Sunday, October 04, 2026
Saturday, October 03, 2026
Té-Oté
Tuesday, September 29, 2026
Nasi Kuning
Dengan harga Rp8.000,00, saya bisa membawa sebungkus sarapan. Saya, istri, dan Zumi suka goreng tempe kecil yang kering. Sementara, Biyya membawanya ke sekolah. Penyuka Aurora ini menikmatinya di tempat ia belajar.
Di sepanjang jalan dalam radius 1KM, ada tiga penjual serupa, di depan perumahan dan toko telepon. Mungkin, setiap memiliki selera berbeda sehingga ketiga penjual mendapatkan pelanggan masing-masing. Semoga emak-emak ini bisa meraih untung di tengah kenaikan harga bahan makanan.
Saturday, September 26, 2026
Yasinan
Kami pun beranjak dan duduk di teras untuk menikmati kue yang dibawa oleh Pak Mus dan Pak Budi. Tadi sebelum magrib, Fairuz, anak Pak Tir, juga membawa kue untuk jemaah perempuan.
Betapa senang melihat anak-anak juga membaca kitab suci di masjid Ali bin Abi Thalib. Di sini, mereka tidak hanya menunaikan ibadah, tetapi juga tarbiyah (pendidikan), di mana saya pernah melihat Ahnaf dan Ilman membuang sampah pada tempat yang telah disediakan khusus untuk bekas minuman dan tong.
Monday, September 21, 2026
Bahasa Jawa
Ia mengerjakan soal Bahasa Jawa di kelas daring. Jiwa itu berada dalam wicara dan wacana. Tentu, hal serupa juga dilakukan oleh teman sekelasnya setelah kelas daring di hari Jumat. Sebelumnya teman-teman sekelasnya bersama guru melakukan kegiatan di luar kelas, di Malang, untuk membuka cakrawala murid.
Temanya tentang Tugu Pahlawan dan Museum 10 November yang diresmikan oleh KH Abdurrahman Wahid. Sebenarnya ia memahami sebagian dari kosa kata Jawa, tetapi tidak mudah mengerti pertanyaan karena penguasaan lema terbatas.
Apa pun, ia telah memasukan alam pikiran ibunya yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa waktu kecil. Di sini, Zumi bisa belajar lebih mudah karena ia mewarisi pengalaman orang tuanya. Semoga.
Senja Coffee
Setelah punch-out di mesin peresensi elektronik, saya bertolak ke sekolah anak. Dalam
perjalanan saya mampir ke kedai telepon Mandiri untuk meminta teknisi memperbaiki gawai
saya yang macet (hang).
Seusai mengecek telepon genggam, saya mampir ke Senja Coffee, warung di depan
sekolah. pada pukul 3.10, untuk pertama kalinya mengingat bubaran sekolah sekitar pukul 4. Dengan
memesan es cappucino, saya menyesap minuman ini dengan perlahan sambil membuka
buku Engineers of Jihad: The Curious Connection Between Violent Extremism
and Education oleh Diego Gambetta and Steffen Hertog.
Tak lama kemudian, ada seorang pengunjung yang memesan kopi
tanpa gula dan telur mentah. Ia membuka percakapan pertama dengan menyapa dan
bertanya asal. Dari sini, kami pun berbagi cerita tentang Kota Anyar, rumah lelaki
itu, dan harga tembakau yang mencecah Rp60ribu-Rp65ribu. Ia pun bercerita
sering mengikuti istighatsah setiap Selasa dan Malam Jum’at di perumahan Detar.
Menariknya, ia tak merokok.
Lalu, ada tiga orang pengunjung yang memesan minuman, es teh dan kopi panas, yang masing-masing membuka bungkus rokok, Hummer dan Wismilak 234
hitam. Katanya, rokok pertama ini diproduksi oleh PT Bawang Mas, milik H Her. Untung,
dari kejauhan saya melihat Biyya yang sedang melangkahkan kaki dari gerbang sehingga segera beranjak dari kursi karena tak tahan
dengan bau asap rokok.
Selain buku di atas, saya juga meminjam buku Zaprulkhan berjudul Tasawuf Moderat: Pembaharuan Tasawuf Hamka dan Said Nursi.
Keduanya akan dijadikan bacaan tambahan, selain utama dan pendukung untuk mata
kuliah Akhlak Tasawuf semester 3 Pendidikan Agama Islam. Tentu, rujukan materi
ini didasarkan pada tradisi intelektual Muslim, seperti Al-Ghazali dan Ibn Miskawayh. Selain ini,
karangan Ahmad Amin juga menjadi bahan pustaka, yang mengingatkan saya pada mata kuliah ini ketika
belajar di Akidah Filsafat IAIN dulu di bawah asuhan Pak Kusmin Busyairi.
Mengapa Akhlak Tasawuf perlu diajarkan dengan menimbang isu-isu kontemporer, seperti kekerasan atas nama agama? Dalam buku Gambetta, kita menemukan kutipan menarik, yakni "the discipline of the degree attained in particular has the potential to contain information about personal characteristics" (hlm. ix). Karakter seseorang dipengaruhi oleh program studi yang diambil oleh mahasiswa.
Namun, dalam konteks setempat, pertanyaan sederhana bisa diajukan apakah merokok di ruang publik itu berakhlak atau tidak? Jadi, persolannya tidak lagi berkutat soal label haram yang sedang heboh karena diusulkan oleh Muhammadiyah untuk peringatan di bungkus rokok.
Monday, September 14, 2026
Menengok Dunia Luar
Biyya dan teman-temannya, Vanda, Rangga, dan Darel mengunjungi pameran pendidikan di Surabaya. Mereka hendak melihat dari dekat tawaran lembaga universitas dunia. Tentu, ini peluang baik untuk melihat dari dekat bagaimana minat siswa dan siswi di Indonesia ingin melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Sunday, September 13, 2026
Perpustakaan
Yasinan
Saturday, September 05, 2026
Mengaji Syarh al-Hikam
ربما اطلعك على غيب ملكوته وحجب عنك الاشتغراف على اسرار العباد
Pagi ini, pukul 6, kami mengikuti pengajian kitab anggitan Imam Athoillah Al-Sakandari di musala Riyadhushshalihin. Kiai Zuhri memulai dengan teks di atas dan menjelaskan bahwa Allah memberikan anugerah pada manusia dengan membuka mata pada "alam", tetapi menutup penglihatan dari aib orang lain.
Tadi, uraiannya dikaitkan dengan kesaktian yang menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat. Berdasarkan pernyataan ini, jelas manusia terhalang untuk menembus hati manusia, sehingga penyingkapan itu bisa salah atau ilusi.
Setelah menyimak penjelasan kitab, saya pun ngobrol dengan Nugi asal Bondowoso dan Noval asal Probolinggo. Keduanya adalah pengurus LPBA pondok yang sedang menyelesaikan studi S1 dalam bidang Pendidikan Bahasa Arab. Obrolan seputar pilihan pekerjaan seusai rampung kuliah, yakni pekerja, pengusaha, dan sarjana (ustaz, guru, peneliti, dll).
Thursday, September 03, 2026
Apel
Saya memilih jalan dari kampus pondok. Di tengah jalan, kami bersua. Saya sempat menyapa Noval, mahasiswa FT, yang sedang menjaga portal dan bertanya buku apa yagn sedang dibaca?
Tuesday, September 01, 2026
Kondangan dan Ingatan
Salah satu tamu datang terlambat karena ban mobilnya pecah di tengah jalan.
Kami memiliki ingatan yang baik tentang rekan pondok dan kampus ini.
Sunday, August 30, 2026
Poli Anak
Karena ada kegiatan imunisasi, kami menunggu di kantin Rumah Sakit Rizani untuk menikmati soto Lapangan Tembak. Sambil menunggu istri membeli bakwan, tahu dan molen. Di pagar kantin ada poster yang mengumumkan larangan merokok di seluruh area dengan denda Rp100.000,00.
Dengan segelas es jeruk, kami menghabiskan makanan sambil bercakap ke sana ke mari. Lalu, kami kembali ke ruang tunggu. Setelah dipanggil, kami pun ke ruangan dokter. dr Ayu menyarankan Zumi untuk tidak telat makan dan menghindari makanan pedas dan minuman kopi. Seusai mengantongi obat, kami pun pulang.
Bola Voli
"Pi', nama panggilan Hafiz, mau layangan"? Tanya saya setelah menemukan mainan ini di belakang rumah. Anak kelas 1 SD ini menjawab lugas. Tidak, Pak De. Saya sudah punya di rumah. Ia pun bermain bola voli dengan Kiki, sepupunya, dan Zumi saling menampar bola di sebelahnya. Betapa seru anak-anak bermain!
Lalu, mereka pindah ke halaman rumah dan menjadikan tiang jemuran sebagai net. Mereka silih berganti menepis bola dengan iringan suara kegembiraan.
Anak-anak memiliki imajinasi sendiri dalam memanfaatkan ruang dan benda. Bola itu dibuat dengan menggulung banyak kertas dan diikat dengan lakban (tape). Menjelang magrib, mereka bubar dan siap-siap ke masjid. Sepulang berjemaah, Akmal berkata bahwa besok bermain lagi, yang disahuti Zumi dengan ya.
Friday, August 28, 2026
Yasinan dan Gibran
Apa yang membuat saya senang dari kegiatan di atas? Begitu banyak anak-anak yang masih belajar di sekolah dasar turut hadir. Kebanyakan mereka duduk di teras. Sementara, ada dua anak yang duduk di ruang utama, yakni Fikri dan Gibran. Anak terakhir ini memakai kaus hitam bertuliskan Khalid bin Walid, sahabat Nabi. "Wah, kausnya bagus. Beli di mana?" Dengan lugas ia menjawab, "Kakek saya yang dari Pasuruan memberi pada saya".
Thursday, August 27, 2026
Obrolan Pagi
Meskipun belajar teknologi, lelaki asal Karanganyar ini menyukai sejarah. Di sela menjaga portal, mahasiswa semester 1 ini menekuri buku bacaan. Sebenarnya, ia berminat dengan pelajaran bahasa Indonesia. Sungguh, pribadi yang unik.
Hakikatnya, hidup itu bermakna dalam setiap detik napas, karena kita lah yang melukiskan canvas. Dengan mengenal orang yang dekat dengan kehidupan kita sendiri, kita bisa memeriksa apa yang dicari kita sendiri dalam perjalanan ini.
Tuesday, August 25, 2026
Sarawak
Saya bersyukur pernah melawat Sarawak. Di sini kami pernah naik kapal menyusuri sungai. Kegiatan Forum Sejahtera telah membuka cakrawala lebih luas tentang Malaysia.
Sayangnya, saya tak meluangkan waktu berkunjung ke Sabah, yang baru saja menggelar pemilihan umum. GRS menang. DAP yang sebelumnya memiliki 8 kursi menggigit jari. PKR hanya meraih satu wakil. Untuk pertama kalinya PAS memecah telur.
Shafie Apdal tak dapat menjadi orang nomor satu. BN pun memilih bergabung dengan Hajiji agar bisa memastikan wakilnya tak melompat. Serumit apa pun politik di sini, partai lokal kuat.
Apa pun, selamat. Politik itu alat. Kata Anwar Ibrahim, suara rakyat itu keramat. Mandat masih di bawah kendali PM ke-10 yang akan menunaikan 40% hak Sabahan sepenuhnya. Tugas perdana menteri begitu berat di tengah konflik kepentingan dari komponen koalisinya.
Maulid di Masjid Kami
Pak As'adi memberi tahu pelaksanaan acara Maulid melalui grup WhatsApp Rukun Tetangga. Tadi malam, kami menunaikan perayaan dengan penuh khidmat. Seusai maghrib, anak-anak, para remaja, ibu-ibu, dan bapak-bapak berbondong-bondong pergi seraya membawa kotak-kotak makanan. Tidak hanya itu, sebagian warga meletakkan buah di bungkusan untuk melengkapi suguhan.
Abah Fauzan membuka acara dengan tawasul. Lalu, Pak Halim melantunkan selawat yang dilanjutkan oleh Pak Sururi. Pak Mushthofa menutupnya dengan doa. Anak-anak mengikuti bacaan pujian dengan riang. Di sela itu, Pak Jamal mencabuti uang yang ditancapkan pada batang untuk diberikan pada anak-anak. Demikian pula, Pak Sufyan mengambil balon untuk diberikan pada balita, yang menyebabkan mereka gembira alang-kepalang. Pak Joko dan Pak Boniman juga mengagihkan makanan pada hadirin. Semua yang hadir bahagia dengan caranya masing-masing.
Kala mahallul qiyam (momentum berdiri), saya merasakan "kehadiran" nabi, seakan-akan warga menyambut sang rasul. Kalimat ya jaddal hasan, ya jaddal hussain (wahai kakek hasan dan husein), membuat saya tertegun karena tragedi yang menimpa cucu ayah Fatimah ini melahirkan duka. Ada kesedihan yang menjalar.
Tentu, perayaan ini akan menjadi kenangan yang abadi pada anak-anak. Mereka menyambut nabi dengan pujian, bacaan, dan doa. Di sini, silaturahmi, kedermawanan, dan syiar dimakmurkan. Masjid tidak hanya digunakan untuk ibadah (salat berjemaah), tetapi juga tarbiyah (pendidikan budi pekerti).
Sepotong Sore
Sambil menunggu, saya membeli salad dan membuka buku yang dibaca oleh Biyya bertajuk The Hundred Years' Warn on Palestine: A History of Settler Colonial Conquest and Resistance, 1917-2017. Rashid Khalidi membuka karangannya dengan kutipan "We are a nation threatened by disappearance" oleh 'Isa and Yusuf al-'Isa, Filastin, May 7, 1914.
Dari judul dan petikan di atas, kita bisa membayangkan isi dari tulisan tersebut. Hingga hari ini, Gaza dan Tepi Barat diduduki oleh Israel. Meskipun ICJ telah menetapkan Netanyahu sebagai penjahat perang dan banyak negara mendukung negeri penyair Mahmoud Darwish, negeri bintang David itu tidak tergoyahkan. Di sela mendaras, saya berbagi salad dengan Biyya dan bercakap-cakap tentang isi buku. Karya ini hendak menyampaikan bahwa konflik ini bukan perang antara dunia negara, tetapi desain kolonialisme untuk menghapus eksistensi Palestina.
Saya pun tak berlama-lama menekuri huruf karena harus memicingkan mata untuk membaca sebab tak membawa kacamata. Setelah mendapatkan segelas kopi, kami beranjak dari warung. Oh ya, mengapa saya membaca buku? Saya tidak bisa membuka gawai karena tidak ada jaringan wifi.
Tuesday, August 18, 2026
Zip Zap Pop
-
Buku terjemahan saya berjudul Truth and Method yang diterbitkan Pustaka Pelajar dibuat resensinya di http://www.mediaindo.co.id/resensi/deta...
-
Ahmad Sahidah lahir di Sumenep pada 5 April 1973. Ia tumbuh besar di kampung yang masih belum ada aliran listrik dan suka bermain di bawah t...
-
Sang ibu memotret kami sebelum beranjak ke masjid. Di sini, ada banyak anak dan ayah juga menunaikan salat bersama. Zumi bertemu dengan tema...

















