Tuesday, December 12, 2006

Jika Film tidak mudah lagi dipahami

Film (Malaysia:filem) bisa dilihat sebagai aktivitas budaya dan komunikasi. Untuk memahami dua yang terakhir agar mengantarkan saya pada pemahaman yang baik tentang film serta merta saya harus memahami kebudayan dan gaya komunikasi yang dijadikan latar dari sebuah karya sinematik. Duh, ternyata dunia yang satu ini tidak gampang dan sederhana, meskipun para penikmatnya kadang tak perlu direpotkan dengan tetek-bengek yang bersifat akademik agar bisa menikmati sebuah film.

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menonton film bersama seorang karib berjudul Casino Royale di Bukit Jambul Theatre. Atas kebaikan teman, saya bisa masuk tanpa karcis (baca: gratis). Tidak itu saja, kami berdua juga dibawakan pop corn (jagung brondong) dan pepsi cola. Tentu menyenangkan, bukan? Lalu, haruskah kita masih disibukkan untuk membingkai film ini dalam sebuah referensi agar makna ‘film’ utuh sampai di kepala kita?

Film tidak seperti buku, karena ia dilihat dalam satu waktu. Ia susah diberi highlight agar kita bisa menengoknya kembali dan menghubungkan dengan teks (scene) yang lain agar kita bisa menjaga kesinambungan sebuah alur. Ya, film memaksa kita untuk duduk manis dan kalau bisa tak berkedip agar tidak ketinggalan sedetikpun adegan dari awal hingga akhir. Namun, kelebihannya, ia menunjukkan sebuah peristiwa audio-visual (dengar-pandang) yang memungkinkan keterlibatan emosi lebih dalam karena seluruh alat indera kita bekerja maksimal dan mudah.

Lalu, mungkinkan kita bisa memahami film dengan baik ketika ia mengandaikan sebuah budaya dan gaya komunikasi yang tidak sama dengan kita? Bukankah ketika kita menafsirkan keduanya akan selalu merujuk kepada pengalaman kita? Di sinilah, masalah ‘distansiasi’ muncul, sebuah keberjarakan antara dunia layar lebar dan pengetahuan kita yang secara a priopri telah ‘memberikan’ karakterisasi pada tokoh, setting cerita, alur, dan dialog dalam pengalaman kita (bersifat eksistensial).

Kalau kita mengurai lebih jauh pesan sebuah film sejatinya berkaitan erat dengan banyak hal, tidak hanya kapitalisme, tetapi ideologi sang pembuat. Di sini, sutradara, penulis skenario dan tukang kamera berada dalam satu pusaran yang sama. Kita mafhum bahwa secara umum Barat menganut ideologi sekuler. Oleh karena itu, Casino Royal bisa dikotakkan sebagai hasil ideologisasi mereka dalam dunia filmis. Di sini, nilai lebih berpijak pada kebebasan dan humanisme. Persoalannya sekarang adalah apakah ideologi yang kita anut sehingga bisa memberikan apresiasi yang baik terhadap keseluruhan konsep cerita? Jika kita menganut ideologi yang berbeda, mungkinkan kita bisa memahami film Barat dengan baik?

Hal lain yang penting adalah komunikasi sebagai alat penyampaian pesan yang dikemas dalam dialog. Di sini masalah lain juga muncul, yaitu komunikator pesan komunikan tidak berada dalam tune yang sama. Kemungkinan ‘kehilangan’ dan ‘pengherotan’ serta bias terhadap pesan muncul karena bahasa Inggeris dan bahasa Indonesia mempunyai pandangan hidup (weltanschauung) sendiri yang mempunyai andil besar dalam memengaruhi maksud yang diinginkan oleh sang penutur ketika kita menangkap tindakan wicara (‘speec act’) dengan seluruh kesadaran yang ada pada diri sang penerima.

Nah, agar kita tidak disibukkan oleh kesulitan menyesuaikan tune, alangkah baiknya dalam kesempatan lain kita turut memberikan apresiasi dengan menonton film kita sendiri. Tetapi, sayang film kita banyak meniru adegan Barat. Coba tengok Ungu Violet! Sebuah acara pemakaman ditandai dengan iringan mobil berwarna hitam dan suasana pemakaman persis ketika kita lihat film Barat yang menceritakan upacara kematian. Atau, karena latar belakang saya yang berasal dari kampung, di mana upacara kematian itu dimulai dari pemandian jenazah, penyolatan, penguburan yang dilakukan dengan keranda yang diusung sambil melafalkan kalimat tawhid dan suasana pekuburan kita tidak melihat ada orang yang menggunakan jas hitam, melainkan seorang kiai yang menggunakan serban, sehingga sebuah film lokal tampak aneh karena beraroma dunia sana, bukan sini.

Ahmad Sahidah
Penikmat Film

Sunday, December 10, 2006

Makan Malam yang Beda

Mungkin karena sore yang basah, lapar lebih cepat daripada biasanya. Sehingga menunggu maghrib tiba terasa sangat lama. Ketika azan dikumandangkan dari surau, saya bergegas ke bawah. Syukur, jendela kamar saya mengarah ke pengeras suara, sehingga panggilan ilahi dapat terdengar dengan jelas. Di musalla, saya bersua dengan Pak Ardi. dia bertanya apa saya udah makan, lalu saya bilang bahwa kami akan makan di luar sehabis sembahyang.

Berempat kami pergi menuju Rumah Makan Padang Bukit Jambul. Kikil adalah menu pilihan saya, karena selama di Malaysia saya tidak pernah melahapnya, ditambah perkedel dan sayur gulai nangka. Aroma yang mengundang selera dan nasi yang empuk membuat makan saya nikmat. Rasa yang beda dengan masakan Malaysia atau India. Di sela makan, kami ngobrol tak tentu arah, ke mana angin berhembus, kami pasrah. Topik hangat yang mencuri perhatian adalah poligami. Satu sama lain melihat sisi berbeda dari praktik ini. Menarik, memang. Tapi, perbincangan ini ujung-ujungnya masalah perempuan. Lelaki di mana saja memulai dan mengakhiri percakapan acapkali tentang kaum hawa.

Tak jauh beda dengan warung Jawa, harganya sekitar RM 5, makan dan minum. Santan untuk kuah nangka sangat kuat menendang lidah, rasa kikil yang kenyal ingatkan rumah Jojga, dan mungkin yang tidak ada memori adalah teh ais (teh, susu, dan diberi es, tapi rasanya beda dengan minuman yang sama di kota Gudeg), serta perkedelnya sengaja dipilih untuk menambah selera.

Di warung sebelum tampak kedai makan Cina yang ramai pelanggan. Saya tidak ingat dengan jelas siapa yang memulai cerita bahwa pemiliknya pasti menggunakan bomoh (dukun) untuk membuat laris jualannya. Aduh, ternyata di sini dunia 'lain' masih menjadi pilihan menjalani hidup. Tak jauh beda dengan keseharian masyarakat Indonesia. Malah, majalah yang paling laku di sini adalah Mastika, yang mengungkap dunia mistik kaum Melayu.

Saturday, December 09, 2006

Barbaque seorang Teman

Dering telepon mengagetkan saya yang sedang mengetik di ruangan kampus. Teman baik saya mengundang saya untuk turut 'merayakan' (tak disebutkan) dengan barbaque. Tentu, saya mengiyakan.

Tapi, sayang, ketika bersia-siap berangkat, hujan turun. Dengan serta merta, saya memberitahukan akan kelambatan kami. Sebelumnya, saya, Mas Tauran dan Pak Allwar ingin berangkat bareng dengan naik bus. Namun, karena hujan tidak juga reda, kami terpaksa membatalkan untuk memenuhi undangan.

Agar tidak ditunggu-tunggu, saya mengirim sms bahwa kami tidak bisa datang karena terlalu malam. Tapi, Mas Ayi tetap mengharap kehadiran kami sebab acara belum dimulai. Dengan bergegas, saya turun ke bawah menembus gerimis menjemput mas Tauran di International House. Bersama Pak Allwar, kami menunggu di halte menuju KOMTAR tempat Ayi akan membawa kami ke flatnya.

Tiba di rumah lantai 23, kami disambut manis oleh tuan rumah, Adik Woelan dan sobat yang berwajah kalem, Icank. Setelah mengucapkan salam, saya ke balkon untuk menatap pantai Gurney dari ketinggian dan membaui angin yang berhembus dari laut. Di sini juga digelar pemanggangan, sate, sosis, cecahan daging menunggu tangan kami untuk segera dipanggang.

Malam itu adalah milik kami karena malam tak lagi beku tapi cair oleh panas api, daging yang menerbitkan selera, dan canda ke sana kemari. Oh ya, Mas Ayi mengatakan bahwa undangan ini untuk merayakan ulang tahun dan 'malam' terakhir Icank di Penang. Lagu bang Haji, Pesta pasti berakhir. Bertiga kami diantarkan ke USM dengan mobil biru melesat membelah kegelapan malam.

Thursday, December 07, 2006

Ketika Bahagia itu Murah

Dalam sebuah penelitian, ternyata uang bisa membeli kebahagiaan. Ini tentu mengejutkan karena ia menjadi antitesis bahwa kekayaan itu tidak identik dengan hidup bahagia.

Saya tidak akan menyoal benar dan tidaknya hasil penelitian ini. Saya hanya ingin menikmati hidup tidak dibebani oleh sesuatu yang membuat saya tidak nyaman. Kata orang bijak bahwa kita harus menemukan 'yang berharga' pada apa yang di diri kita. Tak perlu, berharap bahwa kebahagiaan itu ada di seberang. Biasanya, dalam keseharian selalu saja muncul 'di benak' bahwa kalau saya mempunyai ini tentu akan menyenangkan, atau bahkan membahagiakan. Tidak pernah kita menjadikan milik kita adalah yang terbaik, yang perlu dinikmati. Sehingga secara tidak sadar kita tidak akan pernah mencecap kebahagiaan.


Seperti hari ini, saya mengulang kembali untuk ke sekian kalinya bermain pingpong dengan teman-teman baik. Bagi saya, ia adalah olahraga yang membuat tubuh ini berkeringat, syaraf tidak tegang, tak jarang berteriak jika bola masuk atau keluar lapangan dan kadang diselingi dengan canda. Sesederhana inikah kebahagiaan ? Ya. Kalau diurai mungkin peristiwa ini bisa dijelaskan dengan bahasa yang lebih panjang bahwa (1) saya sehat (2) melakukan olahraga (3) membuat haus sehingga minum air lebih banyak, bahkan hampir 1 liter (4) bercanda, dan siapa pun mengakui bahwa humor membuat orang tidak mengerutkan dahi yang memerlukan energi yang banyak dan tawa hanya memerlukah dua otot untuk menggerakan muka sehingga kita tidak lelah (5) berinteraksi dengan orang lain, sebuah penanda bahwa saya orang yang tidak kesepian dan suka melamun menghitung bunyi detak jantung.

Lagi-lagi, ketika saya menulis ini, sepertinya saya telah meluahkan kembali kegembiraan yang baru direguk bersama, sehingga ia akan menambah kenyamanan. Apalagi, ditemani lagu favorit, lengkap sudah kebahagiaan ini. Lalu, apakah kita harus 'menjejali' diri ini dengan banyak keinginan untuk bahagia? Jika ya, kita hanya membuat hidup ini tak lebih dari mesin.

Monday, December 04, 2006

Menghindari Perangkap Neo-Liberalisme

Iseng-iseng saya browsing di google, ternyata tulisan saya di Republika telah dimuat pada tanggal 4 Oktober [ baca: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=267106&kat_id=16] dan di list google juga terdapat tulisan yang mengkritik Rencana saya di Utusan Malaysia oleh seseorang yang mempunyai alamat URL di http://shah2ello.blogspot.com/2006/09/18092006.html] dengan tajuk Response to Writing by Ahmad Sahidah.

Jadi, ketika saya secara sadar 'mengkritik' tulisan orang lain di Republika, maka saya harus siap 'dikritik'. Inilah hakikat dari pembelajaran hidup bersama. Tentu, kita masih ingat ketika di milis ini muncul 'kritik' terhadap sikap politik saya terhadap Bush yang menimbulkan 'tanggapan' kritis dari teman-teman, Aris, Rinza, Fika, dan Wheeza.

Dengan perbedaan sebenarnya kita bisa menyelamati sisi 'kognitif' ilmiah dan psikologi orang lain. Mungkin, pernyataan saya tentang Bush lebih mendekati luapan psikologis dibandignkan 'ilmiah', meskipun dengan sekuat tenaga saya berusaha untuk memberikan argumentasi yang disertai fakta-fakta empiris.

Syukur, sekarang saya telah dibukakan sedikit tentang suasana psikologis teman-teman yang menyanggah pendapat saya baik secara langsung maupun tidak. Lebih dari itu, pengetahuan ini tidak menyebabkan saya 'ingin' membongkar lebih jauh apa sebenarnya yang terjadi pada orang lain, melainkan saya lebih melihat ke dalam bahwa sesungguhnya saya bertarung dengan diri sendiri. Akur?


Ahmad Sahidah
Sekarang saya sedang ingin menulis 'Bagaimana Perempuan Menafsirkan al-Qur'an', sebagai persiapan menyambut hari Ibu.

Atau baca:

Menghindari Perangkap Neo-Liberalisme

Ahmad Sahidah Kandidat
Doktor Kajian Peradaban Islam Universitas Sains Malaysia

Tulisan Zaim Saidi bertajuk 'Dialektika Palsu Dua Wajah Islam' (Republika 5 Juli 2006) menghentak kesadaran kita. Pertarungan dua wajah Islam, liberalisme dan radikalisme adalah mainan kapitalisme (Neo-Liberalisme?) untuk merontokkan 'potensi' pemahaman yang akan melawan pemilik modal setelah runtuhnya komunisme-sosialisme.

Penolakan Saidi akan pembagian dua model tersebut bisa dipahami jika merujuk pada otentisitas yang ingin diperkenalkan, yaitu praktik komunitas awal, Al Madinah Al Munawarah. Selain itu, pengertian normatif dari Islam itu sendiri yang berarti damai. Namun, gagasan ini terkesan romantik dan ideal, yang sebenarnya memerlukan 'bentuk' agar tidak dikatakan hanya memanjakan dunia idea yang abstrak. Apalagi, Mary Douglas, antropolog Inggris, menyatakan bahwa cara pandang biner semacam ini memang tugas pengetahuan dan selanjutnya realitas adalah lebih rumit.

Sayangnya, tulisan Saudara Saidi tidak menyisakan ruang kebaikan bagi dua wajah yang dianggap palsu ini. Padahal, keduanya adalah respons terhadap modernitas dengan pendekatan yang berbeda. Apalagi, tuduhan palsu telah mencederai kemungkinan dialog karena telah menutup pintu kebenaran bagi yang lain.

Liberalisme dan radikalisme
Dalam sejarahnya, liberalisme adalah respons terhadap dominasi gereja terhadap kehidupan umatnya, termasuk pendakian kebenaran yang dimiliki sepenuhnya oleh otoritas para rahib. Masa ini ditandai sebagai masa pencerahan (aufklarung). Persoalannya adalah jika kata 'liberal' ini dicangkokkan kepada sebuah tradisi yang sebenarnya mempunyai pengalaman sejarah yang berbeda dengan Kristen tempat di mana pemikiran kritis ini tumbuh. Apalagi, Kata Mark R Woodword, pandangan dunia (weltanschauung) Islam dan Kristen berbeda, yang pertama bercorak sosiologis dan yang terakhir adalah kosmologis.

Radikalisme pada hakikatnya adalah fenomena umum yang bisa diusung oleh kelompok apapun yang mengedepankan cara kekerasan untuk tujuan tertentu. Kalaupun misinya baik, keberadaan kelompok ini dihadapkan dengan kuasa besar, baik pada tingkat lokal maupun internasional. Adalah wajar jika posisi mereka acapkali terjepit karena dikeroyok banyak kekuatan.

Karena keduanya sama-sama 'melek' media, dengan sangat kencang kedua kelompok ini menebarkan idealismenya lewat saluran media cetak dan elektronik, yang menyebabkan keduanya berada pada posisi ekstrem. Dalam sebuah kesempatan, keduanya pernah berdebat. Tapi, siapapun tahu, acapkali drama panggung lebih menyeruak. Satu sama lain mencari titik lemah untuk dinafikkan sebagai wakil yang sah dari Islam, tentu saja dengan ungkapan yang berbeda.

Liberalisme telah memasukkan kosa kata baru yang diaku disemangati Islam, sedangkan radikalisme tetap menggunakan 'kata' lama karena keyakinannya akan keabadian pesan Islam. Dibandingkan dengan NU dan Muhammadiyah, kedua kelompok yang berseteru ini memang lebih lantang menyuarakan kembali pentingnya menafsirkan kembali kitab suci agar tidak dipasung oleh 'kepentingan'.

Dalam pandangan Gadamerian, kegagalan liberalisme adalah penolakanya pada otoritas dan tradisi, yang seharusnya keduanya perlu direhabilitasi. Sebab, dunia tafsir akan mengurai kembali siapa yang berhak mengatakan (otoritas) dan melanjutkan dunia pemikiran selanjutnya (tradisi). Sekarang, tampak bahwa Islam liberal hanya ingin mengubah peta, yaitu dengan menggeser otoritas pada intelektual, bukan ulama, dan menggunakan alat baru --hermeneutik dan turunannya untuk memaknai teks.

Radikalisme yang ditempelkan pada gerakan seperti FPI tentu akan menimbulkan pertanyaan. Sebab, secara kasat mata apa yang dilakukan kelompok ini adalah mengambil alih peran polisi dalam memberantas penyakit masyarakat yang mandul. Lebih arif, fenomena ini dilihat sebagai gerakan simbolik agar ada penguatan hukum (law enforcement) yang dicita-citakan bersama oleh seluruh ragam masyarakat.

Betapa banyak ibu merasa suaminya dirampas oleh minuman keras, sebuah keluarga hancur berantakan karena 'maksiat' merajalela dan perjudian yang membuat kepala rumah tangga bangkrut. Sebenarnya, gerakan FPI dan sejenisnya masih berada di dalam payung besar hukum yang pelaksanaannya amburadul dan perlu ditekan agar berfungsi sebagaimana mestinya. Tapi, ironisnya, media hanya menyuguhkan serban, pedang, dan teriakan kemarahan. Jika dibaca berbeda, jargon mereka sebenarnya tak lebih dari penguatan terhadap Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Gerakan alternatif
Di tengah kontroversi ini, saya berbeda dengan Zaim Saidi yang masih mengandaikan masa lalu, tanpa mencoba menyebut model yang mewujudkan gagasannya sendiri tentang Islam Madani. Bagi saya, kedua kelompok ini adalah varian yang juga pernah hidup masa itu, tetapi bukan berarti tidak ada yang mendekati idealisme yang ditawarkan oleh Nabi. Gema Nusantara Zaim Ukhrowi, Al Ma'un Institute Muslim Abdurrahman dan Pusat Pengabdian Pesantren dan Masyarakat (P3M) Masdar Mas'udi adalah beberapa contoh yang perlu disebut sebagai perwujudan idealisme Piagam Madinah.

Akar pertentangan pendapat dari kedua seteru ini berasal dari kebutuhan dasar manusia yang belum dipenuhi oleh negara dan pemerintah. Masyarakat miskin akan selalu mencari kepastian hidupnya. Setelah mereka merasa di dunia tidak beruntung, maka kelompok radikal yang mampu menghiburnya, karena hanya ada satu kata yaitu berjuang di jalan Tuhan tanpa reserve. Sementara, liberalisme di sini menjadi representasi dari kepentingan Islam elite urban, seperti pembelaan terhadap perkawinan campuran, sekulerisme dan demokrasi. Sebaliknya, ketiga contoh organisasi sosial di atas telah melampaui diskursus yang diperdebatkan kedua kelompok 'ekstrem' ini.

Namun demikian, keduanya pada hakikatnya sama-sama mempunyai sumbangan pada pembangunan masyarakat muslim. Namun demikian, kita tidak bisa terlalu berharap banyak bahwa kedua kelompok ini akan melahirkan sebuah tatanan masyarakat yang siap menyongsong terciptanya masyarakat Madinah.

( )

Saturday, December 02, 2006

Malam seperti kemarin

Malam ini sendiri di kamar adalah seperti kemarin, di depan komputer menjelajahi dunia yang tak berujung. Kadang berhenti sejenak di satu 'tempat', lalu pergi lagi mencari sesuatu yang 'mengganjal' di hati. Untuk menyangga badan yang 'lelah' saya memasak air untuk menyeduh 'minuman', milo dan teh 'general'. Rasanya aneh, sebab tak pernah di warung pelanggan memesan jenis campuran semacam ini. Tapi, saya merasa melakukan eksperimen baru yang membuat nyaman lidah.

Kadang, saya melakukan banyak hal di meja untuk mendapatkan ragam 'pengetahuan', dari membaca [sekarang Mohammad Arkoun, The Unthought in Contemporary Islamic Thought], menengok kabar 'terakhir' di detik, memeriksa email, mengoreksi artikel, menyapa teman di YM dan tentu saja mendengarkan musik. Tidak bisa dibayangkan bahwa dari kamar lantai 10 saya bisa mengepakkan sayap mengelilingi 'dunia'. Saya tak perlu melangkahkan kaki bersilaturrahmi dengan Pak Ardi dan berbagi lagu 'Jablai' Titi Kamal. Dari sini, perbincangan mengalir.

Bermula,

ahmadsahidah: Di mana Pak?
razan_dad: Di bilik
razan_dad: kurang sehat nih
ahmadsahidah: Mungkin perlu lagu Titi Kamal
razan_dad: punya mp3 nya?
razan_dad: Thanks
razan_dad: Kocak juga lagunya
razan_dad: Ayo pulang sana
ahmadsahidah: He..he..
razan_dad: ntar ada yg jadi jablai
ahmadsahidah: Saya juga 'ngeh' ama lagu ini
ahmadsahidah: Suaranya nggak bagus kan si Titi Kamal?
razan_dad: Iya, pas-pasan
ahmadsahidah: Tapi, kok ya pas?
ahmadsahidah: Pas lucunya, lugunya, dan nggak masuk akalnya
ahmadsahidah: masak suami nyasar ditanggapi ringan
razan_dad: Ya itu dia kocaknya
razan_dad: 'Emang enak'
ahmadsahidah: He..he..saya ketawa pas bilang, "Emang enak?"

Percakapan ringan di atas mungkin tak perlu melibatkan analisis linguistik atawa pendekatan hermeneutik untuk memahaminya. Saya hanya ingin 'menghibur' teman yang sedang tak enak badan, dan mungkin 'lagu' bisa meringankan beban.

Saya masih percaya bahwa musik bisa melakukan apa saja untuk kita. Ia bisa mengantarkan 'imaji' pada alam yang tak terkatakan, melambungkan harapan yang mulai hilang, menguatkan hati yang sedang dirundung gundah yang anehnya kadang tak tahu sebabnya, dan tentu saja ia menciptakan suasana romantik. Bukankah lagu latar dalam sebuah filem makin mempercantik 'adegan'? menambah efek dramatik? dan bahkan tampak hidup?

Sayangnya, tetangga kamar dan juga teman baik yang lain tak menyukai musik. Katanya ia adalah tradisi luar, yang menjauhkan kita dari Tuhan. Kami berdebat lama untuk mempertahankan keyakinannya masing-masing. Baginya, ia adalah 'racun'. Sedangkan, bagi saya ia adalah 'alat', bukan tujuan, untuk membuat hati ini mengingat eksistensi sejati. Agak susah meyakinkan dia bahwa ketika saya mendengar lagu Ilir-Ilir ciptaan Sunan Bonang yang dibawakan oleh Kiai Kanjeng Cak Nun mata ini tiba-tiba sebak dan degup jantung lebih cepat dari biasa. Isi dan bunyi gamelan telah menggasak kesadaran akan seluruh semesta. Lamat-lamat muncul bayangan masa kecil, remaja, dewasa dan masa depan, berkelebat singkat. Sepersekian detik, jiwa ini melanting ke langit.