Friday, August 29, 2008

Mereguk Udara Segar yang Basah

Semalam saya mengeset alarm jam pada angka 5.30. Saya pun terbangun. Tak lama kemudian, saya shalat subuh. Seperti direncanakan sebelumnya, saya akan berlari di trek stadion kampus. Dengan menggunakan celana dan kaos olahraga, saya menembus kegelapan pagi. Di pertigaan jalan keluar flat, tampak beberapa anak menunggu bis sekolah. Saya mencoba untuk mereguk udara pagi yang segar hingga merasuk ke paru-paru. Sekitar 8 menit, saya sampai di stadion.

Dengan berlari pelan, saya merasakan kaki basah karena semalam hujan turun. Lamat-lamat, saya mendengar kokok ayam dari daerah perumahan sebelah kampus. Nyanyian pagi yang indah karena kampung dan masa kecil tiba-tiba hadir. Saya mengelilingi stadion tiga kali, lalu pulang. Namun, saya sempat mampir ke tokon 24 jam, 7Eleven untuk membeli kopi indocafe dan mengambil koran The Sun.

Buku Basam Tibi tentang Politik Islam berjudul Political Islam, World Politics and Europe: Democratic Peace and Euro-Islam versus Global Jihad menjadi sarapan pagi. Sambil mendengarkan radio, saya mencerap apa yang ditulis oleh dosen ahli hubungan internasional ini tentang politik Islam dan Eropanisasi Islam. Inilah karya yang menegaskan secara lugas bahwa Islam menghendaki sekulerisasi, pemisahan urusan agama dan negara.

Thursday, August 28, 2008

Tantangan Anwar Ibrahim setelah Menang


Sumber Jawa Pos, 28 Agustus 2008

Oleh Ahmad Sahidah

Seperti banyak perkiraan sebelumnya, Anwar memenangkan pemilihan umum sela di Permatang Pauh, Negara Bagian Penang. Kursi ini merupakan tradisi keluarga selama 17 tahun sejak tokoh terkemuka dialog antarperadaban tersebut terjun ke dunia politik. Uniknya, kemenangan itu bukan ditangguk dari fanatisme konstituen terhadap partai, tetapi lebih pada persona tokoh reformasi tersebut. Sebab, dulu sebelum mendirikan Partai Keadilan (sekarang ditambah Rakyat), dia bertanding mewakili UMNO (United Malays National Organization) yang sekarang justru menjadi seteru paling kuat.


Memang sejak awal, partai koalisi Barisan Nasional (BN) tidak begitu percaya diri untuk melawan Anwar dan memosisikan diri sebagai underdog. Meski demikian, mesin politik mereka secara gencar menggunakan banyak cara untuk menjatuhkan lawan, seperti peliputan secara terus-menerus di media cetak dan televisi terhadap calon mereka, Arif Shah Omar Shah.


Pada saat yang sama, sehari sebelum penetapan calon, Mohammad Syaiful Bukhari Azlan menyatakan sumpah telah disodomi oleh bekas bosnya. Sebuah pengakuan yang mengukuhkan dugaan adanya skenario untuk menjatuhkan reputasi Anwar. Sayang, BN mengulang kesalahan yang sama, yaitu strategi memburuk-burukkan Anwar di media mainstream yang tidak berhasil pada pemilu sebelumnya. Saya mendengar dari kawan Melayu bahwa cara itu justru membuat pemilih simpati terhadap nasib Anwar yang terzalimi.


Saya sendiri hampir setiap malam mengikuti berita Bulletin TV3 yang selalu menonjolkan calon BN dan memojokkan calon Partai Keadilan Rakyat (PKR). Bahkan, koran Utusan (25/8/08) memuat pernyataan Ade Nasution, anggota DPR, yang menyatakan secara tidak langsung bahwa dukungan Gus Dur terhadap Anwar tidak berarti mewakili suara masyarakat Indonesia.


Isu Moral dan Agama


Isu sodomi secara sistematis digunakan BN untuk menyerang Anwar melalui pengakuan bekas pembantunya. Pernyataan sumpah bekas mahasiswa drop out itu di Masjid Jami Federal disiarkan berulang-ulang di berita TV3, kotak kaca yang paling banyak dikunjungi penonton. Tentu, efek penyiaran sumpah tersebut sedikit banyak memengaruhi pemirsa karena Anwar tidak melakukan hal yang sama.


Bahkan, Mohammad Najib, seteru sebenarnya Anwar, pernah melakukan sumpah tidak terlibat dengan pembunuhan Altantuya, model Mongolia, yang selama ini dituduhkan dan diteriakkan oleh pendukung Anwar. Sebelumnya, beredar foto Najib dengan model tersebut di halaman web internet. Mereka sedang duduk di meja makan yang di-posting dalam blog Tian Chua, ketua penerangan PKR.


Tuduhan Najib dalam seri kampanye juga menyentuh perilaku Anwar yang memaksa seorang gubernur Sabah untuk meluluskan izin nomor buntut sebagai watak munafik. Sebab, selama ini Anwarlah yang menggagas masyarakat madani, sebuah gagasan yang juga pernah mampir di tanah air. Anwar pun membalas bahwa Najib mengamalkan ajaran Hindu berdasar pengakuan penulis terkenal portal berita Malaysia Kini, Raja Petra.


Isu moral dan agama itu boleh dikatakan paling mengemuka dalam perseteruan BN dan PKR dalam memperebutkan 58.459 suara konstituen dan termasuk 490 melalui kotak pos. Keterlibatan ulama makin memperkeruh keadaan karena mereka terbelah dua. Tentu yang paling menarik keterlibatan Gus Dur, yang secara terbuka di TV9 menegaskan bahwa sumpah dengan menggunakan Alquran tidak berdasar karena tidak dikenal dalam Islam.


Tugas Berat Anwar


Dengan kemenangan itu, Anwar akan mengetuai oposisi di parlemen dan tentu kedudukan tersebut menambah amunisi untuk menyerang kebijakan pemerinah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Seperti dikatakannya, dia akan mencecar secara langsung perdana menteri di gedung parlemen. Namun, perlu diingat, koalisi yang dipimpinnya di pelbagai negara bagian juga menjadi penguasa yang harus mewujudkan janji-janji selama kampanye sebelumnya.
Lebih dari itu, tugas yang mungkin paling rumit adalah menyatukan koalisi longgar di Pakatan Rakyat yang riskan pecah.


Tanda-tanda tersebut mulai bertunas ketika Karpal Singh, orang nomor satu di Democratic Action Party (DAP), mengkritik Partai Islam se-Malaysia (PAS) yang masih bersikukuh untuk menegakkan negara Islam, sementara ideologi DAP yang banyak dianggotai oleh masyarakat Tiongkok adalah Malaysian Malaysia.


Sebaliknya, PKR yang diketuai Anwar mengandaikan ideologi sosialisme karena latar belakang komponen yang ada di dalamnya terdiri atas pelbagai ideologi dan etnis yang mendorong perlakuan sama terhadap rakyat Malaysia.


Jika Anwar tidak mampu mendorong koalisi Pakatan Rakyat yang menjadi penguasa di beberapa negara bagian untuk memenuhi janjinya, yaitu membuat kehidupan ekonomi dan keamanan lebih baik, sangat mungkin konstituen mengambang (di sana disebut atas pagar) akan hengkang.


Bagaimanapun, Anwar adalah tokoh yang paling bisa diterima oleh pelbagai komponen berbeda karena dialah yang mempunyai segalanya, yaitu bekas aktivis Angkatan Belia Islam Malaysia, mantan pejabat pemerintah yang berpengalaman, dan mempunyai jaringan internasional. Dengan modal itu, dia akan menarik investasi dari luar negeri lebih deras.


Tantangan lebih berat adalah memenuhi janji untuk memperbaiki hak asasi manusia karena banyak undang-undang yang membelenggu warga, seperti Akta Cetak dan Penerbitan, Akta Rahasia Resmi, dan Akta Hasutan. Meski Anwar pernah berkoar bahwa komponen BN akan lompat pagar setelah dia memenangkan pemilu sela itu, amandemen undang-undang memerlukan waktu dan dukungan melebihi 2/3 anggota parlemen. Sebuah jalan panjang yang tentu sangat menantang dan melelahkan.


--- Ahmad Sahidah, kandidat doktor pada Departemen Filsafat dan Peradaban Universitas Sains Malaysia

Wednesday, August 27, 2008

Menghitung Hari Menjelang Ramadhan

Malam dingin karena hujan rintik. Suasana yang memberi kesempatan untuk menghitung hari menjelang Ramadhan. Dalam beberapa terakhir, saya tidak menggerakkan jemari di depan komputer. Padahal, ada banyak hal yang saya lakukan, seperti mengunjungi rumah kawan baik, Ayi, untuk menyambut bulan puasa. Acara makan yang meriah dengan celotehan dan berlimpah, dengan sajian sup daging kambing, pecel, tempe, ayam dan lain-lain. Cita rasa Indonesia makin hadir karena tuan rumah bersedia untuk memutar film Love yang mengadaptasi Actually Love.

Keesokan harinya, saya dan isteri mengikuti acara piknik fakultas tempat saya belajar. Ini juga mendatangkan keriangan. Bersama beberapa mahasiswa Asing, seperti Arab, Iran dan Thailand, kami mengunjungi Taman Rimba di Batu Maung. Malah, di sana kami sempat bermain pesan berantai yang mendatangkan kelucuan karena pesertanya harus mengingat pesan dalam bahasa Melayu. Lalu, satu setelahnya, saya menjadi pembawa acara untuk pembukaan lokakarya penulisan tesis dan disertasi untuk mahasiswa master dan PhD Ilmu Humaniora, sebuah tugas dadakan karena tidak direncanakan sebelumnya.

Tentu, undangan teman karib Melayu semalam memberi kesan karena mengajak kami jalan-jalan Pulau Pinang. Sayangnya, ketika kami mengunjungi Pasar Chorasta, isteri tidak menemukan lesung untuk menumbuk bumbu. Lalu, kami dengan Encik Supian menuju Batu Ferringhi dan mampir di Restoran The Ship. Di sana, kami memesan steak daging yang disajikan setengah matang. Sebuah acara makan di atas replika kapal ini merupakan pengalaman pertama. Ada rasa aneh mampir di lidah, tetapi saya tetap menikmatinya sebagai tak hanya daging, tapi juga jagung, kentang, sayur, dan jus semangka.

Katanya, makan itu adalah perangsang rasa bahagia, meskipun ia tidak bersifat abadi karena berhenti setelah acara usai. Justeru, kehendak memberikan makna pada peristiwa di atas akan menyempurnakan kebahagiaan, karena pleasure dan meaning adalah dua unsur penting dalam terwujudnya kebahagiaan. Mungkin, shalat Maghrib di masjid tepi pantai adalah kesyukuran karena kami ingin memberikan makna yang dalam pada kenikmatan yang baru dicecap.

Saturday, August 23, 2008

Memberi Napas pada Demokrasi

Untuk pertama kalinya saya akan merayakan pesta demokrasi di luar negeri. Tidak hanya itu, saya juga terlibat dalam Panitia Pemilu Luar Negeri (PPLN) Perwakilan Indonesia di Konsulat Jenderal Republik Indonesia. Jauh hari sebelumnya saya telah diminta untuk membantu kepanitiaan ini.

Baru hari ini, kami berkumpul untuk membicarakan perhelatan lima tahunan ini di ruang musyawarah KJRI. Peserta yang terdiri dari unsur mahasiswa, dosen, staf KJRI dan masyarakat Indonesia merumuskan kerja beberapa bulan yang akan datang. Hal teknis berkaitan pengisian formulir yang disebut A LN sempat memunculkan perdebatan karena isian Nomor Paspor tidak boleh tidak harus diterakan, padahal ada sebagian warga Indonesia di Malaysia yang tidak berdokumen atau tidak memperpanjang paspor tetapi mempunyai kartu tanda penduduk Indonesia.

Pertemuan pertama ini tentu adalah awal yang baik karena kami telah memulai pembagian kerja tanpa harus disibukkan oleh belum turunnya kucuran dana dari Jakarta. Paling tidak, ini pembelajaran bagi kita bahwa bangsa kita masih selalu dalam keadaan 'darurat' sehingga memerlukan langkah-langkah terobosan dari kebuntuan ketidakcakapan anggota Komite Pemilihan Umum. Mahasiswa dan masyarakat berada dalam posisi ini.

Dengan berkumpul, kita akan menyelami watak dan gaya orang di ruang resmi dan tidak. Tambahan lagi, dari mereka, saya belajar bahwa kerjasama menuntut masing-masing individu mau bersuara dan mendengar. Ada banyak ide dan gagasan yang membuat kerja kepanitiaan lebih mudah dan terarah. Mengurai 45 ribu pemilih dalam program kerja adalah tidak mudah, tetapi kehendak melakukannya dengan hati dan pikiran akan membantu menyempurnakannya.

Di sela-sela rapat, saya keluar untuk ke toilet dan sempat terhenti karena dengan jelas melihat puluhan tenaga kerja wanita Indonesia yang tinggal di bagian belakang kantor konsulat sedang makan. Mereka adalah para pekerja yang 'terlempar' karena bermasalah dengan majikan. Pemandangan yang mendatangkan iba karena mereka harus terkurung di sana untuk menunggu cemas nasibnya. Saya rasa perwakilan kita di sana telah berbuat banyak untuk menjadi rumah bagi mereka yang sedang berjuang hidup mati di negeri yang jauh dari tempat kelahirannya. Malah, ada seorang perempuan dengan bayinya di tengah kerumuman kawan senasib.

Lalu, apa makna demokrasi bagi kerja kepanitiaan dan pemandangan di atas?

Friday, August 22, 2008

Rumah Kami di Sore Itu

Sore mendung setelah hujan adalah suasana biru karena kami berdua ngobrol sambil meminum teh dan kopi panas. Keadaan seperti ini jarang hadir. Ya, hujan hanya sering mampir sebentar di pulau kecil tempat kami tinggal. Rumah yang terletak di lantai delapan yang terdiri dari dua kamar, satu dapur dan kamar mandi lebih dari cukup untuk kami berdua menikmati hari.

Kami merasa sangat dekat dengan rumah ini karena telah merawatnya, dengan memperbaiki pipa ledeng yang macet dengan membayar RM 60 pada tukang ledeng, RM 30 pada tukang kunci untuk membuka anak pintu yang terkunci karena anak kuncinya tertinggal di dalam. Selain itu, saya telah menyapunya tiap hari dan tentu menghabiskan banyak waktu di dalamnya. Tambahan lagi, sekarang ada televisi butut bermerek Sanyo yang menemani kami menonton acara televisi. Oh ya, dua hari yang lalu, saya sempat menikmati film Exorcism of Emily Rose yang kesannya tertanam kuat di benak. Meskipun bergenre horor, film ini sebenarnya mengajak penonton untuk memerhatikan konflik antara agama dan sains yang dibawakan oleh watak 'pendeta' dan ahli medik. Dialognya menggugah akal budi dan alur cerita menyentuh rasa.

Dari kaca nako jendela, saya melihat pepohonan menghijau, aspal menghitam dan tanah padat membasah. Keadaan seperti ini selalu membuat tentram. Akal budi merasa nyaman berpikir. Tak ada suara anak kecil seperti biasa ketika sore menjelang malam. Hanya suara kami memecah kebekuan sore itu. Kami pun berbincang ke sana kemari tanpa ujung. Tak sengaja, kesempatan ini membuka lembaran hidup yang lalu, sesuatu yang mungkin tak terungkap dalam keadaan biasa.

Sebelumnya, kawan baik saya, Stenly Djatah, mengantar uang jaminan untuk pembuat kaos acara piknik ke Batu Ferringhi sebesar RM 400 yang diminta dari Dr Sohaimi. Syukur, sebab beberapa jam sebelumnya pengurus Mega Seni Enterprise menelepon untuk mengantarkan barang pesanan kami ke kampus besok pagi. Kaos sebanyak 100 ini akan dijual pada peserta Annual General Meeting Klub Mahasiswa Pascasarjana pada 24 Agustus 2008. Kalau saya perhatikan, ikhtiar semacam ini sesuatu yang sederhana, tetapi mewujudkan keinginan ini memerlukan waktu, ide, dan tentu saja kompromi karena melibatkan banyak orang. Satu hal lagi, program ini adalah nirlaba, sehingga tak begitu menyulitkan, meskipun tidak mudah.

Wednesday, August 20, 2008

Banyak Jalan Menuju Tuhan

Menulis 'Banyak Jalan Menuju Tuhan' adalah kepedulian saya untuk menjadi bagian dari masyarakat yang menginginkan perubahan. Polemik mengenai kaitan dakwah dan politik antara Didin Hafidhuddin, aktivis PKS, dan Asep Purnama Bachtiar, dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, di koran Republika membuka banyak selubung tentang dua isu besar, dakwah dan politik.

Saya mencoba untuk menengahi dua pertentangan ini untuk menemukan semangat dari keduanya agar masyarakat betul-betul bisa memilih wahana yang sesuai dengan aspirasi mereka dalam mewujudkan perubahan. Saya tidak ingin terjebak dengan pilihan normatif, tetapi ingin memberikan nyawa pada kedua pendirian ini agar betul-betul menjadi daya gugah terhadap kealpaan khalayak.

Artikel ini saya sudah siapkan dan bahkan tadi sempat ditambah di tempat tertentu untuk menyempurnakannya. Ya, di warung Jawa, setelah makan pecel lele dan segelas es teh, saya mencorat-coret susunan dan diksi yang tidak menambah terang maksud dari tulisan di atas.

Monday, August 18, 2008

Senin dan Hujan

Sebelum saya menginjakkan kaki di parkir kampus, hujan menderas. Serta merta saya menambah kencang tarikan gas agar segera sampai. Meskipun demikian, baju depan dan celana saya basah, tapi tidak kuyup. Andaikata saya tidak mampir ke toko 24 jam 7Eleven untuk mengambil koran the Sun, mungkin saya tidak akan kehujanan. Di sana, saya malah sempat bersua dengan Pak Suharma, mahasiswa PhD Bidang Kerja Sosial, yang sedang membeli rokok Gudang Garam.

Akhirnya, dengan bergegas saya memasuki ruangan komputer kampus. Pakaian basah dan ruangan dingin tidak membuat nyaman tubuh. Anehnya, dengan angin AC, pakaian pun kering. Mungkin karena panas tubuh, bukan dingin penyejuk ruangan. Hujan tambah deras. Setelah membaca sekian koran on line, saya merasa perut keroncongan. Saya sempat membaca tulisan Ulil Abshar-Abdallah di koran Tempo, 'Dunia Islam setelah Olimpiade Beijing'. Sebuah gagasan yang menohok dan sebenarnya pernah saya baca sebelumnya karena diterakan di blog pentolan Islam Liberal ini. Di sela membaca berita dan opini, saya menyempatkan mengirim sebuah artikel opini untuk salah sebuah surat kabar nasional.

Mungkin, banyak orang enggan keluar dalam keadaan hujan lebat. Tetapi, tidak saya. Justeru, saya menikmati jatuhnya butiran hujan langsung ke payung yang saya genggam. Air yang mengalir di aspal dan bunyinya yang indah di selokan membuat saya betah berjalan di tengah hujan. Saya memerhatikan kampus itu tiba-tiba terasa sunyi, meskipun masih ada beberapa mobil berkeliaran dengan lampu yang redup. Di warung, saya sengaja memilih tempat duduk di dekat jendela agar bisa melihat lebih dekat tetesan hujan menghunjam bumi. Ya, sambil minum kopi panas dan kroket dingin, saya berkutat dengan buku tentang Kebahagiaan. Aristoteles, dalam buku ini, menyatakan bahwa kebahagiaan itu ditentukan oleh kita, bukan orang lain. Sebuah lontaran yang menantang siapa pun untuk tidak lagi berpaling dari dirinya meraih kesenangan dan makna dalam hidup. Ya, di sini kebahagiaan bukan hanya pemenuhan badaniah tetapi juga spiritual.

Sunday, August 17, 2008

Sore dan Angin Kencang di Kedai

Setelah mencuci piring di dapur, saya pun mandi. Air itu seakan meluruhkan penat yang hinggap setelah tidur dan sebelumnya ke Konsulat Jenderal Republika Indonesia mengikuti peringatan Detik-Detik Proklamasi RI ke-63. Mendung datang, angin tidak lagi kencang. Sore yang nyaman untuk bercengkerama. Bersama isteri, saya menikmati minum sore yang menenangkan.

Secara psikologis, keadaan nyaman dan tenang membuat seseorang mudah memikirkan banyak hal lebih jernih. Di hari kemerdekaan ini, apa yang telah saya lakukan? Apakah hadir dalam upacara kemerdekaan adalah pertanda kecintaan pada tanah air? Ya, pagi buta, saya telah bersiap-siap untuk berangkat ke Wisma Konsulat untuk berpartisipasi dalam upacara. Melawan kantuk adalah ikhtiar kecil menantang hidup. Tidakkah hal sebegini perlu diberi penghargaan? Meskipun semalam tidur tak nyenyak dan tidur pun lewat karena menonton film Sergeant Bilko di TV 3, saya memaksakan diri untuk bangun lebih awal.

Ketika sampai di lokasi, saya menemukan banyak tenaga kerja Indonesia yang telah hadir dan beberapa staf konsulat berdiri di pintu gerbang menanti warga yang akan mengikuti upacara. Dengan jas dan dasi, mereka membagikan kupon makan. Saya pun menyalami mereka dan menuju tempat transit untuk membenahi pakaian karena bertugas membaca Undang-Undang Dasar 1945.

Friday, August 15, 2008

Gladi Bersih 17 Agustusan

Seingat saya, hanya beberapa kali saya mengikuti upacara bendera memperingati kemerdekaan Indonesia dalam usia remaja hingga dewasa. Hanya sewaktu masih di sekolah dasar, saya kerapkali mengikuti acara ini, karena diwajibkan oleh guru. Namun, tak satupun detik-detik peringatan itu hinggap di benak. Apalagi, setelah melanjutkan sekolah ke pondok pesantren, praktis saya tidak pernah mengikutinya, malah saat kuliah di perguruan tinggi tak pernah sekali pun saya berdiri tegak untuk merayakan kemerdekaan melalui upacara.

Untuk peringatan yang ke-63, saya diminta untuk membakan UUD 1945 di wisma Konsulat Jenderal Republika Indonesia. Tadi pagi, saya berangkat untuk mengikuti gladi bersih yang dipandu oleh Bapak Henridjal, staf KJRI. Ternyata saya harus melatihkan kembali berbaris, karena pembacaan ini dilakukan dalam upacara ala militer. Bersama Pak Nang dan Mas Supri, kami bertugas pada momen detik-detik proklamasi, yang terdiri dari pembacaan teks, UUD 1945 dan doa. Latihan ini memakan waktu sekitar 1-jam. Menariknya, di sela upacara, ada persembahan lagu kebangsaan oleh para tenaga kerja wanita Indonesia yang 'bermasalah' yang berdiam di wisma KJRI. Mereka tampak bersemangat dan menghayati lagu itu. Ada gurat sedih tentu, karena mereka melawan nasib yang tidak berpihak dan masih yakin bahwa kemerdekaan akan memberikan banyak berkah pada mereka. Semoga!

Mengakrabi Liyan


Untuk ketiga kalinya, saya sebagai sekretaris Klub Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kemanusiaan menyelenggarakan rapat dengan beberapa mahasiswa Asing. Tentu, bahasa yang digunakan bahasa Inggeris, meskipun kadang bahasa Melayu turut mewarnai perjalanan pertemuan untuk melaksankan dua program, pelatihan penulisan tesis/disertasi dan rekreasi ke pantai Batu Ferrighi.

Dr Suhaimi Abdul Aziz, wakil Dekan Fakultas Huamaniora, memimpin rapat dan mencoba untuk membagi pekerjaan dengan beberapa peserta yang hadir. Desain T-Shirt untuk acara piknik memantik perdebatan mengenai kata yang pas untuk dilekatkan. Sebelumnya, Ardi menerakan kata Social Afternoon at Batu Ferringhi, namun setelah ditawarkan, tiba-tiba semua menawarkan ide. Gagasan berhamburan, akhirnya dipakai kata Beach Sport, cogan kata yang ada di formulir pendaftaran rekreasi. Tak hanya kata, gambar yang diletakkan dalam sisi belakang menimbulkan perdebatan. Dasar, orang pintar memang selalu kaya dengan ide.

Tak biasa, kami menentukan banyak hal berkaitan dengan program hingga melebihi satu jam. Belum lagi, tukar canda yang membuat tawa turut menyelingi pertemuan itu. Namun, anehnya, Jahan, mahasiswa PhD Geografi dari Bangladesh, mengusulkan kata bersantai digunakan untuk t-shirt, tidak perlu bahasa Inggeris. Sayangnya, tak lama setelah disepakati, tiba-tiba Rais al-Tamimi, mahasiswa PhD Linguistik asal Yaman, menyodorkan kata Beach Sport. Saya sempat mengusulkan kata exploring, tetapi ditampik. Agar tidak berlama-lama, saya mengiyakan. Semua juga setuju.

Perbedaan ini tentu muncul karena latar belakang masing-masing, namun justeru kerelaan menerima ide orang lain juga bagian dari kebesaran hati. Lebih dari itu, mereka yang berbeda menjadi lebih dekat karena segala sesuatu yang dibicarakan dengan terbuka dan riang. Hakikatnya, tujuan acara di atas untuk merekatkan mahasiswa baru di kampus kami. Jadi, ide itu hanya jalan dan T-shirt itu adalah penanda bahwa kami pernah bekerja dan berpikir untuk mewujudkannya. Adakah yang seindah ini dalam hidup?

Coba lihat cerita di atas! Bukankah kerja seperti ini bisa dilakukan oleh siapa saja, tanpa kualifikasi pendidikan setingkat PhD? Malah saya melihat ini adalah kerja praktis, meskipun tidak mudah karena justeru melibatkan orang-orang yang biasa berdebat. Namun, saya tetap menghargai apapun kerja kita untuk kebaikan bersama. Ya, program ini berkaitan dengan kelangsung organisasi mahasiswa master dan PhD di jurusan kami. Lebih dari itu, saya belajar untuk lebih banyak mendengar orang lain.

Wednesday, August 13, 2008

Ayat Ayat Cinta di Kampus

Mungkin agak terlambat, tetapi tetap mempunyai kesan yang dalam. Tadi, kawan baik saya, Mohammad Nasir dan Siti Hazneza, PhD Teknologi Industri dan penulis novel, membahas novel yang meledak di Indonesia. Dr Suhaimi memandu diskusi ini dengan menanyakan beberapa pertanyaan berkaitan dengan novel, seperti sastra Islami, motif pembaca dan teknik penulisan.

Saya hanya bertanya dan mencoba menghadirkan konteks mengapa novel ini menjadi novel laris dan digemari banyak orang. Bagi saya ada ideologi di dalamnya yang mendorong novel ini dicetak ulang hingga belasan kali. Namun, itu absah, sepanjang ia berjalan dalam alam keindonesian. Malah, saya mencoba untuk mempertanyakan mengapa perempuan dalam novel ini kelihatan lemah tak berdaya? Adakah ini yang dikehendaki 'ajaran' Islam yang ingin diperjuangkan oleh penulisnya, Habiburrahman El Shirazy?

Kehadiran mahasiswa S1 sastera menambah marah acara perbincangan ini. Salah seorang dari mereka bertanya jarak antara film dan novel yang menganga, apakah karena ini campur tangan produser, yang ingin membantasi napas keagamaannya, sehingga isi novel yang sesungguhnya tidak muncul? Sebuah pertanyaan yang bagus. Bagaimanapun, visualiasi novel ke dalam film akan menyebabkan penyesuaian, pemotongan dan pengekalan tertentu terhadap isi novel. Sesuatu yang mesti diterima oleh penonton.

Tuesday, August 12, 2008

Rumah Sakit itu

Untuk ketiga kalinya, saya mengunjungi rumah sakit daerah Pulau Pinang. Bangunannya tidak berubah, masih warisan lama. Kokoh tegak berdiri dengan tiang besar. Kemarin, saya, isteri dan Stenly mengunjungi rumah sakit untuk menemani isteri check up dan mengunjungi kawan baik, Junita Batubara yang terbaring karena demam dan sakit kepala tak tertahankan.

Ketika kami sampai di bangsal tempat dia berbaring, teman yang sedang mengambil PhD JurusanSeni ini tertidur lelap. Kami pun menunggu dengan sabar. Untungnya, jam makan malam tiba. Stenly membangunkannya. Dengan setia, kami menemaninya makan, meskipun tidak lahap. Katanya, dia mengalami keracunan karena kelebihan dosis obat atas saran dokter di sebuah klinik.

Selalu saja sesudah mengunjungi rumah sakit, saya berpikir keras mengapa mereka harus terbaring lemah di kasur rumah sakit? Tentu karena sakit. Mengapa dan adakah yang bisa mencegahnya? Kita tak perlu pongah bahwa tiba-tiba kita tidak bisa menangkal sakit, namun ada ikhtiar yagn harus dilakukan agar ia tidak menghinggapi tubuh kita. Menghindari stres, tidur teratur, makan cukup, minum air putih dan berolahraga dalah saran yang kerapkali kita dengar. Ya, hanya dengan menjaga semua ini kita mungkin bisa merasa lebih sehat.

Sunday, August 10, 2008

Membaca di hari Minggu

Minggu seharusnya beristirahat, tetapi apakah memang demikian jika sebelumnya saya menjalani hari dengan riang, tidak ada yang harus dilakukan dengan berat. Semuanya berjalan seperti biasa, membaca, menulis, mendengar dan melihat. Memang, kadang menyebalkan melakukan hal rutin, karena sesungguhnya saya telah mempunyai keyakinan bahwa bacaan saya memerlukan ruang untuk menjadi tindakan.

Pekerjaan kecil yang saya lakukan di kampus adalah wujud ide besar yang sempat hinggap di benak. Termasuk, ketika saya menolak plastik dari toko untuk bungkus barang yang tidak seberapa nilainya, demikian pula tidak membuang sampai sembarangan adalah cara saya belajar menjadi warga bumi yang ramah. Malah, saya juga berusaha sekuat tenaga menyapa dengan warga flat yang berada di samping dan depan rumah kami. Meskipun, kadang agak susah menciptakan keintiman karena perbedaan yang tajam.

Kunjungan hari Minggu ke perpustakaan mungkin adalah salah satu cara memecahkan jam waktu yang dibuat oleh masyarakat bahwa ujung Minggu adalah tak perlu melakukan kegiatan. Saya malah pergi ke rumah buku itu untuk meminjam buku yang dirasa perlu untuk mengisi hari dengan pelbagai kebutuhannya, seperti Novel Libby oleh Langit Kresna Hariadi (untuk bacaan isteri di sela menemani bayi), Said Hawwa, Pendidikan Spiritual dan Moh Azizuddin, Hak Asasi dan Hak Bersuara: Menurut Pandangan Islam dan Barat.

Hanya rutinitas ke surau pada waktu Magrib yang senantiasa saya rawat agar bisa menjaga silaturami dengan warga flat dan selalu mencoba untuk mengenal satu persatu mereka yang kerapkali mengunjungi surau, seperti beberapa hari yang lalu saya telah mengenal Mohammad Masood dan Tariq Hassan, dua pekerja asal Pakistan. Hampir semua jamaah telah saya kenalsehingga saya merasa menemukan rumah di surau yang tak seberapa besar dan tak terawat itu.

Saturday, August 09, 2008

Sabtu dan Peristiwanya

Setelah Subuh, kami tidur kembali. Pagi yang gelap membuat kami bersemangat memejamkan mata. Tak lama kemudian, kami pun bangun. Jika bermalas-malasan, itu karena cara kami menikmati hidup. Upacara pagi adalah minum teh, terutama untuk isteri. Padahal, teh merek Ahmad telah habis. Saya pun bergegas dengan motor ke warung Maju Jaya membeli teh Boh, yang bahannya berasal dari dataran tinggi Cameron. Sekalian, saya membeli koran Utusan Malaysia untuk mengetahui informasi terbaru satu hari sebelumnya. Ketika membayar, saya menolak barang yang dibeli untuk dibungkus oleh penjualnya. Plastik itu adalah sampah yang tak bisa diurai. Say no to Plastic!

Sebelumnya, saya mampir ke warung makan untuk membungkus nasi lalu dititipkan karena harus pergi ke toko kelontong. Ibu penjual nasi ini tinggal di flat yang sama. Orangnya sangat ramah. Setelah kembali, saya mengambilnya dan kemudian melaju perlahan dengan motor butut ke tempat parkir.

Di rumah, saya makan dengan lahap, sementara isteri masih enggan sarapan. Mungkin ini bawaan lagi hamil. Dia hanya menyantap donat yang tadi dibeli bersama nasi sambil membaca koran. Seperti biasa, saya merasa nyaman setelah kenyang. Setelah itu, membaca koran adalah kebiasaan yang selalu menyenangkan setelah makan. Dengan milo panas, saya memelototi huruf yang tertera, terutama pendapat Chandra Muzaffar yang menyatakan bahwa tidak etis jika Anwar meraih kekuasaan perdana menteri lewat pintu belakang (adalah ini bahasa sindiran mantan orang dekat Anwar, karena orang bisa mengaitkan dengan isu sodomi?)

Setelah makan dan sarapan, kami pun ngobrol dan biasanya tertidur. Cukup lama untuk ukuran siang. Tidak terasa, waktu berlalu merambat malam. Sebelum Maghrib kami berencana ke pasar malam di Sungai Dua, namun menyempatkan mampir ke kampus untuk membuka portal berita dan surat kabar on line. Berselang bebeapa menit, teman baik saya, Mas Ayi menelepon mengajak makan sore di Warung Tomyam Berkat. Saya pun mengiyakan. Tidak hanya makan, di sana kami pun bertukar cerita dan sekaligus mendengar kabar gembira, belahan hati kawan yang bekerja di Cititel ini, Wulan, mendapatkan kerja di Kuala Lumpur. Selamat, semoga betah dan mendapatkan banyak pengalaman. Selain itu terima kasih karena telah mentraktir makan dan minum sebagai tanda kesyukuran.

Friday, August 08, 2008

Kegembiraan itu Datang Juga

Pagi jauh sebelum Subuh, isteri merasa pusing tak tertahankan. Katanya, tak pernah sebelumnya dia mengalami kesakitan seperti ini. Sebelumnya, kami berharap cemas bahwa ini sebagian dari tanda kehamilan, karena sudah seminggu telat haid.

Agar gundah ini tak berkepanjangan, kami berencana memeriksa urine ke dokter klinik dr Akbar Ali. Memang, sebelumnya kami kadang bertanya ini dan itu kepada isteri teman baik kami Bapak Stenly Djatah, dr Troy tentang warna warni wanita ngidam. Malah kemarin sambil menikmati sore di Restoran Istimewa, kami menanyakan hal yang sama pada teman karib Melayu, Encik Zailaini, meskipun bukan dokter. Hanya saja, kawan yang sedang menyelesaikan PhDnya di kampus sama ini mempunyai seorang isteri dokter.

Akhirnya, sebelum jam 10-an, kami mengunjungi klinik Penawar, tempat dr Akbar Ali berpraktik. Di sana, isteri mengungkapkan keluhannya, seperti pusing, panas dingin, dan mual sekaligus memastikan apakah ini tanda-tanda sedang mengandung. Dengan senyum ramah, dokter ini meminta untuk tes air kencing. Tak lama kemudian, setelah isteri menyerahkan urine ke pembantunya, dokter memanggil kami ke dalam. Beliau tidak serta-merta memberitahukan tentang berita gembira, malah menanyakan apakah isteri saya 'perasan'? Jawabnya, ragu. Dokter kemudian mengatakan bahwa ada kabar gembira, positif hamil. Serta merta isteri bertanya, serius dok? Ya. Kehamilannya telah berusia 5 minggu dan insyaallah melahirkan pada 8 April 2008. Isteri dengan gembira mengucapkan alhamdulillah, dan saya menimpali dalam hati syukur pada Allah.

Thursday, August 07, 2008

Rapat dengan Mahasiswa Asing

Inilah untuk kedua kalinya, saya mengikuti rapat klub mahasiswa pascasarjana Fakultas Ilmu Humaniora. Karena peserta musyawarah berasal dari pelbagai negara dunia, kami banyak menggunakan bahasa Inggeris. Pertemuan ini akan membahas dua program, yaitu Pertemuan Umum Tahunan klub dan rencana menyelenggarakan Workshop penulisan tesis dan disertasi untuk mahasiswa baru tingkat master dan PhD.

Dr Suhaimi Abdul Aziz, wakil dekan dan sekaligus penasehat klub kami, selalu setia menemani pengurus dan anggota membincangkan banyak hal berkaitan dengan pengembangan akademik dan kegiatan rekreatif mahasiswa. Kehadiran Pak Ardi, mahasiswa PhD Geografi dan Pak Nasir, PhD Sastera, menghidupkan rapat ini karena keduanya fasih berbahasa Inggeris. Hanya seorang mahasiswi, Mariam dari Iran, yang menghadiri pertemuan ini.

Hanya memerlukan satu jam, rapat itu usai. Saya sendiri bertugas untuk menangani pembuatan T-Shirt yang bertuliskan acara piknik ke Batu Ferringi setelah Annual General Meeting. Pak Ardi diminta untuk mendesain kaos tersebut agar tampak catchy, seperti dikatakan oleh Dr Suhaimi.

Setelah rapat, saya pun pulang ke rumah. Sesampai di sana, kawan karib Melayu saya, Encik Zailani menelepon untuk minum sore di restoran Istimewa. Saya dan isteri pun datang ke warung tempat mahasiswa sering nongkrong karena dilengkapi fasilitas wireless (di Malaysia disebut tanpa wayar).

Menanti Cemas Anwar Menjadi PM






WACANA


07 Agustus 2008

  • Oleh Ahmad Sahidah

PERNYATAAN resmi Anwar Ibrahim untuk kembali ke gedung parlemen melalui pemilihan umum sela (di Malaysia disebut pilihan rayat kecil) di hadapan media dalam dan luar negeri menarik perhatian banyak orang (31/7/08).

Istrinya, Dr Wan Azizah, telah mengosongkan kursi parlemen Permatang Pauh guna memberikan kesempatan kepada suaminya untuk menggantikannya (Suara Merdeka, 4/08/08). Hal itu dilakukan demi mewujudkan tujuan oposisi membentuk pemerintahan baru (Berita Harian, 01/8/08).

Dua minggu sebelumnya, ikon reformasi tersebut mengulang kembali keyakinannya bahwa pada 16 September 2008, Pakatan Rakyat, koalisi partai oposisi yang dipimpinnya, akan menggulingkan Barisan Nasional (BN), pemerintah berkuasa. Artinya, dalam waktu tak lama lagi dia akan melenggang ke Puterajaya, kantor perdana menteri.

Tentu, Anwar bertaruh dengan penyebutan tanggal peralihan kekuasaan politik yang disebut banyak pengamat sebagai paling panas dalam sejarah Malaysia. Namun, pesannya jelas, bahwa mantan wakil perdana menteri (PM) itu menyampaikan tantangan kepada calon PM versi pemerintah, Mohammad Najib.

Perpecahan UMNO

Dengan gamblang, beberapa hari sebelumnya koran The Star meletakkan foto Anwar dan Najib berhadapan dengan huruf besar head on. Ya, genderang perang sesungguhnya telah ditabuh.

Kemungkinan Anwar untuk menjadi orang terkuat di Malaysia menggelinding bagai bola salju setelah mantan PM Mahathir menyebut Najib pengecut karena selalu mengiyakan kemauan bosnya, Abdullah Badawi (The Sun, 22/4/08).

Namun Najib berkilah, bahwa sikap itu diambil karena Deputi PM itu tidak ingin mengulang sejarah perpecahah United Malay National Organization (UMNO) pada 1987-an. Penyebutan Rais Yatim, Menteri Luar Negeri, layak menjadi PM dibandingkan dengan Najib oleh Mahathir makin memecah belah UMNO. Ternyata, kesetiakawanan tidak bisa diharapkan dalam dunia politik, mengingat dulu Rais Yatim adalah ”seteru politik” Tun Mahathir.

Meskipun Malaysia mempunyai banyak undang-undang (UU) yang mengandaikan otoritas untuk membuat keadaan tertib dan terkendali tanpa halangan, tapi sekarang keadaan telah berubah. Pemerintah tidak bisa lagi meninabobokkan masyarakat karena teknologi telah berhasil menyusupkan informasi yang berbeda dari versi resmi melalui saluran internet.

Demikian pula, oposisi mempunyai taring untuk tidak seenaknya dianggap angin lalu, seperti sebelumnya. Pendek kata, pemerintah dan oposisi sama-sama mempunyai kekuatan untuk saling melepaskan pukulan.

Harus diakui, dengan angka inflasi yang tinggi dan pengangguran membengkak, masyarakat mulai terbuka menyatakan ketidakpuasannya. Usaha pemerintah untuk menangani masalah itu telah dilakukan agar tidak makin mengurangi kepercayaan masyarakat.

Meskipun secara umum keadaan masih bisa dikendalikan, mengingat mesin birokrasi berjalan efektif dan mampu mewujudkan program mengatasi dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) melalui subsidi langsung kepada nelayan dan pemilik kendaraan, namun kehendak terhadap perubahan turut menguat.

Selain masalah ekonomi, di dalam persaingan politik pencitraan, pemerintah juga mencoba menahan laju Anwar. Syed Hamid Albar, Menteri Dalam Negeri, mengundang 96 diplomat untuk menjelaskan bahwa kasus sodomi yang ditimpakan kepada Anwar Ibrahim bukanlah konspirasi, melainkan pemenuhan terhadap keadilan masyarakat.

Hebatnya, surat kabar arus utama yang pro-pemerintah memberitakan bahwa mereka bisa menerima penjelasan pemerintah (Berita Harian, 24/7/08). Tentu, langkah itu diambil setelah Amerika Serikat (AS) selalu menekan Kuala Lumpur untuk berlaku adil terhadap Ketua Umum Partai Keadilan Rakyat. Belum lagi, pembelaan Turki terhadap Anwar jelas-jelas membuat pemerintah terdesak, karena negara bekas Kekhalifahan Utsmaniyyah itu merupakan negara Islam yang terkuat.

Saran untuk Anwar

Menurut saya, Anwar tidak perlu terburu-buru. Jika dia berhasil membujuk paling tidak 30 anggota parlemen dari Barisan Nasional asal Sabah Sarawak melompat ke Pakatan Rakyat, maka langkah itu adalah pengkhianatan terhadap suara rakyat. Bagaimanapun konstituen di negara bagian tersebut telah memilih calon legislatif untuk mendukung Barisan Nasional pada pemilihan umum (pemilu) ke-12.

Kalau bersikap jantan, Anwar akan lebih memilih menjadi anjing penjaga (watchdog) di parlemen dan memimpin kelompok penekan (pressure groups) terhadap pemerintah setelah memenangi pemilihan sela dan menunggu empat tahun lagi pada pemilu ke-13. Apatah lagi, bekas aktivis mahasiswa itu pernah mengungkapkan bahwa dia memerlukan dukungan yang meyakinkan untuk menjadi orang nomor satu.

Saya sendiri telah mengirim pesan kepada Anwar melalui fasilitas friendster, tapi hingga kini tidak ada respons dari pengelola media ikon demokrasi tersebut. Hal yang senada sebenarnya juga diungkapkan oleh para koleganya di koaliasi Pakatan Rakyat, yaitu Democratic Action Party (DAP) dan Partai Islam se-Malaysia (PAS), bahwa perampasan kuasa melalui lompat partai adalah cacat secara moral.

Tidak bisa dinafikan, mereka yang menyatakan keinginannya bergabung dengan Anwar sebenarnya hanya ingin meraih kursi menteri dan posisi kunci yang lain setelah sebelumnya tidak tercapai melalui Barisan Nasional.

Hal lain yang perlu diperhatikan, pemerintah kini telah banyak berubah. Abdullah Badawi, perdana menteri ke-5 Malaysia itu, telah berinisiatif untuk melakukan reformasi di pelbagai bidang. Pembentukan komite kehakiman untuk memilih hakim yang jujur dan pembentukan komite bagi pemberantasan korupsi yang tidak dapat diintervensi pemerintah, hakikatnya adalah buah dari reformasi yang dicita-citakan Anwar Ibrahim. Lalu, apalagi yang diinginkan oleh tokoh dari Pulau Pinang itu? Mari kita tunggu perkembangan politik di negeri jiran tersebut.(68)

–– Ahmad Sahidah, kandidat doktor Departemen Filsafat dan Peradaban Universitas Sains Malaysia.

Wednesday, August 06, 2008

Pasar Malam Gelugor

Untuk kesekian kalinya, kami pergi mengunjungi pasar malam Gelugor untuk berbelanja keperluan sehari-hari, seperti lauk-pauk, sayur dan buah (tadi pepaya). Biasanya, kami berangkat ke pasar ini setelah shalat Maghrib. Namun, sekarang waktunya dimajukan sebelum malam. Ya, memang kami akan kehilangan maknanya, sebab pasar itu tidak lagi disebut pasar malam karena hari masih sore.

Mungkin, karena tempatnya dekat dengan kampus, acapkali saya bertemu dengan teman-teman mahasiswa. Hari itu, saya bertemu dengan Marwan dan puterinya, Aisyah. Malah, dari kejauhan saya melihat Dr Hamima Donna, direktur Pusat Kajian Wanita USM, juga sedang berdiri di depan penjual sayuran, tempat kami juga sering membeli kacang panjang, tempe, tahu dan lain-lain.

Sesuatu yang menarik perhatian saya adalah perempuan penjual sayuran yang menggunakan cadar. Hanya kedua biji matanya terlihat. Dia tampak gesit melayani pembeli. Tak ada kesan kikuk. Malah, untuk ketiga kalinya, dia juga dibantu oleh dua orang perempuan yang juga memakai cadar. Biasanya, di sini isteri saya membeli cabe giling. Tebersit di benak, betapa mereka mampu membuat pilihan yang susah dilakukan orang lain, namun pada saat yang sama, mereka justeru melakukan dua hal yang berbeda, satu sisi cadar mengandaikan pemisahan yang tegas antara dunia lelaki dan perempuan, tapi sekaligus mereka mendekatkan dengan menjadi penjual di pusat keramaian.

Tuesday, August 05, 2008

Jamaah Tabligh

Adalah wajar jika anggota dari organisasi keagamaan ini mempunyai pengikut keturunan India Muslim karena pendirinya adalah tokoh India ternama Muhammad Ilyas Kandahlawi pada tahun 1920. Namun, watak indianya tidak begitu kental setelah diadaptasi oleh Melayu Muslim. Tadi, mereka mengunjungi untuk kesekian kalinya surat tempat kami penghuni flat Bukit Gambir biasa berjamaah.

Saya memerhatikan imam shalat Maghrib dari kelompok ini berwajah Melayu dengan khas janggut panjang menggantung di dagu. Suaranya lembut dan doanya sehabis shalat menenangkan. Saya melihat wajah-wajah baru dari rombongan jamaah keagamaan ini. Olivier Roy, penulis buku Gagalnya Politik Islam, menyatakan bahwa organisasi ini tidak tertarik dengan politik dan lebih menekankan hukum. Mungkin karena watak inilah, mereka relatif tidak mendapatkan tantangan dari masyarakat.

Tadi, saya terserempak mereka sedang berjalan menuju ke lift untuk mengajak penghuni rumah susun menghadiri shalat Isya'. Ya, saya sendiri pernah dikunjungi mereka. Benar-benar sebuah dakwah yang menyejukkan!

Sejenang di Wakaf Poetika

Sehabis dari membayar deposit sewa rumah, saya mampir ke musium Tunku Fauziah Universitas Sains Malaysia untuk mengikuti acara apresiasi puisi. Acara telah dimulai. Dekan Fakultas Ilmu Humaniora, Profesor Dato' Abu Talib Ahmad, sedang memberikan sambutan ketika saya datang, lalu disusul oleh pengenalan biografi penyair secara singkat, Marzuki Ali, oleh Profesor Mohammad Salleh Yaapar, kritikus sastra dan direktur penerbit USM. Katanya, Encik Marzuki adalah penyair yang selalu berjalan kaki, tidak memiliki kendaraan. Sama dengan sastrawan besar lain, A Samad Said, yang selalu mengayunkan kaki.

Saya sendiri mencatat hal-hal penting berkaitan dengan sosok yang sedang dirayakan ini. Putera kelahiran Trengganu tahun 1945 ini pernah belajar teater (di Malaysia juga dikenal dengan seni lakon) di Institut Kesenian Jakarta. Malah, kalau saya dengan puisinya yang dibacakan oleh pemuisi tamu, ada beberapa bahasa Indonesia yang menyelip dan biasanya bertahun 1980-an ketika beliau tinggal di Indonesia. Karyanya tersebar di sejumlah media, seperti Utusan Malaysia, Berita Minggu, Dewan Sastera, Dewan Budaya dan lain-lain.

Untuk kedua kalinya, saya mengikuti pembacaan puisis Encik Marzuki. Secara pribadi, saya seringkali menemukan ketenangan beliau ketika menyusuri lorong dan jalan kampus, sebuah petanda bahwa memang ia adalah sosok seniman yang serius. Di pameran itu, beberapa karya puisinya dicetak dan ditempelkan di tembok musium dan bahkan ada yang digantung ke langit-langit di tengah ruangan . Ada banyak kata-kata Indonesia berhamburan, seperti sore, sekoci dan belasungkawa. Sempat terdengar seorang guru yang mengantarkan para muridnya untuk mengikuti acara ini meminta mereka untuk memotret dan mencari kata-kata asing itu di dalam kamus. Demikian pula, saya menemukan banyak kata asing, seperti bungkau dan sejenang, kata terakhir ini menjadi tema dari kegiatan ini.

Di tengah berjalan menikmati rimba kata, saya sempat berbincang dengan Prof Arnd Graft, pemuisi tamu. Kebetulan juga, pada masa yang sama, saya juga diberitahu oleh Prof Salleh Yaapar bahwa dia akan berjumpa dengan Prof Yusril, mantan sekretaris kabinet SBY, di Jakarta untuk sebuah wawancara. Menurut Graft, gaya berpuisi Marzuki Ali mempunyai kesamaan dengan Rendra. Ya, penyair Burung Merak ini memang banyak dikagumi oleh sastrawan lain, bahkan Fatimah Busu, sastrawati dan bekas dosen di USM, menyatakan secara lugas bahwa beliau menggemari Rendra. Sebelum pulang, saya sempat menyalami Encik Marzuki Ali, menyatakan selamat (tahniah) dan beliau dengan senyum tersungging menyambut gembira.

Terus terang, ketika puisi dibacakan oleh Asraf, saya merasa merinding, apalagi tiupan flute menambah ruang hening dengan bunyi. Aneh, bukan? Ada bunyi, tetapi terasa sepi. Ya, Matinya Dalang Tua, yang ditulis oleh Marzuki mewakilkan pintanya pada Kopratasa, band lokal, agar membunuh penjenayah (penjahat) yang merosakkan (merusak) budaya bangsa. Keprihatinan sang penyair benar-benar terasa. Terima kasih Encik, Anda telah menyampaikan kegundahan saya juga dan di sini ternyata kita sebagai serumpun bisa menemukan bahasa yang sama melawan ketidakadilan. Semoga!

Sunday, August 03, 2008

Hari Libur

Beberapa malam sebelumnya, kami merencanakan makan pagi di restoran Khaleel, tak jauh dari flat. Baru pagi tadi, kami melunaskan niat itu, ya pagi itu kami berjalan dari rumah menuju warung makan yang sangat populer bagi mahasiswa yang tinggal di asrama luar kampus.

Jalan masih gelap, meski matahari telah terjaga. Ya, ada awan yang berkeliaran. Di tengah jalan, kami bersua dengan kawan satu blok, Dr Supian, dosen USM, yang sedang sarapan di Cafe Kopitiam, yang satu deret dengan warung tempat kami tuju.

Di Khaleel, kami membungkus dua nasi dan lalu pergi mampir ke toko 24 Jam, 7Eleven, untuk membeli gula. Sekalian saya membeli koran Berita Harian yang memuat berita keinginan Mohammad Ezam, bekas sekretaris Anwar, yang menantangnya pada pemilu sela di Permatang Pauh. Katanya, dia akan membuak 'aib' Anwar, namun menunggu masa yang tepat.

Kami pun menikmati sarapan di rumah. Lalu, berbagi membaca koran. Uniknya, kami sempat tidur lagi yang sebelumnya ditingkahi dengan ngobrol. Saya terbangun lebih dulu, dan berpindah kamar untuk melanjutkan bacaan E Piscatori, Ekspresi Politik Muslim. Di tengah membaca, kanopi berbunyi khas dihantam rintik hujan. Ya, tak lama, hujan pun deras mengguyur. Duh, selalu saja suasana seperti ini mendatangkan kenyamanan.

Hujan tidak lama. Malah, panas pun berteriak keras. Kami pun tidak lagi berminat mengurai mimpi. Mencuci baju bersama menjadi kegiataan kami di siang itu. Ya, seember cucian itu akhirnya bersih di tangan. Kami pun bergegas mandi karena saya berjanji untuk menemui teman di kantin asrama kampus. Syukur, beberapa menit sebelum waktu yang dijanjikan kami sudah siap berangkat.

Selepas dari kantin, kami beranjak pergi ke danau kampus untuk memberi makan ikan dengan roti. Kegiatan ini acapkali kami lakukan, namun tak pernah membosankan. Setelah puas menikmati betapa lahapnya ikan lele itu memakan remah roti, kami pun berangkat ke warung Jawa untuk makan siang.

Saturday, August 02, 2008

Surau itu Masih Kelabu

Semalam, saya menunaikan shalat berjamaah Maghrib dan Isya di surau flat tempat saya tinggal. Seperti biasa, jamaah yang hadir bisa dihitung dengan jari. Herannya, tidak ada penghuni lokal yang hadir di rumah Tuhan yang berbau apak ini. Ke manakah mereka? Hanya mahasiswa yang menempati flat ini dan beberapa pekerja asal Pakistan yang sering mengunjungi surau yang tak bernama ini.

Kesan tidak terurus dari surau ini akan mudah terlihat. Tidak saja sesawang di langit-langit yang belum dibersihkan, tetapi kaca jendela yang tampak kusam menambah muram wajah tempat orang berjumpa Tuhannya. Saya sendiri berhasrat untuk membersihkan jendela ini agar jamaah bisa melihat ke luar dengan terang benderang. Sebelumnya, saya hanya membersihkan karpet dan kadang menyapu halaman surau yang sering dipenuhi beragam sampah, seperti kertas, pembungkus kue dan tak jarang cotton bud.

Hanya jika rombongan jamaah Tabligh datang melawat, surau ini tampak ramai dan saf kedua juga terpenuhi. Mereka paling tidak berkunjung satu kali dalam seminggu. Tidak hanya itu, mereka juga mengajak penghuni flat untuk shalat Isya berjamaah. Sayangnya, warga flat bergeming, padahal apa susahnya turun sebentar ke lantai bawah untuk bersama-sama bersembahyang. Lebih dari itu, di rumah Tuhan inilah, manusia menyemai kebersamaan dengan bertegur sapa, menghilangkan perasaan asing di mana mereka bermastautin.