Posts

Showing posts from January, 2009

Tamu Rumah Tuhan

Semalam, jamaah Tabligh mengunjungi surau tempat kami tinggal. Mereka adalah kelompok lain yang tak pernah mengunjungi rumah ibadah berwarna hijau itu. Sesudah Isya', salah seorang dari mereka menyampaikan ceramah tentang pentingnya berjamaah. Dengan meyakinkan, dia mengurai betapa jamaah yang hadir pada malam itu adalah tamu istimewa karena mau menghadiri undangan Tuhan. Ya, azan yang dilaungkan itu adalah undangan Allah terhadap penghuni flat. Tambahnya, betapa banyak penghuni flat, tetapi hanya segelintir yang mau mendengar dan memenuhinya. Namun, dia menegaskan, kita tak perlu merasa telah mendapat jaminan surga. Tak perlu mendabik dada bahwa kehadiran di rumah Tuhan sebagai penanda terbaik.

Selain itu, orang tua itu mengajak jamaah untuk tidak putus asa mengajak warga lain agar merawat surau. Tambahnya, "Kita harus meneladani Nabi Muhammad, yang tak pernah marah jika ditampik masyarakat, malah perlakuan tak senonoh tidak menyebabkan Nabi mundur". Di akhir perjumpaan…

Merawat Generasi

Kemarin kami mengunjungi klinik pemerintah di Bukit Jambul untuk kesekian kalinya. Ini merupakan tanggapan ketaatan kami terhadap petugas kesehatan yang meminta kami untuk datang. Jika sebelumnya, sebulan sekali, sekarang kami harus datang dua minggu sekali untuk mengukur tekanan darah. Sayangnya, hari Selasa kemarin tutup, karena liburan memperingati Tahun Baru Tionghoa. Untungnya, ada seorang petugas piket yang datang sebelum kami beranjak pergi dari pelataran klinik.

Lebih untungnya lagi, sang perawat masih bersedia untuk mengecek tekanan darah dan mencatat perkembangan tubuh sang ibu di buku merah. Bahkan, dalam catatannya, dia menyarankan agar kami ke rumah sakit karena tekanan darah makin menaik. Khawatir terjadi apa-apa dengan si bayi. Kami pun lega karena tidak harus kembali keesokan harinya. Pelayanan semacam ini tentu makin membuat kami nyaman.

Lalu, kami pun pulang dengan riang. Untuk merayakan ini kami menikmati danau kampus dan memberi makan ikan dengan remahan roti. Tak la…

Mengunjungi Pesantren

Malam Sabtu kemarin, Pak Cik mengajak saya untuk mengunjungi Pesantren. Saya mengiyakan, setelah beliau menanyakan apakah sabtu pagi itu saya tidak ada pekerjaan. Pagi-pagi sekali, sebelum matahari menyembul di balik cakrawala, kami berdua dengan motor Modenas membelah udara pagi yang masih dingin. Perjalanan ini mungkin pertama kali selama saya tinggal di Pulau Pinang.

Sebelumnya saya tidak banyak bertanya tentang tempat yang hendak disambangi. Bagi saya, pesantren bukan sesuatu yang asing. Sebelum memasuki areal pesantren, kami berhenti sejenak di warung untuk minum. Suasana kampung menyergap. Saya betul-betul menikmatinya. Karena sebelum berangkat telah minum kopi, saya hanya memesan teh panas dan mengambil sebungkus nasi yang dibubuhi ikan teri dan telor.

Tak lama kemudian, kami pun berangkat menuju pondok. Sesampai di sana, saya terhenyak sejenak karena begitu banyak orang yang sedang khusyu mengikuti pengajian tafsir Surat al-Kautsar. Sebagian menekuri kitab yang mereka bawa dan …

Mengatasi Cemas dengan Riang

Kemarin, kami harus kembali lagi ke Klinik, karena sehari sebelumnya, dokter meminta untuk memeriksa kadar gula. Kekhawatiran diabetes memaksa kami harus pergi lagi ke klinik. Penambahan berat badan 5Kg selama sebulan dianggap berlebihan. Tidak hanya sekali darah isteri saya harus diambil, tetapi sebanyak dua kali dengan selang waktu 2 jam.

Kami sempat bertanya kepada teman dokter lain dan bahkan kawan karib saya yang kebetulan isterinya seorang dokter juga turut berbagi pengetahuan. Tentu, dari sekian informasi, kami menekuri dan menimbang agar tidak lagi abai terhadap pola makan, istirahat dan minum. Malah, pada malam sebelum pengambilan sampel darah, Mak Cik, tetangga sebelah, mengantar lauk ayam pedas untuk makan malam. Sebab, beliau tahu kalau isteri harus puasa sejak jam 10.

Pada malam itu juga, kami juga masih sempat bercengkerama dengan kawan karib, En Zailani dan keponakannya, di sebuah warung depan flat. Meski kecemasan itu masih mengendap, tapi kami mengurainya dengan mencari…

Konflik Penafsiran seputar Shalat

Semalam, sesudah Isya, tetangga sebelah berkunjung. Tiba-tiba, beliau membuka persoalan perselisihan tata cara shalat. Ya, sebelumnya, di surau, sang imam lupa, pada sujud kedua mengucapkan salam, namun tak sempat melanjutkan salam yang kedua, kembali melanjutkan shalat Isya. Katanya, shalat itu batal. Makmum harus menggantikan posisi imam. Saya dengan khusyu' mendengar uraiannya tentang ikhtilaf (perselisihan) di kalangan imam mazhab.

Namun, hebatnya, bapak tua itu tidak ingin merusak suasana surau dengan mengangkat isu itu ke permukaan. Beliau lebih menjaga kebersamaan, dibandingkan harus menyodorkan pertikaian penafsiran. Meskipun, sempat gundah, dia harus memikirkan betapa rukun shalat yang dilanggar itu sangat fatal. Saya membiarkan bapak baik hati itu terus meluahkan semua yang ada di benaknya tentang hukum ibadah. Saya hanya mengangguk dan sekali-kali menimpali.

Lebih dari itu, kesempatan malam itu menyegarkan kembali bacaan saya tentang fiqh ibadah yang telah tertimbun banya…

Kemarau Mengeringkan Rumput

Sore itu, kami berniat pergi ke kampus dan sekalian memberi makan remah roti ikan yang berdiam di danau kampus. Sebuah kegiatan ringan yang mendatangkan riang. Dengan hanya selembar roti, saya bisa menikmati pelbagai jenis ikan berlompatan merebut makanan. Di sebelah, sebuah keluarga mahasiswa Arab dengan dua anaknya melakukan hal yang sama.

Air danau itu mulai berkurang karena hujan tak kunjung datang. Rerumputan di sekitarnya juga mengering, untungnya pepohonan tidak turut meranggas sehingga sisa warna segar dapat dinikmati. Meskipun, saya memerhatikan beberapa daunnya telah menguning kekurangan minum. Saya membayangkan semua itu akan berubah, jika hujan datang. Penantian yang sederhana tentang keriangan.

Di kampus, saya mengerjakan kembali transkripsi pidato rektor (naib canselor) USM untuk bahan penulisan biografi. Di sana, saya juga bertemu dengan kawan baik, Shakti, Musthafa, dan Stenly. Namun, beberapa menit kemudian, saya harus berhenti karena Maghrib hampir tiba. Ada kerinduan…

Mencari Ide bersama Pak Cik

Semalam, saya berkesempatan lagi berbincang dengan Pak Cik, tetangga rumah. Meskipun tidak ada tema khusus, kami mengasyiki pelbagai cerita dan tidak jarang sebuah gagasan, seperti dunia tasawuf, prilaku manusia secara umum, dan remeh temeh yang lain. Semuanya mengalir bersama waktu. Dengan susunan kalimat yang tertata, orang tua yang banyak memberi pengalamannya pada saya menyodorkan pertanyaan dan juga memberikan jawaban dari apa yang saya inginkan.

Lalu, tiba-tiba perbincangan menyusup pada suasana flat tempat kami tinggal. Mengapa penghuninya tidak begitu antusias mengunjungi surau yang selalu memperdengarkan azan? Jawaban yang sempat terlontar karena mereka sibuk. Namun, kritik Pak Cik yang lain bahwa kehadiran jamaah di musolla itu berjalan seperti dulu, datang-pergi, tidak ada jeda bagi jamaah untuk berbagi. Setelah ditelusuri, kemungkinan perbedaan latar belakang yang menghalangi para jamaah duduk sejenak di musolla untuk bertukar sapa. Padahal, kesempatan seperti ini justeru m…

Membaca Yasin bersama Tetangga

Mak Cik Sri, tetangga depan rumah, mengundang kami untuk membaca Yasin pada malam Jumat. Tentu, ini sebuah ajakan yang makin menautkan kami dalam merenda hari-hari. Pertemuan keseharian dalam pertukaran cerita dilengkapi dengan kegiatan yang tidak melulu sesuatu yang sambil lalu, namun juga kerinduan akan yang lain.

Kami membawa surat Yasin yang telah dilengkapi dengan doa di antara baris-baris ayatnya. Kitab ini pun juga merupakan hadiah dari Pak Cik, yang didapat dari Surabaya dan merupakan amalan Mbah Kyai Pesantren Suryalaya, Jawa Barat. Di bahagian belakang, Pak Cik menulis dengan riang bahwa buku ini sebagai hadiah, yang dibubuhi tanggal dan alamat. Tentu penanda ini akan menjadi ingatan panjang hingga ke akhir hayat.

Setelah membaca Yasin, kami beranjak ke surau untuk melaksanakan shalat jamaah Isya. Iman, anak bungsu keluarga yang telah menempati delapan tahun flat tempat kami tinggal, turut menyertai. Kami begitu dekat dengannya karena kehadirannya dalam setiap kesempatan kami …

Teknologi dan Manusia

Ternyata, teknologi (handphone) membantu kita memendekkan jarak dan menghemat waktu. Dengan hanya duduk di kursi, saya bisa memastikan apa yang harus diselesaikan tanpa membuang waktu, seperti menanyakan kepastian pada En Fairus mengenai foto rektor (di sana dijabat oleh naib canselor). Bayangkan, kalau saya menyambangi kantor tempat dia bekerja. Apalagi, dia masih menyiapkan satu lagi gambar-gambar kegiatan salah satu rektor. Tentu, saya bisa memaklumi karena fotografer ini mempunyai jadual yang padat, sehingga tidak bisa menyelesaikan pekerjaan pengumpulan gambar tersebut dalam jangka waktu yagn telah ditetapkan. Toh, sebelumnya, dia meminta saya menelepon pada hari ini untuk memastikan selesai atau tidaknya gambar tersebut.

Lalu, jika Jacquel Ellul dalam The Technological Society menegaskan bahwa penggunaan teknologi menyebabkan terjadinya dehumanisasi, apakah hal ini terjadi pada kita karena sering memanfaatkannya dalam kegiatan sehari-hari? Mungkin tidak sesederhana kasus pada pen…

Makna di tengah Jalan

Tadi pagi, kami memacu motor ke lapangan kampus. Sejak semalam, niat untuk berlari di trek lapangan sepak bola tertanam di hati. Tanpa itikad yang bulat, kami tidak mungkin merasakan embun basah di rumput. Ya, belakangan ini, saya memilih menanggalkan sepatu untuk jogging. Mungkin karena berangkat agak 'siang', saya merasakan panas matahari pagi membelai kulit. Ya, di putaran ketiga, matahari yang menyembul dari balik gedung-gedung itu menerpa ari dengan lembut. Ada buncah senang karena sinaran itu tidak menyengat.

***

Dalam perjalanan ke kampus, saya bersirobok dengan seorang mahasiswa Arab yang sedang berjalan menyusuri trotoar sambil memegang tasbih. Dengan map dan pakaian hem dan celana rapi jali, dia memutar butiran berbentuk bulat. Ini mengingatkan saya pada pengalaman sebelumnya melihat seorang mahasiswa Yaman dengan pakaian tradisional plus badik di sabuk, juga memegang tasbih, berzikir. Hebatnya, pemandangan yang terakhir ini, saya temukan di sebuah pasaraya. Keramaian …

Kenduri Tetangga

Kemarin, saya menghadiri kenduri tetangga yang mensyukuri khitanan anak bungsunya. Sebelumnya, pagi-pagi ibu-ibu telah memulai kegiatan untuk menyiapkan menu untuk perhelatan ini. Mereka pagi-pagi telah pergi ke pasar dan bahkan ke pasaraya, TESCO. Saya sendiri mengasyiki kesibukan berburu buku ke perpustakaan.

Jam 5 sore, para undangan berdatangan. Dengan sendirinya, lelaki dan perempuan terpisah dan asyik dengan perkumpulan masing-masing. Dalam acara seperti ini, kami telah merekatkan hubungan ketetanggaan dan sekaligus menyemai keakraban. Perbedaan yang selama ini kadang tampak menganga, ternyata hanya setipis kulit ari. Kata, tawa dan canda menjadi perekat kebersamaan.

Terus terang, inilah pertama kali selama enam bulan tinggal di flat saya betul-betul menemukan rumah karena satu-satu lain berteguh ramah dalam kehangatan. Padahal, ketika pertama kali menempati rumah 'baru' itu, saya merasa disergap sepi. Asing. Mereka yang berada di sekeliling saya seakan-akan tidak terjang…

Mengenal Batas Kita dan Mereka

Buku Roxanne Euben ini mengutip pribahasa Maroko, الي ما جال ما يعرف بحق الرجال, bahwa seseorang yang tidak melakukan perjalanan tidak akan mengenal keutamaan manusia dan kemudian جل ترى المعانى, sebuah ajakan untuk melakukan perjalanan agar kita melihat makna-makna (segala sesuatu) sebagai pembuka dari karyanya berjudul Journeys to the Other Shore: Muslim and Western Travelers in Search and Knowledge. Seperti diungkapkan di dalam pengantarnya bahwa pencarian pengetahuan di negeri Islam dan Barat mengandaikan kesamaan dan juga perbedaan. Penulis sendiri ingin mengurai yang terakhir agar pembaca tertarik untuk menekuri buah karyanya. Meskipun penggunaan Islam dan Barat dipertahankan, namun sejak awal lagi, dia mengingatkan bahwa identitas yang membedakannya tidak bisa ditegaskan secara mutlak, sebab ada ruang tumpang tindih yang mengaburkan keaslian.

Dengan rujukan yang kaya, Barat dan Timur, penulis menegaskan sejak permulaan bahwa karya tersebut sebenarnya ikhtiar banyak orang dengan…

Mengukuhkan Niat

Saya telah membeli buku agenda kecil untuk mewujudkan keinginan yang telah hinggap di benak sebelumnya. Tentu, hanya ada beberapa butir pekerjaan yang bisa dilakukan agar saya tidak lagi mendesakkan begitu banyak minat yang acapkali datang dan pergi. Salah satunya yang saya ingin penuhi di tahun ini adalah menulis buku tentang hal ihwal intelektual. Jika sebelumnya saya hanya menceracau di tulisan pendek, rasanya kurang gereget kalau bacaan dan pembacaan tentang cendekiawan itu tidak diterakan dalam cerita panjang.

Pergantian tahun saya lewati dengan mengunjungi acara tahun baru di konsulat, di mana para staff, pekerja, dan mahasiswa merayakannya dengan bernyanyi. Dangdut tentu mendapatkan perhatian lebih karena ia seakan-akan menjadi musik kebangsaan yang dibawakan sepenuh hati dari pelbagai lapisan. Saya sendiri berduet dengan Bunda melantukan Sepanjang Jalan Kenangan dan Jangan Ada Dusta agar kalangan tua juga terhibur, meskipun saya kadang lebih sreg dengan membawakan lagu due Rhom…