Thursday, January 24, 2013

Tenang dan Tentram

Jalan ini adalah laluan yang sering dijejaki oleh kaki. Ia menghala ke kantin, tempat saya bersarapan atau makan siang dan ke perpustakaan. Di hari libur mahasiswa, saya tak mendengar riuh-rendah mahasiswa yang berlalu-lalang ke gedung perkuliahan.

Dalam keadan sunyi, saya lebih jelas mendengar nyanyian burung atau menikmat hangat matahari yang menyusup di sela-sela dedaunan. Pada jam 10-an pagi, saya melemparkan ingatan ke masa Sekolah Dasar ketika kami pulang ke rumah lebih awal sebab para guru mengadakan rapat. Ya, suasana seperti ini menyenangkan.

Jauh dari sekadar nostalgia, kita hanya perlu mengumpulkan ingatan-ingatan dari alam agar hidup ini tentram. 

Monday, January 14, 2013

[Tidak] Berbuat Zalim

The one exclusive sign of thorough knowledge is the power of teaching. ~ Aristotle

Anak-anak ini telah diajarkan untuk meletakkan sandal, sepatu, dan alas kaki apa pun di rak. Pendidikan keadaban masyarakat itu bisa dimulai dari sekolah. Ini mengingatkan saya pada rombongan tentara, baik AU, AD dan AL yang mengikuti penganjian Ahad pagi di Masjid Syuhada Yogyakarta. Mereka meletakkan sepatunya secara berjajar layaknya berbaris.

Ketertiban itu bukan kekakuan. Ia dibuat agar kita bisa membuat ruang hidup ini luas dan bisa untuk berbagi dengan orang lain. Apa susahnya meletakkan sandal di rak? Bukankah kemalasan kita kadang membiasakan kita untuk tak berlaku tertib. Sayangnya, ketidaktaatan kadang dianggap sebagai pemberontakan terhadap kemapanan, sesuatu yang merupakan sesat pikir.

Kalau anak-anak itu telah terbiasa dengan aturan, maka pada gilirannya mereka akan juga membuang sampah secara tidak sembarangan. Percayalah! 

Tuesday, January 08, 2013

Blusukan Ke Pasar

Di hari Jum'at pagi, sambil menunggu Nabbiyya belajar bahasa Inggeris di Vital Years School, kami berbelanja aneka bahan untuk Garangasam, seperti ayam, tomat, dan bawang. Menelusuri lorong seraya melihat begitu banyak orang dan barang jualan, saya yakin bahwa pengagihan kue ekonomi pasar tradisional itu jauh lebih merata dibandingkan dengan pasaraya.

Kami sempat bingung mencari daun pisang untuk mengukus ayam, namun seorang ibu penjual bawang putih memberitahu kami bahwa penjual daun di ujung sana tak jauh dari penjaja surat kabar. Alhamdulilah, akhirnya kami mendapatkan tiga ikat daun dengan harga 'berpatutan'.

Selain itu, kami tak lupa juga membeli beberapa potong tempe. Kami sering berlauk mendoan, tempe yang dibalut tepung, atau memakannya begitu saja dengan lombok kecil. Sensasi pedas cabe dan secawan teh panas menghangatkan sore yang belakangan ini acapkali diserbu oleh hujan. Kami pun akan kembali lagi ke Pasar Jitra ini untuk bertukar sapa dengan penjual, yang tak akan terjadi di Pasaraya.

Selain bumbu di atas, santan adalah penyedap Garangasam. Kami membelinya dari kedai yang telah menyediakan perasan parutan kelapa ini. Seorang ibu berjilbab menyahuti Bunda, "Dari Sabah, ya?" Pertanyaan ini sering saya juga alami. Betapa pun kami mencoba untuk bercakap dengan loghat Kedah, warga di sini sering menemukan keanehan pada dialek kami, sehingga mereka sering menyangka asal-muasal kami dari negeri 'Borneo'.

Ya, percakapan seperti inilah yang membuat kami menikmati 'blusukan' ke pasar tradisional. Mungkin, cara berbelanja seperti ini dianggap membuang-buang waktu, namun saya justeru menemukan hubungan manusia yang bermutu. Mengapa kita perlu bergegas? Toh, akhirnya kita berdiam di rumah bersama alat-alat elektronik yang makin membuat kita menjauh dari rasa kehidupan manusiawi.


Sunday, January 06, 2013

Kereta Kuda


Di kampung kereta kuda beroda dua. Di arena Kereta Kabel, Langkawi, dokar itu beroda empat. Kami pun ingin mencobanya, tapi peminat berjubel menanti giliran. Meskipun  kami tak sempat menikmati, namun melihat binatang berkaki empat menarik 'gerobak', rasa senang pun menjalar.  Di lain waktu, kami mungkin ditakdirkan untuk menaiki kendaraan ini.