Posts

Showing posts from March, 2010

Makassar

Image
Tiba di Makasar dengan riang. Namun terkejut, ketika berada di sebuah auditorium sebuah universitas, foto wakil presiden masih terpampang Jusuf Kalla. Pertanda keengganan atau pemberontakan? Hal serupa juga terjadi di Madura, foto Gus Dur tetap tergantung manis di tembok setelah diturunkan dari kursi kepresidenan. Pendek kata, kehendal masyarakat setempat yang menghendaki tokoh bersangkutan tetap berhak untuk menempati kedudukan tersebut.

Sebenarnya, saya akan meletakkan gambar JK yang bersanding dengan SBY di blog ini, tetapi dibatalkan karena tidak ingin memantik perselisihan. Mungkin juga, pihak pengelola gedung enggan mengganti foto wakil presiden karena kebetulan berada di ketinggian. Namun aneh juga, sebab alasan ini tidak masuk akal karena pihak berwenang bisa meminta pegawai kebersihan untuk naik dan menggantinya. Jika ini protes, saya rasa masyarakat kita belum sepenuhnya menerima demokrasi. Andaian berkelebat. Mereka lebih nyaman melihat JK ada di situ.

Namun cerita atas tak m…

Memurnikan Bahasa Kebangsaan

Image
Sumber: Majalah Tempo, 22 Maret 2010

Ahmad Sahidah
*) Peneliti di Universitas Sains Malaysia

SIAPA pun yang membaca plakat di tembok koridor Busway Bank Indonesia berkaitan dengan tema lingkungan akan merasa telah turut serta menyelamatkan bumi. Coba simak kutipannya, "Dengan memilih menggunakan model transportasi massal, seperti busway, berarti kamu telah berpartisipasi dalam penanganan masalah perubahan iklim." Di sebelah petikan ini terdapat kalimat dengan huruf yang lebih besar, "Ya, kamu telah melakukan hal yang benar." Tapi mengapa masih banyak orang menggunakan kendaraan pribadi, jika mereka tahu itu salah? Tentu, dengan tuduhan ini mereka akan banyak berkilah.

Lalu apakah tulisan yang diterakan di selembar kertas itu sudah sesuai dengan bahasa Indonesia yang benar? Semua kata yang digunakan, misalnya model, transportasi, massal, dan partisipasi, memang tertera dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Cuma masalahnya, kenapa kita ter…

Cerita Pagi

Pagi, matahari bersinar terang, dan suara burung timbul tenggelam. Musik instrumental sengaja diputar untuk menambah khidmat. Campur aduk. Selingan kicauan burung di antara bunyi biola dan piano memadukan alam dan buatan manusia. Si kecil berceloteh tak jelas, sambil meremas roti yang seharusnya dimakan. Seraya duduk di troli, ia memegang apa saja yang disodorkan. Tak jarang, ia memasukkannya ke dalam mulut, seperti semalam merenggut kertas dengan giginya. Sang Ibu dengan sabar menemani, setelah menyiapkan susu tambahan. Tepuk tangan dan senyum acapkali datang tiba-tiba. Kami pun selalu menikmati keadaan seperti ini.

Saya hanya menerka musik. Tetapi, terus terang sedikit menikmati dengan penuh für Elise. Lalu, mengasup kumpulan cerita pendek, Arwan Tuti Artha, “Harum Melati Perempuan Sunyi”, sesuatu yang mendekatkan dengan hidup, karena tempat cerita adalah dunia yang pernah dialami dengan seluruh. Penerbitnya Logung mengingatkan pada teman. Jauh dari itu, kalimat-kalimat dalam cerpen…

Manohara

Image
Surabaya Post, 14 Maret 2010

Kadang istana, di manapun, berselimut prahara. Sejak dulu kala. Sekarang, hal yang sama terjadi. Putera Sultan Kelantan sedang berselisih dengan bekas model, Manohara, isterinya yang melarikan diri. Di negeri Singa, pelarian itu tampak dramatik. Belum lagi, sekelompok patriotik mencoba menumpang 'nama', atau mereka tulus, saya pun tak tahu.

Di negeri suaminya, berita tersebut tidak seheboh di media Indonesia. Ini berkait dengan kedudukannya yang istimewa. Namun tak urung, sebuah judul besar di koran lokal, Kosmo! (13/10/10) terpampang di halaman muka, sang pangeran digertak oleh pengacara Manohara untuk ditangkap. Ini jelas ikhtiar untuk bertindak seimbang dalam pelaporan. Atau bisa jadi ia strategi pemasaran agar khalayak penasaran untuk mencari pesan di koran bersangkutan.

Jika dilihat sebagai hal biasa, perseteruan tersebut layaknya persoalan yang acapkali terjadi dalam sebuah rumah tangga. Namun, karena terkait pesohor, media menyambar dengan tang…

Mempersoalkan Selebritas Politik

Seputar Indonesia, Saturday, 13 March 2010

Temuan Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) tentang rancangan anggaran jalan-jalan DPR untuk tahun 2010 senilai Rp100 miliar cukup menghentak akal sehat.


Meski Maruarar Sirait, anggota badan anggaran,membenarkan kunjungan ke luar negeri––asalkan dapat dipertanggungjawabkan––, tetap timbul pertanyaan: hasil seperti apakah yang ingin disuguhkan? Bukankah hal serupa sebelumnya hanya berbuah kritik keras dari masyarakat? Tidak saja hanya memanjakan pelesiran, para anggota Dewan yang terhormat itu justru lebih menikmati berbelanja di toko ternama dan hanya beberapa jam memenuhi tugas kunjungan kerja. Itu cerita dulu ketika anggota Dewan yang berkunjung ke Negeri Kincir Angin diprotes mahasiswa. Naga-naganya, gelagat yang sama sudah tampak. Perilaku politikus sekarang ini bersinggungan dengan hal ihwal selebritas.

Jika selebritas dipahami sebagai pribadi yang namanya mendapatkan perhatian masyarakat luas, politikus layak…

Mencabut Akar Terorisme

Pikiran Rakyat, 11 Maret 2010

Oleh Ahmad Sahidah

Polisi berhasil menembak mati teroris. Selayaknya, keberhasilan ini patut mendapatkan penghargaan. Apatah Dulmatin, gembong yang paling dicari yang meregang nyawa ditembus peluru. Ia tidak hanya diburu pemerintah Indonesia, tetapi juga Australia dan Filipina. Namun, bagi sosok seperti Dulmatin, kematian dianggap bukan jalan akhir yang nestapa, tetapi awal untuk mereguk kenikmatan abadi, surga. Jika banyak orang mengelak dari kematian, para teroris itu menyambut riang.

Satu demi satu pelaku kekerasan mati berkalang tanah. Namun, tak ada jaminan, penebar teror itu musnah, karena jaringan teror ini tidak mengandaikan satu hierarki tunggal, tetapi dalam bentuk sel. Satu kelompok dengan yang lain mungkin tidak saling kenal, tetapi pada titik tertentu, salah satu pentolan dari kelompok itu menjalin hubungan. Jauh dari itu, persemaian dan penyebaran anggota baru telah menyusup hingga ke orang biasa yang mungkin salah satu dari tetangga kita. Tiba…

Kepulangan Sang Imam

Image