Posts

Showing posts from February, 2006

ألارض مسجد

Semalem, kami melewati malam dengan duduk melingkar, mencoba untuk berbagi tentang 'akar' [baca: batin, religi, ikhwal transenden, atau apapun namanya]. Setiap senin malam, dengan terbata-bata, kami mencoba untuk meresap 'firman' ke dalam seluruh madah kami. Satu persatu mengungkap kegelisahan, keyakinan, keraguan, pencarian, jawaban dan pertanyaan, semua berjalin kelindan menjadi utuh: kerinduan. Ya, setiap orang menelusuri 'jalan' yang masih 'remang', mencari cahaya untuk menerangi agar langkah kaki tak tersandung.

Dalam suatu kesempatan, saya pernah menyatakan bahwa agama jangan dibekap di masjid saja, ia mesti melimpah di manapun jua, bahkan di starbucks. ألارض مسجد kata Nabi. Bumi kita ini adalah masjid. Secara metaforik, beliau menegaskan bahwa semua bisa menjadi tempat untuk 'menyapa' Tuhan, meskipun kadang agak susah jika itu mesti dibacakan di tempat-tempat publik. Oleh karena itu, cukup di hati, jika tidak akan mengundang cemoohan, seba…

redup, murung, dan terpental

Di meja pinggir Jendela, minggu 26 Februari 2006

Betapa saya sering merindukan hujan di sini. Seperti pagi ini, saya menikmati ‘redup’ karena langit sedang meneteskan air ke bumi. Tapi, redup tidak berarti murung, redup adalah keinginan untuk membuat hati ‘dingin’, otak tidak meradang karena dibebani oleh ‘banyak’ ingatan yang hasus dilesakkan.

Hari ini, semua berjalan seperti biasa. Sarapan, baca dan menulis untuk blog. Saya tidak ingin menyebutnya rutinitas, lebih jauh intensitas. Pengulangan itu tidak mesti membuat kita bosan, apalagi merasa skeptis, karena hidup tak lebih dari mesin raksasa, yang kita adalah bagian komponen. Jika tidak mengikuti alurnya, kita terpental, berada di luar sistem, membuat gamang untuk memulai dari mana lagi mesti mengisi hari-hari.

Menulis artikel tidak hanya membuat otak bekerja, tapi rasa turut andil dalam merubah estetikasi kalimat. Keduanya tak perlu diceraiberaikan, mungkin prosentasenya aja yang tidak imbang. Ya, selalu ada ketegangan antara keduany…

Membaca Kembali

Sebelum tidur, saya sering membuka kembali buku Catatan sang Demonstran Gie. Dulu, semasa di S1, saya pernah membacanya dalam bentuk buku saku, dengan warna sampul hijau.

Saya rasa ada banyak 'kejujuran' karena ia ditulis sebagai milik pribadi, bukan milik publik. Menelaah buku yang telah usai konteksnya, saya hanya bisa meraih semangat yang berserak di mana-mana. Untuk itu, Gie mesti membayar mahal, perasaan sepi karena semakin sulit untuk dipahami dan menambah orang yang memusuhi.

Ternyata, saya juga naif karena masih berkutat dengan dunia yang mesti dilalui, dunia gemeretap karena tidak rela pembusukan terjadi, bahkan di sekitar kita sendiri. Usia beranjak tua, seharusnya pendulum tidak lagi bingung ke kanan dan ke kiri, hanya karena menjalankan tugasnya sebagai penanda 'jam' [hidup?] terus berjalan.

Sekarang, saya harus mengambil alih 'tuntutan' kerumunan menjadi 'keyakinan' pribadi yang tidak dapat diusik oleh orang lain. Inilah kesejatian yang perlu …

bertemunya horizon

Saya mengucapkan takzim atas Mas Puji yang telah turun gunung untuk memberikan 'pandangan alternatif' tentang kemelut yang sedang melanda 'padepokan' PPI. Ini langkah elegan untuk meredakan ketegangan sekaligus mencerahkan karena diselipi dengan pelbagai teori, meskipun management, tapi kok "berbau" psikologi ya?

Dalam teori kebenaran korespondensi filsafat, sebuah pernyataan dianggap benar jika ia cocok dengan kenyataan. Saya rasa ini makin menguatkan argumentasi tentang cognitive dissonance yang dikutip Mas Puji.

Kerelaan Mas Puji, Pak Nasir, Rinza, WheezaCute, berbagi di sini dengan latar belakang yang berbeda makin mengkayakan sudut pandang dalam menilai 'posisi' kelompok yang sedang berseteru. Benar-benar, mereka telah menorehkan warna di ruang 'silaturahmi' ini sehingga suasana tidak melulu 'gelap'. Ada pelangi di PPI.

Tentu saja, setiap orang akan membawa premis [pernyataan] yang dibayangi oleh 'tradisi' [latar belakang pen…

PPI USM dan IPSAA USM

Yang Terhormat teman-teman Indonesia,
Secara pribadi, saya mempunyai keyakinan bahwa acapkali kita terjebak pada perbedaan yang tipis antara Bentuk (form) dan Isi (substance) dari sebuah realitas, sehingga masing-masing bertengkar tanpa menyadari bahwa apa yang diperebutkan adalah kesia-siaan.

Masih ada waktu untuk memikirkan kembali hubungan emosional sesama anak bangsa yang dirobek oleh kemarahan karena keengganan untuk saling memahami.
Meskipun tugas utama kita belajar, tapi tidak menutup pintu untuk menerapkan hasil pembacaan dalam ranah konkret, yaitu mengaplikasikan pengetahuan yang didapat dalam kenyataan keseharian: instrumen yang digunakan bisa PPI dan IPSAA. Lalu, kenapa masing-masing berusaha untuk meraih legitimasi dengan mengabaikan yang lain? Siapakah yang mempunyai otoritas untuk memberikan keleluasaan satu kelompok berkumpul dan mengeluarkan pendapat di sini? Alasan apakah yang bisa diajukan bahwa kebenaran ada di kami dan tidak mereka? saya yakin bahwa jawabannya pasti …