Posts

Showing posts from May, 2006

Komentar atas Komentar di Media

Inilah komentar saya di miol Media Indonesia.

Saya baca FPI juga terlibat dalam kerja kemanusiaan di Aceh. Mungkin, ke depan, organisasi ini lebih memfokuskan kerja-kerja sosial yang langsung dirasakan oleh masyarakat.

Ia tak perlu dibubarkan, sebab semangatnya perlu dihargai dan mendapat ruang untuk turut serta dalam kegiatan amal.
Semoga, perselisihan ini berakhir dengan keyakinan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Energi jangan habis untuk mengobral kata, sementara kita asyik dengan 'pikiran' saja, bukan tindakan.

Ayo, FPI turun ke Yogyakarta!

Tentang Yogya

Gempa yang meruntuhkan sebagian daerah Yogyakarta ini menimbulkan ingatan yang pejal. Ia tidak hanya mengingatkan gempa kecil ketika saya masih berada di kota ini. Bahkan, pada suatu masa, saya melihat cahaya kemerahan dari lava tahun 1994 dan akhirnya menyemburkan letusan hebat.

Lalu, kemarin saya meminjam dua novel tentang Yogya yang ditulis oleh N Morewo, Pulang dan Satu Hari di Yogya. Saya berharap saya lebih mengenal kedalaman, bukan permukaan dari hiruk-pikuk kehidupan lapisan bawah. Ternyata, banyak kehidupan mahasiswa yang tak sempat mampir di benak saya. Benar-benar pengingat yang berharga untuk memikirkan kembali 'peran' yang setengah hati. Mereka telah berebut 'jatah' hidup dengan kemiskinan.

Lalu, apa yang akan saya ceritakan tentang diri ketika di Yogya?

Yogya berduka

Kemarin keluarga Yogya mengirim kabar tentang gempa yang meluluhlantakkan sebagian daerah dan meninggalkan korban masih pada angka ratusan.

Sebagai warga kota Pelajar sejak 1992, saya merasakan kehadiran kota ini hingga ke sumsum. Tiba-tiba, sekarang ia harus menanggung bencana yang dahsyat. Kemanakah mereka berteduh?

Membaca berita dari surat kabar Malaysia Utusan telah cukup untuk menyadarkan kami tentang penderitaan yang akan diusung.

Hujan Semalam

Hujan selalu mendatangkan harap bahwa esok pagi akan segar. Meskipun tidak deras, tapi tetesannya bisa terlihat dari dekat lampu jalan.

Setelah makan malam, saya kembali ke kamar. Untuk melemaskan otot, saya nonton film 'ringan' Charlie's Angles: Full Throttle. Tak perlu banyak mengerutkan dahi, tema, plot dan karakternya jelas, tidak rumit. Tidak puas dengan film laga ini, saya masih berkutat untuk melanjutkan nonton film lain berjudul Trapped. Alurnya memang menegangkan, tapi masih menyisakan haru untuk menguras emosi. Kehadiran Charlize Theron, Courtney Love (Si Janda Court Cobin) dan yang menggemaskan Dakota Fanning membuat film ini enak ditonton. Seperti biasa, ia berakhir bahagia. Yang benar dimenangkan dan yang jahat dikalahkan, bahkan mati.

Lalu, naik ke lantai atas, saya membuka kembali buku yang baru dipinjam The Politics of Islam in Contemporary Malaysia oleh Kamarulnizam Abdullah. Dengan pendekatan konsep 'keamanan' (The Concept of Security), ia mencoba u…

Singapura: Bayang dan Kenyataan

Saya banyak bertanya pada teman-teman tentang cara mudah untuk masuk ke negeri Tamasek ini. Bejibun informasi yang diberikan, tapi justeru dihadapkan pelbagai pilihan. Pukul 7 kami berangkat dari Terminal Larkin dengan bis BBS. Herannya, karcisnya cuma RM 1.70. Tiba-tiba, saya sudah diperlihatkan penumpang yang antri naik dengan teratur, sehingga serentak saya membayangkan bahwa ini adalah awal dari budaya tertib negeri Singa ini.

Perjalanan terhambat karena saya dengan Mas Tauran mesti mengecap paspor keluar dari Malaysia dan mencari bis dengan perusahaan yang sama untuk melanjutkan tour ini. Karena pertama kali masuk, di imigrasi, kami ditanya maksud kedatangan. Bermodal surat keterangan dari Kampus USM untuk mengunjungi Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) dan National University of Singapore, tak lebih dari sebelas menit kami melenggang mencari bis menuju stasiun Queen Street. Di dalam bis, di belakang kami tiga anak Jakarta yang jalan-jalan ke kota denda (Fine City). Saya …

Perjalanan Ke Kongres PPI VIII

Malam Sabtu, kami, Indah, Iqbal, Hilal, Tauran diantarkan Baim ke Terminal Sungai Nibong untuk berangkat ke Kongres PPI VIII di UTM (Universiti Teknologi Malaysia). Bus Konsortium molor beberapa menit dari jadual yang telah diberikan. Seharusnya, kami berangkat 10.30, tapi 10.45 ia meninggalkan sarangnya. Sebelumnya, Iqbal telah mengantongi karcis bis yang masing-masing seharga RM 50. Kebetulan, pihak KRJI membantu kami RM 150, dan sisanya diambilkan dari kas PPI sehingga berlima kami berangkat dengan tenang. Tapi, sayangnya, untuk ongkos pulang, kami harus merogoh kocek sendiri.

Saya sendiri membayangkan perjalanan ini akan menyenangkan, tidak hanya bus yang kita tumpangi luas karena hanya 3 kursi per barisnya, tapi juga akan melalui jalan tol hingga sampai tujuan. Sebelum melewati jembatan yang membelah Pulau Pinang dan Malaysia daratan (kiran-kira 13 km), saya mendengarkan lagu KLA Project melalui walkman. Hampir semuanya saya suka, tapi Tak Bisa Ke Lain Hati benar-benar membuat say…

Futsal yang Melelahkan

Biasanya, saya main futsal dengan teman-teman Indonesia di KDU, bahkan pernah di Seberang Pulau. Karena pemainnya banyak, saya hanya bermain 15-20 menit. Tapi, kemarin, bersama dengan teman-teman Malaysia, saya hampir lebih dari 1 jam bermain bola. Benar-benar melelahkan.

Pulang, teman Malay mampir beli 100plus dingin. Ketika saya meneguknya, tubuh seperti disiram es dan dinginnya menusuk gigi, campur aduk antara enak dan sakit. Terbersit di benak, saya ingin mengulangi peristiwa ini.

Makan malam bersama Hilal, saya melepaskan lelah di warung sambil menonton acara favorit Buletin Malam TV 3.

Jam 9, tubuh saya udah tergeletak lelah. Tertidur dan bangun jam 1 30 untuk shalat Isya'. Lalu, buku Putu Wijaya, Teror Mental membantu saya melewati dini hari. Saya kira kita mesti lelah untuk bisa tidur dengan lelap.

Test Psikologi dan Tiga Dimensi

Pagi disambut hujan, tubuh malas beranjak dari tempat tidur. Tapi, karena ada janji untuk mengisi 'test' untuk tesis teman, saya berangkat diiringi gerimis. Sebenarnya, saya menyukai suasana mendung karena bumi tampak ramah dan tidak garang jika matahari menyorot terik.


Paling tidak, pertemuan dengan teman-teman dari Indonesia selalu mencairkan kebekuan karena kelucuan tumpah ruah, tak bisa dibendung. Kebetulan di sana, saya bertemua mahasiswa dari Palestina. Percakapan pun mengalir yang mendekatkan kami sebagai saudara rantau. Kemasgulannya terhadap bangsanya yang teraniaya, tapi tidak bisa melepaskan dari cengkeraman Israel menyisakan tanda tanya.

Belajar dari Negeri Jiran

Pertama kali saya menjejakkan kaki di Bandara Internasional Kualalumpur, saya terhenyak karena bangunannya tampak megah dan modern. Berbeda dengan jakarta, ada kereta api cepat untuk mengantarkan penumpang untuk pindah ke rute penerbangan dalam negeri. Karena saya sampai sore, saya nginap di hotel (karena udah dibayar oleh Agen) tak jauh dari bandara untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Pinang.

+belum selesai!

Film Komedi Romantik

Saya masih memburu 'genre' film komedi romantik, meskipun usia udah beranjak. Tak perlu risau, jika orang melihatnya bukan film berat dan tidak bermutu.

Tapi, menurut saya, pesannya adalah upaya 'menerjemahkan' nilai-nilai yang diusung oleh pemikiran yang berat, rumit dan canggih.

Dari sekian film jenis ini, kejujuran adalah pesan moral yang ingin ditonjolkan. Bukankah yang terakhir inilah acapkali raib dari diri kita?

Hinggap dari Peristiwa Ke yang Lain

Jumatan kemarin sangat menyenangkan. Sang pengkhotbah, Ustaz Daniel memukau jamaah. Saya pun tidak mengantuk. Beliau mengungkap peristiwa Palestina dan ketidakadilan Barat, nun jauh di sana. Tapi, kemampuan retorikanya mampu mendekatkan dengan kami yang tepekur dengan artikulasi khotbahnya. Ya, semoga bumi Palestina segera damai agar tak ada lagi penistaan pada kemanusiaan.

Hari ini, sepanjang jalan saya menikmati butiran peristiwa yang menghinggapi mata. Panas terik membuat alam terang benderang, seperti mengusir gundah, daun pohon berguguran berpendaran diterpa sinar mentari, lalu lalang orang yang menghadiri wisuda, wajah cerah dari mereka yang menyelesaikan kuliah, satpam kampus yang baik hati, pekerja warung India yang bekerja seperti mesin, dan kembali berkutat di depan komputer.

Terlalu banyak untuk diurai, tapi semua menyiratkan sejuta makna. Meskipun, tafsir itu tetap berpijak pada saya 'yang subjektif'. Terus terang, saya menikmati perjalanan di dalam kampus, baik deng…

Pendekatan Literasi Media

Image
Hampir tiap hari saya membaca media, baik cetak maupun on line. Lalu, saya merasa bahwa ini adalah pengulangan yang membosankan. Tapi, saya mencoba melihat dari sisi lain. Media adalah sarana kompleks dalam penyampaian informasi. Oleh karena itu, buku International Communications: A Media Literacy Approach adalah salah satu alat untuk menerokai lebih jauh dunia media.

Media komunikasi adalah aktivitas yang didorong oleh banyak fungsi atau tujuan, di antaranya: informasi, ekspresi, deskripsi, instruksi, hiburan, ekspresi kreatif, keuntungan, dan persuasi. Semua ini bisa jadi dipengaruhi oleh kepemilikan, apakah publik, swasta, negara atau campuran (hibrida). Buku ini berguna untuk tidak lagi membaca sekedar hiburan ngilangin suntuk, tapi mendapatkan sejumlah isu untuk memahami peristiwa di sekitar kita sendiri.

Buku yang Mengubah Manusia

Image
Minggu, 7 Mei 2006

Oleh Ahmad Sahidah*)

Di tengah hiruk-pikuk media elektronik dalam kehidupan manusia, terdapat kekhawatiran bahwa buku akan tersingkir. Tetapi, prediksi ini juga tidak menjadi kenyataan. Namun demikian, buku tetap masih berada di pinggir dalam arus penyebaran informasi. Bahkan, di tengah kesulitan ekonomi, penerbitan di tanah air masih marak.

Adakah kengototan pekerja buku ini semata-mata didasari oleh motif ekonomi? Bukankah tidak jarang buku lahir dari sebuah keinginan ‘politik’? Masihkan tersisa idealisme untuk mengubah wajah kemanusiaan dengan pengetahuan? Tentu saja, jawabannya beragam, atau mungkin boleh jadi motifnya memang tidak tunggal.

Terlepas dari pendorong lahirnya buku di masyarakat, ada sesuatu yang lain yang juga perlu mendapat perhatian. Ternyata dalam sejarahnya, buku telah mengubah manusia dan dengan sendirinya melahirkan peradaban yang menyangga kebudayaan adiluhung. Sejarah menunjukkan kegemilangan penerjemahan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab p…

Menikmati Rutinitas

Hanya perlu menelepon untuk memastikan bisa menemuai Profesor. Beliau langsung bersedia untuk menerima bab dua dari disertasi saya.

Sebelumnya, saya pergi ke perpustakaan menengok buku baru. Tapi, kosong. Di papan pameran, saya melihat dua buku, pertama tentang cultural studies dan analisis film. Tanpa berpikir panjang, saya mengambil dua buku ini untuk dipinjam.

Buku pertama berjudul All About the Girl: Culture, Power and Identity dan buku kedua adalah Style and Meaning: Studies in the detailed analysis of film. Malam ini, saya ingi mengunyahnya agar mengantarkan saya pada kedalaman tentang perempuan dan film.

Lalu, kembali ke rutinitas, saya melayari internet dan membaca koran on line. Tak ada yang baru. Semua adalah pengulangan. Tapi, saya membacanya lagi. Siapa tahu ini adalah bentuk internalisasi dari nilai. kebetulan, saya mengikuti pikiran Shirin Ebadi, pemenang Nobel dari Iran, ketika ditanya wartawan TIME tentang ayat al-Qur'an yang menjadi favorit dia. Tegasnya, tentang wak…

Bedah Buku Tokoh Pembaharu

Bangun pukul 7, saya masih melihat hujan rintik menyambut pagi. Hari ini, jam 9 kami, Pak Tahir dan Dian berencana untuk menghadiri bedah buku Buah Pikiran Ashaari Muhammad di hotel Seri Malaysia.

Di sana, kami mengikuti pembahasan buku yang ke-72 dari tokoh Darul Arqam yang pernah menghiasi kontroversi di negeri Jiran ini. Ann Wan Seng (alumni UM bidang Sosiologi), Dr. Ir. Abdur Rahman Effendi (Program Doktor bidang Pesawat Terbang di Perancis), Shahnon Muhammad (penyair, bekas anggota parlemen), dan dimoderatori oleh dosen USM, diskusi berjalan 'marak'.

Pulang dengan Prof Shukri, kami menyempatkan makan siang bersama dan sebelumnya shalat di Masjidk Bayan Lepas. Profesor banyak berbicang dan membuat hubungan dekat.

Bagi saya, Abuya Ashaari tampak sangat memikat orang-orang yang pernah mengenal dekat dan menjadi pengikutnya.

Realitas dalam Wajah Lain

Judul buku : Documentary in the Digital Age
Penulis : Maxine Baker
Penerbit : Focal Press
Tahun : 2006
Tebal : xii+308


Ahmad Sahidah

Buku ini hendak melihat kehidupan yang sedang berjalan (berlari? on the run), gaya abad duapuluh-pertama, dokumenter di dalam era digital. Penemuan Lumière, sinematografi adalah sebuah mesin yang memfilmkan, memproses, memproyeksikan dan juga, sebagai benda mudah alih (portable), ia bisa dibawa dengan fuss yang minimum dan digunakan untuk merekam dan memperlihatkan pada audiens dunia tempat mereka hidup. Pilihan Lumière memilih untuk memfilmkan orang-orang di dalam situasi nyata, tidak pernah menunjukkan minat pada kisah-kisah dramatik. Oleh karena itu saya pikir bahwa mereka adalah bapak sejati dari bentuk dokumenter. Kenapa film dokumenter tak disuka banyak orang? Apakah kita tidak lagi menyukai kenyataan, tapi impian terus-menerus? Bukankah Nietzsche dan pengikutnya menyatakan katakan ya pada kehidupan agar kita…

Belajar dengan Mendengar

Tadi pagi, saya bangun agak telat karena kelelahan. Semalam hujan, seharusnya saya akan dengan segera berangkat ke kampus karena jalanan pasti masih menyisakan basah dan pepohonan.

Siang ini saya makan siang di harapan. Di sana kebetulan saya ketemu teman dari Yaman, yang juga ngajak temannya untuk gabung di meja kami. Tiba-tiba perbincangan mengalir karena orang Malay ini ternyata mempunyai buyut yang berasal dari Yaman dan menyelesaikan Ph.D dalam bidang Planning. Tapi, kegiatannya tidak hanya melulu berkaitan dengan bangunan, melainkan dakwah untuk komunitas berbahasa di Penang dan orang-orang tuna rungu. Sangat khas, bukan? Tak jarang, pembicaraan berjalan ke sana kemari.

Saya hanya mendengar untuk banyak belajar.

Siang yang Redup

Hari ini saya makan lebih awal karena tidak sarapan pagi. Di kantin harapan, saya menikmati makan pagi dan siang dengan santai sambil menonton National Geography, yang menayangkan bahaya air pipa terhadap tingkat kesuburan sperma di Amerika karena zat klorin dalam air. Saya tidak tahu, apakah ini akan juga terjadi di sini (Malaysia) atau di Indonesia sekarang.

Setelah sampai di kampus, saya mengirim sms pada pembimbing untuk menyerahkan bab dua. Di sana saya bertemu teman-teman yang sedang menekuri pekerjaannya masing-masing, membaca, berselancar di internet, ngobrol dan saya sendiri melakukan koreksi terhadap bab dua. Ternyata, bahasa Indonesia banyak yang tidak sama dengan bahasa Malaysia. Memang, saya merasa aneh membaca susunan bahasa Jiran ini karena terbiasa dengan bahasa sendiri. Tapi, itu tidak terlalu menghalangi untuk menemukan maksud yang ingin diungkap.

Siang yang redup karena mendung dan hujan rintik membuat saya merasa tentram. Selain udara segar dan pepohonan hijau lembu…

A Brief History of Globalization

Dunia Kecil Kita

Judul Buku : A Brief History of Globalization: The Untold Story of Our incredible Shrinking Planet
Penulis : Alex MacGillivray
Penerbit : Carroll & Graf Publishers New York
Cetakan : 2006
Tebal : xiv + 338 halaman

Buku ini dimulai dari sebuah kutipan dari François-Maire Arouet ‘the Multitude of books is making us ignorant’. Sebuah awal yang provokatif untuk memulai diskursus tentang globalisasi. Benarkah dengan banyaknya buku yang membahas satu persoalan justeru mempurukkan kita pada ketidaktahuan? Ini karena Alex MacGillivray mengumpulkan data yang mencengangkan, yaitu ada 3.300 buku dalam bahasa Inggeris yang menguak tema globalisasi. Tidak itu saja, keberpihakan yang terbelah dalam menyikapi arus globalisasi pada dua kubu: pro dan kontra menambah rumit persoalan. Sebenarnya hal ini adalah sebuah respons yang alamiah terhadap isu tertentu. Lalu, mungkinkan mengambil posisi netral?

Dari pelbagai pendekatan, penulis membagi empat genre, pertama buku akademik oleh para so…