Posts

Showing posts from April, 2010

Pengajian Mahasiswa dan Pekerja

Image
Sabtu pagi adalah acara rutin pengajian mahasiswa dan keluarga Indonesia di masjid Kampus. Ia tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga bertemu sesama warga. Tak perlu mengerutkan dahi, hal ihwal agama hanya perlu dicerna di hati. Lagipula, mereka hanya perlu mendengar, sambil sesekali berbisik antar teman. Jika penceramah melucu, mereka pun tertawa. Kadang konsentrasi buyar, anak kecil berlarian atau berceloteh. Belum lagi, seorang ibu harus keluar untuk menyuapi anaknya yang merengek karena lapar.

Merawat jamaah agar terus mengunjungi rumah ibadah ini memerlukan kesabaran dan keteguhan. Mereka telah berjasa menautkan banyak orang. Setiap individu telah membantu kegiatan ini, ada yang menyiapkan LCD dan komputer, memastikan penceramah dan tentu mengabarkan lewat media sosial atau email. Itupun tak semua datang. Sebagian sibuk, sebagian yang lain tak ada kabar. Atau, diam-diam pengajian itu tak menarik minat mereka untuk hadir.

Apa perlu sekali-kali panitia mengundang pendakwah be…

Membaca

Image
Anak kecil ini belum bisa berbicara, hanya suara samar yang belum berupa kata. Sepintas, ia sedang membuka buku. Namun, tak lama kemudian, anak berusia setahun ini mencopoti pelekat sebagai petanda bahwa halaman itu penting atau menarik. Lebih lama lagi, tangannya akan menyobek, sebagaimana telah dilakukan pada surat kabar yang 'dibacanya'. Mungkin, belum waktunya ia membaca, sehingga ikhtiar orang tuanya memberinya bacaan berakhir sia-sia.

Jika kalimat di atas tak diterakan, pelihat mungkin menerka sekecil itu bisa membaca. Malah jika diberikan penerang (caption), seorang anak sedang membaca novel Maryamah Karpov Andrea Hirata, siapa pun bisa memercayainya. Pendek kata, gambar-gambar yang berseliweran di sekitar kita menyimpan banyak kemungkinan pemaknaan. Ada banyak kehendak dalam gambar yang kadang tak sempat dinyatakan, malah ada sebagian yang disembunyikan. Namun apapun, membaca itu sejatinya keperluan yang tidak bisa ditunda.

Kegagalan membaca dengan baik telah membuat kea…

Jendela Surau

Image
Siang terik, namun Ali setia mengajak orang turun untuk sembahyang berjamaah. Untuk kali ini, saya pun turun. Sehabis shalat, sambil menarik napas, saya mengambil gambar tingkap. Dari sini, suara burung menyeruak masuk. Selain itu, gemericik air terdengar dari pipa mengucur ketika jamaah mengambil wudhu'. Kadang suara celotehan anak kecil yang menunggu di luar menyela.

Jendela terbuka. Meskipun tertutup, orang luar masih bisa melihat ke dalam karena transparan. Secara semiotik, ia bisa ditafsirkan tentang kebersamaan. Tak mungkin individu menjalin sapa jika menutup diri. Kehadiran penghuni flat yang berasal dari Timur Tengah membuat rumah ibadah ini bertambah marak dan tidak pengap, karena hampir setiap waktu, azan dikumandangkan. Malah, teman-teman Arab dari blok sebelah, kira-kira 300 meter, juga turut hadir untuk meramaikan. Secara bergantian mereka mengimami sembahyang.

Tanpa dirancang, azan Subuh sering diperdengarkan oleh Encik Yusuf. Tadi pagi, sebaris saf menunaikan shalat…

Razia dan Nasib TKI

Sumber: Surya, 27 April 2010
Ahmad Sahidah PhD
Fellow Peneliti Pascadoktoral di Universitas Sains Malaysia
Pemerintah Malaysia menangguhkan razia besar-besaran terhadap pendatang asing tanpa izin (PATI). Sedianya itu akan dilakukan pertengahan Februari, namun hingga sekarang niat itu tak juga dilaksanakan.Belajar dari penertiban beberapa tahun sebelumnya, ekses operasi ini menimbulkan ketegangan antara warga serumpun. Pasukan Rela (sukarelawan) yang dilibatkan kadang bertindak di luar kepatutan. Pihak imigrasi Malaysia juga akan melakukan tindakan keras terhadap majikan yang mempekerjakan pekerja tanpa dokumen. Keengganan majikan mempekerjakan orang lokal mendorong permintaan tenaga kerja asing hingga sekarang. Secara sporadis, petugas imigrasi melakukan penyisiran pendatang asing tanpa dokumen. Boleh dikatakan media cetak dan elektronik tidak pernah alpa memberitakan kasus penangkapan, yang tidak hanya menimpa warga Indonesia, tetapi juga Bangladesh, Pakistan, Myanmar, India, …

Sisa Basah Hujan

Image
Kemarin sore hujan deras. Butiran hujan yang tebal itu menandakan langit penuh, sehingga tumpah meruah. Di balik kaca, saya melihat awan gelap. Selalu saja, keadaan seperti ini menyenangkan. Esok, gumam dalam batin, semoga pagi akan cerah dan menerakan sisa basah. Ternyat benar, hari ini, ketika matahari naik sepenggalah, suasana kampus dan jalan tampak tentram, seperti nampak dalam gambar. Selalu saja saya riang melewati lorong berbatas bebatuan berwarna hitam putih dan rerumputan. Di sebelahnya, tempat pejalan kaki menelusuri taman. Ya, kampus yang didirikan tahun 1969 ini menjadikan motto Kampus dalam Taman sebagai penanda.

Kotak surat berwarna oranye itu sudah tak lagi basah. Demikian pula, warnanya masih cerah. Di tengah zaman orang beremail ria, ternyata surat manual masih berjalan. Nyatanya begitu. Kemarin, saya ke kantor pos kampus, masih banyak orang menggunakan layanan pos untuk bertukar sapa. Namun kebanyakan untuk keperluan pengiriman barang dan surat lamaran. Apatah lagi,…

Percampuran

Image
Adakah satu masyarakat murni? Sehingga, seorang tokoh, semisal Hitler, berusaha untuk menghilangkan orang lain untuk sebuah keaslian ras Aria? Jawabannya tidak. Hanya orang yang berpikir gelap mata meyakini sebuah keunggulan satu kaum atas yang lain. Sebuah petikan dari gambar di atas menjelaskan bahwa pertemuan itu sebenarnya keindahan, sementara pengakuan kesucian itu tak lebih dari bualan. Memang, dalam usianya yang sudah tua, manusia masih dikelompokkan sesuai identitas unik, yang kadang memerangkap mereka pada perseteruan.

Sebagaimana diterakan di dalam gambar, masyarakat minoritas India yang mempraktikkan kebudayaan Melayu disebut Chetti. Secara verbal, mereka berpakaian sebagaimana kebanyakan orang Melayu, seperti kebaya, yang juga diamalkan oleh bangsa Tionghoa peranakan. Namun demikian, mereka tetap menganut kepercayaan asalnya masing-masing. Namun, dari keberterimaan inilah ruang dan pertukaran komunikasi terjalin. Ada tanda-tanda yang bisa merekatkan, ada pula yang menjarakk…

Bangunan Minimalis

Image
Saya menyukai bentuk bangunan teranyar di kampus, selain minimalis, warna coklatnya nyaman di mata. Sebentar lagi, ia akan menjadi tempat tambahan baru bagi penggila buku. Perpustakaan lama tak lagi mampu menampung koleksi, sehingga perlu ruang baru. Dengan berbentuk persegi, bangunan ini betul-betul memaksimalkan ruang, agar tidak terbuang sia-sia. Karena berada di kemiringan, bangunan ini menyisakan ruang paling bawah yang dimanfaatkan untuk tempat santai. Coba lihat kursi dan meja yang dipasang yang berwarna biru dan putih.

Sebelumnya, tapak gedung ini adalah lahan kosong, hanya rumput dan pepohonan mengisi ruang. Saya sempat menanyakan hal ini pada rektor pada sebuah pertemuan sastera remaja di Dewan Budaya tentang kelestarian lingkungan jika gedung batu menyesaki kampus. Dengan lugas dia menjawab bahwa universitas memerlukan perpustakaan. Namun demikian, pengelola kampus akan memerhatikan keperluan penghuni kampus terhadap lingkungan asri. Malah, tambahnya, ia telah memperhitungka…

Mengenal Petromaks

Image
Lampu petromaks ini diambil dari dari Pameran Warisan Peranakan Tionghoa Asia Tenggara di perpustakaan Hamzah Sendut 1. Sebenarnya di pojok lain juga diperlihatkan pelbagai peralatan rumah tangga, namun gambar yang satu ini menyengat perhatian saya. Dalam peluncuran koleksi ini, ada banyak peninggalan Peranakan Tionghoa, seperti Sam-Sam, Jawi, Cetti dipamerkan. Meski mereka 'orang lain', tetapi percampuran dengan kebudayaan lain mengandaikan pertemuan dua pandangan hidup.

Mengenai lampu di atas, saya menemukan tulisan pada tutup berwarna putih made in Germany, sedangkan di tabung tempat minyak tanah tertera made in Sweden. Berbeda dengan petromaks di kampung saya, kebanyakan buatan China. Pada tahun 1980-an, ia boleh dikatakan termasuk barang mewah. Selain memerlukan biaya mahal, seperti kaos lampu, seingat saya bermerek kupu-kupu, dan boros minyak tanah, dibandingkan pelita kecil yang tahan hingga pagi. Sementara, petromak itu hanya dinyakan hingga jam 9-10 malam. Kehadirannya…

Lontara dan Jawi

Image
Dua bahasa bersanding, lontara dan jawi, yang menceritakan tentang Syekh Yusuf al-Makassari. Keduanya mempunyai daya magis masing-masing. Namun, teraan itu tak bermakna jika kandungannya tak diurai. Di tangan sarjana, makam itu tak sebatas tempat bersemayam sang tokoh, tetapi juga menyimpan banyak cerita. Ia tak melulu tentang alam sana, tetapi juga di sini. Jelas, keberadaannya mengandaikan dua wajah manusia, jiwa dan raga.

Lontara itu seperti huruf paku Mesir kuno. Saya tak juga ingin mencari tahu bagaimana mengungkap cerita dari deretan huruf yang membuat kepala berdenyut. Bahkan, tulisan Jawi yang saya akrab pun memaksa kening berkerut karena standar penulisan yang tidak sama. Lagi pula, teraan di batu pualam itu hanya berisi kronologi sang tokoh, bukan ajarannya, jadi tak perlu memaksa diri untuk membaca berkali-kali. Tahun-tahun itu hanya penanda bahwa ada proses panjang sehingga Syekh Yusuf akhirnya berpulang ke alam baqa.

Samar-samar tebersit di benak, adakah perjalanan saya aka…

Makam Keramat

Image
TV 3 menyiarkan bentrokan antara masyarakat dan satuan polisi pamong praja, di sana disebut penguat kuasa, karena masing-masing kelompok berebut makam Mbak Priok, yang satu mempertahankan dan yang lain ingin membongkar untuk penataan lahan. Hari ini, hampir semua koran lokal di Malaysia juga menurunkan berita yang sama. Peristiwa tragis yang memalukan. Lalu, apa sebenarnya yang ingin diperebutkan? Kesalehan atau keteraturan?

Pengalaman saya mengunjungi makam keramat Syekh Yusuf Makassar justeru menampilkan suasana yang berbeda. Memang, ada beberapa pengunjung luar yang datang untuk berziarah dan melafazkan doa. Namun, sejumlah anak kecil menjadilan lahan petilasan sang tokoh tidak lagi 'magis' karena dijadikan tempat bermain bola. Malah jalan beraspal di depan makam tergerus oleh air, lobang di mana-mana. Bahkan di ruangan khusus sang pahlawan ditempel gambar tokoh politik lokal. Tak ada yang menyergah agar lokasi itu tak diganggu tangan-tangan yang mempunyai kepentingan duniaw…

Citra Luaran

Image
Dalam kotak di atas terdapat beberapa jajanan pasar, kue tradisional, atau apa pun namanya. Ia dibuat dari bahan lokal, seperti pisang, beras ketan, dan gula. Biasanya, kalau kita membeli jajanan seperti ini, penjual hanya membungkusnya dengan plastik, kresek. Namun, setelah memakai kotak yang bagus, nilai jualnya meninggi. Ia bisa hadir di sebuah pertemuan resmi dan tuan rumah tampak lebih percaya diri. Lagi pula, air kemasan gelas juga disertakan untuk menghemat ruang dan pekerjaan. Petugas hanya sekali singgah di depan meja. Urusan selesai.

Lalu, apa kemudian usai? Tidak. Citra yang ingin ditampilkan itu harus dibayar mahal. Selain mengeluarkan biaya untuk membeli bungkus, kita juga harus menggunakan kertas sekali pakai. Beda misalnya jika kita menggunakan piring untuk wadah kue, kita telah mengurangi penggunaan bungkus dari bubur kayu itu. Apa lacur, kita selalu bergegas, ingin mudah dan tak mau susah. Jadi, kegagalan kita merawat lingkungan hakikatnya kehendak ingin tampil keren. …

Warna Surau

Setelah pengurus surau tak lagi menetapkan imam sembahyang, para jamaah bergantian memimpin shalat. Satu sama lain kadang saling mengelak. Namun, boleh dikatakan ada beberapa orang yang selalu mengambil posisi terdepan. Lucunya, ketika seorang penduduk lokal diminta menjadi imam, ia pun mengelak sambil berujar, “ I’m not Arab”, pada anggota jamaah yang kebetulan orang Arab, mahasiswa asal Yaman, yang juga sama-sama tinggal di flat. Diam-diam, kami ‘Melayu’ merasa orang Timur Tengah lebih layak untuk memimpin shalat.

Namun tak semua, mahasiswa Arab itu mau menjadi imam. Ada salah satu dari mereka yang rajin mengumandangkan azan dan iqamah, tanda shalat akan ditunaikan. Kehadirannya telah membuat surut kami tak roboh, meminjam judul cerita pendek terkenal AA Navis, sastrawan asal Minangkabau, Sumatera Barat. Bagaimana tidak, ia juga menghidupkan Zuhur dan Ashar, yang sebelumnya sepi, karena penghuninya pergi bekerja atau belajar. Hebatnya lagi, ia juga acapkali membawa dua anak perempuan…

Mengaji di Masjid Tertua

Image
Pertama kali menginjak kaki di Masjid tertua di Sulawesi Selatan (1603M), saya menemukan pemandangan di atas, anak-anak belajar membaca al-Qur'an. Tiba-tiba saya merasa disergap keharuan, karena masjid yang telah renta itu menjadi hidup dengan reriuhan anak-anak kecil. Namanya juga anak-anak, sang ustazah acapkali berteriak agar mereka diam dan tertib. Kedatangan kami mencuri perhatian mereka.

Sayangnya, kami tidak bisa bersembahyang di dalam masjid, karena maghrib belum tiba. Pengurus masjid tak ada di tempat. Untuk itu, kami pun beranjak menunaikan shalat ashar di Masjid baru, Syekh Yusuf, tak jauh dari lokasi makan keturunan Raja Goa ini. Mungkin karena bukan hari libur, Kamis, tempat bersejarah ini tak dikunjungi pelancong atawa wisatawan. Hebatnya, sebagian makam keluarga raja yang berada di halaman masjid ditutup dengan bangunan berbentuk piramid. Saya tak tahu apakah ini diilhami dari kebudayaan Mesir kuno.

Mengingat keturunan raja Goa tersebat di seantero dunia, sepatutnya …

Memoles Kota Makassar

Image
Selasa, 6 April 2010 | 01:09 WITA Keingintahuan pelancong masa kini tidak lagi sebatas artifak, tetapi juga cerita yang ada di balik peninggalan bersejarah. Misalnya, ketika kami mengunjung benteng Rotterdam, guide yang bertugas di situ menerangkan hal ihwal gedung bekas pertahanan Belanda secara terperinci. Kepiawaian bercerita petugas membuat benda-benda mati itu seakan-akan berbicara pada pengunjung Cik Najwa, dosen di Kolej Universiti Islam Selangor, tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya menemukan kembali jejak nenek moyangnya, Bugis. Dalam sesi seminar internasional Wacana Ilmiah Muslim se-ASEAN di Universitas Muhammadiyah Makasar, 29-31 Maret 2010, lajang asal negeri Semenanjung ini menyelipkan informasi bahwa Sultan Selangor, Syarafuddin Syah adalah keturunan Bugis dan termasuk dirinya.Pengakuan yang terakhir memantik tawa peserta seminar. Bahkan, ketika melakukan kunjungan ke Musium Port Rotterdam, ia tampak tepekur mendengarkan pemandu (guide) yang menjelaskan…