Tuesday, February 28, 2006

ألارض مسجد

Semalem, kami melewati malam dengan duduk melingkar, mencoba untuk berbagi tentang 'akar' [baca: batin, religi, ikhwal transenden, atau apapun namanya]. Setiap senin malam, dengan terbata-bata, kami mencoba untuk meresap 'firman' ke dalam seluruh madah kami. Satu persatu mengungkap kegelisahan, keyakinan, keraguan, pencarian, jawaban dan pertanyaan, semua berjalin kelindan menjadi utuh: kerinduan. Ya, setiap orang menelusuri 'jalan' yang masih 'remang', mencari cahaya untuk menerangi agar langkah kaki tak tersandung.

Dalam suatu kesempatan, saya pernah menyatakan bahwa agama jangan dibekap di masjid saja, ia mesti melimpah di manapun jua, bahkan di starbucks. ألارض مسجد kata Nabi. Bumi kita ini adalah masjid. Secara metaforik, beliau menegaskan bahwa semua bisa menjadi tempat untuk 'menyapa' Tuhan, meskipun kadang agak susah jika itu mesti dibacakan di tempat-tempat publik. Oleh karena itu, cukup di hati, jika tidak akan mengundang cemoohan, sebab kita adalah orang aneh yang sedang pamer menjadi orang saleh.

Lalu, pernahkah 'tuhan' hadir dalam keramaian? Agak riskan mengatakan ya. Maka sebelum itu menjadi kesadaran, biarkah kita memulai dari rumahnya [masjid dalam bentuk fisik]. Belajar alif, ba dan ta dengan menyicil, tak perlu instant, karena kita sedang melatih 'kaki' merangkak, berjalan dan akhirnya berlari menuju puncak.

***

Selesai sudah mengisi 'hati' dengan asupan, lalu kami beranjak untuk pergi ke Gelugor, makan malam. Kadang, saya protes, apakah hidup kita ini hanya untuk melakukan 'ritual' ini berulang-ulang? Tidakkah, upacara ini dilompati saja untuk digantikan dengan sesuatu yang baru: makan cukup sekali, tak perlu tiga kali. Hidup cuma sebentar hanya untuk dihabiskan di meja makan.

Pulang dengan bayangan bisa ke katil untuk tidur dan diawali dengan membaca roman Taufik Ikram Jamil Gelombang Sunyi sambil mendengar lamat-lamat suara radio yang tanpa mengenal lelah menghibur. Tak pasti, pukul berapa saya mematikan lampu dan menutup buku untuk memejamkan mata. Lelap. Sungguh lelap karena saya hanya minum air putih setelah makan, tidak teh tarik yang mengandung kafein. Tidak hanya itu, malah mimpi malam ini indah. Saking lelapnya, saya tidak tahu kalau pukul tiga hujan deras dan bel sirine tanda kebakaran berdenting. Saya hanya merasakan pagi yang menyemburatkan sinar, memantulkan kesegaran dan cerita teman karib bahwa bel itu mengganggu tidurnya.

Sarapan di bakti cermai adalah cerita lain tentang tempat favorit karena mata diperlihatkan taman yang kehijauan karena air hujan semalam membuatnya basah. Bahkan, sisa-sisa air berjatuhan dari ranting karena sekawanan burung menginjakkan kakinya. Ups, butiran-butiran itu berkilauan di tempa cahaya pagi. Benar-benar pemandangan yang menentramkan!

Oh ya, tadi saya bertemu dik Woelan, dengan jilbab menutupi rambutnya yang biasanya dibiarkan tergerai. Sapa dan salam menghiasi pertemuan. Telah lama kami tidak bercengkerama, tapi itu udah cukup untuk memulai kembali hari-hari yang penuh canda.

Ahmad : Gi mana persiapan untuk persembahan ISEAC?
Woelan : Nggak tahu, nech lagi batuk.
Ahmad : Dari mana?
Woelan : Ada kelas, tadi.
Fauzi : Wah, sepagi ini udah kelar kuliah? [teman karib Melayu saya]
Woelan : [tersenyum]

Lalu, kami memilih 'tempat' yang berbeda untuk bertemu lagi di lain suasana.

Monday, February 27, 2006

redup, murung, dan terpental

Di meja pinggir Jendela, minggu 26 Februari 2006

Betapa saya sering merindukan hujan di sini. Seperti pagi ini, saya menikmati ‘redup’ karena langit sedang meneteskan air ke bumi. Tapi, redup tidak berarti murung, redup adalah keinginan untuk membuat hati ‘dingin’, otak tidak meradang karena dibebani oleh ‘banyak’ ingatan yang hasus dilesakkan.

Hari ini, semua berjalan seperti biasa. Sarapan, baca dan menulis untuk blog. Saya tidak ingin menyebutnya rutinitas, lebih jauh intensitas. Pengulangan itu tidak mesti membuat kita bosan, apalagi merasa skeptis, karena hidup tak lebih dari mesin raksasa, yang kita adalah bagian komponen. Jika tidak mengikuti alurnya, kita terpental, berada di luar sistem, membuat gamang untuk memulai dari mana lagi mesti mengisi hari-hari.

Menulis artikel tidak hanya membuat otak bekerja, tapi rasa turut andil dalam merubah estetikasi kalimat. Keduanya tak perlu diceraiberaikan, mungkin prosentasenya aja yang tidak imbang. Ya, selalu ada ketegangan antara keduanya, tarik menarik dan tak perlu berada pada titik ekstrim.

Membaca Kembali

Sebelum tidur, saya sering membuka kembali buku Catatan sang Demonstran Gie. Dulu, semasa di S1, saya pernah membacanya dalam bentuk buku saku, dengan warna sampul hijau.

Saya rasa ada banyak 'kejujuran' karena ia ditulis sebagai milik pribadi, bukan milik publik. Menelaah buku yang telah usai konteksnya, saya hanya bisa meraih semangat yang berserak di mana-mana. Untuk itu, Gie mesti membayar mahal, perasaan sepi karena semakin sulit untuk dipahami dan menambah orang yang memusuhi.

Ternyata, saya juga naif karena masih berkutat dengan dunia yang mesti dilalui, dunia gemeretap karena tidak rela pembusukan terjadi, bahkan di sekitar kita sendiri. Usia beranjak tua, seharusnya pendulum tidak lagi bingung ke kanan dan ke kiri, hanya karena menjalankan tugasnya sebagai penanda 'jam' [hidup?] terus berjalan.

Sekarang, saya harus mengambil alih 'tuntutan' kerumunan menjadi 'keyakinan' pribadi yang tidak dapat diusik oleh orang lain. Inilah kesejatian yang perlu ditegakkan, meskipun pondasinya kadang rapuh.

Dimulai, Gelombang Sunyi oleh Taufik Ikram Jamil, saya mencoba mengisi 'masa luang' dengan menerapkan 'kajian' yang ditekuni, aplikasi!!! Ya, saya sedang bergelut dengan hermeneutik, yang dijadikan sandaran untuk memulai 'menyingkap' huruf, menjemput makna dan akhirnya melakukan tindakan.

Kata Georgia Warnke, kita kadang bisa membayangkan isi buku dari Judulnya. Biasanya, saya mendengar kata Gelombang, sesuatu yang muncul pertama adalah laut dan suara: ya, gelombang ombak dan radio saya berbunyi karena ada gelombang. Lalu, sunyi? Ah..kata ini hampir-hampir tidak hanya menjadi kata utama, tapi juga mendera kesendirian adalah suasana tanpa suara, kata bahkan bunyi. Pernahkah ini terjadi di tengah hiruk-pikuk manusia dan jejalan teknologi yang mengepung rumah kita? Mestikah aku lari ke hutan? Di sana masih ada suara mesin menggerus pohon, suara binatang ketakutan karena manusia membabat habis habitatnya, dan akhirnya saya tahu bahwa sunyi bisa hadir di hati, sambil menarik napas akhirnya sunyi itu nyata.

Sebagai sebuah roman [Taufik tidak suka kata Novel], buku ini akan menemani saya sebelum tidur, bahan agar mimpi saya tidak hanya kenyataan tapi juga memang betul-betul impian yang diharapkan menjadi kenyataan. Atau, inikah cara membunuh imsomnia yang kadang menghantui saya menjelang tidur? Tidak, saya susah tidur karena minum teh tarik yang mengandung kafein. Maka, jangan coba-coba mereguknya di waktu malam.

Saturday, February 25, 2006

bertemunya horizon

Saya mengucapkan takzim atas Mas Puji yang telah turun gunung untuk memberikan 'pandangan alternatif' tentang kemelut yang sedang melanda 'padepokan' PPI. Ini langkah elegan untuk meredakan ketegangan sekaligus mencerahkan karena diselipi dengan pelbagai teori, meskipun management, tapi kok "berbau" psikologi ya?

Dalam teori kebenaran korespondensi filsafat, sebuah pernyataan dianggap benar jika ia cocok dengan kenyataan. Saya rasa ini makin menguatkan argumentasi tentang cognitive dissonance yang dikutip Mas Puji.

Kerelaan Mas Puji, Pak Nasir, Rinza, WheezaCute, berbagi di sini dengan latar belakang yang berbeda makin mengkayakan sudut pandang dalam menilai 'posisi' kelompok yang sedang berseteru. Benar-benar, mereka telah menorehkan warna di ruang 'silaturahmi' ini sehingga suasana tidak melulu 'gelap'. Ada pelangi di PPI.

Tentu saja, setiap orang akan membawa premis [pernyataan] yang dibayangi oleh 'tradisi' [latar belakang pendidikan, lingkungan, ideologi] dalam menyoal premis orang lain. Dengan perbincangan ini, adalah mungkin untuk bertukar dan mungkin merubah sehingga memperoleh pemahaman yang lebih baik, lebih maju dan menyeluruh.

Selain itu, keterbukaan terhadap perbedaan ini akan makin mendekatkan kita karena dengan sendirinya kita akan mengerti 'gaya' dan 'suasana' psikologis orang lain. Berkah yang perlu disyukuri bukan?

Wednesday, February 15, 2006

PPI USM dan IPSAA USM

Yang Terhormat teman-teman Indonesia,

Secara pribadi, saya mempunyai keyakinan bahwa acapkali kita terjebak pada perbedaan yang tipis antara Bentuk (form) dan Isi (substance) dari sebuah realitas, sehingga masing-masing bertengkar tanpa menyadari bahwa apa yang diperebutkan adalah kesia-siaan.

Masih ada waktu untuk memikirkan kembali hubungan emosional sesama anak bangsa yang dirobek oleh kemarahan karena keengganan untuk saling memahami.
Meskipun tugas utama kita belajar, tapi tidak menutup pintu untuk menerapkan hasil pembacaan dalam ranah konkret, yaitu mengaplikasikan pengetahuan yang didapat dalam kenyataan keseharian: instrumen yang digunakan bisa PPI dan IPSAA. Lalu, kenapa masing-masing berusaha untuk meraih legitimasi dengan mengabaikan yang lain? Siapakah yang mempunyai otoritas untuk memberikan keleluasaan satu kelompok berkumpul dan mengeluarkan pendapat di sini? Alasan apakah yang bisa diajukan bahwa kebenaran ada di kami dan tidak mereka? saya yakin bahwa jawabannya pasti berbeda dan ini tidak menghalangi terciptanyaa kebersamaan untuk berbuat yang terbaik bagi kita semua di sini.
Hanya saja, pertikaian ini diharapkan tidak menghancurkan bangunan keindonesiaan, sebab harganya terlalu mahal untuk sesuatu yang remeh-temeh.

Saya tidak akan pernah mengusik keasyikan orang lain sebab mereka telah mempunyai dunianya sendiri. Lalu, biarkan saya juga menekuni dan menekuri dunia yang sama pahami. Jika Anda tidak memahami, maka sebenarnya anda memahami dalam bentuk yang berbeda. Semoga.

Ahmad Sahidah
Pendapat Pribadi