Friday, December 19, 2008

Menyampaikan Kritik dengan Kelakar

Saya telah mengagendakan untuk menghadiri Seri Sejarah Lisan Penerbit USM jauh-jauh hari. Untuk ke-6 Kalinya saya mengikuti kesaksian dari mereka yang pernah terlibat dengan universitas yang berjuluk Kampus dalam Taman. Kali ini Tan Sri Dato Hj Ani bin Arope mengupas hal ihwal USM sebagai ketua lembaga pengarah yang telah dilakoninya sejak 1992/1993. Pengalamannya yang bejibun, dari tingkat lokal hingga internasional menyebabkan tokoh ini melihat persoalan dari perspektif yang kaya.

Pembukaan ceramah yang dibuka dengan anekdot orang Kelantan pergi ke London dan terpaksa tidak menggunakan toilet umum karena tertulis Male. Kata yang terakhir ini dalam dialek Kelantan merupakan penyebutan kata malam, sehingga yang bersangkutan berpikir bahwa toilet tersebut hanya digunakan untuk malam saja. Saya pun tergelak dan mendapatkan suguhan cara bertutur yang merangsang keterlibatan lebih jauh dengan ceramah.

Ternyata, isinya memang menyentak karena menyentuh masalah yang jarang diungkap, yaitu hubungan antara etnik di kampus, dan tentu sebagai cermin dari keadaan sosial lebih luas. Namun demikian, kritik internal itu saya lihat sebagai bentuk kecintaan beliau untuk meletakkan pondasi yang kokoh bagaimana kampus menjadi peneraju hubungan yang harmoni dan tentu ini harus diletakkan dalam sikap terbuka dan saling menjaga. Memang tidak dapat dielakkan bahwa budaya 'sate' yang beliau jelaskan menyebabkan pengurusan banyak hal terhambat karena ada sekelompok orang yang selalu mencucuk dan mengipasi keadaan.

Bagi saya, ini adalah siri yang menampilkan warna lain karena beliau menyatakan bahwa keterbukaan itu pernah dialami semasa bersekolah dan kuliah. Pendek kata, perubahan itu sebenarnya mempunyai rujukan internal yang mungkin perlu diwujudkan kembali untuk meraih kemajuan. Tahniah, Tan Sri, saya menemukan kedamaian dalam acara itu.

Thursday, December 18, 2008

Menyemai Hubungan Serumpun


Meskipun ruangan Dewan Persidangan Universiti tidak membludak karena liburan, namun partisipasi peserta dari Indonesia dan lokal cukup untuk menghadirkan perbincangan yang menarik tentang hubungan dua serumpun. Semua orang tentu mempunyai kesan berbeda, namun yang lebih penting dari itu adalah kesedian untuk berbagi gagasan dan mau duduk bersama.

Sejatinya kami mahasiswa Indonesia yang belajar di Malaysia tidak mempunyai prasangka yang berlebihan karena kami melihat begitu dekat saudara yang dulu disatukan oleh langgam kebudayaan yang sama. Malang tak dapat ditolak, kadang saudara bisa bertengkar hebat, bahkan mungkin bertikam lidah dalam arti verbal.

Namun itu tidak akan terjadi jika kita mengurai masalah dengan jernih dan keingingan untuk mengungkai perselisihan dengan kesadaran sejarah, sosial dan budaya. Identitas, dalam perspektif posmodernisme, adalah mitos. Ia berbeda dengan pandangan pra-modern yang menganggapnya stabil dan pasti. Sementara modernitas melihatnya sebagai sebuah atribut budaya yang dikonstruksi, bukan given. Di sinilah, kita akan memilih ke mana identitas itu dilekatkan.

Wednesday, December 17, 2008

Lika Liku Pencarian

Akhirnya saya memeroleh surat pengantar dari direktur penerbit USM untuk mendapatkan rekaman ceramah bekas orang nomor satu kampus di PTPM. Sebelumnya, sekretarisnya menelepon saya untuk mengambil surat ketika saya sedang melajukan motor dari Perpustakaan Hamzah Sendut 2 menuju Fakultas Ilmu Humaniora. Dengan serta merta, saya menyanggupi untuk segera mengambilnya. Lalu, saya menuju PTPM untuk mengambil rekaman, namun karena petugas yang berkenaan sedang keluar untuk sebuah kegiatan, saya mesti menjadualkan ulang untuk kembali menemuinya.

Sementara, saya tidak bisa menyalin bahan Laporan bekas rektor karena materi tersebut berada di ruang arsip. Namun, saya mencatat nomor panggilan agar mudah merujuknya jika diperlukan, yaitu LG 396 5 A141. Tidak itu saja, saya juga mencatat nomor kutipan ceramah Tan Sri Tuan Hj Hamdan Sheikh Tahir, LA 1236 H 221). Di tengah mencari buku ini saya secara tidak sengaja menemukan buku yang ditulis Hassam Karim bertajuk With the People: The Malaysian Student Movement 1967-1974. Sebuah kesaksian yang merekam aksi turun jalan mahasiswa pada awal-awal berdirinya universitas publik Malaysia. Gambar-gambar hitam putih yang memotret unjuk rasa mahasiswa seakan menjadi saksi bisu betapa dulu mahasiswa memainkan peranan penting sebagai agen perubahan sosial.

Demikian pula, buku Machi Sato (LA 1238), Dilemmas of Public University Reform in Malaysia, membantu saya mengenal lebih dekat sejarah perkembangan universitas negeri yang sekarang telah banyak mengalami kemajuan yang pesat. Tentu, semua ini akan menjadi penanda bahwa kelahiran perguruan tinggi mengalami dinamika yang tinggi, dengan segala persoalan yang membuatnya lintang pukang menyambut tantangan.

Tuesday, December 16, 2008

Mencari Jejak

Pagi ini saya mengunjungi Penerbit USM untuk meminta surat pengantar mengambil rekaman ceramah di PTPM. Ketua bagian yang menangani urusan ini dengan ramah menyambut dan kemudian meminta saya meninggalkan nomor telepon. Ternyata, surat ini harus ditandatangani oleh direktur penerbitan. Insyaallah, sore ini saya bisa mengambilnya.

Lalu, saya juga memeroleh jawaban melalui email dari pihak Kantor Perhubungan Alumni bahwa majalah The Leader sudah habis dan jika berminat untuk mendapatkannya bisa mengkopi di kantor tersebut. Informasi ini tentu membantu saya untuk menghemat waktu karena pencarian data ini bisa ditanyakan melalui email, tanpa harus datang ke tempat yang diinginkan. Namun demikian, untuk pertama kali, saya tentu mengunjunginya untuk mendapatkan respons dan sekaligus mengenal lebih dekat beberapa tempat yang sebelumnya tidak pernah dibaui. Ada aroma kehangatan di tempat baru.

Sekarang, saya akan menjejaki keterangan beberapa gambar yang saya peroleh dari PTPM di perpustakaan Hamzah Sendut 2. Ada banyak gambar yang tidak bisa diketahui asal-usul dan latar belakangnya, sehingga pelihat tidak bisa mengenal gambar tersebut sama sekali. Ternyata, mencari kabar masa lalu harus melalui jalan berliku. Tidak terelakkan, ada yang tertinggal, sehingga menyusun masa lalu dengan sempurna merupakan utopia. Tapi, persoalannya bukan di sini. Kita yang sedang merekonstruksi sejarah menyadari bahwa kekinian turut mewarnai tafsir terhadap peristiwa lampau. Ada hubungan timbal balik. Bukankah ini akan membuat kita merasa memiliki masa lalu?

Monday, December 15, 2008

Bersama Menulis untuk Pencerahan

Saya kemarin menghadiri rapat dwitahunan Persatuan Karyawan Pulau Pinang, yang menghimpun para penggila dunia tulisan. Latar belakang yang beragam tentu menambah gizi untuk mengayakan pengalaman menulis. Presidennya, Prof Madya Sohaimi Abdul Aziz, menceritakan bagaimana perkumpulan ini bertahan hingga usia ke-5 dengan dipenuhi sejarah keperitannya dan akhirnya mampu menyisakan dana yang cukup besar dalam perhelatan pemilihan kepengurusan yang baru ini.

Kegairahan untuk menyuburkan minat kepenulisan merupakan tujuan (matlamat) dari persatuan ini. Dari sini diharapkan lahir para penulis yang mampu menyuguhkan pencerahan. Ada banyak kegiatan yang telah dilakukan, seperti penerbitan, lokakarya, seminar, dan jumpa tokoh. Agar kiprah organisasi makin dikenal, pengurus telah melahirkan situs yang beralamat di www.karyawanpn.org [dalam konstruksi] dan sekaligus sebagai pengekalan eksistensi agar bisa mewariskan tradisi literasi. Keikutsertaan mahasiswa dari luar negara, seperti Thailand dan Indonesia, merupakan ikhtiar kerjasama serantau untuk memajukan kegiatan kepengarangan.

Sebelum aktif di organisasi ini, saya sebenarnya telah mengikuti beberapa kegiatan yang telah dihelat oleh kumpulan penulis kreatif ini, misalnya Seminar Pramoedya Ananta Toer dan Seminar Latif Mohidin, seorang seniman. Di sinilah, sebenarnya universitas yang acapkali menjadi tuan rumah untuk beberapa kegiatan telah turut mewarnai kampus yang bertema taman ini dengan gelegak sastra, sehingga keindahan itu bisa terungkap nyata.

Saturday, December 13, 2008

Mendekatkan Saudara Serumpun, Indonesia- Malaysia

Koran Jawa Pos, 13 Desember 2008

Oleh Ahmad Sahidah*

Pertemuan rutin General Border Committee (GBC) Indonesia-Malaysia yang memasuki usia ke-37 mungkin bisa dijadikan titik tolak untuk membincangkan masalah perbatasan Indonesia-Malaysia secara lebih baik. Tentu isu kepemilikan Ambalat akan selalu menjadi batu ganjalan karena merupakan area konflik, mengingat kawasan itu mengandung sumber minyak bumi yang luar biasa. Meski demikian, masalah tersebut telah diserahkan kepada tim teknis kedua negara melalui kementerian luar negeri masing-masing.

Masalah aturan keterlibatan (rules of engagement) militer dalam menjaga perbatasan bahwa jika kedua militer dihadapkan dengan masalah, tidak terjadi bentrokan (clash) merupakan kesepakatan yang cemerlang. Dino Pati Djalal menyebut itu sebagai bentuk kemajuan luar biasa (Jawa Pos, 12/12/08). Ikhtiar untuk mengetatkan perbatasan dalam usaha menghindari tindak kejahatan, seperti penyelundupan dan perdagangan manusia (trafficking), adalah upaya yang perlu mendapatkan perhatian karena praktik semacam itu masih leluasa. Inilah praktik yang tidak hanya merugikan negara, tetapi juga merupakan kejahatan kemanusiaan yang mesti dicegah.

Peran Media

Pada hari yang sama (12/12/08), Utusan dan Jawa Pos memuat foto pertemuan Badawi dan SBY dan berita yang sama-sama memberikan harapan untuk mewujudkan hubungan kedua negara bertambah erat dan mampu menyelesaikan masalah yang acapkali mendera. Mungkin senyum dua orang nomor satu itu secara lahir bisa dijadikan pertanda ke arah kemajuan hubungan persahabatan. Di sini, betapa peran media sangat diperhitungkan.

Hal lain yang perlu diperhatikan berkaitan dengan media, dibandingkan dengan Indonesia, Malaysia memang tidak seterang negara tetangganya dalam memberitakan sikapnya terhadap beberapa masalah, seperti perbatasan, hak cipta, dan tenaga kerja. Ketika media di Indonesia meributkan reog Panorogo yang dijadikan ikon pariwisata Malaysia, secara relatif warga Malaysia tidak mengetahuinya. Sementara itu, televisi di sini (Indonesia) mencuatkan isu tersebut sehingga menimbulkan respons kemarahan yang meluas di kalangan khalayak. Tentu, pemberitaan semacam itu makin menimbun rasa jengkel masyarakat di sini terhadap negara tetangga.

Demikian pula ketika kasus Ceriyati, pembantu yang bergantungan di bangunan kondominium karena melarikan dari kekejaman majikannya, mencuat ke permukaan, media Malaysia justru menampilkan sikap keprihatinan pejabat terkait di sana dengan mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur. Di sini, media memublikasikan para pegiat LSM yang menyoroti ketidakbecusan negara tetangga melindungi warga negara Indonesia. Oleh karena itu, harus ada jalan lain untuk mengurai benang kusut semacam ini agar kedua belah pihak menemukan cara ungkap yang memberikan jalan keluar, bukan malah membuat kemarahan berkobar.

Hubungan Masyarakat

Kalau kita perhatikan di beberapa media, ada banyak ketidakpercayaan antara masyarakat dua negara. Jika ditelisik, banyak komentar di media Malaysia, seperti KOSMO! dan Metro, yang memuat rasa kesal warga setempat karena Kuala Lumpur seperti Jakarta saja. Malah tidak itu saja, pedagang kecil sering menyatakan kejengkelannya karena ternyata banyak warga negara Indonesia yang menjadi pedagang kaki lima. Belum lagi, perilaku para TKI yang berkelakuan seenaknya. Misalnya, bergerombol dengan pakaian ala rocker dan berambut panjang, ternyata, dipandang tidak elok oleh orang lokal, meskipun di Jakarta itu mungkin hal biasa.

Demikian pula, kita akan banyak menemukan komentar miring pembaca media di sini terhadap Malaysia dengan menyebutnya sebagai bangsa yang suka mengakui hasil kebudayaan Indonesia sebagai miliknya, seperti batik. Padahal, sebagaimana ditulis oleh Borhan Abu Samah (Utusan, 10/12/08), motif keduanya berbeda. Mungkin,Anda bisa membandingkan batik yang dipakai Abdullah Badawi dan SBY pada pertemuan di atas sehingga dengan sendirinya bisa dibedakan corak batik antara keduanya. Tentu, saya serta-merta bisa merasakannya karena saya sering mengamatinya dari dekat. Meski demikian, harus diakui pakaian resmi Malaysia itu diilhami oleh batik Indonesia.

Untuk itu, upaya menghilangkan duri yang menghalangi hubungan dua negara tidak hanya melibatkan pemimpin elite formal, tetapi juga masyarakat luas. Peran Eminent Persons Groups (EPG), kelompok di luar hubungan antara pemerintah, yang dipimpin Try Soetrisno (bekas wakil presiden) dan Musa Hitam (bekas wakil perdana menteri) tentu merupakan jalan keluar dari hubungan formal yang kadang terkendala birokrasi. Maka, kelompok yang digawangi oleh banyak pakar dan tokoh masyarakat itu diharapkan lebih menunjukkan taring dalam merapatkan hubungan masyarakat dua negara tersebut.

Untungnya, perguruan tinggi masing-masing negara juga telah memberikan sumbangan penting bagi upaya menghilangkan prasangka yang selalu menghantui hubungan dua kakak-beradik itu. Malah, Universitas Sains Malaysia, tempat saya belajar, akan menggelar kuliah umum bertajuk Hubungan Bangsa Dua Serumpun: Realiti Masa Kini dan Cabaran (baca: Tantangan) Masa Depan yang akan disampaikan oleh alumnusnya, Profesor Yusril Ihza Mahendra, pada 18 Desember 2008.

Mungkin, kabar putusan pengadilan Malaysia (27/11/08) terhadap Yim Pek Ha, majikan Nirmala Bonat, dengan hukuman 18 tahun karena melakukan tindakan kekerasan bisa menjadi penanda yang baik. Bagaimanapun, warga Indonesia telah mendapatkan keadilan dan itu akan menambah keyakinan kita bahwa warga Indonesia yang lain akan menerima perlakuan sama. Peristiwa tersebut sejatinya membuat warga dua negara makin bersemangat untuk memupuk rasa saling memercayai dalam mewujudkan hubungan yang tulus dan tidak lagi terperangkap sikap saling menafikan. Semoga. (*)

*Ahmad Sahidah, Kandidat Doktor Departemen Peradaban Filsafat dan Peradaban Universitas Sains Malaysia

Friday, December 12, 2008

Mencari Kabar Masa Lalu

Pencarian bahan untuk penulisan biografi berlanjut hari ini. Saya mengikuti saran pihak Ikatan Alumni USM untuk menghubungi perhubungan Alumni di lantai 5 rektorat (canselori). Di sana, saya mendapatkan majalah alumni, The Leader, edisi March, June dan September 2008. Lalu, saya menuju ke penerbit untuk mendapatkan surat pengantar mendapatkan transkripsi sejaraha lisan yang memuat ceraman bekas orang nomor satu kampus.

Namun, staf di penerbitan memberitahu bahwa orang yang bertanggung jawab untuk urusan ini sedang cuti. Namun, saya telah menggenggam nama yang bersangkutan dan hari Senin akan menemuinya untuk mendapatkan surat. Ternyata, pengalaman pencarian ini telah makin mengenalkan saya pada liku-liku kehidupan kampus, yang tidak melulu berkait dengan buku, tetapi juga hal ihwal hubungan manusia dan beragam tindak tanduknya.

Lebih penting lagi, saya tentu lebih memasuki ceruk yang menyimpan kabar masa lalu. Usaha untuk mengungkapkan perjalanan kampus menjadi sebesar sekarang, hakikatnya sebuah ikhtiar untuk lebih melahirkan manusia yang cemerlang di masa depan. Mungkin benar apa kata Paulo Freire: The Future isn't something hidden in a corner. The future is something we build in the present (diambil dari Mohammed Imran, ed. Islam, Religion and Progress: Critical Perspectives (Singapore: The Reading Group, 2006), hlm. 9.

Zip Zap Pop

Saya akan membelikan zip zap pop (made in China) bila kamu mau tarawih. Zumi pun sigap. Di masjid, banyak anak seusianya juga berada di sini...