Saya telah mencatat di jadual kegiatan tentang ceramah mengenai isu-isu ajaran sesat yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Sains dan Filsafat Islam kampus. Hari ini, 28 Oktober 2008, saya memenuhi undangan umum ini di ruang Dewan Persidangan Universiti, dekat kantor rektorat. Profesor Zakaria Stapa mengurai beberapa isu penting berkaitan dengan persoalan ajaran yang menyimpang di dalam Islam.
Bentuk ajaran Islam yang dianggap sesat di antaarnya adalah Islam Liberal dengan alasan mendukung sekulerisme, pluralisme, tafsir ulang al-Qur'an melalui hermeneutik dan usulan kitab suci edisi kritis serta feminisme. Tentu, kajian seperti ini cukup berat bagi kebanyakan peserta dari latar belakang bukan kajian keislaman, namun demikian isu-isu lain seperti aqidah, syari'ah dan tasawuf masih bisa dijangkau oleh hadirin dengan dititikberatkan pada sisi praktis.
Justeru, saya tertarik dengan gugatan dua orang peserta yagn telah merasa menjadi korban dari stigma ajaran sesat yagn dilekatkan pada kampung mereka, Kampung Seronok. Padahal, ajaran yang dimaksud, yaitu Kelompok Taslim yang diduga digagas oleh Mohammad Syafi'ie sebenarnya tidak ada, namun mereka telah menerima perlakuan diskriminasi dan hujatan. Usulan mereka agar Profesor Zakaria mengkaji ulang pandangan masyarakat tentu menjadi pelajaran bagi kita bahwa pelekatan sesat pada keyakinan sebuah kelompok bisa melahirkan kejahatan kemanusiaan, yang juga diamini oleh dekan Fakultas Ilmu Keislaman Universitas Kebangsaan Malaysia ini.
Tuesday, October 28, 2008
Merayakan Ulang Tahun
Jauh hari sebelumnya, kawan baik saya, Pak Stenly mengingatkan bahwa pada hari ini, 28 Oktober, kami diminta untuk turut merayakan ulang tahun anaknya, Amel. Semalam, kami memastikan untuk berangkat dari kampus sekitar jam 12.30-an. Akhirnya, niat itu menjadi kenyataan.
Kami pun menuju ke Pizza Hut untuk mensyukuri karunia ini. Puteri semata wayang Pak Stenly dan Ibu Troy ini sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-6. Setelah memarkir kendaraan, kami menunggu pesanan sambil bercengkerama. Di tengah kehangatan ini, kami acapkali tergelak mendengar celotehan Amel, karena ada teman sekelasnya yang menyukainya. Aha, sebuah cerita yang lucu. Ups, mungkin pengunjung warung makan ini agak tidak nyaman karena saya merasa kami adalah kelompok yang paling heboh ketika melepaskan tawa.
Meja itu penuh oleh makanan dan minuman, setelah sebelumnya kami menyeruput sup. Ada kesegaran memulai makan siang. Di sela-sela makan pun kami pun masih bertukar cerita dan bahkan sempat bergambar bersama. Sebuah kebersamaan yang mendatangkan tentram. Selamat ulang tahun Amel, semoga selalu sejahtera dan ceria menggengam kehidupan.
Kami pun menuju ke Pizza Hut untuk mensyukuri karunia ini. Puteri semata wayang Pak Stenly dan Ibu Troy ini sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-6. Setelah memarkir kendaraan, kami menunggu pesanan sambil bercengkerama. Di tengah kehangatan ini, kami acapkali tergelak mendengar celotehan Amel, karena ada teman sekelasnya yang menyukainya. Aha, sebuah cerita yang lucu. Ups, mungkin pengunjung warung makan ini agak tidak nyaman karena saya merasa kami adalah kelompok yang paling heboh ketika melepaskan tawa.
Meja itu penuh oleh makanan dan minuman, setelah sebelumnya kami menyeruput sup. Ada kesegaran memulai makan siang. Di sela-sela makan pun kami pun masih bertukar cerita dan bahkan sempat bergambar bersama. Sebuah kebersamaan yang mendatangkan tentram. Selamat ulang tahun Amel, semoga selalu sejahtera dan ceria menggengam kehidupan.
Monday, October 27, 2008
Belajar Mendengar

Dalam kuliah umum di kampus yang mengabil tema "Politik Melayu Islam: Kemelut dan Penyelesaian", saya betul-betul belajar menjadi pendengar. Tan Sri Muhyidin Yasin, Menteri Industri dan Perdagangan Antarabangsa memukau para hadirin dengan menyodorkan masalah politik Melayu. Sayangnya, beliau membatasi pada peran UMNO dan mengenyampingkan partai dan kelompok lain. Tentu, politisi dari Johor ini mempunyai hitungan tersendiri.
Memang tidak ada yang baru dari kuliah yang disampaikan, karena isu seperti Melayu tergugat setelah kekalahan Barisan Nasinal pada pemilu ke-12, kontrak sosial, dan dasar ekonomi baru telah banyak dibahas di media. Alih-alih saya mendapatkan banyak ide baru, malah calon orang nomor dua dalam UMNO ini melakukan kampanye dan propaganda. Saya heran mengapa ISDEV Fakultas Ilmu Kemasyarakatan sebagai pihak penyelenggara meloloskan program kuliah semacam ini. Namun, saya merasa lebih tenang ketika dalam sesi pertanyaan ada banyak penanya yang mencoba menggugat keadaan yang dianggap tidak adil, meskipun tampak seorang penanya memprovokasi keadaan dengan menyinggung secara tidak langsung Datuk Seri Anwar Ibrahim sebagai pemimpin tidak layak karena dianggap penerus kaum Nabi Lut. Ada rasa tidak nyaman di kalangan peserta kuliah dengan pertanyaan tendensius ini.
Namun, ini adalah ikhtiar yang patut dihargai karena selama ini perbincangan politik tidak pernah diadakan secara terbuka di kampus. Paling tidak, meskipun memberikan keuntungan pada pihak berkuasa, oposisi bisa menuntut hal yang sama untuk berbicara di universitas agar mahasiswa bisa menyerap banyak perdebatan yang sehat.
Friday, October 24, 2008
Agama, Simbol, dan Tindakan
Suara Merdeka, 24 Oktober 2008
Namun, kenyataan itu terkadang dianggap sinkretik, dan para pembaharu berupaya untuk menampilkan kembali agama Islam yang murni. Sementara pada masa yang sama, tindakan religius tidak akan ada tanpa ekspresi-ekspresi simbolik, sebagaimana dikatakan oleh Louis Dupre dalam Religious Mystery and Rational Reflection: Excursions in the Phenomenology and Philosophy of Religion (1998: 7).
Meskipun Schleimacher muda menyatakan ide agama sebagai sebuah perasaan batin murni dan terlepas dari ekspresi simboliknya, namun para fenomenolog menganggap ekspresi lahiriah —seperti doa dan pengorbanan bersama— sebagai aktivitas komunal yang sangat penting bagi tindakan religius. Menurut mereka, tindakan menuju kepada yang transenden (dan tidak bisa diekspresikan secara langsung) mensyaratkan keberadaan sebuah representasi simbolik secara konkret.
Bagi saya, pendapat Schleirmacher lebih cocok pada kalangan orang terpelajar yang mempunyai kemampuan tafakur sehingga mampu menghadirkan Ilahi dalam kesadarannya. Sementara itu, orang kebanyakan masih terpaku pada bentuk ritual simbolik untuk mengikat mereka dalam praktik keagamaan.
Pendek kata, instrumen tersebut tetap diperlukan dalam tindakan komunal. Dengan demikian, mereka yang memahami kerumitan isu esoterik dan eksoterik perlu berhati-hati dalam menggagas tentang tafsir baru terhadap dunia keberagamaan.
Karena itu tidak heran, jika pembaharu muslim tidak mengadopsi budaya Arab, seperti berpakaian, untuk mengekspresikan keagamaannya. Namun, malangnya, ketika menolak ekspresi lahir Timur Tengah, kaum reformis lebih nyaman dengan tata berbusana Barat, sementara itu kaum tradisional dengan tradisi ”Jawa”. Celakanya, yang terakhir itu juga merasa nyaman dengan pola ekspresi Barat.
Sekarang, tampak bahwa hal-hal berbau Arab telah diidentikkan dengan kecenderungan eksklusif dan tidak elok, sementara itu simbol budaya Jawa yang sebenarnya warna lain dari India tidak dipersoalkan. Seakan-akan ia adalah self evident sebagai identitas. Mungkin hal itu tidak bisa dilepaskan dari rezim Soeharto yang sebelumnya menyodorkan dunia sanskrit Jawa sebagai ekspresi simbolik dalam hubungan sosial dan politik, dan telah begitu dalam memengaruhi alam bawah sadar masyarakat, termasuk sarjananya.
Keengganan kita membawa kebudayaan lokal ke ranah publik karena pencitraan bahwa di dalam acara resmi kita lebih keren menggunakan jas dan dasi. Sebuah sesat pikir yang dianut banyak orang. Celakanya, batik dipinggirkan dan hanya digunakan untuk acara perkawinan, sehingga penggunaan produk lokal itu tidak diapresiasi oleh orang ramai karena tidak dijadikan pakaian sehari-hari, baik dalam acara formal maupu nonformal.
Pada sebuah kesempatan, seorang anggota DPR tanpa malu menggunakan jas dan dasi ketika mengunjungi korban bencana alam, padahal cuaca panas. Sebagai pengusung Islam kebangsaan, apa sebenarnya yang ada di benaknya tentang dunia simbolik dan implikasinya kepada kehidupan lebih luas?
Baju koko, sarung, dan kopiah, telah menjadi ciri khas pakaian muslim yang seharusnya dilihat tidak semata-mata sebagai warisan tradisi, tetapi sekaligus ekspresi lokal yang mengandaikan kepercayaan terhadap kebudayaan sendiri.
Lebih dari itu, masyarakat luas menghargai produk lokal untuk mendorong produktivitas, dan bukannya sikap konsumeristik yang bergantung kepada barang dan merek (jenama) luar. Sayangnya, para pemimpin kita dan anak-anaknya tidak menunjukkan teladan dengan memamerkan mobil produk luar, berbeda dari elite negara tetangga yang menggunakan proton —produk otomotif lokal— dalam acara resmi mereka.
Jika simbol yang ditunjukkan sebagai muslim merupakan karya kreatif bangsa sendiri, maka tindakan-tindakan lain berkaitan dengan selera, preferensi, dan pencitraan, sejauh mungkin mencerminkan identitas sendiri, tanpa kemudian menjadi sosok chauvinistik apatah lagi antimanusia asing (homofobia).
Malahan itu lebih didorong untuk menolong diri dan masyarakatnya, bagaimana menerjemahkan simbol (iman) dan tindakan (amal) yang bisa mengangkat jatidiri sekaligus membantu ekonomi masyarakatnya. Saya yakin, itulah yang menjadikan kita sebagai orang beragama yang sejati. (32)
–– Ahmad Sahidah, kandidat doktor Departemen Filsafat dan Peradaban pada Universitas Sains Malaysia.
- Oleh Ahmad Sahidah
Namun, kenyataan itu terkadang dianggap sinkretik, dan para pembaharu berupaya untuk menampilkan kembali agama Islam yang murni. Sementara pada masa yang sama, tindakan religius tidak akan ada tanpa ekspresi-ekspresi simbolik, sebagaimana dikatakan oleh Louis Dupre dalam Religious Mystery and Rational Reflection: Excursions in the Phenomenology and Philosophy of Religion (1998: 7).
Meskipun Schleimacher muda menyatakan ide agama sebagai sebuah perasaan batin murni dan terlepas dari ekspresi simboliknya, namun para fenomenolog menganggap ekspresi lahiriah —seperti doa dan pengorbanan bersama— sebagai aktivitas komunal yang sangat penting bagi tindakan religius. Menurut mereka, tindakan menuju kepada yang transenden (dan tidak bisa diekspresikan secara langsung) mensyaratkan keberadaan sebuah representasi simbolik secara konkret.
Bagi saya, pendapat Schleirmacher lebih cocok pada kalangan orang terpelajar yang mempunyai kemampuan tafakur sehingga mampu menghadirkan Ilahi dalam kesadarannya. Sementara itu, orang kebanyakan masih terpaku pada bentuk ritual simbolik untuk mengikat mereka dalam praktik keagamaan.
Pendek kata, instrumen tersebut tetap diperlukan dalam tindakan komunal. Dengan demikian, mereka yang memahami kerumitan isu esoterik dan eksoterik perlu berhati-hati dalam menggagas tentang tafsir baru terhadap dunia keberagamaan.
Sesat Pikir
Dalam kajian Toshihiko Izutsu, sarjana Jepang dalam kajian Islam, Alquran tidak membuang kepercayaan orang Arab pra-Islam, seperti Tuhan kitab dan akhirat, tetapi memberikan makna baru terhadapnya, baik dalam medan makna maupun perhatian tertinggi (the ultimate concern) dari istilah terkait. Jika sebelumnya kata-kata kunci itu berhubungan dengan hal material, di dalam kitab suci istilah-istilah tersebut melampaui hal ihwal bendawi dan diarahkan kepada kekuasaan Allah. Dengan sendirinya, ia memunculkan pandangan dunia baru.Karena itu tidak heran, jika pembaharu muslim tidak mengadopsi budaya Arab, seperti berpakaian, untuk mengekspresikan keagamaannya. Namun, malangnya, ketika menolak ekspresi lahir Timur Tengah, kaum reformis lebih nyaman dengan tata berbusana Barat, sementara itu kaum tradisional dengan tradisi ”Jawa”. Celakanya, yang terakhir itu juga merasa nyaman dengan pola ekspresi Barat.
Sekarang, tampak bahwa hal-hal berbau Arab telah diidentikkan dengan kecenderungan eksklusif dan tidak elok, sementara itu simbol budaya Jawa yang sebenarnya warna lain dari India tidak dipersoalkan. Seakan-akan ia adalah self evident sebagai identitas. Mungkin hal itu tidak bisa dilepaskan dari rezim Soeharto yang sebelumnya menyodorkan dunia sanskrit Jawa sebagai ekspresi simbolik dalam hubungan sosial dan politik, dan telah begitu dalam memengaruhi alam bawah sadar masyarakat, termasuk sarjananya.
Implikasi Simbol
Islam berkaitan dengan dimensi spiritual dan sosial adalah postulat lama yang diyakini oleh banyak orang, meskipun dalam matra politik kaum muslim terbelah. Jika Islam keindonesiaan ditafsirkan sebagai perwujudan kebudayaan lokal, seharusnya penampilan kebudayaan dan berpakaiannya mencerminkan penampilan setempat; selain menunjukkan konsistensi, juga menunjukkan kepercayaan diri. Selain itu, hal tersebut memiliki pesan moral bahwa kita harus berdiri di kaki sendiri.Keengganan kita membawa kebudayaan lokal ke ranah publik karena pencitraan bahwa di dalam acara resmi kita lebih keren menggunakan jas dan dasi. Sebuah sesat pikir yang dianut banyak orang. Celakanya, batik dipinggirkan dan hanya digunakan untuk acara perkawinan, sehingga penggunaan produk lokal itu tidak diapresiasi oleh orang ramai karena tidak dijadikan pakaian sehari-hari, baik dalam acara formal maupu nonformal.
Pada sebuah kesempatan, seorang anggota DPR tanpa malu menggunakan jas dan dasi ketika mengunjungi korban bencana alam, padahal cuaca panas. Sebagai pengusung Islam kebangsaan, apa sebenarnya yang ada di benaknya tentang dunia simbolik dan implikasinya kepada kehidupan lebih luas?
Baju koko, sarung, dan kopiah, telah menjadi ciri khas pakaian muslim yang seharusnya dilihat tidak semata-mata sebagai warisan tradisi, tetapi sekaligus ekspresi lokal yang mengandaikan kepercayaan terhadap kebudayaan sendiri.
Lebih dari itu, masyarakat luas menghargai produk lokal untuk mendorong produktivitas, dan bukannya sikap konsumeristik yang bergantung kepada barang dan merek (jenama) luar. Sayangnya, para pemimpin kita dan anak-anaknya tidak menunjukkan teladan dengan memamerkan mobil produk luar, berbeda dari elite negara tetangga yang menggunakan proton —produk otomotif lokal— dalam acara resmi mereka.
Jika simbol yang ditunjukkan sebagai muslim merupakan karya kreatif bangsa sendiri, maka tindakan-tindakan lain berkaitan dengan selera, preferensi, dan pencitraan, sejauh mungkin mencerminkan identitas sendiri, tanpa kemudian menjadi sosok chauvinistik apatah lagi antimanusia asing (homofobia).
Malahan itu lebih didorong untuk menolong diri dan masyarakatnya, bagaimana menerjemahkan simbol (iman) dan tindakan (amal) yang bisa mengangkat jatidiri sekaligus membantu ekonomi masyarakatnya. Saya yakin, itulah yang menjadikan kita sebagai orang beragama yang sejati. (32)
–– Ahmad Sahidah, kandidat doktor Departemen Filsafat dan Peradaban pada Universitas Sains Malaysia.
Saturday, October 18, 2008
Jakarta Gagal sebagai Kota

Detik, Opini Anda, 18 Oktober 2008
Ahmad Sahidah
Bulan Juni yang lalu saya mengunjungi Jakarta untuk mengurus single entry visa di Kedutaan Besar Malaysia dan sekaligus melawat Perpustakaan Nasional Jakarta di Jalan Salemba untuk mendapatkan sebuah naskah kuno yang telah berusia 8 abad, Bahr al-Lahut. Karya abad ke-12 ini telah menjadi penanda awal bagi kesarjanaan Nusantara.
Untuk kedua kalinya saya mengurus visa di perwakilan negara tetangga ini dan saya mendapatkan pelayanan yang efisien dan profesional. Tidak ada kesulitan. Demikian pula ketika saya untuk pertama kalinya mengunjungi perpustakaan di atas.
Kerani menyambut dengan ramah dan betul-betul memberikan pelayanan yang baik. Jelas ini melegakan karena selama ini kesan sambil lalu pegawai pemerintah dalam melaksanakan tugas pelayanan masih sering ditemukan.
Sebenarnya saya mengagendakan untuk mengunjungi beberapa tempat lain. Tetapi, mengurungkan niat karena betapa tidak nyaman transportasi umum di Ibu Kota ini. Busway yang menjadi andalan saya untuk menjangkau pelosok Jakarta sudah tak nyaman. Saya harus menunggu hampir 1 jam sambil berdesakan di bibir koridor.
Tak hanya itu. Di dalam bus saya mesti berhimpitan dengan penumpang lain. Stiker yang menempel di badan bus berbunyi jumlah maksimal penumpang 85 orang tidak lebih dari omong kosong.
Dibandingkan Kuala Lumpur
Kadang saya jengkel bercampur gemas ketika anggota DPR melakukan studi banding hingga ke Amerika Latin baru-baru ini. Saya tidak tahu apa yang mereka ingin pelajari di sana.
Bagi saya sebenarnya kita tak perlu jauh-jauh belajar mengurus banyak hal berkaitan dengan kebutuhan masyarakat di Republik ini. Mereka tidak perlu terbang nun jauh ke negeri seberang. Negara tetangga telah berhasil mengatasi masalah negerinya. Tentu Kuala Lumpur adalah contoh yang paling dekat dan akrab dengan kita.
Kuala Lumpur sebenarnya adalah kota metropolitian yang relatif baru dibandingkan Jakarta sebagai kota besar. Betapa pun banyak gedung-gedung pencakar langit kita masih disuguhkan dengan taman kota dan diperlihatkan banyak pepohonan berjejer di pinggir jalan.
Demikian pula angkutan umum lebih nyaman dan memadai dibandingkan Jakarta yang tak terurus. Belum lagi matahari dengan bebas membakar penghuninya karena jarangnya trotoar yang nyaman untuk dilalui.
Kalau kita membandingkan ruang tunggu angkutan umum di Jakarta dan Malaysia kita betul-betul menemukan suasana yang berbeda. Saya dengan tenang menunggu angkutan umum dengan harga terjangkau tanpa harus khawatir tidak mendapatkan tempat dan berdiri berdesakan.
Ruang tunggu juga tak panas. Sementara di koridor yang sempit dan tak ada AC membuat penumpang tak nyaman. Meski angin berhembus tapi terasa pengap karena satu pohon kelapa yang ada di depan transit Matraman tak cukup untuk menahan hawa panas.
Lebih dari itu busway menggunakan karcis (manual). Sementara Light Rail Transit (LRT) angkutan massal Kuala Lumpur memanfaatkan kartu gesek (mechanical) sehingga kesan yang dimunculkan tampak berbeda secara mencolok. Pada yang terakhir kita dianggap manusia yang dipercayai. Sementara yang pertama diawasi.
Ternyata teknologi kadang bisa memanusiakan kita. Pendek kata, Kuala Lumpur secara perlahan ingin membangun masyarakat tepercaya atau trust society sebagai prasyarat dari masyarakat madani (civil society).
Segera Benahi Ibu Kota
Adalah aneh Ibu Kota yang menampung uang hampir 80% ini tidak bisa menyediakan fasilitas yang nyaman bagi masyarakat dan pengunjungnya. Ironinya setiap hari kita disuguhi dialog, opini, dan rekomendasi di media cetak dan televisi, seminar dan sarasehan bagaimana menciptakan Jakarta lebih baik. Tetapi, pada saat yang sama, kita menemukan Ibu Kota yang semrawut, centang perenang, dan tak ramah bagi pejalan kaki.
Belum lagi Kanal Timur yang sedang dalam penyelesaian. Saya melihat pengerjaannya tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh sehingga mungkin tak akan selesai dalam waktu dekat.
Ini jelas akan mengakibatkan 'hantu' banjir akan menenggelamkan sebagian kawasan. Sebuah ironi yang lain. Bencana ini tentu menghapus seketika kepongahan Jakarta sebagai pusat berkumpulnya orang-orang terpilih dari seluruh negeri.
Kegagalan Jakarta untuk mengubah dirinya seakan menempalak 'wajah' cantik kota metropolitan yang diterakan dalam latar iklan berbagai produk dan film. Ibu Kota ini akhirnya dikapling untuk menjadi pusat orang yang mempunyai uang dengan dibangunnya kota baru di lokasi strategis dan pinggiran yang dilengkapi fasilitas publik lengkap.
Sementara di sebagian besar kawasan kita menyaksikan kekumuhan berserak di mana-mana. Inilah yang membuat saya enggan 'menjual' Jakarta pada teman-teman mahasiswa asing di Malaysia.
Serta merta saya bilang agar mereka datang ke Bali atau Yogyakarta saja, jangan Jakarta! Ternyata hal yang sama juga dirasakan oleh Badrun dan Stenly, mahasiswa Indonesia yang lain, di negeri jiran. Boro-boro wisatawan menikmati pesona Jakarta. Baru saja mereka menginjakkan kaki di pintu keluar bandara internasional mereka akan melihat kesemrawutan.
Dibandingkan dengan terminal udara di Pulau Pinang saja, apalagi Kuala Lumpur, Bandara Soekarno Hatta bukan tempat yang nyaman untuk memulai perjalanan dan pelesiran di Ibu Kota. Kadang saya bergumam betapa naifnya pemerintah menghamburkan uang untuk mencanangkan Visit Indonesia 2008. Sementara sarana pendukung tak mampu menyangganya.
Peter Marcuse (2002:102) menegaskan bahwa kota itu terdiri dari zona bisnis, kekuasaan, industri, dan perumahan di dalam kawasannya masing-masing untuk menghasilkan sebuah kesatuan dengan sejumlah dimensi. Satu sama lain berkaitan dan sebangun. Cabang-cabangnya saling bergantung.
Dari uraian ini Jakarta sebenarnya gagal untuk disebut sebagai kota. Hampir-hampir perumahan bukan merupakan bagian dari cetak biru besar itu. Betapa miris saya melihat banyak warga tinggal di perumahan yang buangan kamar mandi dibuang ke selokan kecil di depan rumah dan menuju sungai. Selain bau dan mengundang nyamuk kenyamanan mereka menikmati waktu senggang terganggu.
Selama seminggu di Jakarta saya merasa tidak nyaman menikmati wajah Jakarta. Jika kemudian saya meriang adalah wajar dan ini tidak dialami ketika saya pernah tinggal di Kuala Lumpur dalam rentang waktu yang sama.
Tapi, saya merasa lebih tidak nyaman mendengar para sarjana dan pemimpin elit di Jakarta bermanis-manis di layar kaca menggagas Indonesia yang permai. Sementara di rumahnya sendiri mereka tidak berdaya mengatasi masalahnya.
Jadi sudah saatnya mereka tak banyak bicara. Segera benahi Jakarta!
Ahmad Sahidah
Kandidat Doktor Departemen Filsafat dan Peradaban Universitas Sains Malaysia
Thursday, October 16, 2008
Merayakan Idul Fitri di Kampus
Jauh hari sebelumnya, teman-teman di pascasarjana merencanakan acara perayaan idul fitri di kampus. Klub kami menggalang dana dari para mahasiswa untuk acara ini, selain sumbangan dari fakultas. Akhirnya, jam 3 sore, para mahasiswa berdatangan ke ruangan acara. Sebelumnya, kami menata kursi dan meletakkan hiasan berupa ketupat yang dibuat dari plastik.
Ardi, presiden klub, membuka pertemuan ini dengan sambutan singkat tentang tujuan acara ini dan sekaligus pemberitahuan acara perdana untuk Kelab Ijazah Tinggi. Disusul kemudian dengan sambutan Prof Madya Sohaimi Abdul Azis sebagai penasehat organisasi mahasiswa. Saya melihat beberapa mahasiswa dari pelbagai negara yang hadir, seperti Arab, Bangladesh, Iran, Thailand dan Indonesia. Di akhir sambutan, Prof Sohaimi mempersilahkan untuk mencicipi hidangan, yang berupa menu ketupat, rendang, ayat, dan beberapa jenis kue lebaran.
Acara makan tidak memerlukan waktu lama, namun kami masih duduk berbincang satu sama lain setelah mengasup hidangan. Segelintir mahasiswa, seperti Mariam dan Mustafa dari Iran serta Jahan dari Bangladesh, mengambil gambar dari pelbagai sudut. Pertama kali acara ini dimulai, saya melihat kecenderungan mahasiswa untuk mengelompok berdasarkan asal negara, namun kemudian karena satu sama lain saling kenal, komunikasi mencair. Malah, saya sendiri mencoba untuk menjadi pendengar dari peserta dengan latar belakang. Memang, saya masih mendengar bahasa Parsi, Arab, Melayu, namun bahasa Inggeris lebih sering didengar karena inilah bahasa satu-satunya yang memungkinkan satu sama lain bertegur sapa.
Ardi, presiden klub, membuka pertemuan ini dengan sambutan singkat tentang tujuan acara ini dan sekaligus pemberitahuan acara perdana untuk Kelab Ijazah Tinggi. Disusul kemudian dengan sambutan Prof Madya Sohaimi Abdul Azis sebagai penasehat organisasi mahasiswa. Saya melihat beberapa mahasiswa dari pelbagai negara yang hadir, seperti Arab, Bangladesh, Iran, Thailand dan Indonesia. Di akhir sambutan, Prof Sohaimi mempersilahkan untuk mencicipi hidangan, yang berupa menu ketupat, rendang, ayat, dan beberapa jenis kue lebaran.
Acara makan tidak memerlukan waktu lama, namun kami masih duduk berbincang satu sama lain setelah mengasup hidangan. Segelintir mahasiswa, seperti Mariam dan Mustafa dari Iran serta Jahan dari Bangladesh, mengambil gambar dari pelbagai sudut. Pertama kali acara ini dimulai, saya melihat kecenderungan mahasiswa untuk mengelompok berdasarkan asal negara, namun kemudian karena satu sama lain saling kenal, komunikasi mencair. Malah, saya sendiri mencoba untuk menjadi pendengar dari peserta dengan latar belakang. Memang, saya masih mendengar bahasa Parsi, Arab, Melayu, namun bahasa Inggeris lebih sering didengar karena inilah bahasa satu-satunya yang memungkinkan satu sama lain bertegur sapa.
Wednesday, October 15, 2008
Membaca Cina dari Karya Penghuninya
Setelah penyelenggaran Olimpiade yang sukses, Cina dipandang sebagai kekuatan besar yang patut diperhitungkan. Meskipuin citra ini sempat ternodai oleh kasus yang hingga hari ini menghantui sebagian masyarakat dunia, susu yang tercemar melamin. Tentu bukan latah, jika saya turut memberikan perhatian terhadap negara berjuluk tirai bambu ini.
Kasus terbaru masuknya batik produksi Cina (Gatra, 25 September 2008) juga memantik rasa penasaran saya mengapa negara raksasa ini mampu membuat barang yang lebih murah dari negara asalnya, Indonesia. Nah, untuk itu saya mencoba menelusuri rasa penasaran ini dengan menekuri buku yang ditulis Wang Hui berjudul China's New Order dengan harapan saya lebih mengenal Cina lebih dekat. Pemikir ini merupakan tokoh utama di dalam wacana yang sering disengketakan di Cina mengenai hubungan antara perubahan yang terjadi di Cina pasca-Mao dan kekuatan kapitalisme global.
Mungkin dari bacaan ini, ada percikan gagasan yang bisa diwujudkan pada keseharian saya dan juga merembesi lingkungan terkecil dan mungkin di ujung sana ada juga segelintir yang mau belajar dari keberhasilan Cina mendorong warganya menghasilkan barang, bukan hanya menikmati untuk keperluan konsumtif belaka.
Kasus terbaru masuknya batik produksi Cina (Gatra, 25 September 2008) juga memantik rasa penasaran saya mengapa negara raksasa ini mampu membuat barang yang lebih murah dari negara asalnya, Indonesia. Nah, untuk itu saya mencoba menelusuri rasa penasaran ini dengan menekuri buku yang ditulis Wang Hui berjudul China's New Order dengan harapan saya lebih mengenal Cina lebih dekat. Pemikir ini merupakan tokoh utama di dalam wacana yang sering disengketakan di Cina mengenai hubungan antara perubahan yang terjadi di Cina pasca-Mao dan kekuatan kapitalisme global.
Mungkin dari bacaan ini, ada percikan gagasan yang bisa diwujudkan pada keseharian saya dan juga merembesi lingkungan terkecil dan mungkin di ujung sana ada juga segelintir yang mau belajar dari keberhasilan Cina mendorong warganya menghasilkan barang, bukan hanya menikmati untuk keperluan konsumtif belaka.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Zip Zap Pop
Saya akan membelikan zip zap pop (made in China) bila kamu mau tarawih. Zumi pun sigap. Di masjid, banyak anak seusianya juga berada di sini...
-
Buku terjemahan saya berjudul Truth and Method yang diterbitkan Pustaka Pelajar dibuat resensinya di http://www.mediaindo.co.id/resensi/deta...
-
Ahmad Sahidah lahir di Sumenep pada 5 April 1973. Ia tumbuh besar di kampung yang masih belum ada aliran listrik dan suka bermain di bawah t...
-
Kami berdua salat di masjid tempat orang dewasa, remaja, dan anak-anak bersembahyang. Di sini, saf pertama bisa diisi oleh jamaah dari sega...