Saturday, December 06, 2025

Sepeda dan Ketulusan

 

Tukang bengkel ini baik. Berapa? Rp 30 ribu. Lalu, ia memperbaikinya. Lo, ini kan ganti ban di sini, Pak? Ya, sebelumnya, kami pernah mengganti tayar, sebutan jiran untuk tire, depan dan belakang.

Saya akan selalu datang pada orang-orang yang tulus. Darinya, saya belajar. Ia pun tak minta biaya tambahan kala saya minta sayap depan dan belakang dipasang. Kami akan datang kembali, bukan soal biaya, tetapi makna.
Justru, kita lihat kebaikan itu pada orang yang tak berdiri di atas podium. Ia irit kata, tetapi memancarkan makna dari raut dan sinaran wajah.

Perjuangan Guru di Perkebunan

 

Nasrullah Ali Fauzi. Lahir di Betawi, 13 Maret 1967. Saat ini menjabat sebagai Koordinator Penghubung (KP) Community Learning Center (CLC) Wilayah Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia sejak tahun 2019. Sebelumnya memegang peranan yang sama di Wilayah Sarawak (2016–2019). Pernah menjadi Pembantu Utama Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur pada 2008–2015.

Ini riwayat hidup kawan baik yang akan segera mengakhiri khidmatnya di sekolah untuk anak pekerja migran. Sebelum bertolak dari hutan di negara tetangga, mantan anggota redaksi Ulumul Qur'an ini telah mengumpulkan catatannya untuk buku kedua. Membaca coretannya, saya membayangkan ada banyak orang yang telah bekerja dengan seluruh untuk kemajuan bangsanya, yang tidak didendangkan di panggung gemerlang perayaan negeri.

Bagi saya, Mas Nasrullah Ali Fauzi adalah pahlawan. Fotonya seeloknya ditempel di dinding sekolah-sekolah kita.

Friday, December 05, 2025

Menunggu di Aula


Saya menunggu bedah buku Mas Kiai M Faizi bertajuk Satu Bumi Dirusak Bersama. Saya tahu acara akan berjalan tak sesuai jadwal, karena ada banyak rintangan di sepanjang lorong.
Saya sudah membawa Image, Music, Textnya Roland Barthes. Saya pun baru tahu bahwa Shawn Mendes itu penyanyi tersohor asal Canada setelah bertanya pada panitia. Menanti itu mengasyikkan apabila kita tahu cara mengisinya. Di tengah penantian, saya sering ngobrol dengan orang lain yang saya belum kenal.
Acara ini melibatkan Badan Eksektutif Mahasiswa se-Probolinggo dan siswa SMA sekitar Paiton dan Kraksaan. Saya suka bila generasi muda, tak seperti pendahulunya, lebih peduli pada lingkungan. Kita berharap mereka akan menjaga hutan, laut, dan udara kita dari sampah dan polusi.

Tuesday, December 02, 2025

Etika

 

Etika dijelaskan pada halaman 85. Pada prinsipnya, setiap agama menegaskan hal serupa, jangan mengganggu dan menyakiti orang lain. 

Apa Anda terganggu dengan asap yang dibakar di pinggir jalan raya? Lalu, bagaimana dengan asap kendaraan dan rokok? Itulah mengapa aturan bersama itu tak melulu soal aturan tertulis, tetapi yang juga didasarkan pada rasa nyaman khalayak. 

Soundhoreg dan soundsystem mungkin juga perlu ditimbang tempat dan waktunya. Pendek kata, tidak semua orang suka dengan apa yang kita nikmati. Filsafat itu cara hidup bersama, dan pilihan pribadi atas dasar tertentu juga bisa hidup selagi tak merampas kepentingan umum. 

Itulah, mengapa saya suka Singapura. Perayaan Thaipusan patuh pada aturan lalulintas. Masjid tak menggunakan pelantang luar. Menariknya, masjid Bencoolen ramai dengan jemaah di kala.subuh. Di sini, corong agama bising, tetapi saf di musala atau surau hanya sebaris dua baris di kala subuh. Namun, wujud religiositas itu beruapa budi pekerti. Sepertinya, angka 97% bangsa  ini religius, seperti yang ditunjukkan survei, perlu dikoreksi.

Ritual

Kala hendak memulakan membaca dengan membuka sampul plastik, sirene ambulance menguing-nguing. Di pagi buta, saya sering mendengarnya. Apa ada kesakitan? Kematian? 

Kita hidup dengan tanda. Lalu, bagaimana membacanya agar dapat meraih pesan. Buku ini menolong kita bagaimana menguak makna. 

Di luar kisah bahasa, karya linguis ini dibeli di stan pameran buku BEM Universitas Nurul Jadid - UNUJA. Mereka akan menggelar bedah buku Mas Kiai M Faizi pada Kamis yang akan datang, 4 Desember. Sempena kegiatan ini, mahasiswa menjual buku, bukan kayu (hutan).

Basikal


Stang sepeda ini goyah, tak nyaman dipakai. Kemarin, kami memperbaikinya di bengkel Paiton, depan kedai Basmalah. 

Mekanik hanya perlu sekian menit untuk memperbaikinya, termasuk memasang penutup roda agar tak kecipratan. Betapa senang Zumi. Bersama Rafan, ia pergi ke musala dengan mengayuh pedal. 

Filsafat memang tak diajar untuk membongkar basikal ini, tetapi ia mengajak kita untuk berpikir dengan bantuan roda perjalanan ini memang kebih ringan. Tetapi, mengapa kehidupan masih terasa berat? Kata Nietzche, karena kita tahu alasan untuk tetap bernapas. 

Berdiri di atas nilai sendiri adalah cara kita untuk menjalani keseharian. Merangkul nasib dng seluruh, kita jadi pribadi yang utuh. Seeloknya, pendidikan kita mendorong murid untuk menemukan dan menjadi dirinya sendiri. Tanpa ini, sekolah tak ubahnya pabrik.

Sunday, November 30, 2025

Roti Canai Pak Ali

Sepulang acara dialog antariman di Aula PD Muhammadiyah, saya mampir ke roti canai Pak Ali Pajarakan, sebelah timur MAN 2. Sore mendung. Di sepanjang jalan dari kota ke Paiton, saya melihat genenangan di beberapa titik. 

"3 untuk Pak Fauzan, 4 untuk kami", ujar saya. Penjual menimpali, tinggal dua. Jadilah, pesanan Zumi original dan Biyya telur. Di mana-mana orang tua mengalah. Di rumah, Zumi tampak lahap mengudap makanan yang dulu ia suka di Kedah.

Kok, cepat habis Pak? Maklum, musim hujan. Banyak orang ingin merasakan kehangatan teh tarik dan canai. Tidak hanya menjual makanan asal jiran, lelaki yang pernah bekerja selama 17 tahun di Semenanjung menyediakan karaoke. Sekali waktu, saya pernah melihat pekerja keras ini membawakan lagu Bebas Rhoma Irama. Apalagi yang kurang dari hidup?

 

Mengaji Syarh al-Hikam

ربما اطلعك على غيب ملكوته وحجب عنك الاشتغراف على اسرار العباد Pagi ini, pukul 6, kami mengikuti pengajian kitab anggitan Imam Athoillah Al-S...