Posts

Showing posts from March, 2007

Selamat Hari Film Nasional!

Mumpung sedang merayakan Hari Film Nasional, seyogyanya kita turut gembira bagaimana film kita telah mulai terjaga dari tidur panjangnya. Meskipun dari segi jumlah belum menggembirakan, tetapi paling tidak kita sedikit mempunyai banyak pilihan beragam genre dan tema film yang dibuat belakangan ini.

Untuk itu, rencana Pagelaran Film Indonesia bisa dikerjakan lebih awal untuk memastikan agar PPI bisa menggelar kembali acara tahunan ini. Saya adalah saksi bagaimana Mas Ali, Mas Romi dan Mas Baim berkejaran dengan waktu untuk menyukseskan hajat bersama agar kita bisa menonton film kita di sini, lebih jauh memahami bahasa gambar yang jauh lebih rumit dari teks verbal. Sebagaimana dikatakan oleh Dr. Robert Langdon (Tom Hanks) dalam The Da Vinci Code, The picture (read: symbol) has a thousand of words. But, which words?

Saya juga tidak menampik peran seluruh panitia dan mereka yang memberikan dukungan bagi terlaksananya PFI I. Sayangnya, PFI II kemarin tidak bisa dilaksanakan karena tidak adan…

Keindonesiaan di Negeri Jiran

Secara pribadi, saya menemukan 'indonesia' pada acara kemarin. Salut untuk seluruh panitia yang telah mengemas gawe seminar dan sarasehan menjadi kenangan yang cantik dan manis.

Indonesia Raya yang kita nyanyikan adalah penanda bahwa kita punya rumah yang selalu dirindukan. Tambahan lagi, adik-adik kita membawakan lagu Rumah Kita, yang dipopulerkan oleh Ahmad Albar, benar-benar mampu menyihir saya akan kampung halaman. Meskipun beratapkan jerami dan beralasan tanah, ia tetap rumah kita. Sebuah metafor yang agak melankolik, tapi kita merasa menemukan bahasa yang menyentuh, yang menggerus pongah.

Pembacaan puisi oleh Aziz dan Cut yang mendeklamasikan ulang kegeraman Kyai Mustafa Bisri terhadap carut marut bangsa dan diiringi petikan gitar oleh Edo makin mengukuhkan pesan teks agar kita memproklamasikan kembali kemerdekaan, karena penjajah masih tak beranjak dari dwipa nusantara.

Meskipun, tak jarang dalam acara seperti ini terlontar kekesalan pada aparatus negara, itu tidak berarti…

Nasionaliskah Kita?

Secara singkat, nasionalisme itu adalah sikap pembelaan terhadap keindonesiaan dengan segala isinya. Lalu, apa yang harus dibela? Tanpa mengetahui peta tentang kondisi tanah air sekarang, kita seperti orang buta yang ditanyakan tentang gajah.

Meskipun demikian, sebagai bagian dari bangsa kita tentu akan memahami bahawa tugas kita bukan membela gajah secara keseluruhan. Mungkin saja, si A mengurus ekornya, si B mengelus belalai dan si C menunggang gajah itu sendiri (Nah, yang terakhir ini saya rasa paling nyaman).

Kalau kita membaca buku Confessions of An Economic Hitman oleh Perkins, Indonesia pernah dikerjai negara Maju untuk terjebak hutang sehingga Indonesia tak bisa menolak jika mereka ingin menguras harta kekayaan berupa minyak, emas, tambang dan lain-lain. Ini adalah sebuah pengakuan yang jujur dari pelaku ekonomi negara Maju yagn sudah bertobat, tetapi mungkin sekarang mungkin ada Perkins lain yang akan terus menggerus kekayaan Nusantara.

Lalu, apa yang mesti kita lakukan? Pertama

Tafsir al-Qur’an Menuju Praksis

Ahmad Sahidah
Kandidat Doktor Kajian Peradaban Islam Universitas Sains Malaysia

Perdebatan tentang tafsir ayat al-Qur’an pernah mengharubirukan ruang opini harian ini, yang melibatkan pelbagai generasi, pandangan, dan ideologi. Lalu, setelah ‘perkelahiran’ usai, pertanyaan yang perlu diajukan adalah apa yang harus dilakukan setelah memahami pesan teks kitab suci? Apakah menggelar arena perdebatan dengan tema lain? Atau, dengan inspirasi kata-kata kata Karl Marx, bahwa kita tidak lagi mau memahami dunia, tetapi mengubahnya, maka al-Qur’an seharusnya tidak hanya menjadi konsumsi para intelektual dan sejenisnya, tetapi mampu mengubah masyarakat pemiliknya.

Bagi saya, interpretasi para sarjana Muslim sekarang ini bisa dianggap mewakili semua genre penafsiran yang pernah hidup dalam kajian al-Qur’an. Namun demikian, perbedaan ini perlu dibingkai dalam sebuah penalaran tafsir itu sendiri agar kita bisa memahami lebih jauh mengapa pertengkaran ini menyeruak ke permukaan dan lebih dari itu penti…

Dua Tetangga Menuju Perang?

Ahmad Sahidah
Kandidat Doktor Ilmu Humaniora Universitas Sains Malaysia

Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat yang membidangi masalah pertahanan meminta Tentara Nasional Indonesia bertindak lebih tegas terhadap kapal-kapal Malaysia yang semakin sering melanggar perbatasan di wilayah perairan Ambalat (Kompas, 5/3/07). Peristiwa lama terulang kembali dan menimbulkan amarah anggota legislatif di Senayan.

Tidak itu saja, anggota dewan juga menyuarakan dengan galak agar tentara kita tidak perlu memberikan toleransi pada Angkatan Laut Malaysia. Bahkan, panglima tak perlu meminta izin presiden untuk menembak kapal Asing yang melanggar wilayah RI.

Hebatnya lagi, jawaban yang diberikan panglima TNI Djoko Suyanto adalah "Bahkan, kalau terjadi perang, saya dan KSAU akan nyopir pesawat sendiri, KSAD nyopir tank sendiri, dan KSAL nyopir kapal sendiri ikut perang," (Jawa Pos, 5/3/07). Namun, pernyataan keras ini kemudian diakhiri dengan kalimat diplomatis bahwa TNI harus bertindak berdasarkan huku…

Fast Food Nation

Image
Setelah makan malam, saya membeli cd film bertajuk Fast Food Nation (2006). Terus terang, sejak dulu saya sangat ingin mengenal makanan cepat saji yang di sini dijadikan simbol modernitas, atau tepatnya gengsi. KFC, MacDonald, Texas dan semacamnya seakan menjadi langgam bagi identitas baru kita sebagai bangsa Indonesia menjadi Bangsa Makanan Cepat Saji.

Tidak saja di negeri asalnya pola makan semacam ini menyumbang pada obesitas anak, tetapi juga menyebabkan banyak penyakit, sehingga disebut makanan sampah. Tetapi, di negeri kita, ia menjadi katedral tempat merayakan gaya hidup.
Mungkin, film di atas akan membelakkan mata kita bahwa proses pengolahan daging sebagai bahan asas dari makanan ini tidak sepenuhnya hieginis. Ecoli, nama penyakit yang disebabkan tempat pengolahan daging yang tidak sehat, sempat merebak dan telah mengguncang selera makan orang Amerika.
Lebih dari itu, sekelompok anak muda (setingkat high school) mencoba untuk 'melakukan' sabotase dengan memotong kawat…

BAB DUA

TEORI PEMAHAMAN HERMENEUTIK

2. 1. Tugas Hermeneutik
Sebelum membahas bagaimana menerapkan hermeneutik pada pembacaan teks, perlu diungkapkan di sini asal-usul hermeneutik, tugas dan pertembungan di antara pemikir tentang kedudukan hermeneutik di dalam usaha pemahaman teks. Ini dilakukan untuk memudahkan kita menempatkan perkembangan hermeneutik dalam sejarah pemahaman terhadap teks.

Kata ini berasal dari bahasa Yunani hermēneutikós ('Ερμηνεύς), yang bererti menerangkan, menjelaskan, membuat yang tidak jelas menjadi jelas.[1] Kata tersebut berasal dari mitologi Yunani Hermes yang bertugas menyampaikan pesan para dewa kepada manusia, namun demikian ia tidak hanya mengumumkan pesan itu secara apa adanya (verbatim), tetapi juga bertindak sebagai penafsir yang menjelaskan perkataan para dewa.[2]

Disiplin ini pada awalnya adalah subdisiplin dari filologi untuk memahami teks yang dianggap penting di dalam dunia Kristian, yang meliputi teks-teks anonim, persoalan otentisiti, versi asli dan …

Membaca Kembali Islam

Image
Mengapa para mualaf menghasilkan sebuah karya?

Bisakah Kita Berpikir?

Image
Judul di atas adalah adaptasi dari judul buku Mahbubani Can Asia Think?

Dokter yang baik

Setiap satu semester, saya harus membayar RM 40 untuk kesehatan. Saya rasa ini sebanding dengan pelayanan yang diberikan oleh klinik USM (universitas Sains Malaysia) dan sekaligus pelayanan yang baik dari ibu dokter Noormala.

Tadi, saya diberi surat pengantar oleh dokter untuk cek darah, agar bisa diketahui pengaruh obat yang diminum pada hati, ginjal dan bahkan sekaligus untuk mengukur kadar gula dan lemak (kolesterol). Selain itu, beliau memastikan tentang kehidupan keseharian berkaitan dengan olahraga dan makanan. Mengenai yang terakhir, beliau menyarakan untuk makan sayuran yang mengandung zat besi, minum susu, kedelai (soya), yoghut dan ikan.

Setelah keluar dari ruang praktik, saya menuju ke apotik untuk mengambil obat. Kemudian, saya mendaftar untuk melakukan cek darah. Staf di bagian ini mencatat nama saya dan membuat temu janji (appointment) pada tanggal 12 Maret 2007 sebelum jam 10-an, dengan catatan harus berpuasa sejak jam 9 malam hingga pagi sebelum diambil darahnya. Lagi-la…

Nostalgia dan Lagu

Ketika usia makin beranjak, biasanya raga makin lambat bergerak. Meskipun tak bisa dikatakan sudah mendekati tua, tapi pikiran saya sudah tak bisa diajak berlari. Otak sudah dipenuhi pelbagai pengalaman dan pertimbangan. Tak bisa lagi secepat angin memutuskan segenap persoalan. Atau ini adalah sebentuk kearifan, bahwa kita tak perlu beradu dengan deru?

Justeru, tak jarang masa lalu berkelebat menggoda untuk hadir kembali. Masa muda yang hanya mengenal ‘lawan’ dan menepis kemungkinan resiko dihadapkan dengan kegagalan. Coba tengok musiknya, keras dan menggelegar memecah angkasa. Bacaannya selalu ingin mengubah keadaan, meskipun keadaan tak pernah lepas dari ketidakadilan.

Pagi ini saya mencoba mendengarkan lagu-lagu Skid Row. Meskipun tak segarang heavy metal, tapi gebukan drumnya mengingatkan saya hari Idul Adha di masa kecil karena kami juga bersemangat melaungkan kalimat suci dengan menabuh bedug di Masjid, terutama lagu Youth Gone Wild. Sayangnya, pengeras suara (speaker)yang membant…

Penyalahgunaan Kejahatan

Image
Apa yang terlintas ketika kita melihat buku ini yang bersampul hitam dan gambar seorang Presiden dengan dua tanduk di kepala? Dengan mudah kita akan mengatakan bahawa buku ini ingin menyampaikan pesan, George Bush adalah sosok jahat.


Buku ini tidak berbicara secara khusus tentang prilaku orang nomor satu di negeri Paman Sam di atas. Ia ingin mencoba untuk menempatkan 'kejahatan' sebagai pembahasan falsafah. Menariknya, sekarang ia menyatakan bahwa sekarang kita sedang menghadapi sebuah benturan mentalitas (a clash of mentality), bukan sebuah benturan peradaban (sebagaimana tesis Samuel Hungtinton yang terkenal itu).


sebuah mentalitas yang berasal dari sebuah kemutlakan, dugaan kepastian moral dan dikotomi simplistik berlawanan dengan sebuah mentalitas yang mempertanyakan pembelaan terhadap sikap serba mutlak di dalam politik, yang berhujah bahwa ktia harus tidak merancukan kepastian (certitude) moral subjektif dengan kepastian (certainty) moral objektif.