Posts

Showing posts from April, 2007

Menemukan Islam yang Asli, Mungkinkah?

Tulisan saya di Jurnal Pemikir yang bermotto Telaga Akal Pancuran Budi (Bil. 48, April-Jun 2007) lahir dari kegelisahan tentang apakah agama yang saya anut adalah asli atau bukan? Bolehkah saya mengatakan tentang agama saya seperti dalam iklan, "Ini asli lho?!"?

Mungkin, kalau kita mau membaca artikel bertajuk "Menemukan Islam Tulen: Mengatasi Tradisionaliti dan Modeniti" di dalam Jurnal di atas, kita akan dihadapkan dua pilihan: Tradisional atau Modern? Kesimpulan saya adalah bahwa Islam yang asli atau otentik itu melampaui kategori keduanya.

Tentu saja, paparan tulisan ini lebih kental sisi teoretiknya, meskipun ada beberapa pernyataan yang menuju praksis. Pendek kata, saya sedang mencari basis epistemologi dan metafisik dari doktrin Islam tentang beragama secara otentik.

Lalu, bagaimana gagasan di atas diwujudkan dalam keseharian ? Saya justeru menemukan di dalam pengajian halaqah yang diperjuangkan oleh Mas Hilal, Mas Baim, Mas Maulana dan Mas Supri. Di dalam peng…

Great Tradition in Ethics

Untuk keperluan disertasi, saya mencari pengertian hedonisme yang digunakan oleh Toshihiko Izutsu untuk menggambarkan pandangan dunia orang Arab pada masa Nabi.

Di tengah pembacaan, saya menemukan kalimat yang menarik: In opposition to Aristippus, Epicures maintains that the duration of pleasures is more important than their intensity in achieving happiness. Consequently, he argues that the mental pleasures are in general superior to the physical, since they are longer lasting, albeit less intense. Although he finds the physical pleasures unobjectionable in themselves, he contends that the pursuit of them for their own sake does not lead to happiness, but to the reverse (see Denise (et.al), 1996: 49).

Ya, kesenangan mental sejatinya diburu, bukan material!

Selamat Hari Buku Sedunia

Kemarin, 23 April 2007, diperingati sebagai Hari Buku Sedunia. Mungkin tak banyak yang merayakannya sebagaimana Tahun Baru yang gegap gempita, mewah, gebyar dan penuh antusias atawa hari Valentine yang kerapkali diselingi degup dan debar jantung.

Ya, kita tak perlu melakukannya seperti pesta, sebab membaca itu mengasup jiwa dan minda. Lebih jauh, membaca sebenarnya mengubah hidup kita.

Biasanya, kata yang terkenal untuk mengenali seseorang adalah mendefinisikan “kamu sebagai apa?, ada yang mengatakan “kamu adalah siapa yang kamu temui”, “kamu adalah apa yang kamu makan”, dan yang paling menggugah “kamu adalah apa yang kamu baca”.

Jika kita membaca buku seni dan sastera kita telah menahbiskan diri sebagai seorang yang menyukai estetika, sehingga dunia dipandang sebagai keindahan. Kalau buku yang dibaca adalah karya para ulama, maka sang pembaca telah mengidentifikasi diri sebagai bagian dari pegiat agama yang ingin dunianya tak melulu dibekap oleh ihwal materi. Andaikata buku bacaannya di…

Mengatasi Jenuh dengan Novel

Sehabis shalat Isya di surau Basement, saya bergegas sendirian ke warung makan. Di kepala, saya membayangkan makan roti canai dan segelas teh tarik. Tambahan lagi, saya ingin memindah 'ruangan' baca ke pelataran kedai makan, ya, saya ingin melanjutkan cerita romantik Genji dan Heiko dalam novel epik Jepang yang ditulis oleh Takashi Matsuoka. Terus terang, pertama kali saya membuka sampul belakang yang menceritakan bahwa sang penulis pernah bergiat di kuil Buddha Zen, tangan ini tergerak untuk meminjamnya. Sepertinya, saya telah menemukan cara untuk 'mengkayakan' disertasi saya. Aneh, bukan? Coba lihat, judul disertasi saya "Hubungan Tuhan, Manusia dan Alam di dalam al-Qur'ān: Satu Kajian terhadap Analisis Semantik Toshihiko Izutsu melalui Pendekatan Hermeneutik". Rasanya jauh panggang dari api.

Tapi, sebenarnya novel tersebut terkait erat dengan disertasi saya. Pertama, kedua-duanya menceritakan peta kebudayaan Jepang. Kedua, Sang penulis mempunyai latar …

Menengok Perpustakaan di Negeri Jiran

AHMAD SAHIDAH
Mahasiswa PhD Ilmu Humaniora
Universitas Sains Malaysia
Mungkin semua orang akan mengakui bahwa wajah perpustakaan di tanah air tampak centang-perenang. Tentu saja keadaan ini sangat menyedihkan. Karena bagaimanapun ia adalah jantung dari dunia pengetahuan. Detaknya yang lambat akan membuat tubuh pengetahuan lemah, tidak energik dan tidak responsif menanggapi persoalan.
Mental ‘ambtenaar’ para pegawai perpustakaan adalah wajah pendidikan muram kita, meskipun harus dimaklumi gaji yang diterimanya tidak cukup untuk bekerja secara profesional. Mereka adalah pegawai biasa yang dilahirkan untuk mencatat peminjam buku, bukan membacanya. Terlalu berlebihan jika kita ingin membandingkannya dengan pustakawan perpustakaan universitas di Barat.
Kenyataan lain adalah bahwa hampir semua perpustakaan di seluruh negeri ini tampak mengenaskan, tidak hanya buku-buku baru bisa dihitung dengan jari, tetapi juga langganan jurnal hampir tidak dilakukan. Lalu, mungkinkah para mahasiswanya mengiku…

Haruskah Belajar Islam di (dari) Malaysia

Koran }} Opini

Kamis, 18 April 2007


Oleh:

Ahmad Sahidah
Graduate Research Assistant di Universitas Sains Malaysia

Tajuk di atas mengandaikan kemungkinan belajar tentang Islam dan sekaligus mengenal bagaimana gerakan keagamaan di negeri Jiran ini mengayomi pemeluknya? Mungkin pilihan belajar Islam tingkat lanjut di tanah Melayu ini tidak akan jadi pilihan utama mahasiswa di Indonesia. Atau, bahkan kita tak perlu mengaca bagaimana pegiat keagamaan di sana berkiprah untuk memajukan idealisme keislamannya?

Dalam sejarah Islam nusantara, agama ini lebih dulu berkembang di Aceh dan kemudian menyebar ke seluruh tanah pertiwi yang sekarang menjadi bagian dari Indonesia. Adalah tidak aneh jika kita menemukan karya ulama terdahulu dan tradisi keilmuan yang berjalan marak karena para ulama pada masa itu tidak hanya rajin menyampaikan pesan keagamaan di atas panggung tetapi mereka juga berkarya untuk mengembangkan keilmuan. Sejarah panjang ini telah memberikan ilham untuk mengembangkan kajian Islam mel…

Mencari Jejak Sebuah Manuskrip

kepada Yang Terhormat
Mas Imam Adhita
di Universitas Pontianak

Saya adalah Ahmad mahasiswa USM teman dari Pak Supriyanto. Kita pernah bertemu sebelumnya di flat Restu.

Insyaallah, saya akan melakukan penelitian tentang konsep metafisika Abdullah 'Arif di dalam kitabnya al-Bahr al-Lahut yang ditulis abad ke-12 M.

Menurut Hawash Abdullah penulis Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-Tokohnya di Nusantara kitab tersebut dimiliki oleh beliau yang diperoleh dari Syaikh Yusuf Tajul Khalwati (ulama Sufi dari Tanah Bugis). Tidak itu saja, kitab ini juga diwariskan kepada keturunannya.

Oleh kerana itu, saya mohon informasi tentang Hawash Abdullah yang mengakui memiliki kitab tersebut. Dalam pengantar bukunya, beliau menulis karya ini pada tahun 1980 di Pontianak, tetapi diterbitkan oleh al-Ikhlas Surabaya. Jadi, saya rasa mungkin beliau masih berada di Kalimantan Barat.Terima kasih atas bantuannya.

Ahmad Sahidah
Graduate Research Assistant
Universiti Sains Malaysia
Tel. +166074894

Menemukan Islam Tulen

Image
[dimuat di Jurnal Pemikir Malaysia (Bil. 48, April-Jun 2007)]
Ahmad Sahidah
ABSTRAK

Dalam sejarahnya, Islam telah mengalami pertemuan dengan pelbagai agama, kebudayaan dan peradaban. Tidak menghairankan, tafsir terhadap agama Islam adalah pelbagai. Kepelbagaian ini telah melahirkan berbagai-bagai aliran, yang boleh dikategorikan ke dalam dua fahaman besar iaitu tradisi dan moderniti. Kedua-dua puak ini sama-sama mendakwa sebagai tulen. Merujuk kepada tokoh pemikir tulen Islam, kita boleh memahami lebih jauh tentang upaya untuk tidak terjebak pada jargon ‘tradisi’ dan ‘modeniti’. Kata Kunci: Islam, ketulenan, tradisional, dan modeniti
A. Pendahuluan
Perpecahan dalaman daripada agama Islam adalah sesuatu yang tak terelakkan. Ini adalah ekoran penyebaran agama ini daripada tanah asal (Mekah dan Madinah) yang bertemu dengan tradisi dan budaya tempatan. Proses akulturasi ini – tidak jarang asimilasi – makin mengaburkan ajaran asal. Boleh jadi Islam hanya tampalan bagi sebuah kepercayaan yang le…

Transliterasi

TRANSLITERASI*

Panduan merumikan perkataan, frasa, dan nama-nama khas dalam bahasa Arab yang dijelaskan di sini adalah berasaskan kaedah transliterasi yang digunakan peringkat antara bangsa dan selaras dengan kaedah yang terdapat dalam Pedoman Transliterasi Huruf Arab ke Huruf Rumi terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka. Senarai Istilah Agama dan Daftar Istilah MBIM juga boleh dijadikan rujukan semasa merumikan perkataan dan sebagainya.

ABJAD ARAB

Abjad Arab dan sebutannya hendak ditransliterasikan mengikut panduan yang berikut:

Abjad Sebutan Arab Transliterasi Rumi

ا (alif) a
ب (bā) b
ت (tā) t
ث (thā) th
.ج (jīm) …

Penghargaan

بسم الله الرحمن الرحيم

Saya mengucapkan syukur ke hadirat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang yang telah memberi kekuatan untuk menyelesaikan penulisan disertasi ini. Demikian juga, semoga salawat dan salam sentiasa tercurahkan kepada jungjungan kita Nabi Muhammad sallalLahu ‘alaihi wasallam.

Disertasi ini tidak akan dapat diselesaikan dengan baik tanpa bantuan yang telus daripada penyelia Profesor Madya Zailan Moris. Kesabaran dan kecermatan beliau untuk mendiskusikan pelbagai masalah yang berkaitan dengan tema disertasi dan bagaimana menggunakan sebuah pendekatan yang boleh diterapkan agar boleh mengantarkan karya ini pada kedudukan yang kukuh sebagai usaha ilmiah dan akademik adalah sangat membantu.

Dalam kesempatan ini, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Profesor Abu Talib Ahmad, Dekan Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan dan seluruh staf Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan Universiti Sains Malaysia kerana memungkinkan saya menjalani masa-masa luang dengan nyaman di kampus dan …

TKI di Negeri Orang

Rapat kecil 'sore' itu menyisakan sejuta tanya karena perhelatan yang akan digelar tangal 3 Mei melibatkan sebuah badan yang baru yang dibentuk Susilo Bambang Yudoyono, bernama Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2T). Badan yang berada langsung di bawah koordinasi Presiden dan diketuai oleh Jumhur Hidayat sebenarnya pernah memunculkan kontroversi karena mengerdilkan otoritas Departemen Tenaga Kerja yang dinahkodai oleh Erman Suparno dari Partai Kebangkitan Bangsa.

Kita tentu saja tidak akan terjebak pada ranah politik karena kita berada di luar 'drama' senayan dan istana. Mahasiswa akan menjaga jarak dari seluruh kepentingan yang dibawa oleh para politisi. Meskipun, keberadaan mereka penting untuk merawat demokrasi.

Secara pribadi, saya sangat menghargai usulan Pak Mohammad Tahir, yang kebetulan bersedia memberikan sumbang saran, bahwa PPI USM harus juga merumuskan hasil pertemuan agar tidak hanya dibaca oleh birokrasi Jakarta. Paling tidak, kita juga memb…

Memartabatkan PRT di Negeri Jiran

§ Oleh Ahmad Sahidah

TULISAN Sdr Achmad Maulani bertajuk "Menanti Perlindungan Hukum TKI" (SM 12/4/07) memberi empati kepada nasib TKI Indonesia di Luar Negeri. Kritik terhadap ketidakbecusan pemerintah sebenarnya telah banyak diulas, namun pengungkapan kembali persoalan ini memang harus diulang-ulang agar pembuat kebijakan dan pelaksaan lapangan tergerak untuk segera berbuat yang semestinya dikerjakan.

Jumlah mereka yang dianiaya kecil, tapi tidak ada pembenaran untuk membiarkan yang tertindas diabaikan. Ke-alpaan untuk melindungi sebuah profesi yang rentan terhadap perlakuan tidak manusiawi akan melahirkan tindak kekejaman lain yang tersembunyi
Ada banyak istilah menyebut profesi ini, di antaranya jongos, pesuruh, babu, khadam, dan sahaya. Secara semantik kata ini menunjukkan pada seseorang yang melakukan pekerjaan yang dinginkan oleh majikannya.

Tidak susah menemukan keberadaan mereka. Keseharian, mereka menjadi bagian kehidupan pada umumnya, atau sedang mengasuh …

Mengapa Harus Humor?

Saya membaca humor yang dikirimkan oleh sahabat kita ini setelah penat memelototi huruf-huruf yang berserakan di layar komputer. Benar-benar humor yang membuat perut terguncang.

Namun, saya tidak akan mengomentari kejenakaan dari humor di bawah [termaktub dalam milis PPI], tetapi takjub ternyata Mas Supri suka melucu. Sebelumnya, kami hanya direkatkan dengan perbincangan serius dan terkadang pergi olahraga bareng. Tak ada tawa.

Ya, bersama waktu, kita akan mengenal lebih jauh orang yang menjadi bagian dari hidup kita. Ini sesungguhnya petanda bahwa sejalan dengan waktu kita akan tahu lebih banyak tentang orang lain, sehingga tak perlu 'menilai' liyan karena pasti gagal sebab masih ada segudang karakter yang masih terbenam di dalam kepribadiannya. Belum lagi, setiap orang akan mengalami transformasi disebabkan pengalaman hidupnya yang panjang.Ia adalah masa lalu, sekarang dan masa depan. Lalu, Anda mengukurnya dari sudut mana?

Selain itu, Mas Supri juga mengilhami saya untuk tak m…

Apakah Kita Mengenal Malaysia?

Pernahkah Anda jengkel dengan negeri Jiran ini? Itu saya tidak tahu pasti, karena saya bukan malaikat yang mencatat tindak-tanduk Anda. Tetapi, memang dalam percakapan tidak resmi, saya acapkali mendengar keluhan teman-teman Indonesia terhadap prilaku Malaysia, baik orang maupun pemerintahannya.

Lalu, ada teman saya yang membeberkan koran-koran lokal negeri Melayu ini yang selalu memberitahukan nasib buruk bangsa Indonesia, mulai banjir, flu burung, korupsi dan wajah kemiskinan yang merobek wajah penghuninya. Kata teman PPI, 'Kami tidak bermaksud agar bencana yang menimpa bangsa tidak diberitakan, tetapi mengapa koran-koran di sini tak sedikitpun menceritakan keberhasilan negeri kami?' Secara tersirat, surat kabar mereka ingin mencatat bahwa saudara tuanya itu tak mempunyai prestasi. Belum lagi komentar penduduknya di dalam rubrik SMS di beberapa surat kabar, seperti METRO dan KOSMO!. Mereka merasa tak nyaman dengan kehadiran orang Indonesia, baik karena perilakunya yang berang…