Thursday, April 29, 2010

Pengajian Mahasiswa dan Pekerja

Sabtu pagi adalah acara rutin pengajian mahasiswa dan keluarga Indonesia di masjid Kampus. Ia tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga bertemu sesama warga. Tak perlu mengerutkan dahi, hal ihwal agama hanya perlu dicerna di hati. Lagipula, mereka hanya perlu mendengar, sambil sesekali berbisik antar teman. Jika penceramah melucu, mereka pun tertawa. Kadang konsentrasi buyar, anak kecil berlarian atau berceloteh. Belum lagi, seorang ibu harus keluar untuk menyuapi anaknya yang merengek karena lapar.

Merawat jamaah agar terus mengunjungi rumah ibadah ini memerlukan kesabaran dan keteguhan. Mereka telah berjasa menautkan banyak orang. Setiap individu telah membantu kegiatan ini, ada yang menyiapkan LCD dan komputer, memastikan penceramah dan tentu mengabarkan lewat media sosial atau email. Itupun tak semua datang. Sebagian sibuk, sebagian yang lain tak ada kabar. Atau, diam-diam pengajian itu tak menarik minat mereka untuk hadir.

Apa perlu sekali-kali panitia mengundang pendakwah beken, seperti Aa Gym, Ustaz Jefri, atau Bang Haji? Mungkin. Pasti, yang hadir membludak. Sayangnya, biaya untuk kegiatan semacam ini begitu besar. Rasanya kegiatan itu tetap seperti sedia kala. Segelintir yang datang, namun senantiasa wujud. Toh, sebelum dan sesudah pengajian, mereka akan bertemu banyak orang. Nah, semangat pengajian itulah yang akan memancar, bahwa hidup itu akan terasa nyaman dengan tegur sapa, kebaikan, dan kebersamaan.

Kehadiran pekerja Indonesia tentu menambah poin dari kegiatan mahasiswa ini. Sayangnya, hanya pekerja perempuan, sementara lelaki belum tampak batang hidungnya. Selagi napas kegiatan ini berdenyut, ikhtiar untuk mengasup pelajaran membuncah. Setiap orang tentu mengail hikmah yang berbeda. Malah, akibat lain bisa hadir, seperti tukar menukar informasi, menemukan teman baru, dan menambah data baru tentang perubahan kecenderungan keberagamaan. Pendek kata, tatap muka itu membuka banyak kemungkinan, yang tak ditemukan persuaan di telepon genggam atau sejenisnya.

Wednesday, April 28, 2010

Membaca


Anak kecil ini belum bisa berbicara, hanya suara samar yang belum berupa kata. Sepintas, ia sedang membuka buku. Namun, tak lama kemudian, anak berusia setahun ini mencopoti pelekat sebagai petanda bahwa halaman itu penting atau menarik. Lebih lama lagi, tangannya akan menyobek, sebagaimana telah dilakukan pada surat kabar yang 'dibacanya'. Mungkin, belum waktunya ia membaca, sehingga ikhtiar orang tuanya memberinya bacaan berakhir sia-sia.

Jika kalimat di atas tak diterakan, pelihat mungkin menerka sekecil itu bisa membaca. Malah jika diberikan penerang (caption), seorang anak sedang membaca novel Maryamah Karpov Andrea Hirata, siapa pun bisa memercayainya. Pendek kata, gambar-gambar yang berseliweran di sekitar kita menyimpan banyak kemungkinan pemaknaan. Ada banyak kehendak dalam gambar yang kadang tak sempat dinyatakan, malah ada sebagian yang disembunyikan. Namun apapun, membaca itu sejatinya keperluan yang tidak bisa ditunda.

Kegagalan membaca dengan baik telah membuat keadaan centang perenang. Pada waktu yang sama, membaca itu dibuka dengan sebuah keyakinan terhadap produksi makna yang riskan berbeda satu sama lain. Jika ini yang menjadi kepercayaan, kita pun senang, tak perlu merengut hanya karena orang lain memberikan tafsir yang tak sama. Kekusutan itu pun bisa diurai. Perbedaan itu pun tak menjadi penghalang.

Tuesday, April 27, 2010

Jendela Surau

Siang terik, namun Ali setia mengajak orang turun untuk sembahyang berjamaah. Untuk kali ini, saya pun turun. Sehabis shalat, sambil menarik napas, saya mengambil gambar tingkap. Dari sini, suara burung menyeruak masuk. Selain itu, gemericik air terdengar dari pipa mengucur ketika jamaah mengambil wudhu'. Kadang suara celotehan anak kecil yang menunggu di luar menyela.

Jendela terbuka. Meskipun tertutup, orang luar masih bisa melihat ke dalam karena transparan. Secara semiotik, ia bisa ditafsirkan tentang kebersamaan. Tak mungkin individu menjalin sapa jika menutup diri. Kehadiran penghuni flat yang berasal dari Timur Tengah membuat rumah ibadah ini bertambah marak dan tidak pengap, karena hampir setiap waktu, azan dikumandangkan. Malah, teman-teman Arab dari blok sebelah, kira-kira 300 meter, juga turut hadir untuk meramaikan. Secara bergantian mereka mengimami sembahyang.

Tanpa dirancang, azan Subuh sering diperdengarkan oleh Encik Yusuf. Tadi pagi, sebaris saf menunaikan shalat pagi, yang sebagian besar warga flat yang berasal dari Timur Tengah, seperti Yaman dan Iraq. Jarum jam menunggu angka enam. Tentu bagi warga Indonesia bagian Barat, kewajiban ini tak berat, karena waktu sebegini alam mulai terang. Malah, sebagian lain sudah bergegas berangkat ke tempat kerja. Artinya, jam tubuh mereka telah terbiasa, sehingga berjamaah subuh di Pulau Pinang bukan sesuatu yang menyusahkan.

Bagaiamanapun, bangun pagi adalah kesempatan untuk mewujudkan pertemuan dengan orang-orang yang berusaha menemui Tuhannya. Mereka datang hanya dengan baju yang melekat di tubuhnya. Tak ada pernak pernik yang menunjukkan sebuah identitas dan kelas. Shalat Subuh pada waktunya memberi kesempatan untuk mereguk udara yang masih bersih dan nyanyian burung terdengar jernih. Tambahan pula, semakin awal menjaring matahari, semakin banyak pula persiapan untuk menjalani hari. Bayangkan kalau bangun terlambat, selain tak sempat memerinci apa yang dilakukan pada hari itu, ketergesaan telah membuka perangkap untuk terjatuh dan lupa.

Razia dan Nasib TKI

Sumber: Surya, 27 April 2010

Ahmad Sahidah PhD
Fellow Peneliti Pascadoktoral di Universitas Sains Malaysia

Pemerintah Malaysia menangguhkan razia besar-besaran terhadap pendatang asing tanpa izin (PATI). Sedianya itu akan dilakukan pertengahan Februari, namun hingga sekarang niat itu tak juga dilaksanakan.

Belajar dari penertiban beberapa tahun sebelumnya, ekses operasi ini menimbulkan ketegangan antara warga serumpun. Pasukan Rela (sukarelawan) yang dilibatkan kadang bertindak di luar kepatutan. Pihak imigrasi Malaysia juga akan melakukan tindakan keras terhadap majikan yang mempekerjakan pekerja tanpa dokumen. Keengganan majikan mempekerjakan orang lokal mendorong permintaan tenaga kerja asing hingga sekarang.

Secara sporadis, petugas imigrasi melakukan penyisiran pendatang asing tanpa dokumen. Boleh dikatakan media cetak dan elektronik tidak pernah alpa memberitakan kasus penangkapan, yang tidak hanya menimpa warga Indonesia, tetapi juga Bangladesh, Pakistan, Myanmar, India, dan China. Namun demikian, pekerja Indonesia menempati urutan teratas, mengingat jumlahnya yang paling besar.

Melalui perwakilan RI, seperti konsulat, pemerintah melakukan langkah proaktif sejak 26 Februari-14 Mei untuk mendorong warga mengurus Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP). Menurut Irzani Ratni, Sekretaris Pertama, Konsulat Jenderal RI Pulau Pinang, pihaknya telah memasuki kantong-kantong warga Indonesia untuk memberikan penerangan tentang razia TKI.

Pada era Megawati, penundaan dilakukan karena permintaan resmi pemerintah RI dengan alasan penyelenggaraan pemilihan umum. Atas nama hubungan baik, Kuala Lumpur mengabulkan. Pada masa itu juga, presiden ke-5 itu membentuk gugus tugas untuk membantu pemulangan TKI yang bermasalah. Tidak hanya agar pemulangan tidak amburadul, pemerintah juga mengeluarkan uang untuk berbagi ongkos pemulangan. Sekarang, tak ada gugus tugas untuk menyambut pahlawan devisa. Untuk menyambut pahlawan devisa kali ini, departemen terkait telah siap, tanpa harus menghebohkan di media.

Antisipasi

Sebagian ada yang mengaitkan tindakan Malaysia tersebut sebagai reaksi terhadap sikap keras pemerintah Indonesia berkait dengan penghentian pengiriman tenaga kerja rumah tangga. Keputusan ini telah membuat kikuk Departemen Sumber Manusia di sana, karena M Subramaniam, menteri yang bertanggung jawab, harus menghadapi tuntutan banyak agensi tenaga kerja lokal yang menanggung kerugian.

Pihak Indonesia beralasan, selagi perlakuan terhadap pembantu Indonesia tidak membaik, maka pengiriman tenaga kerja tata laksana rumah tangga ini dihentikan sementara. Tak hanya itu, wakil Indonesia juga meminta syarat lain, seperti gaji RM 800, cuti sehari dalam seminggu dan paspor dipegang yang bersangkutan, bukan majikan.

Televisi lokal di negeri tetangga pun mengulas tuntutan itu. Respons kebanyakan masyarakat menolak. Permintaan gaji pembantu rumah tangga terlalu tinggi. Kebanyakan majikan keberatan karena gaji bersih pembantu sebenarnya cukup besar. Bagaimanapun, mereka tidak dibebani sewa rumah, rekening listrik, dan makan.

Tentang cuti dan paspor, majikan khawatir mereka akan lari. Sindikat kadang-kadang mengiming-imingi gaji lebih besar jika mereka mau bekerja di tempat lain. Di sinilah, praktik perdagangan manusia bisa terjadi.

Pihak perwakilan RI memastikan bahwa buruh migran yang bekerja sebagai pembantu dicek keberadaannya melalui agensi penerima. Ini tidak sulit karena data majikan tersimpan rapi. Apalagi, pihak Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur telah menetapkan bahwa sebelum bekerja, para buruh migran harus melaporkan diri ke kedutaan untuk mendapatkan penjelasan dan pendataan. Pertanggungjawaban ini tentu langkah maju untuk memastikan keselamatan pekerja bersangkutan. Memang tidak dinafikan bahwa hanya segelintir orang yang mendapatkan perlakuan sewenang-wenang, namun tindakan semacam ini tentu tidak bisa dibiarkan.

Kerja Sama

Dua kepentingan berbeda ini harus segera diselesaikan. Sejatinya Presiden Persatuan Agensi Pembantu Rumah Asing (PAPA) Malaysia, Zulkepley Dahalan, menegaskan dalam sebuah sarasehan bahwa UU terkait tenaga kerja Indonesia telah cukup terperinci untuk membuat buruh migran bekerja dengan nyaman. Asal aparat di lapangan setia dengan peraturan, tindakan sewenang-wenang bisa dihindari. Sarasehan yang digelar oleh Persatuan Pelajar Indonesia Universitas Sains Malaysia ini menghasilkan kesepakatan bahwa penyelesaian masalah tenaga kerja harus mengutamakan hubungan harmonis kedua negara serumpun.

Sebenarnya Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) yang didirikan khusus oleh presiden memungkinkan pengawasan menyeluruh terhadap kepentingan TKI di luar negeri. Yang perlu diperhatikan adalah ekses yang tak dinginkan dari razia besar-besaran. Seperti diketahui, ratusan ribu pendatang Indonesia tidak memiliki dokumen. Tentu ini bukan pernyataan yang berlebihan. Saya pernah bertugas melakukan pendataan warga RI untuk pemilu 2009. Ada banyak warga Indonesia yang tidak memiliki dokumen perjalanan, bahkan tidak mengantongi KTP.

Untuk menghindari ketegangan, sepatutnya kedua negara bersama-sama mengawal operasi ini. Meskipun pihak yang berwenang untuk melakukan operasi ini adalah Kementerian Dalam Negeri Malaysia, pihak Indonesia bisa turut memantau untuk memastikan proses itu berjalan baik. Demikian juga, media kedua negara harus dengan jeli memaparkan yang sebenarnya terjadi. Ini untuk menghindari kesalahpahaman. Bagaimanapun, hubungan keduanya harus mengandaikan kerja sama yang lebih luas.

Apatah lagi, Dai Bachtiar, Duta Besar RI di Kuala Lumpur, pernah menyatakan dalam wawancara TV 3 bahwa hubungan kedua negara adalah harga mati. Pernyataan tersebut adalah penegasan SBY yang disampaikan ketika mengunjungi rekannya, Najib Tun Razak, tak lama setelah dilantik sebagai presiden untuk kali kedua.n

Monday, April 26, 2010

Sisa Basah Hujan


Kemarin sore hujan deras. Butiran hujan yang tebal itu menandakan langit penuh, sehingga tumpah meruah. Di balik kaca, saya melihat awan gelap. Selalu saja, keadaan seperti ini menyenangkan. Esok, gumam dalam batin, semoga pagi akan cerah dan menerakan sisa basah. Ternyat benar, hari ini, ketika matahari naik sepenggalah, suasana kampus dan jalan tampak tentram, seperti nampak dalam gambar. Selalu saja saya riang melewati lorong berbatas bebatuan berwarna hitam putih dan rerumputan. Di sebelahnya, tempat pejalan kaki menelusuri taman. Ya, kampus yang didirikan tahun 1969 ini menjadikan motto Kampus dalam Taman sebagai penanda.

Kotak surat berwarna oranye itu sudah tak lagi basah. Demikian pula, warnanya masih cerah. Di tengah zaman orang beremail ria, ternyata surat manual masih berjalan. Nyatanya begitu. Kemarin, saya ke kantor pos kampus, masih banyak orang menggunakan layanan pos untuk bertukar sapa. Namun kebanyakan untuk keperluan pengiriman barang dan surat lamaran. Apatah lagi, ia tidak hanya melayani surat-menyurat, namun juga tempat pembayaran tagihan, seperti air, listerik, tv kabel (Astro), pajak kendaraan bermotor dan pengiriman uang Western Union.

Sisa basah sangat ketara pada hijau dedaunan. Jika kemarau menerma, banyak pohon meranggas, gersang. Ternyata, hujan itu mendatangkan berkah karena daun itu mendapatkan makanan. Ya, warna hijau dan putik yang segar bersemburat diterpa sinar pagi. Herannya, nyanyian burung selepas hujan terdengar lebih jernih. Mungkin mereka juga riang karena panas belakangan ini tak lagi membakar tubuhnya. Jika kenikmatan sesederhana ini, mungkin keluh kesah manusia tak perlu berhampuran di ruang udara.

Lagi-lagi, jauh dari sekadar basah. Hujan yang turun justeru memantik kaki untuk berjalan. Dengan payung di tangan, saya menggunakan sandal (bahasa Malaysia selipar, dari bahasa Inggeris slipper) menyusuri jalanan berkonblok dan beraspal. Suasana kampus bertambah sahdu karena pepohonan tak lagi pilu. Mempari dan Semarak Api itu tak bisa menyembunyikan keriangannya. Mungkin tak perlu lama, air yang tercurah dari langit itu hanya perlu membuat rumput bergeliat, naik dan dedaunan pohon tak gundul. Alahai, mendung ini membuat udara basah, mengenyah gundah.

Sunday, April 25, 2010

Percampuran

Adakah satu masyarakat murni? Sehingga, seorang tokoh, semisal Hitler, berusaha untuk menghilangkan orang lain untuk sebuah keaslian ras Aria? Jawabannya tidak. Hanya orang yang berpikir gelap mata meyakini sebuah keunggulan satu kaum atas yang lain. Sebuah petikan dari gambar di atas menjelaskan bahwa pertemuan itu sebenarnya keindahan, sementara pengakuan kesucian itu tak lebih dari bualan. Memang, dalam usianya yang sudah tua, manusia masih dikelompokkan sesuai identitas unik, yang kadang memerangkap mereka pada perseteruan.

Sebagaimana diterakan di dalam gambar, masyarakat minoritas India yang mempraktikkan kebudayaan Melayu disebut Chetti. Secara verbal, mereka berpakaian sebagaimana kebanyakan orang Melayu, seperti kebaya, yang juga diamalkan oleh bangsa Tionghoa peranakan. Namun demikian, mereka tetap menganut kepercayaan asalnya masing-masing. Namun, dari keberterimaan inilah ruang dan pertukaran komunikasi terjalin. Ada tanda-tanda yang bisa merekatkan, ada pula yang menjarakkan. Tinggal memilih salah satunya, manusia akan memberikan makna pada perjalanan hidupnya.

Namun lebih dari sekadar tanda-tanda luar, makna tersirat dari kebudayaan sebenarnya ingin menyampaikan bahwa aksesoris yang menempel pada tubuh manusia itu bersifat sementara. Keadaan sosial budaya tempat mereka lahir mendorong masyarakatnya untuk menjadikan penanda itu sebagai identitas. Percampuran simbol itu membuat lahirnya keunikan baru. Ini bisa ditafsirkan sebagai pertemuan suasana, yang akhirnya membuat satu sama lain saling berbicara, bukan memendam lara. Haruskah umur yang sekejap ini dihabiskan untuk bertukar nestapa?

Friday, April 23, 2010

Bangunan Minimalis


Saya menyukai bentuk bangunan teranyar di kampus, selain minimalis, warna coklatnya nyaman di mata. Sebentar lagi, ia akan menjadi tempat tambahan baru bagi penggila buku. Perpustakaan lama tak lagi mampu menampung koleksi, sehingga perlu ruang baru. Dengan berbentuk persegi, bangunan ini betul-betul memaksimalkan ruang, agar tidak terbuang sia-sia. Karena berada di kemiringan, bangunan ini menyisakan ruang paling bawah yang dimanfaatkan untuk tempat santai. Coba lihat kursi dan meja yang dipasang yang berwarna biru dan putih.

Sebelumnya, tapak gedung ini adalah lahan kosong, hanya rumput dan pepohonan mengisi ruang. Saya sempat menanyakan hal ini pada rektor pada sebuah pertemuan sastera remaja di Dewan Budaya tentang kelestarian lingkungan jika gedung batu menyesaki kampus. Dengan lugas dia menjawab bahwa universitas memerlukan perpustakaan. Namun demikian, pengelola kampus akan memerhatikan keperluan penghuni kampus terhadap lingkungan asri. Malah, tambahnya, ia telah memperhitungkan berapa pohon yang diperlukan untuk jumlah mahasiswa dan warga civitas academica yang lain agar mereka bisa mereguk udara dengan nyaman.

Demikian pula, aksesoris yang yang menempel dengan pola garis-garis memperlihatkan ketegasan. Sementara di puncak terdapat atap yang membuat suasana nyaman karena ada semacam perasaan terlindungi. Bukankan penaung itu berfungsi untuk menahan terik? Sebenarnya, ada banyak sisi-sisi menarik di lain tempat, namun tak mungkin gambar dari satu sudut bisa mengungkap seluruh. Hal menarik selain hal ihwal bangunan, pekerja Indonesia yang turut bekerja untuk menyelesaikan gedung ini kadang memakai kaos partai politik, tidak hanya Demokrat, tetapi juga partai lokal. Menarik bukan?

Thursday, April 22, 2010

Mengenal Petromaks


Lampu petromaks ini diambil dari dari Pameran Warisan Peranakan Tionghoa Asia Tenggara di perpustakaan Hamzah Sendut 1. Sebenarnya di pojok lain juga diperlihatkan pelbagai peralatan rumah tangga, namun gambar yang satu ini menyengat perhatian saya. Dalam peluncuran koleksi ini, ada banyak peninggalan Peranakan Tionghoa, seperti Sam-Sam, Jawi, Cetti dipamerkan. Meski mereka 'orang lain', tetapi percampuran dengan kebudayaan lain mengandaikan pertemuan dua pandangan hidup.

Mengenai lampu di atas, saya menemukan tulisan pada tutup berwarna putih made in Germany, sedangkan di tabung tempat minyak tanah tertera made in Sweden. Berbeda dengan petromaks di kampung saya, kebanyakan buatan China. Pada tahun 1980-an, ia boleh dikatakan termasuk barang mewah. Selain memerlukan biaya mahal, seperti kaos lampu, seingat saya bermerek kupu-kupu, dan boros minyak tanah, dibandingkan pelita kecil yang tahan hingga pagi. Sementara, petromak itu hanya dinyakan hingga jam 9-10 malam. Kehadirannya mengundang decak kagum banyak orang. Ia menggantikan sinar rembulan ketika sang bulan itu tak muncul.

Karena banyak pengguna, salah seorang di kampung membuka bengkel untuk petromaks. Selain pintar memperbaiki lampu ini, ia juga berperan sebagai imam masjid, yang selalu memimpin sembahyang dan membacakan tarhim di dua pertiga malam, menjelang subuh. Keahlian yang terakhir ini sekarang diturunkan pada anaknya, yang sekaligus guru madrasah saya. Setelah petromaks menghilang, hanya bacaan tarhim itulah yang menyeret saya ke masa silam ketika menikmati liburan di kampung. Masjid yang dulu berdiri tegak telah berubah total, tak secuilpun menyisakan aura lama. Menara, tempat beduk ditabuh, yang menjadi pintu masuk juga dibongkar. Pendek kata, ingatan tentang masjid kuno sama sekali tak berbekas, sebagaimana lampu listrik menggantikan petromaks.

Monday, April 19, 2010

Lontara dan Jawi


Dua bahasa bersanding, lontara dan jawi, yang menceritakan tentang Syekh Yusuf al-Makassari. Keduanya mempunyai daya magis masing-masing. Namun, teraan itu tak bermakna jika kandungannya tak diurai. Di tangan sarjana, makam itu tak sebatas tempat bersemayam sang tokoh, tetapi juga menyimpan banyak cerita. Ia tak melulu tentang alam sana, tetapi juga di sini. Jelas, keberadaannya mengandaikan dua wajah manusia, jiwa dan raga.

Lontara itu seperti huruf paku Mesir kuno. Saya tak juga ingin mencari tahu bagaimana mengungkap cerita dari deretan huruf yang membuat kepala berdenyut. Bahkan, tulisan Jawi yang saya akrab pun memaksa kening berkerut karena standar penulisan yang tidak sama. Lagi pula, teraan di batu pualam itu hanya berisi kronologi sang tokoh, bukan ajarannya, jadi tak perlu memaksa diri untuk membaca berkali-kali. Tahun-tahun itu hanya penanda bahwa ada proses panjang sehingga Syekh Yusuf akhirnya berpulang ke alam baqa.

Samar-samar tebersit di benak, adakah perjalanan saya akan diperlakukan serupa? Kehendak untuk dirayakan mungkin bukan keinginan Syekh Yusuf. Menantu Sultan Ageng Tirtayasa ini sepenuh hati berbuat kebaikan tanpa pamrih, oleh karena itu sejarah mencatatnya dengan jernih bahwa sumbangannya pada kemanusiaan patut dirayakan.

Thursday, April 15, 2010

Makam Keramat


TV 3 menyiarkan bentrokan antara masyarakat dan satuan polisi pamong praja, di sana disebut penguat kuasa, karena masing-masing kelompok berebut makam Mbak Priok, yang satu mempertahankan dan yang lain ingin membongkar untuk penataan lahan. Hari ini, hampir semua koran lokal di Malaysia juga menurunkan berita yang sama. Peristiwa tragis yang memalukan. Lalu, apa sebenarnya yang ingin diperebutkan? Kesalehan atau keteraturan?

Pengalaman saya mengunjungi makam keramat Syekh Yusuf Makassar justeru menampilkan suasana yang berbeda. Memang, ada beberapa pengunjung luar yang datang untuk berziarah dan melafazkan doa. Namun, sejumlah anak kecil menjadilan lahan petilasan sang tokoh tidak lagi 'magis' karena dijadikan tempat bermain bola. Malah jalan beraspal di depan makam tergerus oleh air, lobang di mana-mana. Bahkan di ruangan khusus sang pahlawan ditempel gambar tokoh politik lokal. Tak ada yang menyergah agar lokasi itu tak diganggu tangan-tangan yang mempunyai kepentingan duniawi.

Lalu, mengapa makam di Tanjung Priok itu begitu disucikan sehingga begitu banyak warga bertahan untuk menjaga agar tak tergusur? Kehadiran para tokoh agama, pegiat dan warga untuk membaca doa seakan-akan menegaskan betapa pentingnya situs tersebut. Malangnya, gelar al-arif untuk Hasan bin Muhammad al-Hadad tak tecermin dari prilaku warga yang membelanya. Penjarahan dan pengrusakan meruyak untuk menumpahkan kekesalan. Mungkin di alam sana, beliau tak habis pikir mengapa kekerasan meletus di rumahnya yang seharusnya hanya doa-doa dipanjatkan, bukan teriakan yang menyalak.

Tuesday, April 13, 2010

Citra Luaran

Dalam kotak di atas terdapat beberapa jajanan pasar, kue tradisional, atau apa pun namanya. Ia dibuat dari bahan lokal, seperti pisang, beras ketan, dan gula. Biasanya, kalau kita membeli jajanan seperti ini, penjual hanya membungkusnya dengan plastik, kresek. Namun, setelah memakai kotak yang bagus, nilai jualnya meninggi. Ia bisa hadir di sebuah pertemuan resmi dan tuan rumah tampak lebih percaya diri. Lagi pula, air kemasan gelas juga disertakan untuk menghemat ruang dan pekerjaan. Petugas hanya sekali singgah di depan meja. Urusan selesai.

Lalu, apa kemudian usai? Tidak. Citra yang ingin ditampilkan itu harus dibayar mahal. Selain mengeluarkan biaya untuk membeli bungkus, kita juga harus menggunakan kertas sekali pakai. Beda misalnya jika kita menggunakan piring untuk wadah kue, kita telah mengurangi penggunaan bungkus dari bubur kayu itu. Apa lacur, kita selalu bergegas, ingin mudah dan tak mau susah. Jadi, kegagalan kita merawat lingkungan hakikatnya kehendak ingin tampil keren. Apa begitu?

Sebelumnya, kami juga mendapatkan perlakuan yang sama. Pihak universitas, tempat silaturahmi berlangsung, juga menyuguhkan hidangan dan menu yang sama. Meski penyedia kue berbeda, namun bungkusnya menunjukkan citra yang sama, elegan. Tampaknya, prilaku untuk membungkus sesuatu itu merupakan tuntutan pasar. Kata ahli pemasaran, bungkus itu penting. Namun jika harus mengorbankan keseimbangan alam, apakah hal ini harus dipertahankan? Tidak.

Monday, April 12, 2010

Warna Surau

Setelah pengurus surau tak lagi menetapkan imam sembahyang, para jamaah bergantian memimpin shalat. Satu sama lain kadang saling mengelak. Namun, boleh dikatakan ada beberapa orang yang selalu mengambil posisi terdepan. Lucunya, ketika seorang penduduk lokal diminta menjadi imam, ia pun mengelak sambil berujar, “ I’m not Arab”, pada anggota jamaah yang kebetulan orang Arab, mahasiswa asal Yaman, yang juga sama-sama tinggal di flat. Diam-diam, kami ‘Melayu’ merasa orang Timur Tengah lebih layak untuk memimpin shalat.

Namun tak semua, mahasiswa Arab itu mau menjadi imam. Ada salah satu dari mereka yang rajin mengumandangkan azan dan iqamah, tanda shalat akan ditunaikan. Kehadirannya telah membuat surut kami tak roboh, meminjam judul cerita pendek terkenal AA Navis, sastrawan asal Minangkabau, Sumatera Barat. Bagaimana tidak, ia juga menghidupkan Zuhur dan Ashar, yang sebelumnya sepi, karena penghuninya pergi bekerja atau belajar. Hebatnya lagi, ia juga acapkali membawa dua anak perempuannya ke musalla, membuat suasana riuh rendah. Malah sekali waktu, teman-temanya yang lain juga mengajak putera-puterinya, sehingga surau ramai dengan celotehan mereka.

Dulu, saya pergi ke surau tanpa menggunakan penutup kepala. Tapi warga di sana tampak menggunakan kopiah dan sarung, saya pun melakukan hal yang sama. Kata karib saya dari Kedah, tradisi ‘kampung’ itu kadang begitu kuat memegang kebiasaan ini, sehingga ia seakan-akan telah menjadi bagian dari ibadah. Namun kehadiran banyak mahasiswa asal Timur Tengah dan Afrika menambah warna cara berpakaian, seperti jubah. Sementara dari benua hitam, baju yang menempel di tubuh mereka dihiasi dengan warna-warna mencolok. Uniknya, salah seorang mahasiswa Arab sekali waktu membuat heran kami orang lokal, karena ia hanya menggunakan celana ¾, tak jauh dari lutut. Yang lain mengejutkan lagi karena menggunakan kaos dan celana training, olahraga, namun dengan fasih melantunkan ayat al-Qu’ran ketika didapuk menjadi iman. Di lain waktu, anggota yang lain, mahasiswa psikometri asal Nigeria, sering diminta untuk menjadi imam, termasuk oleh teman-teman Arab. Suaranya emas.

Semalam, saya menjumpai lagi Marzuq dan kawan-kawannya mengikuti shalat berjamaah. Ternyata mereka sedang belajar membaca Iqra di tingkat lima pada seorang ibu. Ya, dalam dua hari ini, surau tampak ceria dengan kehadiran anak-anak kecil. Ini menyempurnakan kehadiran banyak warga Arab, yang baru saja pindah dari rumah keluarga kampus. Surau itu makin berwarna.

Thursday, April 08, 2010

Mengaji di Masjid Tertua


Pertama kali menginjak kaki di Masjid tertua di Sulawesi Selatan (1603M), saya menemukan pemandangan di atas, anak-anak belajar membaca al-Qur'an. Tiba-tiba saya merasa disergap keharuan, karena masjid yang telah renta itu menjadi hidup dengan reriuhan anak-anak kecil. Namanya juga anak-anak, sang ustazah acapkali berteriak agar mereka diam dan tertib. Kedatangan kami mencuri perhatian mereka.

Sayangnya, kami tidak bisa bersembahyang di dalam masjid, karena maghrib belum tiba. Pengurus masjid tak ada di tempat. Untuk itu, kami pun beranjak menunaikan shalat ashar di Masjid baru, Syekh Yusuf, tak jauh dari lokasi makan keturunan Raja Goa ini. Mungkin karena bukan hari libur, Kamis, tempat bersejarah ini tak dikunjungi pelancong atawa wisatawan. Hebatnya, sebagian makam keluarga raja yang berada di halaman masjid ditutup dengan bangunan berbentuk piramid. Saya tak tahu apakah ini diilhami dari kebudayaan Mesir kuno.

Mengingat keturunan raja Goa tersebat di seantero dunia, sepatutnya tempat ini dirawat dengan baik. Tapi, pihak terkait abai. Atau kesan 'tak terawat' itu dibiarkan agar wajah 'kuno'nya tidak hilang. Ya, pagar makam tampak ditumbuhi lumut dan dibiarkan menghijau.

Tuesday, April 06, 2010

Memoles Kota Makassar

Selasa, 6 April 2010 | 01:09 WITA

Keingintahuan pelancong masa kini tidak lagi sebatas artifak, tetapi juga cerita yang ada di balik peninggalan bersejarah. Misalnya, ketika kami mengunjung benteng Rotterdam, guide yang bertugas di situ menerangkan hal ihwal gedung bekas pertahanan Belanda secara terperinci. Kepiawaian bercerita petugas membuat benda-benda mati itu seakan-akan berbicara pada pengunjung

Cik Najwa, dosen di Kolej Universiti Islam Selangor, tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya menemukan kembali jejak nenek moyangnya, Bugis. Dalam sesi seminar internasional Wacana Ilmiah Muslim se-ASEAN di Universitas Muhammadiyah Makasar, 29-31 Maret 2010, lajang asal negeri Semenanjung ini menyelipkan informasi bahwa Sultan Selangor, Syarafuddin Syah adalah keturunan Bugis dan termasuk dirinya.Pengakuan yang terakhir memantik tawa peserta seminar. Bahkan, ketika melakukan kunjungan ke Musium Port Rotterdam, ia tampak tepekur mendengarkan pemandu (guide) yang menjelaskan sejarah masa lalu negeri Anging Mamiri ini. Ketika rombongan menemukan rumah gaya Bugis lama, ia spontan memberi tahu rekan yang lain bahwa rumah model Bugis lama itu tak jauh beda dengan rumah yang ada di kampungnya, nun jauh di bumi Semenanjung.

Meskipun kedekatan emosional itu jelas adanya, namun ketika tiga profesor dari Universitas Sains Malaysia, Azizan Sabjan, Syakirah Mat Akhir, dan Jaelani menyampaikan makalah, tak ayal pertanyaan tentang nasib tenaga kerja Indonesia di negeri tetangga mencuat ke permukaan. Bahkan, salah seorang peserta seminar menyinggung kasus Manohara dalam sesi soal-jawab.


Dr Jaelani, dosen Pendidikan Jarak Jauh, menjawab pertanyaan ini sebagaimana selalu ditemukan di beberapa media di Malaysia. Kasus penganiayaan itu hanya sebagian kecil, atau dalam bahasa mereka terpencil. Demikian pula, kasus rumah tangga pangeran Kelantan dan puteri Daisy Fajarina tersebut telah dibesar-besarkan oleh media. Padahal, kasus itu tak lebih dari konflik rumah tangga, yang kata orang sana telah disensasikan.
Terlepas dari konflik ini, ternyata hubungan dua negeri ini sangat erat. Kenyataan ini bisa ditilik dari sejarah masa lalu Makasar dan Semenanjung Malaysia. Modal inilah seharusnya yang ditonjolkan untuk menjalin hubungan lebih tulus.


Apatah lagi, jalinan ini telah dipererat kembali oleh Najib Tun Razak, Perdana Menteri Malaysia, yang kebetulan keturunan Bugis, melalui kerja sama dengan pemerintah Sulawesi Selatan, seperti pengadaan bahan pangan. Bahkan, lebih jauh, ayahanda orang nomor satu negeri tetangga tersebut dijadikan nama sebuah jalan di Makasar. Namun demikian, pada waktu yang sama, hubungan antara kedua masyarakat juga perlu disemai, karena mereka mempunyai kesempatan lebih luas dan luwes untuk saling berkongsi keuntungan. Kerja sama seminar di atas adalah secuil ikhtiar untuk menyuburkan hubungan serumpun di tingkat masyarakat.

Menilik Kelebihan

Ketika Departemen Kebudayaan dan Pariwisata mengiklankan visit Indonesia 2009 di TV 3 Malaysia, Makasar adalah tujuan wisata yang ditawarkan selain Jakarta dan Yogyakarta. Tentu, kehadiran Maskapai Penerbangan Air Asia yang menempuh rute Kuala Lumpur-Makassar langsung akan mendorong hasrat berpelesir kedua warga itu untuk tidak hanya terpaku pada dua kota tersebut terakhir. Apatah lagi, Tun Mahathir dalam blognya yang dikunjungi jutaan pengunjung menulis dengan nada simpatik bahwa Makassar adalah tujuan pariwisata yang elok, karena banyak pantai yang bagus, makanan laut yang melimpah dan tempat penginapan yang cantik. Tak hanya itu, masyarakatnya juga ramah dan harga barang lebih murah.

Tidak hanya keistimewaan di atas, Makassar mempunyai sejarah besar yang bisa dijadikan legenda dan bahan ajar untuk menarik banyak orang datang. Seperti dijelaskan oleh Rhenald Kasali, dosen Universitas Indonesia, bahwa dunia pariwisata sekarang kembali ke asal, menjual mitos, tepatnya, cerita, yang membuat pengunjung terpegun. Keingintahuan pelancong masa kini tidak lagi sebatas artifak, tetapi juga cerita yang ada di balik peninggalan bersejarah. Misalnya, ketika kami mengunjung benteng Rotterdam, guide yang bertugas di situ menerangkan hal ihwal gedung bekas pertahanan Belanda secara terperinci. Kepiawaian bercerita petugas membuat benda-benda mati itu seakan-akan berbicara pada pengunjung.


Demikian pula, ketika saya menemani warga Malaysia mengunjungi makam Syekh Yusuf, di sana pengunjung menziarahi makam tokoh pejuang kemerdekaan, tidak hanya di Indonesia tetapi juga Afrika Selatan. Dengan dipimpin oleh ustaz dari Selatan Thailand, para pelancong dari Malaysia membaca surah yasin dan tahlil di kuburan. Tentu, dengan kebesaran nama tokoh ini, calon pelancong potensial bisa diharapkan datang lebih banyak, tidak hanya dari Malaysia, bahkan seantero dunia. Bukankah tokoh tersebut juga dihormati oleh Nelson Mandera, bekas presiden negara yang akan menjadi tuan rumah Piala Sepak Bola Dunia tahun ini?


Tak hanya itu, museum yang menyimpan barang-barang kerajaan masa lalu masih terletak rapi. Para pengunjung bisa membaui masa lalu, seperti jejak keturunan raja-raja di seantero negeri.
Tak hanya itu, sejarah perjuangan rakyat Makasar melawan Belanda terekam dengan terang karena bukti-bukti artifak masih terlihat jelas. Kenyataan ini tentu membuat warga mempunyai pegangan yang kokoh dan orang luar menemukan cerita yang patut dicerna.
Malah ketika mengunjungi Musium Balla Lompoa, Gowa, kami menemukan nuansa masa lalu yang hadir begitu dekat karena bisa merasakan secara langsung dengan memegang peninggalan masa lalu dengan seluruh indera.

Memelihara Warisan

Namun cerita besar itu tak dirawat dengan baik. Ketika tuan rumah, KH Mustari Bosra, mengantar rombongan ke makam Syekh Yusuf, para pengunjung disergap rasa tak nyaman. Jalan beraspal di depan makam berlubang, sehingga kendaraan terguncang hebat.
Lalu, setelah memasuki makam, rasa tak nyaman bertambah karena pekerja kebersihan di ruangan makam hanya bercelana pendek dan tampak tidak elok berada di dalam bangunan makam yang sepatutnya mendapatkan penghormatan.

Tak hanya itu, di dalam ruangan juga terdapat foto pejabat publik, sehingga membuat makam tak lagi magis. Seharusnya, bilik seperti ini tidak dicampuri hal ihwal politik.
Belum lagi, banyak anak kecil yang bermain bola di lokasi. Tampak, rumah terakhir pejuang kemerdekaan itu tak lagi nyaman untuk dikunjungi. Malah, dua anak kecil mengejar mobil rombongan untuk meminta sedekah, yang membuat pelancong menggelengkan kepala karena dua anak tak berdosa itu bisa terjatuh.Potret yang tidak asing di sini. Tantangan yang juga harus dijawab oleh para calon bupati yang akan bertanding di Kabupatan Goa. Demikian pula, masjid tertua di Sulawesi Selatan yang dibangun tak jauh dari makam Syekh Yusuf. Sayangnya, lingkungan yang kotor dan keadaan masjid tua itu tampak renta. Tentu, pihak terkait tak perlu menggelontorkan dana besar untuk membuat tampak kinclong. Cukup tembok yang membatasi makam dan jalan raya dikapur agar lumut tak berkembang biak.
Demikian juga bangunan-bangunan lain. Padahal di lokasi terpampang papan tanda Departemen Kebudayaan yang menyatakan tempat tersebut sebagai cagar budaya.

Tak jauh dari rumah ibadah yang ditempati keturunan Raja Goa, kami pun beranjak ke museum Balla Lompoa yang juga mengalami nasib serupa. Memang, sedang dilakukan perbaikan, tetapi sampah yang berserak tidak harus dibiarkan. Nasib cagar budaya yang terabaikan seakan-akan menempelak sebuah papan tanda di benteng Port Rotterdam, yang berbunyi Melestarikan Cagar Budaya adalah Kewajiban Setiap Warga Negara.

Justeru, pelanggaran yang paling nyata ditemui di dalam gedung, di mana koleksi pelbagai jenis kayu bahan pembuatan kapal dipenuhi coretan. Padahal spanduk bertuliskan Gerakan Sayang Musium masih terpampang di atap bagian luar. Ajakan untuk menjadikan musium sebagai pilar pendidikan, pelestarian budaya dan tujuan wisata belum bergema di benak warga.
Namun, ikhtiar untuk mewujudkan mimpi telah ditunjukkan dengan kepergiaan gubernur ke Belanda untuk merawat musium yang tampak mulai uzur. Maukah pihak yang terkait juga mengubah keadaan di tempat yang lain dan menyuburkan kesadaran untuk merawat warisan?***

Sumber: Tribun Timur, 6 April 2010