Setelah lari sore bersama Zumi di kawasan Paiton Energy POMI, saya melewati KDMP ini. Tak jauh dari lokasi koperasi tergambar, ada toko Vev...