Posts

Showing posts from August, 2008

Mereguk Udara Segar yang Basah

Semalam saya mengeset alarm jam pada angka 5.30. Saya pun terbangun. Tak lama kemudian, saya shalat subuh. Seperti direncanakan sebelumnya, saya akan berlari di trek stadion kampus. Dengan menggunakan celana dan kaos olahraga, saya menembus kegelapan pagi. Di pertigaan jalan keluar flat, tampak beberapa anak menunggu bis sekolah. Saya mencoba untuk mereguk udara pagi yang segar hingga merasuk ke paru-paru. Sekitar 8 menit, saya sampai di stadion.

Dengan berlari pelan, saya merasakan kaki basah karena semalam hujan turun. Lamat-lamat, saya mendengar kokok ayam dari daerah perumahan sebelah kampus. Nyanyian pagi yang indah karena kampung dan masa kecil tiba-tiba hadir. Saya mengelilingi stadion tiga kali, lalu pulang. Namun, saya sempat mampir ke tokon 24 jam, 7Eleven untuk membeli kopi indocafe dan mengambil koran The Sun.

Buku Basam Tibi tentang Politik Islam berjudul Political Islam, World Politics and Europe: Democratic Peace and Euro-Islam versus Global Jihad menjadi sarapan pagi. S…

Tantangan Anwar Ibrahim setelah Menang

Image
Sumber Jawa Pos, 28 Agustus 2008
Oleh Ahmad Sahidah

Seperti banyak perkiraan sebelumnya, Anwar memenangkan pemilihan umum sela di Permatang Pauh, Negara Bagian Penang. Kursi ini merupakan tradisi keluarga selama 17 tahun sejak tokoh terkemuka dialog antarperadaban tersebut terjun ke dunia politik. Uniknya, kemenangan itu bukan ditangguk dari fanatisme konstituen terhadap partai, tetapi lebih pada persona tokoh reformasi tersebut. Sebab, dulu sebelum mendirikan Partai Keadilan (sekarang ditambah Rakyat), dia bertanding mewakili UMNO (United Malays National Organization) yang sekarang justru menjadi seteru paling kuat.


Memang sejak awal, partai koalisi Barisan Nasional (BN) tidak begitu percaya diri untuk melawan Anwar dan memosisikan diri sebagai underdog. Meski demikian, mesin politik mereka secara gencar menggunakan banyak cara untuk menjatuhkan lawan, seperti peliputan secara terus-menerus di media cetak dan televisi terhadap calon mereka, Arif Shah Omar Shah.


Pada saat yang sama, sehar…

Menghitung Hari Menjelang Ramadhan

Malam dingin karena hujan rintik. Suasana yang memberi kesempatan untuk menghitung hari menjelang Ramadhan. Dalam beberapa terakhir, saya tidak menggerakkan jemari di depan komputer. Padahal, ada banyak hal yang saya lakukan, seperti mengunjungi rumah kawan baik, Ayi, untuk menyambut bulan puasa. Acara makan yang meriah dengan celotehan dan berlimpah, dengan sajian sup daging kambing, pecel, tempe, ayam dan lain-lain. Cita rasa Indonesia makin hadir karena tuan rumah bersedia untuk memutar film Love yang mengadaptasi Actually Love.

Keesokan harinya, saya dan isteri mengikuti acara piknik fakultas tempat saya belajar. Ini juga mendatangkan keriangan. Bersama beberapa mahasiswa Asing, seperti Arab, Iran dan Thailand, kami mengunjungi Taman Rimba di Batu Maung. Malah, di sana kami sempat bermain pesan berantai yang mendatangkan kelucuan karena pesertanya harus mengingat pesan dalam bahasa Melayu. Lalu, satu setelahnya, saya menjadi pembawa acara untuk pembukaan lokakarya penulisan tesis d…

Memberi Napas pada Demokrasi

Untuk pertama kalinya saya akan merayakan pesta demokrasi di luar negeri. Tidak hanya itu, saya juga terlibat dalam Panitia Pemilu Luar Negeri (PPLN) Perwakilan Indonesia di Konsulat Jenderal Republik Indonesia. Jauh hari sebelumnya saya telah diminta untuk membantu kepanitiaan ini.

Baru hari ini, kami berkumpul untuk membicarakan perhelatan lima tahunan ini di ruang musyawarah KJRI. Peserta yang terdiri dari unsur mahasiswa, dosen, staf KJRI dan masyarakat Indonesia merumuskan kerja beberapa bulan yang akan datang. Hal teknis berkaitan pengisian formulir yang disebut A LN sempat memunculkan perdebatan karena isian Nomor Paspor tidak boleh tidak harus diterakan, padahal ada sebagian warga Indonesia di Malaysia yang tidak berdokumen atau tidak memperpanjang paspor tetapi mempunyai kartu tanda penduduk Indonesia.

Pertemuan pertama ini tentu adalah awal yang baik karena kami telah memulai pembagian kerja tanpa harus disibukkan oleh belum turunnya kucuran dana dari Jakarta. Paling tidak, in…

Rumah Kami di Sore Itu

Sore mendung setelah hujan adalah suasana biru karena kami berdua ngobrol sambil meminum teh dan kopi panas. Keadaan seperti ini jarang hadir. Ya, hujan hanya sering mampir sebentar di pulau kecil tempat kami tinggal. Rumah yang terletak di lantai delapan yang terdiri dari dua kamar, satu dapur dan kamar mandi lebih dari cukup untuk kami berdua menikmati hari.

Kami merasa sangat dekat dengan rumah ini karena telah merawatnya, dengan memperbaiki pipa ledeng yang macet dengan membayar RM 60 pada tukang ledeng, RM 30 pada tukang kunci untuk membuka anak pintu yang terkunci karena anak kuncinya tertinggal di dalam. Selain itu, saya telah menyapunya tiap hari dan tentu menghabiskan banyak waktu di dalamnya. Tambahan lagi, sekarang ada televisi butut bermerek Sanyo yang menemani kami menonton acara televisi. Oh ya, dua hari yang lalu, saya sempat menikmati film Exorcism of Emily Rose yang kesannya tertanam kuat di benak. Meskipun bergenre horor, film ini sebenarnya mengajak penonton untuk me…

Banyak Jalan Menuju Tuhan

Menulis 'Banyak Jalan Menuju Tuhan' adalah kepedulian saya untuk menjadi bagian dari masyarakat yang menginginkan perubahan. Polemik mengenai kaitan dakwah dan politik antara Didin Hafidhuddin, aktivis PKS, dan Asep Purnama Bachtiar, dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, di koran Republika membuka banyak selubung tentang dua isu besar, dakwah dan politik.

Saya mencoba untuk menengahi dua pertentangan ini untuk menemukan semangat dari keduanya agar masyarakat betul-betul bisa memilih wahana yang sesuai dengan aspirasi mereka dalam mewujudkan perubahan. Saya tidak ingin terjebak dengan pilihan normatif, tetapi ingin memberikan nyawa pada kedua pendirian ini agar betul-betul menjadi daya gugah terhadap kealpaan khalayak.

Artikel ini saya sudah siapkan dan bahkan tadi sempat ditambah di tempat tertentu untuk menyempurnakannya. Ya, di warung Jawa, setelah makan pecel lele dan segelas es teh, saya mencorat-coret susunan dan diksi yang tidak menambah terang maksud dari tulisan di …

Senin dan Hujan

Sebelum saya menginjakkan kaki di parkir kampus, hujan menderas. Serta merta saya menambah kencang tarikan gas agar segera sampai. Meskipun demikian, baju depan dan celana saya basah, tapi tidak kuyup. Andaikata saya tidak mampir ke toko 24 jam 7Eleven untuk mengambil koran the Sun, mungkin saya tidak akan kehujanan. Di sana, saya malah sempat bersua dengan Pak Suharma, mahasiswa PhD Bidang Kerja Sosial, yang sedang membeli rokok Gudang Garam.
Akhirnya, dengan bergegas saya memasuki ruangan komputer kampus. Pakaian basah dan ruangan dingin tidak membuat nyaman tubuh. Anehnya, dengan angin AC, pakaian pun kering. Mungkin karena panas tubuh, bukan dingin penyejuk ruangan. Hujan tambah deras. Setelah membaca sekian koran on line, saya merasa perut keroncongan. Saya sempat membaca tulisan Ulil Abshar-Abdallah di koran Tempo, 'Dunia Islam setelah Olimpiade Beijing'. Sebuah gagasan yang menohok dan sebenarnya pernah saya baca sebelumnya karena diterakan di blog pentolan Islam Liberal…

Sore dan Angin Kencang di Kedai

Setelah mencuci piring di dapur, saya pun mandi. Air itu seakan meluruhkan penat yang hinggap setelah tidur dan sebelumnya ke Konsulat Jenderal Republika Indonesia mengikuti peringatan Detik-Detik Proklamasi RI ke-63. Mendung datang, angin tidak lagi kencang. Sore yang nyaman untuk bercengkerama. Bersama isteri, saya menikmati minum sore yang menenangkan.

Secara psikologis, keadaan nyaman dan tenang membuat seseorang mudah memikirkan banyak hal lebih jernih. Di hari kemerdekaan ini, apa yang telah saya lakukan? Apakah hadir dalam upacara kemerdekaan adalah pertanda kecintaan pada tanah air? Ya, pagi buta, saya telah bersiap-siap untuk berangkat ke Wisma Konsulat untuk berpartisipasi dalam upacara. Melawan kantuk adalah ikhtiar kecil menantang hidup. Tidakkah hal sebegini perlu diberi penghargaan? Meskipun semalam tidur tak nyenyak dan tidur pun lewat karena menonton film Sergeant Bilko di TV 3, saya memaksakan diri untuk bangun lebih awal.

Ketika sampai di lokasi, saya menemukan banyak …

Gladi Bersih 17 Agustusan

Seingat saya, hanya beberapa kali saya mengikuti upacara bendera memperingati kemerdekaan Indonesia dalam usia remaja hingga dewasa. Hanya sewaktu masih di sekolah dasar, saya kerapkali mengikuti acara ini, karena diwajibkan oleh guru. Namun, tak satupun detik-detik peringatan itu hinggap di benak. Apalagi, setelah melanjutkan sekolah ke pondok pesantren, praktis saya tidak pernah mengikutinya, malah saat kuliah di perguruan tinggi tak pernah sekali pun saya berdiri tegak untuk merayakan kemerdekaan melalui upacara.

Untuk peringatan yang ke-63, saya diminta untuk membakan UUD 1945 di wisma Konsulat Jenderal Republika Indonesia. Tadi pagi, saya berangkat untuk mengikuti gladi bersih yang dipandu oleh Bapak Henridjal, staf KJRI. Ternyata saya harus melatihkan kembali berbaris, karena pembacaan ini dilakukan dalam upacara ala militer. Bersama Pak Nang dan Mas Supri, kami bertugas pada momen detik-detik proklamasi, yang terdiri dari pembacaan teks, UUD 1945 dan doa. Latihan ini memakan w…

Mengakrabi Liyan

Image
Untuk ketiga kalinya, saya sebagai sekretaris Klub Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kemanusiaan menyelenggarakan rapat dengan beberapa mahasiswa Asing. Tentu, bahasa yang digunakan bahasa Inggeris, meskipun kadang bahasa Melayu turut mewarnai perjalanan pertemuan untuk melaksankan dua program, pelatihan penulisan tesis/disertasi dan rekreasi ke pantai Batu Ferrighi.

Dr Suhaimi Abdul Aziz, wakil Dekan Fakultas Huamaniora, memimpin rapat dan mencoba untuk membagi pekerjaan dengan beberapa peserta yang hadir. Desain T-Shirt untuk acara piknik memantik perdebatan mengenai kata yang pas untuk dilekatkan. Sebelumnya, Ardi menerakan kata Social Afternoon at Batu Ferringhi, namun setelah ditawarkan, tiba-tiba semua menawarkan ide. Gagasan berhamburan, akhirnya dipakai kata Beach Sport, cogan kata yang ada di formulir pendaftaran rekreasi. Tak hanya kata, gambar yang diletakkan dalam sisi belakang menimbulkan perdebatan. Dasar, orang pintar memang selalu kaya dengan ide.

Tak biasa, kami menentukan …

Ayat Ayat Cinta di Kampus

Mungkin agak terlambat, tetapi tetap mempunyai kesan yang dalam. Tadi, kawan baik saya, Mohammad Nasir dan Siti Hazneza, PhD Teknologi Industri dan penulis novel, membahas novel yang meledak di Indonesia. Dr Suhaimi memandu diskusi ini dengan menanyakan beberapa pertanyaan berkaitan dengan novel, seperti sastra Islami, motif pembaca dan teknik penulisan.

Saya hanya bertanya dan mencoba menghadirkan konteks mengapa novel ini menjadi novel laris dan digemari banyak orang. Bagi saya ada ideologi di dalamnya yang mendorong novel ini dicetak ulang hingga belasan kali. Namun, itu absah, sepanjang ia berjalan dalam alam keindonesian. Malah, saya mencoba untuk mempertanyakan mengapa perempuan dalam novel ini kelihatan lemah tak berdaya? Adakah ini yang dikehendaki 'ajaran' Islam yang ingin diperjuangkan oleh penulisnya, Habiburrahman El Shirazy?

Kehadiran mahasiswa S1 sastera menambah marah acara perbincangan ini. Salah seorang dari mereka bertanya jarak antara film dan novel yang menga…

Rumah Sakit itu

Untuk ketiga kalinya, saya mengunjungi rumah sakit daerah Pulau Pinang. Bangunannya tidak berubah, masih warisan lama. Kokoh tegak berdiri dengan tiang besar. Kemarin, saya, isteri dan Stenly mengunjungi rumah sakit untuk menemani isteri check up dan mengunjungi kawan baik, Junita Batubara yang terbaring karena demam dan sakit kepala tak tertahankan.

Ketika kami sampai di bangsal tempat dia berbaring, teman yang sedang mengambil PhD JurusanSeni ini tertidur lelap. Kami pun menunggu dengan sabar. Untungnya, jam makan malam tiba. Stenly membangunkannya. Dengan setia, kami menemaninya makan, meskipun tidak lahap. Katanya, dia mengalami keracunan karena kelebihan dosis obat atas saran dokter di sebuah klinik.

Selalu saja sesudah mengunjungi rumah sakit, saya berpikir keras mengapa mereka harus terbaring lemah di kasur rumah sakit? Tentu karena sakit. Mengapa dan adakah yang bisa mencegahnya? Kita tak perlu pongah bahwa tiba-tiba kita tidak bisa menangkal sakit, namun ada ikhtiar yagn haru…

Membaca di hari Minggu

Minggu seharusnya beristirahat, tetapi apakah memang demikian jika sebelumnya saya menjalani hari dengan riang, tidak ada yang harus dilakukan dengan berat. Semuanya berjalan seperti biasa, membaca, menulis, mendengar dan melihat. Memang, kadang menyebalkan melakukan hal rutin, karena sesungguhnya saya telah mempunyai keyakinan bahwa bacaan saya memerlukan ruang untuk menjadi tindakan.

Pekerjaan kecil yang saya lakukan di kampus adalah wujud ide besar yang sempat hinggap di benak. Termasuk, ketika saya menolak plastik dari toko untuk bungkus barang yang tidak seberapa nilainya, demikian pula tidak membuang sampai sembarangan adalah cara saya belajar menjadi warga bumi yang ramah. Malah, saya juga berusaha sekuat tenaga menyapa dengan warga flat yang berada di samping dan depan rumah kami. Meskipun, kadang agak susah menciptakan keintiman karena perbedaan yang tajam.

Kunjungan hari Minggu ke perpustakaan mungkin adalah salah satu cara memecahkan jam waktu yang dibuat oleh masyarakat bahw…

Sabtu dan Peristiwanya

Setelah Subuh, kami tidur kembali. Pagi yang gelap membuat kami bersemangat memejamkan mata. Tak lama kemudian, kami pun bangun. Jika bermalas-malasan, itu karena cara kami menikmati hidup. Upacara pagi adalah minum teh, terutama untuk isteri. Padahal, teh merek Ahmad telah habis. Saya pun bergegas dengan motor ke warung Maju Jaya membeli teh Boh, yang bahannya berasal dari dataran tinggi Cameron. Sekalian, saya membeli koran Utusan Malaysia untuk mengetahui informasi terbaru satu hari sebelumnya. Ketika membayar, saya menolak barang yang dibeli untuk dibungkus oleh penjualnya. Plastik itu adalah sampah yang tak bisa diurai. Say no to Plastic!

Sebelumnya, saya mampir ke warung makan untuk membungkus nasi lalu dititipkan karena harus pergi ke toko kelontong. Ibu penjual nasi ini tinggal di flat yang sama. Orangnya sangat ramah. Setelah kembali, saya mengambilnya dan kemudian melaju perlahan dengan motor butut ke tempat parkir.

Di rumah, saya makan dengan lahap, sementara isteri masih eng…

Kegembiraan itu Datang Juga

Pagi jauh sebelum Subuh, isteri merasa pusing tak tertahankan. Katanya, tak pernah sebelumnya dia mengalami kesakitan seperti ini. Sebelumnya, kami berharap cemas bahwa ini sebagian dari tanda kehamilan, karena sudah seminggu telat haid.

Agar gundah ini tak berkepanjangan, kami berencana memeriksa urine ke dokter klinik dr Akbar Ali. Memang, sebelumnya kami kadang bertanya ini dan itu kepada isteri teman baik kami Bapak Stenly Djatah, dr Troy tentang warna warni wanita ngidam. Malah kemarin sambil menikmati sore di Restoran Istimewa, kami menanyakan hal yang sama pada teman karib Melayu, Encik Zailaini, meskipun bukan dokter. Hanya saja, kawan yang sedang menyelesaikan PhDnya di kampus sama ini mempunyai seorang isteri dokter.

Akhirnya, sebelum jam 10-an, kami mengunjungi klinik Penawar, tempat dr Akbar Ali berpraktik. Di sana, isteri mengungkapkan keluhannya, seperti pusing, panas dingin, dan mual sekaligus memastikan apakah ini tanda-tanda sedang mengandung. Dengan senyum ramah, dokt…

Rapat dengan Mahasiswa Asing

Inilah untuk kedua kalinya, saya mengikuti rapat klub mahasiswa pascasarjana Fakultas Ilmu Humaniora. Karena peserta musyawarah berasal dari pelbagai negara dunia, kami banyak menggunakan bahasa Inggeris. Pertemuan ini akan membahas dua program, yaitu Pertemuan Umum Tahunan klub dan rencana menyelenggarakan Workshop penulisan tesis dan disertasi untuk mahasiswa baru tingkat master dan PhD.

Dr Suhaimi Abdul Aziz, wakil dekan dan sekaligus penasehat klub kami, selalu setia menemani pengurus dan anggota membincangkan banyak hal berkaitan dengan pengembangan akademik dan kegiatan rekreatif mahasiswa. Kehadiran Pak Ardi, mahasiswa PhD Geografi dan Pak Nasir, PhD Sastera, menghidupkan rapat ini karena keduanya fasih berbahasa Inggeris. Hanya seorang mahasiswi, Mariam dari Iran, yang menghadiri pertemuan ini.

Hanya memerlukan satu jam, rapat itu usai. Saya sendiri bertugas untuk menangani pembuatan T-Shirt yang bertuliskan acara piknik ke Batu Ferringi setelah Annual General Meeting. Pak Ardi …

Menanti Cemas Anwar Menjadi PM

Image
WACANA

07 Agustus 2008

Oleh Ahmad Sahidah
PERNYATAAN resmi Anwar Ibrahim untuk kembali ke gedung parlemen melalui pemilihan umum sela (di Malaysia disebut pilihan rayat kecil) di hadapan media dalam dan luar negeri menarik perhatian banyak orang (31/7/08).

Istrinya, Dr Wan Azizah, telah mengosongkan kursi parlemen Permatang Pauh guna memberikan kesempatan kepada suaminya untuk menggantikannya (Suara Merdeka, 4/08/08). Hal itu dilakukan demi mewujudkan tujuan oposisi membentuk pemerintahan baru (Berita Harian, 01/8/08).

Dua minggu sebelumnya, ikon reformasi tersebut mengulang kembali keyakinannya bahwa pada 16 September 2008, Pakatan Rakyat, koalisi partai oposisi yang dipimpinnya, akan menggulingkan Barisan Nasional (BN), pemerintah berkuasa. Artinya, dalam waktu tak lama lagi dia akan melenggang ke Puterajaya, kantor perdana menteri.

Tentu, Anwar bertaruh dengan penyebutan tanggal peralihan kekuasaan politik yang disebut banyak pengamat sebagai paling panas dalam sejarah Malaysia. Namun, …

Pasar Malam Gelugor

Image
Untuk kesekian kalinya, kami pergi mengunjungi pasar malam Gelugor untuk berbelanja keperluan sehari-hari, seperti lauk-pauk, sayur dan buah (tadi pepaya). Biasanya, kami berangkat ke pasar ini setelah shalat Maghrib. Namun, sekarang waktunya dimajukan sebelum malam. Ya, memang kami akan kehilangan maknanya, sebab pasar itu tidak lagi disebut pasar malam karena hari masih sore.

Mungkin, karena tempatnya dekat dengan kampus, acapkali saya bertemu dengan teman-teman mahasiswa. Hari itu, saya bertemu dengan Marwan dan puterinya, Aisyah. Malah, dari kejauhan saya melihat Dr Hamima Donna, direktur Pusat Kajian Wanita USM, juga sedang berdiri di depan penjual sayuran, tempat kami juga sering membeli kacang panjang, tempe, tahu dan lain-lain.

Sesuatu yang menarik perhatian saya adalah perempuan penjual sayuran yang menggunakan cadar. Hanya kedua biji matanya terlihat. Dia tampak gesit melayani pembeli. Tak ada kesan kikuk. Malah, untuk ketiga kalinya, dia juga dibantu oleh dua orang perempuan …

Jamaah Tabligh

Adalah wajar jika anggota dari organisasi keagamaan ini mempunyai pengikut keturunan India Muslim karena pendirinya adalah tokoh India ternama Muhammad Ilyas Kandahlawi pada tahun 1920. Namun, watak indianya tidak begitu kental setelah diadaptasi oleh Melayu Muslim. Tadi, mereka mengunjungi untuk kesekian kalinya surat tempat kami penghuni flat Bukit Gambir biasa berjamaah.

Saya memerhatikan imam shalat Maghrib dari kelompok ini berwajah Melayu dengan khas janggut panjang menggantung di dagu. Suaranya lembut dan doanya sehabis shalat menenangkan. Saya melihat wajah-wajah baru dari rombongan jamaah keagamaan ini. Olivier Roy, penulis buku Gagalnya Politik Islam, menyatakan bahwa organisasi ini tidak tertarik dengan politik dan lebih menekankan hukum. Mungkin karena watak inilah, mereka relatif tidak mendapatkan tantangan dari masyarakat.

Tadi, saya terserempak mereka sedang berjalan menuju ke lift untuk mengajak penghuni rumah susun menghadiri shalat Isya'. Ya, saya sendiri pernah di…

Sejenang di Wakaf Poetika

Sehabis dari membayar deposit sewa rumah, saya mampir ke musium Tunku Fauziah Universitas Sains Malaysia untuk mengikuti acara apresiasi puisi. Acara telah dimulai. Dekan Fakultas Ilmu Humaniora, Profesor Dato' Abu Talib Ahmad, sedang memberikan sambutan ketika saya datang, lalu disusul oleh pengenalan biografi penyair secara singkat, Marzuki Ali, oleh Profesor Mohammad Salleh Yaapar, kritikus sastra dan direktur penerbit USM. Katanya, Encik Marzuki adalah penyair yang selalu berjalan kaki, tidak memiliki kendaraan. Sama dengan sastrawan besar lain, A Samad Said, yang selalu mengayunkan kaki.

Saya sendiri mencatat hal-hal penting berkaitan dengan sosok yang sedang dirayakan ini. Putera kelahiran Trengganu tahun 1945 ini pernah belajar teater (di Malaysia juga dikenal dengan seni lakon) di Institut Kesenian Jakarta. Malah, kalau saya dengan puisinya yang dibacakan oleh pemuisi tamu, ada beberapa bahasa Indonesia yang menyelip dan biasanya bertahun 1980-an ketika beliau tinggal di I…

Hari Libur

Beberapa malam sebelumnya, kami merencanakan makan pagi di restoran Khaleel, tak jauh dari flat. Baru pagi tadi, kami melunaskan niat itu, ya pagi itu kami berjalan dari rumah menuju warung makan yang sangat populer bagi mahasiswa yang tinggal di asrama luar kampus.

Jalan masih gelap, meski matahari telah terjaga. Ya, ada awan yang berkeliaran. Di tengah jalan, kami bersua dengan kawan satu blok, Dr Supian, dosen USM, yang sedang sarapan di Cafe Kopitiam, yang satu deret dengan warung tempat kami tuju.

Di Khaleel, kami membungkus dua nasi dan lalu pergi mampir ke toko 24 Jam, 7Eleven, untuk membeli gula. Sekalian saya membeli koran Berita Harian yang memuat berita keinginan Mohammad Ezam, bekas sekretaris Anwar, yang menantangnya pada pemilu sela di Permatang Pauh. Katanya, dia akan membuak 'aib' Anwar, namun menunggu masa yang tepat.

Kami pun menikmati sarapan di rumah. Lalu, berbagi membaca koran. Uniknya, kami sempat tidur lagi yang sebelumnya ditingkahi dengan ngobrol. Saya t…

Surau itu Masih Kelabu

Semalam, saya menunaikan shalat berjamaah Maghrib dan Isya di surau flat tempat saya tinggal. Seperti biasa, jamaah yang hadir bisa dihitung dengan jari. Herannya, tidak ada penghuni lokal yang hadir di rumah Tuhan yang berbau apak ini. Ke manakah mereka? Hanya mahasiswa yang menempati flat ini dan beberapa pekerja asal Pakistan yang sering mengunjungi surau yang tak bernama ini.

Kesan tidak terurus dari surau ini akan mudah terlihat. Tidak saja sesawang di langit-langit yang belum dibersihkan, tetapi kaca jendela yang tampak kusam menambah muram wajah tempat orang berjumpa Tuhannya. Saya sendiri berhasrat untuk membersihkan jendela ini agar jamaah bisa melihat ke luar dengan terang benderang. Sebelumnya, saya hanya membersihkan karpet dan kadang menyapu halaman surau yang sering dipenuhi beragam sampah, seperti kertas, pembungkus kue dan tak jarang cotton bud.

Hanya jika rombongan jamaah Tabligh datang melawat, surau ini tampak ramai dan saf kedua juga terpenuhi. Mereka paling tidak b…