Tuesday, July 24, 2012

Buah Manis di Bulan Puasa


Menjelang permulaan puasa, kami berkunjung ke pasar malam Tanah Merah, tak jauh dari rumah. Dengan memilih buah manggis yang manis, saya merasa bahwa ia bisa menjadi menu berbuka puasa setara dengan kurma. Penjualnya sangat ramah. Ia juga mempersilahkan untuk merasai manis buah rambutan. Kami pun mengantongi sekilo buah berwarna merah ini. Buah-buahan lokal patut mendapat perhatian, bukan?

Thursday, July 19, 2012

Mengapa Kita Merindukan Ramadhan?


Judul di atas adalah tema pengajian Persatuan Pelajar Indonesia Universitas Sains Malaysia seminggu menjelang Ramadhan tiba. Alhilal Furqan, calon PhD bidang arsitektur asal Lombok, mengupas isu ini di hadapan para mahasiswa dan  pekerja perempuan migran. Sebelum acara dimulai, anak-anak kecil mengelilingi Puspa, mahasiswi asal Bandung, belajar membaca al-Qur'an dengan baik. Kami pun, para orang tua, bertegur sapa dan bertukar cerita. Setiap orang menekuri nasibnya. 


Mengapa umat semestinya merindukan Ramadhan? Jawapan pertama yang diberikan adalah janji Tuhan tentang taqwa. Dengan menunaikan perintah ini, pelaku akan mendapatkan ganjaran taqwa, sebuah predikat yang membedakan kita dengan orang lain. Dari gelar ini, kita akan menemukan diri yang sejati, meraup makna hidup yang sesungguhnya. Berkah puasa akan mencegah perbuatan buruk, baik perkataan (kalam), tubuh (butun), dan kehormatan (farj). Puasa pada akhirnya adalah jalan keluar dari hiruk-pikuk kehidupan dunia yang bising, semrawut dan tak beraturan. 


Lalu, adakah kita telah menggengam berkah itu? Menjawab pertanyaan ini, saya pun menulis sebuah artikel di Koran Tempo (19/7/12) bertajuk "Berkah Puasa yang Tertunda", untuk mengingatkan kita bahwa pengulangan kewajiban ini belum menghunjam pada kesadaran dan tindakan etik pelaku, sehingga berkah tertunda. Puasa akan menghapuskan dosa-dosa kita kecuali syirik dan iri-dengki. Jelas, pesan yang diambil dari Hadits Nabi ini mendorong umat untuk menjaga hubungan dengan Tuhan dan Manusia secara bersamaan. Adakah secuil iri masih melekat pada tubuh kita? Masihkan Tuhan kita menjadi tujuan tertinggi dalam hidup atau kehadiran-Nya hanya tempelan belaka? Namun, betapapun tak banyak pengaruhnya, tentu kita tak perlu meninggalkannya, bukan?

Sunday, July 15, 2012

Filsafat itu Sepi


Gambar di atas saya ambil kemarin, Sabtu 14 Juli 2012 di toko buku Borders, Mal Queensbay (Terbayang namanya diucapkan sebagai Tanjung para Ratu). Tempat ini selalu berada di kepala apabila kami mengunjungi pusat perbelanjaan di pinggir laut ini. Di sebelah rak filsafat, kita juga menemukan buku-buku sosiologi, politik, dan sejarah yang jarang menarik minat penunjung. Kebanyakan mereka lebih memilih buku populer, novel atau majalah. Lalu, sebagian dari mereka beranjak ke sudut toko, sebuah warung kopi terkenal, Starbucks, seraya mengasyiki media sosial atau menghitung untung-rugi usaha.

Mengapa filsafat tak memantik orang ramai untuk menekuri kandungannya? Boleh jadi tingkat kerumitan dari bahasa yang digunakan dalam mengungkap isi pikiran pengarang. Seseorang yang tak belajar filsafat, ia akan sering mengerutkan dahinya ketika menikmati buku Feyeraband di rak yang berjudul Against the Method. Namun, buku filsafat tak melulu berisi hal demikian. Ia bisa berupa karya John-Paul Flintoff berjudul How to Change the World. Meskipun kita tak bisa menyebutnya karya filsafat murni, penulisnya menunjukkan pada kita bahwa pemikiran Sokrates itu bekerja sebagaimana penjual (salesman) bekerja (hlm. 53). Di lain tempat, wartawan The Sunday Times ini juga mengulas banyak celotehan filsuf eksistensialis, yang kita kenal acapkali menabrak aturan, karena norma itu dianggap lahir setelah kehadiran manusia.

Betapapun, filsafat berusaha untuk mengungkap semua, ia sebenarnya sedang memilih dari sekian kerumitan yang hadir di dunia. Dulu, di zaman Yunani kuno, ia mungkin berperan sebagai induk pengetahuan, namun sekarang percabangan pengetahuan telah melahirkan kekhususan-kekhususan. Tak aneh, Lawrence Kohlberg menggunakan psikologi untuk berfilsafat, sebagaimana Flintoff menceritakan makna hidup seraya mengutip ide Victor F Frankel. Ini bermakna semua disiplin mempunyai peluang yang sama untuk menjelaskan mengapa kita masih bertahan hidup, bukan mengakhirinya di ujung belati. Filsafat itu sebagian dari sudut pandang untuk meraup pelajaran dari kehidupan.


Wednesday, July 11, 2012

Sedekah Pisang


Semalam kami mengunjungi Masjid Muttaqin untuk menunaikan sembahyang Maghrib. Ketika menginjakkan kaki di serambi, saya bersirobok dengan setandan pisang. Untuk kesekian kalinya, saya menemukan pemandangan seperti ini. Seorang dermawan meletakkan buah yang mudah tumbuh di negeri tropis di bibir masjid. Tak hanya di rumah ibadah, saya juga seringkali mengalami hal serupa di warung makan, bahkan di POM Bensin Shell, tak jauh dari masjid tersebut. Setiap hari Jum'at, di depan kasir Shell, pisang emas tersedia untuk dinikmati oleh siapa pun.

Dulu, di Masjid kampus USM, saya juga sering menikmati pisang yang disedekahkan oleh seseorang tanpa nama. Boleh jadi, si dermawan berharap agar tangan kanan memberi, sementara tangan kirinya tidak tahu. Keikhlasan adalah wujud kepedulian pada sesama tanpa dibebani perbedaan latar belakang. Namun, tak semestinya kebaikan itu anonim. Untuk menarik orang ramai berbuat kebaikan, kadang pengumuman perlu dibuat. Seperti tertera di papan masjid Muttaqin, ada beberapa nama yang telah bersedia untuk berinfaq makanan buka puasa pada tahun ini.

Tentu saja, keikhlasan pada gilirannya tidak lagi dengan penyembunyian nama. Pengelolaan sedekah, derma, atau amal tentu menuntut penghitungan dan pertanggungjawaban untuk mengelak dari penyalahgunaan. Di sini, nama penyumbang disebut. Tak hanya itu, mereka yang murah hati kadang diabadikan sebagai nama bangunan. Tidak ada yang salah. Kebaikan harus disebarkan. Mereka yang baik harus dikenang. Namun, seperti Zainuddin MZ bilang, aneh, dengan sedekah 100 rupiah, kita berharap masuk surga.