Tuesday, February 15, 2011

Merayakan Maulid di Teluk Kumbar

Halte bus tepat berada di depan gedung kampus Eureka. Oleh-oleh dari acara maulid Nabi. Rumah tempat kami memuji Nabi.

Friday, February 11, 2011

Merenung

Di pagi hari, Anda berada di mana? Kita pun bisa memilih di mana saja agar nyaman itu terasa. Jika Anda kebetulan berada di kampus dalam Taman, mungkin Anda bisa merasakan hujan, meski terik, karena atap kantin Anjung Semarak ini senantiasa memercirkan gemericik air. Akal budi kita telah berhasil menciptakan suasana agar kehendak kita akan kesejahteraan bisa diraih bukan dalam angan-angan.

Thursday, February 10, 2011

Ada Apa dengan Ada?

Kenyataan hidup itu kadang bukan pilihan kita. Namun, kita mempunyai kuasa untuk memberikan makna agar ia bisa dicerna. Jika Anda ingin melihat si kecil dikenal, Anda bisa menjadikan media internet untuk meletakkan peristiwa dalam kehendak kita. Namun, apakah populeritas itu adalah keinginan yang harus dipenuhi? Untuk apa kita nongol di majalah dan agar orang ramai tahu bahwa kita ada?

Ada itu hadir dalam banyak hal, memang. Kita ada karena berpikir, berbelanja dan memamerkan diri di cafe, mall, dan panggung. Ada itu kadang tidak ada. Coba lihat, tidak jarang kita melihat orang yang merenung di pinggir jalan, di tengah keramaian? Bagaimana kita mengatakan bahwa ia ada, sementara jiwanya entah ada di mana?

Mengada itu memang rumit, tetapi ia mudah diraih jika kita mau menyatukan jiwa dan raga kita selaras. Keadaan ini bisa diraih jika tubuh kita sehat dan akal kita kuat. Keduanya harus berjalin kelindan, jika tidak, boleh jadi pikiran kita seluas samudera, namun jika minda itu disangga oleh tubuh renta, alahai, alamat kita telah menunda kematian yang sesunguhnya.

Tuesday, February 08, 2011

Nomor 16

Kami mengajak si kecil ke lapangan kampus. Mungkin, ia tak bisa memahami sepenuhnya mengapa 22 orang saling memperebutkan bola, lalu mengopernya lagi. Kami hanya ingin ia merasakan ruang lapang, hijau rerumputan dan semangat kesukanan. Di lapangan inilah, saya pernah mengocek bola, menonton pertandingan persahabatan dan mereguk udara lebih banyak karena langit menggantung dan menghembuskan napas.

Nomor 16 di kaos itu adalah tanggal lahir si kecil. Sebenarnya, saya juga memesan kaos dengan namanya dan bernomor 1, tetapi ukurannya cocok untuk sang ibu. Kaos dan nomor adalah penanda tentang kehendak kebersamaan dan pembedaan sekaligus. Meskipun kami berkaos merah yang sama, namun nomor yang ditempelkan dibedakan agar mudah untuk mengenal si pemakai. Hidup juga begitu, kita hakikatnya bersama-sama mewujudkan mimpi, namun perannya tak sama.

Malah, sebagaimana pertandingan persahabatan di atas, pekerja bersama mahasiswa Indonesia dan staf Universitas Sains Malaysia mungkin setengah mati untuk mengalahkan satu sama lain, namun dalam kehidupan nyata, musuh abadi itu bersemayam di dada kita. Wasitnya yang memimpin pertandingan adalah staf kampus, yang kami saling mengenal secara rupa sebab seringkali terserempak di stadion ketika kami sama-sama berlari di trek.

Reformasi Gagal?

Apakah cita-cita reformasi 98 itu gagal? Jawabannya bisa berhamburan pelbagai rupa. Sayang, kedewasaan kita tak kunjung datang. Banyak orang menggunakan kekerasan hanya untuk mengatakan sesuatu yang bisa disampaikan dengan santun. Prilaku serampangan telah menjadi cara untuk meyakinkan liyan.

Ini hanya sekelumit. Jauh di segenap penjuru, kekerasan telah muncul dalam banyak wajah, baik fisik maupun simbolik. Aturan mati. Pemimpin tak punya hati. Khalayak suka mendengki. Adakah kita akan kembali lagi ke zaman ketika orang nomor satu di negeri ini bertangan besi menyumpal mulut kita? Ini jelas bukan pilihan yang baik.

Sekarang, kita harus memeriksa kembali kebebasan, buah aksi mahasiswa dan rakyat menumbangkan tirani. Tapi, pada waktu yang sama, tanggung jawab harus juga ditimbangkan, agar kita tak terpuruk, tunduk pada hukum rimba.

(Sumber gambar: Kompas, 6 Februari 2011)

Berkaca dari Tulisan



Tulisan di samping ini adalah sekelumit penghargaan terhadap sastrawati Malaysia, Fatimah Busu. Ia adalah penulis yang meyakini bahwa sastra itu merupakan alat yang paling mungkin untuk menanamkan nilai-nilai. Keyakinan beliau membuncah dalam melawan apa yang dianggapnya tak adil dalam banyak hal dan kemudian menerakannya dalam novel dan cerita pendek.

Ia tak perlu mengikuti riuh-rendah kemasyhuran sastra wangi dan populer. Baginya, sastra adalah wujud dari kehendak yang paling murni, yang tak bisa diturunkan menjadi kata-kata yang tak dipikirkan, dirasakan dan direnungkan. Di luar kegiatan sastranya, saya melihat keteguhan untuk senantiasa menekuri hidup secara sederhana, dengan tidak memegang telepon genggam dan tidak memiliki alamat surat elektronik (email). Ia hanya bisa dihubungi melalui talian telepon.

Keberhasilan beliau mengambil semangat Nyanyian Angsa dari sajak Rendra sempat menimbulkan pertikaian. Ia pun membelanya dengan menulis satu buku khusus, Nyanyi Sunyi dan Sarjana Nasi Dingin.

Sunday, February 06, 2011

Obrolan di Siang Hari


Siang yang terik membuat warga kampus mencari tempat berteduh. Tentu banyak kantin untuk mengelak panas, tapi saya memilih Anjung Semarak. Coba lihat atap yang terbuat dari kaca itu! Ada air mengalir tak henti-hati. Sementara, di ujung sana Taman Buku terbuka bagi siapa saja untuk menekuri dunia pengetahuan.

Pertemuan dengan teman baik, Sri Murniati, asal Jakarta, Al-Mustaqeem al Radhi asal Kuala Lumpur dan Yatno Ladiqi asal Surabaya menyempurnakan rasa teduh itu. Secara kebetulan, Mas Ray, asal Medan turut bergabung memeriahkan suasana menjelang sore itu. Obrolan pun memecah kebekuan, seraya mencomot banyak isu dan tema. Setiap orang mencetuskan gagasan, yang lain pun menanggapi. Perbincangan itu membuat saya belajar mendengar (listening), yang kata Willard Spiegelman dalam Seven Pleasures: Essays on Ordinary Happiness mendengarkan itu mendatangkan kebahagiaan.

Minuman itu mengandung es, sementara bolpoin adalah hadiah dari penginapan dan buku itu merupakan pemberiaan dua kawan baik, sebagaimana tertulis di pojok kiri bawah. Tak hanya buku itu, Mustaqeem juga memberi buku berjudul Liberalisme: Esei-Esei Terpilih F.A. Hayek. Tapi, apakah percakapan akan juga menyodorkan hal-hal berat sebagaimana dibuku? Mungkin, tapi bahasanya mungkin lebih cair. Saya rasa mengerutkan dahi di siang hari hanya akan menambah muka kita kusut. Lelucon dan humor pun bermunculan.

Siapa pun yang datang ke kantin itu akan merasakan suasana nyaman. Di sana, kita bisa berlama-lama karena tidak hanya menyemai pertemanan, tetapi juga menikmati suasana kampus yang riang. Pengunjung berdatangan dan tak satu pun di antara mereka menunjukkan wajah kusut dan muram . Satu hal lagi, harga minuman tak mahal, meskipun pelayanan sangat memuaskan. Dalam seminggu itu, saya sudah dua kali mereguk udara di kantin itu. Kerinduan pun muncul lagi. Mungkinkah ini lahir karena saya akan pulang? Ah, hidup itu memang selalu begitu, kita merasa kehilangan setelah kita hendak meninggalkan.


Wednesday, February 02, 2011

Tukang Sayur

Tukang sayur itu menggunakan lori (truck) untuk menjual dagangannya. Ia hadir setiap hari pada jam 10-11. Sebelum mendatangi flat kami, penjual itu naik ke atas, blok flat sebelah. Lalu, beberapa menit kemudian, ia pun menghampiri blok 330 seraya mengitari flat dan membunyikan klakson. Saya sering membeli tempe dan daun bawang. Sekali-kali ayam dan bawang putih. Tak banyak yang saya beli, termasuk pembeli lain. Mungkin, mereka akan berbelanja banyak di pasaraya, yang tak jauh dari rumah kami. Benarkah harga keperluan sehari-hari di lori itu lebih mahal dibandingkan dengan penjual sayur keliling? Ya, tapi selisihnya tak banyak.

Mengapa mereka tak mau membeli banyak barang dagangan mereka? Mungkin saya perlu menanyakan hal ini pada ibu-ibu yang sering mendapatkan sayur-mayur dari lori itu. Menurut saya, harga tempe sebesar RM1 sama dengan Pasar Malam Tun Sardon. Sayangnya, barang ini tak ditemukan di TESCO. Bisa jadi, pembeli tak mendapatkan poin dari nilai pembelian sehingga mereka tak perlu mengeluar uang banyak untuk mendapatkan barang. Atau, ibu-ibu tak nyaman memilih barang hanya dalam hitungan menit, berbeda dengan di pasaraya, mereka bisa bebas memilih dan menelisi kualitas barang.

Tin-tin-tin, bunyi klakson itu adalah sebagian bunyi yang akrab di telinga kami. Penjual itu bertaruh dengan pemodal besar. Mungkin kelebihan, para pembeli bisa bersua dengan pemilik, berbeda ketika mereka mendapatkan barang di pasaraya TESCO, yang pemiliknya orang Yahudi itu. Masalahnya, apakah semudah ini kita menerakan hal ihwal kepemilikan sebuah perusahaan, sementara batas-batas itu mencari karena saham dan pekerja mengandaikan keanekaragaman. Sebagaimana tukang sayur itu, hubungan niaga apa pun netral.