Posts

Showing posts from June, 2008

Jakarta di Hari Ke-3

Atrium Senin jam 3.16

Saya telah mengunjungi Perpustakaan Nasional Jakarta di Jalan Salemba No. 28. Karena turun di Salemba UI, saya harus berjalan beberapa meter untuk sampai ke surga buku ini. Di sana, saya langsung menuju pos satpam untuk menanyakan perpustakaan, dengan ramah bapak penjaga keamanan memberi jawab silahkan ke lobby. Meskipun bukan anggota, saya dengah mudah mendapakan informasi ruangan manuskrip lama, yaitu lantai lima.

Di sini, saya hanya mengisi buku tamu dan disambut dengan ramah oleh pegawainya. Tanpa banyak basa-basi, kerani memberikan daftar manuskrip dan menjelaskan bahwa naskah kuno bisa dicari di A. Tanpa banyak kesulitan saya menemukan A 101 dan A 108 yang berjudul tasawuf. Lalu, dengan hanya mengisi lembaran daftar naskah, saya akhirnya mendapatkan dua naskah kuno. Benar, ternyata lembaran Bahr al-Lahut ada di tengah halaman, yaitu 402-409. Sayangnya, ketika saya mau memfoto kopi, tinta habis. Malangnya, saya tidak bisa membawanya untuk difoto kopi di bawah.…

Menemukan Sosok Intelektual Sejati

Image
Sumber Wacana Suara Merdeka24 Juni 2008


Without an intellectual community there is no demand for change in the fundamental forms of society (Syed Hussein al-Attas, 1997: 52)

SAUDARA Ruslani pernah menulis artikel berjudul ”Intelektual, Pencerahan, dan Keadilan” (Suara Merdeka, 10 Mei 2008) , yang merupakan sebuah gagasan tepat dan perlu mendapatkan uraian lebih dalam untuk menemukan intelektual yang bisa mencerahkan dan memperjuangkan kepentingan khalayak.

Tapi, siapakah dia sebenarnya? Meskipun sudah menyinggungnya dalam ihwal intelektual, Ruslani masih menyisakan ruang yang perlu diisi. Jika kemudian Anies Rasyid Baswedan diganjar sebagai intelektual berpengaruh, apakah itu berlebihan?

Di milis organisasi mahasiswa Indonesia Malaysia, penganugerahan itu sempat memicu perdebatan karena di luar dugaan. Malah, ada seorang mahasiswa yang menyodorkan nama Rama Pratama atau Fahri Hamzah —yang sebelumnya mengharu-biru reformasi— sebagai sosok yang lebih berhak. Namun Suyatno, mahasiswa PhD da…

Minggu yang Melelahkan

kemarin, praktis saya bergulat dengan tumpukan barang-barang yang akan saya pindah ke rumah baru. Saya telah mengepak baju di tas besar, printer, menyisihkan kertas dan buku dalam tumpukan, sebagian ada yang sudah diikat. Malah sebagian saya bawa dalam perjalan untuk makan malam di Batu Uban, sate kambing, dan akan disimpan di kamar kawan karib, En Zailani asal Kelantan, di asrama internasional.
Siangnya, saya sebenarnya sudah makan di warung Jawa ini. Jam 11-an saya udah berangkat karena lapar mendera, setelah pagi harinya cuma diasup telor dan secangkir kopi panas. Celakanya, warung belum siap, Pak Darmo masih menyapu dan menata meja kursi. Namun, pelayan warung ini mempersilahkan saya menunggu dengan mengambilkan kursi dan meja. Saya pun duduk dengan melanjutkan membaca 24 Wajah Billy oleh Daniel Keyes.
Ibu warung menawarkan minum sambil menunggu pesanan siap, lalu saya jawab es teh. Pecel Lele, nasi, krupuk cukup membuat perut ini kencang. Tak lama setelah makan, hujan deras menggu…

Mencari Tempat agar Nyaman Menulis

Saya merasakan dingin AC di ruangan penelitian kampus tak nyaman untuk menulis. Apatah lagi perut dalam keadaan keroncongan, angin AC itu seperti menusuk tulang. Saya mencoba untuk menyelesaikan penulisan resensi buku Social Roots of Malay Left oleh Rustam A Sani. Sudah memasuk minggu ketiga, ulasan buku ini juga belum kelar. Padahal secara acak, saya telah membacanya dan memberi terang pada beberapa kalimat yang dirasa penting untuk menjawab apa faktor sosial dari pergerakan kaum Kiri Melayu?

Untuk menghilangkan dingin, saya berhenti sejenak dan keluar untuk menghangatkan badan dengan menikmati pepohonan di tengah gedung kampus. Lalu, kemudian keluar menyusuri lorong untuk menuju ruangan pembimbing, Dr Zailan Moris, yang tadi pagi mengirim pesan layanan singkat bahwa surat pengantar untuk Perpustakaan Nasional Jakarta telah selesai. Jam 1.30-an matahari bersinar terik, saya menghindarinya dengan berjalan di bawah pohon. Ternyata tidak hanya surat pengantar, dosen pakar filsafat Islam …

Tiga Hari Bersama Kawan Baik

Namanya Ismael S Wekke. Beberapa hari sebelum Konperensi Ilmu Sosial dan Humaniora di USM, 10-20 Juni 2008, kami bercakap di YM. Dia adalah salah satu pembicara dalam perhelatan ini. Lalu, saya menawarkan untuk menginap di kamar saya, karena teman sekamar telah pindah ke flat di luar kampus.

18 Juni pagi, dia mengirim sms bahwa kawan yang sedang mengambil PhD di UKM ini sedang mengikuti acara pembukaan di Dewan Tunku Syed Putra. Saya membalasnya, selamat datang dan nanti akan saya jemput. Kebetulah, pada masa itu, saya sedang bersiap-siap mengikuti Seri Sejarah Lisan yang akan dihelat di Taman Buku Penerbit USM.

Saya menjemputnya di depan Masjid setelah kawan kelahiran Sulawesi ini mengirim sms menunggu di sana. Kami pun pulang bersama ke asrama mahasiswa Restu, tempat saya tinggal. Namun, karena saya harus keluar mengantar kawan karib dari Kelantan ke Bandara, saya pamit keluar. Dengan En Azrin, saya menjemput Zailani dari asrama dan sebelumnya mampir ke Restoran Kayu (Warung Makan Ind…

Seri Sejarah Lisan V

Saya telah merencanakan hadir dalam acara ini satu hari sebelumnya dengan Stenly Djatah, mahasiswa PhD Filsafat. Kami berjanji untuk berangkat bareng jam 9-an dari kampus ke Taman Buku. Pada pagi harinya saya mengirimkan semacam undangan secara tersirat kepada teman-teman Indonesia untuk hadir ke acara ini.
Dengan berjalan kaki dari kampus, kami berdua berjalan ke Penerbit USM yang terletak di sebelah Pusat Bahasa. Di sana saya disambut oleh teman baik, Ainur Rahim. Malah, saya mengisi daftar hadir pada nomor pertama, termasuk juga Stenly karena dia mengisi daftar hadir yang sebelahnya. Kami pun duduk di meja tempat makan.
Tak lama kemudian, Dato' Ishak datang dengan mobil besar dan disambut oleh Prof Mohammad Salleh dan Salleh Yaapar. Kami pun masuk ke ruangan dan bersama Dr Arent Graft, dosen Sastra Bandingan dari Jerman, dan memilih deretan kursi nomor dua untuk peserta. Dua deretan kursi sofa di depannya khusus untuk petinggi atawa bangsawan. Aha, mengapa saya cemburu? Ya. Di ma…

Berbagi dengan Kawan

Kemarin, Shaik Mydin, kawan PhD dan sekaligus dosen Peradaban Islam USM, mengundang saya untuk diskusi di Restoran (warung makan) Zubaidah dalam kampus. Jam 8.30, katanya. Saya pun menyanggupinya. Agar tidak lupa, saya bahkan menulis dengan spidol besar di papan meja belajar. Kami akan membahas disertasi yang kebetulan sama-sama berada di bawah bimbingan Prof Madya Dr Zailan Moris, murid Seyyed Hossein Nasr ketika belajar di Universitas Washington, Amerika.

Jam 8.17, kawan baik ini menelepon, tapi sayangnya karena saya masih di atas motor, tak sempat menjawabnya. Lalu, saya mengirim pesan kalau baru sampai di Dewan Budaya, sebelah warung makan. Di sana, dia telah menunggu di depan pintu dan kemudian menyambut saya dengan senyum mengembang. Saya memesan nescafe panas dan mengambil dua kue tosa, semacam kroket. Kami berdua berbicara banyak tentang apa sebetulnya tugas kita sebagai seorang muslim? Katanya, kita gagal menangkap semangat dari pesan Nabi dan mengambil begitu saja arti harfia…

Warung Jawa di Kampung Malaysia

Tadi siang, saya memaksa diri untuk bangun dari tidur siang. Kelelahan yang mendera membuat saya mengurungkan hasrat bertandang ke ruangan komputer kampus. Saya melewati kampus setelah mengantarkan kawan karib, Fauzi Hussein, ke jalan besar. Lalu, saya menyusuri jalan menuju kamar teman karib lain yang menitipkan kunci. Di sana, saya merebahkan diri sebelum akhirnya lelap. Mungkin karena kecil, ruangan itu tak nyaman.

Jam 11.30-an, Mas Ayi menelepon menanyakan makan di mana? Lalu, saya menjawabanya di Pecel Lele, sebutan warung Jawa yang menjual aneka makanan Indonesia. Dengan mata masih redup, saya pun melanjutkan tidur. Jam 12.13 saya bangun dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Duh, air itu mampu hilangkan wajah lelah karena pagi tadi nonton bola piala Eropa.

Di bawah pohon tempat parkir, saya berhenti sejenak untuk mengirimkan sms ke Mas Ayi bahwa saya akan segera berangkat ke lokasi. Dia pun membalas sebentar lagi berangkat. Angin sepoi siang terik itu seakan membelai wajah da…

Tim Orange Menang

Jam 2 pagi, kawan karib saya menelepon, mengingatkan janji yang ditautkan semalam untuk menonton bola, Belanda melawan Perancis. Saya sekuat tenaga bangun dan berusaha melawan kantuk karena baru tidur jam 1-an. Ya, sebelumnya saya ngobrol dengan Haswin Muhammad, mahasiswa asal Indonesia yang revolusioner.

Dengan langkah pelan, saya mengusap muka dengan air. Lalu, kami berdua turun ke bawah dengan motor suzuki. Di restoran Khaleel, kursi penuh dengan penonton dan kami pun beranjak ke blok sebelahnya, restoran Istimewa. Permainan baru berlangsung 10 menitan. Hiruk pikuk dan tempik sorak menyelingi udara malam di warung makan itu. Di sana, saya melihat Abraham, teman Indonesia yang bekerja di Cititel dan di pojok sana Trissy dengan tiga teman bulenya juga sedang menikmati tontonan permainan bola.

Aroma Nescafe panas membantu saya tak larut dalam kantuk. Terus terang, meskipun tak segairah menonton Brazil bermain, saya berada di barisan Tim Negeri Kincir Angin itu. Jika akhirnya ini tim Ora…

Nonton Bola Piala Euro, untuk apa?

Saya sengaja memasang jam alarm pada angka 2 pagi di telepon genggam Motorolla C115 itu. Dengan niat bulat, saya ingin menikmati pertandingan antara dua tim tangguh, Belanda dan Italia. Saya menjagokan negeri kincir angin. Tidak tahu, mengapa? Gol pertama tak begitu meyakinkan karena off side. Kedua dan ketiga lumayan bagus, malah kedua yang dilesakkan oleh Wesley Sneijder luar biasa.

Untuk apa saya berlelah-lelah bangun? Paling tidak, saya bisa menunaikan shalat tahajud. Meskipun, ini bukan tujuan utama, tetapi saya merasakannya sebagai bagian dari mengembalikan kembali kebiasaan seperti di pondok, pagi adalah doa. Dengan berjalan kaki, saya menikmati langkah menelusuri jalan konblok dari flat ke restoran Khaleel. Dengan menenteng tas yang berisi dua buku, Fiqih Lintas Agama dan Social Roots of Malay Left, saya melihat jalanan masih sepi. Di rumah makan itu pun, tak banyak orang yang menanti pertandingan sepak bola terbesar kedua setelah Piala Dunia ini. Saya pun duduk dan membuka buk…

Membeli Buku di Queens Bay

Kemarin, kawan karib Melayu mengajak saya untuk menemaninya ke pusat perbelanjaan terbesar di Pulau Pinang, Queens Bay. Muzammil ingin mengirimkan uang ke saudaranya di kampung melalui MayBank Cabang Queens Bay. Jam 3 sore, kami berangkat dari kampus dalam keadaan langit masih gelap karena siang harinya hujan deras. Awan masih bergelayut manja. Di sana, kami memarkir mobil Hyundai Accent itu di bawah tanah, tidak seperti biasanya di lantai 5. Memang lebih mudah dan nyaman karena tidak harus berputar-putar.Di bank, kawan asal Kedah ini meminta dua slip, satu kiriman RM 500 (Rp 1420 000) dan satunya RM 100 (Rp 284 000). Uniknya di kantor ini gambar yang seharusnya dilekatkan Menteri Besar (gubernur) Pulau Pinang, Lim Guan Eng, kosong. Sementara di sebelahnya, ada raja dan permaisuri serta perdana menteri. Adakah ini karena pihak oposisi tidak dianggap cukup berarti oleh pemilik perusahaan?Baru kemudian, kami meluncur ke LG (lower ground) untuk membasahi keronkongan dengan minuman. Denga…

Hujan dan Keriangan

Hujan deras tiba-tiba mengguyur tanah. Saya menengok di balik tirai, memastikan kehadirannya. Wow, benar-benar deras. Agak jarang di pulau kecil ini, air tumpah dari langit sebanyak ini. Saya bilang kepada kawan Arab, ini berkah. Lalu, saya bergegas mengirim sms pada teman, Muzammil, membatalkan makan siang bersama di luar kampus. Saya kemudian mengambil payung yang diselipkan di celah antara tembok dan lemari besi di ruangan komputer fakultas (di sana disebut Pusat Pengajian atau School).

Dengan melipat celana ke atas lutut, saya berjalan keluar dan merasakan dingin karena hujan begitu deras. Sengaja saya memilih jalan di atas lorong kampus berkonblok agar tidak kecipratan air. Namun, ketika mau menyeberang ke warung makan India Muslim itu, Restoran Zubaidah, saya melihat air mengalir deras di aspal, pertanda selokan tak mampu menahan luapan air. Ups, tiga perempuan itu berjalan biasa menghampiri mobil, padahal pasti bajunya akan basah kuyup. Oh ya, mengapa mereka tak berlari? Adakah …

Kenaikan Bensin di Negeri Jiran

Memasuki hari ke-5 setelah pemerintah menaikkan harga bensin dari RM 1.92 (Rp 5452.8) menjadi RM 2.70 (Rp 7668), harga-harga barang keperluan yang saya beli belum naik. Namun, kawan saya yang belajar ekonomi menegaskan bahwa dalam minggu kedua kebutuhan sehari-hari akan merangkak naik. Kemarin, saya masih membayar RM 4.5 (Rp 12.780) untuk seporsi pecel lele di warung Jawa. Saya tak lagi memesan segelas es teh karena akan ditambah dengan RM 1 (Rp 2840). Lagi pula, pagi-pagi biasanya saya telah mengasup minuman yang bergula.

Selalu saja perbincangan saya tentang alasan kenaikan ini dengan kawan-kawan karib Melayu, Fauzi, Muzammil, Azrin, dan Rahman hanya menambah gelap mengapa pemerintah menaikkan harga bensin (di sana kadang disebut bahan api). Belum lagi rumor yang berkembang sehingga tak membuat saya mengerti justeru mati (kutu). Permintaan orang nomor satu di Malaysia, Abdullah Badawi, agar rakyatnya mengubah gaya hidup adalah sesuatu yang wajar. Mungkin, inilah kesempatan bagi merek…

Jilbab dan Islam Politik di Turki

Image
Ahmad Sahidah
Graduate Research Assistant dan Kandidat Doktor Kajian Peradaban Islam, Universitas Sains MalaysiaTayib Erdogan, perdana menteri Turki, meradang. Badan Yudikatif, Mahkamah Agung, makin galak dan mengancam akan membubarkan pertainya. Sang Presiden dianggap tidak becus karena mencoba membuat mahkamah tandingan. Selain itu, pemakaian jilbab di lembaga pemerintah dan perguruan tinggi dianggap telah melanggar konstitusi.Tanda pembubaran partai berhaluan Islam ditamatkan riwayatnya makin menguat. Terutama karena desakan seterunya, kaum sekuleris. Sebenarnya ini bermula makin terpojok dan tak populernya tentara dan partai sekuler. Kemenangan partai koalisi pemerintah sebanyak 403 dibandingkan 130 yang menentang usulan pencabutan larangan berjilbab melapangkan jalan bagi Muslimah memasuki universitas.Sebelumnya mereka menanggalkannya untuk menaati undang-undang agar bisa melanjutkan pendidikan. Bahkan, kata profesor saya, Dr Zailan Moris, seorang nenek pun harus melepaskan jilbab…

Mengunjungi Negeri Gajah Putih

Ibu Rosyidah, mahasiswi PhD Fakultas Farmasi, menelepon saya untuk turut serta bersama-sama para sahabatnya mengunjungi Negeri Gajah Putih. Saya pun berjanji untuk membicarakannya dengan Mas Tauran karena dia juga diminta kesedianya untuk pergi ke negara tetangga. Apalagi yang terakhir pernah menikmati sinar matahari Hat Yai, salah satu propinsi negara yang bergolak ini. Sayangnya, pada malam hari sebelum kami berangkat ke Thailand, Mas Tauran tidak bersedia karena harus mengerjalan hal lain. Jam 3.50 pagi, saya dengan Pak Suryanto pergi ke Khaleel, setelah sebelumnya, mandi di pagi buta, menunggu jemputan teman-teman yang sedang dalam perjalanan. Akhirnya, kami pun berangkat menembus kegelapan malam dengan mobil Kijang (di Malaysia disebut Unser) dan mengisi bensin sebelumnya di POM Petronas dan merupakan perayaan pertama terhadap harga baru, dari RM 1.92 per liter menjadi RM 2.70. Pak Afrizal, doktor baru dari Indonesia, membawa sang kijang dengan kecepatan sedang.
Kami sampai di per…

Berbagi Sejarah antara Serumpun

Image
Melihat berita New Straits Times tentang manuskrip bertajuk Local history, but viewed from afar (2/6/08), saya segera memfoto kopi untuk dijadikan bahan penelitian yang sedang dijalankan dan sekarang memasuki bulan ke-9. Saya telah menyerahkan dua laporan dan untuk laporan ke tiga, saya ingin memberikan satu makalah yang lebih utuh tentang naskah manuskrip Bahr al-Lahut yang diperkirakan ditulis pada abad ke-12 oleh 'Abdullah 'Arif.

Menurut Siti Mariani SM Omar, direktur pelayanan Malaysiana Perpustakaan Nasional Malaysia, bahwa perpustakaan ini terlibat dalam pengambilalihan manuskrip sejak tahun 1984. Biasanya, pihak pustakawan menilai dokumen, lalu melakukan penawaran harga. Baru-baru ini, mereka membeli sebuah naskah al-Qur'an abad ke-19 dari Australia seharga RM 1,070 (sekitar Rp 3.038.800 dengan kurs rupiah di Money Changer Bukit Jambul RM 1=Rp 2840).
Tambahnya lagi, dia telah memperoleh banyak manuskrip dari Srilanka, Aceh, Thailand dan di pedalaman Kelantan dan Tren…

Menengok Cerita dalam Gambar

Image
Tak dinyana, saya membuka pendrive dan menemukan gambar ini. Anda pasti susah membacanya jika saya hanya menyodorkan gambar begitu saja, bukan? Saya pun lupa, apa yang sedang saya lakukan? Gambar ketiga dari kiri adalah saya dengan tangan di lekatkan pada dada kiri sambil tersenyum. Tak semua melihat lensa kamera.

Demikian pula, kalau diperhatikan di pojok kanan ada tulisan Cina, siapa pun akan bingung? Di manakah gambar ini diambil? Apalagi tembok itu sangat tinggi dan terbuat dari marmer, demikian pula lantainya. Mungkin, kalau orang yang pernah sampai ke tempat ini akan segera bisa menebaknya.

Ya, kenangan ini manis. Karena kami berlima diundang teman dari kawan baik saya untuk makan di restoran Hotel Equatorial Pulau Pinang. Di sana pun, kami berdiskusi banyak hal. Tak perlu diterakan di sini. Saya memesan daging steak dan segelas cappucino. Sesudah itu, kami pun diajak menikmati buah durian di pinggir jalan menuju Puncak Bukit Balik Pulau. Hampir tak terhitung, berapa biji yang tel…

Dosa Saya kepada Kucing Coklat Itu

Tadi pagi, sesudah subuh saya menemukan kucing coklat itu kembali. Dia tampak merayu untuk diajak kembali ke kamar flat. Lalu, saya mencoba menahan pintu lift (bahasa Malaysia pengangkat) agar ia turut serta ke lantai sembilan. Ups, saya ingat bahwa saya sedang menerima tamu dari Medan, yang mungkin tak berkenan dengan kehadiran binatang. Saya berlari kecil dan menutup pintu kamar. Sebelumnya, saya pertama kali berteman dengan kucing ini beberapa hari yang lalu. Tiba-tiba, ia mengikuti langkah saya dari lantai bawah. Setibanya di pintu, dia bergeming, tak beranjak masuk. Dengan mengelusnya, kucing itu kemudian tampak tenang dan berkenan masuk ke kamar. Saya membiarkannya dia bermain, melompat dan naik ke meja belajar mencari cahaya di balik jendela. Akhirnya, dia keluar bersama, karena saya mempunyai urusan di luar. Dua hari yang lalu, dia tiba-tiba telah ada di depan pintu. Saya terkejut ternyata daya ingat kucing coklat ini yang luar biasa. Saya memberi sinyal agar dia masuk, tetapi…