Bagi saya, mall terbesar di wilayah Utara Malaysia, Queens Bay, adalah tempat rehat yang menyenangkan, bukan semata-mata karena lokasinya di bibir laut dan di depannya teronggok pulau kecil, Pulau Jerejak, lebih dari itu di sini kita bisa mengunjungi toko buku terbesar, Borders. Di tempat yang terakhir ini, saya menemukan rak-rak yang dipenuhi buku-buku terbaru dari pelbagai disiplin.
Di temboknya, saya terserempak dengan tulisan yang berbunyi Books are the carriers of civilization. Without books, history is silent, literature dumb, science crippled, thought and speculation at a standstill - Barbara Tuchman. Ya, dengan buku, segala sesuatunya menjadi terang benderang. Saya tinggal memilih persoalan yang sedang tak terpecahkan untuk dicarikan jawabannya di dalam buku. Hebatnya lagi, di tembok yang lain tertera tulisan I cannot live withouth books - Thomas Jefferson, mantan Presiden Amerika Serikat.
Setiap kali saya mengunjungi toko buku di atas, saya selalu mencatat beberapa buku yang diimpikan untuk dimiliki, seperti Fareed Zakaria, The Future of Freedom, Mohammed Ayoob, The Many Faces of Political Islam, Husin Mutalib, Islam in Southeast Asia dan Emile Durkheim, On Morality and Society. Sesudah membaca banyak buku di sini, saya, isteri dan Muzammil beranjak menuju ke toko buku yang lain, Popular, untuk mencari buku Farish A Noor berjudul The Other Malaysia dalam versi Melayu. Sayangnya, buku yang diincar oleh teman saya ini juga tak tersedia.
Thursday, July 31, 2008
Wednesday, July 30, 2008
Peristiwa Pagi
Mungkin karena saya belum shalat Isya', pagi jauh sebelum Subuh, tiba-tiba terjaga dari tidur. Agar segar, saya menyiram tubuh dengan air. Mata jadi terang dan kepala terasa ringan. Karena tanggung, saya tidak tidur lagi. Sambil menunggu azan Subuh, buku Kalim Siddiqui berjudul Stages of Islamic Revolution menjadi teman.
Saya tertarik dengan pernyataan sarjana terkemuka yang bermukim di Inggeris ini bahwa sejarah tidak bergerak dengan melompat. Revolusi terjadi dalam sebuah masa yang panjang setelah perkembangan ide-ide baru. Ide ini pertama kali dibicarakan di antara segelintir orang, kemudian banyak orang, sebelum akhirnya menggapai khalayak (hlm. 47).
Ya, pernyataan ini mengandaikan adanya masyarakat minoritas kreatif yang berhasrat untuk melakukan perubahan. Menurut penggagas Parlemen Muslim Inggris, kaum Muslim hanya perlu merujuk kepada Sunnah dan Sirah Nabi untuk mengulang masyarakat berkeadaban.
Tuesday, July 29, 2008
Membaca kembali A A Navis
Kemarin, saya mengambil tiga buku, dua buah berkaitan dengan A A Navis dan satu novel berjudul Maria Mariam oleh Farahdiba untuk bacaan isteri. Buku penulis Robohnya Surau Kami ini saya ambil untuk membaca kembali judul cerpen yang dijadikan judul antologi ini, yang mengungkap ketegangan antara kesalehan sosial dan individual.
Cerita pendek yang dimuat pertama kali di dalam majalah Kisah ini dulu sempat mengundang kontroversi dan juga pujian. Bahkan, ia telah diterjemahkan ke dalam empat bahasa Asing, Inggeris, Jepang, Perancis dan Jerman. Sesuatu yang jarang terjadi dalam dunia sastera Indonesia. Mungkin hanya tetralogi Pramodya yang mengatasinya. Sebagai tambahan, saya juga menyeimbangi dengan cara pandang kritik sastra yang telah ditunaikan dengan baik oleh Ivan Adilla dalam A A Navis: Karya dan Dunianya (Grasindo, 2003).
Membaca cerita pendek buah karya sasterawan Minang ini membuka jendela rumah agar bisa melihat bagaimana orang lain melihat hidupnya. Lebih dari itu, kadang saya cemburu bahwa daerah yang dikenal sebagai kawasan lahirnya gerakan Islam modern telah mengharubiru dunia sastera Indonesia, dengan hanya bermodal peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Coba lihat, Salah Asuhan Abdoel Muis atau Tenggelamnya Kapal Van Derwijck Hamka. Keduanya merupakan pembacaan penghuni rumah Gadang terhadap kegalauan masyarakat terhadap serbuan modernitas. Sesuatu yang mungkin juga terjadi di Madura, tetapi tak sempat direkam melalui tulisan oleh warganya.
Cerita pendek yang dimuat pertama kali di dalam majalah Kisah ini dulu sempat mengundang kontroversi dan juga pujian. Bahkan, ia telah diterjemahkan ke dalam empat bahasa Asing, Inggeris, Jepang, Perancis dan Jerman. Sesuatu yang jarang terjadi dalam dunia sastera Indonesia. Mungkin hanya tetralogi Pramodya yang mengatasinya. Sebagai tambahan, saya juga menyeimbangi dengan cara pandang kritik sastra yang telah ditunaikan dengan baik oleh Ivan Adilla dalam A A Navis: Karya dan Dunianya (Grasindo, 2003).
Membaca cerita pendek buah karya sasterawan Minang ini membuka jendela rumah agar bisa melihat bagaimana orang lain melihat hidupnya. Lebih dari itu, kadang saya cemburu bahwa daerah yang dikenal sebagai kawasan lahirnya gerakan Islam modern telah mengharubiru dunia sastera Indonesia, dengan hanya bermodal peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Coba lihat, Salah Asuhan Abdoel Muis atau Tenggelamnya Kapal Van Derwijck Hamka. Keduanya merupakan pembacaan penghuni rumah Gadang terhadap kegalauan masyarakat terhadap serbuan modernitas. Sesuatu yang mungkin juga terjadi di Madura, tetapi tak sempat direkam melalui tulisan oleh warganya.
Monday, July 28, 2008
Malam Budaya Indonesia di Malaysia
Ternyata, sesampai di sana, band Tequelectric sedang latihan, sehingga kami menunda sejenak untuk melakukan gladi bersih untuk terakhir kali. Namun tak lama kemudian, akhirnya kami melakukan latihan. Indonesia Pusaka, Apuse dan Ampar-Ampar Pisang dan selarik puisi berjudul Sepi tak Berujung adalah menu kami yang harus dikunyah dan akhirnya dilantunkan dengan sepenuh jiwa.
Menjelang jam 8 malam, bapak dan ibu konsul datang. Panitia terkejut atas kedatangan wakil pemerintah Indonesia di Pulau Pinang ini sebelum acara dimulai. Ternyata, beliau berdua sengaja datang lebih awal karena baru selesai mengikuti acara Fareview di gedung Dewan Budaya, sebelah Dewan Tunku Syed Putera, tempat malam budaya akan digelar. Saya dan isteri menemani mereka untuk menunggu acara dimulai di ruang VIP lantai atas. Lalu, disusul kemudian oleh Saudara Irfan, ketua Persatuan Pelajar Indonesia USM. Katanya, Mahda memberitahu kalau Bapak Munir, konsul RI, datang.
Akhirnya upacara pembukaan segera akan dimulai. Seluruh undangan diminta masuk dan kehadiran Pak Munir dan Isteri di ruangan yang luas itu diiringi lagu daerah. Saya pun menyelinap ke balik panggung untuk menyiapkan diri tampil. Setelah acara sambutan, pelbagai seni budaya Indonesia dipanggungkan, seperti Tari Saman yang dibawakan dengan kompak oleh mahasiswa Universitas Presiden Jakarta, Tari Poco-Poco oleh putera-puteri dari mahasiswa PhD Indonesia di USM, Tari Prawiro dan akhirnya sesi kami, membawakan lagu daerah di atas, dan muskik angklung.
Di tengah keterbatasan panitia, tentu acara ini sangat penting untuk belajar merawat kebudayaan yang mungkin sudah tak dinikmati seperti dulu lagi. Dukungan dari banyak pihak tentu meringankan kerja panitia yang telah banyak mengubah konsep semula tentang acara ini. Memang, panitia mendapatkan dukungan dari Departemen Budaya dan Pariwisata untuk menyampaikan kampanye visit Indonesia 2008, sehingga malam budaya ini benar-benar menjadi malam Indonesia di negara tetangga. Cuplikan video kunjungan wisata Indonesia 2008 yang ditayangkan mampu menggugah cita rasa estetik penonton betapa negeri nusantara ini indah permai.
Tentu, persembahan musik Tequelectric menampilkan sisi lain dari malam kebudayaan, karena ia adalah adaptasi terhadap fenomena kebudayaan modern. Tambahan lagi, penampilan jazz band kampus benar-benar mengusung cara ungkap komunitas lain dalam merayakan kebersamaan. Mungkin, kehadiran The Times, band indie lokal, adalah penutup yang manis karena penonton berdesakan ke depan panggung untuk berjingkrak. Saya tentu tidak turut turun karena usia tua menghalangi untuk mengimbangi gairah anak muda mengusir dingin AC yang makin menusuk.
Friday, July 25, 2008
Menekuri Dunia Melayu Awal
Tadi pagi, saya membawa foto kopi bagian buku Preaching of Islam yang ditulis T W Arnold kepada profesor dalam rangka melengkapi bahan untuk proyek penulisan Islamisasi Dunia Melayu. Selain itu, saya juga membawa salinan tulisan saya yang dimuat di Majalah al-Islam (Desember 2007) berjudul "Melayu Islam Klasik dan Manifestasi Kontemporari".
Sebelumnya, saya memang mengirim pesan singkat pada profesor setelah menyalin bahan yang dimaksud di atas secara swalayan di toko foto kopi yang terletak di lantai dasar perpustakaan. Satu jam kemudian, beliau menelepon untuk berjumpa. Sebenarnya, saya juga mempunyai catatan lain tentang manuskrip Bahr al-Lahut, yaitu naskah asli yang menjadi koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta, Untuk pertama kalinya, saya membaui naskah kuno. Sebelumnya, saya hanya melihat dalam gambar di buku atau di internet.
Berburu naskah kuno mendatangkan keasyikan. Ada semacam pengembaraan ke masa lalu yang menegangkan karena selalu saja saya tidak mengapresiasi pandangan masa dulu karena kadang tampak sudah usang. Ternyata, tidak demikian. Justeru, di dalam naskah kuno, saya menemukan kearifan dan kedalaman tentang sebuah ajaran.
Keingintahuan untuk mengenal lebih jauh tentang masa lalu Islam Melayu makin membuncah, setelah ada kecenderungan Islam di tanah Melayu ini menampilkan pemahaman formal tentang Islam.
Menikmati Tembang Jawa
Memasuki hari ketiga latihan, kami makin menemukan irama kebersamaan. Apalagi, ada beberapa selipan yang membuat saya makin nyaman menikmati penampilan opera musikal. Pada pembukaan, Wahyu membuka persembahan dengan membawakan tembang (pangkur) Jawa, yang kata mahasiswa PhD Teknik Industri ini, bercerita tentang agama dan pengetahuan. Selebihnya, saya tak bertanya lebih terperinci arti perkata dari tembang ini, tetapi selalu saja memejamkan mata ketika lamat-lamat saya menikmatinya dari jarak yang cukup jauh. Nuansa magis tiba-tiba menyemburat bersama angin malam.
Tanah Air Beta, lagu kebangsaan, yang dinyanyikan bersama juga mendatangkan suasana lain. Kami berempat mencoba untuk menemukan kekompakan, meskipun saya yakin masing-masing mencoba untuk meresapi berdasarkan pengalaman yang mungkin tidak sama. Tetapi, jelas lagu ini mengandaikan tentang tanah air yang dibanggakan, tempat nanti bersemayam dan kedekatan yang dalam untuk merawat dwipantara.
Di sela-sela menyanyi, tiga orang membawakan tiga puisi dengan tiga dialek berbeda, Jawa, Menado dan Madura. Melalui bahasa Indonesia, ketiga daerah ini melebur menjadi satu dalam mengungkapkan perasaan yang paling dalam sebagai anak manusia, meskipun tak harus menghapus kekhasannya masing-masing. Justeru, karena perbedaan inilah kami merangkai kebersamaan. Ia seperti menampilkan ragam warna yang melahirkan pelangi, sehingga setiap orang akan merasa nyaman melihatnya.
Tanah Air Beta, lagu kebangsaan, yang dinyanyikan bersama juga mendatangkan suasana lain. Kami berempat mencoba untuk menemukan kekompakan, meskipun saya yakin masing-masing mencoba untuk meresapi berdasarkan pengalaman yang mungkin tidak sama. Tetapi, jelas lagu ini mengandaikan tentang tanah air yang dibanggakan, tempat nanti bersemayam dan kedekatan yang dalam untuk merawat dwipantara.
Di sela-sela menyanyi, tiga orang membawakan tiga puisi dengan tiga dialek berbeda, Jawa, Menado dan Madura. Melalui bahasa Indonesia, ketiga daerah ini melebur menjadi satu dalam mengungkapkan perasaan yang paling dalam sebagai anak manusia, meskipun tak harus menghapus kekhasannya masing-masing. Justeru, karena perbedaan inilah kami merangkai kebersamaan. Ia seperti menampilkan ragam warna yang melahirkan pelangi, sehingga setiap orang akan merasa nyaman melihatnya.
Thursday, July 24, 2008
Menikmati Trek Stadion Kampus
Kemarin, setelah shalat ashar jamaah dengan isteri, kami menunaikan niat untuk berlari di trek stadion. Sekalian, saya ingin memenuhi janji dengan Fakhrizal untuk bermain pingpong sebagai persiapan mengikuti kejuaraan tenis meja Konsulat Jenderal Republik Indonesia Pulau Pinang. Sesampai di sana, saya melakukan pemanasan dengan berlari mengelilingi lapangan sepak bola sebanyak 5 kali. Ini sudah melebihi dari cukup membuat badan panas.
Kemudian, saya menuju ke gedung olahraga untuk bermain pingpong. Di sana, kami bermain ganda sebanyak dua babak. Terus terang, tenis meja selalu menguras tenaga saya dan menyebabkan saya berkeringat. Untung, saya telah menyediakan air minum sehingga dahaga tak menyiksa. Namun, sayangnya saya tak bisa melanjutkan permainan karena harus berbelanja kebutuhan sehari-hari ke pasar Gelugor. Di sana, kami tidak hanya berbelanja sayur mayur, daging ayam, dan ikan asin, tetapi juga memeriksa tulisan di majalah al-Islam dan Milenia dalam edisi Agustus 2008. Sayang, saya juga belum melihat karangan dimuat di dalam dua majalah di atas.
Kami tidak terlalu lama berada di pasar karena hari sudah beranjak gelap. Lebih-lebih, saya harus mengejar waktu agar bisa bersembahyang jamaah di surau flat. Alhamdulillah, saya mempunyai banyak waktu untuk mandi sehingga tak perlu terburu-buru ke musalla. Seperti biasa, rumah Tuhan itu tidak menarik penghuninya untuk hadir. Shalat Maghrib hanya diikuti tiga orang, saya sendiri dan dua pekerja Pakistan, Ali dan Syahid. Berbeda dengan sehari sebelumnya, surau dipenuhi jamaah karena ada rombongan anggota Tabligh sehingga memenuhi surau hingga baris (saf) kedua. Malah, selepas maghrib, mereka yang terakhir mengetuk pintu rumah untuk mengajak mengikuti shalat Isya bersama di surau. Sebuah usaha mulia untuk memperjuangkan prinsip Islam tanpa pamrih.
Kemudian, saya menuju ke gedung olahraga untuk bermain pingpong. Di sana, kami bermain ganda sebanyak dua babak. Terus terang, tenis meja selalu menguras tenaga saya dan menyebabkan saya berkeringat. Untung, saya telah menyediakan air minum sehingga dahaga tak menyiksa. Namun, sayangnya saya tak bisa melanjutkan permainan karena harus berbelanja kebutuhan sehari-hari ke pasar Gelugor. Di sana, kami tidak hanya berbelanja sayur mayur, daging ayam, dan ikan asin, tetapi juga memeriksa tulisan di majalah al-Islam dan Milenia dalam edisi Agustus 2008. Sayang, saya juga belum melihat karangan dimuat di dalam dua majalah di atas.
Kami tidak terlalu lama berada di pasar karena hari sudah beranjak gelap. Lebih-lebih, saya harus mengejar waktu agar bisa bersembahyang jamaah di surau flat. Alhamdulillah, saya mempunyai banyak waktu untuk mandi sehingga tak perlu terburu-buru ke musalla. Seperti biasa, rumah Tuhan itu tidak menarik penghuninya untuk hadir. Shalat Maghrib hanya diikuti tiga orang, saya sendiri dan dua pekerja Pakistan, Ali dan Syahid. Berbeda dengan sehari sebelumnya, surau dipenuhi jamaah karena ada rombongan anggota Tabligh sehingga memenuhi surau hingga baris (saf) kedua. Malah, selepas maghrib, mereka yang terakhir mengetuk pintu rumah untuk mengajak mengikuti shalat Isya bersama di surau. Sebuah usaha mulia untuk memperjuangkan prinsip Islam tanpa pamrih.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Belajar Bahasa Derah
Di dalam perjalanan pulang dari sekolah kemarin, bunda bercerita bahwa muridnya, Yusuf, adalah senior Zumi di SD Namira dulu. Ia bilang bahw...
-
Buku terjemahan saya berjudul Truth and Method yang diterbitkan Pustaka Pelajar dibuat resensinya di http://www.mediaindo.co.id/resensi/deta...
-
Ahmad Sahidah lahir di Sumenep pada 5 April 1973. Ia tumbuh besar di kampung yang masih belum ada aliran listrik dan suka bermain di bawah t...
-
Kami berdua salat di masjid tempat orang dewasa, remaja, dan anak-anak bersembahyang. Di sini, saf pertama bisa diisi oleh jamaah dari sega...


