Ahmad Sahidah
Kandidat Doktor Kajian Peradaban Islam Universitas Sains Malaysia
Sebagaimana di Indonesia, para ulama di negeri Jiran menyatakan haram terhadap pemahaman liberalisme dan pluralisme. Dalam wawancaranya dengan koran Berita Harian (18 Juni 2006), Datuk Seri Harussani Zakaria, mewakili arus besar ulama, menyatakan bahwa kedua pemahaman di atas sangat berbahaya bagi keyakinan (aqidah) umat Islam.
Bagi Harussani, liberalisme dimaknai sebagai kebebasan tanpa batasan, sebagai wujud dari kritik Pencerahan terhadap otoritas Gereja. Bahkan, para intelektual Barat sekuler menggunakan kritisisme literer untuk menyoal kitab Injil. Kekhawatiran Mufti Perak ini adalah jika model pembacaan ini dipraktikkan untuk memahami al-Qur’an akan mengakibatkan distorsi karena meragukan kepastian ayat-ayat Allah.
Alasan lain para ulama menentang pemahaman liberal adalah liberalisme dan turunannya, seperti hermeneutika dan kritisisme literer, merupakan produk Barat dan sekaligus sebagai alat untuk melemahkan Islam. Apalagi, Adnin Armas, mahasiswa Indonesia di Malaysia, mencatat bahwa para pengusung pemahaman ini hanya menggemakan kembali hasil pemikiran Barat, seperti Arthur Jeffery, Richard Bell, Nöldeke dan lain-lain.
Bibit-bibit liberalisme di tanah Melayu ini mulai bertunas, meskipun belum menyatakan secara terbuka sebagai kelompok liberal. Pemikiran semacam ini banyak diapresiasi oleh golongan profesional dan intelektual, di antaranya Zainah Anwar, Kassim Ahmad, Kassim Anwar, Faris A Noor dan Akhbar Ali. Anehnya, di kalangan mahasiswa perguruan tinggi belum ada greget untuk mengikuti arus pemikiran semacam ini.
Berbeda dengan fatwa MUI tentang Pluralisme, Liberalisme dan Sekulerisme yang menuai badai kritik yang maha dahsyat, respon terhadap fatwa Mufti Perak ini tidak menarik perhatian banyak orang. Paling tidak saya hanya mencatat dua sanggahan, yaitu oleh Candra Muzaffar, intelektual Muslim terkemuka dan Marina Mahatir, puteri mantan PM Malaysia yang acapkali menulis kolom di surat kabar. Selain itu, ada satu buku yang ditulis untuk menyanggah pemahaman Islam Liberal berjudul Islam Liberal: Penafsiran Agama yang Semakin Menyimpang.
Dalam sebuah wawancara di televisi lokal, Muzaffar mempertanyakan asumsi ulama tentang liberalisme dan pluralisme. Bagi dia, liberalisme dan pluralisme adalah suatu keniscayaan karena didukung oleh fakta empirik dan dibenarkan dalam Islam. Sedangkan, Marina melihat pluralisme adalah penghargaan terhadap keragaman, yang justeru oleh didukung oleh ajaran Nabi Muhammad. Tentu saja, buku yang disebut diatas mementahkan argumentasi pemikiran Liberal dalam agama.
Indonesia sebagai Ancaman
Para ulama di sana mengkhawatirkan pengaruh Liberalisme Indonesia menular pada keberagamaan di Malaysia. Namun demikian, mereka akan memilih jalan dialog dan upaya penyadaran agar pemahaman yang dianggap berbahaya ini tidak membuat Islam mundur. Meskipun sampai hari ini, dialog belum terwujud, tetapi ini adalah jalan keluar dari kebuntuan komunikasi antara ulama dan intelektual Muslim.
Penulis sendiri acapkali mendengar para khatib menyampaikan khotbatnya dengan bersemangat tentang bahaya ’virus’ Islam Liberal sebagaimana telah berkembang di Indonesia. Tentu tidak ada protes. Bahkan, di luar masjid pun, hal ini diterima begitu saja. Realitas Ini bisa dipahami karena di negeri Jiran, gagasan Islam liberal tidak tumbuh subur sebagaimana di Indonesia. Zainah Anwar, eksponen Islam Liberal, memang menyadari akan kurangnya apresiasi muslim Malaysia akan kritisisme terhadap penafsiran Islam.
Namun, jika kita menengok gagasan Islam Hadhari yang diusung oleh PM Abdullah Badawi, sebenarnya di dalamnya termuat ide-ide progresif yang justeru tidak ditopang oleh pemikiran yang rumit. Ia hanya menegaskan perlunya Islam yang moderat dan respons terhadap tantangan modernitas. Lalu pertanyaannya, apakah ide yang dijajakan di banyak kesempatan ini dan dijadikan menu harian di sejumlah kampus apakah mampu menggantikan kritisisme, sebab Mahatir melihatnya sebagai taktik murahan?
Kritik Arus Bawah
Kalau kita melihat tema-tema yang diangkat ke permukaan, seperti masalah kawin sejenis, poligami, waris, superioritas laki-laki dan jilbab, boleh dikatakan praktik ini telah mengalami internalisasi dalam kehidupan masyarakat. Bagi tradisionalisme, persoalan ini tidak boleh dipersoalkan karena telah ditegaskan secara lugas dalam teks agama. Sedangkan kaum liberalis ingin melakukan penafsiran ulang agar sesuai dengan semangat zaman.
Jika dilihat secara cermat, perbedaan yang muncul berkaitan dengan hal-hal yang tidak menyangkut kepentingan orang banyak. Hanya kekenesan intelektual saja yang membuat persoalan di atas tampak besar. Belum lagi, strategi pemasaran ide yang cemerlang sehingga keragaman tampak terancam karena terdapat kelompok yang bersikukuh bahwa kritik kaum liberal telah menabrak kemapanan agama.
Keduanya bisa dikatakan gagal karena mengabaikan persoalan yang lebih besar, yaitu ketidakberdayaan masyarakat Muslim Malaysia terhadap imperialisme ekonomi dan kebudayaan. Ulama dan kaum liberal hanya mengurus hal remeh temeh apakah jilbab itu wajib atau tidak? Bagi yang pertama, ia adalah simbol keislaman dan bagi yang terakhir, makna substansi yang lebih dipentingkan. kewajiban menutup hati dari kemungkaran adalah lebih utama.
Sebenarnya, dua kutub ini tidak boleh diletakkan pada posisi diametral. Keyakinan keduanya serentak bisa dilaksanakan. Bagaimanapun, bentuk itu adalah cermin dari isi. Bagi awam, jilbab adalah simbol dari kesalehan. Alih-alih, penggagas substansialisme menunjukkan religiusitasnya dengan penampilan khas, ternyata mereka mengamini “budaya Barat“ yang diterjemahkan sebagai moderasi Islam, bukan tradisi lokal yang dipandang sebagai bentuk kearifan.
Mereka yang menasbihkan dirinya kelompok liberal pada hakikatnya adalah kerumunan yang merayakan fundamentalisme ’lunak’ karena menolak kaum yang berseberangan. Seharusnya, kaum liberal yang kritis menyoal kekuasaan negara yang begitu begitu besar, sebab para ulama itu tak lebih dari dari kepanjangan tangan pemerintahan. Ini jelas bahwa pemerintahan yang dikuasai Melayu Islam menjalankan standar ganda dalam mengelola pemerintahan. Di satu sisi, mendorong sikap hidup moderat, namun di sisi banyak peraturan yang mengebiri kebebasan berpendapat (Akta Universitas 1971) serta penangkapan tanpa pengadilan (ISA).
Tampaknya, setelah perekonomian Negeri Jiran mulai mapan, anggota parlemen mulai mempertanyakan kekangan terhadap mahasiswa dan lembaga kemahasiswa untuk dicabut. Sementara organisasi non-pemerintah meminta Akta Keamanan Dalam Negeri untuk ditinjau ulang. Ditimpali lagi, kritik pedas Mahathir terhadap pemerintahan, terutama PM Abdullah Badawi, akan melempangkan jalan bagi kebebasan mengemukakan pendapat yang selama ini ditindas atas nama stabilitas dan sensitivitas masyarakat.
Lalu, apa yang bisa dipetik dari pengalaman negeri Jiran ini? Keterbukaan dan kebebasan itu tidak serta merta bisa dirayakan tanpa kedewasaan dan kematangan masyarakatnya. Prioritas untuk memberikan tumpuan perbaikan struktur ekonomi dan pemeratannya telah menjadi pilihan agar kebebasan tidak dijadikan alasan untuk meraih keuntungan ekonomi. Kebebasan itu sejatinya adalah ketidakbebasan itu sendiri. Justeru, tanpa kearifan, seperti selama ini didengungkan oleh kelompok liberal akan melukai banyak orang, sementara sikap jumud yang dianut oleh kelompok konservatif hanya akan mengukuhkan kedudukan istimewanya dalam masyarakat – sikap feodalisme atas nama kebenaran. Wallahu a’lam.
Tuesday, July 11, 2006
Monday, July 03, 2006
الايضاح
Kata tafsir berasal dari kata fassara yang berarti penerangan (atau penjelasan. Di dalam istilah teknis ia mempunyai pelbagai definisi. Di antaranya adalah ilmu untuk memahami kitab Allah yang diturunkan pada Nabi Muhammad dan menjelaskan maknanya, mengetahui hukum dan hikmahnya. Al Jazairi menambah pengertian ini dengan mematuhi perintah dan larangannya, mengambil hidayah dan petunjuk, mengambil iktibar kisah-kisah dan menyelami pesan-pesannya.
Saturday, July 01, 2006
Rumah Sakit, Ada Apa?
Saya sangat menyukai lagu-lagu yang diudarakan [bahasa Malaysia dikeudarakan] oleh Radio Sinar FM. Seperti hari ini, tiba-tiba lagu lembut mengalun, yang menguji saya untuk mengingatnya. Lamat-lamat, ia membawa imaji pada masa remaja di Pondok. Tapi, susahnya adalah menghadirkan namanya, meskipun terjawab oleh cuap-cuap penyiarnya, ini cukup menjengkelkan.
Lagu Shoulder to Cry oleh Tommy Page enak didengar. Meski sentimentil dan mendayu-dayu, kita tidak mesti cengeng kan? Ekspresi seni kadang nampak membuat kenyataan dramatik untuk menggugah penikmatnya. Jangan tanya, kenapa? Sebab ini bukan logika, ia adalah rasa. Tinggal kita merayakannya. Coba tengok liriknya:
Life is full of lots of up and downs,
And the distance feels further
when you're headed for the ground,
And there is nothing more painful
than to let you're feelings takeyou down,
It's so hard to know the way you feel inside,W
hen there's many thoughts and feelings that you hide,
But you might feel better if you let me walk with youby your side,
And when you need a shoulder to cry on,
When you need a friend to rely on,
When the whole world is gone,
You won't be alone, cause I'll be there,
I'll be your shoulder to cry on,
I'll be there,
I'll be a friend to rely on,
When the whole world is gone,
you won't be alone,
cause I'll be there.
All of the times when everything is wrong
And you're feeling like
There's no use going on
You can't give it up
I hope you work it out and carry on
Side by side,
With you till the end
I'll always be the one to firmly hold your hand
matter what is said
r doneour love will always continue on
Everyone needs a shoulder to cry
neveryone needs a friend to rely on
When the whole world is gone
you won't be alone cause
I'll be thereI'll be your shoulder to cry on
I'll be thereI'll be the one you rely on
when the whole world's gone
you won't be alonec
ause I'll be there!
And when the whole world is gone
You'll always have my shoulder to cry on....
Dulu, penyanyi tampan ini dikritik sebagai pelantun bermodal tampang. Suaranya pas-pasan. Tapi, pasar menghendaki lain.
***
Semalam, saya menemani sahabat karib menjenguk bibinya yang terbaring di rumah sakit karena pendarahan otak. Untuk kedua kalinya saya menginjakkan kaki di Hospital Pulau Pinang. Siapapun akan miris melihat penderitaan orang-orang yang terbaring lemah. Di sana, saya dihadapkan dengan sejumlah cerita sendu: seorang ibu yang tidak punya kerja dengan anak kecilnya terserung virus di kepalanya. Saya sempat melihatnya. Anda pasti terenyuh karena anak sekecil harus berkelahi melawan penyakit yang hanya bisa dijelaskan oleh para malaikat kenapa anak yang tak berdosa itu harus menanggung beban yang sangat berat? Tentu akan banyak cerita jika kita sabar bertanya tentang nestapa yang sedang dialami orang-orang papa itu. Ya, di sini adalah rumah sakit untuk orang-orang yang tidak punya orang. Tapi, anehnya, saya baca kemarin di Utusan, Petronas untung 40 billion. Lalu, kemanakah uang itu? Kata teman Malaysia saya, kekayaan itu hanya untuk memanjakan para pengusaha, bukan masyarakat kebanyakan. Ah, apa peduli dengan urusan negara orang lain, sementara di negeri sendiri saya hanya bisa diam, sebab berteriak hanya membuat suara parau.
Lalu, apa yang mesti kita kerjakan jika kenyataan selalu menyerimpung dari keinginan?
Lagu Shoulder to Cry oleh Tommy Page enak didengar. Meski sentimentil dan mendayu-dayu, kita tidak mesti cengeng kan? Ekspresi seni kadang nampak membuat kenyataan dramatik untuk menggugah penikmatnya. Jangan tanya, kenapa? Sebab ini bukan logika, ia adalah rasa. Tinggal kita merayakannya. Coba tengok liriknya:
Life is full of lots of up and downs,
And the distance feels further
when you're headed for the ground,
And there is nothing more painful
than to let you're feelings takeyou down,
It's so hard to know the way you feel inside,W
hen there's many thoughts and feelings that you hide,
But you might feel better if you let me walk with youby your side,
And when you need a shoulder to cry on,
When you need a friend to rely on,
When the whole world is gone,
You won't be alone, cause I'll be there,
I'll be your shoulder to cry on,
I'll be there,
I'll be a friend to rely on,
When the whole world is gone,
you won't be alone,
cause I'll be there.
All of the times when everything is wrong
And you're feeling like
There's no use going on
You can't give it up
I hope you work it out and carry on
Side by side,
With you till the end
I'll always be the one to firmly hold your hand
matter what is said
r doneour love will always continue on
Everyone needs a shoulder to cry
neveryone needs a friend to rely on
When the whole world is gone
you won't be alone cause
I'll be thereI'll be your shoulder to cry on
I'll be thereI'll be the one you rely on
when the whole world's gone
you won't be alonec
ause I'll be there!
And when the whole world is gone
You'll always have my shoulder to cry on....
Dulu, penyanyi tampan ini dikritik sebagai pelantun bermodal tampang. Suaranya pas-pasan. Tapi, pasar menghendaki lain.
***
Semalam, saya menemani sahabat karib menjenguk bibinya yang terbaring di rumah sakit karena pendarahan otak. Untuk kedua kalinya saya menginjakkan kaki di Hospital Pulau Pinang. Siapapun akan miris melihat penderitaan orang-orang yang terbaring lemah. Di sana, saya dihadapkan dengan sejumlah cerita sendu: seorang ibu yang tidak punya kerja dengan anak kecilnya terserung virus di kepalanya. Saya sempat melihatnya. Anda pasti terenyuh karena anak sekecil harus berkelahi melawan penyakit yang hanya bisa dijelaskan oleh para malaikat kenapa anak yang tak berdosa itu harus menanggung beban yang sangat berat? Tentu akan banyak cerita jika kita sabar bertanya tentang nestapa yang sedang dialami orang-orang papa itu. Ya, di sini adalah rumah sakit untuk orang-orang yang tidak punya orang. Tapi, anehnya, saya baca kemarin di Utusan, Petronas untung 40 billion. Lalu, kemanakah uang itu? Kata teman Malaysia saya, kekayaan itu hanya untuk memanjakan para pengusaha, bukan masyarakat kebanyakan. Ah, apa peduli dengan urusan negara orang lain, sementara di negeri sendiri saya hanya bisa diam, sebab berteriak hanya membuat suara parau.
Lalu, apa yang mesti kita kerjakan jika kenyataan selalu menyerimpung dari keinginan?
Thursday, June 29, 2006
Islam Liberal
Setelah makan di kantin Kampus, saya ke toko buku. Ketika melihat-lihat di highlight, ada buku terbungkus plastik berjudul Islam Liberal: Tafsiran Agama yang Kian Terpesong. Rasa penasaran membuat saya merogoh kocek untuk memilikinya. Saya berharap buku ini membantu saya lebih jauh memahami kritik pemikir Islam Malaysia terhadap Islam Liberal.
Setelah Mufti Perak Datuk Seri Harussani Zakaria mengharamkan Pluralisme, Liberalisme dan Sekulerisme, saya ingin mengetahui lebih detil akar pengetahuan kenapa orang Islam di negeri Jiran alergi dengan arus pemikiran liberal. Tidak jarang mereka mengkhawatirkan virus ini menyerang rakyat Melayu, setelah Indonesia mengalami 'kerasukan' hama ini.
Meskipun salah satu pemikir moderat Candra Muzaffar mempertanyakan persepsi Mufti akan pengertian ketiga istilah di atas, namun gaung pemikir cemerlang ini tidak sehebat tokoh ulama dari Perak ini. Ia tenggelam oleh liputan yang memihak terhadap ulama.
Meskipun salah satu pemikir moderat Candra Muzaffar mempertanyakan persepsi Mufti akan pengertian ketiga istilah di atas, namun gaung pemikir cemerlang ini tidak sehebat tokoh ulama dari Perak ini. Ia tenggelam oleh liputan yang memihak terhadap ulama.
Wednesday, June 28, 2006
Semangat yang Membuncah
Dua hari ini, saya sepertinya bisa melakukan apa saja, tanpa mengenal lelah. Bangun lebih awal, main basket, menulis artikel dan tentu saja menonton sepak bola. Semalam, meskipun Tim Samba menang telak 3-0 atas Black Star Ghana, saya melihat kehilangan 'gairah' pemain Brasil untuk menciptakan gol.
Di luar itu, pagi ini, saya membuka walkman untuk mendengarkan radio Sinar FM. Pertama kali terdengar adalah lagu 'yang' mengingatkan sesuatu, namun tidak tahu pasti penyanyi dan judul lagunya. Alunan musik dan liriknya secara langsung menyentuh telinga dan meresap ke batin. Inikah pengalaman puncak yang digambarkan oleh Abraham Maslow itu?
Dengan khusyuk saya menikmati lagu hingga akhir agar diri bisa mencecap keriangan lebih tinggi. Akhirnya rasa penasaran terjawab sudah oleh penyiarnya bahwa lagu tersebut dibawakan oleh Toto dengan judul I want hold you back. Lalu, disusul lagu Siti Nurhaliza yang digubah oleh Melly Goeslow bertajuk Biarlah Rahsia. Sesederhana inikah kebahagiaan? Jawabnya, ya. Kita tak perlu meminta lebih, karena akan merasa 'jenuh' dengan kelimpahan.
Tubuh dan jiwa kita terlalu kecil untuk anugerah yang sangat besar. Menikmati udara sehingga bernafas itu saja belum pernah kita syukuri sebagai anugerah terbesar. Lalu, kita minta apa lagi dari sang Penguasa? Memang, benar manusia selalu ingin yang lain, sebab miliknya telah dianggap barang usang yang tak berharga.
Di luar itu, pagi ini, saya membuka walkman untuk mendengarkan radio Sinar FM. Pertama kali terdengar adalah lagu 'yang' mengingatkan sesuatu, namun tidak tahu pasti penyanyi dan judul lagunya. Alunan musik dan liriknya secara langsung menyentuh telinga dan meresap ke batin. Inikah pengalaman puncak yang digambarkan oleh Abraham Maslow itu?
Dengan khusyuk saya menikmati lagu hingga akhir agar diri bisa mencecap keriangan lebih tinggi. Akhirnya rasa penasaran terjawab sudah oleh penyiarnya bahwa lagu tersebut dibawakan oleh Toto dengan judul I want hold you back. Lalu, disusul lagu Siti Nurhaliza yang digubah oleh Melly Goeslow bertajuk Biarlah Rahsia. Sesederhana inikah kebahagiaan? Jawabnya, ya. Kita tak perlu meminta lebih, karena akan merasa 'jenuh' dengan kelimpahan.
Tubuh dan jiwa kita terlalu kecil untuk anugerah yang sangat besar. Menikmati udara sehingga bernafas itu saja belum pernah kita syukuri sebagai anugerah terbesar. Lalu, kita minta apa lagi dari sang Penguasa? Memang, benar manusia selalu ingin yang lain, sebab miliknya telah dianggap barang usang yang tak berharga.
Tuesday, June 27, 2006
Syukur: Sebuah Kata yang Hilang
Kemarin, saya ditelpon oleh Ibu Tineke bahwa beasiswa saya akan ditransfer hari Kamis atau Jum'at. Tiba-tiba, saya merasa 'gembira' yang berbeda. Ada kekuatan untuk membuat saya 'merancang' banyak hal. Terbayang disertasi akan selesai dalam waktu singkat. Lebih dari itu, saya dalam keadaan sehat. Mungkin, semua ini adalah peristiwa biasa, tapi menjadi luar biasa ketika kita mau mensyukuri sebagai karunia, sebab apa yang didapat ini akan bisa hilang.
Beberapa hari yang lalu, kepala saya diserang nyeri. Karena sering, saya menganggapnya biasa. Jika sakit tak tertahankan, saya minum panadol. Di Indonesia, biasanya Paramex. Obat ini ampuh untuk menghilangkan rasa nyut-nyutan di batok kepala. Katanya, parasetamol yang terkandung di dalamnya adalah painkiller sejati. Tapi, waktu itu saya tidak membeli obat dan tidur sebagai jalan keluar. Meskipun, ketika bangun pagi rasa berat di kepala masih tersisa, tapi tidak mengganggu. Teman karib saya, Yusof Othman berbaik hati untuk memijit seluruh tubuh dengan alat 'pemijit tangan'. Akhir-akhir, kami berdua sering melakukan kegiatan bersama, makan, main bola, basket dan berdiskusi tentang ekonomi. Kebetulan, dia adalah mahasiswa PhD bidang Ekonomi, khususnya perdagangan internasional.
Sekarang, niat untuk segera merampungkan disertasi diawali dengan meminjam buku al-Burhan fi Ulum al-Qur'an oleh Az Zarkasyi, The Event of the Qur'an oleh Kenneth Cragg, The Sublime and Orientalism oleh Mohammad Khalifa dan Hermeneutika al-Qur'an: Mazhab Yogya oleh Sahiron Syamsuddin (editor). Malah, saya mengirim surat elektronik ke Mas Sahiron untuk berbagi pengetahuan dan bahan. Jika hidup telah terang benderang, maka sekarang komitmen itu tidak hanya di kepala tetapi juga di tangan, kaki, mulut dan seluruh jiwa.
Beberapa hari yang lalu, kepala saya diserang nyeri. Karena sering, saya menganggapnya biasa. Jika sakit tak tertahankan, saya minum panadol. Di Indonesia, biasanya Paramex. Obat ini ampuh untuk menghilangkan rasa nyut-nyutan di batok kepala. Katanya, parasetamol yang terkandung di dalamnya adalah painkiller sejati. Tapi, waktu itu saya tidak membeli obat dan tidur sebagai jalan keluar. Meskipun, ketika bangun pagi rasa berat di kepala masih tersisa, tapi tidak mengganggu. Teman karib saya, Yusof Othman berbaik hati untuk memijit seluruh tubuh dengan alat 'pemijit tangan'. Akhir-akhir, kami berdua sering melakukan kegiatan bersama, makan, main bola, basket dan berdiskusi tentang ekonomi. Kebetulan, dia adalah mahasiswa PhD bidang Ekonomi, khususnya perdagangan internasional.
Sekarang, niat untuk segera merampungkan disertasi diawali dengan meminjam buku al-Burhan fi Ulum al-Qur'an oleh Az Zarkasyi, The Event of the Qur'an oleh Kenneth Cragg, The Sublime and Orientalism oleh Mohammad Khalifa dan Hermeneutika al-Qur'an: Mazhab Yogya oleh Sahiron Syamsuddin (editor). Malah, saya mengirim surat elektronik ke Mas Sahiron untuk berbagi pengetahuan dan bahan. Jika hidup telah terang benderang, maka sekarang komitmen itu tidak hanya di kepala tetapi juga di tangan, kaki, mulut dan seluruh jiwa.
Sunday, June 25, 2006
Enemy at the Gates
Teman Melayu karib saya mengajakke warung pecel lele. Meskipun ia tidak suka pedas, tapi aroma sambal Jawa ini cukup membuat lidahnya ketagihan. Di sana, saya memesan rawon (kuah hitam legam yang dipenuhi daging dan kecambah). Langit tampak hitam, mungkin hujan akan turun.
Jalan kembali pulang mengambil masa agak lama Karena kami menempuh jalan memutar. Di Restu, saya turun ke basement untuk menonton perlawanan Jerman-Swedia. Dominasi Jerman sangat merepotkan barisan belakang negeri Volvo ini. Apalagi salah satu pemainnya dikeluarkan dari lapangan karena mendapatkan akumulasi dua kartu kuning (aneh, namanya Licik, tertulis licic). Sebelum babak pertama usai saya kembali ke kamar.
Malam minggu mungkin perlu lebih banyak 'istirahat' daripada terus menekuri buku. Dengan langkah gontai, saya pergi ke kamar teman, kebetulan di sana ia memutar film Enemy at the gates, sebuah filem cerita perang antara Jerman dan Rusia yang menyisipkan pertaruangan dua jagoan penembak gelap (sniper). Tentu saja, adalah khas film Hollywood memasukkan cerita romantik dalam alur. Jude Law, Ed Harris dan Rachel Weisz bermain baik dan membawakan watak yang meyakinkan untuk memperlihatkan betapa perang telah 'menistakan' manusia pada titik nadir.
Jam 12 lebih, Yusoff mengajak saya menikmati malam. Akhirnya, kami menuju Karaoke Sahabat untuk melepaskan ketegangan dan menaikkan endorfin. Di sana, kami 'request' lagu Aduhai Salehah, Istana Menanti, Beautiful Maria, Tuhan, Selamat Tinggal, Menanti Kejujuran, Widuri, Nafas Cinta, Angin Malam dan Biarlah Bulan Bicara. Lagu-lagu yang saya pesan, semuanya bercerita kenangan, tentu saja, masa yang telah usai. Mungkin nostalgi inilah yang membuat orang melupakan penat hidup hari ini. Sehingga masa lalu perlu dihadirkan untuk mengelabuhi carut-marut kekinian.
Saya memiliah Istana Menanti (oleh Rahim Maroof), Tuhan (Bimbo), Nafas Cinta (Inka Kristi dan Amy Search) dan Menanti Kejujuran (Gong 2000). Empat lagu cukup membuat napas serak karena lagu terakhir memaksa saya berteriak. Sebenarnya lega, tapi tenggorokan kering. Sayang, ketika saya menyanyikan lagu Tuhan, saya merasa suara sember, tak enak di hati dan telinga. Mungkin, Tuhan hadir dalam sebuah ruang yang ironi, campur aduk segala ekspresi, garang, sendu dan cemas. Atau, karena saya belum yakin bahwa sesuai dengan lirik, Aku Jauh Engkau Jauh, Aku Dekat Engkau Dekat belum benar-benar merasuk jiwa.
Dengan perasaan ringan, kami meninggalkan tempat Karaoke. Di tengah jalan, anak-anak remaja sedang berjejer di pinggir jalan sambil sekali-kali menggeber mesin motor. Mereka, yang di sini dikenal 'Mat Rempit', sedang menunggu waktu untuk adu kecepatan di jalan raya. Anak muda yang sedang mencari jati diri, tapi sayang mereka harus membuang waktu dan uang untuk aktualisasi yang 'susah' dipahami.
Di kamar teman, sebelum memejamkan mata, saya membaca koran yang memuat wawancara Mufti Perak, Datuk Hairussani, tentang wacana liberalisme dan pluralisme. (Terima kasih Mas Hilal, karena telah memberikan koran ini pada saya).
Jalan kembali pulang mengambil masa agak lama Karena kami menempuh jalan memutar. Di Restu, saya turun ke basement untuk menonton perlawanan Jerman-Swedia. Dominasi Jerman sangat merepotkan barisan belakang negeri Volvo ini. Apalagi salah satu pemainnya dikeluarkan dari lapangan karena mendapatkan akumulasi dua kartu kuning (aneh, namanya Licik, tertulis licic). Sebelum babak pertama usai saya kembali ke kamar.
Malam minggu mungkin perlu lebih banyak 'istirahat' daripada terus menekuri buku. Dengan langkah gontai, saya pergi ke kamar teman, kebetulan di sana ia memutar film Enemy at the gates, sebuah filem cerita perang antara Jerman dan Rusia yang menyisipkan pertaruangan dua jagoan penembak gelap (sniper). Tentu saja, adalah khas film Hollywood memasukkan cerita romantik dalam alur. Jude Law, Ed Harris dan Rachel Weisz bermain baik dan membawakan watak yang meyakinkan untuk memperlihatkan betapa perang telah 'menistakan' manusia pada titik nadir.Jam 12 lebih, Yusoff mengajak saya menikmati malam. Akhirnya, kami menuju Karaoke Sahabat untuk melepaskan ketegangan dan menaikkan endorfin. Di sana, kami 'request' lagu Aduhai Salehah, Istana Menanti, Beautiful Maria, Tuhan, Selamat Tinggal, Menanti Kejujuran, Widuri, Nafas Cinta, Angin Malam dan Biarlah Bulan Bicara. Lagu-lagu yang saya pesan, semuanya bercerita kenangan, tentu saja, masa yang telah usai. Mungkin nostalgi inilah yang membuat orang melupakan penat hidup hari ini. Sehingga masa lalu perlu dihadirkan untuk mengelabuhi carut-marut kekinian.
Saya memiliah Istana Menanti (oleh Rahim Maroof), Tuhan (Bimbo), Nafas Cinta (Inka Kristi dan Amy Search) dan Menanti Kejujuran (Gong 2000). Empat lagu cukup membuat napas serak karena lagu terakhir memaksa saya berteriak. Sebenarnya lega, tapi tenggorokan kering. Sayang, ketika saya menyanyikan lagu Tuhan, saya merasa suara sember, tak enak di hati dan telinga. Mungkin, Tuhan hadir dalam sebuah ruang yang ironi, campur aduk segala ekspresi, garang, sendu dan cemas. Atau, karena saya belum yakin bahwa sesuai dengan lirik, Aku Jauh Engkau Jauh, Aku Dekat Engkau Dekat belum benar-benar merasuk jiwa.
Dengan perasaan ringan, kami meninggalkan tempat Karaoke. Di tengah jalan, anak-anak remaja sedang berjejer di pinggir jalan sambil sekali-kali menggeber mesin motor. Mereka, yang di sini dikenal 'Mat Rempit', sedang menunggu waktu untuk adu kecepatan di jalan raya. Anak muda yang sedang mencari jati diri, tapi sayang mereka harus membuang waktu dan uang untuk aktualisasi yang 'susah' dipahami.
Di kamar teman, sebelum memejamkan mata, saya membaca koran yang memuat wawancara Mufti Perak, Datuk Hairussani, tentang wacana liberalisme dan pluralisme. (Terima kasih Mas Hilal, karena telah memberikan koran ini pada saya).
Subscribe to:
Posts (Atom)
Mengaji Syarh al-Hikam
ربما اطلعك على غيب ملكوته وحجب عنك الاشتغراف على اسرار العباد Pagi ini, pukul 6, kami mengikuti pengajian kitab anggitan Imam Athoillah Al-S...
-
Buku terjemahan saya berjudul Truth and Method yang diterbitkan Pustaka Pelajar dibuat resensinya di http://www.mediaindo.co.id/resensi/deta...
-
Ahmad Sahidah lahir di Sumenep pada 5 April 1973. Ia tumbuh besar di kampung yang masih belum ada aliran listrik dan suka bermain di bawah t...
-
Kami berdua salat di masjid tempat orang dewasa, remaja, dan anak-anak bersembahyang. Di sini, saf pertama bisa diisi oleh jamaah dari sega...

