Friday, June 27, 2008

Jakarta di Hari Ke-3

Atrium Senin jam 3.16

Saya telah mengunjungi Perpustakaan Nasional Jakarta di Jalan Salemba No. 28. Karena turun di Salemba UI, saya harus berjalan beberapa meter untuk sampai ke surga buku ini. Di sana, saya langsung menuju pos satpam untuk menanyakan perpustakaan, dengan ramah bapak penjaga keamanan memberi jawab silahkan ke lobby. Meskipun bukan anggota, saya dengah mudah mendapakan informasi ruangan manuskrip lama, yaitu lantai lima.

Di sini, saya hanya mengisi buku tamu dan disambut dengan ramah oleh pegawainya. Tanpa banyak basa-basi, kerani memberikan daftar manuskrip dan menjelaskan bahwa naskah kuno bisa dicari di A. Tanpa banyak kesulitan saya menemukan A 101 dan A 108 yang berjudul tasawuf. Lalu, dengan hanya mengisi lembaran daftar naskah, saya akhirnya mendapatkan dua naskah kuno. Benar, ternyata lembaran Bahr al-Lahut ada di tengah halaman, yaitu 402-409. Sayangnya, ketika saya mau memfoto kopi, tinta habis. Malangnya, saya tidak bisa membawanya untuk difoto kopi di bawah. Lebih malang lagi, kepastian untuk mendapatkan salinan tak mudah, karena tinta itu hanya diperoleh dari rekanan. Padahal, saya bilang bahwa saya ada di Jakarta hanya seminggu.

Namun, saya tak perlu bimbang. Paling tidak, saya telah mengenal fisik naskah yang sudah mulai menguning dan hurufnya mengabur. Malah halaman judul telah berlubang, sehingga tak bisa dibaca sepenuhnya. Kemudian, saya harus beranjak karena mesti menunaikan shalat Jum'at di gedung pertemuan PNRI ini. Di sana saya mengambil wudhu di kran dan menikmati bacaan yang diambil dari kotak sumbang, Forum Ahlussunah. Tak perlu berkening, saya telah mengerti paham yagn dianut oleh buletin Jumat ini, karena pada halaman paragraf telah dibuka dengan pernyataan tokoh agama Saudi Arabia, Abdullah bin Baz.

Tuesday, June 24, 2008

Menemukan Sosok Intelektual Sejati


Sumber Wacana Suara Merdeka 24 Juni 2008


Without an intellectual community there is no demand for change in the fundamental forms of society (Syed Hussein al-Attas, 1997: 52)

SAUDARA Ruslani pernah menulis artikel berjudul ”Intelektual, Pencerahan, dan Keadilan” (Suara Merdeka, 10 Mei 2008) , yang merupakan sebuah gagasan tepat dan perlu mendapatkan uraian lebih dalam untuk menemukan intelektual yang bisa mencerahkan dan memperjuangkan kepentingan khalayak.

Tapi, siapakah dia sebenarnya? Meskipun sudah menyinggungnya dalam ihwal intelektual, Ruslani masih menyisakan ruang yang perlu diisi. Jika kemudian Anies Rasyid Baswedan diganjar sebagai intelektual berpengaruh, apakah itu berlebihan?

Di milis organisasi mahasiswa Indonesia Malaysia, penganugerahan itu sempat memicu perdebatan karena di luar dugaan. Malah, ada seorang mahasiswa yang menyodorkan nama Rama Pratama atau Fahri Hamzah —yang sebelumnya mengharu-biru reformasi— sebagai sosok yang lebih berhak. Namun Suyatno, mahasiswa PhD dalam ilmu politik, menyebutnya dagelan. Sebagian besar mahasiswa malah tak mengenal, siapakah Anies Rasyid Baswedan itu.

Sementara itu Ronald Rulindo menyebut Amien Rais lebih sesuai. Adapun Mas Tauran menyebutnya semua itu tak lebih sebagai cara jurnal bersangkutan mencari pasar di dunia ketiga. Saya sendiri tak mau terjebak pada isu siapakah yang lebih pantas, tetapi ingin lebih jauh mengurai siapakah sejatinya intelektual itu?

Memang Ruslani telah membicarakannya dengan memesona pada subjudul ihwal intelektual, yang merujuk kepada bacaan standar tentang dunia intelektual, seperti karya Antonio Gramscy, Julien Benda, Edward Said, dan Noam Chomsky. Namun, sebuah karya yang lebih lengkap dan mendalam bisa digunakan untuk melengkapi hal ihwal intelektual, yaitu karya Edward Shills, The Intellectual and the Powers and Other Essays (1972).

Menurut Shills, intelektual adalah orang yang memahami nilai-nilai tertinggi (ultimate values), baik yang bersifat kognitif maupun estetik, demikian pula hasratnya akan kesepaduan. Dia mempunyai kepekaan terhadap hal yang suci (the sacred), dan mencari serta hal yang acapkali berhubungan dengan simbol-simbol keseharian bukan konkret dan referensinya jauh melampaui ruang dan waktu. Bagi saya pribadi, Arif Budiman memenuhi kriteria itu; betapa pun dia tidak mendapatkan penghargaan yang dianugerahkan kepada Anies Rasyid Baswedan.

Intelektual Indonesia

Persoalan intelektual biasanya dibahas secara mendalam di dalam disiplin history of Ideas atau sosiologi pengetahuan. Jika Ruslani mencoba menyederhanakan hanya sekadar definisi yang ideal dan realistik, sebenarnya kenyataannya lebih rumit dibandingkan dengan yang telah diungkapkan oleh Julien Benda dan An-tonio Gramscy. Bagaimanapun dua hal yang terakhir itu selalu dikutip dalam perbincangan ihwal intelektual.

Intelektual tidak saja mengurus gagasan, tetapi juga menghidupi dirinya. Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan apakah kaum intelektual di Indonesia bisa menghidupi dirinya? Boleh dikatakan mereka betul-betul ditantang oleh keadaan yang tidak bersahabat dengan kerja-kerja intelektual. Uang lebih banyak mengalir pada usaha untuk memenangkan ”politik” dan ekonomi, dan akhirnya menyandera kewarasan nurani dan akal budi.

Jika merujuk kepada Edwards Shills, intelektual itu boleh jadi adalah wartawan, dosen, seniman, dan siapa pun yang di dalam konteks tersebut tak bisa hidup layak karena harus berjibaku dengan pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari.

Akankah mereka mampu melihat persoalan secara jernih? Tidakkah mereka riskan untuk menjadi partisan? Agak susah menemukan intelektual seperti Arif Budiman yang masih menjaga kemandirian dan kesederhanaan di tengah godaan bisa dibajak dan disuap?

Ignace Lepp dalam bukunya The Art of being an Intellectual (1968: 9) menyatakan, The true intellectual is one who goes far beyond the limits of his specialty. Itu adalah pernyataan yang paling tandas tentang sosok intelektual.

Ia mengandaikan orang yang tidak terjebak pada keahliannya sendiri, tetapi mencoba menengok perspektif lain agar bisa mendalami perincian sebuah masalah. Selain itu, juga mengandaikan pemahaman interdisipliner terhadap persoalan masyarakat.

Keterbukaan pada disiplin lain sekaligus mensyaratkan sebuah tim yang terdiri atas berbagai keahlian dalam melihat satu masalah. Contohnya, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak hanya dilihat dari sisi perhitungan ekonomi, tetapi juga biaya sosial (social cost) yang justru kadang luput dari perhatian dan berdampak sangat luas dalam kehidupan masyarakat kebanyakan. Pendek kata, sosiologi, antropologi, politik, agama adalah sudut pandang yang juga dimanfaatkan untuk mengantisipasi efek domino yang mengakibatkan kesulitan hidup masyarakat.

Tugas Mulia

Dalam kerangka itulah, kebersamaan mereka yang mengaku intelektual dari pelbagai disiplin untuk tak lagi larut dalam ingar bingar media, tetapi justru melakukan tindakan konkret yang mencerminkan pemikiran bersama. Jika pilot project itu tidak berhasil, maka mereka duduk kembali untuk mengevaluasi keberkaitan teori dan tindakan. Singkatnya, ada usaha berkelanjutan dalam menyelaraskan buku teks dan dunia realitas. Seyogyanya, keberhasilan Mohammad Yunus dengan Gramen Bank-nya di Bangladesh memberikan inspirasi kelompok intelektual, bagaimana komitmen dan kehendak mewujudkan ide dalam tataran konkret bisa dilakukan.

Sayangnya, banyak intelektual yang aktif di organisasi keagamaan di Tanah Air lebih sibuk dengan mengusung ide-ide abstrak tentang pembelaan terhadap manusia, seperti pluralisme, nilai-nilai universal, dan perdamaian dunia. Seharusnya, masalah kemiskinan mendapatkan prioritas utama, karena kata Mahatma Gandhi, ”kemiskinan adalah kekerasan paling buruk”.

Tidak mungkin menegakkan nilai-nilai mulia yang mereka perjuangkan tanpa lebih dahulu memprioritaskan kehidupan masyarakat yang layak. Berkaitan dengan fungsi intelektual, hanya ada satu yang disepakati, yaitu sosial.

Seperti dikatakan oleh Talcott Parson, bahwa apa yang diharapkan dari intelektual adalah lebih memberikan perhatian kepada norma dan makna pola sistem simbolik dibandingkan dengan tindakan atau kepentingan dari sebuah sistem sosial agen yang ada, baik individu maupun kolektif.

Sayangnya, banyak kita temukan bahwa mereka yang secara formal berhak menyandang gelar intelektual menggadaikan kedudukannya untuk raihan sesat, baik materi maupun kedudukan.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita mendorong kaum cendekiawan, seperti Arif Budiman, untuk bersuara agar kaum cerdik pandai memikirkan kembali posisinya dalam pertarungan perebutan kekuasaan yang semakin kasar. Dengan sendirinya, kekasaran itu telah menyuburkan wacana yang berkembang di masyarakat dangkal dan karikatif.

Apatah lagi, jaringan intelektual yang selama ini mewarnai perebutan pemaknaan berafiliasi pada ideologi tertentu. Akhirnya, seperti apa yang dikatakan Virginia Held dalam Independence Intellectuals (1983), kita memerlukan intelektual yang menjaga nuraninya, meskipun ia harus menghidupi dirinya sebagai sopir taksi.(68)

–– Ahmad Sahidah, kandidat doktor Departemen Filsafat dan Peradaban, Universitas Sains Malaysia.

Monday, June 23, 2008

Minggu yang Melelahkan

kemarin, praktis saya bergulat dengan tumpukan barang-barang yang akan saya pindah ke rumah baru. Saya telah mengepak baju di tas besar, printer, menyisihkan kertas dan buku dalam tumpukan, sebagian ada yang sudah diikat. Malah sebagian saya bawa dalam perjalan untuk makan malam di Batu Uban, sate kambing, dan akan disimpan di kamar kawan karib, En Zailani asal Kelantan, di asrama internasional.


Siangnya, saya sebenarnya sudah makan di warung Jawa ini. Jam 11-an saya udah berangkat karena lapar mendera, setelah pagi harinya cuma diasup telor dan secangkir kopi panas. Celakanya, warung belum siap, Pak Darmo masih menyapu dan menata meja kursi. Namun, pelayan warung ini mempersilahkan saya menunggu dengan mengambilkan kursi dan meja. Saya pun duduk dengan melanjutkan membaca 24 Wajah Billy oleh Daniel Keyes.


Ibu warung menawarkan minum sambil menunggu pesanan siap, lalu saya jawab es teh. Pecel Lele, nasi, krupuk cukup membuat perut ini kencang. Tak lama setelah makan, hujan deras mengguyur. Untuk pertama kalinya, saya melihat air mengalir deras di depan pertigaan warung. Pemandangan yang mendatangkan keasyikan tersendiri. Mungkin karena kenyang, mata terasa berat. Saya pun terkantuk-kantuk dan akhirnya merebahkan kepala di meja. Hanya sebentar 'tertidur' saya terbangun, mungkin karena merasa tak nyaman 'lelap' di tempat umum. Hujan reda. Saya pun meneruskan membaca novel di atas.


Pulang dari Warung, saya mampir ke kampus. Meski hari Minggu, ada beberapa kawan Iran, di antaranya Mustafa dan Kazem, bertandang ke ruangan komputer tempat mahasiswa PhD dan master belajar, berselancar, dan tentu saja membual. Niat untuk menyelesaikan ulasan buku tak kesampaian, saya keluar dan ingin segera menyelesaikan pengepakan barang-barang yang masih belum kelar. Agar nanti saya sekembalinya dari Jakarta tidak direpotkan dengan pemindahan barang, saya menitipkan sebagian ke teman, Fauzi, yaitu satu tas besar dan pencetak (printer) Canon. Sementara pencetak HP saya titipkan ke Stenly.


Oh ya, semalam saya menukarkan uang receh RM 0,10 ke Ibu penjual sejumlah RM 50 (kira-kira Rp 140 ribu). Makan malam dengan kawan baik, Stenly Djatah, biasanya selalu diselingi dengan diskusi. Topik FPI dan Gus Dur adalah sebagian tema yang kami bahas. Teman yang sedang menulis pemikiran John Stuard Mill, Filsuf Utilitarian, memesan pecel ayam dan teh jerus panas. Lalu, kami pulang, tetapi saya mampir ke kamar kawan karib untuk meletakkan buku.

Saturday, June 21, 2008

Mencari Tempat agar Nyaman Menulis

Saya merasakan dingin AC di ruangan penelitian kampus tak nyaman untuk menulis. Apatah lagi perut dalam keadaan keroncongan, angin AC itu seperti menusuk tulang. Saya mencoba untuk menyelesaikan penulisan resensi buku Social Roots of Malay Left oleh Rustam A Sani. Sudah memasuk minggu ketiga, ulasan buku ini juga belum kelar. Padahal secara acak, saya telah membacanya dan memberi terang pada beberapa kalimat yang dirasa penting untuk menjawab apa faktor sosial dari pergerakan kaum Kiri Melayu?

Untuk menghilangkan dingin, saya berhenti sejenak dan keluar untuk menghangatkan badan dengan menikmati pepohonan di tengah gedung kampus. Lalu, kemudian keluar menyusuri lorong untuk menuju ruangan pembimbing, Dr Zailan Moris, yang tadi pagi mengirim pesan layanan singkat bahwa surat pengantar untuk Perpustakaan Nasional Jakarta telah selesai. Jam 1.30-an matahari bersinar terik, saya menghindarinya dengan berjalan di bawah pohon. Ternyata tidak hanya surat pengantar, dosen pakar filsafat Islam ini juga menyelipkan surat dari ISEAS yang dikirimkan kepada saya dengan alamat kampus dan dicckan ke beliau. Ups, ia adalah surat tagihan salinan disertasi yang pernah saya janjikan ketika mengisi formulir di perpustakaan Universitas Nasional Singapura bulan Mei 2006.

Kembali ke ruangan, saya masih merasakan tidak nyaman. Ya, ini karena perut ingin makan. Padahal saya tadi sarapan jam 11-an di terminal. Mungkin, ia terbiasa dengan jam tubuh yang telah dibiasakan sebelumnya, bukan berdasarkan durasi waktu terakhir diasup. Saya pun mematikan komputer dan keluar ruangan menuju parkir. Aha, makan siang ini cukup mie Sedap dan telor rebus ditambah kopi Indocafe dicampur coffeemate. Karena telah kenyang, saya harus menyelesaikan tugas penulisan ulasan buku hari ini. Semoga.

Pesona buku Rustam A Sani telah membetot perhatian saya. Tentu, saya harus menebusnya dengan menulis resensinya dan menjadikannya bagian dari koleksi buku penting dalam memahami lebih jauh kajian Politik Malaysia. Tentu, saya juga harus mempertimbangkan karya lain, seperti Abdul Rashid Moten, Politics and Government in Malaysia sebagai bandingan untuk mengetahui isu baru dalam perpolitikan negara yang menyatakan diri sebagai negara maju pada tahun 2020.

Tiga Hari Bersama Kawan Baik

Namanya Ismael S Wekke. Beberapa hari sebelum Konperensi Ilmu Sosial dan Humaniora di USM, 10-20 Juni 2008, kami bercakap di YM. Dia adalah salah satu pembicara dalam perhelatan ini. Lalu, saya menawarkan untuk menginap di kamar saya, karena teman sekamar telah pindah ke flat di luar kampus.

18 Juni pagi, dia mengirim sms bahwa kawan yang sedang mengambil PhD di UKM ini sedang mengikuti acara pembukaan di Dewan Tunku Syed Putra. Saya membalasnya, selamat datang dan nanti akan saya jemput. Kebetulah, pada masa itu, saya sedang bersiap-siap mengikuti Seri Sejarah Lisan yang akan dihelat di Taman Buku Penerbit USM.

Saya menjemputnya di depan Masjid setelah kawan kelahiran Sulawesi ini mengirim sms menunggu di sana. Kami pun pulang bersama ke asrama mahasiswa Restu, tempat saya tinggal. Namun, karena saya harus keluar mengantar kawan karib dari Kelantan ke Bandara, saya pamit keluar. Dengan En Azrin, saya menjemput Zailani dari asrama dan sebelumnya mampir ke Restoran Kayu (Warung Makan India Muslim). Di sana, saya memesan kari daging kambing, nasi dan segelas milo.

Hari kedua, saya menjemput Ismael di DKU (Dewan Kuliah U). Setelah sampai di asrama, kami pun bercerita ringan. Baru menjelang maghrib, kami mandi dan sama-sama berjamaah di surau lantai bawah. Karena harus menghadiri acara makan malam dalam acara tersebut, kami tak sempat makam malam bersama. Baru, malam ketiga, kami melakukannya di Tomyam Berkat, yang lebih dikenal dengan Romlah oleh mahasiswa asal Indonesia. Suasana tambah marak karena Stenly turut merayakannya. Cukup lama kami berdiskusi, untuk tidak menyebutnya berbual. Malah, inilah untuk pertama kalinya, saya cukup lama duduk di sini karena menikmati film Catwoman di TV 3. Film yang dibintangi bintang oscar, Halle Barry, ini menjadi tontonan ringan. Dialognya memancing otak untuk mengurainya, kamu harus mengerti kamu sendiri, maka akan bebas. Kebebasan itu adalah kekuasaan.

Hari ketiga, saya mengantarkannya ke Terminal Sungai Nibong dan sempat makan di warung lantai dua. Di sana, kami berbincang banyak hal, dari isu ringan hingga berat. Akhirnya, 11.30, dia harus bergegas karena bis Konsortium Penang-KL akan berangkat. Saya menitipkan salam untuk kawan lain, Jafar Lutfi yang kebetulan juga kawan karibnya.

Thursday, June 19, 2008

Seri Sejarah Lisan V

Saya telah merencanakan hadir dalam acara ini satu hari sebelumnya dengan Stenly Djatah, mahasiswa PhD Filsafat. Kami berjanji untuk berangkat bareng jam 9-an dari kampus ke Taman Buku. Pada pagi harinya saya mengirimkan semacam undangan secara tersirat kepada teman-teman Indonesia untuk hadir ke acara ini.


Dengan berjalan kaki dari kampus, kami berdua berjalan ke Penerbit USM yang terletak di sebelah Pusat Bahasa. Di sana saya disambut oleh teman baik, Ainur Rahim. Malah, saya mengisi daftar hadir pada nomor pertama, termasuk juga Stenly karena dia mengisi daftar hadir yang sebelahnya. Kami pun duduk di meja tempat makan.


Tak lama kemudian, Dato' Ishak datang dengan mobil besar dan disambut oleh Prof Mohammad Salleh dan Salleh Yaapar. Kami pun masuk ke ruangan dan bersama Dr Arent Graft, dosen Sastra Bandingan dari Jerman, dan memilih deretan kursi nomor dua untuk peserta. Dua deretan kursi sofa di depannya khusus untuk petinggi atawa bangsawan. Aha, mengapa saya cemburu? Ya. Di mana-mana kita akan menemukan aturan seperti ini. Kursi kasar untuk peserta, sementara yang terbuat dari bahan lembut untuk orang penting. Masihkan kita akan berbicara kesetaraan? Belum lagi, saya harus mendengarkan ceramah panjang dari Dato'. Duh, sebuah drama yang selalu berulang.


Saya mencatat beberapa sejarah Dato' Ishak selama menjabat sebagai Naib Canselor (setingkat rektor), baik berkaitan dengan masalah akademik, pembangunan fisik, mahasiswa dan isu-isu lain yang berkaitan. Tampak, beliau yang asli kelahiran Pulau Pinang mengungkapkan kekesalannya karena politik pada masanya banyak merecoki kepemimpinannya. Sikapnya yang memegang teguh prinsip kadang berhadapan kehendak politik yang menyebalkan.


Sayangnya, memasuki sesi tanya jawab, saya menerima sms dari teman karib Melayu yang baru datang dari Indonesia. Dengan tergesa, saya pamit pada Stenly untuk pulang. Dua hal penting terlewatkan, bertanya dan makan siang gratis. Tapi, teman, bagi saya, adalah jauh lebih penting. Sayangnya, beberapa menit telepon genggamnya unreachable. Terpaksa saya membelokkan kendaraan ke Warung Jawa. Kebetulan di sana saya berjumpa dengan Aristotulus, teman baik yang lain, yang sedang makan siang dengan temannya. Lalu, saya berkenalan dengan Yunanto, mahasiswa baru asal Indonesia yang mengambil Ilmu Politik. Katanya, dia mengajar di Universitas Indonesia. Tak disangka, ternyata kenal juga dengan teman saya, Hilman Latif yang sama-sama pernah mendapatkan beasiswa Fulbright.


Selanjutnya, saya memesan es teh dan ngobrol ngalor ngidur (ke sana ke mari) tentang perkuliahan, pergerakan dan politik. Tiba-tiba, saya ditelepon En Zailani kalau kawan karib saya ini sudah sampai ke Asrama Mahasiswa Internasional. Saya kemudian mengambil es teh yang telah dipesan tadi untuk dibungkus dan sekaligus pesanan ayam pecel juga dibungkus. Dengan terburu-buru, saya pamit pulang duluan.


Sesampai di kamarnya, saya menemukan banyak oleh-oleh dari Indonesia, salak dan bika Ambon. Sambil menunggu dia ke kamar mandi, saya melihat isu Gus Dur dan Habib Rizieq (you tube). Memang betul, ketua FPI ini galak dan garang. Nadanya tak pernah rendah, selalu tinggi menyerang. Duh, beginikah Islam damai itu?

Tuesday, June 17, 2008

Berbagi dengan Kawan

Kemarin, Shaik Mydin, kawan PhD dan sekaligus dosen Peradaban Islam USM, mengundang saya untuk diskusi di Restoran (warung makan) Zubaidah dalam kampus. Jam 8.30, katanya. Saya pun menyanggupinya. Agar tidak lupa, saya bahkan menulis dengan spidol besar di papan meja belajar. Kami akan membahas disertasi yang kebetulan sama-sama berada di bawah bimbingan Prof Madya Dr Zailan Moris, murid Seyyed Hossein Nasr ketika belajar di Universitas Washington, Amerika.

Jam 8.17, kawan baik ini menelepon, tapi sayangnya karena saya masih di atas motor, tak sempat menjawabnya. Lalu, saya mengirim pesan kalau baru sampai di Dewan Budaya, sebelah warung makan. Di sana, dia telah menunggu di depan pintu dan kemudian menyambut saya dengan senyum mengembang. Saya memesan nescafe panas dan mengambil dua kue tosa, semacam kroket. Kami berdua berbicara banyak tentang apa sebetulnya tugas kita sebagai seorang muslim? Katanya, kita gagal menangkap semangat dari pesan Nabi dan mengambil begitu saja arti harfiah dari sabdanya. Satu pernyataan yang jarang saya dengar di masjid, ceramah dan koran di sini.

Setelah sarapan, kami pun beranjak ke ruangan dosen Pusat Pengajian Jarak Jauh tempat beliau mengajar. Di sana pun, kami berdiskusi tentang tesis yang dia telah rampungkan berkaitan dengan penghayatan keagamaan siswa SMKA (Sekolah Menengah Keagamaan Agama) di Pulau Pinang. Dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, beliau ingin mengetahui hambatan (dalam bahasa disertasinya penghalang) siswa menghayati agama. Salah satu temuannya adalah media, setan (syaitan) dan lingkungan.

Namun, saya mempertanyakan alasan kedua, setan yang dijadikan kambing hitam oleh para siswa. Memang, kemudian dia membenarkan alasan ini dengan menggunkan pendapat para sarjana Muslim, seperti Ibn al-Qayyim dan Yusuf al-Qaradhawi bahwa setan menghalangi manusia untuk beribadah. Tapi, saya katakan, alasan ini adalah helah yang kemudian dia sebut self-denial. Sebab, setan itu sendiri bisa berarti manusia itu sendiri. Dengan menyalahkan 'orang' lain di luar dirinya, para siswa telah diajarkan untuk tidak belajar menjadi manusia yang mandiri dan saya tambahkan, mungkin anggapan ini berasal dari pendidikan sejak kecil, di mana orang tua selalu menyalahkan setan dalam sebuah tindakah salah yang dilakukan anaknya.

Akhirnya, kami pun berpisah karena dia ingin mengurus penyertaan dalam seminar internasional di kampus. Kami pun masih melanjutkan diskusi sepanjang perjalanan menuju tempat masing-masing.

Saturday, June 14, 2008

Warung Jawa di Kampung Malaysia

Tadi siang, saya memaksa diri untuk bangun dari tidur siang. Kelelahan yang mendera membuat saya mengurungkan hasrat bertandang ke ruangan komputer kampus. Saya melewati kampus setelah mengantarkan kawan karib, Fauzi Hussein, ke jalan besar. Lalu, saya menyusuri jalan menuju kamar teman karib lain yang menitipkan kunci. Di sana, saya merebahkan diri sebelum akhirnya lelap. Mungkin karena kecil, ruangan itu tak nyaman.

Jam 11.30-an, Mas Ayi menelepon menanyakan makan di mana? Lalu, saya menjawabanya di Pecel Lele, sebutan warung Jawa yang menjual aneka makanan Indonesia. Dengan mata masih redup, saya pun melanjutkan tidur. Jam 12.13 saya bangun dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Duh, air itu mampu hilangkan wajah lelah karena pagi tadi nonton bola piala Eropa.

Di bawah pohon tempat parkir, saya berhenti sejenak untuk mengirimkan sms ke Mas Ayi bahwa saya akan segera berangkat ke lokasi. Dia pun membalas sebentar lagi berangkat. Angin sepoi siang terik itu seakan membelai wajah dan merasakan belaiannya yang menentramkan. Dengan langkah masih terseok, saya menghidupan motor dan membelah siang dengan deru mesinnya yang mulai 'kasar', maklum motor tua. Di sana, saya malah berjumpa dengan Faris dan Jerry yang juga menunggu makan siang.

Selalu saja, makan bareng di sana mendatangkan keriangan, karena Mas Ayi bersama Wulan menambah marak suasana. Di tengah obrolan kami, Iyan mengirim sms ke Mas Ayi untuk memberi tahu saya bahwa dia memerlukan sebuah tulisan tentang budaya kekerasan untuk tabloidnya. Ya, saya tahu, dia mempunyai nomor telepon lama saya, Digi, dan sekarang sekarang pindah ke Maxis. Saya pun mengiyakan. Seketika, saya membayangkan ingin membaca Akar Kekerasan oleh Erich Fromm yang diterbitkan Pustaka Pelajar Yogyakarta. Sayangnya, buku ini saya tidak bawa, tetapi untung edisi bahasa Inggerisnya ada di perpustakaan kampus.

Tim Orange Menang

Jam 2 pagi, kawan karib saya menelepon, mengingatkan janji yang ditautkan semalam untuk menonton bola, Belanda melawan Perancis. Saya sekuat tenaga bangun dan berusaha melawan kantuk karena baru tidur jam 1-an. Ya, sebelumnya saya ngobrol dengan Haswin Muhammad, mahasiswa asal Indonesia yang revolusioner.

Dengan langkah pelan, saya mengusap muka dengan air. Lalu, kami berdua turun ke bawah dengan motor suzuki. Di restoran Khaleel, kursi penuh dengan penonton dan kami pun beranjak ke blok sebelahnya, restoran Istimewa. Permainan baru berlangsung 10 menitan. Hiruk pikuk dan tempik sorak menyelingi udara malam di warung makan itu. Di sana, saya melihat Abraham, teman Indonesia yang bekerja di Cititel dan di pojok sana Trissy dengan tiga teman bulenya juga sedang menikmati tontonan permainan bola.

Aroma Nescafe panas membantu saya tak larut dalam kantuk. Terus terang, meskipun tak segairah menonton Brazil bermain, saya berada di barisan Tim Negeri Kincir Angin itu. Jika akhirnya ini tim Oranye ini menang, saya pun gembira. Begitu saja. Ya, tak lebih. Namun, saya melihat beberapa penikmat bola terganggu dengan sekelompok penyuka bola lain yang bercanda dan tertawa keras di bagian tengah warung makan. Mereka terdiri dari 20 lelaki dan 1 perempuan. Saya lihat beberapa orang menoleh melihat kerumunan membuat gaduh.

Tapi, biarlah, anggaplah ini bonus kita berada di keramaian.

Tuesday, June 10, 2008

Nonton Bola Piala Euro, untuk apa?

Saya sengaja memasang jam alarm pada angka 2 pagi di telepon genggam Motorolla C115 itu. Dengan niat bulat, saya ingin menikmati pertandingan antara dua tim tangguh, Belanda dan Italia. Saya menjagokan negeri kincir angin. Tidak tahu, mengapa? Gol pertama tak begitu meyakinkan karena off side. Kedua dan ketiga lumayan bagus, malah kedua yang dilesakkan oleh Wesley Sneijder luar biasa.

Untuk apa saya berlelah-lelah bangun? Paling tidak, saya bisa menunaikan shalat tahajud. Meskipun, ini bukan tujuan utama, tetapi saya merasakannya sebagai bagian dari mengembalikan kembali kebiasaan seperti di pondok, pagi adalah doa. Dengan berjalan kaki, saya menikmati langkah menelusuri jalan konblok dari flat ke restoran Khaleel. Dengan menenteng tas yang berisi dua buku, Fiqih Lintas Agama dan Social Roots of Malay Left, saya melihat jalanan masih sepi. Di rumah makan itu pun, tak banyak orang yang menanti pertandingan sepak bola terbesar kedua setelah Piala Dunia ini. Saya pun duduk dan membuka buku Fiqih yang membicarakan isu hubungan antaragama. Sang pelayan, Mas Teguh, menanyakan minuman, saya menjawabnya milo panas.

Sepanjang pertandingan saya kadang diserang kantuk. Tak jarang tangan menyangga kepala agar saya tidak jatuh dari kursi. Kalau pun saya bisa mengikuti perlawanan ini hingga selesai, tetapi tak sepenuhnya saya membelalak. Setelah usai, saya pergi ke toko 24 Jam, 7eleven untuk mengambil koran gratis The Sun dan sekalian membeli pulsa RM 10 (Rp 28.400). Hujan makin deras, dan saya pun tertahan dan duduk di depan toko ini sambil membaca surat kabar. Karena bosan dan kadang mata berat, saya pun beranjak dan menepi ke depan toko untuk merebahkan tubuh yang lelah. Baru pertama kali dalam hidup saya tidur di depan toko layaknya gelandangan. Dengan berbantal buku dan koran, saya mencoba untuk lelap, namun tak kuasa memejamkan mata dengan nyenyak.

Akhirnya, saya menerobos rintik dan berjalan agak bergegas agar segera sampai ke flat. Memang, baju basah, tetapi di kamar saya merasa lebih nyaman. Malah, sambil menunggu azan, saya iseng-iseng membuka internet untuk membaca berita koran on line. Di tengah kantuk yang tersisa, saya meninggalkan komputer dan shalat tak lama setelah azan dikumandangkan. Biasanya saya melakukannya di surau, kali ini tidak. Lalu, saya pun berbaring di ranjang agar tak uring-uringan gara-gara kekurangan tidur.

Membeli Buku di Queens Bay

Kemarin, kawan karib Melayu mengajak saya untuk menemaninya ke pusat perbelanjaan terbesar di Pulau Pinang, Queens Bay. Muzammil ingin mengirimkan uang ke saudaranya di kampung melalui MayBank Cabang Queens Bay. Jam 3 sore, kami berangkat dari kampus dalam keadaan langit masih gelap karena siang harinya hujan deras. Awan masih bergelayut manja. Di sana, kami memarkir mobil Hyundai Accent itu di bawah tanah, tidak seperti biasanya di lantai 5. Memang lebih mudah dan nyaman karena tidak harus berputar-putar.

Di bank, kawan asal Kedah ini meminta dua slip, satu kiriman RM 500 (Rp 1420 000) dan satunya RM 100 (Rp 284 000). Uniknya di kantor ini gambar yang seharusnya dilekatkan Menteri Besar (gubernur) Pulau Pinang, Lim Guan Eng, kosong. Sementara di sebelahnya, ada raja dan permaisuri serta perdana menteri. Adakah ini karena pihak oposisi tidak dianggap cukup berarti oleh pemilik perusahaan?

Baru kemudian, kami meluncur ke LG (lower ground) untuk membasahi keronkongan dengan minuman. Dengan memesan nescafe es, kami duduk di sudut sambil berbincang. Dia memesan masakan Jepang seharga RM 6.1 (Rp 17.324) karena belum makan siang. Saya mencicipi daging ayam dan mushroomnya untuk merasai kelezatannya. Lumayan! Dingin es kopi itu membantu menghilangkan tegang karena menyusuri jalan panjang di mall pinggir laut itu. Saya pun membaca koran Berita Harian yang memuat berita penambahan subsidi RM 800 juta yang diambilkan dari bajet pendidikan karena proyek untuk pengembangan infrastruktur Perguruan Tinggi bisa ditunda. Angka ini sangat kecil dibandingkan bajet keseluruhan untuk Kementerian Pengajian Tinggi RM 18.2 milliar.

Setelah menyesap tetes akhir minuman, saya dan dia beranjak menuju toko buku Borders (Books Music Movies Cafe). Di sana saya menimang-nimang buku Social Roots of Malay Left yang ditulis oleh tokoh intelektual ternama Malaysia, Rustan A Sani. Akhirnya saya merogok kocek RM 18 (Rp 51.120) untuk memilikinya. Warna merah menyala buku itu seakan pertanda kekiriannya. Pesona Rustam yang sama-sama saya baca ketika kematiannya beberapa bulan yang lalu memantik saya untuk mengerti pemikirannya. Kebetulan, ayahnya Ahmad Boestaman juga dikenal sebagai tokoh yang memperjuangkan kemerdekaan Malaysia dan berasal dari tradisi Minang.

Selain itu, saya menambah mimpi baru dengan mencatat buku yang akan saya beli jika memiliki uang lebih, yaitu Existensialists and Mystics: Writings On Philosophy and Literature oleh Irish Murdoch (Penguins). Harganya cukup mahal, RM 88.90 (Rp 252.476). Saya sempat mencatat sebuah kutipan di pengantarnya, Literature entertains, it does many things, and philosophy does one thing (Men of Ideas, Some Creators of Contemporary Philosophy, 1978).

Akhirnya, kami pulang dan mampir ke toko roti di lantai bawah untuk menjejal perut ini nanti dengan rasa keju. Ya, kami telah pernah membeli roti di sini sebelumnya. Harga sepotong roti RM 1.59. Cukup mahal jika dibandingkan kue di kantin mahasiswa yang berkisar RM 0.40. Tapi, lain harga tentu lain di rasa, bukan?

Monday, June 09, 2008

Hujan dan Keriangan

Hujan deras tiba-tiba mengguyur tanah. Saya menengok di balik tirai, memastikan kehadirannya. Wow, benar-benar deras. Agak jarang di pulau kecil ini, air tumpah dari langit sebanyak ini. Saya bilang kepada kawan Arab, ini berkah. Lalu, saya bergegas mengirim sms pada teman, Muzammil, membatalkan makan siang bersama di luar kampus. Saya kemudian mengambil payung yang diselipkan di celah antara tembok dan lemari besi di ruangan komputer fakultas (di sana disebut Pusat Pengajian atau School).

Dengan melipat celana ke atas lutut, saya berjalan keluar dan merasakan dingin karena hujan begitu deras. Sengaja saya memilih jalan di atas lorong kampus berkonblok agar tidak kecipratan air. Namun, ketika mau menyeberang ke warung makan India Muslim itu, Restoran Zubaidah, saya melihat air mengalir deras di aspal, pertanda selokan tak mampu menahan luapan air. Ups, tiga perempuan itu berjalan biasa menghampiri mobil, padahal pasti bajunya akan basah kuyup. Oh ya, mengapa mereka tak berlari? Adakah karena adab kesopanan mencegahnya?

Sesampai di depan gedung Dewan Budaya, saya melihat banyak mahasiswa sedang menyiapkan panggung untuk acara workshop arsitektur. Tampaknya mereka bukan mahasiswa USM. Mungkin dari universitas swasta. Saya pun beranjak dari tempat ini dan segera ke warung makan. Di sana, sang pelayan menawari nasi briyani dan mengatakan murah serta dapat daging kambing gratis meskipun secuil. Ya, jawab saya. Tapi saya tetap mengambil ayam goreng. RM 4.6 (Rp 13.064) adalah angka yang cukup besar untuk makan siang.

Dengan mengambil meja di tengah, saya menikmati makan siang dengan lahap. Lagu India itu ternyata ingatkan saya lagu dangdut, tapi lupa judul dan penyanyinya. Nadanya sama. Persis. Aha, lagu lama. Saya mencoba untuk menghadirkan dua kenikmatan, lidah dan telinga. Muaranya, saya kira, pada hati. Karena di sini bersemayam sumber kenikmatan. Kadang, saya memejamkan mata agar nikmat di lidah dan gendang telinga betul-betul menyatu. Suara hujan pun seakan-akan beradu untuk menghibur saya. Tak lama, kemudian saya mencuci tangan dan mengambil makanan ringan, kacang gajus (jambu mente). Ehm, gurih. Lalu, membuka buku kecil, saya memeriksa apa yang harus dilakukan hari ini setelah makan. Ya, saya sedang mengejar matahari.

Hari ini saya telah mencecap rasa hujan di tengah hari. Betul-betul menyenangkan. Serta merta, saya akan berhujan-hujanan jika langit menumpahkan air sebegitu banyak, seperti masa kecil dulu. Berlari-lari menentang tetesan, bersendau gurau dan kadang bermain bola adalah sebagian pengalaman kecil saya tentang hujan.

Kenaikan Bensin di Negeri Jiran

Memasuki hari ke-5 setelah pemerintah menaikkan harga bensin dari RM 1.92 (Rp 5452.8) menjadi RM 2.70 (Rp 7668), harga-harga barang keperluan yang saya beli belum naik. Namun, kawan saya yang belajar ekonomi menegaskan bahwa dalam minggu kedua kebutuhan sehari-hari akan merangkak naik. Kemarin, saya masih membayar RM 4.5 (Rp 12.780) untuk seporsi pecel lele di warung Jawa. Saya tak lagi memesan segelas es teh karena akan ditambah dengan RM 1 (Rp 2840). Lagi pula, pagi-pagi biasanya saya telah mengasup minuman yang bergula.

Selalu saja perbincangan saya tentang alasan kenaikan ini dengan kawan-kawan karib Melayu, Fauzi, Muzammil, Azrin, dan Rahman hanya menambah gelap mengapa pemerintah menaikkan harga bensin (di sana kadang disebut bahan api). Belum lagi rumor yang berkembang sehingga tak membuat saya mengerti justeru mati (kutu). Permintaan orang nomor satu di Malaysia, Abdullah Badawi, agar rakyatnya mengubah gaya hidup adalah sesuatu yang wajar. Mungkin, inilah kesempatan bagi mereka, termasuk saya, menelisik kembali pola hidup yang dijalankan selama ini.

Bahkan, sebelumnya ISIS (Institute of Strategic and International Studies - untuk lebih jauh baca di situsnya http://isis.org.my/) pernah berkunjung ke kampus Universitas Sains Malaysia membincangkan kenaikan beras, jauh sebelum gonjang ganjing kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), dan menyarankan agar masyarakat mengkonsumsi makanan pokok selain beras, seperti ubi. Lalu, apa kata teman saya yang mengikuti acara ini, emangnya mereka, para elit, mau memberikan contoh makan ubi sebagai kebutuhan karbohidrat? Aha, satu tempalak yang bisa diarahkan ke siapa saja.

Jeda: Sempurna oleh Andra and the Backbone (radio hot fm)

Kebetulan radio Hot FM mengangkat isu jalan keluar menghindari akibat buruk dari kenaikan BBM dengan kerja sambilan. Saya tahu bahwa banyak dari mereka secara tersirat menyayangkan kebijakan pemerintah, tetapi saya juga memahami bahwa subsidi itu tak baik, seperti disampaikan oleh Perdana Menteri hari ini di sebuah surat kabar. Ada dilema di sini. Untuk itu, dengan tertatih, saya mencoba memahami fenomena ini, seperti membaca pendapat banyak orang, seperti Tan Siok Choo, 'Petrol -rhetoric vs reasoned arguments di The Sun'. Katanya, saran banyak orang agar pemerintah menaikkan harga minyak secara bertahap memang tampak menarik. Tapi, pengalaman India menunjukkan sebaliknya. Di sana, kenaikan 10% tetap memicu penolakan dan demonstrasi terus menerus. (lebih jauh baca di The Sun, June 9, 2008).

Biarlah elit, pengamat dan orang awam bertikam lidah. Saya hanya bisa mengais hikmah yang berserak. Saya harus mengurangi pengeluaran yang tidak perlu. Puasa bukan pilihan saya. Lagi pula, puasa berarti tidak makan, bukan? Memasak sendiri bukan pilihan karena hanya membuang waktu untuk membaca dan menulis. Bagaimanapun, Malaysia lebih 'cerdas' menangani ekonomi di tengah tekanan membumbungnya harga minyak dunia yang kemarin bertengger di angka $ 138 per barrel. Pemerintahnya menggelontorkan insentif RM 500 juta untuk petani dan nelayan, sementara Indonesia menyogok orang miskin dengan Rp 100 ribu untuk rakyat per bulan, yang hanya untuk hidup 4 hari di negara tetangga.

Saturday, June 07, 2008

Jilbab dan Islam Politik di Turki

Ahmad Sahidah

Graduate Research Assistant dan Kandidat Doktor Kajian Peradaban Islam, Universitas Sains Malaysia

Tayib Erdogan, perdana menteri Turki, meradang. Badan Yudikatif, Mahkamah Agung, makin galak dan mengancam akan membubarkan pertainya. Sang Presiden dianggap tidak becus karena mencoba membuat mahkamah tandingan. Selain itu, pemakaian jilbab di lembaga pemerintah dan perguruan tinggi dianggap telah melanggar konstitusi.

Tanda pembubaran partai berhaluan Islam ditamatkan riwayatnya makin menguat. Terutama karena desakan seterunya, kaum sekuleris. Sebenarnya ini bermula makin terpojok dan tak populernya tentara dan partai sekuler. Kemenangan partai koalisi pemerintah sebanyak 403 dibandingkan 130 yang menentang usulan pencabutan larangan berjilbab melapangkan jalan bagi Muslimah memasuki universitas.

Sebelumnya mereka menanggalkannya untuk menaati undang-undang agar bisa melanjutkan pendidikan. Bahkan, kata profesor saya, Dr Zailan Moris, seorang nenek pun harus melepaskan jilbab jika ingin memasuki sebuah universitas. Satpam kampus memaksa sang nenek meskipun yang terakhir bersikeras untuk tetap memakainya. Jelas-jelas ini menunjukkan sebuah potret fundamentalisme sekuler.

Kalau merujuk pada Consumer Culture, Islam and the Politics of Lifestyle: Fashion for Veiling in Contemporary Turkey oleh Baris KiliƧbay dan Mutlu Binark, amandemen undang-undang pelarangan ini yang dipelopori Partai Keadilan mempunyai sejarah panjang. Ketika Turki masih berada di genggaman kekuasaan sekuler, para perempuan berjilbab telah turun ke jalan untuk meminta pencabutan larangan. Mereka diberi gelar para pejuang agama oleh media cetak Islam.

Isu jilbab tidak hanya diperjuangkan sebagai perintah yang berkaitan dengan prinsip ajaran Islam, tetapi lebih jauh juga dijadikan senjata sebagai penegasan Islam politik yang kemudian dikemas dalam perlawanan terhadap isu lebih besar, yaitu serbuan fashion kapitalisme. Canan Aritman, politisi oposisi Republikan, terang-terangan mengatakan bahwa jilbab adalah simbol politik dan ini merupakan revolusi hitam (Aljazeera, 9/2/2008).

Simbol sebagai alat



Sejalan dengan dukungan publik terhadap Islam politik, simbol-simbol Islam dengan sendirinya mengalami penyesuaian dengan iklim kapitalisme yang memberi ruang besar terhadap gaya hidup. Pergeseran makna jilbab kepada pola gaya hidup secara tidak langsung merupakan pengaruh modernisme, sekaligus makin membuat perjuangan kaum Islamis dikenal lebih luas.

Para intelektual Islam menjadikan jilbab sebagai tandingan terhadap gaya hidup Barat. Mereka menegaskan bahwa identifikasi Islam dan Barat dikaitkan dengan pemakaian jilbab. Dengan bahasa sederhana, perempuan sekarang berhak memutuskan untuk memakainya dan tidak hanya memilih soal bentuk pakaian. Mereka juga menempatkan dirinya pada salah satu dunia, Islam atau Barat.

Uniknya, dikotomi hitam putih di atas tidak sepenuhnya berjalan. Meskipun dukungan terhadap jilbab meluas, pengaruh deras kapitalisme mengiringi dengan setia. Jika pola pakaian Barat tidak sesuai, justru jilbab mengalami kapitalisasi dengan dijadikan sebagai komoditas dalam media publik, seperti televisi, radio, dan majalah. Jilbab tidak hanya sebagai alat untuk memenuhi fungsi etik, tetapi juga sekaligus estetik.

Jilbab telah memasuki ekonomi pasar seraya menyesuaikan dengan selera pemakainya. Konsumerisme kelas menengah kota telah mengubah jilbab menjadi bagian gaya hidup yang harus mempertimbangkan pernik-pernik fashion.

Daya jangkau pasar konsumsi makin luas setelah para Islamis menggunakan televisi untuk menawarkan model pakaian yang sejalan dengan tuntutan agama. Bagaimana pun, pemerintah sekuler telah menanggung risiko ini setelah membebaskan penggunaan ruang udara bagi penyiaran secara bebas pada 1990-an.

Kemenangan politik Islam



Kemenangan Partai Islam di Turki dikatakan bukan penerimaan sepenuhnya warga akan warna Islamnya semata-mata, tetapi karena keberhasilan para pemimpinnya mengantarkan negara ini ke dalam perbaikan ekonomi. Namun, tak terelakkan keinginan masyarakat untuk kembali ke Islam sangat besar setelah agama dipinggirkan oleh pihak berkuasa selama lebih dari 80 tahunan.

Sebelumnya, modernisasi di Turki berusaha melakukan penyeragaman dan penyerapan perbedaan identitas ke dalam warna tunggal. Hal ini dilakukan untuk mengorientasikan seluruh warga pada kesetiaan terhadap Republik Turki.


Di sinilah terjadi peminggiran terhadap kelompok agama dan borjuis lokal oleh para elite yang terdiri dari militer, birokrat, dan intelektual Kemalis. Seperti dikatakan Kevin Robins (1996:70) keberadaan keberagaman dan pluralisme yang niscaya bagi kehidupan demokrasi telah dilumpuhkan sejak awal.

Sejak 1990-an kelompok yang terpinggirkan ini memulai gerakan dalam perebutan pemaknaan. Kegiatan ini akibat dari perkembangan kaum borjuasi bermodal ukuran menengah dalam bidang tekstil, otomotif, makanan, dan media. Dukungan dari Partai Keadilan menambah penguatan kedudukan mereka. Keberhasilan wakil partai yang merupakan representasi Islam di tingkat kota provinsi menambah keyakinan publik akan kehadiran partai berhaluan agama.

Akhirnya, Partai Keadilan meraup kursi yang cukup signifikan untuk memenangkan posisi penting di negara yang didirikan oleh Kemal Attaturk ini hanya dalam waktu 10 tahunan. Tanpa terbebani mengubah konstitusi sekuler secara menyeluruh, mereka berusaha memberi ruang pada pemeluk Islam untuk menggunakan jilbab di lembaga publik.


Isu jilbab tidak dimaksudkan sebagai Islamisasi, tetapi demokratisasi sebagai bagian dari persyaratan untuk menjadi bagian dari keinginan Turki diterima sebagai anggota Uni Eropa. Sebuah cara yang sangat cerdik dalam mengemas isu.

Bagaimana pun, agama dalam pelbagai wujudnya telah mengusung simbol yang bisa dijadikan alat komunikasi untuk mencapai tujuan. Seperti dikatakan oleh Goffman (1951) bahwa barang-barang konsumsi merupakan alat komunikasi dan selain itu menurut Douglas dan Isherwood (1980) bisa dimanfaatkan untuk menjelaskan identitas. Jadi, amandemen undang-undang yang membolehkan pemakaian jilbab boleh dipahami sebagai pemenuhan dua tujuan ini.

Oleh karena itu, konsolidasi partai politik Islam telah berhasil mengusung agama tanpa harus melawan kehendak sekularisme yang memisahkan agama dan negara. Ia hanya memperjuangkan kebebasan beragama dan bukan memaksakan pemeluknya untuk melaksanakan ajarannya.

Meski demikian, secara tidak langsung keberhasilan ini menambah kepercayaan mereka mengukuhkan komitmen dalam memenuhi kesejahteraan rakyatnya. Hal yang penting lagi adalah bahwa politik Islam hakikatnya menyediakan kebutuhan pokok masyarakat, bukan hanya janji-janji yang dibungkus dengan ayat-ayat Tuhan.

Lalu, bagaimana nasib dengan partai politik Islam di negeri ini? Mereka tak perlu terlalu bernafsu mengusung simbol-simbol agama ke ruang publik karena di sini kebebasan melaksanakan ajaran agama dibuka seluas-luasnya. Kita hanya memerlukan contoh nyata bagaimana tokoh yang didukung partai politik Islam memenangkan keinginan rakyat luas untuk tidak hidup melarat di negerinya yang makmur.

Ikhtisar:
- Jilbab berpengaruh membuat perjuangan Muslimah lebih dikenal secara luas.
- Identifikasi Islam dan Barat makin jelas dengan munculnya budaya jilbab.

Sumber: Republika, 5 Juni 2005

Friday, June 06, 2008

Mengunjungi Negeri Gajah Putih

Ibu Rosyidah, mahasiswi PhD Fakultas Farmasi, menelepon saya untuk turut serta bersama-sama para sahabatnya mengunjungi Negeri Gajah Putih. Saya pun berjanji untuk membicarakannya dengan Mas Tauran karena dia juga diminta kesedianya untuk pergi ke negara tetangga. Apalagi yang terakhir pernah menikmati sinar matahari Hat Yai, salah satu propinsi negara yang bergolak ini.

Sayangnya, pada malam hari sebelum kami berangkat ke Thailand, Mas Tauran tidak bersedia karena harus mengerjalan hal lain. Jam 3.50 pagi, saya dengan Pak Suryanto pergi ke Khaleel, setelah sebelumnya, mandi di pagi buta, menunggu jemputan teman-teman yang sedang dalam perjalanan. Akhirnya, kami pun berangkat menembus kegelapan malam dengan mobil Kijang (di Malaysia disebut Unser) dan mengisi bensin sebelumnya di POM Petronas dan merupakan perayaan pertama terhadap harga baru, dari RM 1.92 per liter menjadi RM 2.70. Pak Afrizal, doktor baru dari Indonesia, membawa sang kijang dengan kecepatan sedang.

Kami sampai di perbatasan Siam pukul 7.15 dan memarkir kendaraan dengan membayar RM 4 sehari. Betul apa yang dikatakan supir taksi bahwa antrian bisa memanjang hingga 200an orang. Jika 6 orang teman saya lolos di imigrasi, saya tidak. Petugasnya meminta saya untuk menemui pegawai di kantor, beberapa meter dari konter. Saya pun bergegas dan sang petugas bertanya jurusan yang saya ambil di USM, dan lugas menjawab, Humanities atawa Ilmu Kemanusiaan. Meskipun timbul sejuta tanya karena tidak disebutkan alasan dipanggil ke kantor, saya tak ingin membuang waktu bersitegang, saya berlari kecil menuju teman-teman.

Di pintu masuk Thailand, daerah Sadao, saya antri untuk mengecap paspor bersama teman-teman yang lain. Dibandingkan dengan imigrasi Malaysia, di sini saya tidak merasa nyaman dan yang paling menyebatkan supir mobil van yang akan membawa kami ke Hat Yai, meminta kami menyelipkan RM 1 (kira-kira Rp 2840) di dokumen agar urusannya cepat kelar. Memang, saya harus berdiri lama menunggu giliran. Sepertinya, petugas jaga bertele-tele. Padahal, dia hanya mencap paspor dan mengambil foto melalui webcam yang diletakkan pas di atas meja.

Setelah rampung, baru kami masuk kembali ke dalam van berwarna putih yang dibawa oleh supir berkebangsaan Siam, yang tidak bisa berbahasa Melayu dan Inggeris. Praktis, kami hanya menyebut tempat yang kami tuju, Hat Yai. Di sana, kami turun di pusat kota, pertokoan besar Central. Karena hari masih pagi, mall belum buka. Tepat di depan, Lee Gardens Hotel, kami berdiri dan melihat pedagang kaki lima sedang mengemas dagangannya karena jam berjualan sudah habis.

Ups, ada beberapa perempuan dengan pakaian rapi sedang membersihkan jalan masuk hotel Novotel. Tidak itu saja, mereka juga membersihkan tiang berwarna putih yang terbuat dari logam pitu. Heran, petugas kebersihan tampak bukan umumnya pekerja kasar ini. Mereka memakai celana jeans, rambut berwarna dan kelihatan bukan pekerja biasa. Adakah mereka sebenarnya pekerja hotel jaringan yang dimiliki Perancis ini? Berbeda dengan petugas kebersihan yang sedang menyapu jalan dan trotoar, terdiri dari pekerja kasar umum lainnya. Hebatnya, ada mobil tanki yang menyiram jalan dengan air dan membubuhkan detergen, kemudian para pekerja bertungkus lumus membersihkan tempat itu dengan sigap. Katanya, setiap kamis petugas kebersihan melakukan pembersihan semacam ini dan memang hasilnya tampak lebih kinclong.

Untuk tidak terlalu lama bengong di depan pusat kota, kami pun menaiki angkutan umum (tuk tuk) ke pasar. Di sana, ibu-ibu berburu tas kulit. Anehnya, tas Louis Vuitton hanya dihargai 650 bath (1 bath= Rp 300). Selain itu, ada juga tas buatan YSL. Saya hanya bengong melihat nafsu berbelanja kaum perempuan. Malah, saya dengan sebagian ibu-ibu yang lain harus menunggu seorang ibu yang masih berburu belanja di pasar yang tak jauh beda suasanaya dari Pasar Beringharjo Yogyakarta. Sebelum saya memasuki pasar, kami mampir dulu meneguk air kelapa muda, yang per buahnya seharga 20 bath. Tak beda dengan kelapa muda di kampung saya.

Setelah lengkap, kami pun baru naik angkutan umum, kendaraan Hijet yang telah dimodifikasi untuk minta di antar warung makan yang enak. Sang supir pun menggeber mobilnya menyusuri kota kecil molek itu. Sayangnya, mata kering karena selain disergap asap, lorong jalan kaki tak ditumbuhi pepohonan. Akhirnya, kami berhenti di depan restoran Haji Hamid. Di sana, kami memesan makanan khas Thailand, seperti Tomyam, daging masak merah, sup sayur, dan untuk memanaskan badan saya minta segelas teh panas (teh 0). Baru kemudian, kami menunaikan shalat di loteng restoran itu. Sambil menunggu ibu-ibu selesai, saya duduk di depan restoran sambil menikmati buku Happiness yang ditulis oleh John F Schumacker.

Wednesday, June 04, 2008

Berbagi Sejarah antara Serumpun


Melihat berita New Straits Times tentang manuskrip bertajuk Local history, but viewed from afar (2/6/08), saya segera memfoto kopi untuk dijadikan bahan penelitian yang sedang dijalankan dan sekarang memasuki bulan ke-9. Saya telah menyerahkan dua laporan dan untuk laporan ke tiga, saya ingin memberikan satu makalah yang lebih utuh tentang naskah manuskrip Bahr al-Lahut yang diperkirakan ditulis pada abad ke-12 oleh 'Abdullah 'Arif.

Menurut Siti Mariani SM Omar, direktur pelayanan Malaysiana Perpustakaan Nasional Malaysia, bahwa perpustakaan ini terlibat dalam pengambilalihan manuskrip sejak tahun 1984. Biasanya, pihak pustakawan menilai dokumen, lalu melakukan penawaran harga. Baru-baru ini, mereka membeli sebuah naskah al-Qur'an abad ke-19 dari Australia seharga RM 1,070 (sekitar Rp 3.038.800 dengan kurs rupiah di Money Changer Bukit Jambul RM 1=Rp 2840).

Tambahnya lagi, dia telah memperoleh banyak manuskrip dari Srilanka, Aceh, Thailand dan di pedalaman Kelantan dan Trengganu, dua negara bagian di Malaysia. Bahkan, salah satu manuskrip diperoleh di Sotheby, rumah lelah internasional tertua kedua di dunia di London. Katanya, naskah ini merupakan sedikit manuskrip pertama yang mengandung syair (sajak) Melayu. Ia dibeli pada tahun 1984. Sayangnya, dia tidak menyebut harganya. Jika naskah yang diminati itu tidak boleh dibawa, pustakawan akan meminta dibuatkan dalam bentuk microfilm.

Tapi, pesanan saya versi Bahr al-Lahut dalam bentuk microfilm dari Universitas Leiden Belanda tak bisa dipenuhi karena hilang, meskipun tertera dalam katalog perpustakaan universitas. Namun demikian, saya telah mendapatkan 7 versi dalam bentuk salinan dari manuskrip asli dan ini lebih dari cukup. Sekarang, saya sedang menyalin edisi Melayu yang terjemahannya ditulis dengan huruf Arab pegon dan bahkan beberapa penjelasan malah diungkapkan dalam bahasa Arab. Satu penanda bahwa penerjemahnya memang jago dalam salah satu rumpun bahasa Semitik ini.

Monday, June 02, 2008

Menengok Cerita dalam Gambar


Tak dinyana, saya membuka pendrive dan menemukan gambar ini. Anda pasti susah membacanya jika saya hanya menyodorkan gambar begitu saja, bukan? Saya pun lupa, apa yang sedang saya lakukan? Gambar ketiga dari kiri adalah saya dengan tangan di lekatkan pada dada kiri sambil tersenyum. Tak semua melihat lensa kamera.

Demikian pula, kalau diperhatikan di pojok kanan ada tulisan Cina, siapa pun akan bingung? Di manakah gambar ini diambil? Apalagi tembok itu sangat tinggi dan terbuat dari marmer, demikian pula lantainya. Mungkin, kalau orang yang pernah sampai ke tempat ini akan segera bisa menebaknya.

Ya, kenangan ini manis. Karena kami berlima diundang teman dari kawan baik saya untuk makan di restoran Hotel Equatorial Pulau Pinang. Di sana pun, kami berdiskusi banyak hal. Tak perlu diterakan di sini. Saya memesan daging steak dan segelas cappucino. Sesudah itu, kami pun diajak menikmati buah durian di pinggir jalan menuju Puncak Bukit Balik Pulau. Hampir tak terhitung, berapa biji yang telah saya telan dagingnya. Benar-benar pengalaman yang menyenangkan, makan durian di bawah pohonnya.

Adakah pengalaman ini akan terulang? Saya pun tak tahu. Bahkan, ketika saya bertanya pada kawan yang mempunyai teman itu, dia pun tak tahu. Tidak mengapa. Cukup sekali, biar ingatan ini kuat terpatri.

Sunday, June 01, 2008

Dosa Saya kepada Kucing Coklat Itu

Tadi pagi, sesudah subuh saya menemukan kucing coklat itu kembali. Dia tampak merayu untuk diajak kembali ke kamar flat. Lalu, saya mencoba menahan pintu lift (bahasa Malaysia pengangkat) agar ia turut serta ke lantai sembilan. Ups, saya ingat bahwa saya sedang menerima tamu dari Medan, yang mungkin tak berkenan dengan kehadiran binatang. Saya berlari kecil dan menutup pintu kamar.

Sebelumnya, saya pertama kali berteman dengan kucing ini beberapa hari yang lalu. Tiba-tiba, ia mengikuti langkah saya dari lantai bawah. Setibanya di pintu, dia bergeming, tak beranjak masuk. Dengan mengelusnya, kucing itu kemudian tampak tenang dan berkenan masuk ke kamar. Saya membiarkannya dia bermain, melompat dan naik ke meja belajar mencari cahaya di balik jendela. Akhirnya, dia keluar bersama, karena saya mempunyai urusan di luar.

Dua hari yang lalu, dia tiba-tiba telah ada di depan pintu. Saya terkejut ternyata daya ingat kucing coklat ini yang luar biasa. Saya memberi sinyal agar dia masuk, tetapi masih malu-malu. Lalu, saya mengambilnya dan kemudian meletakkannya di karpet. Sekarang, dia tidak sungkan naik ke kasur, saya pun membiarkannya. Padahal dulu, saya sangat anti binatang ini masuk kamar. Lama-lama, dia tampak kuyu, mungkin mengantuk. Eh, dia akhirnya tertidur juga. Saya pun menemaninya dan tertidur.

Kucing coklat yang saya panggil Hermes (dewa Yunani) ini pamit keluar. Kami pun berpisah pada hari itu.

***

Di sepotong Sore itu, ketika saya membuka pintu lift, kucing coklat itu berada di pojokan menahan matanya yang terkantuk-kantuk. Saya memerhatikannya, tapi dia acuh, seakan tak pernah kenal. Padahal, kami pernah tidur bersama. Lalu, dengan lembut saya mengelus kepalanya, tiba-tiba dia melonjak dan berusaha menjilati sarung. Sayang, saya harus pergi ke surau untuk menunaikan shalat jamaah Ashr. Dengan berlari kecil, saya meninggalkannya. Khawatir, dia mengikuti saya hingga ke tempat sembahyang.

Sesudah berjamaah, saya pun kembali dan berharap cemas apakah kucing itu masih ada di lift. Sayangnya, dia telah beranjak pergi. Namun, saya masih menyisakan harap bahwa ia akan menunggu di depan pintu kamar, ternyata juga tak kelihatan.

***

Di sebuah pagi yang lain (02/06/09), sekitar 10 pagi, kucing coklat itu tiba-tiba muncul dan tak ragu lagi memasuki kamar. Saya membelai kepalanya, dia tampak riang. Saya bercakap dan dia diam. Karena saya harus keluar, terpaksa dia pun mengikuti. Tapi, dia berjaga di depan pintu, tak mau mengikuti langkah saya. Ya, nanti jumpa lagi ya?