Posts

Showing posts from May, 2010

Tiga Serangkai

Image
Telepon, kertas dan pena acapkali menemani ke mana tuannya pergi. Telepon itu tidak mahal, oleh karena itu fiturnya tak banyak, hanya radio fm, selain untuk menelepon dan mengirim pesan singkat. Demikian pula, mereknya tak terkenal, seperti Nokia, Motorola, atau Samsung. I-Mobile adalah produk lokal, yang bersaing dengan telepon sejenis, seperti CSL. Saya pun mendapatkan kartu garansi selama setahun.

Nah, kertas itu adalah slip transaksi atm (anjungan tunai mandiri), yang dimanfaatkan untuk mencatat ucapan sang ustaz di pengajian. Saya memang tak pernah membuang kertas yang diperoleh dari pelbagai tempat, termasuk slip belanja di pasaraya. Bahkan, kertas iklan yang dimasukkan ke kotak surat juga dimanfaatkan untuk menulis apa saja. Catatan itu menumpuk dan sebagian tak sempat dipindahkan ke blog.

Lalu, bolpoin itu diperoleh dari panitia seminar, yang bertulisan Penerbit Universiti Sains Malaysia. Warna tinta hitam. Pena ini menjadi koleksi bersama alat tulis lain yang diberikan oleh pih…

Membatasi Asap Rokok

Oleh Ahmad Sahidah PhD
Suara Karya, Jumat, 14 Mei 2010

Setelah klausul tentang tembakau pernah menghilang dari Undang-Undang Kesehatan, sekarang kegaduhan beralih pada penolakan sejumlah kalangan terhadap Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pengamanan Produk Tembakau Sebagai Zat Adiktif Bagi Kesehatan (RPP Tembakau). Ditengarai industri merokok berada di balik penolakan ini. Dengan menggunakan petani sebagai tameng, para juru bicara mereka menentang aturan tersebut. Tak hanya itu, perusahaan rokok juga memasang iklan yang bernada membela petani. Tapi, benarkah?
Tentu, semua orang telah mafhum tentang bahaya merokok. Merujuk ayat 2 Pasal 113 UU Kesehatan bahwa “Zat adiktif sebagaimana dimaksud pada ayat 1 meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau, padat, cairan dan gas yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya dan atau masyarakat sekelilingnya,” siapa pun yang berpikir sehat bisa memahami kalimat tersebut. Asap rokok telah m…

Merawat wibawa ulama

Ahmad SahidahFellow Peneliti Pascadoktoral pada Universitas Sains Malaysia
Di dalam tradisi Islam, ulama diberi kepercayaan untuk merawat pengetahuan keagamaan. Tak hanya itu, tradisi kesarjanaan Muslim ini tidak melulu berkait dengan kapasitas intelektual, tetapi juga prilaku keseharian. Pendek kata, kealiman seseorang tak hanya diukur dari kepintaran, tetapi juga prilaku yang mencerminkan teladan. Inilah yang membedakan dengan tradisi Pencerahan yang menolak hal ihwal ‘pribadi’ (argumentum ad hominem) sebagai ukuran menilai kelayakan otoritas.
Lalu, bagaimana dengan Majelis Ulama Islam sekarang sebagai lembaga yang mempunyai wewenang keagamaan? Mengapa banyak orang menjadikan lembaga ini bahan olok-olok, tidak hanya orang biasa, bahkan sebagian santri dan kaum terpelajar dari insitusi Islam juga tak menaruh simpati? Saya masih ingat ketika seorang sarjana muda berlatar belakang lembaga Islam terkemuka meminta MUI untuk menyetempel (maaf) bokong Inul Daratista sebagai haram…

Menjelang Esok

Image
Pengurus Persatuan Pelajar Indonesia Universitas Sains Malaysia memanfaatkan email mailist list dan facebook untuk mengabarkan acara mingguan, pengajian di Masjid Khalid. Untuk Sabtu besok, giliran mahasiswa PhD bidang industri makanan, Herpandi Gumay, menyampaikan ceramah, yang berkisar tentang makanan halal. Saya pun tak sabar untuk mendengarkan pria kelahirkan Palembang ini mengurai tentang asupan yang sehat. Sebelumnya, kami sempat ngobrol tentang radikal bebas dalam proses pemakanan.

Ketinggian

Image
Dua orang itu berada di atap gedung. Keduanya bekerja untuk merenovasi ruang pertemuan kampus. Tentu, tidak semua berani melakukannya. Nyali berada di ketinggian, apalagi sambil bekerja, tentu digenggam oleh pekerja keras. Sebentar lagi, jika pengerjaan itu selesai, mahasiswa akan ditabalkan sebagai sarjana di gedung ini. Kalau ditelisik, bukankah mereka berada jauh lebih tinggi dari mahasiswa dari segala strata? Setahu saya, mahasiswa hingga profesor tak pernah terlihat berada di puncak sana, meski selalu saja para kaum terpelajar itu menggantungkan cita-cita setinggi langit.

Pagi di Danau

Image
Sabtu kemarin, danau kampus itu renyah karena pagi-pagi ia telah meraup air hujan deras. Kemudian, matahari menyembul, memendarkan butiran air di dedaunan. Ikan pun berenang riang. Beberapa pengunjung memanjakan dengan remah-remah roti. Di ujung itu, mereka berkumpul dan berlompatan untuk menelan apa saja. Yang paling ketara, lele dumbo melahap setangkup roti, lalu menyurut ke dalam air. Setelah puas, kami pun beranjak, menuju masjid kampus untuk mengikuti pengajian.

Aha, Ustaz Zaki membahas kesabaran. Bukankah watak ini mengandaikan seperti danau itu, tenang dan tak bergolak? Penghuni di dalamnya pun tak tergesa-gesa. Biawak melata dengan anggun, burung berlompatan dari dahan ke dahan, apalagi kura-kura yang berenang pelan dan merangkak lambat ketika naik ke tanah pembatas. Dari binatang, kita pun belajar sabar. Kesabaran itu juga tecermin dari raut sang ustaz, yang berjalan jauh dari Seberang Pulau untuk sampai ke masjid ini.

Dengan menyitir kitab suci yang mengandung firman Allah bah…

Memeriksa Identitas Serumpun Indonesia-Malaysia

Kedaulatan Rakyat, 15/05/2010 | 09:59:28

Ketika mengunjungi dua universitas negeri di Makassar, rombongan dari Universitas Sains Malaysia, Kolej Universitas Islam Selangor dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Selatan Thailand disambut ramah. Dua pemimpin tertinggi secara meyakinkan menyatakan bahwa kami adalah serumpun, mempunyai akar yang sama. Namun, setelah satu sama lain berbicara, bahasa yang mereka gunakan terlihat tak senada. Kedua belah pihak menggunakan kosa kata dan pengucapan yang berbeda. Apalagi, perbedaan bunyi huruf turut menyumbang kebingungan karena di Malaysia, penyebutan alfabet mengikuti gaya Inggeris, misalnya huruf K, diucapkan [ke], bukan [ka]. Bahkan, dalam sebuah sesi seminar seorang dosen negeri Universitas Hasanuddin meminta saya untuk menerjemahkan pertanyaan dosen Malaysia, padahal yang bersangkutan menggunakan bahasa Melayu.

Demikian juga, ketika Dr Nordin Abd Razak, seorang dosen, bertanya pada pegawai dinas pariwisata Makassar, “Ibu…

Murid Sekolah dan Perpustakaan

Image
Murid sekolah menengah pertama mengunjungi perpustakaan. Mereka tampak mendengar penjelasan dari pustakawan, sebagian yang lain tolah-toleh dan malah beberapa anak tampak menikmati pameran koleksi peranakan Asia Tenggara. Selalu saja, kita menemukan hal demikian, tak semua menaruh perhatian pada satu objek dalam satu kesempatan. Ini tak hanya terjadi pada dunia anak-anak, tetapi juga dewasa.

Namun apa yang menarik? Kebiasaan para guru di Pulau Pinang mengajak anak didiknya untuk mengunjungi perpustakaan kampus. Saya melihatnya untuk kesekian kalinya dan selalu tak pernah bosan melihat tingkah mereka. Bagaimanapun, dunia buku bukan hiburan yang membuat siapapun mudah menikmati hingga akhir. Namun, ikhtiar untuk menanamkan kecintaan terhadap pengetahuan pasti membuahkan hasil, meski tak seratus persen. Hanya saja, pendidik perlu sabar agar ini bisa merembes pada watak anak didik. Seperti diterakan oleh Michael Foley dalam The Age of Absurdity bahwa the minority view prevailed if it was e…

Memelihara Tradisi Rakyat

Image
Ternyata tidak mudah memelihara tradisi rakyat. Beberapa pembicara dalam acara di atas mengeluhkan serbuan kebudayaan 'asing' (alien) dalam keseharian anak-anak, bahkan anak mereka sendiri. Namun apa daya, kuasa media telah membuat banyak permainan lama, seperti Galah Panjang, Ting-Ting, Congkak, tak lagi menarik. Anak-anak lebih menyukai permainan PS2, misalnya, dalam menghabiskan waktu luang. Padahal dibandingkan yang terakhir, permainan tradisional itu membuat pemain lebih nyaman karena berada di alam bebas dan melibatkan teman sebayanya, tidak bersifat individual. Apakah ini petanda bahwa pada masa dewasa anak-anak itu makin individualis? Tentu, kita menunggu waktu.

Tak hanya permainan, kebudayaan lagu dan tarian setempat pun juga dapat tempat. Encik Omar Md Hashim menyesalkan Boria makin terpinggir. Tradisi lokal yang berasal dari Persia, Iran, makin menyusut. Dulu di masa kejayaannya, ada 80-an kelompok, namun sekarang 4-5 kelompok yang masih menghidupkannya. Namun, dala…

Malam Ahad

Image
Semalam, kami datang beramai-ramai ke konsulat untuk menghadiri acara temu-ramah dengan Pak Moenir, konsul, yang sebentar lagi akan mengakhiri masa tugasnya. Tak hanya mahasiswa, perwakilan kampus Universiti Sains Malaysia, Encik Marimuthu dan Prof Mohd Yusoff, juga hadir. Ketiga orang ini pun memberikan sambutan. Saya pun sibuk mencatat apa yang mereka uraikan. Ada banyak kata kunci, seperti prestasi, kinerja, terobosan, gambar besar, dan mahasiswa.

Di sela rangkaian acara, Persatuan Pelajar Indonesia memberikan cendera mata pada Pak Moenir. Mas Herpandi berujar bahwa hadiah itu adalah bentuk ungkapan keikhlasan mahasiswa terhadap alumnus Universitas Diponegoro ini. Nilainya mungkin tak seberapa, tambahnya sebagai pembawa acara. Hadirin pun tak bisa menahan tawa. Selain kado itu, seorang mahasiswa juga menyerahkan program tahunan PPI USM, sebagai bentuk ikatan. Bagaimanapun, peran konsulat sangat besar dalam keberlangsungan kegiatan organisasi yang berdiri tahun 1993 tersebut.

Acara i…

Hari Sabtu

Image
Pengajian tadi pagi membahas fiqh terapan, yang disebut fiqh praktis oleh pembawa acara. Sang ustaz mengurai dasar-dasar fiqh yang terangkum dalam lima qawaid fiqhiyyah, yaitu al-umur bimaqasidiha, al-musyaqqah tajlibu al-taisir, al-adah al-muhakkamah, al-dararu yuzalu dan al-yaqinu la yuzalu bi al-syakk. Lalu, apa hubungannya dengan gambar di atas. Tidak ada. Catatan itu berkait dengan tema pengajian sebelumnya, tentang totalitas ibadah. Sementara, untuk kali ini, saya tidak membawa kamera, sehingga gambar yang sebelumnya diletakkan di atas. Sayangnya, di tengah pembahasan si kecil merengek, saya pun harus menggendong dan mengajaknya bermain di masjid.

Meskipun tak sepenuhnya mengikuti uraian ustaz Faizal, saya bisa membayangkan kandungan penjelasan karena asas-asas itu adalah pelajaran yang didapat di pondok pesantren Annuqayah dahulu kala. Meski sekarang, saya perlu memberikan kata-kata baru untuk istilah teknis yang diberikan oleh para ahli fiqh. Demikian pula, adalah perlu dibuat …

Pasar Malam

Image
Aneh, kami pergi ke pasar malam di waktu sore, ketika matahari di atas bukit itu masih menyembul. Kerinduan untuk merasakan sate di pasar dadakan Jalan Tun Sardon membuncah. Meski harus dibayar mahal, kami menunggu lama karena pelanggan bejibun. Sepuluh tusuk ayam dan daging mengobati rasa itu. Sebelumnya, kami berbelanja keperluan harian, seperti sayur dan lauk. Aha, penjualnya masih mengenali kami dan berujar, wow, anak sudah besar ye? Dulu datang ke sini, masih mengandung. Kami pun teruja. Saya sendiri berkata pada ibu Nabiyya, pengalaman itu menyenangkan karena hubungan kami bukan sekadar penjual dan pembeli, tetapi kemanusiaan.

Tak banyak berubah. Pasar malam itu masih seperti dulu. Kami membeli es kelapa di tempat dan penjual yang sama. Demikian penjual yang lain, buku dan majalah, buah-buahan, daging, dan aneka jualan yang lain. Mereka adalah pedagang sejati. Di tengah serbuan pasaraya, tentu mereka harus bersaing dengan kekuatan modal besar. Belum lagi, selisih harga yang kadan…

Merawat Bumi dengan Hati

Jurnal Nasional, Kamis, 6 Mei 2010

Ahmad Sahidah Fellow Peneliti Pascadoktoral pada Universiti Sains Malaysia
Bukan sesuatu yang aneh jika ribuan orang menyertai acara Fun Bike di pelbagai kesempatan. Kegiatan yang bermanfaat untuk mendorong orang mencintai bumi ini layak untuk dikembangkan. Tentu, ia tidak hanya tertumpu pada upacara yang dihadiri oleh pejabat publik, tetapi pada waktu yang sama masyarakat telah menunjukkan kesungguhannya untuk peduli terhadap isu lingkungan. Penyertaan khalayak pada kegiatan semacam ini paling tidak berhasil menggabungkan olahraga dan rekreasi yang sehat. Hal serupa sebenarnya telah banyak di lakukan, namun pembiasaan pemberitaan kegiatan tersebut akan membekas lebih dalam di benak masyarakat.
Namun, jauh dari sekadar seremonial belaka, semua pihak sejatinya menjadikan acara bersepeda sebagai alternatif dari moda transportasi yang tidak ramah lingkungan. Ditandai perubahan iklim yang tak menentu, setiap individu harus memikirkan nas…