Posts

Showing posts from August, 2005

snow dogs

pagi muram karena dirundung hujan. Tapi, tidak rasa, yang senang karena harap bumi akan basah dan pohon hijau bisa mandi sepuasnya.

***
Menunggu hujan reda, saya melanjutkan kembali menonton film Snow Dogs. Teddy (Cuba Jr) telah memberi ilham pada saya bahwa hidup mesti dijalani dengan riang, apapun yang terjadi. Menurut saya, manusia sendiri yang memberikan tafsir dan makna terhadap peristiwa. Bukankah saraf sedih dan senang letaknya berdekatan? Maka, kitalah yang menentukan mana yang mau diaktifkan!

kopi robusta

Pukul 3 55 pagi dengan instrumentalia Kitaro [Caravansarinya benar-benar membuat pagi buta makin mencekam dan sepi, apalagi semaleman hujan telah membuai alam dengan dingin yang menusuk tulang hingga ke sumsumnya]

Minum kopi dan merokok membuat mata tak bisa dipejamkan. Asap seperti mengisi paru-paru untuk terus berdenyut. Jantung dipacu agar kantuk tidak datang. Aku mencoba untuk tidur dengan ditemani musik lembut dari Light and Easy FM [hampir tuning radio saya tidak beranjak dari gelombang ini]. Tapi sia-sia. Ini semua diawali dari sebuah pertemuan di Zubaidah dengan teman-teman, Ali, Arifan, Anisa, Una, Umam dan teman dekat, Dian. Aneh juga, setelah dari acara penutupan 17-an di Konsul, kami berencana untuk menghabiskan malam di warung kopi, tapi sayang hujan menghalangi nazar untuk menghirup aroma biji robusta. Untuk menebus kekecewaan, aku minum cappucino. Di sana, peristiwa datang silih berganti, dari canda, serius dan tertawa

Kami pun bubar, setelah hampir dua jaman bertukar cer…

komentar untuk teman, Ann

Agar blog saya tidak kosong melompong, maka paste saja komentar di blog teman. Mudah, bukan?

***
Acapkali, aku menghibur diri untuk membaca peristiwa dengan cara yag berbeda agar kenyataan tidak terlalu pahit. Kadang berhasil, sech? Tapi, kadang juga bikin dongkol, untungnya, masih bisa menahan diri.

pagi cerah

bangun lebih awal membuat nyaman. Semua bisa dinikmati. Tidak tergesa-gesa. Mandi, sarapan dan naik bus dijalani dengan santai. Hujan semalam masih terasa. Tanah basah. Rumput hijau bergeliat, tampak segar. Sayang, matahari malas bersinar, sehingga bumi tampak lesu. Ya, kita tidak akan pernah mendapat semuanya.

***

Di tengah sarapan, saya membaca kalimat Abu Hamdiyyah dalam bukunya The Qur'an: An Introduction, "Of Course one might have a big catch, a small one, a partial catch or an apparent or false catch; it all depends on the individual an his/her capacity." Dalam proses pencarian pemahaman beberapa aspek realitas melalui penelitian dan pengukuran, maka kita bisa mempunyai tangkapan besar atau kecil, asli atau palsu, tergantung kemampuan diri.
Mungkinkah, kegelisahan kita lahir karena kita hanya mendapat yang kecil dan bukan yang besar? menurut saya, ini berpulang pada kesungguhan, bukan kemampuan.

hujan sebentar

petang, mendung dan akhirnya hujan.

Setelah makan ama Dian, saya balik ke karel untuk menghabiskan waktu berlayar di dunia maya. Membuka jendela, saya melihat hujan mengguyur tanah kampus. Mahasiswa turun dari bus dengan berlarian. Tapi, ada yang berjalan pelan dengan payung di tangan. Mas Syahrul mencoba untuk mencairkan kebekuan dengan joke segar. Diapun pergi.

Bilik karel makin dingin, karena AC menerjang tubuh dengan kuat. Maklum baru diservis. Sementara hujan makin kecil, tak sederas sebelumnya. Dari PC, musik MP3 menemani pergulatan mencari kata dan makna pada buku, karya dan dunia maya, saya mencoba untuk menghela napas untuk kembali melakukan kritik-diri, karena selama ini abai.

hawa panas di karel

Ada nada kesal Che Mat dan Ann. Saya juga turut menimpali, meskipun mencoba untuk melihat persoalan dari sudut pandang lain. Siapa tahu ada makna.
Kalau kita yakin bahwa hidup ini adalah proses panjang, maka perseteruan ini adalah tahap yang mesti dilalui.
Memang, kata Gurr, bahwa adanya relative deprivation akan memunculkan solidaritas dan mendorong untuk memobilisasi kelompok menolak hegemoni. Saya merasakan ini telah muncul dalam perbincangan dan blogger.
Saya masih yakin kata Emmanuel Levinas, Teolog Katolik dan Ahli Falsafah, yang mengatakan bahwa keselamatan diri adalah menyelamatkan orang lain. Saya mencoba untuk melakukannya meskipun berat. Orang lain adalah wajah kita juga. Kalau, kita gagal menyelamatkan mereka, maka kita tidak akan menemukan keselamatan [salvation].
Sekali lagi [seperti komentar saya pada Che Mat], awal yang manis, jangan berakhir tragis!

memutar jarum jam

Telat bangun, membuat aku terburu-buru. Semalem, berbicara musik dengan teman Syam di paras 10 sampai larut, bilik Mas Dolok. Heran juga, ia mempunyai minat pada lagu jazz, bahkan menulis dan menyanyikan lagu ciptaannya, di antaranya lagu untuk ibu dan kekasihnya di Kualalumpur. Namanya juga lelaki, selalu saja tentang perempuan. Bahkan, kami sempat membawakan lagu dengan cabikan gitarnya seperti Bumiputera Rocker, Rahim Maroof, Ami. Semua dalam bingkai kegembiraan, melepas penat! Siapa sih yang suka jazz? ia juga menyebut James Imgram dan Barry Manilow, pentolan musik kulit hitam. Selera yang unik. Tidak populer, memang. Tapi, itu menghilangkan dahaganya akan musik, yang disebutnya berkualitas tinggi [aku tidak pasti, ini hanya penilaian].
Pagi yang cerah, saya berangkat ke kampus bersama Doni, tetangga bilik. Di bus, saya bertemu Pak Ilyas, Romi dan melihat Deo dari jauh berjalan. Terdengar Ini Rindu dari Farid Hardja. Seperti, di negeri sendiri saja. Bahkan, ketika sarapan di Kantin…

hari kemerdekaan

17 agustus 2005

jelang detik-detik proklamasi di konsul, aku tepekur menikmati instrumentalia lagu kebangsaan. Ada gairah yang membuncah, ingatan pada masa kecil di sekolah dasar dengan kemeriahan agustusan. Satu persatu lagu itu mengajak kembali pada peristiwa tentang heroisme, patriotisme dan nasionalisme, seperti digambarkan di dalam film-film perjuangan, Janur Kuning, Serangan Umum 11 Maret, G 30 S PKI, dan lain-lain.

Apa yang tersisa dari ingatan ini sekarang? Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya [katanya sech].

Malam yang Lelap

Aku bersyukur karena semalem tidur nyenyak. Mungkin, lelah yang melemahkan dan hujan yang turun membasahi atap dan halaman. Keluar dari hostel seakan menemukan keramahan karena udara segar dan tanah basah serta rumput dan pohon tampak berpendar karena sinar matahari. Ini semua karena air. Mungkin, ini juga yang memberi ilham Thales, Filsuf Yunani [Greece] untuk mengatakan bahwa awal dari kehidupan adalah air.

Seperti, yang sering dilakukan sebelumnya, aku membenamkan diri pada layar internet untuk membaca cerita tanah air. Tak ada yang baru. Semua tentang keperitan hidup. Namun, masih ada harap untuk keluar dari lubang ini.

Aku punya mimpi agar teman-teman di sini [PPI] meluangkan waktu sejenak untuk peduli dengan bencana kemanusiaan di negeri yang porak-poranda, karena hati telah mati.

Knowing Your Friends

Knowing Your Friends! [dikutip dari Mas Sartono, seorang psikolog]

Untuk teman-teman blogger, Jika berkenan, tolong di jawab pertanyaan ini!

1. Film terakhir yang kamu tonton di bioskop [pawagam]?
2. Buku apa yang sedang kamu baca sekarang?
3. Permainan karton favorit (contohnya: catur, ular tangga, monopoly, dsb)?
4. Majalah favorit?
5. Wangi - wangian [perfume] favorit?
6. Makanan yang menyenangkan?
7. Bunyi-bunyian favorit?[alat musik?]
8. Perasaan paling engga enak di dunia? [Mungkin, menunggu teman?]
9. Apa yang kamu pikirkan ketika kamu bangun tidur di pagi hari?
10. Tempat Fast Food favorit?
12. Terakhir jalan-jalan ke mana?
13. Kalo dapet satu juta dollar Amerika?
15. Bobo [tidur] ama stuffed animal (boneka) engga?
16. Badai, serem apa keren [cool]?
18. Minuman favorit?
19. Selesaikan kalimat ini, "Andaikan aku punya waktu, ....
20. Apakah kamu suka makan tangkai brocolli?
21. Kalau kamu bisa mewarnai rambutmu dengan warna apa aja, apa yang akan kamu pilih?
22. Kamu sudah pernah tinggal di b…

Meet the Fockers

Semalem, saya, dian, ali, annisa, husni makan di depan Makro. Jarum jam menunjuk angka 12, dan jarum panjang 6. Kami menghabiskan waktu hampir dua jam ngobrol apa saja yang terlintas di kepala. Mengalir. Semua membawa pikiran masing-masing ke dalam alur cerita. Di susul Manda, adiknya Doni, jiran bilik, menambah keramaian malam.

Saya tak ingat semua yang dilontarkan, tapi ada beberapa yang menempel di saraf. Maklum, malam beranjak pagi, sebenarnya, waktu istirahat. Justeru, sebaliknya kami ingin menghabiskan waktu agar tidak terbuang.

Pulang pukul dua setengah. Saya masih meneruskan cerita film yang terputus sebelumnya, Meet the Fockers, yang dibintangi oleh Robert de Nero, Dustin Hoffman, Ben Stifler dan lain-lain. Film konyol, malah berlebihan. Cukup untuk melupakan kesungguhan hidup yang dibekap formalitas. Basa-basi. Namun, rasa kantuk mengalahkan mata memelototi layar komputer. Tidur, saja. Sebab, hidup harus berjalan seperti biasa. Tak ada kuasa melawan waktu.

bukit bendera

rekaman peristiwa 6 Agustus 2005

Bersatulah para Buruh!
Saya adalah bagian dari mereka yang sedang diingatkan tentang jati-diri sebagai bangsa, Indonesia. Menyambut hari kemerdekaan, kami, para buruh mahasiswa, staf konsulat mendaki bukit Bendera, tempat tertinggi di pulau Pinang, Malaysia. Lebel yang melekat luruh dalam suasana kebersamaan.
Perjalanan selama hampir dua setengah jam cukup melelahkan, namun rasanya tertebus oleh kebaruan, perjalanan, canda dan semangat untuk sampai di puncak. di sepanjang jalan, monyet berkeliaran bebas. Sekali-kali, kami becanda dengan mereka dan mencoba melibatkan binatang itu, asal muasal manusia kata Charles Darwin, dalam senda-gurau. Kami menyapa monyet dengan menyebut salah satu dari kami, dan kami pun tergelak. Tidak marah. Lucu, kan? Padahal kita tidak suka dalam percakapan serius jika disebut sebagai binatang. Apa yang membedakan keseriusan dan permainan dalam hidup?
Untuk menghampiri puncak, kami tentu saja sering berhenti sejenak, agar tidak keh…

Kesyukuran dalam perbedaan

Pusat Racun Negara, 8 Agustus 2005

Teman-teman telah menyelesaikan kuliahnya di USM dan merayakannya bersama kami di dewan kuliah X. Banyak yang hadir dengan ragam yang berbeda. Saya dengan baju koko warna coklat. Ada tiga orang yang menggunakan baju dengan stail yang sama, sepertinya udah merancang sebelumnya. Annisa dan Puteri menggunakan kebaya, baju khas pesta? Una menggunakan kebaya dengan motif bordir warna putih. Lalu, ada apa dengan baju? Kaum cultural studies biasanya akan memahami orang dari apa yang dipakainya. Betul juga. Identitas kita sebenarnya bisa dilihat dari bajunya. Tapi, cukupkah hanya dari baju? tidak juga.

***

Dian, teman dekat, menyempatkan hadir selepas kuliah malam meskipun telat. Di sebelah ada Pak Syukri, Pak Hasan, Romi dan Baim. Di depan, adik-adik saya, karin, Gabril dan tentu banyak yang lain. Saya belum mengenal semua yang ada di ruang pertemuan itu, tapi mengenal wajah mereka. Pasti, perlu waktu untuk itu.

***

kata-kata sambutan tidak mampu mengungkap kede…

lelah

Kenapa takut lelah? karenanya saya bisa lelap dan mengumpulkan tenaga untuk hidup kembali. Menuai hasil dari lelah, sepertinya telah melakukan tugas sebagai manusia. Betapa berartinya kondisi fit, yang sebenarnya inilah yang telah menjadikan suasana hati membuncah. Kenapa dicari di tempat lain? Sesuatu yang tidak bersemayam pada diri? Semua ada pada diri. Hanya saja saya tak mau menyelaminya. Jika sehat dan pikiran jernih membuat warna daun pohon itu hijau dan tidak pucat, maka di sinilah saya telah menemukan makna kedekatan jiwa dengan alam. Kicau burung tidak hanya menambah riang, tapi juga mengajak berbagi dan ikan pun berlompatan seakan mengerti bahwa di sinilah kesejatian. Biawak, buaya kecil yang manis, selalu tampak lamban, tapi menyimpang ketenangan. Sepertinya, ia meyakinkan kita untuk tepekur dan tidak tergesa-gesa menyelesaikan hidup. Semua meraikan kegembiraan.

untuk teman yang lelah! dan tulisan ini selesai ketika ia hadir dan mengatakan telah sehat.

creative minority

pertemuan yang sering di bilik karel dan dunia maya [blogger], bagi saya, adalah dunia kecil, tapi berguna besar. Bahkan, di dunia yang terakhir ini, kami telah menancapkan pena otentik, tertulis, tentang pikiran dan selain pikiran.
Terus terang, saya banyak menemukan kebaruan dari goresan mereka di sini. Ada yang tak terungkap di dunia nyata. Meskipun, kata Anna, ada penapisan dalam mengungkap.
Kenapa Cik Zubir, tak lagi memberikan komentar? Sibuk dengan proposal atau ...ehm? Ruang P Nasir juga tak terlalu banyak, mungkin banyakan kasih komentar? bakat jadi komentator neh? Ann tampak berpacu dengan waktu untuk memenuhi halaman bloggernya dengan keresahan selama ini? Saya harap ia akan jadi katup dan katalisator dari geram yang memuncak.

Perpustakaan Hamzah Sendut

Di lantai 3, saya acapkali duduk membaca dan melihat lanskap yang menyedapkan mata. Terlihat kantor pos, dewan budaya dan lalu-lalang mahasiswa. Ada yang diam, bergerak dan tampak harmoni.

Ingin saya menikmati berlama-lama dan tak beranjak agar tuntas mencerap anugerah yang terhakis oleh rutinitas. Di sini, saya menghabiskan hari-hari untuk mencari bahan bacaan. Disertasi yang saya tulis membutuhkan banyak rujukan agar memungkinkan untuk memahami tema yang ditulis.

Di sini pula, saya juga membaca koran, menonton film di ruangan media dan tentu saja kadang tertidur di ruangan musik. Bahkan, saya juga meminjam novel, cerpen dan esei sastra untuk mengisi hari-hari dengan dunia kata.

cerita pendek

Pagi ini, saya membaca cerpen pedih, yang sengaja diselingi lagu sedih pula. Lengkap sudah. Hidup dan keperitan sebagai dua keping mata uang logam, tak terpisahkan. Lalu, aku menafsirkan pedih sebagai harus, agar bahagia menjadi asa, atau kenapa kesedihan itu tidak dilihat sebagai kebahagiaan dalam bentuk lain?
Kadang Andaian dan anggapan membantu kita mengatasi ketakmengertian mengapa kita diberikan dua pilihan perih dan kegembiraan? Mengerti itu adalah memahami dengan akalbudi. Kenapa kita tidak merasakan saja? Hidup adalah istana tempat kita mengurai kenangan.

Potret Retak: Malam Kebudayaan Dua Negara

25 Juli 2005 pukul 9-11 malam

Sebagai bekas santri (pelajar di pondok pesantren), saya diajarkan menjadi orang yang baik dengan menjalankan semua perintah Tuhan, yang sepi dari budaya, hasil ciptaan manusia. Dulu, ludruk adalah seni pertunjukkan yang diharamkan karena alur cerita yang menampilkan sosok perempuan yang dibawakan laki-laki serta kandungan cerita yang tidak mengusung cerita-cerita Islami. Sepertinya, manusia mampu melucuti yang profan dan sakral dalam daya cipta.
Malam itu, saya hadir di pagelaran budaya yang menampilkan khazanah Malaysia dan Indonesia dalam satu panggung. Dengan dihadiri mahasiswa dari dua negara ini, Malam Kebudayaan seakan mampu melupakan dan menafikan perseteruan yang sedang mendera negara bertetangga mengenai kepemilikan Ambalat.
Dari Indonesia, SMA Adi Warna, sebuah sekolah menengah swasta di Medan, menyuguhkan beberapa tarian, seperti Serampang Dua Belas, Rantak, Zafir, Zapin, Tak Tong Tong, Tari Payung dan Tari kreasi yang membawakan lagu Siti Nur…

selalu bening, tidak keruh

Intan bertanya, kenapa saya selalu ingin bening dan sepertinya emoh untuk keruh. Tidak! Biarlah bening itu menjadi mimpi saya dalam percakapan, tulisan dan angan.
Padahal, dalam keseharian saya selalu digelayuti oleh ketidakjernihan. Mungkin, karena realiti berada jauh di dasar, sehingga susah untuk mengailnya. Bahkan, mengejanya saja terpatah-patah.
Lalu, apa yang membuat aku hidup? Harap, meskipun cemas.