Friday, April 28, 2006

Amy Grant: Baby Baby

Hampir lagu lama yang pernah saya nikmati akan muncul lagi dan ini yang membuat saya teringat akan masa lalu, sebuah tempat dan waktu yang tak terbaca, tapi menari-nari di benak. Seperti lagu ini, Baby Baby oleh Amy Grant yang saya ambil dari http://www.lyricsfreak.com/a/amy-grant/7643.html

This song is dedicated to millie, whose six-week-old face was my inspiration

Baby, baby

I’m taken with the notion To love you with the sweetest of devotion. Baby, baby My tender love will flow fromThe bluest sky to the deepest ocean. Stop for a minute Baby, I’m so glad you’re mine, yeah You’re mine.Baby, babyThe stars are shining for you And just like me I’m sure that they adore you. Baby, baby Go walking through the forest The birds above a’ singing you a chorus. Stop for a minuteBaby, they’re so glad you’re mine, oh yeahAnd ever since the day you put my heart in motionBaby I realize that there’s just no getting over you. Baby, baby In any kind of weatherI’m here for you always and forever. Baby, baby No muscle man could severMy love for you is true and it will neverStop for a minuteBaby, I’m so glad you’re mineAnd ever since the day you put my heart in motion Baby I realize that there’s just no getting over you. And ever since the day you put my heart in motionBaby I realize that there’s just no getting over you.Over you. Baby, babyAlways and foreverBaby I’m so glad thatHere for you babySo glad you’re mine Baby I’m so glad thatWhen I think about you it makes me smile Baby, baby be mine Baby I’m so glad thatDon’t stop giving love Don’t stop, no Baby I’m so glad that you’re mine Baby I’m so glad Baby I’m so glad that When I think about you it makes me smile.

Beat musiknya rancak dan riang, mungkin ini yang membuat saya juga betah mendengarkan. Semoga selalu seperti ini!

Thursday, April 27, 2006

Peristiwa Kemarin hingga Pagi

Sore kemarin, saya melakukan rutinitas jogging bersama karib Fauzi. Di lintasan stadion, saya merasa menemukan tempat yang benar untuk berlari, ditambah dengan banyak orang yang melakukan beragam olahraga, tenis, lari, dan bola melipatgandakan gairah untuk berada di lapangan. Tubuh terasa ringan karena keringat keluar dan dada menghirup banyak oksigen di tempat terbuka.

Dalam beberapa hari terakhir, saya menikmati sore dengan makan buah dan minum es cendol di kantin lantai bawah. Dengan cerpen atau novel, saya meneguk air dingin dan buah yang mendatangkan keenakan lain. Tidak lama, saya pun bergegas ke kamar untuk mandi dan shalat maghrib.

Malam itu, ada dua hal yang jarang saya lakukan, menonton filem The Sentinel (Michael Douglas, Eva Longoria, Kim Basinger dan lain-lain) serta membeli buku bertajuk A Brief History of Globalization oleh alex Mac Gillivray. Bersama Pak Heddy, Dian dan Dony saya melihat film drama yang cukup menghibur. Cerita dibingkai oleh kepiawaan pemegang kamera untuk menghadirkan ketegangan. Dialognya biasa, tapi pesan yang ingin disampaikan bisa terbaca jelas. Sebagai ketua pengawal Ibu Negara, Pete Garrison (Michael Douglas) terjebak pada sebuah upaya untuk merontokkan pengamanan pejabat tertinggi di Amerika. Di sinilah, alur bermula untuk mengungkap teka-teki gambar mesra antara pengawal dan yang dikawal.

Dengan rasa puas, saya pulang melewati jalan pinggir laut dan di kamar saya masih menyempatkan untuk menengok kembali buku yang baru dibeli. Ia sangat informatif. Buku ini dimulai dari sebuah kutipan Fran├žois-Maire Arouet the Multitude of books is making us ignorant. Sebuah awal yang provokatif untuk memulai diskursus tentang globalisasi. Benarkah dengan banyaknya buku yang membahas satu persoalan justeru mempurukkan kita pada ketidaktahuan? Ini karena Alex MacGillivray mengumpulkan data yang mencengangkan bahwa ada 3.300 buku dalam bahasa Inggeris yang menguak tema globalisasi. Tidak itu saja, keberpihakan yang terbelah dalam menyikapi arus globalisasi pada pro dan kontra. Sebuah respons yang alamiah terhadap satu isu.

Dari pelbagai tanggapan ini, penulis membagi empat genre, pertama buku akademik oleh para sosiolog dan ilmuwan politik. Biasanya mereka mendaku bahwa fenomena ini adalah tidak baru, agak menarik dan sangat kompleks.

Keinginan untuk tidur pada jam dua pagi terganggu karena udah janji dengan karib untuk nonton bola liga Champions antara Barcelona dan A C Milan. Sayang, Ronaldinho tidak mengemas angka hingga tidur pagi itu tidak seberapa nikmat. Lho, apa hubungannya?

Hari itu memang jam waktu tidak seperti biasanya.

Wednesday, April 26, 2006

Spending my Time

Spending My Time
What's the time?
Seems its already morning
I see the sky, its so beautiful and blue
The TV's on
But the only thing showing is a picture of you
Oh, I get up and make myself some coffee
I try to read a bit but the story's too thin
Then I thank the Lord above
That you're not there to see me In this shape I'm in
Spending my time
Watching the days go by
Feeling so small
I stare at the wall
Hoping that you
think of me too
I'm spending my time
I try to call
but I don't know what to tell you
I leave a kiss on your answering machine
Oh, help me please
Is there someone who can make me Wake up from this dream?
Spending my time
Watching the days go by
Feeling so small
I stare at the wall
Hoping that you are missing me too
I'm spending my time
Watching the sun go down
I fall asleep to the sound Of "tears of a clown"
A prayer gone blind
I'm spending my time
My friends keep telling me:
Hey, life will go on
Time will make sure will get over you
This silly game of love you play
you win only to lose
Spending my time
Watching the days go by
Feeling so small I stare at the wall
Hoping that you are missing me too
I'm spending my time
Watching the sun go down
I fall asleep to the sound Of "tears of a clown"
A prayer gone blind
sumber: [ www.azlyrics.com ]

Lagu ini terdengar dari radio 80's dan 90's lewat internet. Benar-benar menyenangkan karena mengingkatkan masa di pondok pesantren. Masa itu, saya masih sedikit mendengarkan lagu Barat karena keterbatasan. Justeru karena ia hadir dalam keterbatasannya dan membuatku betul-betul menikmati setiap napasnya.

Lalu, bagaimana saya menghabiskan waktu?

Membaca Liyan

Membaca Pohon-Pohon Budianta yang ditulis Eda Budianta mengajak ke dunia yang terbuka dan banyak pilihan. Dia telah menceritakan banyak hal tentang dunianya. Hampir-hampir buku ini menjelajah ke belahan penjuru. Dimulai dari masa kecil bersama keluarga, masa dewasanya menyiratkan beragam warna, baik tempat dan pemikiran.

Siapapun yang membaca akan tergagap karena ia menyediakan menu yang begitu banyak, dari pekerja sosial, penyair, motivator, pegiat organisasi dan suami yang baik (?). Optimisme dan keluasaan pertemanannya memungkinkan dirinya untuk menerima banyak hal.

Lalu, bagaimana dengan saya? Tunggu, saya masih mengumpulkan cerita!

Tuesday, April 25, 2006

The dream comes true


"Dreams that do come true can be as unsettling as those that don't."
Brett Butler

Saya masih ingat kata Sigmund Freud dalam The Interpretation of dream bahwa mimpi itu boleh jadi adalah harapan dan keinginan kita dalam dunia sadar. Lalu, jika mimpi menjadi kenyataan, maka tak lebih ia adalah pemenuhan dari keinginan kita. Tidak ada yang aneh bukan? Tidak perlu kemudian kita mentahbiskan diri sebagai orang yang akan menerima wangsit untuk mengetahui lebih tentang dunia.

Seperti pagi ini, saya telah mengalami mimpi yang kemudian setelah bangun menjadi kenyataan. Kadang, saya merujuk pada Freud untuk memahami peristiwa ini. Meskipun, saya masih menyisakan tanya apakah ini akan makin menyeret saya untuk lebih jauh mengerti fenomena ini? Sebab, dulu waktu saya belajar di pesantren, seorang guru mengungkap cerita dari Amerika tentang orang yang bermimpi pesawat yang akan dinaiki meledak. Lalu, mimpi ini benar-benar menjadi kenyataan dan untungnya ia membatalkan penerbangannya karena alasan lain. Miris, bukan? Untung mimpi saya dan kenyataan itu tidak berkaitan dengan hal-hal yang menyeramkan, bahkan melegakan.

Karl Justav Jung, seorang ahli psikoanalisis, menyatakan bahwa mimpi itu terdiri beberapa bagian atau fase seperti layaknya sebuah drama. Fase pertama adalah eksposisi, representasi situasi awal – yang menunjukkan konflik sentral di dalam mimpi. Fase kedua adalah plot dan mengandung sesuatu yang baru (perubahan penting) yang mengantarkan mimpi pada pase ketiga : puncak. Di dalam fase ini sesuatu yang paling kritik terjadi, yang membawa mimpi pada sebuah penyingkapan: fase keempat yaitu kesudahan atau akhir dari alur mimpi (denouement).

Friday, April 21, 2006

Potong Rambut

Saya merasa tidak ngeh jika rambut ini tidak kelihatan rapi. Mungkin, perasaan tidak terurus menyebabkan diri tidak percaya diri. Sebuah kebetulan menghindari JPJ saya mengambil jalan ke kampus lebih panjang dan mampir ke kedai potong rambut India. Ketiga pegawainya terpatah-patah bicara melayu. Tapi, komunikasi tidak macet karena dengan bahasa isyarat semua berjalan lancar.

Sepetinya kepala ini bertambah ringan dan dengan pijatan singkat tubuh dialiri energi. Mungkin, ini peristiwa biasa tapi melaluinya tetap sebuah kesenangan.

Thursday, April 20, 2006

Seminar Proposal

Hari ini saya mengikuti seminar proposal teman saya, Muhammad Nasir mengenai pembacaan terhadap Novel Jean Sasson dan Carmen Bin Laden yang bercerita tentang kehiduapn perempuan di kalangan keluarga bangsawan di Arab Saudi. Kehadiran ini menjadi penting karena akhir-akhir ini saya getol membaca novel, cerpen bahkan puisi, meskipun yang terakhir tidak begitu kuat.

Prof Muhammad Salleh dan Profesor Salleh Jaafar telah membantu membuat lebih terang persoalan yang diusung proposal tersebut karena keluasan perspektif yang digunakan, yaitu feminisme, pascakolonial dan Islam. Prof Muhammad, sastrawan negara Malaysia, ini menimpali bahwa perlu ada sebuah teori yang jelas, bernas yang memungkinkan bisa diaplikasikan dalam menelaah karya dua pengarang di atas. Tak perlu terlalu banyak sehingga mengaburkan pemahaman. Sedangkan Prof Jaafar melihat bahwa paskakolonial itu berkaitan dengan puasat (centre) dan pinggiran (pheripery), di mana keduanya tidak berdiri secara diametral, tapi saling mengukuhkan, sebab paskakolonial perlu dibedakan dengan antikolonial.

Saya rasa pembentangan proposal hari ini mendorong saya untuk menilai kembali kerja disertasi saya dan sekaligus mengkayakan pandangan tentang mengkaji sebuah karya sastra sebagai bagian dari cara menyampaikan kenyataan di atas kertas.

Wednesday, April 19, 2006

Semalam Hujan

Di ketinggian, saya melihat butiran hujan nampak jelas di sekitar sinar lampu jalan. Tidak besar, memang. Tapi, itu cukup menenami berada di kasur menikmati Jentera Lepas Ashadi Siregar. Rasa malas sempat hinggap, namun tak mampu mengalahkan kaki untuk menikmati aliran air di selokan jalan menuju tempat makan.

Hidup seperti turut mengiringi gemericik air yang turun cepat di selokan. Tempat kami yang miring membuat selokan itu membantu untuk mengalirkan air ke bawah. Langkah kaki beradu dengan deru air. Payung menghalangi air menimpa tubuh, seakan saya telah menepis basah yang membuat badan tak nyaman.

Ya, saya mengalami dunia lain dalam perjalanan dengan hujan yang tak deras. Orang lain mungkin malas dan lebih suka mendekam di kamarnya.

Tuesday, April 18, 2006

Tiga Dimensi Hermeneutik

Hakikat penafsiran adalah menafsirkan dari sebuah sistem-tanda (pendeknya, teks) sesuatu melebihi kehadiran fisiknya. Hakikat sebuah teks adalah apapun yang kita tafsir artinya. Hirsch menyadari bahwa teori seharusnya mencoba untuk memberikan kriteria normatif untuk membedakan yang baik dari yang buruk, konstruksi yang sahih terhadap sebuah teks dari yang tidak, tetapi teori semata-mata tidak bisa merubah hakikat penafsiran. Malahan, kita perlu sebuah norma secara tepat karena hakikat sebuah teks tidak mempunyai makna yang dikehendaki oleh seorang penafsir muncul. Kita, bukan teks kita, adalah pembuat makna yang kita pahami, sebuah teks hanya hanya sebuah alasan bagi sebuah makna, di dalam dirinya sebuah bentuk ambigu tidak bisa kosong dari kesadaran di mana makna itu bertempat (75).

Monday, April 17, 2006

Meraup dunia kata

Hari ini saya mengembalikan beberapa buku fiksi, di antaranya Dunia Gerilya Pram, Priyayi Kayam, Hari yang Menyenangkan Titi Bisono PI. Seperti biasa, saya menengok buku baru di lantai pertama, tapi sayang belum ada keluaran 2006. Secara acak, saya kembali meminjam beberapa buku fiksi, di antara Kritikus Adinan Budi Darma, Hadiah dari Rantau Ismet Fanani, Jentera Lepas Ashadi Siregar dan kumpulan puisi berjudul Monolog dalam Renungan Rusli Marzuki Saria.

Kebetulan di bab tujuh buku Juhl bertajuk Life, Literature, and the Implied Author Can (Fictional) Literary Works Make Truth-Claims? penulis menegaskan bahwa banyak karya literer umum mengatakan, menegaskan atau menyampaikan proposisi tertentu: bahwa manusia adalah korban tak berdaya dari kekuatan alam dan sosial, misalnya bahwa dia bahkan bisa mencapai otonomi terbatas hanya dengan memusnahkan dirinya dan seterusnya.

Dalam dunia fiksi, salah satu teori menyatakan bahwa adalah perlu memisahkan kehidupan aktual historis dari pengarang dengan karyanya. Akibatnya, fiksi dalam cara khusus terpisah dengan realitas. Mengutip Northrop Frye, Tidak ada garis penghubung yang jelas antara sastra dan kehidupan. Pembedaan antara sejarah pengarang dan persona puitiknya atau antara kehidupan seseorang dan topeng estetiknya menjadi sesuatu dogma dari kritisisme literer.

Hanya sampai di sini, saya tidak melanjutkan lagi membaca tuntas. Tiba-tiba saya mengingat kembali apa yang telah saya lakukan dalam pembacaan fiksi. Memang, di sampul belakang terdapat biodata penulis, tapi tidak lengkap hanya sekilas. Keinginan untuk menguak isi telah mendorong untuk mengejanya hingga selesai. Kadang di akhir saya hanya bergumam puas karena perasaan saya legadan jika membaca Kayam, saya selalu terbawa komenter mantan Dosen saya Pak Heddy Shri Ahimsa bahwa beliau adalah penulis yang selalu berdiri di titik luminal, luminous yang menengahi kenyataan dan dunia ideal. Meskipun samar, saya mencoba untuk menempatkan cerita Priyayi pada teori ini saya masih gagap sebab seluruh rangkaian cerita itu masih belum masuk alur.

Biarlah, saya akan coba melewati gegap-gempita teori pembacaan, malahan ingin segera membaca dan membaca lagi agar buku fiksi itu bisa bercerita banyak tentang struktur pengalaman dan kaitannya dengan kehidupan saya sendiri. Semoga!

Sunday, April 16, 2006

Tentang Jepang

Karena saya menulis pemikiran Toshihiko Izutsu, sarjana Islam dari Jepang, hal-ihwal tentang Jepang (Jepun dalam bahasa Indonesia lama) benar-benar menarik perhatian saya. Paling tidak, novel Jepun Dunianya Hiroko oleh N. H. Dini dan Kembang Jepun oleh Remy Silado telah mengajak saya untuk membaca dunia 'negeri Matahari' ini.

Novel pertama adalah pengalaman nyata sang penulis ketika mengikuti suaminya sebagai konsul Perancis di Jepang. Meskipun bercerita tentang keadaan dirinya, tapi Ibu ini menyisipkan cerita tentang keadaan sekelilingnya. Pembantunya yang berasal dari Jepang sendiri menunjukkan bahwa pada masa itu Jepang masih belum menjadi Negara Maju. Sedangkan Remy Silado menulis pergolakan zaman pra dan sesudah kemerdekaan dalam konteks percintaan antara dua manusia yang mencari identitas yang belum 'jadi'. Haru-biru.

Sepertinya, saya ingin berburu lagi dunia Saudara Tua kita ini?

Friday, April 14, 2006

Tradisi Pembacaan

Setiap malam jumat, saya menyempatkan hadir di masjid kampus untuk membaca surat Yasin bersama. Dipimpin seorang iman, tradisi ini menghadirkan koor melantukan ayat suci, yang sebelumnya didahului dengan memohon ampunan (istighfar), surat alfatihah, shalawat pada nabi dan ditutup dengan doa.

Di luar acara ritual ini, beberapa jemaah meletakkan botol air di depan sang Imam dengan harap mendapat berkah. Teman saya, Rosdan malam itu juga sengaja membuka tutup botol seperti yang lain untuk memudahkan aliran keajaiban masuk ke dalamnya. Saya berkata, "Entar, saya juga mau minum airnya ya?"

Meskipun agar terkantuk-kantuk karena seharian saya berkutat di depan komputer, namun saya tetap mengikuti sampai akhir. Biasanya, saya merasa telah menempuh perjalanan rohani yang masih tersisa karena 'cahaya' belum nampak. Lalu, dengan nada menghibur, biarlah proses ini dijalani hingga akhirnya sampai di puncak pengalaman spiritual.

Ada beberapa menit untuk jeda sebelum dilanjutkan shalat Isya', Pak Mustar, Rosdan dan saya menghabiskan waktu bercakap-cakap di beranda Masjid tentang apa saja. Kebersamaan inilah yang makin menipiskan jarak, tapi belum juga memasuki 'batin' mereka. Tentu saja, karena saya bergelut dengan ranah batin sendiri yang masih mencari tempat nyaman untuk bersemayam.

Wednesday, April 12, 2006

Hari yang Menyenangkan

Hari ini begitu menyenangkan. Ini karena saya mendapatkan dua bahan yang sangat penting untuk penulisan bab 2 Metodologi. Keduanya adalah The Aims of Interpretation oleh E. D. Hirsch, Jr dan Interpretation: An Essay in the Philosophy of Literary Criticism oleh P. D. Juhl. Ketika mata ini melihat buku ini, secara spontan saya ingin melonjak girang, tapi tertahan karena berada di perpustakaan.

Dari Hirsch, saya ingin mendalami pembedaan hermeneutik antara makna dan signifikansi. Makna dan hubungannya dengan penafsiran yang valid merupakan subjek sentral dari karya sebelumnya (Validity in Interpretation), sedangkan yang terakhir adalah sentral di dalam buku The Aims of Interpretation. Dua hal ini sangat penting di dalam pemahaman karya literer.
Makna (meaning) merujuk pada seluruh makna verbal dari teks, dan signifikansi (significance) berkaitan dengan sebuah konteks yang lebih luas, yaitu, pemikiran lain, era lain, pokok persoalan yang lebih luas, sebuah sistem nilai yang asing, dan sebagainya. Dengan kata lain, signifikansi adalah makna tekstual berhubungan dengan beberapa konteks, bahkan konteks apa pun melampuai dirinya (hlm. 2-3).

Hirsch berkeyakinan bahwa hal ini perlu jelas agar kita bisa memperoleh kepastian dan kestabilan makna dan oleh karena itu kemungkinan pengetahuan hermeneutik. Pembedaan ini jauh dari dangkal, malahan bersifat alamiah dan universal di dalam pengalaman kita. Pada kenyataannya, jika kita tidak bisa membedakan sebuah kandungan kesadaran dari konteksnya, kita sama sekali tidak bisa mengetahui objekapa pun di dunia ini. Konteks di mana sesuatu dikenal selalu merupakan sebuah konteks yang berbeda di dalam sebuah kesempatan yang berbeda. Tanpa mengaktualisasikan pembedaan ini, kita tidak bisa mengakui hari ini pengalaman kita yang kemarin: tempat tinta ini, isi gramopon itu, untuk pengakuan semacam ini mengandung untuk memisahkan sebuah kandungan dari konteks yang merubahnya

Lalu, dari Juhl, saya mencoba untuk membuat senarai pelbagai teori tentang penafsiran yang boleh dibagi ke dalam 7 kelompok (hlm. 6-8), yaitu (1) seseorang mengungkapkan bahwa apa yang dimaksudkan oleh sebuah karya literer tergantung pada tujuan pembaca. (2) Sama dengan yang diatas, pernyataan interpretif pada hakikatnya bersifat normatif, artinya bisa dibenarkan sesuai dengan standar khusus atau standar penafsiran. (3) sebuah varian teori merumuskan makna dari sebuah karya sebagai "sekelompok pengalaman yang sama. (4) Paling tidak ada tiga kriteria yang berbeda yang secara bersama-sama menentukan apa yang dimaksudkan oleh sebuah karya literer. Pertama, adalah korespondensi, mensyaratkan bahwa sebuah penafsiran didasarkan pada pengetahuan historis yang berkaitan "pokok-persoalan" di dalam sebuah karya khusus. (5) Berdasarkan pada sebuah teori fenomenologis yang menonjol tentang penafsiran, makna sebuah karya ditentukan sebagian oleh "situasi historis" dari pengkritik. Proses pemahaman sebuah teks melibatkan sebuah "penggabungan horizon" (Horizonverschmelszung) dari pengkritik dan teks. Teori ini didasarkan pada apa yang disebut dengan lingkaran hermeneutik, tesis bahwa pemahaman terhadap keseluruhan (teks) tergantugn pada pemahaman pada bagian-bagiannya dan sebaliknya.(6) Barangkali pandangan yang dipegang secara luas adalah makna sebuah karya tergantung pada (i) aturan-aturan (atau konvensi publik) bahasa di mana teks ditulis (ii) koherensi dan kompleksitas dari sebuah karya literer di dalam penafsiran tertentu. (7) akhirnya, makna sebuah karya ditentukan oleh maksud pengarang.

Tinggal selangkah lagi, saya akan menyelesaikan bab ke dua.

Tuesday, April 11, 2006

Rindu Rumah

Meskipun negeri Jiran ini tak begitu jauh dari tanah air, tapi tak jarang kangen menyeruak di sela-sela kuliah. Hari ini saya mengobatinya dengan mendengarkan Radio One Jakarta 101 FM. Meskipun lagu-lagu yang diperdengarkan adalah lagu Barat, namun diselingi dengan cuap-cuap sang penyiar yang khas Indonesia.

Sebenarnya agak rumit untuk mengurai keaslian milik kita. Sepertinya, kita hanya berbicara sesuatu yang lain, bukan milik kita, tapi telah mengalami proses pendarahdagingan (internalisasi), bahkan suara murni kita juga menggunakan tradisi liyan karena ia memang populer. Globalisasi telah menemukan 'tempatnya'.

Supaya energi tidak habis untuk mencari yang otentik, mungkin perdebatannya tidak difokuskan pada bentuk tapi apa yang ingin disampaikan. Saya rasa semua boleh mengungkapkan pengalamannya, meskipun itu diambil dari yang lain. Toh, ini tidak lebih hanya persoalan sejarah sehingga ia lebih akrab dengan dunia 'jauh' di sana, dibandingkan apa yang ada di dekatnya. Tentang musik, saya tidak pernah mendengarkan lagu daerah saya sebagai bagian dari relaksasi. Justeru, lagu-lagu Barat, Arab dan sebagian instrumentalia yang juga diimpor dari Barat. Lebur menjadi diri yang cair.

Terhenti sejenak, sayang penyiar sedang membahas kota Solo. Sebuah tempat yang hanya satu jaman dari tempat saya tinggal. Lalu, lagu berkumandang lagu. Tak akrab. Tapi dibiarkan sebab menunggu penyiarnya ngoceh lagi dan lagu kita sendiri.

Sementara saya kembali lagi ke penulisan disertasi untuk menyelesaikan tugas yang menyita segenap pikir, rasa dan jiwa. Sesuatu yang dipertaruhkan untuk masa depan.

Monday, April 10, 2006

Asal-Usul Hermeneutik

Sumber Bleicher halaman 236.

Masalah hermeneutik muncul jauh sebelum fenomenologi Husserl.

***

Berguna untuk mengingatkan kembali bahwa masalah hermeneutik pertama kali diangkat di dalam batas-batas exegesis, yaitu, di dalam kerangka sebuah disiplin yang mengusulkan untuk memahami sebuah teks - untuk memahaminya dimulai dengan maksudnya, atau atas dasar apa yang ia ingin katakan. Jika exegesis mengangkat sebuah masalah hermeneutik, yaitu, masalah penafsiran, ini karena setiap pembacaan sebuah teks selalu terjadi di dalam sebuah komunitas, sebuah tradisi atau arus pemikiran yang sedang berlangsung, yang semuanya mempamerkan pengandaian dan exigensi - tanpa mengabaikan betapa dekatnya sebuah pembacaan yang terikat dengan sesuatu (the quid), berdasarkan pandangan apakah teks itu ditulis.

Schleiermacher, sebagai bapak Hermeneutik modern, mengusung dua aliran yaitu filsafat transendental dan romantisisme. Dari sudut pandang ini, dia menurunkan sebuah bentuk pertanyaan - syarat kemungkinan penafsiran yang sahih - dan sebuah konsep baru tentang proses pemahaman (hlm. 14). Sekarang pemahaman dilihat sebuah reformulasi kreaktif dan rekonstruksi. penekanan Fichte terhadap produktivitas Aku aktif (Ego) mengantarkan Schleiermacher pada penemukan hukum hermenuetik bahwa setiap pemikiran pengarang berkaitan dengan kesatuan subjek yang dikembangkan secara aktif dan teratur: hubungan antara individualitas dan totalitas menjadi titik penting dari hermeneutik romantik.

Saturday, April 08, 2006

Membaca dan Mendengar

Membaca mestikah dalam senyap? Saya menekuri teks sambil mendengarkan lagu populer 80 dan 90-an dari internet. Kejutan acapkali muncul karena lagu yang diperdengarkan adalah ingatan dalam suatu ruang yang tak pasti tempatnya. Saya hanya menikmati tanpa lebih jauh ingin mengingat kenangan.

Jika itu lagu itu baru dan tak ada dalam rekam jejak, saya membiarkannya hingga selesai, dengan harap cemas ada lagu yang akrab. Ah..menanti semacam ini adalah juga hiburan lain. Tapi, mata lelah kalo secara terus-menerus memelototi layar komputer.

Okay, istirahat dulu dan makan siang, itu adalah jalan keluar.

Friday, April 07, 2006

Rumah Kaca

Novel bisa merangkai peristiwa menjadi alur. Ia menyingkap 'pemikiran' menjadi percakapan keseharian antara manusia. Metafor itu telah cair berupa bahasa alamiah. Saya kemudian menebak-nebak untuk memasukkan ke dalam sistem: idealisme, rasionalisme, empirisisme, realisme, naturalisme dan mungkin regilius, yang mendaku menyemuai segala paham.

Malam, langit gelap, kilat dan halilintar menerangi dan berteriak, aku menekuri Pram dengan Rumah Kacanya. Meskipun, ia bercerita zaman pra-kemerdekaan, tapi, suasananya hadir kembali sekarang. Orang dengan pelbagai ragamnya, keterasingan dan sikap hipokrit, serta kekuasaan yang membuat banyak orang buta hati.

Lalu, hujan membantu bumi bergeliat karena seharian diterpa panas. Saya pun berharap besok bisa menikmati pagi yang cerah dengan tanah masih basah.

Thursday, April 06, 2006

Distansiasi dan Apropriasi

Dua istilah ini perlu ditegaskan untuk menjelaskan dialektika 'penjelasan' [explanation] dan pemahaman [understanding]. Keduanya berkaitan dengan kepada siapa teks itu ditujukan.

***

Potensialiasi audiens mempunyai dua cara menghubungkan kembali wacana pembaca dan penulis. Kemungkinan-kemungkinan ini berkaitan dengan kedudukan sejarah di dalam seluruh proses penafsiran.

Menjelaskan sebuah teks pada hakikatnya adalah menganggapnya sebagai ungkapan dari keperluan sosio-kultural tertentu dan sebagai sebuah respons terhadap kemelut tertentu yang dibingkai di dalam ruang dan waktu. Inilah historisisme. Berbeda dengan ini adalah kecenderungan yang berasal dari Frege dan Hussel di dalam Logical Investigation. Keduanya berpendapat bahwa makna (lebih tertarik pada makna dari sebuah proposisi daripada teks) adalah bukan sebuah ide yang dipikirkan seseorang, ia bukan sebuah kandungan mental tetapi sebuah objek ideal yang bisa diidentifikasi dan diidentifikasi kembali, oleh individu yang berbeda di dalam masa yang berbeda, sebagai satu objek dan sama. Idealitas di sini artinya bahwa makna sebuah proposisi adalah bukan realitas fisik atau mental. Di dalam istilah Frege, Sinn bukan Vorstellung, jika Vorstellung (ide, representasi) adalah peristiwa mental yang dihubungkan dengan aktualisasi makna oleh seorang pembicara tertentu di dalam situasi tertentu.

Kutipan dari Paul Ricoeur dalam bukunya Hermeneutics and The Social Sciences.

Dari semua perbedaan, akhirnya setiap individu akan melakukan apropriasi [Aneigung], yaitu menyesuaikan dengan pandangannya sendiri sesuatu yang pada awalnya asing. sesuai dengan kata ini, maka semua hermeneutik adalah berjuang melawan jarak kultural dan sejarah.

Wednesday, April 05, 2006

Menikmati Film

Jika tertekan, saya cukup cari film dan menikmatinya hingga tuntas. Ia telah menjadi katup pengaman dari desakan dari dalam, yang kadang tidak tahu apa namanya. Semalam, saya menontonn Dirty Dancing Havana Nights yang menyuguhkan tarian yang sensual. Ceritanya biasa, pertentangan orang tua dan anaknya. Klasik: ibu tidak setuju anaknya berhubungan dengan pacarnya yang beda kedudukan sosialnya. Akhirnya, cinta mengalahkan segalanya.

Tapi, di luar pengulangan tema semacam ini, saya tak mengedipkan mata agar tidak ketinggalan mengikuti alur. Kekuatan gambar dan pengambilan yang cepat membuat betah untuk mengetahui akhir dari sebuah konflik. Tentu saja, akhir bahagia adalah harapan, meskipun genre semacam ini dikritik jauh dari kenyataan. Tapi, saya melihatnya ini adalah dunia lain yang harus diciptakan agar membuncahkan harapan hidup itu bukan kegagalan.

Monday, April 03, 2006

Enyahkan Kemalasan!

Seharian saya mendekam di kamar untuk membaca Arus Balik Pramoedia Ananto Toer. Hanya 1 jaman, saya meluangkan waktu ke Relau, beli makanan Indonesia dengan Doni, dan makan bareng di kamar bersama Pak Heddy, Pak Nasir, Dian, dan Taufik. Sepertinya, kami sedang merayangkan kebersamaan dan tentu saja dilanjutkan dengan obrolan ke sana kemari. Tak ada tema khusus.

Alih-alih, saya bisa menyelesaikan bacaan, malah lebih banyak tidur. Akibatnya, pusing menyerang dan malam hari sempat muntah-muntah. Dengan tubuh lemah, saya turun ke bawah untuk menyerahkan tape recorder yang mau digunakan Mbak Arin, isteri teman saya, Pak Kumoro sekalian makan malam, nasi goreng masin ditambah telor dadar.

Rekomendasi: enyahkan kemalasan untuk tidak bergerak karena akan mendatangkan kantuk dan akhirnya pusing karena kebanyakan tidur.

Saturday, April 01, 2006

MoU Perlindungan terhadap Pembantu

Sejarah penting tentang profesi yang tidak dibanggakan: pembantu rumah tangga.

Keinginan kedua negara Indonesia (Jusuf Kalla) dan Malaysia (Mohammad Najib) untuk membincangkan 'nasib' para pekerja migran perempuan yang acapkali tidak mendapat perhatian adalah patut mendapat perhatian. Meskipun, jumlah mereka yang dianiaya kecil, tapi tidak ada pembenaran untuk membiarkan mereka yang tertindas tak mendapat perhatian. Kealpaan untuk melindungi sebuah profesi yagn rentan terhadap penindasan akan melahirkan tindak kekejaman lain yang tersembunyi dan baru tersentak setelah muncul peristiwa penganiayaan berat terhadap pembantu seperti dialami oleh Nirmala Bonat.

Jika dilihat secara luas pembantu adalah simbol dari pengekalan 'kehidupan' borjuasi masyarakat modern yang memerlukan 'orang' yang bisa diperintah seenaknya, tanpa memperhatikan 'keterbatasan' manusia dalam bekerja.

Semoga MoU ini segera bisa membantu 'para perempuan' yang terlantar di tempat penampungan di Kedutaan Besar maupun Konsulat di seluruh negeri Malaysia.