Thursday, January 29, 2009

Tamu Rumah Tuhan

Semalam, jamaah Tabligh mengunjungi surau tempat kami tinggal. Mereka adalah kelompok lain yang tak pernah mengunjungi rumah ibadah berwarna hijau itu. Sesudah Isya', salah seorang dari mereka menyampaikan ceramah tentang pentingnya berjamaah. Dengan meyakinkan, dia mengurai betapa jamaah yang hadir pada malam itu adalah tamu istimewa karena mau menghadiri undangan Tuhan. Ya, azan yang dilaungkan itu adalah undangan Allah terhadap penghuni flat. Tambahnya, betapa banyak penghuni flat, tetapi hanya segelintir yang mau mendengar dan memenuhinya. Namun, dia menegaskan, kita tak perlu merasa telah mendapat jaminan surga. Tak perlu mendabik dada bahwa kehadiran di rumah Tuhan sebagai penanda terbaik.

Selain itu, orang tua itu mengajak jamaah untuk tidak putus asa mengajak warga lain agar merawat surau. Tambahnya, "Kita harus meneladani Nabi Muhammad, yang tak pernah marah jika ditampik masyarakat, malah perlakuan tak senonoh tidak menyebabkan Nabi mundur". Di akhir perjumpaan itu, mereka berjanji akan menyambangi surau kami pada hari Rabu yang akan datang. Saya juga berbunga karena surau itu tak lagi sepi. Lebih dari itu, beberapa anak dan remaja yang tinggal di flat turut meramaikan shalat malam. Zaini, Adam, dan Marzuq adalah anak muda yang diharapkan tak bosan untuk menjadi surau itu rumah kedua mereka.

Sebelumnya, saya juga telah diceritakan tentang sejarah surau yang hanya dinamai Bukit Gambir, nama flat kami. Pak Cik bercerita siapa yang memperbaiki pagar besi yang rusak, siapa yang menyumbang untuk membeli cat agar temboknya terang dan termasuk konflik yang pernah mendera berkaitan dengan pelbagai pemahaman. Untuk yang terakhir, saya tidak akan menambah bensin. Biarlah perbedaan itu disimpan rapi di hati mereka, tak perlu dijaja untuk menunjukkan eksistensi. Perjuangan yang lebih besar adalah bagaimana mengajak sebanyak mungkin penghuni mendatangi rumah Tuhan. Tentu kita tak perlu mengusik seberapa dekat setiap individu dengan Tuhannya karena ini masalah pribadi. Kita hanya ingin mengais kebersamaan agar tumbuh di antara sesama warga blok 330 melalui shalat jamaah.

Wednesday, January 28, 2009

Merawat Generasi

Kemarin kami mengunjungi klinik pemerintah di Bukit Jambul untuk kesekian kalinya. Ini merupakan tanggapan ketaatan kami terhadap petugas kesehatan yang meminta kami untuk datang. Jika sebelumnya, sebulan sekali, sekarang kami harus datang dua minggu sekali untuk mengukur tekanan darah. Sayangnya, hari Selasa kemarin tutup, karena liburan memperingati Tahun Baru Tionghoa. Untungnya, ada seorang petugas piket yang datang sebelum kami beranjak pergi dari pelataran klinik.

Lebih untungnya lagi, sang perawat masih bersedia untuk mengecek tekanan darah dan mencatat perkembangan tubuh sang ibu di buku merah. Bahkan, dalam catatannya, dia menyarankan agar kami ke rumah sakit karena tekanan darah makin menaik. Khawatir terjadi apa-apa dengan si bayi. Kami pun lega karena tidak harus kembali keesokan harinya. Pelayanan semacam ini tentu makin membuat kami nyaman.

Lalu, kami pun pulang dengan riang. Untuk merayakan ini kami menikmati danau kampus dan memberi makan ikan dengan remahan roti. Tak lama kemudian, ada seorang pengunjung yang membawa roti Arab satu kardus. Kami mendekati untuk lebih jauh menikmati tingkah ikan yang berlompatan memamah roti yang telah dirobek kecil-kecik. Oh, ternyata orang itu adalah kawan saya yang tinggal satu flat. Namanya Ahmad, asal Pakistan. Malah, dia menyerahkan roti yang sudah kaduarsa itu untuk kami bagikan kepada ikan-ikan yang tampak lapar itu karena hari masih pagi. Biasanya kalau sore mereka sudah kekenyangan. Duh, benar-benar kesenangan kecil yang membuncah besar karena bisa menikmati binatangan air itu berlompatan riang, seakan-akan menemani keriangan kami. Mungkin, bayi itu juga riang. Semoga!

Monday, January 26, 2009

Mengunjungi Pesantren

Malam Sabtu kemarin, Pak Cik mengajak saya untuk mengunjungi Pesantren. Saya mengiyakan, setelah beliau menanyakan apakah sabtu pagi itu saya tidak ada pekerjaan. Pagi-pagi sekali, sebelum matahari menyembul di balik cakrawala, kami berdua dengan motor Modenas membelah udara pagi yang masih dingin. Perjalanan ini mungkin pertama kali selama saya tinggal di Pulau Pinang.

Sebelumnya saya tidak banyak bertanya tentang tempat yang hendak disambangi. Bagi saya, pesantren bukan sesuatu yang asing. Sebelum memasuki areal pesantren, kami berhenti sejenak di warung untuk minum. Suasana kampung menyergap. Saya betul-betul menikmatinya. Karena sebelum berangkat telah minum kopi, saya hanya memesan teh panas dan mengambil sebungkus nasi yang dibubuhi ikan teri dan telor.

Tak lama kemudian, kami pun berangkat menuju pondok. Sesampai di sana, saya terhenyak sejenak karena begitu banyak orang yang sedang khusyu mengikuti pengajian tafsir Surat al-Kautsar. Sebagian menekuri kitab yang mereka bawa dan yang lain tepekur mendengarkan sang ustaz mengulas surat pendek ini. Kami pun mengambil tempat dan bergabung dengan jamaah di teras masjid. Tidak itu saja, di pekarangan tampak tenda yang dibangun semi permanen juga dipenuhi oleh jamaah.

Setelah hampir satu jam setengah, sang ustaz mengakhiri pengajian. Jamaah pun bubar, sambil menunggu sesi pengajian kedua. Kami pun beranjak, mencoba mengenal lebih dekat pesantren dan saya mencoba membaca asal usul jamaah. Mereka berdatangan dari sekitar Kubang Semang, tempat pesantren itu bertapak, dan mengusung latar belakang yang berbeda. Di tengah istirahat, para jamaah mengunjungi warung makan yang terletak di depan masjid. Malah, tidak hanya makanan yang siap saji yang dijual, keperluan sehari-hari juga digelar. Kegiatan ekonomi dan agama berada dalam satu kawasan dan satu waktu. Sebuah gagasan yang mungkin perlu ditiru.

Wednesday, January 21, 2009

Mengatasi Cemas dengan Riang

Kemarin, kami harus kembali lagi ke Klinik, karena sehari sebelumnya, dokter meminta untuk memeriksa kadar gula. Kekhawatiran diabetes memaksa kami harus pergi lagi ke klinik. Penambahan berat badan 5Kg selama sebulan dianggap berlebihan. Tidak hanya sekali darah isteri saya harus diambil, tetapi sebanyak dua kali dengan selang waktu 2 jam.

Kami sempat bertanya kepada teman dokter lain dan bahkan kawan karib saya yang kebetulan isterinya seorang dokter juga turut berbagi pengetahuan. Tentu, dari sekian informasi, kami menekuri dan menimbang agar tidak lagi abai terhadap pola makan, istirahat dan minum. Malah, pada malam sebelum pengambilan sampel darah, Mak Cik, tetangga sebelah, mengantar lauk ayam pedas untuk makan malam. Sebab, beliau tahu kalau isteri harus puasa sejak jam 10.

Pada malam itu juga, kami juga masih sempat bercengkerama dengan kawan karib, En Zailani dan keponakannya, di sebuah warung depan flat. Meski kecemasan itu masih mengendap, tapi kami mengurainya dengan mencari tahu dan menghabiskan waktu dengan riang. Tawa dan canda waktu itu sedikit banyak mengurangi kegundahan. Bahkan pengalaman menunggu lama di klinik tidak membuat kami tertekan karena keramahan perawat terhadap pasien. Dengan sabar, mereka menerangkan apa yang harus dilakukan dan tentu mengingatkan bahwa suntikan ATT kedua harus diberikan pada hari Jumat yang akan datang. Ya, kami mencatatnya agar tidak lupa.

Monday, January 19, 2009

Konflik Penafsiran seputar Shalat

Semalam, sesudah Isya, tetangga sebelah berkunjung. Tiba-tiba, beliau membuka persoalan perselisihan tata cara shalat. Ya, sebelumnya, di surau, sang imam lupa, pada sujud kedua mengucapkan salam, namun tak sempat melanjutkan salam yang kedua, kembali melanjutkan shalat Isya. Katanya, shalat itu batal. Makmum harus menggantikan posisi imam. Saya dengan khusyu' mendengar uraiannya tentang ikhtilaf (perselisihan) di kalangan imam mazhab.

Namun, hebatnya, bapak tua itu tidak ingin merusak suasana surau dengan mengangkat isu itu ke permukaan. Beliau lebih menjaga kebersamaan, dibandingkan harus menyodorkan pertikaian penafsiran. Meskipun, sempat gundah, dia harus memikirkan betapa rukun shalat yang dilanggar itu sangat fatal. Saya membiarkan bapak baik hati itu terus meluahkan semua yang ada di benaknya tentang hukum ibadah. Saya hanya mengangguk dan sekali-kali menimpali.

Lebih dari itu, kesempatan malam itu menyegarkan kembali bacaan saya tentang fiqh ibadah yang telah tertimbun banyak teori dan remeh temeh yang lain. Saya hanya menegaskan pandangannya bahwa jangan sampai surau yang hanya dihadiri segelintir itu bubrah gara-gara perbedaan.

Sunday, January 18, 2009

Kemarau Mengeringkan Rumput

Sore itu, kami berniat pergi ke kampus dan sekalian memberi makan remah roti ikan yang berdiam di danau kampus. Sebuah kegiatan ringan yang mendatangkan riang. Dengan hanya selembar roti, saya bisa menikmati pelbagai jenis ikan berlompatan merebut makanan. Di sebelah, sebuah keluarga mahasiswa Arab dengan dua anaknya melakukan hal yang sama.

Air danau itu mulai berkurang karena hujan tak kunjung datang. Rerumputan di sekitarnya juga mengering, untungnya pepohonan tidak turut meranggas sehingga sisa warna segar dapat dinikmati. Meskipun, saya memerhatikan beberapa daunnya telah menguning kekurangan minum. Saya membayangkan semua itu akan berubah, jika hujan datang. Penantian yang sederhana tentang keriangan.

Di kampus, saya mengerjakan kembali transkripsi pidato rektor (naib canselor) USM untuk bahan penulisan biografi. Di sana, saya juga bertemu dengan kawan baik, Shakti, Musthafa, dan Stenly. Namun, beberapa menit kemudian, saya harus berhenti karena Maghrib hampir tiba. Ada kerinduan untuk pulang, segera bertemu dengan jamaah surat flat. Ya, ketika matahari terbenam, kita mesti pulang, karena warnah merah jingga langit itu menandakan malam.

Friday, January 16, 2009

Mencari Ide bersama Pak Cik

Semalam, saya berkesempatan lagi berbincang dengan Pak Cik, tetangga rumah. Meskipun tidak ada tema khusus, kami mengasyiki pelbagai cerita dan tidak jarang sebuah gagasan, seperti dunia tasawuf, prilaku manusia secara umum, dan remeh temeh yang lain. Semuanya mengalir bersama waktu. Dengan susunan kalimat yang tertata, orang tua yang banyak memberi pengalamannya pada saya menyodorkan pertanyaan dan juga memberikan jawaban dari apa yang saya inginkan.

Lalu, tiba-tiba perbincangan menyusup pada suasana flat tempat kami tinggal. Mengapa penghuninya tidak begitu antusias mengunjungi surau yang selalu memperdengarkan azan? Jawaban yang sempat terlontar karena mereka sibuk. Namun, kritik Pak Cik yang lain bahwa kehadiran jamaah di musolla itu berjalan seperti dulu, datang-pergi, tidak ada jeda bagi jamaah untuk berbagi. Setelah ditelusuri, kemungkinan perbedaan latar belakang yang menghalangi para jamaah duduk sejenak di musolla untuk bertukar sapa. Padahal, kesempatan seperti ini justeru merupakan peluang bagi mereka keluar dari rutinitas kerja dan menemui manusia, bukan mesin saja. Atau, televisi telah merampas waktu mereka di sela-sela?

Tentu, kehadiran jamaahTabligh kadang mendorong sebuah komunikasi, meskipun bersifat satu arah. Namun, ia telah menghidupkan surau kami yang kian lama tidak mampu membuat penghuni di sekitarnya untuk turut meramaikan agar ia tidak menggigil kedinginan. Kehangatan rumah ibadah itu lahir bersama banyaknya orang yang bermastautin di atasnya saling menyapa menjelang shalat berjamaah. Namun keinginan ini tidak kunjung menjadi kenyataan. Padahal, dalam setiap kesempatan saya bersua dengan pengguna lift, banyak keluarga Muslim yang tinggal di rumah susun ini.

Merenung Keseharian

Dengan membaca kembali buku Falsafah Harian ini, saya dapat menimbang saran teman-teman yang telah membahas tulisan, seperti apakah pijakan ...