Thursday, January 29, 2009

Tamu Rumah Tuhan

Semalam, jamaah Tabligh mengunjungi surau tempat kami tinggal. Mereka adalah kelompok lain yang tak pernah mengunjungi rumah ibadah berwarna hijau itu. Sesudah Isya', salah seorang dari mereka menyampaikan ceramah tentang pentingnya berjamaah. Dengan meyakinkan, dia mengurai betapa jamaah yang hadir pada malam itu adalah tamu istimewa karena mau menghadiri undangan Tuhan. Ya, azan yang dilaungkan itu adalah undangan Allah terhadap penghuni flat. Tambahnya, betapa banyak penghuni flat, tetapi hanya segelintir yang mau mendengar dan memenuhinya. Namun, dia menegaskan, kita tak perlu merasa telah mendapat jaminan surga. Tak perlu mendabik dada bahwa kehadiran di rumah Tuhan sebagai penanda terbaik.

Selain itu, orang tua itu mengajak jamaah untuk tidak putus asa mengajak warga lain agar merawat surau. Tambahnya, "Kita harus meneladani Nabi Muhammad, yang tak pernah marah jika ditampik masyarakat, malah perlakuan tak senonoh tidak menyebabkan Nabi mundur". Di akhir perjumpaan itu, mereka berjanji akan menyambangi surau kami pada hari Rabu yang akan datang. Saya juga berbunga karena surau itu tak lagi sepi. Lebih dari itu, beberapa anak dan remaja yang tinggal di flat turut meramaikan shalat malam. Zaini, Adam, dan Marzuq adalah anak muda yang diharapkan tak bosan untuk menjadi surau itu rumah kedua mereka.

Sebelumnya, saya juga telah diceritakan tentang sejarah surau yang hanya dinamai Bukit Gambir, nama flat kami. Pak Cik bercerita siapa yang memperbaiki pagar besi yang rusak, siapa yang menyumbang untuk membeli cat agar temboknya terang dan termasuk konflik yang pernah mendera berkaitan dengan pelbagai pemahaman. Untuk yang terakhir, saya tidak akan menambah bensin. Biarlah perbedaan itu disimpan rapi di hati mereka, tak perlu dijaja untuk menunjukkan eksistensi. Perjuangan yang lebih besar adalah bagaimana mengajak sebanyak mungkin penghuni mendatangi rumah Tuhan. Tentu kita tak perlu mengusik seberapa dekat setiap individu dengan Tuhannya karena ini masalah pribadi. Kita hanya ingin mengais kebersamaan agar tumbuh di antara sesama warga blok 330 melalui shalat jamaah.

Wednesday, January 28, 2009

Merawat Generasi

Kemarin kami mengunjungi klinik pemerintah di Bukit Jambul untuk kesekian kalinya. Ini merupakan tanggapan ketaatan kami terhadap petugas kesehatan yang meminta kami untuk datang. Jika sebelumnya, sebulan sekali, sekarang kami harus datang dua minggu sekali untuk mengukur tekanan darah. Sayangnya, hari Selasa kemarin tutup, karena liburan memperingati Tahun Baru Tionghoa. Untungnya, ada seorang petugas piket yang datang sebelum kami beranjak pergi dari pelataran klinik.

Lebih untungnya lagi, sang perawat masih bersedia untuk mengecek tekanan darah dan mencatat perkembangan tubuh sang ibu di buku merah. Bahkan, dalam catatannya, dia menyarankan agar kami ke rumah sakit karena tekanan darah makin menaik. Khawatir terjadi apa-apa dengan si bayi. Kami pun lega karena tidak harus kembali keesokan harinya. Pelayanan semacam ini tentu makin membuat kami nyaman.

Lalu, kami pun pulang dengan riang. Untuk merayakan ini kami menikmati danau kampus dan memberi makan ikan dengan remahan roti. Tak lama kemudian, ada seorang pengunjung yang membawa roti Arab satu kardus. Kami mendekati untuk lebih jauh menikmati tingkah ikan yang berlompatan memamah roti yang telah dirobek kecil-kecik. Oh, ternyata orang itu adalah kawan saya yang tinggal satu flat. Namanya Ahmad, asal Pakistan. Malah, dia menyerahkan roti yang sudah kaduarsa itu untuk kami bagikan kepada ikan-ikan yang tampak lapar itu karena hari masih pagi. Biasanya kalau sore mereka sudah kekenyangan. Duh, benar-benar kesenangan kecil yang membuncah besar karena bisa menikmati binatangan air itu berlompatan riang, seakan-akan menemani keriangan kami. Mungkin, bayi itu juga riang. Semoga!

Monday, January 26, 2009

Mengunjungi Pesantren

Malam Sabtu kemarin, Pak Cik mengajak saya untuk mengunjungi Pesantren. Saya mengiyakan, setelah beliau menanyakan apakah sabtu pagi itu saya tidak ada pekerjaan. Pagi-pagi sekali, sebelum matahari menyembul di balik cakrawala, kami berdua dengan motor Modenas membelah udara pagi yang masih dingin. Perjalanan ini mungkin pertama kali selama saya tinggal di Pulau Pinang.

Sebelumnya saya tidak banyak bertanya tentang tempat yang hendak disambangi. Bagi saya, pesantren bukan sesuatu yang asing. Sebelum memasuki areal pesantren, kami berhenti sejenak di warung untuk minum. Suasana kampung menyergap. Saya betul-betul menikmatinya. Karena sebelum berangkat telah minum kopi, saya hanya memesan teh panas dan mengambil sebungkus nasi yang dibubuhi ikan teri dan telor.

Tak lama kemudian, kami pun berangkat menuju pondok. Sesampai di sana, saya terhenyak sejenak karena begitu banyak orang yang sedang khusyu mengikuti pengajian tafsir Surat al-Kautsar. Sebagian menekuri kitab yang mereka bawa dan yang lain tepekur mendengarkan sang ustaz mengulas surat pendek ini. Kami pun mengambil tempat dan bergabung dengan jamaah di teras masjid. Tidak itu saja, di pekarangan tampak tenda yang dibangun semi permanen juga dipenuhi oleh jamaah.

Setelah hampir satu jam setengah, sang ustaz mengakhiri pengajian. Jamaah pun bubar, sambil menunggu sesi pengajian kedua. Kami pun beranjak, mencoba mengenal lebih dekat pesantren dan saya mencoba membaca asal usul jamaah. Mereka berdatangan dari sekitar Kubang Semang, tempat pesantren itu bertapak, dan mengusung latar belakang yang berbeda. Di tengah istirahat, para jamaah mengunjungi warung makan yang terletak di depan masjid. Malah, tidak hanya makanan yang siap saji yang dijual, keperluan sehari-hari juga digelar. Kegiatan ekonomi dan agama berada dalam satu kawasan dan satu waktu. Sebuah gagasan yang mungkin perlu ditiru.

Wednesday, January 21, 2009

Mengatasi Cemas dengan Riang

Kemarin, kami harus kembali lagi ke Klinik, karena sehari sebelumnya, dokter meminta untuk memeriksa kadar gula. Kekhawatiran diabetes memaksa kami harus pergi lagi ke klinik. Penambahan berat badan 5Kg selama sebulan dianggap berlebihan. Tidak hanya sekali darah isteri saya harus diambil, tetapi sebanyak dua kali dengan selang waktu 2 jam.

Kami sempat bertanya kepada teman dokter lain dan bahkan kawan karib saya yang kebetulan isterinya seorang dokter juga turut berbagi pengetahuan. Tentu, dari sekian informasi, kami menekuri dan menimbang agar tidak lagi abai terhadap pola makan, istirahat dan minum. Malah, pada malam sebelum pengambilan sampel darah, Mak Cik, tetangga sebelah, mengantar lauk ayam pedas untuk makan malam. Sebab, beliau tahu kalau isteri harus puasa sejak jam 10.

Pada malam itu juga, kami juga masih sempat bercengkerama dengan kawan karib, En Zailani dan keponakannya, di sebuah warung depan flat. Meski kecemasan itu masih mengendap, tapi kami mengurainya dengan mencari tahu dan menghabiskan waktu dengan riang. Tawa dan canda waktu itu sedikit banyak mengurangi kegundahan. Bahkan pengalaman menunggu lama di klinik tidak membuat kami tertekan karena keramahan perawat terhadap pasien. Dengan sabar, mereka menerangkan apa yang harus dilakukan dan tentu mengingatkan bahwa suntikan ATT kedua harus diberikan pada hari Jumat yang akan datang. Ya, kami mencatatnya agar tidak lupa.

Monday, January 19, 2009

Konflik Penafsiran seputar Shalat

Semalam, sesudah Isya, tetangga sebelah berkunjung. Tiba-tiba, beliau membuka persoalan perselisihan tata cara shalat. Ya, sebelumnya, di surau, sang imam lupa, pada sujud kedua mengucapkan salam, namun tak sempat melanjutkan salam yang kedua, kembali melanjutkan shalat Isya. Katanya, shalat itu batal. Makmum harus menggantikan posisi imam. Saya dengan khusyu' mendengar uraiannya tentang ikhtilaf (perselisihan) di kalangan imam mazhab.

Namun, hebatnya, bapak tua itu tidak ingin merusak suasana surau dengan mengangkat isu itu ke permukaan. Beliau lebih menjaga kebersamaan, dibandingkan harus menyodorkan pertikaian penafsiran. Meskipun, sempat gundah, dia harus memikirkan betapa rukun shalat yang dilanggar itu sangat fatal. Saya membiarkan bapak baik hati itu terus meluahkan semua yang ada di benaknya tentang hukum ibadah. Saya hanya mengangguk dan sekali-kali menimpali.

Lebih dari itu, kesempatan malam itu menyegarkan kembali bacaan saya tentang fiqh ibadah yang telah tertimbun banyak teori dan remeh temeh yang lain. Saya hanya menegaskan pandangannya bahwa jangan sampai surau yang hanya dihadiri segelintir itu bubrah gara-gara perbedaan.

Sunday, January 18, 2009

Kemarau Mengeringkan Rumput

Sore itu, kami berniat pergi ke kampus dan sekalian memberi makan remah roti ikan yang berdiam di danau kampus. Sebuah kegiatan ringan yang mendatangkan riang. Dengan hanya selembar roti, saya bisa menikmati pelbagai jenis ikan berlompatan merebut makanan. Di sebelah, sebuah keluarga mahasiswa Arab dengan dua anaknya melakukan hal yang sama.

Air danau itu mulai berkurang karena hujan tak kunjung datang. Rerumputan di sekitarnya juga mengering, untungnya pepohonan tidak turut meranggas sehingga sisa warna segar dapat dinikmati. Meskipun, saya memerhatikan beberapa daunnya telah menguning kekurangan minum. Saya membayangkan semua itu akan berubah, jika hujan datang. Penantian yang sederhana tentang keriangan.

Di kampus, saya mengerjakan kembali transkripsi pidato rektor (naib canselor) USM untuk bahan penulisan biografi. Di sana, saya juga bertemu dengan kawan baik, Shakti, Musthafa, dan Stenly. Namun, beberapa menit kemudian, saya harus berhenti karena Maghrib hampir tiba. Ada kerinduan untuk pulang, segera bertemu dengan jamaah surat flat. Ya, ketika matahari terbenam, kita mesti pulang, karena warnah merah jingga langit itu menandakan malam.

Friday, January 16, 2009

Mencari Ide bersama Pak Cik

Semalam, saya berkesempatan lagi berbincang dengan Pak Cik, tetangga rumah. Meskipun tidak ada tema khusus, kami mengasyiki pelbagai cerita dan tidak jarang sebuah gagasan, seperti dunia tasawuf, prilaku manusia secara umum, dan remeh temeh yang lain. Semuanya mengalir bersama waktu. Dengan susunan kalimat yang tertata, orang tua yang banyak memberi pengalamannya pada saya menyodorkan pertanyaan dan juga memberikan jawaban dari apa yang saya inginkan.

Lalu, tiba-tiba perbincangan menyusup pada suasana flat tempat kami tinggal. Mengapa penghuninya tidak begitu antusias mengunjungi surau yang selalu memperdengarkan azan? Jawaban yang sempat terlontar karena mereka sibuk. Namun, kritik Pak Cik yang lain bahwa kehadiran jamaah di musolla itu berjalan seperti dulu, datang-pergi, tidak ada jeda bagi jamaah untuk berbagi. Setelah ditelusuri, kemungkinan perbedaan latar belakang yang menghalangi para jamaah duduk sejenak di musolla untuk bertukar sapa. Padahal, kesempatan seperti ini justeru merupakan peluang bagi mereka keluar dari rutinitas kerja dan menemui manusia, bukan mesin saja. Atau, televisi telah merampas waktu mereka di sela-sela?

Tentu, kehadiran jamaahTabligh kadang mendorong sebuah komunikasi, meskipun bersifat satu arah. Namun, ia telah menghidupkan surau kami yang kian lama tidak mampu membuat penghuni di sekitarnya untuk turut meramaikan agar ia tidak menggigil kedinginan. Kehangatan rumah ibadah itu lahir bersama banyaknya orang yang bermastautin di atasnya saling menyapa menjelang shalat berjamaah. Namun keinginan ini tidak kunjung menjadi kenyataan. Padahal, dalam setiap kesempatan saya bersua dengan pengguna lift, banyak keluarga Muslim yang tinggal di rumah susun ini.

Saturday, January 10, 2009

Membaca Yasin bersama Tetangga

Mak Cik Sri, tetangga depan rumah, mengundang kami untuk membaca Yasin pada malam Jumat. Tentu, ini sebuah ajakan yang makin menautkan kami dalam merenda hari-hari. Pertemuan keseharian dalam pertukaran cerita dilengkapi dengan kegiatan yang tidak melulu sesuatu yang sambil lalu, namun juga kerinduan akan yang lain.

Kami membawa surat Yasin yang telah dilengkapi dengan doa di antara baris-baris ayatnya. Kitab ini pun juga merupakan hadiah dari Pak Cik, yang didapat dari Surabaya dan merupakan amalan Mbah Kyai Pesantren Suryalaya, Jawa Barat. Di bahagian belakang, Pak Cik menulis dengan riang bahwa buku ini sebagai hadiah, yang dibubuhi tanggal dan alamat. Tentu penanda ini akan menjadi ingatan panjang hingga ke akhir hayat.

Setelah membaca Yasin, kami beranjak ke surau untuk melaksanakan shalat jamaah Isya. Iman, anak bungsu keluarga yang telah menempati delapan tahun flat tempat kami tinggal, turut menyertai. Kami begitu dekat dengannya karena kehadirannya dalam setiap kesempatan kami berkumpul. Lalu, sekembali dari surau, kami bersama menyantap hidangan, di mana sebelumnya isteri saya juga turut menyumbang semangkok ayam masak sambel yang sedap itu. Ada kenikmatan yang menyerbu ketika saya mengasup perlahan menu malam itu. Bukan hanya tentang lezatnya makanan, tetapi juga kebersamaan dengan sebuah keluarga yang telah menjadi bagian hidup kami. Orang tua itu betul-betul melengkapi hidup kami, karena keikhlasannya berbagi bagaimana nanti mengurus bayi. Bahkan, tidak hanya itu, kami menerima pelajaran bagaimana mengurus hidup.

Friday, January 09, 2009

Teknologi dan Manusia

Ternyata, teknologi (handphone) membantu kita memendekkan jarak dan menghemat waktu. Dengan hanya duduk di kursi, saya bisa memastikan apa yang harus diselesaikan tanpa membuang waktu, seperti menanyakan kepastian pada En Fairus mengenai foto rektor (di sana dijabat oleh naib canselor). Bayangkan, kalau saya menyambangi kantor tempat dia bekerja. Apalagi, dia masih menyiapkan satu lagi gambar-gambar kegiatan salah satu rektor. Tentu, saya bisa memaklumi karena fotografer ini mempunyai jadual yang padat, sehingga tidak bisa menyelesaikan pekerjaan pengumpulan gambar tersebut dalam jangka waktu yagn telah ditetapkan. Toh, sebelumnya, dia meminta saya menelepon pada hari ini untuk memastikan selesai atau tidaknya gambar tersebut.

Lalu, jika Jacquel Ellul dalam The Technological Society menegaskan bahwa penggunaan teknologi menyebabkan terjadinya dehumanisasi, apakah hal ini terjadi pada kita karena sering memanfaatkannya dalam kegiatan sehari-hari? Mungkin tidak sesederhana kasus pada penggunaan teknologi di pabrik, seperti tekstil, konveksi, rokok, di mana manusia hanya menjadi objek dan terperangkap dalam otomatisme (bergerak secara otomatis tanpa kesadaran), sehingga manusia berjalan layaknya mesin.

Penggunaan handphone justeru membuat nyaman hubungan antara manusia, namun demikian saya tetap menghubungi yang bersangkutan untuk pertemuan pertama kalinya. Di sini, tatap muka mendatangkan kedekatan emosional. Lebih dari itu, saya juga lebih banyak mengenal begitu banyak ragam persona dan suasana. Oleh karena itu, kenapa silaturahmi dianggap memanjangkan umur, karena ia mempertemukan kita dengan ragam pengalaman. Semoga!

Tuesday, January 06, 2009

Makna di tengah Jalan

Tadi pagi, kami memacu motor ke lapangan kampus. Sejak semalam, niat untuk berlari di trek lapangan sepak bola tertanam di hati. Tanpa itikad yang bulat, kami tidak mungkin merasakan embun basah di rumput. Ya, belakangan ini, saya memilih menanggalkan sepatu untuk jogging. Mungkin karena berangkat agak 'siang', saya merasakan panas matahari pagi membelai kulit. Ya, di putaran ketiga, matahari yang menyembul dari balik gedung-gedung itu menerpa ari dengan lembut. Ada buncah senang karena sinaran itu tidak menyengat.

***

Dalam perjalanan ke kampus, saya bersirobok dengan seorang mahasiswa Arab yang sedang berjalan menyusuri trotoar sambil memegang tasbih. Dengan map dan pakaian hem dan celana rapi jali, dia memutar butiran berbentuk bulat. Ini mengingatkan saya pada pengalaman sebelumnya melihat seorang mahasiswa Yaman dengan pakaian tradisional plus badik di sabuk, juga memegang tasbih, berzikir. Hebatnya, pemandangan yang terakhir ini, saya temukan di sebuah pasaraya. Keramaian tidak menghalangi dia mengingat Tuhan. Lagi-lagi, saya memutar ingatan lain, ketika Prof Salleh Yaapar, direktur penerbit USM, menegaskan pentingnya zikir dan pikir dalam kehidupan dalam sebuah acara Sast(e)ra Remaja di Kampus. Pertanyaanya kemudian, mungkinkah keduanya berjalan beriringan? Saya sedang ingin menulis jawabannya dalam sebuah tulisan.

'Lamunan' sepanjang jalan terhenti, karena sirine motor polisi yang sedang mengawal petinggi dengan mobil mercy, tidak pasti apa nomor serinya. Suara yang meraung-raung membuat kendaraan di depannya meminggir dan rombongan ini terus melaju menerjang lampu merah, tanda berhenti. Tentu, mereka tidak perlu dihalang, sebab di hadapannya setumpuk pekerjaan.

***

Sesampai di kampus, saya menemukan lampu lorong kampus masih menyala. Serta-merta saya mematikan agar terang itu tidak sia-sia. Ya, saya selalu memerhatikan keberadaan lampu ini jika siang telah menggantikan malam. Ia adalah sebuah ikhtiar kecil dari sebuah gagasan untuk menghemat energi. Sayangnya, jam telah menunggu pukul 9, yang berarti lampu itu disia-siakan selama dua jam, jika dihitung terang telah datang pada pukul 7. Demikian pula, air di toilet mengucur karena pengguna mungkin terburu-buru, sehingga lupa menekan tombol agar air berhenti mengalir. Lalu, saya menariknya karena tombol itu memang macet. Sebuah cerita sederhana yang mungkin membelajarkan saya bagaimana menghargai kehidupan.

***

Hal lain yang sering saya lakukan adalah berjalan menikmati lorong kampus. Selain menghemat bensin motor, saya juga menemukan banyak pengalaman dan tentu bersua teman. Malah, tadi saya menikmati kopi nescafe dingin gratis di bawah pohon dalam perjalanan menuju perpustakaan dua. Produk ini memang rajin mempromosikan minuman yang dihasilan Nestle ini di pelataran kampus. Tiba-tiba tebersit, bukankah Tun Mahathir, hari ini di surat kabar Utusan dan the Sun, mengusulkan pemboikotan produk Amerika dan sejenisnya yang mendukung Israel? Apakah saya mengkhianati bangsa Palestinya karena telah meneguk minuman dingin di siang panas itu? Saya sedang menimbang-nimbang.

***

Setelah lelah memfoto kopi bahan penulisan an biografi rektor, saya berjalan dengan mengambil rute yang berbeda. Lagi-lagi, saya bertemu seorang kawan, yang darinya saya belajar banyak hal ihwal kampus, politik dan bahkan rahasia yang tidak terungkap dalam pertemuan dan koran. Perjalanan ini berakhir di perpustakaan satu, tempat saya mengambil buku berkaitan dengan kesusasteraan, Musafir Menuju Destinasi (Hasan Ali), Perjalankan Sejauh Ini: Sebuah Autobiografi (Shahnon Ahmad) dan Biografi Umar Kayam (Ahmad Nashih Luthfi). Tentu, keterlibatan saya pada dunia sastra mempunyai kisah panjang. Selain itu, luahan Prof Mohammad Haji Salleh, sast(e)rawan negara, tentang peran sastra dalam menjadikan penikmatnya mampu merasakan keadaan 'liyan' memantik kuat untuk bergelut dengan kesusastraan. Dari sini, kemudian kita berempati terhadap keberadaan orang lain, sehingga tidak mudah meletakkan dalam kerangkeng penghakiman. Lagi pula, bukankah diri (self) ini menjadi liyan (other) dari sudut pandang yang terakhir?

Lalu, saya tidak tahu, apakah dalam perjalanan pulang ke rumah setelah menulis coretan ini, saya akan menemukan banyak kejadian yang terulang atau mungkin sama sekali baru. Saya betul-betul tidak tahu. Apakah Anda bisa meramalkannya?

Monday, January 05, 2009

Kenduri Tetangga

Kemarin, saya menghadiri kenduri tetangga yang mensyukuri khitanan anak bungsunya. Sebelumnya, pagi-pagi ibu-ibu telah memulai kegiatan untuk menyiapkan menu untuk perhelatan ini. Mereka pagi-pagi telah pergi ke pasar dan bahkan ke pasaraya, TESCO. Saya sendiri mengasyiki kesibukan berburu buku ke perpustakaan.

Jam 5 sore, para undangan berdatangan. Dengan sendirinya, lelaki dan perempuan terpisah dan asyik dengan perkumpulan masing-masing. Dalam acara seperti ini, kami telah merekatkan hubungan ketetanggaan dan sekaligus menyemai keakraban. Perbedaan yang selama ini kadang tampak menganga, ternyata hanya setipis kulit ari. Kata, tawa dan canda menjadi perekat kebersamaan.

Terus terang, inilah pertama kali selama enam bulan tinggal di flat saya betul-betul menemukan rumah karena satu-satu lain berteguh ramah dalam kehangatan. Padahal, ketika pertama kali menempati rumah 'baru' itu, saya merasa disergap sepi. Asing. Mereka yang berada di sekeliling saya seakan-akan tidak terjangkau. Ternyata, hanya dengan senyum dan sapa, kebekuan itu luruh. Sekarang kami menuai hasil, bahwa hidup itu lebih nyaman dengan tegur sapa karena masing-masing saling menyangga. Lalu, mengapa menista bahwa hidup itu redup?

Saturday, January 03, 2009

Mengenal Batas Kita dan Mereka

Buku Roxanne Euben ini mengutip pribahasa Maroko, الي ما جال ما يعرف بحق الرجال, bahwa seseorang yang tidak melakukan perjalanan tidak akan mengenal keutamaan manusia dan kemudian جل ترى المعانى, sebuah ajakan untuk melakukan perjalanan agar kita melihat makna-makna (segala sesuatu) sebagai pembuka dari karyanya berjudul Journeys to the Other Shore: Muslim and Western Travelers in Search and Knowledge. Seperti diungkapkan di dalam pengantarnya bahwa pencarian pengetahuan di negeri Islam dan Barat mengandaikan kesamaan dan juga perbedaan. Penulis sendiri ingin mengurai yang terakhir agar pembaca tertarik untuk menekuri buah karyanya. Meskipun penggunaan Islam dan Barat dipertahankan, namun sejak awal lagi, dia mengingatkan bahwa identitas yang membedakannya tidak bisa ditegaskan secara mutlak, sebab ada ruang tumpang tindih yang mengaburkan keaslian.

Dengan rujukan yang kaya, Barat dan Timur, penulis menegaskan sejak permulaan bahwa karya tersebut sebenarnya ikhtiar banyak orang dengan pelbagai keahlian, seperti Hadits dan al-Qur'an, meskipun tanggung jawab terhadap kandungannya berada di tangan penulis. Lebih jauh, dia menandaskan bahwa buku yang layak dibaca ini menyiratkan sebuah pendekatan pelbagai disiplin dan dialog yang dilakukan tidak hanya melalui pertemuan, tetapi juga telepon dan email. Dua yang terakhir ini mungkin layak untuk dipraktikkan untuk mempercepat penelusuran, meskipun mungkin akan menghilangkan konteks yang mengelilingi sebuah pernyataan.

Bab pertama dibuka dengan kata yang puitik, yaitu "Batas-Batas: Tembok dan Jendela, Beberapa Refleksi tentang Cerita Perjalanan. " Di dalam uraian awal ini, kita menemukan bahwa ternyata Barat itu bukan sebuah peradaban dengan akar tunggal dan jelas-jelas melukiskan batas-batas historis dan kontemporer. Sebagai sebuah penanda geografi, ia sebetulnya tidak mungkin untuk menunjukkan secara tepat dari mana Barat dimulai dan berakhir, dan secara khusus pada masa sekarang di mana ramai orang, informasi dan barang-barang keperluan melintasi batas-batas kultural dan kebangsaan sesuka hati, yang menciptakan semua jenis identitas transnasional dan subnasional yang sering bertukar dan membentuk dirinya dengan cara yang tidak bisa diramalkan.

Saya rasa kutipan ini akan menempalak siapa saja yang selalu menggampangkan masalah dengan menciptakan kalimat provokatif tentang hubungan kita dengan Barat. Belum lagi, batas kita itu juga mengalami hal yang sama, sehingga kehati-hatian perlu dikedepankan, agar kita tidak selalu mengulang kesalahan, mengecap orang dengan kata-kata yang kadang kita tidak paham sepenuhnya. Lalu, apakah kita tidak mempunyai identitas? Tentu, kita telah menanggungnya sejak kecil, meskipun ia terekonstruksi secara sosial yang kemudian dipahami sebagai tetap, pasti dan tidak berubah. Di sinilah, kita dan mereka saling bersaing untuk saling menundukkan dan menganggap liyan sebagai musuh. Padahal kadang musuh itu ada di cermin ketika kita mematut diri. Lalu, siapakah musuh itu? Lagi-lagi ini memerlukan ruang lain, namun demikian kita bisa merujuk pada buku Karl Popper yang menjelaskan secara mendalam siapa musuh-musuh itu di dalam masyarakat terbuka.

Friday, January 02, 2009

Mengukuhkan Niat

Saya telah membeli buku agenda kecil untuk mewujudkan keinginan yang telah hinggap di benak sebelumnya. Tentu, hanya ada beberapa butir pekerjaan yang bisa dilakukan agar saya tidak lagi mendesakkan begitu banyak minat yang acapkali datang dan pergi. Salah satunya yang saya ingin penuhi di tahun ini adalah menulis buku tentang hal ihwal intelektual. Jika sebelumnya saya hanya menceracau di tulisan pendek, rasanya kurang gereget kalau bacaan dan pembacaan tentang cendekiawan itu tidak diterakan dalam cerita panjang.

Pergantian tahun saya lewati dengan mengunjungi acara tahun baru di konsulat, di mana para staff, pekerja, dan mahasiswa merayakannya dengan bernyanyi. Dangdut tentu mendapatkan perhatian lebih karena ia seakan-akan menjadi musik kebangsaan yang dibawakan sepenuh hati dari pelbagai lapisan. Saya sendiri berduet dengan Bunda melantukan Sepanjang Jalan Kenangan dan Jangan Ada Dusta agar kalangan tua juga terhibur, meskipun saya kadang lebih sreg dengan membawakan lagu due Rhoma dengan Rita. Malah, kami harus menghabiskan waktu dua jam dari angka 12 untuk larut dalam lagu. Dalam perjalanan pulang, di tengah gelap, kami berpapasan dengan sekumpulan orang yang sedang memapah temannya yang tidak lagi sanggup berdiri, mungkin diterjang minuman keras.

Jalanan lengang. Lelah dan ingin segera lelap. Keesokan harinya bangun pagi, lalu pulas kembali. Jam sepuluh kami pun bangun dan mengasup setangkup roti. Makan siang di warung Pecel Lele, kami berjumpa dengan Mas Doni. Di sana ada banyak cerita. Dia tidak merayakan pergantian tahun di luar, hanya di rumah. Sama seperti dulu saya lakukan di asrama. Masing-masing menyisakan makna. Paling tidak kehendak untuk menjadi manusia lebih baik akan terus terpatri seiring tantangan yang tak juga mengenal lelah menyerimpungkan kita dari tujuan. Semoga!