Wednesday, November 09, 2011

Amalkan Gaya Hidup Sihat!

Dalam sebuah perjalanan ke Masjid Zahir, gambar di atas diabadikan. Seruan dalam anjuran ini tidak hanya ditemukan di pinggir jalan, tetapi juga di media, baik cetak maupun elektronik. Betapa mudah hidup kita untuk sejahtera, seperti melakukan kegiatan fisik, menghindari alkohol dan rokok, mengasup makanan yang seimbang, dan mengurus tekanan. 

Masalahnya, pada waktu yang sama, ruang dan waktu kita dipenuhi oleh godaan, yang malah juga dirayakan di televisi dan ruang bersama.Bagi saya, kebenaran itu bukan sekadar proposisi yang perlu dipaparkan dengan hujah yang meyakinkan, tetapi bagaimana pihak berkuasa, pemerintah dan wakil rakyat, memerhatikan hal di atas. Kebijakan dan pelaksanaan gagasan hidup sehat harus diarusutamakan. 

Ketika kekuasaan yang digenggam oleh eksekutif dimanfaatkan, maka ruang kita tidak melulu iklan, yang menawarkan kenyamanan, tetapi bukan kesejahteraan. Pada waktu yang sama, kita memerlukan kelompok penekan, yang memaksa legislatif untuk membuat aturan yang merawat kemaslahatan bersama. Oleh karena itu, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama dan organisasi kemasyarakatan yang lain mempunyai peranan yang besar untuk memaksa pengambil dan pelaksana keputusan untuk mendahulukan kepentingan umum.

Monday, November 07, 2011

Lorong

Saya menyukai jalan di atas. Dengan menyisakan ruang, kotak-kotak itu telah memberikan ruang bagi tanah untuk bernapas dan menerima asupan air. Sebagai bagian dari jalan pintas menuju Masjid AlBhukhari dari Suq AlBukhari (Mall), desain lorong ini menjadikan tanah pekuburan itu tampak tak seram. Mungkin, kita tak lagi mempunyai kesan bahwa tempat peristirahatan terakhir manusia itu selalu terlihat suram.

Friday, November 04, 2011

Etika Menyambangi Kuburan

Lihat kiri bawah, etika mengunjungi kuburan itu meliputi larangan: menabur bunga di atas kubur, meletakkan jambangan bunga di atas nisan, menyiramkan air mawar di atas kubur, membaca al-Qur'an secara menunggu hingga khatam di atas kubur, makan dan minum di atas kubur dan bersembang hal duniawi di perkuburan.

Hari ini, saya melewati tanah pekuburan ini. Dengan penataan ruang yang rapi, keasrian rumah terakhir manusia ini tampak menyerlah. Tak ada kesan seram, sebagaimana umumnya makam. Ada banyak pohon Kemboja, yang menambah kesan manis. Belum lagi, lorong setapak yang dibuat kotak-kotak persegi, sehingga menyisakan sisa tanah terdedah. Di banyak tempat, ada pondok, tempat orang ramai melepas lelah, atau sekadar duduk sambil bercengkerama. Tapi, ingat! Di sana, Anda tidak boleh berdiskusi hal ihwal duniawi.

Masalahnya, larangan di atas dimaklumkan pada orang ramai karena praktik tradisional itu tidak ditemukan dalam nas yang sahih. Padahal, ia bisa dikaitkan dengan hadits yang menjelaskan bahwa Nabi menyukai wewangian. Bagaimanapun, bunga dan air mawar itu bisa menghadirkan keharuman. Demikian pula mengkhatamkan kitab suci mungkin tak ada dalam kitab suci, tetapi membaca al-Qur'an di pondok pekuburan yang asri itu tentu merupakan pengalaman yang mendebarkan.

Memilih

Sambil menunggu kendaraan dipermak oleh tukang bengkel, saya pun meneduhkan diri di pasaraya yang berhawa dingin. Di kursi panjang terbuat dari besi, saya melemparkan tubuh pada kursi keras itu dan mengambil gambar buku berlatar pakaian-pakaian yang ditata rapi dan digantung di rak. Kita tak mesti menghamburkan uang untuk mendapatkan kebahagiaan, melainkan hanya perlu menyiasati bahwa kita berada di tempat yang nyaman, seraya melihat-lihat begitu banyak godaan untuk memiliki aneka ragam baju. Menikmati begitu melimpah pilihan, kita memutuskan untuk merasa cukup dengan sedikit koleksi yang telah dikumpulkan di rumah.

Apabila kita memuaskan hasrat dengan memborong aneka pakaian, kita akan terjebak pada keadaan yang semu. Sampai kapan kepuasan itu terpenuhi jika kita berpikiran bahwa kesenangan itu adalah memanjakan keinginan? Ketika kita berhasil dengan membawa tangan kosong dari pusat perbelanjaan, maka sejatinya kita telah meyakinkan diri sendiri bahwa kita bisa membedakan apa yang kita mau dan perlu. Pada waktu yang sama, kita pun perlu memikirkan kebiasaan kita yang senang berbelanja, mengingat pertumbuhan ekonomi bangsa ini didongkrak oleh konsumsi, bukan konsumsi. Dengan kata lain, kita diam-diam membenarkan tuduhan penjajah bahwa kita adalah pemalas, stereotip yang telah dibantah keras oleh Syed Hussien Alatas dalam Mitos Pribumi Malas: Citra Orang Jawa, Melayu dan Filipina dalam Kapitalisme Kolonial.

Saturday, October 29, 2011

Pintu Masuk

Sekarang, siapa pun tinggal mengayunkan kaki dan memilih buku apa yang akan digunakan untuk meneroka pengetahuan. Kunci dari kehendak kita adalah segera membuat pilihan, sebelum semuanya raib dihembus angin malam.

Sunday, October 23, 2011

Makan Pikiran


Makan pikiran? Dua kata ini mungkin tak lazim. Ia bisa dimaksudkan sebagai keadaan yang membuat kita banyak berpikir. Masalahnya, kata banyak pikiran mengandung maksud situasi tidak nyaman. Padahal, bukankah banyak pikiran sepatutnya menyenangkan karena kita mempunyai banyak pikiran, bukan sedikit pikiran? Lalu, bagaimana apabila kita membaca buku Food and Philosophy? Adakah "Belly Happiness" sebagaimana dilaungkan oleh Epicurus hanya berhenti pada pemenuhan kesenangan fisik semata-mata?

Wednesday, October 19, 2011

Mendaki menuju Puncak

Mendaki itu melelahkan, sebagaimana memahami buku di atas juga memenatkan. Mengapa orang perlu berlelah-lelah untuk menggapai puncak? Karena yang dituju itu ada di sana. Awas, mata Sysyphus mengintai!

Zip Zap Pop

Saya akan membelikan zip zap pop (made in China) bila kamu mau tarawih. Zumi pun sigap. Di masjid, banyak anak seusianya juga berada di sini...