Sunday, May 06, 2007

Tanda Tangan sebagai Tanda Cinta


Sampai hari ini saya berusaha mencintai buku beserta ihwal yang berkaitan dengannya. Dulu, di Yogyakarta, saya meminta pada penjual buku untuk tidak merekatkan sampul plastik dengan selotip. Permintaan ini didasarkan ketakutan saya bahwa jika plastiknya rusak, kulit sampul akan mudah ‘rusak’ jika plastiknya diganti. Saya tidak ingin membuat buku luka.

Bahkan, saya tidak hanya mencintai buku, melainkan juga mengagumi pembuatnya. Adalah tidak aneh jika saya meminta tanda tangan kepada Pak Suyatno ketika beliau memberikan saya sebuah karya bertajuk Menjelajah Demokrasi (Yogyakarta: Liebe Book Press, 2004). Nah, bicara tentang tanda tangan Pengarang, saya mempunyai kisah tersendiri dan untuk mengenalnya lebih jauh bisa dibaca di rubrik buku (di Balik Buku) Jawa Pos hari ini 6 Mei 2007 atau bisa ditelusuri di alamat berikut ini, dan semoga masih bisa diakses. http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=283972.

Tentu saja, pengalaman meminta tanda tangan Dewi RSD adalah ingatan yang terus melekat karena ketika beliau membubuhkan tanda tangan untuk novel Super Nova, saya hanya berjarak bebera cm dan bisa dengan leluasa membaui parfumnya yang mahal dan menyegarkan. Tetapi yang lebih penting adalah kemampuan penyanyi ini mengemas imajinasi dengan bahasa fiksi, meskipun dilengkapi dengan data non-fiksi, tentang pencarian makna hidup.


Ahmad Sahidah
Pemburu Tanda Tangan


Minggu, 06 Mei 2007,

Di Balik Buku - Pengarang dan Karyanya, Antara Azyumardi Azra dan Dewi Lestari

BAGAIMANA hubungan dua istilah dalam tajuk di atas? Jelas erat. Ada sebuah benang merah yang bisa ditarik antara keduanya. Betapa dekatnya sang empu dan buah karyanya, sehingga Pramoedya Ananta Toer menyebut karyanya sebagai anak rohani. Tetapi, apakah sebatas itu? Tentu tidak. Sebuah karya adalah kepanjangan isi pikiran dan ideologi sang penulis. Namun, ketika kita mau memahami sebuah karya, menurut Roland Barthes, pengarang tak lagi hadir. Ia mengatakan bahwa menghadirkan pengarang untuk memahami teks sama saja dengan membatasi teks itu sendiri. Dia menegaskan bahwa seorang pembaca harus memisahkan karya dari pengarangnya untuk membebaskan karya dari tirani penafsiran.

Saya berpendirian tak seekstrem Barthes. Dalam pengalaman selama ini saya melihat keterkaitan erat penulis dan karyanya. Kegagalan memahami sejarah pengarang akan membuka kemungkinan kealpaan dalam memahami isi pemikirannya. Misalnya, Kuswaidi Syafi’ie dengan Pohon Sidrahnya adalah seperti dua sisi mata uang. Pandangan politik, konteks sejarah, agama, etnik, psikologi, dan sifat kepribadian lain berlompatan di dalam puisi-puisi yang diluahkan dalam buku ini.

Hampir bisa dipastikan bahwa larik puisi yang ditulis Kuswaidi menggambarkan sejarah hidup, keyakinan agama, cita rasa Madura (tanah kelahirannya), sosok yang temperamental, dan agak melankolik. Semakin jauh saya mengenal kepribadiannya, semakin dekat saya merasakan kegundahannya dalam karya. Tapi, bagi mereka yang belum mengenal dekat, tampak ada jarak yang menganga "lebar" antara spontanitas yang "arogan" dan diksi puisinya yang cenderung sufistik dan rendah hati? Bagi saya, ia adalah wajah tegar yang banyak memberi inspirasi.Pengalaman lain yang masih menyisakan sejuta tanya adalah ketika saya menemui Azyumardi Azra untuk meminta tanda tangan bukunya The Origins Of Islamic Reformism In Southeast Asia: Networks Of Malay-Indonesian & Middle Eastem "Ulama" In The Seventeenth And Eighteenth Centuries yang merupakan titipan guru besar saya di Malaysia. Tapi apa lacur, meskipun sudah menunggu di pintu masuk kantornya sedari pagi, saya harus menggigit jari karena ketika saya berhasil mencegat di pintu masuk seraya memulai dengan salam dan bertanya, "Pak, boleh minta tanda tangan untuk buku Bapak?", dengan wajah masam, Azra menjawab, "Apa sech!" dan berlalu begitu saja. Seketika itu, pesona pemikiran Azra yang bertebaran di sejumlah karyanya tentang Islam yang ramah, damai, dan menjunjung kemanusiaan menguap karena kekasarannya.

Tapi, saya masih menyisakan kesabaran dengan mengandaikan bahwa sosok yang saya temui adalah diri lain dari seorang yang bernama Azra. Bukankah pada setiap manusia terdapat alter-ego? Atau dalam bahasa psikoanalisis, tidakkah seorang individu boleh jadi mempunyai banyak wajah? Untuk itu, saya tetap mengejar dia ke ruang kantornya, meskipun saya tak bertemu langsung, tetap saya titipkan buku itu pada sekretarisnya untuk memintakan tanda tangan penulis produktif ini. Saya hanya memerlukan orang ini sebagai penulis buku, lain tidak.Berbeda dengan Chandra Muzaffar, pemikir muslim terkemuka negeri jiran, ketika saya meminta tanda tangan untuk bukunya Global Ethic of Global Hegemony. Dengan muka berseri dia menanyakan nama saya dan menuliskan for Ahmad with my best wishes. Tak pelak, saya menemukan garis yang jelas antara apa yang diucapkan dan yang dilakukannya. Kesinambungan ini menambah simpati saya kepada tokoh multidimensi ini.

Oh ya, pengalaman minta tanda tangan buku yang kuat menancap di benak adalah ketika saya menyodorkan Supernova pada penulisnya, Dewi "Dee" Lestari, dalam peluncuran novel tersebut di Lembaga Indonesia Perancis Jogjakarta. Tidak saja personel trio RSD (Rida Sita Dewi) ini menanyakan dengan lembut nama yang harus ditulis pada halaman judul buku, tetapi dia juga menebarkan sebaris senyum dan menguapkan aroma parfum yang membuat semerbak ruangan. Seakan-akan upacara tanda tangan ini melengkapi apa yang disampaikan sebelumnya tentang isi buku yang mencerminkan sosok penulis yang tahu bagaimana memaknai kemanusiaan.

Pemahaman yang Retak
Terus terang, empat peristiwa di atas mengantarkan saya pada pemahaman yang retak bahwa apa yang ditulis seorang pengarang kemungkinan berasal dari sebuah keyakinan, namun kemudian mengalami keterpecahan. Pertama, gagasan itu mewujudkan dalam tindakan. Kedua, ia hanya pengejawantahan dari sisi kognitif saja, belum menjadi sebuah keyakinan yang mampu menggerakkan si pengarang.Ada banyak kemungkinan mengapa gagasan para penulis tidak serta merta mewarnai tindak tanduk mereka. Boleh jadi, sebuah ide senantiasa selalu berada dalam ruang dan waktu yang berjarak dengan kenyataan. Tak jarang ia bersemai dalam ruang sepi. Bahkan, ada seorang pengarang yang mengabdikan sepenuhnya untuk sebuah sistem pengetahuan yangrumit tapi dalam kesehariannya ia menjalani hidup sendirian. Ya, Immanuel Kant yang tak pernah beranjak dari rumah dan taman kota, namun menulis dengan penuh meyakinkan tentang dunia di luar pengalamannya secara langsung. Bahkan, konon dia mampu menggambarkan deru ombak dengan sangat menyentuh, meskipun sebelumnya tak pernah melihat laut.

Cerita pengarang lain yang menunjukkan garis hubungan dengan pemikirannya adalah Nietzsche. Dia memberi perhatian yang utuh terhadap nasib manusia, sehingga dengan tanpa rasa takut mengumumkan Tuhan telah mati. Cinta kepada kemanusiaan ini bahkan ditunjukkan dalam penyebab tragis kegilaannya karena merasa terharu ketika melihat seekor binatang dipecut oleh sang sais kereta tanpa ampun. Jangankan kekejaman pada manusia, bahkan kekerasan pada binatang telah menggerakkan hatinya untuk membelanya sehingga ia hilang kesadaran.Sejatinya, memang mesti ada kesinambungan antara bahasa tulis dan tindakan. Sebab, tulisan adalah pemantapan dari bahasa lisan. Jika bicara menyalahi tindakan biasanya si pelaku dikatakan seorang hipokrit. Jadi, seyogyanya seorang penulis berhati-hati dengan apa yang telah ditorehkan dalam kertas, sebab ia menuntut untuk diwujudkan menjadi sebuah perbuatan nyata. Meminjam bahasa Rendra, perjuangan itu adalah melaksanakan kata-kata.

*) Ahmad Sahidah, mahasiswa PhD Ilmu Humaniora Universitas Sains Malaysia

[Sumber: Jawa Pos, 6 Mei 2007]

No comments: