Showing posts with label Majalah. Show all posts
Showing posts with label Majalah. Show all posts

Wednesday, November 14, 2012

Memahami Gambar


Sebuah tangan memegang kepala Barack Hussein Obama. Apa yang ada di benak kita tentang perang? Kita boleh berbincang semalaman, namun satu hal yang pasti tentang perang bahwa ia adalah kejahatan yang sempurna. 

Tuesday, December 23, 2008

Menemukan Identitas Melayu

Pengertian Melayu sebagai orang yang beragama Islam, mengamalkan adat dan berbahasa Melayu adalah definisi yang acapkali telah diterima. Bagaimanapun, Yusril Ihza Mahendra dalam kuliah umum di Universitas Sains Malaysia (18/12/08) menegaskan bahwa roh Melayu adalah Islam. Lalu, Islam yang mana? Mungkin tidak ada jawaban tunggal terhadap pertanyaan ini, sebab dalam sejarahnya di tanah Melayu telah muncul pelbagai aliran dan pemahaman terhadap keislaman.

Majalah Dewan Budaya, yang saya beli 3 hari yang lalu, menurunkan sebuah tulisan oleh Profesor Awang Sariyan, dosen di Beijing University, yang mencoba memberi jawaban terhadap makna menjadi Melayu (lihat edisi November 2008). Di sini, ketua kajian Melayu di Universitas Beijing ini mengurai asal muasal Melayu sebelum Islam datang. Penegasan, dengan merujuk kepada Prof Naquib al-Attas, bahwa Islam telah memberikan pandangan dunia (weltanschauung) yang khas terhadap identitas Melayu tentu mengubah lanskap pemikiran tentang kemelayuan.

Lalu, bagaimana identitas Melayu di era postmodern yang mengandaikan bahwa identitas itu merupakan mitos? Mungkin kita perlu membuka kembali pengertian identitas (Sheldon Stryker dan Peter Burker, 2000: 284) yang secara relatif digunakan pada tiga pemahaman berbeda, yaitu hakikatnya mengacu pada kebudayaan sebuah masyarakat, yang kadang tidak dibedakan antara identitas dan etnik. Yang lain merujuk pada identifikasi umum dengan sebuah kategori kolektivitas atau sosial. Di dalam teori identitas sosial (Tajfel 1982) ia menciptakan sebuah kebudayaan yang sama di antara partisipan. Lalu, ia mengandaikan sebuah kedirian yang mengandung makna-makna yang melekat pada seseorang dalam membawakan pelbagai peran yang dimainkan di dalam masyarakat yang sangat majemuk.

Michele Lamont (2002) mencoba untuk menyuguhkan posisi di antara primordial-esensialis (modern) dan kontruktivis (pascamodern), bahwa identitas itu dibentuk dan sekaligus diikat oleh kebudayaan yang diakses oleh seseorang dan konteks struktur tempat dia hidup. Mungkin posisi ini bisa dijadikan pijak bagaimana identitas itu dipahami dan dijadikan 'alat' sementara untuk mewujudkan komunikasi efektif antara sesama.

Dengan demikian, pengertian identitas hakikatnya menuntun seeorang pada khazanah yang sangat kaya. Dengan demikian ia tidak semudah membalikkan tangan disematkan pada seseorang. Namun, di dalam kenyataan sehari-hari, identitas mudah diucapkan dan dilekatkan pada diri seseorang dengan segala konsekuensi terhadap pengertian diri (self) dan masyarakat (society). Kehendak untuk memartabatkan sebuah identitas tentu merupakan kebutuhan dasar dalam memosisikan diri dalam pergaulan. Meskipun, kadang identitas itu juga berkait dengan peran yang memungkinkan menyapa identitas lain. Konflik yang acapkali mendera tentu bisa dilacak pada kepentingan, dengan segala pengertiannya.

Thursday, February 07, 2008

Majalah Baru Islam Populer


Saya mengenal majalah baru Madina yang diterbitkan oleh Paramadina dari tulisan Hamid Basyaib di situs Islam Liberal. Lalu saya mencoba mendapatkan informasi dari mesin pencari google. Syukur, majalah ini telah memuat sebagian isinya dalam situs www.madinamagazine.com, dengan gambar sampul pemain film keagamaan Zazkia Mecca. Saya juga mengamini kalau sampulnya bagus.

Di rubrik wawancara, Hanung Bramantyo menceritakan proses kreatif dalam membuat film Ayat-Ayat Cinta. Setidak-tidaknya, saya makin banyak mendengar latar film ini, karena sampai hari ini saya begitu menikmati salah satu lagu latar, Jalan Cintanya Sherina. Seperti dituturkan pria kelahiran Jogja, dia mendapatkan dana 7 milyar dari Pemilik MD Entertainment untuk memfilmkan novel karya Kang Abik. Kepercayaan ini mendorong dia untuk menghasilkan karya terbaik, meskipun dia harus mempertimbangkan banyak kepentingan antara tugasnya sebagai sutradara yang peduli untuk menyelipkan pesan, sekaligus memperhitungkan sisi komersial film ini.

Dengan ragam tema populer seperti film, musik dan sains, diharapkan majalah ini mengisi kekosongan media yang alpa terhadap isu-isu terkini, tanpa harus kehilangan identitas religiusitasnya. Bagaimanapun, saya masih mempercayai bahwa agama itu tetap memerlukan bentuk, tidak hanya isi. Ia memerlukan bungkus yang menjadi penguat dari isi, agar tidak berlerai berantakan diterpa ketidakpastian. Sebab, penganutnya secara umum adalah orang awam.

Ambil Rapor

Setiap orang tua tidak hanya mengambil buku nilai anak kelas 5, tetapi juga mendengar mereka mempresentasikan proyek di depan kelas. Guru ti...