Posts

Showing posts from February, 2009

Meragukan Citra (Bakal) Wakil Rakyat

Koran Duta Masyarakat, 26 Februari 2009


OLEH: AHMAD SAHIDAH, Kandidat Doktor Departemen Filsafat dan Peradaban Universitas Sains Malaysia

Zaman modern, menurut ingatan kita, mempunyai perhatian pada citra, namun dengan pengabaian besar terhadap kenyataan dan makna (Tariq Ramadan, 2003: xxix)

Pernyataan cucu Hasan al-Banna di atas mungkin tepat disematkan pada ikhtiar para bakal anggota legislatif yang mempercantik dirinya di sejumlah media, baik cetak maupun elektronik dan ruang terbuka. Uang telah mengubah wajah mereka menjadi cerah, meski kosong, dan menampilkan identitas yang jelas: peduli terhadap rakyat. Tidak itu saja, secara umum penampilan mereka sekaligus menunjukkan citra yang saling berserobok, kadang Barat, lokal dan religius. Jas dilengkapi dasi, pakaian tradisional dan baju koko ditambah kopiah telah menjadi penanda bagi pengukuhan identitas untuk meraih simpati.

Sayangnya, pesan yang disampaikan tampak abstrak, misalnya membela rakyat pelbagai strata, dari petani, nelayan …

Mencegah Mahasiswa dan Aparat Bentrok

Image
Ahmad Sahidah

Tidak jarang gejolak aksi turun ke jalan mahasiswa memasuki perseteruan "hidup-mati" (zero game). Kedua belah pihak, mahasiswa dan pihak aparat, merasa telah melakukan yang terbaik bagi tugas yang diembannya. Kordinator lapangan dan komandan aparat menemui jalan buntu bagaimana sebuah aksi itu bisa diterima dan akhirnya keduanya secara legawa bisa menerima batas wewenang masing-masing. Misalnya, penolakan mahasiswa terhadap UU BHP (Badan Hukum Pendidikan) yang berlangsung di seluruh negeri ini ternyata sebagian telah menimbulkan bentrokan yang tidak perlu. Berita terbaru tentang bentrokan dalam unjuk rasa berkaitan dengan isu ini adalah antara mahasiswa Universitas Brawijaya dan satpam kampus.

Perjuangan simbolik mahasiswa perlu didukung oleh siapa pun yang peduli akan pemerataan kesempatan pembelajaran bagi masyarakat. Lalu, jika UU tersebut disahkan oleh anggota DPR, sementara mahasiswa menyangkal di jalanan, apakah mereka yang bertanggung jawab mendengar dan m…

Riuh Rendah di Surau

Beberapa hari terakhir ini, surau kami diriuhkan oleh celotehan beberapa anak. Suasana seperti ini mengingatkan saya waktu kecil, ketika kami berada di surau atau di masjid kampung. Mungkinkah kehadiran mereka karena pengaruh wejangan anggota Jamaah Tabligh seminggu yang lalu? Saya belum bertanya pada mereka. Sayangnya, kelompok jemaah tabligh tak datang lagi semalam. Tentu, mereka sedang menyapa umat di tempat lain.

Sebelumnya surau itu tidak hanya dihadiri oleh orang dewasa. Hampir tidak ada suara ramai, tapi sekarang anak-anak itu meramaikan dengan percakapan, baik di depan pintu, tempat wudhu dan ketika pulang selepas shalat berjamaah. Sedapat mungkin saya mengenal satu per satu nama mereka, agar gagasan untuk mengadakan pengajian al-Qur'an lebih mudah diwujudkan.

Keinginan kami agar para remaja juga turut menyemarakkan surau itu diwujudkan dengan pemberian kepercayaan pada salah seorang dari mereka untuk menjadi imam. Ya, kami bergiliran untuk mengimami shalat, kadang pekerja …

Jika Sakit itu Melelahkan

Semalam, saya muntah. Mungkin masuk angin. Betapa tak mengenakkan didera keadaan sebegini. Belum lagi, sakit kepala yang mendera, sehingga membaca pun sepertinya menambah beban, bukan menyenangkan. Malah, bacaan ringan, semisal koran, tak mampu membuat saya mengelak dari rasa kesakitan. Tidur di malam itu pun tak juga membantu saya melupakan sejenak, seakan-akan saya berada antara sadar dan tidak.

Dalam keadaan seperti ini, betapa banyak waktu yang saya reguk dalam keadaan sehat begitu berharga acapkali terlupakan. Celakanya di kala dalam keadaan bugar, saya kadang alpa untuk menikmatinya, padahal dalam keadaan sakit sering menyembul bahwa nanti jika sakit ini lenyap saya akan berbakti untuk kehidupan.

Katanya sakit bisa dilawan. Saya lalu menentangnya dengan tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Memang tidak senikmat ketika dalam keadaan segar, namun membiarkkan tubuh ini tergeletak malah saya semakin merasa tersiksa. Saya tetap meminjam buku, tiga malah, untuk obat malam ini. Lagi-…