Sunday, February 08, 2026

Kelapangan dan Kesempitan

 العارفون إذا بسطوا اخوف منهم إذا قبضوا
Orang arif lebih takut pada kelapangan daripada kesempitan. Kalimat pendek ini diurai secara mendalam oleh Kiai Zuhri pada pengajian pagi Syarh al-Hikam.
Dengan kesuksesan, misalnya, seseorang tidak lalai dengan kebajikan, dan dengan kegagalan tidak membuatnya hilang haluan. Sepertinya, kita hanya senantiasa memiliki dua pilihan, meskipun kita lebih sering menjalani kehidupan sehari-hari yang rutin.
Kami pun tepekur, bila hidup ini senantiasa memiliki dua sisi, maka apa pun keadaannya kita berterima. Apa ini membuat kita apatis? Tidak. Kita mesti meneguhkan pilihan di mana tempat kita berpijak. Kini, pijakan itu berada di dua ruang, nyata dan maya. Lalu, apa itu kenyataan dan kemayaan?

Kenyataan adalah apa yang dijalani sehari-hari, baik pribadi maupun kemasyarakatan. Di sini, kita betul-betul mengulang apa yang telah kita pernah lalui.

Friday, February 06, 2026

Makan Siang

Saya tak perlu membeli minuman karena membawanya dari kampus. Selain itu, saya mengurangi asupan gula. Brewok adalah salah satu warung yang menjual ayam goreng terenak di Paiton. 

Sekali-kali kami membeli ayam utuh untuk makan siang bersama melalui pesan antar. Dengan menikmati nasi dan sambal hijau, saya begitu merasakan rasa pedas yang pas. Pengalaman yang menyenangkan adalah makan siang bersama dengan Zumi sehabis sembahyang Jum'at di masjid Raudhah dusun Kebun. 

Kala sendirian, saya tepekur kapan saya bisa menghentikan sama sekali mengasup daging karena pertimbangan etika kebinatangan. Mengabaikan penderitaan hewan hanya karena mereka berbeda spesies adalah bentuk diskriminasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara moral, ujar Peter Singer, filsuf. Anda, bagaimana?
 

Thursday, February 05, 2026

Fana dan Baka


 وأما مع الفناء والبقاء فلا


Pagi ini, Kiai Imdad mengurai kebahagiaan berdasar pada tesis sufisme ini kala membacakan Syarh al-Hikam. Kesempitan (القبض) dan keluasan (البسط) itu subjektif. Keduanya hilang bila kita meniadakan ego (nafs) dan mengekalkan Tuhan (البقاء).

Beliau mengisahkan Bill Gates untuk menguatkan aforisme di atas. Para santri Aliyah, mahasiswa UNUJA, dan dosen bertepekur, jadi bagaimana hidup hendak diukur?

Keluasan seringkali dikaitkan dengan ukuran fisik.dan material. Tidak salah. Tubuh harus berada dalam ruang yang sêlesa dan waktu luang, tidak bergegas. Ruang sempit bikin pengap dan waktu terbatas bikin ngegas, tegang dan tekanan naik.

Wednesday, February 04, 2026

Rapor Akhlak

Apakah kesalahan harus dihukum? Sesuai aturan tindakan perku diambil dengan hukuman setimpal. Setelah melakukan audit di Badan Pengawas, Pak Anang Pribadi memeriksa Mahkamah Pesantren. 


Surveillance 1 ini dilakukan untuk memastikan implementasi klausul untuk perbaikan berkelanjutan. Keberhasilan pelaksanaan audit ini didukung oleh semua pihak, dari pimpinan hingga satuan kerja. Ada beberapa catatan yang diberikan oleh auditor, salah satunya adalah pengadaan rapor akhlak. 

Dengan penerapan ISO 21001:2018, kami bisa melayani santri, orang tua wali, dan pihak berkepentingan dengan baik. Tujuan belajar di pondok untuk mengaji dan membina akhlaqul karimah juga perlu diukur, baik secara kualitatif dan kuantitatif. 

Tuesday, February 03, 2026

Nisfu Sya'ban

Pak As'adi mengumumkan bahwa perayaan Nisfu Sya'ban akan digelar pada malam Selasa, 2 Februari 2026. Kami pun hadir salat magrib dan membaca Yasin sebanyak tiga kali. Sebelumnya Pak Fauzan memohon doa yang diaminkan oleh para warga, yang tediri dari orang dewasa dan anak-anak. 

Setelah selesai, Pak As'adi memimpin doa penutup dan mengumumkan bahwa kami memiliki waktu untuk menikmati kudapan dan minuman yang disediakan oleh warga sebelum azan isya. 

Betapa menyenangkan kami mengunyah makanan tradisional, seperti kratok (Kata Pak Umar) atau lanun (Kata Pak Sururi), makanan yang terbuat tepung kanji. Tentu ini adalah momen warga untuk bertukar cerita. Setidaknya dengan mendaras kitab suci dan melakukan silaturahmi, mereka merawat hati dan hubungan baik dengan tetangga. 

Lalu, mengapa kami melakukan kegiatan di atas? Mungkin The Need for Rootsnya Simone Weil bisa ditimbang. Kita perlu keberakaran agar hidup memiliki makna dan utuh. Sejak kecil, saya mengikuti acara rutin di atas. Mengapa menyenangkan? Karena puasa itu mendatangkan keriangan, seperti bermain di sawah dan sungai karena liburan dan makan lahap karena menunda di kala berbuka. 

Akar itu adalah keterikatan kami dengan komunitas, tradisi, budaya, sejarah, dan nilai moral. Para guru mengingatkan bahwa dengan berpuasa, kita merasakan lapar dan dari sini tumbuh kepedulian pada orang lain. Jadi, orang itu menjadi manusia dengan memulakan hidupnya dari tradisi tempat ia tumbuh dan besar. 

 

Monday, February 02, 2026

Semenanjung

Anak ini lahir di Pulau Pinang. Ari-arinya ditanam di halaman asrama Tasik Harapan, nama yang indah. Apa ada kaitannya dengan Tasikmalaya, tempat kelahiran Rhoma Irama? Tak jauh dari tempat ini, ada danau tempat kami sering menghabiskan sore dengan memberi makan remah roti ikan-ikan. Ia tumbuh dengan nalar yang ditempa oleh sekolahnya, sejak pra-sekolah, SD, SMP, hingga SMA.
Bacaannya menuntutnya untuk bertanya banyak hal, tentang identitas, bias, dan politik. Dulu kami berdua menjaganya dengan utuh dan menyeluruh. Seperti tulisan di kaus yang viral: saya akan melakukan apa yang saya ingin, di mana empat kata terakhir dicoret dan diganti dengan apa yang anak perempuan mau. Kemarin, saya sudah menunggu giliran untuk memotong rambut setelah tiga orang berlalu, tiba-tiba ada pesan bahwa Biyya ingin dijemput segera dan saya pun beranjak dari kedai Wijaya. Hehe
Dulu, pada 1921 Tan Malaka pernah bertemu dengan banyak pegiat Semenanjung untuk merumuskan bagaimana mengisi hidupnya sendiri, merdeka dari penjajah. Sayangnya, kedua negara, Indonesia dan Malaysia, berjalan dengan nasibnya sendiri-sendiri. Namun, ikatan emosi itu tetap terjaga hari ini, setidaknya sebagaimana anak ini tumbuh dengan kebaikan kakek-nenek angkatnya di Pulau Pinang, kami memiliki banyak keluarga di sini.
Betapa 15 tahun tinggal di tanah Melayu ini meninggalkan bekas yang kuat. Ayah angkat kami yang Cina mualaf justru mengenalkan kami pada tradisi Abah Anom. Surat Yasin yang ditinggalkan oleh guru spiritual ini masih dibaca oleh istri. Ya, fikih itu memang perlu dipelihara, dan tasawuf yang akan menyatukan kita secara utuh.
Hidup di sini juga berkelindan dengan pandangan dunia Melayu. Seorang pedagang di kantin meminta saya untuk memberikan doa agar dagangannya terjaga dari hal buruk. Saya hanya berdoa untuk keselamatan. Lalu, ia bertanya, apa perlu pengeras? Tidak. Saya melakukannya sebagai insan biasa, tak perlu syarat, apalagi ayam hitam.
Sekali waktu, Bob pekerja kantin mengajak saya untuk pergi ke karaoke. Lalu di sana ia membawakan lagu-lagu Amy Search, yang malah menyeret saya ke pertigaan kampung, kala lagu Isabella mengalun pas saya berangkat sekolah ke MTs Annuqayah. Tak pasti, adakah radio itu milik Suparto? Ia adalah jiran kami yang menempel poster KISS di tembok rumahnya.
Sejalan dengan perjalanan semua ini, pengalaman yang mengubah saya melihat banyak hal adalah kunjungan ke rumah Tuan Guru Nik Aziz Nik Mat. Dengan melihat kediaman dan masjidnya di pulau Melaka, saya menemukan kedamaian dalam kesederhanaan. Aura dan suaranya lahir dari kedalaman batin dan ketulusan hati.

 

Sunday, February 01, 2026

Ngopi

Sepulang dari merayakan ulang tahun Fani temannya yang ketujuhbelas, Biyya minta berhenti di sini untuk membeli Macchiato. Saya pun senang alang kepalang karena bisa menemaninya sambil membaca Reason: Why Liberals Will Win the Battle for America oleh Robert B. Reich yagn diterbitkan pada 2004. 

Buku di atas ditulis untuk pembelaan terhadap liberalisme dan kritik yang apa yand diistilah oleh Reich dengan "Radcons" (Radical Conservatives). Sebagai mantan sekretaris buruh AS, ia yakin bahwa sebagian besar warga Amerika meyakini nilai-nilai liberal, seperti hak untuk memilih jenis kelamin, agama, dan aborsi. Biyya sendiri membawa buku Tafsir Feminis Asghar Ali Engineer. 

Sayangnya, ia memilih membawa pulang segelas kopi. Kami pun beranjak pergi untuk segera sampai di rumah. Hidup kadang berjalan bukan atas dasar keinginan, tetapi kenyataan. Toh, menyesap qahwah dan meneruskan bacaan bisa dilakukan di kediaman. 

Merenung Keseharian

Dengan membaca kembali buku Falsafah Harian ini, saya dapat menimbang saran teman-teman yang telah membahas tulisan, seperti apakah pijakan ...