Posts

Showing posts from October, 2009

Orang-Orang Surau (1)

Image
Encik Yusuf tak pernah bosan membangunkan penghuni flat untuk berjamaah subuh melalui azan yang dikumandangkan. Pengurus surau tersebut menunjukkan keberpihakannya dengan tindakan, tak banyak bicara, bahkan di dalam sebuah musyawarah pengurus surau yang pernah saya ikuti. Namun, bapak tiga anak ini tidak menutup diri dari orang lain, malah sengaja menempelkan pengumuman di pintu surau bahwa siapa siapa boleh menghubungi beliau melalui telepon seraya menerakan nomor yang bisa dihubungi. Pak Mawardi setali tiga uang, tanpa banyak bersuara, peneliti di kampus Universitas Sains Malaysia ini dengan istiqamah selalu mengimami jamaah shalat fardu. Tak hanya itu, lelaki kelahiran Makasar ini juga kadang tidak hadir karena memilih berjamaah di masjid kampus. Keduanya tampak kompak memakmurkan musolla yang tak begitu besar itu, meski jarang kelihatan bercengkerama.

Ada lagi sosok yang bukan orang surau, tetapi telah menjadi penanda bagian dari suasana maghrib karena penjual roti itu selalu membu…

Sumpah Pemuda dan Dangdut

Image
Dua kata judul di atas tidak berhubungan, namun keduanya tumpah ruah dalam sebuah pertemuan. Mereka, para pekerja, datang untuk menyongsong Sumpah Pemuda di DOM Komtar, pusat kota. Panitia pun mengerti bahwa acara ini tak melulu berisi sambutan, tapi juga nyanyian. Memang, ada dua tiga lagu pop, tetapi mereka lebih menyukai dangdut. Bahkan, lomba karaoke yang diselipkan di akhir acara makin mengukuhkan bahwa dangdut merupakan menu wajib karena kebanyakan peserta membawakan lagu, yang kata Rhoma Irama, berasal dari Arab, India dan Melayu Deli.

Kalau saya larut dengan ini semua karena salah seorang pekerja bersama penyanyi undangan melantukan Mandulnya Rhoma irama. Duet mereka betul-betul membuat saya hadir utuh. Perhatian selanjutnya dibetot oleh tingkah mereka yang berjingkrak kegirangan karena lagu-lagu dangdut itu membuat mereka melonjak tinggi, melepaskan rutinitas yang membosankan. Dandanan dan pakaian yang tak biasa membuat penampilan mereka seperti artis, sebuah ekspresi yang tak…

Sumpah Pemuda Para Pekerja

Image
T-Shirt bertuliskan Granat dengan dua tangan menggenggam granat tampak aneh karena di bawahnya tertera Peace and Love. Baju tersebut adalah baju kebanggaan sekumpulan pekerja Indonesia yang bekerja di perusahan tekstil Toray, sebuah perusahan pemintalan kain Jepang. Mas Wawan, salah seorang dari mereka, menceritakan bahwa bahan untuk pabrik ini didatangkan dari Indonesia. Di sela berbincang menikmati lomba karaoke, temannya yang lain datang, Miftah, yang sengaja diminta hadir untuk memastikan kenalan mereka dari kampus. Ya, mereka berdua telah mengenal beberapa mahasiswa dari kampus tempat saya belajar. Ternyata aktivis yang bergiat di bidang dakwah dan bernaung di bawah partai yang banyak digawangi oleh pegiat dakwah kampus ini telah berhasil menggalang jaringan hingga ke pabrik.

Para pekerja Indonesia tampak antusias mengikuti persembangan lagu, terutama dangdut, dari penyanyi undangan dan bertambah bersemangat ketika lomba karaoke dipagelarkan. Mereka betul-betul penikmat sejati da…

Menggalang Kepedulian Pekerja

Image
Saya sengaja mengambil gambar mereka sebelum siap berpose. Para pekerja Indonesia diajak Pak Moenir, konsul Jendral RI di Pulau Pinang, untuk mengabadikan pertemuan mereka dalam sebuah acara penggalangan dana untuk korban Gempa Bumi di Sumatera Barat di Dewan KISMEC, Sungat Petani, Kedah pada tanggal 24 Oktober 2009.

Makna Sepatu

Image
Sepatu itu berfungsi untuk menutupi kaki dari onak, batu dan panas terik. Tapi, kehadirannya tak sebatas itu untuk seorang bayi perempuan. Ia harus berwarna, lucu dan penuh aksesoris. Mengapa?

Buku Merambah Desa

Image
Papan nama tersebut terletak beberapa meter dari pintu keluar Bandara Langkawi. Sayang, saya hanya bisa mengambil gambar, tidak mengunjungi perpustakaan yang dimaksud, karena waktu terbatas. Saya bersama staf konsulat Pulau Pinang hanya mempunyai waktu setengah hari di sana dalam rangka sosialisasi pemilihan presiden 2009. Mungkin di lain waktu, saya akan menelusuri suasana di sana, sambil mencari tempat lain yang bercorak sama, perkampungan buku yang dulu dirintis oleh Perdana Menteri ke-4, Mahathir Mohammad.

Grafiti di Kuala Lumpur

Image
1 Oktober 2009, dalam perjalanan pulang dengan kereta api dari Lapangan Terbang Internasional Kuala Lumpur ke Terminal Bis Puduraya, saya masih menemukan tulisan ABOLISH DSA! di pintu keluar stasiun Pasar Seni. Tulisan yang mungkin mulanya Abolish ISA! ini menandakan dua kekuatan besar yang sedang bertarung dalam dunia perpolitikan Malaysia, Najib dan Anwar.