Posts

Showing posts from December, 2006

Jika Film tidak mudah lagi dipahami

Film (Malaysia:filem) bisa dilihat sebagai aktivitas budaya dan komunikasi. Untuk memahami dua yang terakhir agar mengantarkan saya pada pemahaman yang baik tentang film serta merta saya harus memahami kebudayan dan gaya komunikasi yang dijadikan latar dari sebuah karya sinematik. Duh, ternyata dunia yang satu ini tidak gampang dan sederhana, meskipun para penikmatnya kadang tak perlu direpotkan dengan tetek-bengek yang bersifat akademik agar bisa menikmati sebuah film.

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menonton film bersama seorang karib berjudul Casino Royale di Bukit Jambul Theatre. Atas kebaikan teman, saya bisa masuk tanpa karcis (baca: gratis). Tidak itu saja, kami berdua juga dibawakan pop corn (jagung brondong) dan pepsi cola. Tentu menyenangkan, bukan? Lalu, haruskah kita masih disibukkan untuk membingkai film ini dalam sebuah referensi agar makna ‘film’ utuh sampai di kepala kita?

Film tidak seperti buku, karena ia dilihat dalam satu waktu. Ia susah diberi highlight agar k…

Makan Malam yang Beda

Mungkin karena sore yang basah, lapar lebih cepat daripada biasanya. Sehingga menunggu maghrib tiba terasa sangat lama. Ketika azan dikumandangkan dari surau, saya bergegas ke bawah. Syukur, jendela kamar saya mengarah ke pengeras suara, sehingga panggilan ilahi dapat terdengar dengan jelas. Di musalla, saya bersua dengan Pak Ardi. dia bertanya apa saya udah makan, lalu saya bilang bahwa kami akan makan di luar sehabis sembahyang.

Berempat kami pergi menuju Rumah Makan Padang Bukit Jambul. Kikil adalah menu pilihan saya, karena selama di Malaysia saya tidak pernah melahapnya, ditambah perkedel dan sayur gulai nangka. Aroma yang mengundang selera dan nasi yang empuk membuat makan saya nikmat. Rasa yang beda dengan masakan Malaysia atau India. Di sela makan, kami ngobrol tak tentu arah, ke mana angin berhembus, kami pasrah. Topik hangat yang mencuri perhatian adalah poligami. Satu sama lain melihat sisi berbeda dari praktik ini. Menarik, memang. Tapi, perbincangan ini ujung-ujungnya masa…

Barbaque seorang Teman

Dering telepon mengagetkan saya yang sedang mengetik di ruangan kampus. Teman baik saya mengundang saya untuk turut 'merayakan' (tak disebutkan) dengan barbaque. Tentu, saya mengiyakan.

Tapi, sayang, ketika bersia-siap berangkat, hujan turun. Dengan serta merta, saya memberitahukan akan kelambatan kami. Sebelumnya, saya, Mas Tauran dan Pak Allwar ingin berangkat bareng dengan naik bus. Namun, karena hujan tidak juga reda, kami terpaksa membatalkan untuk memenuhi undangan.

Agar tidak ditunggu-tunggu, saya mengirim sms bahwa kami tidak bisa datang karena terlalu malam. Tapi, Mas Ayi tetap mengharap kehadiran kami sebab acara belum dimulai. Dengan bergegas, saya turun ke bawah menembus gerimis menjemput mas Tauran di International House. Bersama Pak Allwar, kami menunggu di halte menuju KOMTAR tempat Ayi akan membawa kami ke flatnya.

Tiba di rumah lantai 23, kami disambut manis oleh tuan rumah, Adik Woelan dan sobat yang berwajah kalem, Icank. Setelah mengucapkan salam, saya ke balk…

Ketika Bahagia itu Murah

Dalam sebuah penelitian, ternyata uang bisa membeli kebahagiaan. Ini tentu mengejutkan karena ia menjadi antitesis bahwa kekayaan itu tidak identik dengan hidup bahagia.

Saya tidak akan menyoal benar dan tidaknya hasil penelitian ini. Saya hanya ingin menikmati hidup tidak dibebani oleh sesuatu yang membuat saya tidak nyaman. Kata orang bijak bahwa kita harus menemukan 'yang berharga' pada apa yang di diri kita. Tak perlu, berharap bahwa kebahagiaan itu ada di seberang. Biasanya, dalam keseharian selalu saja muncul 'di benak' bahwa kalau saya mempunyai ini tentu akan menyenangkan, atau bahkan membahagiakan. Tidak pernah kita menjadikan milik kita adalah yang terbaik, yang perlu dinikmati. Sehingga secara tidak sadar kita tidak akan pernah mencecap kebahagiaan.


Seperti hari ini, saya mengulang kembali untuk ke sekian kalinya bermain pingpong dengan teman-teman baik. Bagi saya, ia adalah olahraga yang membuat tubuh ini berkeringat, syaraf tidak tegang, tak jarang berteriak…

Menghindari Perangkap Neo-Liberalisme

Iseng-iseng saya browsing di google, ternyata tulisan saya di Republika telah dimuat pada tanggal 4 Oktober [ baca: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=267106&kat_id=16] dan di list google juga terdapat tulisan yang mengkritik Rencana saya di Utusan Malaysia oleh seseorang yang mempunyai alamat URL di http://shah2ello.blogspot.com/2006/09/18092006.html] dengan tajuk Response to Writing by Ahmad Sahidah.

Jadi, ketika saya secara sadar 'mengkritik' tulisan orang lain di Republika, maka saya harus siap 'dikritik'. Inilah hakikat dari pembelajaran hidup bersama. Tentu, kita masih ingat ketika di milis ini muncul 'kritik' terhadap sikap politik saya terhadap Bush yang menimbulkan 'tanggapan' kritis dari teman-teman, Aris, Rinza, Fika, dan Wheeza.

Dengan perbedaan sebenarnya kita bisa menyelamati sisi 'kognitif' ilmiah dan psikologi orang lain. Mungkin, pernyataan saya tentang Bush lebih mendekati luapan psikologis dibandignkan 'ilmia…

Malam seperti kemarin

Malam ini sendiri di kamar adalah seperti kemarin, di depan komputer menjelajahi dunia yang tak berujung. Kadang berhenti sejenak di satu 'tempat', lalu pergi lagi mencari sesuatu yang 'mengganjal' di hati. Untuk menyangga badan yang 'lelah' saya memasak air untuk menyeduh 'minuman', milo dan teh 'general'. Rasanya aneh, sebab tak pernah di warung pelanggan memesan jenis campuran semacam ini. Tapi, saya merasa melakukan eksperimen baru yang membuat nyaman lidah.

Kadang, saya melakukan banyak hal di meja untuk mendapatkan ragam 'pengetahuan', dari membaca [sekarang Mohammad Arkoun, The Unthought in Contemporary Islamic Thought], menengok kabar 'terakhir' di detik, memeriksa email, mengoreksi artikel, menyapa teman di YM dan tentu saja mendengarkan musik. Tidak bisa dibayangkan bahwa dari kamar lantai 10 saya bisa mengepakkan sayap mengelilingi 'dunia'. Saya tak perlu melangkahkan kaki bersilaturrahmi dengan Pak Ardi dan ber…