Posts

Showing posts from July, 2008

Borders dan Surga Buku

Bagi saya, mall terbesar di wilayah Utara Malaysia, Queens Bay, adalah tempat rehat yang menyenangkan bukan semata-mata karena lokasinya di bibir laut dan di depannya teronggok pulau kecil, Pulau Jerejak, lebih dari itu di sini kita bisa mengunjungi toko buku terbesar, Borders. Di tempat yang terakhir ini, saya menemukan rak-rak yang dipenuhi buku-buku terbaru dari pelbagai disiplin.

Di temboknya, saya terserempak dengan tulisan yang berbunyi Books are the carriers of civilization. Without books, history is silent, literature dumb, science crippled, thought and speculation at a standstill - Barbara Tuchman. Ya, dengan buku, segala sesuatunya menjadi terang benderang. Saya tinggal memilih persoalan yang sedang tak terpecahkan untuk dicarikan jawabannya di dalam buku. Hebatnya lagi, di tembok yang lain tertera tulisan I cannot live withouth books - Thomas Jefferson, mantan Presiden Amerika Serikat.

Setiap kali saya mengunjungi toko buku di atas, saya selalu mencatat beberapa buku yang dii…

Peristiwa Pagi

Mungkin karena saya belum shalat Isya', pagi jauh sebelum Subuh, tiba-tiba terjaga dari tidur. Agar segar, saya menyiram tubuh dengan air. Mata jadi terang dan kepala terasa ringan. Karena tanggung, saya tidak tidur lagi. Sambil menunggu azan Subuh, buku Kalim Siddiqui berjudul Stages of Islamic Revolution menjadi teman.

Saya tertarik dengan pernyataan sarjana terkemuka yang bermukim di Inggeris ini bahwa sejarah tidak bergerak dengan melompat. Revolusi terjadi dalam sebuah masa yang panjang setelah perkembangan ide-ide baru. Ide ini pertama kali dibicarakan di antara segelintir orang, kemudian banyak orang, sebelum akhirnya menggapai khalayak (hlm. 47). Ya, pernyataan ini mengandaikan adanya masyarakat minoritas kreatif yang berhasrat untuk melakukan perubahan. Menurut penggagas Parlemen Muslim Inggris, kaum Muslim hanya perlu merujuk kepada Sunnah dan Sirah Nabi untuk mengulang masyarakat berkeadaban.

Membaca kembali A A Navis

Kemarin, saya mengambil tiga buku, dua buah berkaitan dengan A A Navis dan satu novel berjudul Maria Mariam oleh Farahdiba untuk bacaan isteri. Buku penulis Robohnya Surau Kami ini saya ambil untuk membaca kembali judul cerpen yang dijadikan judul antologi ini, yang mengungkap ketegangan antara kesalehan sosial dan individual.

Cerita pendek yang dimuat pertama kali di dalam majalah Kisah ini dulu sempat mengundang kontroversi dan juga pujian. Bahkan, ia telah diterjemahkan ke dalam empat bahasa Asing, Inggeris, Jepang, Perancis dan Jerman. Sesuatu yang jarang terjadi dalam dunia sastera Indonesia. Mungkin hanya tetralogi Pramodya yang mengatasinya. Sebagai tambahan, saya juga menyeimbangi dengan cara pandang kritik sastra yang telah ditunaikan dengan baik oleh Ivan Adilla dalam A A Navis: Karya dan Dunianya (Grasindo, 2003).

Membaca cerita pendek buah karya sasterawan Minang ini membuka jendela rumah agar bisa melihat bagaimana orang lain melihat hidupnya. Lebih dari itu, kadang saya ce…

Malam Budaya Indonesia di Malaysia

Image
Saya dan isteri berangkat lebih awal ke dewan pertemuan tempat perhelatan malam budaya Indonesia bertajuk Sparkling. Pengarah opera musikal, Ibu Junita Batubara, meminta kami untuk datang dua jam lebih awal untuk menyempurnakan olah vokal persembahan pascasarjana Universiti Sains Malaysia.

Ternyata, sesampai di sana, band Tequelectric sedang latihan, sehingga kami menunda sejenak untuk melakukan gladi bersih untuk terakhir kali. Namun tak lama kemudian, akhirnya kami melakukan latihan. Indonesia Pusaka, Apuse dan Ampar-Ampar Pisang dan selarik puisi berjudul Sepi tak Berujung adalah menu kami yang harus dikunyah dan akhirnya dilantunkan dengan sepenuh jiwa.

Menjelang jam 8 malam, bapak dan ibu konsul datang. Panitia terkejut atas kedatangan wakil pemerintah Indonesia di Pulau Pinang ini sebelum acara dimulai. Ternyata, beliau berdua sengaja datang lebih awal karena baru selesai mengikuti acara Fareview di gedung Dewan Budaya, sebelah Dewan Tunku Syed Putera, tempat malam budaya akan di…

Menekuri Dunia Melayu Awal

Tadi pagi, saya membawa foto kopi bagian buku Preaching of Islam yang ditulis T W Arnold kepada profesor dalam rangka melengkapi bahan untuk proyek penulisan Islamisasi Dunia Melayu. Selain itu, saya juga membawa salinan tulisan saya yang dimuat di Majalah al-Islam (Desember 2007) berjudul "Melayu Islam Klasik dan Manifestasi Kontemporari".

Sebelumnya, saya memang mengirim pesan singkat pada profesor setelah menyalin bahan yang dimaksud di atas secara swalayan di toko foto kopi yang terletak di lantai dasar perpustakaan. Satu jam kemudian, beliau menelepon untuk berjumpa. Sebenarnya, saya juga mempunyai catatan lain tentang manuskrip Bahr al-Lahut, yaitu naskah asli yang menjadi koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta, Untuk pertama kalinya, saya membaui naskah kuno. Sebelumnya, saya hanya melihat dalam gambar di buku atau di internet.

Berburu naskah kuno mendatangkan keasyikan. Ada semacam pengembaraan ke masa lalu yang menegangkan karena selalu saja saya tidak mengapresiasi p…

Menikmati Tembang Jawa

Memasuki hari ketiga latihan, kami makin menemukan irama kebersamaan. Apalagi, ada beberapa selipan yang membuat saya makin nyaman menikmati penampilan opera musikal. Pada pembukaan, Wahyu membuka persembahan dengan membawakan tembang (pangkur) Jawa, yang kata mahasiswa PhD Teknik Industri ini, bercerita tentang agama dan pengetahuan. Selebihnya, saya tak bertanya lebih terperinci arti perkata dari tembang ini, tetapi selalu saja memejamkan mata ketika lamat-lamat saya menikmatinya dari jarak yang cukup jauh. Nuansa magis tiba-tiba menyemburat bersama angin malam.

Tanah Air Beta, lagu kebangsaan, yang dinyanyikan bersama juga mendatangkan suasana lain. Kami berempat mencoba untuk menemukan kekompakan, meskipun saya yakin masing-masing mencoba untuk meresapi berdasarkan pengalaman yang mungkin tidak sama. Tetapi, jelas lagu ini mengandaikan tentang tanah air yang dibanggakan, tempat nanti bersemayam dan kedekatan yang dalam untuk merawat dwipantara.

Di sela-sela menyanyi, tiga orang memb…

Menikmati Trek Stadion Kampus

Kemarin, setelah shalat ashar jamaah dengan isteri, kami menunaikan niat untuk berlari di trek stadion. Sekalian, saya ingin memenuhi janji dengan Fakhrizal untuk bermain pingpong sebagai persiapan mengikuti kejuaraan tenis meja Konsulat Jenderal Republik Indonesia Pulau Pinang. Sesampai di sana, saya melakukan pemanasan dengan berlari mengelilingi lapangan sepak bola sebanyak 5 kali. Ini sudah melebihi dari cukup membuat badan panas.

Kemudian, saya menuju ke gedung olahraga untuk bermain pingpong. Di sana, kami bermain ganda sebanyak dua babak. Terus terang, tenis meja selalu menguras tenaga saya dan menyebabkan saya berkeringat. Untung, saya telah menyediakan air minum sehingga dahaga tak menyiksa. Namun, sayangnya saya tak bisa melanjutkan permainan karena harus berbelanja kebutuhan sehari-hari ke pasar Gelugor. Di sana, kami tidak hanya berbelanja sayur mayur, daging ayam, dan ikan asin, tetapi juga memeriksa tulisan di majalah al-Islam dan Milenia dalam edisi Agustus 2008. Sayang,…

Apuse Kokondao dan Ampar-Ampar Pisang

Semalam, kami berlatih menyanyikan lagu daerah, Apuse Kokondao Papua dan Ampar-Ampar Pisang dari Kalimantan. Ibu Yunita, mahasiswa PhD Musik, mengajari kami menyanyi dengan diiringi piano. Tak hanya sekedar melantukan lagu, tapi kami mencoba untuk membahas kemungkinan penyertaan persembahan opera dan koreografi yang menambah cemerlang penampilan. Ya, latihan ini adalah sebagian dari kegiatan untuk mendukung Malam Budaya Indonesia di Universitas Sains Malaysia dalam tajuk Sparkling Indonesia.

Saya sendiri tidak mengerti makna lagu, tapi menyanyikannya sepenuh hati. Saya mengandaikan sedang membaca mantra, yang hanya berharap ada tuah jika mengulang-ulang kata, yang saya yakin itu menunjukkan ekspresi manusia yang tulus dan riang. Lagu Kalimantan di atas juga dinyanyikan beberapa kali untuk menemukan kekompakan antara kami. Akhirnya, sesi ketiga adalah lagu kebangsaan, Indonesia Tanah Air, yang betul-betul menjadi penutup yang manis karena lagu ini menyeret saya ke masa lalu, masa kecil …

Membuka diri bagi Kemungkinan

Dalam dua hari ini, saya mengikuti dua pertemuan penting, pertama menghadiri acara Pusat Informasi dan Pelayanan Partai Keadilan Sejahtera (PIP PKS) Malaysia di Sungai Dua, dekat kampus, dan silaturahmi dengan Dai Bachtiar, Duta Besar Indonesia untuk Malaysia di Konsulat Jenderal RI Pulau Pinang.

Saya tegaskan dalam sesi tanya jawab bahwa saya bukan anggota dan kader PKS, tapi menaruh simpati dengan partai dakwah ini. Bagi saya, politik itu sederhana, yaitu siapa mendapatkan apa dan kapan. Jila, PKS kemudian menyodorkan ide ingin melayani tentu merupakan terobosan baru yang perlu disambut baik oleh komponen masyarakat yang lain. Apalagi, dengan tegas bahwa partai yang banyak digerakkan oleh bekas aktivis mahasiswa Islam kampus ingin mengubah keadaan bersama yang lain.

Sementara, semalam saya mencatat beberapa hal penting dengan komitmen duta besar baru untuk berpegang pada prinsip peduli dan berpihak. Dua kata yang cukup mewakili apa yang bisa dilakukan dengan prinsip ini, yaitu melayan…

Merawat Indonesia melalui Wacana dan Aksi Nyata

Untuk pertama kalinya PPI menghelat sebuah diskusi 'kecil' dalam memancing minat mahasiswa dalam mengenal dirinya dan persoalan bangsanya. Acara-acara sebelumnya boleh dikatakan lebih memerhatikan seremoni bukan diskusi intensif yang tidak memerlukan 'tetek bengek' sebuah acara yang biasanya diisi sambutan.

Tema acara ini adalah Persatuan, Sebuah Keniscayaan: Antara Harapan dan Kenyataan. Sebagai nara Sumber adalah Suyatno, MA, Mahasiswa PhD Ilmu Politik Universitas Sains Malaysia. Sementara peserta dari diskusi adalah Irfan, Haswin, Yatno, Hilal, Doni, Ahmad, Cut, Gaby, Dita , Ahmad, Pangeran, Fajar dan Dede.

Perbincangan ini mengandaikan keinginan untuk menciptakan hubungan sinergi antara masyarakat kreatif dan pemerintah, yang meliputi isu penting, di antaranya keinginan untuk maju dan berubah dimiliki oleh keduanya, tidak adanya titik temu untuk saling bekerja sama, masing-masing mempunyai kepentingannya sendiri dan demokrasi adalah modal penting untuk kemajuan, tapi…

Memahami Diri Melalui Buku

Di tengah hujan yang deras mengguyur, saya berjalan dengan payung di tangan mengunjungi toko buku. Kemarin, saya melihat tumpukan jurnal Pemikir yang belum diletakkan di rak. Saya ingin memastikan apakah tulisan saya berjudul "Peranan Intelektual di Zaman Globalisasi" dimuat. Sayangnya, karya tersebut belum bisa dibaca di jurnal tiga bulanan yang diterbitkan oleh Utusan Karya, perusahaan yang menaungi koran terkenal Utusan.

Lalu, saya kembali bermain dengan hujan dan menyusuri jalan yang tergenang air menuju mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di depan perpustakaan. Setelah mengantongi uang, saya melipat payung dan berjalan di sepanjang koridor. Dalam perjalanan kembali ke kampus, saya mampir ke pameran buku Penerbit USM dan membeli satu buku yang ditulis oleh Dr Suhaimi Abdul Aziz bertajuk Kecerdasaan Emosi dalam Kesusasteraan Kanak-Kanak. Agar pembacaan saya lebih kuat, saya menemui penulisnya di ruangan wakil dekan Fakultas Ilmu Humaniora untuk berbincang dan meminta tanda…

Sepagi ini hujan

Semalam, saya menyangka hujan akan turun. Meskipun ada bulan bertengger di langit, tetapi di sebelah ujung langit yang lain awan berarak gelap. Ya, dalam perjalanan ke pasar malam Tun Sardun, kami menyusuri malam dengan motor butut dengan hasrat berbelanja kebutuhan sehari-hari, seperti sayur, lauk dan tentu saja menjadi acara ini sebagai rekreasi murah.

Nyatanya, hingga tengah malam kami tak mendengar bunyi tetesan menimpa kanopi lantai bawah, seperti biasa jika hujan datang. Justeru, saya menemukan hujan di pagi hari ketika bersama kawan karib saya menyesap teh tarik di kantin. Tanpa didahului oleh irisan kecil, tiba-tiba air tercurah lebat. Kami pun tetap kembali ke flat mahasiswa dengan penutup koran bekas di kepala. Di depan International house, saya berjumpa dengan teman kampus, Kazem Youssefi, mahasiswa PhD dari Iran, yang berniat pergi ke kantor imigrasi yang berada di sebelah Bank CIMB. Setelah berbincang sebentar dengan kawan yang sedang menulis disertasi tentang puisi Hafiz …

Becermin melalui bahasa

Sisa gairah terus berlanjut hingga pagi. Semangat itu pun terus membuncah ketika saya sampai di kampus untuk mengikuti kuliah umum Profesor Emeritus Dr Abdullah Hassan berjudul Bahasa Melayu di Persimpangan: Antara Tuntutan Jati Diri dan Rempuhan Globalisasi di Dewan Budaya. Berbeda dengan kuliah umum sebelumnya, pesertanya membludak dan bahkan dihadiri juga oleh banyak tokoh penting universitas.

Kuliah ini juga diikuti dengan anugerah bahasa Melayu Universiti Sains Malaysia 2007. Untuk tahun ini, hadiah digondol oleh dosen arsitektur Prof Madya Zulkifli Hanafi. Sebelum acara ini dihelat, Abdullah Hassan memberikan kuliah selama hampir dua jam tentang pentingnya bahasa nasional dalam menunjukkan identitas atau jati diri. Di dalam buku kecil, saya mencatat beberapa hal penting, di mana saya menemukan ketakutan kita pada Barat tetapi pada sisi lain, kita tidak bisa mengelakkan diri dari cara mereka memahami realitas. Ya, di satu sisi kita khawatir bahwa globalisasi melalui penggunaan bah…

Minggu yang Menyenangkan

Hari minggu kemarin, kami mengisi hari dengan mengunjungi danau kampus untuk bercanda dengan ikan. Isteri saya dengan riang melempar remahan roti untuk dilahap oleh binatang yang bernapas dengan insang ini. Seperti biasa, lele berbadan jumbo itu mengalahkan ikan lain yang lebih kecil untuk memangsa roti.

Selepas menikmati danau kampus yang mulai menyegar karena dalam hari terakhir ini ditingkahi hujan, kami pun beranjak meninggalkan tempat favorit kami menuju kampus untuk mengecek tulisan koran minggu. Sayangnya, tulisan di kolom ide (opini) dan resensi saya juga belum dimuat oleh salah sebuah koran nasional. Bukan barang baru, saya harus melupakan untuk mengkoleksi surat kabar karena tulisan dimuat.

Karena rintik, kami pun bergegas. Di kampus, ruangan komputer masih sepi. Maklum liburan. Tak banyak berubah dalam penelusuran berita koran minggu, selain menengok resensi buku, kolom budaya dan sastera, saya juga mengikuti informasi politik baru, baik Malaysia maupun Indonesia. Namun, saya…

Meraup Semangat dari Liyan

Image
Sejak semalam, saya telah merencanakan untuk hadir pada acara kuliah umum (syarahan umum) Dato' Sri Idris Jala, Direktur Maskapai Malaysian Airlines (MAS). Saya tak banyak tahu tentang mantan mahasiswa manajemen USM ini, selain hanya mengenalnya sebagai manajer yang berhasil membantu MAS dari kebangkrutan karena persoalan keuangan.

Ternyata, kabar itu bukan mengada-ngada. Tadi pagi, saya melihat sosoknya secara lebih dekat karena dia dan tamu yang lain berjalan melewati kursi yang saya duduki di bagian tengan dekat panggung. Acara yang dikemas dalam tajuk Business Turnaround: The MAS Experience berjalan lancar, meskipun tak banyak peserta yang meramaikan untuk mendengar pengalaman keberhasilan anak Sarawak ini memberikan keuntungan tertinggi dalam sejarahnya pada perusahaan pemerintah Malaysia yang berada dalam manajemen GLC atau Government Link Corporate.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh organisasi alumni USM sebagai bentuk kepedulian mereka mewujudkan hubungan alumni dan almamater…

Kabar Baik itu Mungkin Disalahpahami

Isteri saya mengkritik cerita saya di sini tentang kegiatan saya berjamaah di surau flat. Mungkin, penceritaan ini sebentuk narsisme yang tak baik bagi kesehatan. Namun, saya berkilah. Toh, saya juga mengungkapkan kehadiran jamaah lain, pekerja Pakistan yang juga tinggal di satu rumah susun. Malah, saya menyebut nama segala, seperti Naim, Sayyidul Islam, dan Ali.

Pagi ini, kami berdiskusi bahwa saya berjamaah maghrib untuk sekaligus menjalin silaturahmi dengan warga flat. Lagi pula, saya paling banter mengunjungi surau yang 'tak terawat' itu waktu maghrib. Di sini, saya bisa saling bertukar sapa dan cerita. Lebih dari itu, saya yakin bahwa jamaah itu mempunyai implikasi sosial, tidak hanya batin pengamalnya. Betapa saya juga memberikan apresiasi pada mereka yang juga meluangkan waktu untuk bershalat bersama. Pendek kata, orang lain juga bisa melakukannya.

Di benak ini sekarang berkelebat, apakah yang harus kami lakukan agar surau itu tidak terbengkalai? Sesawang di langit-langit…

Membuang bosan dengan Body Language

Tadi sore, kami secara spontan melakukan senam di rumah. Meskipun, baru pertama, saya cukup akrab dengan gerakan yang diperagakan isteri, karena pernah melihat sebelumnya di pelbagai kesempatan. Dulu, ANTEVE sering memutar senam di pinggir kolam setiap pagi.

Ternyata, tangan terasa pegal karena tak terbiasa dengan gerakan yang diajarkan isteri. Tapi, saya tetap memaksakan diri untuk terus menggerakkan lengan agar otot meregang. Tak terasa, keringat mulai keluar, meski tak deras. Saya betul-betul menemukan dunia baru karena ini adalah pengalaman pertama. Apalagi, sudah dua mingguan saya tak berolahraga.

Kata isteri, senam ini cocok untuk perempuan, tapi bagi saya, ini juga bisa dilakukan kaum lelaki. Intinya, kita perlu memanaskan badan dengan gerakan agar metabolisme tubuh berjalan normal. Nyatanya, saya merasa lebih ringan dan mandi pun terasa segar. Namun, sebelum memasuki kamar mandi, saya harus mengeringkan keringat dengan menyalakan kipas di titik angka 3. Baru setelah kering, saya…

Lagi-lagi tentang Hujan

Genangan air di aspal parkir flat bergerak diterpa butiran rintik hujan. Pertanda hujan masih turun. Ya, sebelumnya, saya telah melihat mendung hitam berarak di atas bukit ketika baru keluar dari Fakultas Pendidikan bersama Zailani. Kata kawan karib saya, sebentar lagi hujan. Ya, ternyata jam 12-an hujan benar-benar tumpah dari langit.

Saya bersyukur karena tanah yang akan dipijak nanti telah basah. Tiba-tiba saya bergidik hujan kali ini disertai angin kencang. Bunyi desirnya mendebarkan. Samar-samar terdengar benda jatuh berdegum keras. Di tengah hujan deras itu, saya menengok sekilas dari jendela kampus butiran hujan yang jatuh dalam kemiringan karena diterpa angin keras. Stenly, kawan karib saya, berkali-kali melihat hujan melalui jendela dengan menguak gorden.

Hingga jam 1, hujan masih mengguyur bumi. Tapi, saya tak pernah malas menghadapi cuaca seperti ini. Justeru, dengan payung, saya betul-betul menikmati langkah kaki menuju ke mana pun. Kebetulan, saya ingin mengisi botol air mi…

Masih tentang Hujan

Hujan adalah peristiwa biasa, seperti panas terik dan gelap malam. Tapi, di Pulau Pinang, tempat saya tinggal, ia adalah berkah yang tak terkira. Betapa saya bisa menghitung dengan jari peristiwa air tumpah dari langit. Belum lagi, curahnya tak banyak dan tak lama, sehingga air itu tak meresap dalam ke bumi.

Semalam, sebelum jam 11 tepat, tiba-tiba saya mendengar bunyi gemerisik air menimpa kanopi rumah di bawah lantai 8, tempat kami bermukim. Ya, hujan! Saya 'melonjak' girang, meski tak perlu berdiri dan menghentakkan kaki. Hujan deras dan tak sebentar seperti biasa. Untuk merasakannya, saya membuka nako jendela, menikmati butiran air jatuh di sela cahaya lampu penerang parkir flat. Lama, kami berdiri untuk merasakan dingin yang mulai menyelusup lubang di sela kaca nako.

Karena tak tidur siang, saya beranjak tidur awal dan terus menikmati bunyi hujan yang makin lebat. Di benak, saya membayangkan bahwa pagi esok adalah keindahan, karena pepohonan akan lebih hijau dan tanah basah…

Anwar Ibrahim di Ujung Tanduk

Image
[Jawa Pos, Rabu, 09 Juli 2008 ]

Oleh Ahmad Sahidah*

Hingga memasuki minggu kedua, kasus ''sodomi'' Anwar Ibrahim masih menghiasi media utama Malaysia. Malah, sekarang drama tersebut memasuki babak baru, yaitu perseteruan terbuka antara tokoh reformasi itu dan calon perdana menteri Mohammad Najib Tun Razak. Gonjang-ganjing itu seakan-akan menegaskan apa yang jauh sebelumnya diramalkan kolumnis terkemuka Hishamuddin Rais bahwa pertarungan akhir dari carut-marut politik akhir-akhir ini adalah antara Anwar dan Najib (Malaysia Kini, 18 Mei 2008).

Keduanya saling menyerang dengan amunisi masing-masing. Najib tentu saja lebih diuntungkan karena didukung media arus utama, sementara Anwar hanya berbekal kemampuan orasinya dan media alternatif yang mempunyai daya jangkau terbatas. Tentu saja, media blog tak bisa sepenuhnya dipercaya. Meskipun kadang memberikan sensasi tersendiri dalam memengaruhi opini publik. Pengakuan Mohd Saiful Bukhari Azlan, mantan pembantu Anwar, yang disodo…

Robohnya Surau Kami

Karya A. A. Navis ini saya telah kenal ketika masih bersekolah di tingkat menengah. Tentu dalam pelajaran bahasa Indonesia. Anehnya, saya baru membacanya secara utuh, tidak hanya tahu judulnya, setelah berada di Malaysia. Kumpulan karya penyair ranah Minang ini saya pinjam dari perpustakaan kampus.

Lalu, apa makna simbolik yang bisa kita petik dari karya ini? Ya, rumah ibadah kita tak hanya dibangun lalu ditinggalkan. Meski ia tegas, bisa jadi, eksistensinya telah runtuh karena dikosongkan oleh penganutnya. Sebagaimana surau di flat tempat kami tinggal. Semalam, hanya 6 orang Pakistan yang menunaikan jamaah Maghrib. Lalu, ke mana yang lain? Mungkin, mereka kecapaian setelah pulang kerja.

Untuk kesekian kalinya, saya merasa terenyuh dengan keadaan surau ini. Karpetnya berbau apak dan tembok di atas sana ditumbuhi 'kotoran'. Demikian pula, pintu pagar juga tak berfungsi, sehingga kadang ada kotoran binatang di depan surau. Memang, saya kadang membersihkan sampah, seperti bungkus m…

Bersama Pak Allwar

Bapak yang satu ini adalah kawan sekamar asrama. Hampir selama dua tahun kami berbagi. Sekarang, beliau pindah ke flat Jade View tak jauh kampus. Tadi pagi, kami berdua pergi ke Konsulat Indonesia untuk mengurus pindah alamat. Selain itu, saya juga menemui Pak Ayub untuk membincangkan persiapalan Pemilu Indonesia di Pulau Pinang. Bapak yang kalem ini menegaskan bahwa urusan kepanitiaan pemilihan umum telah diserahkan pada Bapak Karnadi.

Seusai dari urusan ini, kami pun pulang ke USM. Malah, kami pun juga sama-sama mengunjungi klinik kampus. Sekarang, bangunan pusat kesehatan ini lebih luas dan nyaman. Proses pendaftaran tak mengalami perubahan, di mana saya harus mendaftar untuk mendapatkan nomor, lalu ke pusat saringan (screening), baru kemudian menunggu panggilan otomatik. Untuk kesekian kalinya, saya menjumpai Dr Noormala. Beliau adalah dokter yang sangat baik dan penuh perhatian pada pasiennya. Di sini, saya juga bertemu dengan teman Indonesia dan Malaysia berkebangsaan India, Mr …

Pasar Malam

Kami telah merencanakan beberapa hari sebelumnya untuk mengunjungi pasar malam dekat kampus, tepat di daerah Sungai Dua. Setelah menyiapkan catatan belanja, kami berdua berangkat selepas Maghrib. Untuk sampai ke tempat tujuan, kami mengambil jalan pintas dengan melewati kampus. Sebelum memasuki arena, jalanan udah disesaki oleh kendaraan. Biasanya, kami memarkir motor di depan rumah penduduk yang berada di simpang tiga.

Pertama kali, kami belanja sayuran dan bumbu, seperti bawang, cabe besar (RM 1.2 untuk 100 once) dan kecil, telor (RM 2.9 untuk sepuluh biji) pada seorang pedagang India. Lagi-lagi, saya harus berjumpa dengan serombongan pekerja Indonesia yang juga berbelanja. Dari bahasanya, saya mengenal mereka adalah orang Jawa. Malah, saya bersua dengan mahasiswa Indonesia, Mas Noval dan Pak Faisal yang juga tampak menikmati riuh rendah pasar malam.

Niat untuk membeli carimuthu, alat penghalus bumbu, tak tertunai. Kami hanya berhasil membeli alat penggorengan (sotel), sendok nasi p…

Rumah Baru (Hari ke-3)

Semalam kami tidur agak awal. Pagi pun terasa segar karena cukup tidur. Ketika melihat ke luar jendela, gelap masih lekat. Karena ingin mengerjakan banyak hal, saya pun menyiapkan lebih awal ke kampus, memeriksa transfer, membayar sewa rumah, mengunjungi dokter kampus dan menjawab email profesor. Sekarang, saya tak lagi bisa menggunakan internet di rumah, seperti di flat kampus.

Memang, keluar rumah di awal pagi menyenangkan karena udara masih terasa segar. Dengan motor butut, saya menyusuri jalan beraspal yang masih hitam terang karena baru diperbaiki. Dengan jalan pintas, saya tak perlu berputar menuju kampus. Sayangnya, klinik mahasiswa tutup selama libur semester. Sesampai di ruangan komputer kampus, saya membuka koran dan email. Isu yang lagi hangat tentu saja kasus tuduhan 'sodomi' Anwar Ibrahim yang melibatkan mantan pembantunya.

Lalu, saya mengecek transfer dan ternyata sudah terkirim. Tak lama, saya akhirnya pergi ke Bank CIMB untuk menarik uang tunai dan menuju ke Ma…

Menempati Rumah Baru (Hari ke-2)

Pembuka: Once dengan Dealova

Hari pertama di rumah baru, saya masih belum melakukan kegiatan rutin, seperti membaca, menulis dan mendengarkan lagu – kebetulan pada waktu itu sedang menikmati nyanyian dari radio Hot FM. Sekarang, semuanya berjalan seperti biasa. Apalagi, sore itu saya betul-betul merasakan nyaman karena udara segar setelah semalaman hujan, dan bahkan hingga jam 9 pagi. Bumi basah dan burung bernyanyi lebih riang.

Rumah baru yang terletak tak jauh dari kampus berada di lantai delapan, nomor 15. pemiliknya telah merenovasi rumah berukuran 10x7m menjadi tempat yang nyaman. Saya bisa menjadikan kamar satunya tempat membaca dan menulis. kamar mandinya juga telah diubah, berbeda dengan aslinya. Saya bisa menggunakan bak air yang dibuat kecil di pojok, meskipun shower tetap dipertahankan. Dasar bawaan sejak kecil!

Sore hari, ketika matahari terhalang awan, keadaan tampak muram. Saya pun tak ingin larut dalam keadaan sebegini. Dengan ditemani radio, saya melanjutkan membaca novel…

Jakarta di Hari Ke-2

27 Juni 2008

Hari kedua di Jakarta, saya praktis hanya berdiam diri di rumah adik saya bersama Bunda. Selain, merasakan sarapan pagi ‘nasi uduk’, saya juga meminum susu murni nasional rasa coklat yang dibeli dari penjual keliling. Agak heran, sebungkus nasi yang dibubuhi tahu dan ‘bakwan’ hanya dihargai Rp 2500 dan susu murni itu hanya Rp 2000. Saya memilih keduanya adalah bentuk pembelajaran untuk mengonsumsi barang dalam negeri. Nasi uduk itu dijual ama penduduk asli Jakarta Betawi, sementara susu nasional produk Jawa Tengah.

Pagi-pagi sekali, TV One, menayangkan kasus demo mahasiswa yang berakhir rusuh. Sebenarnya, saya mendengar kerusuhan di depan DPR dari supir taksi yang kami ajak ngobrol. Tambahan lagi, ketika saya membeli koran TEMPO (26/6/08) di terminal Kampung Melayu, saya miris melihat ‘gambar’ di halaman depan mahasiswa disemprot oleh water canon dengan judul besar “Demo Brutal”.

Yang lebih membuat saya tersentuh ‘tayangan’ pemukulan polisi terhadap mahasiswa dalam kasus …