Saturday, June 27, 2009
Menikmati Milik Sendiri
Kalau saya hanya menunjukkan gambar di atas begitu saja, pasti Anda tak bisa menggambarkan seutuhnya peristiwa yang ada di balik sepotong jepretan kamera. Demikian pula, sekuat apa pun saya menerakan latar dari gambar ini, ada kehilangan momen, karena saya menulisnya satu hari setelah peristiwa tersebut. Pasti ada banyak 'tafsir' yang telah bercampur aduk dengan suasana hati ketika goresan ini diterakan.
Belum lagi, ada banyak benda yang ada di selembar kertas itu yang tak sempat ditangkap kamera secara utuh, seperti buku yang ada di meja. Sebagai makluman, buku itu adalah karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi (Yogyakarta: Bentang, 2008). Demikian pula, dua minuman yang tergelak di atas meja yang mungkin susah untuk disebut jenisnya karena warna yang tak begitu jelas. Sekali lagi saya katakan bahwa dua minuman itu adalah kopi yang dicampur hazelnut, yang satu kopi putih dan satunya lagi dicampur coklat.
Lalu, botol kosong itu adalah tempat susu kaleng yang telah habis diteguk si kecil. Tentu para perawat di rumah sakit tempat kami sering memeriksakan si kecil akan marah besar karena belum waktunya si kecil diasup dengan susu pabrikan. Tapi, apa boleh buat, kami sedang berada di ruang publik. Lalu, warung kopi itu akan menjadi tanda tanya besar yang lain. Ia adalah warung yang terletak di dekat rumah dan merupakan perusahan lokal, bukan asing, seperti Starbucks atau Coffee Bean. Jadi, saya betul-betul menikmati tegukan dan suasanya karena merasa inilah yang harus kita lakukan untuk keluar dari rasa tidak percaya diri kepada milik kita sendiri. Anda setuju?
Manohara, Perspektif Malaysia
Sumber: Suara Merdeka, 16 Juni 2009
Palace says it is a private affair (New Straits Times, 3 Juni 2009)
KUTIPAN itu adalah jawaban istana terhadap hiruk-pikuk drama pelarian Manohara dari ”kekangan” Istana Kelantan. Kalangan istana melihat persoalan rumah tangga Manohara dan Tengku Temenggong Muhammad Fakhry Petra tidak seharusnya diusung ke khalayak.
Namun media massa Indonesia telah mengumbar kasus ini hingga yang terkecil, berbeda dari media Malaysia yang sangat berhati-hati mengulas isu ini karena menyangkut kerabat istana, institusi yang menempati posisi tertinggi dalam hierarki masyarakat. Bagaimanapun, kedudukan raja menempati posisi nomor dua setelah Tuhan dalam dasar Kebangsaan Malaysia. Malah lagu kebangsaannya pun memberi tempat istimewa kepada raja.
Kalau sang putri bukan dari Indonesia, mungkin persoalan ini tidak memaksa media Malaysia turut memuat berita heboh ini. Pemberitaan yang sangat gencar di Tanah Air telah membuka ”dalaman” Istana yang selama ini cenderung tidak dipublikasikan menempatkan media Malaysia pada posisi sulit. Apalagi, kasus ini telah melibatkan wakil pemerintah Indonesia dan wakil istana sejak awal. Meskipun demikian, media Malaysia, seperti The Sun, hanya sebatas mengulas kasus ini telah mendapatkan perhatian 10 televisi swasta, tanpa mencoba menekankan sensasi berkaitan dengan pelecehan fisik dan seksual yang menimpa Manohara.
Tak Tersentuh
Sebagai istri dari salah seorang kerabat istana, gelar Cik Puan untuk Manohara adalah sebuah jaminan kehidupannya akan bergelimang popularitas dan harta. Pesawat jet pribadi sang pangeran akan mengantarkan sang putri ke mana dia melanglang buana. Namun cerita indah itu tidak menjadi kenyataan. Sang putri menderita lahir dan batin karena ”mengaku” kepada media telah didera oleh Pangeran.
Tidak tanggung-tanggung, mantan model ini sesumbar mempunyai bukti rekaman dalam telepon genggam dan disimpan dalam compact disk sebagai back up. Sebaliknya, media Malaysia tidak memberikan ruang yang luas untuk bersuara bagi sang putri. Malah koran The New Straits Times (5/5/09) mencoba mengalihkan isu dengan membuat judul besar “Ibu Manohara masuk dalam daftar Interpol” (Manohara’s mum on Interpol arrest list).
Namun jauh berbeda dari media alternatif, seperti di blog aktivis terkemuka Hishamuddin Rais. Dengan nada kelakar, penulis terkenal Malaysia ini mengolok-olok Manohara yang dianggap bertindak durhaka dan tidak tahu diri karena lawannya adalah seorang ”untouchable” dan bahkan bisa mengutuknya menjadi batu akik.
Tentu, pernyataan ini bisa ditafsirkan sebagai kritik rakyat kepada istana secara halus yang selama ini tak pernah digugat oleh kawula. Hal ihwal istana yang coba ditutup rapi telah menjadi sorotan publik, sesuatu yang terlarang sebelumnya. Sosok anggota keluarga istana yang karismatik telah menjadi bahan olok-olok.
Celakanya lagi, drama ini telah mengungkit sesuatu yang tabu di negeri jiran. Pernyataan seorang VJ MTV Daniel Mananta (Detik, 5/5/09) bahwa sang putra mahkota itu adalah pedofil tentu makin memburukkan citra ”Kerajaan” Kelantan di publik Malaysia dan bisa memancing kemarahan rakyat Malaysia.
Agaknya komentar ngawur semacam ini tidak akan dikutip oleh media di sana, namun adalah tidak mustahil pernyataan keras tentang perilaku anggota keluarga Raja menjadi konsumsi media alternatif. Lagi-lagi, persoalan ini akan menempatkan Istana pada citra yang tak lagi keramat, setelah sebelumnya Istana Negara Bagian Perak dikritik keras oleh sebagian rakyat karena dianggap tidak adil dalam menyelesaikan perebutan kekuasaan antara koalisi Barisan Nasional dan Pakatan Rakyat.
Beberapa demonstran sanggup merebahkan badan untuk menghalang mobil yang membawa Putra Mahkota Perak, Raja Nazrin. Adalah tidak aneh jika adagium raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah berhamburan keluar dari mulut orang ramai.
Mengelak Sensasi
Sebenarnya cerita ini melengkapi kasus hubungan dua negara yang lebih seram, Ambalat. Jika dalam kasus terakhir melibatkan dua kuasa mengenai perbatasan, yang pertama berkait dengan perseteruan budaya. Bagaimanapun harus diakui Manohara adalah wakil dari budaya ”keterbukaan” dan Fakhri dibatasi oleh banyak aturan protokol istana.
Karena itu, masyarakat luas hanya mendengar pernyataan dari teman dekat Fakhri mengenai sikap istana. Apalagi, pihak kesultanan di sana cenderung menggunakan juru bicara dan lebih menyukai menggunakan kata-kata bersayap. Acara infotainment TV Malaysia juga tidak akan mengambil risiko untuk menyiarkan kasus ini secara gamblang, sebagaimana di Indonesia. Dengan demikian, publik Malaysia akan melihat kasus ini sebagai pertikaian rumah tangga biasa, tidak lebih.
Nyata, kejadian ini membuka mata hati kita bahwa kata serumpun tidak lagi ampuh untuk membuat kedua warga negara ini menjadi dekat. Padahal, kasus kekerasan suami terhadap istri semacam ini acapkali terjadi di masing-masing negara, namun tidak kemudian menyeret isu yang lebih besar bahwa Malaysia cenderung mengasari Indonesia.
Kesan ini tampaknya telah terpatri pada kebanyakan benak warga Indonesia bahwa apa pun yang berkait dengan hubungan keduanya selalu berakhir buruk. Untuk itu, biarlah Manohara menyelesaikan kasus pribadinya secara hukum.
Seyogyanya seteru Istana Kelantan ini tidak perlu menjadikan persoalan pribadinya sebagai panggung untuk menarik simpati dan menimbulkan hujatan masyarakat di sini terhadap kehidupan istana Malaysia. Bagaimanapun, media mempunyai peran untuk menjernihkan masalah ini agar hubungan baik antara dua negara tidak semakin kisruh setelah Ambalat menyeruak ke permukaan.
Lebih jauh, sejatinya kasus ini tidak perlu menjadi drama panjang di layar kaca dan media cetak, seandainya Manohara membawa kasus kekerasan rumah tangga ini ke pengadilan. Di Malaysia, suami yang melakukan kesalahan tindakan kekerasan menurut seksyen 127 Akta Undang-Undang Keluarga Islam (Wilayah Federal) 1984 bisa dihukum denda tidak lebih RM 1000 (sekitar 3 jutaan) dan penjara 6 bulan atau keduanya sekaligus.
Selain akta ini, Akta Kekerasan (Keganasan) Rumah Tangga 1994 menegaskan bahwa seorang suami yang telah memukul istrinya sehingga cedera fisik atau seksual, memungkinkan sang istri bisa meminta perlindungan pengadilan dan suaminya bisa dihukum jika terbukti bersalah. Selain itu, sebenarnya banyak lembaga swadaya masyarakat yang siap membantu memberikan pembelaan terhadap kasus seperti ini, seperti Sisters in Islam dan Tenaganita. Lalu, apa yang kau cari, Manohara?
Perempuan blasteran Bugis-Prancis ini sedang mencari keadilan. Di Malaysia, dia merasa tak bisa berbuat banyak karena kekuasaan sultan yang tak bisa disentuh. Pengakuannya yang direkam dan tersebar telah memengaruhi pandangan publik bahwa perselisihan ini mengandaikan David dan Goliath.
Sekarang, kasusnya sedang bergulir menuju pengadilan. Keduanya telah mempunyai pasukan pengacara untuk mencari kebenaran. Media Malaysia telah menempatkan diri sebagai corong suara dari sang Pangeran. Portal Berita Malaysia Kini mencoba untuk berlaku adil, sama-sama memuat berita dari kedua belah pihak. Jika demikian, kita tunggu saja dewi keadilan menjawab semua carut marut ini.
—Ahmad Sahidah, Peneliti dan Doktor Departemen Filsafat dan Peradaban Universitas Sains Malaysia
Friday, June 26, 2009
Buah Tangan dari Teman Karib
Saya menyukai kudapan ini. Oleh-oleh yang dibawakan teman dari Bandung sempat juga didinginkan dan ternyata enaknya bertambah-tambah. Untuk memperlama kenikmatan, saya mengasupnya satu biji setiap hari. Kata sang filsuf yang sempat mampir di benak, kenikmatan itu adalah kemampuan menahan diri. Ya, saya belajar untuk tak mengumbar mengasup makanan sekali asup. Ada semacam upacara yang perlu mendahului, pagi-pagi sekali saya telah menyangga perut ini dengan kudapan ini, lalu minum kopi panas.
Saya membiasakan mengisi perut dengan makanan sebelum kopi menghajar lambung. Jika tidak, lambung merasa perih. Hebatnya lagi, pencernaan lancar dengan minuman yang terakhir ini. Meski, kadang tebersit, bahwa saya tak perlu meminumnya tiap hari karena tak baik bagi kesehatan jantung. Kadang, pagi hari, saya hanya minum teh-jahe untuk menghangatkan badan.
Oh ya, kawan baik itu tak hanya memberi kami Legieta di atas, tetapi juga memberikan bumbu pecel, yang terdiri dari bahan utama kacang yang ditelah ditumbuk. Meski akhirnya diolah tanpa rempeyek, saya menikmati makanan ini dengan krupuk dan tempe goreng. Tanpa mengabaikan menu yang lain, saya sangat menikmati hidangan seperti ini. Bahkan, setiap hari saya bisa melakukannya tanpa merasa bosan. Ya, kadang saya belajar melawan jemu dengan melakukan hal yang sama setiap hari, termasuk makan. Kadang gagal, tetapi saya menjalaninya.
Thursday, June 25, 2009
Mewujudkan Ide Itu Mendebarkan
Gambar ini diambil dinihari di sela-sela menemani celotehan si kecil. Meski sederhana, ia menyimpan banyak cerita panjang. Sebuah ikhtiar untuk memakmurkan surau tempat saya tinggal berjalan sesuai rencana, yaitu pertemuan kedua akan diadakan pada hari Jumat, 26 Juni 2009. Salah satu agendanya adalah mewujudkan pengajaran al-Qur'an untuk anak-anak flat. Sebelumnya, kami telah berbincang dan mencoba mencari cara agar program ini berhasil.
Terlintas di benak, pada sore hari, pengeras suara memperdengarkan lagu-lagu rohani untuk anak-anak, seperti di kampung dulu. Belum lagi, riuh-rendah dan tingkah laku mereka yang membuat senang siapa pun yang melihatnya akan menambah keceriaan menjelang senja. Ya, mereka harus mempunyai tempat untuk belajar dengan riang dan surau adalah ruang mereka mewujudkan tempat 'bermain' sambil belajar, atau sebaliknya. Pembelajaran ini diarahkan pada pengembangan kognitif dan psikomotorik mereka, sehingga proses belajar tak membosankan. Kira-kira begitu.
Sekilas, anak-anak yang tingal di flat mungkin mencapai 30, sebuah angka yang cukup besar untuk memenuhi surau itu. Tentu, dari angka sebesar itu tidak bisa diharapkan untuk mengikuti program ini karena sebagian telah mengikuti kelas al-Qur'an (yang disana disebut KAFA, Kelas Fardhu Ain). Namun, jauh dari itu, kegiatan ini diharapkan juga untuk meramaikan jamaah shalat, terutama maghrib agar surau bertambah meriah, tak sepi disergap malam.
Tuesday, June 23, 2009
Menemukan Semangat pada Pahlawan
Meski gambar tak begitu terang, ia sangat berharga. Kehadiran saya pada hari Kebangkitan bersama warga Indonesia di negeri jiran memantik kenangan. Merayakan hari besar yang dulu disambut dengan riang di kampung, kini hadir kembali. Pada masa itu, kami bisa menonton banyak hiburan dan memanjakan diri dengan merasakan aneka kudapan. Sekali waktu, ada film gratis yang ditonton beramai-ramai di tengah tanah lapang.
Sekarang, hiburan itu adalah melihat tingkah polah pekerja menyambut penyanyi melantunkan lagu. Mereka menemukan oase setelah lelah dibekap rutinitas. Sayangnya, lomba karaoke terbatas pada lagu pop. Mereka tampak kurang antusias. Dangdut tetap pilihan utama. Meskipun demikian, acara berlangsung meriah. Semua larut dalam lagu. Gundah sirna seketika, terpancar dari raut wajah mereka.
Di selang-seling ada petuah dan ceramah. Saya mengisi sebagian mengajak mereka untuk menyelami semangat kebangkitan 100 tahun yang lalu. Bukan dengan berteriak merdeka, tapi dengan tindakan nyata, mencintai produk negeri sendiri. Saya juga mengutip Tunku Abdurrahman, Perdana Menteri 1 Malaysia, yang mencanangkan program serupa tahun 1970-an. Kedua negara seharusnya saling mengisi untuk mendorong satu sama lain membeli barang buatan sendiri, sebagai tanda kepercayaan pada kemampuan diri sendiri. Jika tidak, kita telah menggadaikan marwah kita.
Mengejar 'Laskar Pelangi'
Setelah rapat panitia "Laskar Pelangi", kami bertiga langsung bekerja, meski senja telah turun. Persiapan yang sedang dibuat adalah pembuatan desain spanduk oleh Mas Hilal, dan surat permohonan pembicara lokal oleh Pak Ardi. Sedang saya mengirim email ke bagian pemasaran Celcom untuk turut mendukung program Persatuan Pelajar Indonesia Universitas Sains Malaysia menghadirkan Andrea Hirata. Sang penulis Edensor ini diminta untuk mengupas proses kreatifnya melahirkan tetralogi Laskar Pelangi.
Kebersamaan mengerjakan kegiatan ini mendatangkan kedekatan lain, yang sebelumnya pertemanan ini tidak disatukan dalam sebuah kerja kelompok. Mereka berdua mengajarkan saya bagaimana menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk, tanpa kening berkerut. Keduanya tenang, mengalir dan menentramkan siapa pun yang berada di dekatnya. Sekali-kali, dalam keheningan, celetukan masing-masing memusnahkan kejenuhan.
Perjalanan masih panjang untuk sampai ke hari pelaksanaan, namun mengingat pekerjaan yang bejibun, peran serta mahasiswa Indonesia yang lain menjadi berarti. Tentu, di lain waktu, saya akan bercerita tentang mereka. Seperti, Adit, pemilik restoran D'Resto, Bukit Gambir, yang tanpa berpikir panjang bersedia untuk turut menyukseskan acara ini, padahal saya memintanya melalui ruang komentar Facebook. Demikian pula, Vega Aulia, yang mengiyakan untuk membantu kegiatan ini meski disampaikan dalam sebuah percakapan di Yahoo Messenger, semalam. Dalam coretan lain, saya akan menempelkan foto mereka berdua.
Tak hanya itu, Dede, menelepon saya semalam untuk membantu kepanitiaan dan lebih dari itu juga menyumbang banyak gagasan, di antaranya acara ini diharapkan juga melibatkan pekerja pabrik dari Indonesia. Katanya, mereka juga banyak yang menyukai novel dan film Laskar Pelangi. Sekelumit tentang mereka ini sebenarnya menyimpan cerita panjang. Mungkin, di tangan Andrea Hirata, ia menjadi sebuah novel yang juga cemerlang. Semoga.
Saturday, June 20, 2009
Menengok Kampus Favorit
Tak hanya itu, di meja tempat kami duduk melingkar tersedia jenis makanan kampung dan sebungkus nasi lemak yang dibungkus daun. Pada masa yang sama, gambar-gambar lukisan Ian juga dipamerkan di tembok ruang diskusi sehingga suasana mencerminkan keadaan kampung, rumah sederhana, hutan belukar, binatang berkeliaran dan keakraban anggota masyarakat. Karya ini seakan-akan mengolok-olok 'kekotaan' yang ternyata menyuguhkan kemewahan namun berjarak, hutan 'beton', burung tak lagi nyaman, dan warganya yang acuh tak acuh.
Sekali waktu, saya juga menghadiri pameran lukisan abstrak yang menyebabkan saya kelu, tak mampu memberikan apresiasi. Ia hadir seperti kerumunan yang riuh, tak tahu apa yang diinginkan. Kadang ada diterakan judul yang menjelaskan gambar, namun saya tetap dalam kebingungan. Lalu, untuk tak berlama-lama dalam kerisauan, saya menghadirkan rasa pada rupa. Aha, di situ ada harmoni yang tak terungkap melalui sebaris kalimat, bahkan meski diterangkan dalam sekujur buku. Ayo, hadirkan rasa, agar logika tak menderas hingga lemas.
Zip Zap Pop
Saya akan membelikan zip zap pop (made in China) bila kamu mau tarawih. Zumi pun sigap. Di masjid, banyak anak seusianya juga berada di sini...
-
Buku terjemahan saya berjudul Truth and Method yang diterbitkan Pustaka Pelajar dibuat resensinya di http://www.mediaindo.co.id/resensi/deta...
-
Ahmad Sahidah lahir di Sumenep pada 5 April 1973. Ia tumbuh besar di kampung yang masih belum ada aliran listrik dan suka bermain di bawah t...
-
Kami berdua salat di masjid tempat orang dewasa, remaja, dan anak-anak bersembahyang. Di sini, saf pertama bisa diisi oleh jamaah dari sega...
