Saturday, December 03, 2022

Jum'atan

Sebelum khotbah, bilal mengingatkan bahwa berbicara dilarang di waktu khatib berceramah. Tema kali ini tentang keutamaan mengikuti sunnah nabi.
Banyak ayah mengajak anak-anaknya ke masjid. Saya berfoto sebelum bilal berdiri di depan mimbar. Setelah itu, saya melihat jemaah tampak khusyuk dan tepekur.
Di sebelah, seorang petani yang membawa tasbih. Ia tampak segar dan memakai baju bersih sebagaimana hadirin yang lain.
Inilah waktu dan ruang tempat anak-anak belajar mendengar dan mencerap pengetahuan.
Di era digital, pesan tetap bermula dari kata. Di sini, kepekaan linguistik menjadi pintu untuk membuka masa lalu. Apa hakikatnya sunnah? Prilaku ini berpijak pada budi pekerti. Pendek kata, salat dan nasehat dalam ceramah itu hendak mengukuhkan akhlak seseorang.

Friday, December 02, 2022

Simalakama Anwar Ibrahim

Ketika mengungah koran ini, saya mendengar radio Sinar FM yang memberitakan pidato pertama Anwar Ibrahim di Puterajaya agar pengurusan negara tidak mempraktikkan kronisme. Tentu, ini menjadi tantangan mengingat pembentukan kabinet akan segera diumumkan.
Setelah itu, lagu Inka Christie berjudul Rela "dikeudarakan". Struktur linguistik nyanyian khas jiran. Setetes dilafalkan setitis. Apa pun, politik itu seni.

Kini, Anwar diuji oleh kemenangan, seperti diktakan oleh sang anak tak lama seusia sang ayah ditetapkan sebagai PM yang ke-10. Ujiannya adalah menentukan anggota kabinet yang mencerminkan gabungan koalisi, tetapi tetapi mempertahankan integritas dan kapabilitas. Tanpa ini, janji Reformasi telah dikebiri sejak awal.
Sumber: KR (29/11/22)

 

Kedamaian

Mengapa dengan kelimpahan alat dan fasilitas, banyak orang tidak menemukan kedamaian? Mengapa begitu banyak orang sebentar-bentar membuka telepon genggam seakan-akan mendapatkan sesuatu yang penting dan genting dalam hitungan hanya detik?
Sebab orang ramai tak melihat semua itu sejatinya mewakili sesuatu (things). Dalam hubungan triadik Oxford Happiness Questionaire, 29 pertanyaan berkisah soal hubungan aku (I), kamu (you) dan benda (things). Dengan memeriksa setiap pertanyaan, saya melihatnya bahwa otonomi aku begitu besar dalam menciptakan makna dari apa yang dilihat sebagai nyata. Pandangan kita tentang diri sendiri dan orang lain menentukan cara kita menjalani hidup. Lagi-lagi, ini terkait dengan pikiran, perasaan, dan prasangka. Dengan keluar dari penjara sangkaan pada liyan, kita bisa membangun hubungan yang otentik dengan orang yang berbeda dengan kita. Tanpa ini, kita hanya merayakan egoisme.
Selagi kita tak selesai memahami diri dan liyan, benda akan mengontrol keakuan dan kekamuan. Di sinilah, sumber kerisauan itu.Silakan simak di sini: https://kabarmadura.id/kedamaian

 

PPP


 Dengan membeli kaus berkerah ini, kita bisa mundukung UMKM dan partai. Biaya politik itu mesti ditanggung oleh warga, bukan pemodal, biar kekuasaan tidak sial. Meskipun tidak mudah, setiap simpatisan harus membeli sendiri pakaian berlogo partai agar hutang budi tidak dibawa mati. Kita pun tahu bahwa ada sebagian orang yang menggunakan banyak kaus yang berbeda.

Partai itu mengurus kesejahteraan rakyat tanpa membedakan latar belakang, bukan agama, karena di tempat kami, masjid direnovasi total dari swadaya dan gotong royong warga. Demikian pula, partai mendorong wakil rakyatnya untuk melukuskan undang-undang yang berpihak pada rakyat, bukan segelintir orang, seperti omnibus law.
Kami berdoa, mengaji, dan merayakan hari besar keagamaan di musala dan masjid tanpa perlu mengesahkan dengan stempel politik. Pendek kata, pemisahan ini dimaksudkan agar nilai dan etika agama yang merembesi praktik politik.

Tuesday, November 29, 2022

Hidup yang Tenteram

Filsafat semestinya kembali pada persoalan abadi di awal kemunculannya, yakni bagaimana hidup tenteram (good life) bisa dicapai. Setelah menjalani pengalaman panjang belajar ilmu Yunani sejak S1(UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) hingga S3 (Universiti Sains Malaysia (USM), hakikatnya kehidupan mesti berpijak pada masa, suasana, dan dengan siapa kita berbagi dalam sehari-hari.
Phronimos adalah hidup yang asli karena diri bersama liyan, meskipun kita akan memilih orang lain yang boleh diajak untuk membangun komunitas yang ideal. Pendek kata, kita tidak bisa menjadi Diogenes untuk bersikap egois dengan kepercayaannya tentang kesederhanaan. Apakah utopia? Kenyataannya, keterlibatan warga dalam satuan terkecil, Rukun Tetangga, tidak sepenuhnya, karena masing-masing memiliki preferensi dalam banyak hal.

Bahkan dalam kelompok yang monolitik, kita tidak mudah memobilisasi warga untuk berjemaah subuh. Meskipun demikian, ada kegiatan lain yang menyebabkan mereka bergotong royong untuk menyukseskannya, seperti perayaan Maulid Nabi. Masing-masing membawa makanan untuk bertukar setelah kegiatan. Salah satu dari mereka membuat pohon uang, yang daunnya Rp 2000 akan diberikan pada anak-anak yang hadir agar mereka memiliki kenangan yang indah tentang kelahiran panutan. Di sini, kita sejatinya merayakan nilai.
 

Monday, November 28, 2022

Perempuan dan Kebahagiaan


 Saya membeli buku ini dengan The Happiness of Pursuit oleh Chris Guillebeau sebagai bahan tambahan Sains Pemikiran dan Etika Universitas Utara Malaysia dulu. Keduanya dibeli di toko Popular Mal Central, Kedah.

Dua karya ini mengisahkan tujuan etika, kebahagiaan, melalui cerita. Lalu, mengapa Biyya akhir-akhir memilih Gretchen Rubin? Mungkin, perempuan berbicara kesenangan secara berbeda dibandingkan laki-laki.
Apa pun, saya berharap buku ini tak akan mengalami nasib sama dengan Kamus Oxford dan novel Geiman, sampul rusak dan kucel. Saya menyarankan penyuka Harry Potter itu menyusun bulan-bulan proyek kebahagiannya pada tahun 2023.

Sunday, November 27, 2022

Cebong dan Kampret

Banyak kata dibebani oleh rekaan sendiri, kata Eka Kurniawan. Tak hanya di sini, di negara jiran, erti lema juga ditekuk sedemikian rupa agar sejalan dengan pilihan politik.

Padahal, kenyataan tidak sesempit sangkaan. Sebagai anak yang mewarisi emosi Masyumi, saya kagum dengan Risma, mantan wali kota Surabaya, karena berhasil mengubah wajah kota. Betapa senang saya bersalat Iduladha di depan Taman Bungkul bersama keluarga.

Andai PPP nanti memilih Ganjar, saya tetap sokong Anies. Di Bawah Lindungan Ka'bah sekalipun, pilihan calon kami bisa berbeda. Tentu, dengan cemas, saya menunggu isyarat Bang Haji sebagai pengasuh Perguruan Islam Rhoma Irama (PIRI).

Kalau Anies, RK, dan Ganjar bisa duduk semeja, mengapa kita harus bersikap seperti Eko Kuntadhi dkk? Ruang gema (Echo Chamber) perlu didobrak agar media sosial kita tidak menjadi kamar orang-orang yang menyuarakan berita pelintiran hanya karena ia mendukung calon yang dielusnya, dan mencela kandidat yang tidak disukaianya. 
 

Perpustakaan

Khoiruman adalah lulusan Pendidikan Matematika Universitas Nurul Jadid. Ia bisa menghitung persentase tanpa harus memakai kalkulator ketika ...