Tuesday, May 25, 2010

Tiga Serangkai


Telepon, kertas dan pena acapkali menemani ke mana tuannya pergi. Telepon itu tidak mahal, oleh karena itu fiturnya tak banyak, hanya radio fm, selain untuk menelepon dan mengirim pesan singkat. Demikian pula, mereknya tak terkenal, seperti Nokia, Motorola, atau Samsung. I-Mobile adalah produk lokal, yang bersaing dengan telepon sejenis, seperti CSL. Saya pun mendapatkan kartu garansi selama setahun.

Nah, kertas itu adalah slip transaksi atm (anjungan tunai mandiri), yang dimanfaatkan untuk mencatat ucapan sang ustaz di pengajian. Saya memang tak pernah membuang kertas yang diperoleh dari pelbagai tempat, termasuk slip belanja di pasaraya. Bahkan, kertas iklan yang dimasukkan ke kotak surat juga dimanfaatkan untuk menulis apa saja. Catatan itu menumpuk dan sebagian tak sempat dipindahkan ke blog.

Lalu, bolpoin itu diperoleh dari panitia seminar, yang bertulisan Penerbit Universiti Sains Malaysia. Warna tinta hitam. Pena ini menjadi koleksi bersama alat tulis lain yang diberikan oleh pihak pelaksana kegiatan. Malah, begitu banyak alat untuk menerakan sesuatu di atas kertas ini tak sempat dipakai dan tinta mengering. Sementara, pensil duduk manis di kotak, sambil menunggu tuannya memanfaatkan untuk menulis. Mungkin, panitia acara apapun tak perlu lagi memberikan alat tulis pada peserta agar kita bisa menyelamatkan harta benda itu terbuang percuma.

Monday, May 24, 2010

Membatasi Asap Rokok

Oleh Ahmad Sahidah PhD


Suara Karya, Jumat, 14 Mei 2010

Setelah klausul tentang tembakau pernah menghilang dari Undang-Undang Kesehatan, sekarang kegaduhan beralih pada penolakan sejumlah kalangan terhadap Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pengamanan Produk Tembakau Sebagai Zat Adiktif Bagi Kesehatan (RPP Tembakau). Ditengarai industri merokok berada di balik penolakan ini. Dengan menggunakan petani sebagai tameng, para juru bicara mereka menentang aturan tersebut. Tak hanya itu, perusahaan rokok juga memasang iklan yang bernada membela petani. Tapi, benarkah?


Tentu, semua orang telah mafhum tentang bahaya merokok. Merujuk ayat 2 Pasal 113 UU Kesehatan bahwa “Zat adiktif sebagaimana dimaksud pada ayat 1 meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau, padat, cairan dan gas yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya dan atau masyarakat sekelilingnya,” siapa pun yang berpikir sehat bisa memahami kalimat tersebut. Asap rokok telah meracuni penikmatnya dan keluarga. Lalu, adalah wajar jika setiap individu bersama-sama melawan ketergantungan yang tidak sehat ini.


Keputusan Majlis Fatwa dan Tajdid PP Muhammadiyah tentang keharaman rokok sebenarnya bukan hal baru. Namun tak ayal ia memantik penolakan dari organisasi keagamaan yang lain. Pertimbangannya bukan saja terkait dengan alasan kesehatan, tetapi juga terkait nasib petani. Sementara Din Syamsuddin, Ketua Muhammadiyah, menegaskan bahwa langkah ini merupakan penyelamatan peradaban. Organisasi yang didirikan oleh Ahmad Dahlan ingin turut serta mendorong tercapainya target MDGs (Millennium Development Goals). Muhammadiyah mencoba turut menanggulangi beberapa macam pandemi yang melanda dunia, seperti flu burung, flu babi, serta TBC dan penyakit saluran pernafasan, yang masih mengancam manusia.


Adalah aneh jika kita masih menganggap kebiasaan rokok itu bisa diterima. Ketidakberdayaan perokok untuk berhenti sejatinya adalah ketidakmampuannya untuk melawan zat adiktif, sesuatu yang diasup dari luar. Ketenangan hakikatnya bermuara pada dalam diri, hati. Kegagalan mendatangkan kenyamanan dari diri sendiri adalah awal keterpenjaraan pada benda lain. Apatah lagi, selama ini penghasil tembakau tidak memperoleh keuntungan dari hasil pertanian nicotiana tobaccum. Jadi, diam-diam sebenarnya perokok turut mengekalkan praktik penindasan ini dan dengan sendirinya memanjakan para cukong. Adakah ketentraman bisa lahir dari kenyataan yang terakhir seperti ini?


Hidup Sehat


Malaysia menyebut kampanye dengan ‘kempen’ yang sebenarnya juga digunakan untuk memasyarakatkan program layanan kemasyarakatan yang lain, seperti kesadaran berlalu lintas, bahkan hingga berpakaian yang sopan. Program anti-merokok dengan slogan Tak Nak! (Tidak Mau) sebenarnya dicadangkan sejak Dr Mahathir memegang kursi perdana menteri karena miris melihat remaja ketagihan dengan asap rokok. Penggantinya, Abdullah Badawi, melanjutkan program ini dengan dukungan penuh kementerian kesehatan. Dengan anggaran RM 20 juta (Rp 60 miliar) setahun, pemerintah secara besar-besaran mempromosikan hidup sehat dengan tidak merokok.


Salah satu cara untuk tidak mendedahkan remaja pada kebiasaan buruk ini adalah melalui perundangan-undangan dan pendidikan kesehatan. Pemerintah menggelontorkan dana besar untuk menyampaikan pesan tentang bahaya merokok melalui pelbagai media, seperti televisi, radio, surat kabar dan majalah. Tidak saja melarang menghisap rokok di kantor-kantor pemerintah, iklan rokoh di media juga tidak diperbolehkan. Malah, meski rokok bisa menjadi sponsor untuk kegiatan olahraga, pemerintah mendorong penyelenggara pertandingan untuk mencari dana dari sumber-sumber lain. Ternyata, usaha ini berhasil. Putaran pertandingan sepak bola liga utama di sana secara rutin diadakan tanpa keterlibatan industri rokok.


Untuk memberikan efek yang lebih kuat, pada bungkus rokok tidak hanya diterakan amaran (peringatan) kerajaan Malaysia, rokok membahayakan kesihatan, tetapi juga peringatan bergambar, seperti kaki melepuh, kerongkongan hancur dan mulut menghitam dan bayi prematur. Jika aturan tersebut yang terakhir tidak dipenuhi, maka perusahaan bersangkutan bisa didenda RM 10 ribu atau dua tahun penjara, atau kedua-duanya jika ditetapkan bersalah. Pemberlakukan aturan baru ini efektif sejak tahun 1 Juni 2009 dan hingga sekarang, kita akan menemukan wajah sebungkus rokok yang membuat kita tak mempunyai nafsu makan.


Jadi, ketika Ketua Umum Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri), Ismanu Soemiran menyatakan, RPP itu meresahkan pengusaha rokok dan 2,5 juta petani tembakau adalah berlebihan. Tambahnya, RPP, yang antara lain, mengatur larangan penayangan iklan rokok, sponsor acara, kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility), larangan penjualan rokok secara eceran dan pada orang di bawah 18 tahun serta wanita hamil, membuat perusahaan rokok tak berkembang. Justru aturan ini dibuat agar industri ini tidak meracuni masyarakat lebih luas. Oleh karena itu, tak perlu dikembangkan. Ternyata, aturan yang sama tidak membuat bangkrut negara tetangga.


Akhirnya sudah saatnya, semua pihak mempertimbangkan untuk mendukung langkah Departemen Kesehatan untuk mengurangi konsumsi rokok masyarakat. Demikian juga, pemerintah tidak perlu terlalu risau atas berkurangnya pemasukan cukai rokok, mengingat biaya yang ditanggung pemerintah untuk pemulihan penyakit yang ditimbulkan oleh racun tembakau dan biaya sosial justeru lebih besar. Langkah strategis untuk menciptakan masyarakat yang sehat sangat mendesak. Di sini, yang diperlukan hanyalah keberanian untuk mengatakan tidak pada perusahaan rokok yang telah menyebabkan petani merugi dan orang ramai tidak sehat. Namun demikian, pemerintah harus mencari tanaman alternatif yang bisa mendongkrak taraf kehidupan petani. ***


Penulis adalah Postdoctoral Research Fellow
pada Universitas Sains Malaysia

Saturday, May 22, 2010

Merawat wibawa ulama

Ahmad Sahidah

Fellow Peneliti Pascadoktoral pada Universitas Sains Malaysia


Di dalam tradisi Islam, ulama diberi kepercayaan untuk merawat pengetahuan keagamaan. Tak hanya itu, tradisi kesarjanaan Muslim ini tidak melulu berkait dengan kapasitas intelektual, tetapi juga prilaku keseharian. Pendek kata, kealiman seseorang tak hanya diukur dari kepintaran, tetapi juga prilaku yang mencerminkan teladan. Inilah yang membedakan dengan tradisi Pencerahan yang menolak hal ihwal ‘pribadi’ (argumentum ad hominem) sebagai ukuran menilai kelayakan otoritas.


Lalu, bagaimana dengan Majelis Ulama Islam sekarang sebagai lembaga yang mempunyai wewenang keagamaan? Mengapa banyak orang menjadikan lembaga ini bahan olok-olok, tidak hanya orang biasa, bahkan sebagian santri dan kaum terpelajar dari insitusi Islam juga tak menaruh simpati? Saya masih ingat ketika seorang sarjana muda berlatar belakang lembaga Islam terkemuka meminta MUI untuk menyetempel (maaf) bokong Inul Daratista sebagai haram dalam sebuah pertemuan di kota pelajar. Dalam jejaring sosial, laman blog dan percakapan acapkali ditemukan celetukan yang menjadikan lembaga tersebuh sebagai bahan lelucon. Dalam sebuah status facebook, seorang santri bahkan mengusulkan pembubaran.


Apa yang salah dengan lembaga itu? Adakah ini disebabkan fatwa yang dikeluarkan acapkali bertabrakan dengan kepentingan orang ramai? Coba lihat beberapa keputusan yang mungkin tak membuat nyaman khalayak luas: pengharaman barang bajakan, rokok, film ‘kontroversial’ dan terbaru perayaan Hari Kasih Sayang (Valentine Day). Memang yang terakhir ditegaskan oleh MUI cabang Malang, namun selalu saja tak menepis anggapan bahwa MUI di manapun sama saja, mengekang kehendak publik. Benarkah?


Fatwa


Boleh dikatakan fatwa berkait dengan kepentingan dan ketentraman masyarakat luas dari ketentuan agama. Dasar sejati dari fatwa adalah memelihara jiwa, agama, akal budi, keturunan dan harta. Di sinilah, kita harus mencermati perbedaan antara falsafah hukum (usul fiqh) dan produk hukum (fiqh). Memang, tak sepenuhnya fatwa berdampak pada pelaksanaan, karena lembaga yang dimaksud tidak menjadi bagian dari hukum positif dan adanya aparat yang melaksanakan keputusan. Kekuatan hukum yang tidak mengikat inilah yang sebenarnya berbuah kebaikan, sebab fatwa tersebut kadang berada pada ranah perselisihan (ikhtilaf), bukan prinsip.


Dengan tiadanya lembaga sentral resmi yang menaungi lembaga yang mengeluarkan keputusan tersebut, hampir setiap kelompok, organisasi atau bahkan perorangan memberikan pendapat terhadap persoalan yang sedang dipertikaikan. Tak jarang, hasil kajian kelompok, seperti forum bahtsul masail Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jawa Timur ke-12 di Ponpes Lirboyo, Kediri, tentang hukum haram bagi foto pra-pernikahan, pelurusan rambut dan pengojek perempuan telah menimbulkan respons yang beragam. Sebagian mendukung dan yang lain tidak. Ini menunjukkan betapa di kalangan internal kesarjanaan Muslim perbedaan pendapat itu lumrah. Bukankah di kitab-kitab fiqh kita selalu menemukan hal yang sama?


Namun demikian, komentar miring atau usulan membubarkan forum seperti ini tidak muncul ke permukaan. Demikian juga, ketika NU mengeluarkan fatwa tentang keharaman acara infotainment,karena ghaibah meruyak, tak ada yang mencoba mengolok-ngolok, demikian juga pada Muhammadiyah. Anehnya, MUI yang anggotanya yang mencerminkan kedua organisasi tersebut acapkali dijadikan bahan sindiran. Apalagi, sekarang, lembaga ini digawangi oleh dua tokoh penting dari organisasi yang dimaksud, K H Sahal Mahfudh dan Profesor Din Syamsuddin, yang sebenarnya menunjukkan potret kewibawaan.


Memang, tak dapat dielakkan, terkadang fatwa MUI menimbulkan sanggahan, bahkan dari sarjana Muslim sendiri. Keharaman pluralisme, sekulerisme dan liberalisme telah menimbulkan silang sengketa. Lagi-lagi, harus dijelaskan di sini bahwa tafsir terhadap pengertian mazhab yang dimaksud itu tidak sama. Adalah wajar, jika ‘hukum’ terhadap ketiga pemahaman ini juga berbeda. Pendek kata, keberterimaan pada perbedaan harus mendorong siapapun untuk terbuka bagi dialog. Stempel yang melekat sebagai kepanjangan tangan pemerintah tak dapat dihindari karena fatwa yang dikeluarkan sejalan dengan kepentingan pihak berkuasa, namun pada waktu yang sama pendiriannya pernah berseberangan.


Pengawal Tradisi


Dalam The Ulama in the Contemporary Islam, Muhammad Qazim Zaman menulis dalam pengantar bahwa tantangan dan konsekuensi modernitas telah menantang peran ulama. Perguruan tinggi dan pengaruh cetakan dan media yang lain telah menjebol akses istimewa ulama terhadap wewenang yang digenggamnya selama ini. Namun, bagaimanapun karya-karya mereka tetap menjadi rujukan dan pertimbangan berkait dengan wacana keagamaan. Bahkan di Barat pun, dari zaman Skolastik hingga Descartes, Hume ke Kant, Hegel, Hüsserl hingga kaum Eksistensialis , perdebatan filsafat terus berlangsung yang dengan sendirinya menegaskan adanya titik sambung antara masa lalu dan kekinian.


Nah, Majelis Ulama Indonesia juga telah melakukan hal yang sama. Kalau menilik fatwa yang telah dikeluarkan, selain merujuk pada kita suci dan Hadits, kaidah fiqh, mereka juga memasukkan pandangan ulama terdahulu sebagai pertimbangan. Pendek kata, kesinambungan gagasan terus berjalan. Selain terlibat dalam perebutan wacana itu, mereka juga sekaligus memikul beban untuk menjadi teladan. Di sini, alim ulama terdahulu telah memberikan contoh yang patut dipertimbangkan. Imam Abu Hanifah, misalnya, yang meninggalkan bisnis untuk sepenuhnya mengabdikan hidupnya untuk pengetahuan keagamaan. Kesederhanaan dan keberanian menjaga jarak dari kekuasaan telah menorehkan kekaguman.


Bagaimanapun, MUI telah menjadi wajah dari pelbagai aliran. Kehadirannya mencerminkan kesepakatan pelbagai organisasi keagamaan. Atas dasar inilah, wibawa MUI dipertaruhkan. Tentu, pada masa yang sama, ia membuka diri pada dialog, perbedaan dan hubungan silaturahmi pelbagai lapisan, baik dalam dan luar. Fatwa bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah final telah menempatkan lembaga ini sebagai soko guru bagi terpeliharanya Bhinneka Tunggal Ika di Republik ini. Jadi, upaya mengecilkan keberadaannya hakikatnya telah menutup perannya untuk menjadi institusi jalan tengah keberagamaan di Indonesia!


Dimuat di Surat Kabar Solo Pos, 21 Mei 2010

Friday, May 21, 2010

Menjelang Esok


Pengurus Persatuan Pelajar Indonesia Universitas Sains Malaysia memanfaatkan email mailist list dan facebook untuk mengabarkan acara mingguan, pengajian di Masjid Khalid. Untuk Sabtu besok, giliran mahasiswa PhD bidang industri makanan, Herpandi Gumay, menyampaikan ceramah, yang berkisar tentang makanan halal. Saya pun tak sabar untuk mendengarkan pria kelahirkan Palembang ini mengurai tentang asupan yang sehat. Sebelumnya, kami sempat ngobrol tentang radikal bebas dalam proses pemakanan.

Thursday, May 20, 2010

Ketinggian


Dua orang itu berada di atap gedung. Keduanya bekerja untuk merenovasi ruang pertemuan kampus. Tentu, tidak semua berani melakukannya. Nyali berada di ketinggian, apalagi sambil bekerja, tentu digenggam oleh pekerja keras. Sebentar lagi, jika pengerjaan itu selesai, mahasiswa akan ditabalkan sebagai sarjana di gedung ini. Kalau ditelisik, bukankah mereka berada jauh lebih tinggi dari mahasiswa dari segala strata? Setahu saya, mahasiswa hingga profesor tak pernah terlihat berada di puncak sana, meski selalu saja para kaum terpelajar itu menggantungkan cita-cita setinggi langit.

Sunday, May 16, 2010

Pagi di Danau


Sabtu kemarin, danau kampus itu renyah karena pagi-pagi ia telah meraup air hujan deras. Kemudian, matahari menyembul, memendarkan butiran air di dedaunan. Ikan pun berenang riang. Beberapa pengunjung memanjakan dengan remah-remah roti. Di ujung itu, mereka berkumpul dan berlompatan untuk menelan apa saja. Yang paling ketara, lele dumbo melahap setangkup roti, lalu menyurut ke dalam air. Setelah puas, kami pun beranjak, menuju masjid kampus untuk mengikuti pengajian.

Aha, Ustaz Zaki membahas kesabaran. Bukankah watak ini mengandaikan seperti danau itu, tenang dan tak bergolak? Penghuni di dalamnya pun tak tergesa-gesa. Biawak melata dengan anggun, burung berlompatan dari dahan ke dahan, apalagi kura-kura yang berenang pelan dan merangkak lambat ketika naik ke tanah pembatas. Dari binatang, kita pun belajar sabar. Kesabaran itu juga tecermin dari raut sang ustaz, yang berjalan jauh dari Seberang Pulau untuk sampai ke masjid ini.

Dengan menyitir kitab suci yang mengandung firman Allah bahwa manusia akan dicoba dengan ketakutan, kelaparan, kurang harta, jiwa dan buah-buah, pria kelahiran Jambi ini mengurai hal ihwal tantangan manusia menjalani kehidupan. Tema ini mengetuk benak karena saya pun merasa bahwa kesabaran itu mudah diucapkan, namun sangah susah diwujudkan. Tentu, pelaziman sifat ini memerlukan perubahan cara berpikir dan keyakinan. Tanpa keduanya, ia akan selalu berada jauh di sana. Lalu, siapa pun saling mendahului untuk memenangkan persaingan dengan terburu nafsu.

Saturday, May 15, 2010

Memeriksa Identitas Serumpun Indonesia-Malaysia

Kedaulatan Rakyat, 15/05/2010 | 09:59:28

Ketika mengunjungi dua universitas negeri di Makassar, rombongan dari Universitas Sains Malaysia, Kolej Universitas Islam Selangor dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Selatan Thailand disambut ramah. Dua pemimpin tertinggi secara meyakinkan menyatakan bahwa kami adalah serumpun, mempunyai akar yang sama. Namun, setelah satu sama lain berbicara, bahasa yang mereka gunakan terlihat tak senada. Kedua belah pihak menggunakan kosa kata dan pengucapan yang berbeda. Apalagi, perbedaan bunyi huruf turut menyumbang kebingungan karena di Malaysia, penyebutan alfabet mengikuti gaya Inggeris, misalnya huruf K, diucapkan [ke], bukan [ka]. Bahkan, dalam sebuah sesi seminar seorang dosen negeri Universitas Hasanuddin meminta saya untuk menerjemahkan pertanyaan dosen Malaysia, padahal yang bersangkutan menggunakan bahasa Melayu.

Demikian juga, ketika Dr Nordin Abd Razak, seorang dosen, bertanya pada pegawai dinas pariwisata Makassar, “Ibu dari pejabat pelancongan ya?” Sang pegawai terdiam. Sapaan ini merupakan bentuk ucapan terima kasih kasih karena rombongan ditraktir makan siang oleh kantor yang bersangkutan. Lalu, saya menimpali, dinas pariwisata dan ibu pun tersenyum renyah, mengangguk. Kami pun berlalu. Sebenarnya kata pelancongan sinonim dengan pariwisata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, namun karena tidak sering digunakan, masyarakat di sini tidak akrab. Apalagi diawali kata pejabat, yang di sini berkonotasi pegawai tinggi, sementara di Malaysia menunjuk kantor, sebuah kata yang dipungut dari bahasa Belanda. Inilah sekelumit betapa kedua negara ini telah mengalami titik persimpangan dalam berbahasa.

Namun, jika kita satu sama lain berada dalam pertemuan tidak resmi, sebuah percakapan bisa berlangsung gayeng. Artinya, perbedaan itu tidak menghambat keakraban. Terbukti, KH Mustari Busro dan isteri menjadi tuan rumah yang baik dengan meluangkan waktunya menemani rombongan. Malah, ketika dalam sebuah kunjungan ke pelbagai tempat bersejarah, penyebutan rombongan dari Malaysia memantik petugas bergegas menyambutnya. Kedekatan itu jelas terasa, karena komunikasi bisa berjalan, meski tak jarang tersendat. Namun, ketegangan sempat muncul ketika segelintir rombongan menjadi pemakalah dalam seminar. Pertanyaan keras berkait kepongahan Malaysia muncul. Padahal, itu terjadi di Makassar, tempat dua perdana menteri Malaysia berasal. Bahkan, orang Bugis juga menyebar ke seantero negeri Semenanjung yang sekarang telah menjadi warga negara. Sejatinya, kenyataan ini merekatkan hubungan, namun apa daya, hubungan emosional lancung.

Jati diri

Kata jati diri acapkali muncul ke permukaan berkait dengan serbuan kebudayaan luar yang merasuk dan dianggap mengancam kelestarian komunitas tertentu. Ia mempunyai nada lebih kuat daripada identitas. Namun, hakikatnya kedua kata setali tiga uang. Selain itu, ia juga tidak sesederhana penanda yang menempel pada seorang Jawa yang beragama Islam dan berkebangsaan Indonesia. Jelas pada diri orang ini mengusung tiga identitas, etnik, agama dan negara. Kadang, penanda ketiga identitas ini berpisah, namun tak jarang pula berkelindan. Malah, anehnya begitu mudah Jawa menjadi Melayu di Malaysia karena kedekatan budaya dan agama. Meski kadang identitas tampak cair, namun sebenarnya ia mengandaikan kepastian, seperti bahasa, agama dan budaya. Nah, kedua negara serumpun ini menunjukkan warisan identitas tunggal.

Lalu, bagaimana sebenarnya wujud identitas serumpun yang acapkali menyembul dalam setiap pertemuan dua warga Indonesia dan Malaysia ini? Nyatanya, dalam satu minggu ini paling tidak saya menemukan kesulawanan. Pertama, ketika berlangsung seminar Melayu se-Asean di Universitas Muhammadiyah (29-31 Maret 2010), para peserta yang bertanya dengan lugas menggugat perlakuan Malaysia terhadap TKI dan bahkan salah seorang yang lain menyoal Manohara. Pemakalah dari Malaysia tampak tertegun, karena pertanyaan semacam ini tak akan ditemui di negaranya. Malah, ketika membaca Soe Hok-Gie Sekali lagi (2009), saya menemukan tulisan N Riantiarno yang menyebut jiran sebagai pengutil budaya (hlm. 290). Kedua peristiwa ini menandakan bahwa stigma negeri tetangga sebagai pencuri kebudayaan begitu kuat tertanam di benak segala lapisan. Tentu media mempunyai peranan yang kuat mempengaruhi pikiran khalayak untuk terus menggelorakan kebencian semacam ini.

Tapi, benarkah tuduhan itu? Hakikatnya kebudayaan mengandaikan sebuah pertemuan rumit antara pelbagai unsur, yang tak jarang telah menyesuaikan diri dengan alam pikiran setempat. Kitab Mahabarata, epik India, telah disesuaikan dengan kejawaan, namun negeri Mahatma Gandhi itu tidak pernah menyoal bahwa miliknya telah dicuri. Padahal, orang Jawa dan India mempunyai perbedaan dalam banyak hal, dibandingkan dengan orang Malaysia. Tetapi, mengapa rakyat Indonesia masih dengan mudah menganggap warga serumpun itu mengutil kebudayaannya. Dalam satu makalah seminar yang disampaikan Dr Mohd Isa Othman, “Peranan Diaspora Bugis dalam Sejarah Politik di dalam Kesultanan Johor-Riau dengan tegas menyatakan bahwa tautan antara negeri-negeri itu mengandaikan hubungan persaudaran dalam arti konotatif dan denotatif. Tak ayal, kebudayaan negeri asal juga dipraktikkan tanpa merasa ia adalah sesuatu yang asing.

Simbiosis Mutualisme

Pergulatan mengukuhkan identitas itu tak berarti apa-apa, jika peneguhan secara sungguh-sungguh tidak mendatangkan pemahaman yang menyeluruh. Identitas menjadi Indonesia tidak dengan sendirinya bersifat chauvinis, namun terbuka bagi pergaulan, atau kosmopolit. Apalagi jika identitas kita bersirobok dengan identitas rakyat negara lain, maka keduanya akan menemukan ruang yang lebih besar untuk bekerja sama lebih tulus dan mulus. Memang, di tingkat pemerintah, para elitenya tampak rukun. Demikian pula, di bidang ekonomi, Malaysia telah membukukan penanaman modal yang cukup fantastis, dan terus berlanjut sejalan dengan pertumbuhan positif ekonomi negeri bekas jajahan Inggris itu.Namun, riak-riak konflik yang acapkali menyeruak di antara masyarakatnya telah menjadi batu kerikil dalam mewujudkan hubungan yang lebih baik.

Contoh sederhana dari sandungan itu adalah pembatalan kedatangan turis Malaysia ke Indonesia akibat pemberitaan sweeping. Meskipun kejadian ini terjadi di Jakarta, pengaruhnya meruyak ke daerah lain, bahwa Indonesia tidak aman bagi warga serumpun. Bahkan, sektor pariwisata di sini juga tak menarik perhatian calon potensial warga Malaysia untuk datang. Kawan karib saya dari Makassar bercerita bahwa rute Air Asia Kuala Lumpur-Makassar hampir ditutup karena jumlah penumpang tak memadai untuk tidak membuat maskapai tersebut rugi. Namun, atas permintaan gubernur Sulawesi Selatan, rencana ini tidak dilaksanakan. Dengan insentif dari pengelola bandara, perusahaan penerbangan Tony Fernandes ini tetap melayani penumpang dalam rute tersebut. Kenyataan ini agak aneh, karena Makassar mempunyai pijakan yang kuat di Semenanjung, karena mempunyai hubungan sejarah pertautan yang panjang. Bahkan sebelumnya, promosi parawisata Makassar melalui TV 3 mengisi slot iklan. Bahkan, tak lama setelah Najib Tun Razak dilantik sebagai perdana menteri, ia mengunjungi tanah leluhurnya.

Sepatutnya, identitas serumpun itu bisa menjadi daya tarik agar masyarakat diaspora itu merindukan kampung halamannya dan bekunjung menengok sejarah masa lalu nenek moyangnya. Sebagaimana juga, sebagian warga Indonesia juga merupakan diaspora dari Melayu Semenanjung, ketika abad ke-15 Malaka jatuh pada Portugis. Pendek kata, sebenarnya hubungan keduanya mengandaikan ikatan batin yang kuat, meskipun sejak dulu konflik juga pernah meruyak ketika Bugis terlibat perang dengan Johor.

Namun, haruskah perselisihan ini terus diabadikan? Tak hanya itu, penyangkalan kita terhadap kebudayaan yang dipraktikkan di Malaysia hakikatnya mengingkari identitas mereka yang bersumber sama, kebudayaan Nusantara, atau dalam bahasa Pramoedya Ananta Toer, “Melayu Besar”. Jika identitas serumpun itu gagal dirawat, maka kita sebagai bangsa telah gagal melawan lupa, bahwa sejak dulu gagasan kebesaran Nusantara itu bukan sekadar cerita, tetapi fakta. Masihkan kita senantiasa mengulang kealpaan? q - c. (860-2010).

*) Ahmad Sahidah PhD,
Fellow Peneliti Pasca doktoral pada
Universiti Sains Malaysia.

Friday, May 14, 2010

Murid Sekolah dan Perpustakaan


Murid sekolah menengah pertama mengunjungi perpustakaan. Mereka tampak mendengar penjelasan dari pustakawan, sebagian yang lain tolah-toleh dan malah beberapa anak tampak menikmati pameran koleksi peranakan Asia Tenggara. Selalu saja, kita menemukan hal demikian, tak semua menaruh perhatian pada satu objek dalam satu kesempatan. Ini tak hanya terjadi pada dunia anak-anak, tetapi juga dewasa.

Namun apa yang menarik? Kebiasaan para guru di Pulau Pinang mengajak anak didiknya untuk mengunjungi perpustakaan kampus. Saya melihatnya untuk kesekian kalinya dan selalu tak pernah bosan melihat tingkah mereka. Bagaimanapun, dunia buku bukan hiburan yang membuat siapapun mudah menikmati hingga akhir. Namun, ikhtiar untuk menanamkan kecintaan terhadap pengetahuan pasti membuahkan hasil, meski tak seratus persen. Hanya saja, pendidik perlu sabar agar ini bisa merembes pada watak anak didik. Seperti diterakan oleh Michael Foley dalam The Age of Absurdity bahwa the minority view prevailed if it was expressed consistently, confidently dan undogmatically (2010: 91).

Kita pun perlu menjadikan setiap ruang untuk menjejalkan betapa buku itu penting, namun siapapun tahun bahwa ia masih terpinggir. Jika kesadaran minoritas ini terus dilesakkan, tidak ayal pada masa yang akan datang, kita akan banyak menemukan pemandangan di pelbagai sudut orang sedang menekuri buku, apapun jenisnya. Kampanye membaca selama ini juga membantu untuk mengimbangi arus deras iklan konsumtif. Mungkin karena ia tak terlihat setiap hari, anak-anak lebih asyik dengan kartun. Syukur jika cerita kartun itu dalam bentuk buku, seperti anak tetangga saya yang khusyu membaca komik Conan. Tentu, banyak cara memujuk anak untuk menyukai dunia baca, termasuk mengunjungi perpustakaan.

Wednesday, May 12, 2010

Memelihara Tradisi Rakyat


Ternyata tidak mudah memelihara tradisi rakyat. Beberapa pembicara dalam acara di atas mengeluhkan serbuan kebudayaan 'asing' (alien) dalam keseharian anak-anak, bahkan anak mereka sendiri. Namun apa daya, kuasa media telah membuat banyak permainan lama, seperti Galah Panjang, Ting-Ting, Congkak, tak lagi menarik. Anak-anak lebih menyukai permainan PS2, misalnya, dalam menghabiskan waktu luang. Padahal dibandingkan yang terakhir, permainan tradisional itu membuat pemain lebih nyaman karena berada di alam bebas dan melibatkan teman sebayanya, tidak bersifat individual. Apakah ini petanda bahwa pada masa dewasa anak-anak itu makin individualis? Tentu, kita menunggu waktu.

Tak hanya permainan, kebudayaan lagu dan tarian setempat pun juga dapat tempat. Encik Omar Md Hashim menyesalkan Boria makin terpinggir. Tradisi lokal yang berasal dari Persia, Iran, makin menyusut. Dulu di masa kejayaannya, ada 80-an kelompok, namun sekarang 4-5 kelompok yang masih menghidupkannya. Namun, dalam sesi diskusi, praktisi kebudayaan ini berharap bahwa tradisi itu tidak akan musnah dan akhirnya mendekam di musium. Apatah lagi, tokoh-tokoh yang mempertahankan kelestarian warisan tersebut sudah meninggal dunia, seperti Abdullah Darus dan Pak Kan. Ia sendiri berujar akan mewakafkan dirinya untuk meneruskan estafet dan berharap berumur panjang. Kata terakhir ini memantik tawa hadirin.

Selain diskusi, acara pameran juga digelar untuk memperlihatkan pada khalayak mengingat kembali permainan masa dulu, seperti congkak dan getah (karet). Sebagai karnaval tradisi rakyat, acara ini memang tidak melulu bersifat akademik, namun juga hiburan. Untuk itu, ide Prof Azlena, yang mengutip Pattiya Jimreivat, agar permainan tradisional dimasukkan dalam kurikulum sekolah patut disambut gembira. Sebab, nilai-nilai yang bisa ditanamkan dari permainan itu tidak hanya berkait dengan psikomotorik, tetapi juga kognitif, seperti berhitung dan berbahasa. Malah, penyesuaian dengan proses digitalisasi tidak ditampik agar anak-anak masih mengenal permainan generasi sebelumnya.

Permainan galah panjang atau orang Jawa menyebutnya gobak sodor adalah salah satu permainan yang saya lakoni dulu. Di sini, setiap anak tidak hanya harus gesit berlari, tetapi juga diuji kejujurannya. Ia tidak boleh melewati garis dalam menghalang seseorang melewati daerah teritorial yang menjadi tanggungjawabnya. Kadang, kami beradu urat leher untuk menunjukkan tak melanggar aturan. Selain itu, kami juga tak perlu menghabiskan uang untuk permainan semacam ini. Ia hanya memerlukan ruang lapang dan sejumpah pemain. Berbeda dengan permainan sekarang, seperti PS, yang memaksa anak-anak untuk duduk, tak bergerak dan menguras kocek mereka. Kalaupun di rumah para orang tua menyediakan perkakas ini (gadget), ia juga menyedot arus listerik, yang tentu melonjakkan tagihan bulanan.

Sunday, May 09, 2010

Malam Ahad


Semalam, kami datang beramai-ramai ke konsulat untuk menghadiri acara temu-ramah dengan Pak Moenir, konsul, yang sebentar lagi akan mengakhiri masa tugasnya. Tak hanya mahasiswa, perwakilan kampus Universiti Sains Malaysia, Encik Marimuthu dan Prof Mohd Yusoff, juga hadir. Ketiga orang ini pun memberikan sambutan. Saya pun sibuk mencatat apa yang mereka uraikan. Ada banyak kata kunci, seperti prestasi, kinerja, terobosan, gambar besar, dan mahasiswa.

Di sela rangkaian acara, Persatuan Pelajar Indonesia memberikan cendera mata pada Pak Moenir. Mas Herpandi berujar bahwa hadiah itu adalah bentuk ungkapan keikhlasan mahasiswa terhadap alumnus Universitas Diponegoro ini. Nilainya mungkin tak seberapa, tambahnya sebagai pembawa acara. Hadirin pun tak bisa menahan tawa. Selain kado itu, seorang mahasiswa juga menyerahkan program tahunan PPI USM, sebagai bentuk ikatan. Bagaimanapun, peran konsulat sangat besar dalam keberlangsungan kegiatan organisasi yang berdiri tahun 1993 tersebut.

Acara ini pun usai. Seluruh tamu diminta untuk makan malam. Tepatnya, sangat malam. Di meja, mereka memilih aneka lauk dan kuah. Agak aneh, saya pun menggrauk pelbagai lauk dan sayur. Padahal, satu sama lain tidak nyambung karena aneka ragam lauk menyatu. Sepatutnya, daging ini tak bisa digabungkan dengan kuah yang itu. Piring itu berubah menjadi onggokan. Sambil menikmati makam malam, kami pun bertukar cerita, dari isu politik hingga humor. Menurut Pak Moenir, para diplomat kita tidak lagi mematut diri dalam pelbagai function. Hal-hal substantif perlu diketengahkan agar pertemuan tak hanya mengurus asupan, dandanan dan hal-remeh yang lain. Sepanjang pengamatan saya, bapak dari empat orang anak itu telah membuktikan dalam berbagai kesempatan.

Tak perlu waktu lama, asupan itu habis. Selanjutnya, acara karaoke bersama. Lagu dan nyanyian berhamburan. Lagu Koes Lus Kapan-Kapan menjadi pamungkas. Sebelum pulang, kami bergambar bersama agar ingatan itu sempat tertera. Kata Pak Moenir, gambar itu akan muncul di facebook, dan saya pun menanti cemas. Ternyata, gambar itu benar-benar nangkring di status dan saya meletakkan pose bersama itu sebagai penanda bahwa betapapun kita mengusung perbedaan, akhirnya semua harus ikhlas hati untuk duduk dan berdiri bersama untuk mengekalkan ingatan.

Saturday, May 08, 2010

Hari Sabtu

Pengajian tadi pagi membahas fiqh terapan, yang disebut fiqh praktis oleh pembawa acara. Sang ustaz mengurai dasar-dasar fiqh yang terangkum dalam lima qawaid fiqhiyyah, yaitu al-umur bimaqasidiha, al-musyaqqah tajlibu al-taisir, al-adah al-muhakkamah, al-dararu yuzalu dan al-yaqinu la yuzalu bi al-syakk. Lalu, apa hubungannya dengan gambar di atas. Tidak ada. Catatan itu berkait dengan tema pengajian sebelumnya, tentang totalitas ibadah. Sementara, untuk kali ini, saya tidak membawa kamera, sehingga gambar yang sebelumnya diletakkan di atas. Sayangnya, di tengah pembahasan si kecil merengek, saya pun harus menggendong dan mengajaknya bermain di masjid.

Meskipun tak sepenuhnya mengikuti uraian ustaz Faizal, saya bisa membayangkan kandungan penjelasan karena asas-asas itu adalah pelajaran yang didapat di pondok pesantren Annuqayah dahulu kala. Meski sekarang, saya perlu memberikan kata-kata baru untuk istilah teknis yang diberikan oleh para ahli fiqh. Demikian pula, adalah perlu dibuat perbandingan agar komunikasi berjalan lebih mulus. Kaedah yang dimaksud mungkin bisa disejajarkan dengan axioma Immanuel Kant, filsuf Jerman. Namun, pensejajaran semacam ini riskan menimbulkan masalah karena sebagian mereka tak menyukai filsafat. Apa boleh buat.

Seperti biasa, selepas pengajian, kami pun beranjak ke warung pecel lele, Batu Uban. Selain makan siang, saya juga menyerap kabar dari si empunya. Pak Darmo seringkali bercerita tentang perkembangan politik mutakhir. Pemilik warung ini pun tahu bahwa SBY akan berkunjung ke Kuala Lumpur dalam waktu dekat. Aha, perjumpaan ini seperti buku dengan ruas. Katanya, kedua negara akan berbincang masalah tenaga kerja. Sebuah persoalan yang tak kunjung usai hingga kini. Di sana pula, kami pun berjumpa dengan Pak Zainal bersama karibnya. Hari Sabtu yang menyenangkan, tentu.

Thursday, May 06, 2010

Pasar Malam


Aneh, kami pergi ke pasar malam di waktu sore, ketika matahari di atas bukit itu masih menyembul. Kerinduan untuk merasakan sate di pasar dadakan Jalan Tun Sardon membuncah. Meski harus dibayar mahal, kami menunggu lama karena pelanggan bejibun. Sepuluh tusuk ayam dan daging mengobati rasa itu. Sebelumnya, kami berbelanja keperluan harian, seperti sayur dan lauk. Aha, penjualnya masih mengenali kami dan berujar, wow, anak sudah besar ye? Dulu datang ke sini, masih mengandung. Kami pun teruja. Saya sendiri berkata pada ibu Nabiyya, pengalaman itu menyenangkan karena hubungan kami bukan sekadar penjual dan pembeli, tetapi kemanusiaan.

Tak banyak berubah. Pasar malam itu masih seperti dulu. Kami membeli es kelapa di tempat dan penjual yang sama. Demikian penjual yang lain, buku dan majalah, buah-buahan, daging, dan aneka jualan yang lain. Mereka adalah pedagang sejati. Di tengah serbuan pasaraya, tentu mereka harus bersaing dengan kekuatan modal besar. Belum lagi, selisih harga yang kadang membuat orang lebih memilih pasaraya, ditambah lagi kenyamanan karena pembeli bisa sambil lalu melihat-lihat pelbagai jualan. Namun, benarkah lebih nyaman? Setiap orang tentu memiliki jawabannya.

Kenyamanan bukan sekadar tempat, tetapi suasana hati. Di sini, kita betul-betul diuji. Haruskah kita membiarkan pedagang kecil itu semakin merugi, sementara perusahaan-perusahaan multinasional, seperti Giant, Tesco, dan Carrefour menangguk keuntungan besar? Namun, apakah sesederhana ini? Tidak. Melihat masalah ini hitam putih hanya menyeret pada labirin. Tetapi, jika kita semua masih meluangkan waktu ke pasar rakyat, secara tidak langsung kita telah memelihara keseimbangan, agar modal itu tak hanya terserap pada kekuasaan yang buta.

Merawat Bumi dengan Hati

Jurnal Nasional, Kamis, 6 Mei 2010

Ahmad Sahidah

Fellow Peneliti Pascadoktoral pada Universiti Sains Malaysia


Bukan sesuatu yang aneh jika ribuan orang menyertai acara Fun Bike di pelbagai kesempatan. Kegiatan yang bermanfaat untuk mendorong orang mencintai bumi ini layak untuk dikembangkan. Tentu, ia tidak hanya tertumpu pada upacara yang dihadiri oleh pejabat publik, tetapi pada waktu yang sama masyarakat telah menunjukkan kesungguhannya untuk peduli terhadap isu lingkungan. Penyertaan khalayak pada kegiatan semacam ini paling tidak berhasil menggabungkan olahraga dan rekreasi yang sehat. Hal serupa sebenarnya telah banyak di lakukan, namun pembiasaan pemberitaan kegiatan tersebut akan membekas lebih dalam di benak masyarakat.


Namun, jauh dari sekadar seremonial belaka, semua pihak sejatinya menjadikan acara bersepeda sebagai alternatif dari moda transportasi yang tidak ramah lingkungan. Ditandai perubahan iklim yang tak menentu, setiap individu harus memikirkan nasib bumi yang semakin uzur. Harus diakui, penggunaan bahan bakar turut menyumbang pada pemanasan global. Untuk keluar dari kemelut ini, para pakar berusaha mencari sumber energi yang ramah lingkungan. Bahan bakar dari bahan tetumbuhan telah dirintis untuk menggerakkan mesin hibrid yang tak mengumbar karbon dioksida. Namun, kepedulian semacam ini tak dianut orang ramai jika sistem pendidikan tidak menempatkan isu ini sebagai subjek pelajaran khusus.


Apalagi, kesadaran lingkungan selama ini belum merembes pada kesadaran religius. Keduanya masih ditempatkan pada dua kutub yang berbeda. Yang pertama, berkait dengan hubungan manusia dengan alam, dan yang terakhir pertautan batin insan dengan Tuhan. Padahal, hubungan ketiganya mengandaikan piramida di mana Tuhan berada di posisi puncak. Sejatinya, relasi antara ketiga nama itu harus saling terkait. Sayangnya, kesalehan masih dikerangkeng dengan pengertian sempit, sesering individu mengunjungi rumah ibadah dan berteriak di jalan membela Tuhan.


Merujuk Tradisi


Sejatinya nilai-nilai agama mempunyai daya paksa yang kuat untuk menggerakkan seseorang melakukan sesuatu. Di dalam Islam, misalnya, betapa gemuruhnya shalat Jumat yang dihadiri ribuan umat. Mereka datang untuk menunaikan kewajiban. Tak hanya satu jam, bahkan lebih. Tak ayal, kesadaran religius identik dengan ibadah semacam ini. Lambat laun, agama hanya terbatas pada ruang sempit, masjid. Padahal waktu yang sama, ibadah mengandaikan pengertian yang lebih luas. Namun, tak banyak dakwah yang melihat betapa terjadinya krisis bumi yang diakibatkan kegagalan manusia berdamai dengan langit.


Padahal, tradisi Nabi berkait dengan lingkungan tidak kurang banyaknya. Bahkan dalam keadaan berperang, kombatan tidak boleh merusak lingkungan, bahkan rumah ibadah. Demikian pula, pentingnya menghidupkan tanah yang mati sebagai bagian dari praktik yang digalakkan dalam agama. dengan kata lain, contoh-contoh ini ingin mengajarkan manusia untuk tidak memperlakukan alam sekehendak hatinya. Atau dalam bahasa Mazhab Frankfurt, akal instrumental subjektif, yang lebih menggelorakan kepentingan pribadi, jangan dimenangkan atas akal objektif, yang lebih mementingkan kepentingan bersama.


Apalagi, kedudukan bumi ini menempati ayat lain selain al-Qur'an. Bumi adalah kitab suci lain yang perlu di baca dan dipahami. Jika kaum Muslim begitu tinggi penghargaannya pada al-Qur'an, mengapa pada waktu yang sama ia mengabaikan ayat-ayat Alam? Tidakkah kegagalan ini telah menyebabkan bumi diperlakukan semena-mena? Lalu, mengapa protes tak dilayangkan jika ayat Tuhan yang satu ini dirusak oleh penghuninya? Seyyed Hossen Nasr dalam An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines (1968) mengutip seorang tokoh sufi ‘Azīz al-Nasafī, dalam Kashf al-Haqāiq, yang membandingkan Alam dengan al-Qur'an di mana masing-masing genus di dalam Alam sejalan dengan surah al-Qur'an, masing-masing spesies adalah sebuah ayat dan masing-masing hal khusus adalah sebuah huruf. Lalu, masihkan kita menyangkal kedudukan bumi yang suci?


Penanaman Nilai


Kata Bildung, dalam bahasa Jerman, mengandaikan pendidikan, namun tidak sama dengan education. Ia juga meliputi sebuah proses pembentukan spiritual dan merujuk pada pembentukan batin yang bisa dicapai ketika perkembangan kecerdasan anak didik berkait dengan hal ihwal spiritual yang ada di dalam masyarakatnya. Nah, spritualitas yang didengungkan di sekolah sepatutnya mengandaikan hubungan manusia dengan alam. Apatah lagi, hukum fiqh yang meskipun acapkali dilihat berseberangan dengan mistisisme dibuat atas pertimbangan keselamatan dan kesejahteraan manusia, yang di dalamnya bumi dengan sendirinya harus dilestarikan.


Saya merasa miris bersirobok dengan tindak tanduk remaja yang abai. Di depan sebuah sekolah menengah di Jakarta, saya terpegun karena betapa mudahnya seorang siswa membuang bungkus makanan di jalan, tak jauh dari sekolahnya. Hanya berjarak beberapa meter dari tempat dia meraup pengetahuan dan kearifan. Jika prilaku keseharian tak mencerminkan nilai-nilai pembelajaran, bukan ini tantangan terbesar bagi segenap pihak untuk memeriksa kembali pengetahuan yang diasupkan pada peserta didik?


Sekolah seharusnya menjadi ruang untuk menanamkan nilai-nilai sejagad berkait dengan hubungan antara manusia dan alam, bukan hanya dengan Tuhan. Bagaimanapun, kepentingan merawat bumi adalah mendesak dan idealnya ditanggung semua kelompok. Sebenarnya, sebagian lembaga pendidikan telah berupaya untuk melakukan hal semacam ini, seperti pengelolaan sampah produktif oleh siswa-siswi Madrasalah Aliyah 3 Annuqayah, namun kebanyakan sekolah lebih heboh dengan hiruk pikuk ujian nasional, seakan-akan hidup matinya negeri ini hanya bisa diselamatkan dengan angka lulus di rapor.


Bahkan, beberapa pesantren telah memberikan teladan bagaimana manusia seharusnya memperlakukan bumi tempat mereka hidup. K H Tsabit Khazin, dari Pesantren Annuqayah Sumenep, diganjar Kalpataru dari Presiden tahun 1981 karena keberhasilannya dalam menggalakkan penanaman pohon. Sebelumnya, banyak orang dan lembaga yang juga telah mendapatkan penghargaan serupa. Sebuah peristiwa yang sepatutnya menempati berita halaman utama di media. Namun, banyak orang yang menganggap prestasi itu masih tetap dianggap ranah sekuler, yang tak bernilai ibadah. Oleh karena itu, pengarustamaan kesadaran lingkungan sebagai kesadaran religius sekaligus menjadi tugas setiap orang, terutama mereka yang mendaku pengawal keagamaan. Apalagi, agama itu mengurus hati. Jika ‘segumpal daging' ini terpatri sebuah keyakinan, maka selangkah lagi berbuah tindakan