Posts

Showing posts from March, 2012

Huruf Jawi

Image
Saya mendapatkan tulisan Arab pegon ini di sebuah kitab Yasin di surau tak jauh dari rumah. Ini mengingatkan saya pada masa belajar di pondok pesantren, di mana saya harus memberi arti kata Arab satu persatu di bawah barisan. Sejauh ini, saya tidak mengikuti pedoman penulisan huruf Jawi. Tapi, kami bisa memahami satu sama lain cara menulis bahasa Indonesia dalam Arab pegon. Ibu saya pun hanya bisa menulis huruf Jawi, dan tidak Latin.
Kenapa huruf Jawi di Indonesia mati suri, sementara di Malaysia tak lagi dibanggakan oleh pemiliknya? Mari cari tahu dengan menanyakan pada kawan-kawan Anda.

Tertawankah Pikiran Anda?

Image
Membaca buku ini, saya menemukan sudut pandangan baru tentang orang Malaysia memandang dirinya dan orang lain. Sebagai hasil perenungan, ia tidak berpihak, tapi mencoba mengetengahkan pikiran yang seimbang tentang agama, negara, sarjana dan kebudayaan. Berkat Amir Mahmud, seniman, saya bisa menjejaki rumah penulis. Kebetulan, ia tidak terdaftar di facebook dan twitter. Aha, seniman ini betul-betul hidup dengan pikirannya yang melawan arus utama.

Kecantikan dan Iklan

Image
Mengapa untuk cantik perempuan harus membaca Cosmopolitan? Mengapa perempuan harus cantik di luar rumah dan tidak di dalam rumah? Lalu, untuk apa kecantikan itu? Untuk keluarga atau orang lain? Mengapa perempuan yang bercadar atau berburqa tampak salah di banyak mata kaum feminis? Bukankah mereka tidak mengobral tubuhnya untuk orang ramai? Adakah kebebasan itu mendedahkan tubuh, lalu ketidakbebasaan menutup aurat?
Mari tengok sejenak gambar-gambar perempuan di majalah, baik di Malaysia maupun Indonesia! Kalau Tuhan menciptakan manusia, lalu melahirkannya ke dunia dalam keadaan tak berpakaian dan memakai alat solekan, mengapa manusia kemudian merepotkan dirinya dengan desain pakaian terbaru dan merek alat kecantikan? Adakah mereka tak lagi memercayai Tuhannya? Bukankah kecantikan yang didapatkan dari alat solekan adalah palsu dan dangkal? Bukankah perempuan terpedaya oleh iklan bahwa cantik itu bisa diperoleh dari alat solekan berjenama luar yang mahal?
Tanpa memikirkan kembali apa itu …

Pecel Ayam dan Es Alpokat (Avocado)

Image
Warung makan ini terletak di bawah Pusat Perbelanjaan Bukit Jambul, Pulau Pinang. Menikmati pecel ayam dengan segelas alpokat tentu menjadi menu makan siang yang hebat. Berada di bawah Pasaraya Mydin, warung ini menjadi tempat rehat setelah berbelanja di tingkat satu. Saya begitu menikmati rasa pedas sambal. Tanpa harus tidak menghormati makanan cepat saji, seperti McDonald dan Pizza Hut, saya lebih memilih makanan seperti ini. Lidah saya tak cocok dengan mayones. Tapi, dalam waktu tertentu, saya juga mencoba menikmati setiap gigitan makanan dari Amerika dan Italia ini. Memang mengenyangkan, namun cita rasa asal saya tak bertemu dengan menu. Ia bukan kegenitan tentang kecintaan terhadap makanan lokal. Dalam Bourdieu, La Distinction, selera itu kadang hadir untuk menyampaikan kelas. Lalu, apakah dengan hot dog yang saya beli di pinggir jalan, bukan McDonald, saya membawakan diri sebagai kelas menengah sebagaimana fenomena masyarakat Perancis yang diteliti oleh Bourdieu?Mungkin jawaban d…

Lobi Izrael dan Kebijakan Amerika

Image
Citra pelobi Izrael yang tangguh itu hanya isapan jempol belaka. Buktinya, sampai hari ini, negeri Zionis ini tak mampu menggoda Republik Indonesia untuk membuka hubungan diplomatik.

Tertib itu Penting

Image
Dua anak kecil ini tanpa harus diminta meletakkan sepatu dan sandal di rak yang telah disediakan oleh pusat perbelanjaan. Dari hal sederhana inilah, orang tua seharusnya melakukan perubahan dalam masyarakat luas. Mari belajar menempatkan sesuatu di tempatnya, yang pada gilirannya kita akan belajar bagaimana kita membawakan diri dalam kehidupan kita yang terkait dengan kewajiban dan hak-hak dalam hubungan sosial.

Anak Kecil Menyukai Gambar

Image
Sebagaimana anak seusianya, Nabbiyya akan mendatangi raku buku-buku untuk anak-anak yang bergambar. Meskipun belum bisa membaca, ia sangat menyukai majalah yang dipenuhi aneka gambar, seperti Donald Bebek, Barney dan lain-lain. Malah Tante Dewi, Ibu Arkana, menghadiahkan majalah Barney untuk Nabbiyya.
Mengapa anak kecil menyukai gambar? Karena secara alamiah, gambar itu mampu mencerminkan kenyataan dengan tepat. Ia bisa merasakan wajah senang, cemberut, tertawa dan sinis dari raut muka tokoh di majalah. Kelucuan sering hadir dalam gambar-gambar itu, sehingga anak-anak kadang memilih bacaan daripada melihat orang tuanya. Mungkin, para orang tua harus mengubah wajah mereka menghadapi anak-anak mereka.
Lebih jauh, kehadiran anak-anak di toko buku adalah penting agar mereka tidak selalu menemukan keriangan di arena permainan, yang malah bersebelahan dengan Kedai Buku Populer ini. Sementara, saya akan mengunjungi rak non-fiksi, karena saya masih berharap bahwa hidup yang rumit ini bisa dil…

Ke manakah Buku Anda Disumbangkan?

Image
Sebagai pengajar Falsafah dan Etika atau Sains Pemikiran dan Etika, saya merasa bangga karena mahasiswa akhirnya menyumbangkan buku teks pada perpustakaan. Menurut saya, secara deontologikal, manusia melakukan kebaikan karena pelbagai alasan yang mulia. Bagaimana dengan Anda? Haruskah kita memegang teguh prinsip teleologikal, di mana kita berbuat baik karena kita mendapatkan hasil dari apa yang kita lakukan? Apakah prinsip pertama, yang juga kadang dikenal sebagai duty (kewajiban) atau Theory of God Cammand, masih mendapatkan tempat di tengah-tengah masyarakat yang cenderung merayakan hedonisme?
Tentu, penyumbang buku itu tidak dikenal oleh pengunjung perpustakaan. Meskipun, ada sebagian yang menuliskan nama di buku yang disumbangkan, namun bukankah kadang pembaca tidak mengenalnya? Selain itu, ternyata ada banyak nama-nama penyumbang dari Eropa dan Amerika yang juga mengisi rak-rak buku Perpustakaan Sultanah Bahiyah Universitas Utara Malaysia. Selain juga ada tokoh lokal tertentu yang…

Mengatasi Konflik Sesama

Image
Saya mengambil gambar sebuah halaman buku yang membicarakan penyelesaian konflik. Kita harus memusatkan perhatian pada penyelesaian, bukan membesarkan konflik. Hanya orang bodoh yang menemukan hidup pada pertikaian, bukan pada resolusi.

Melestarikan Alam Sekitar

Image
Saya tak memerlukan sedotan (straw) untuk minum jus jambu.

Surat K(h)abar Bekas

Image
Setelah sekian lama surat kabar itu menumpuk, saya bersama Nabbiyya membawanya ke toko sepeda yang juga menerima koran lama. Seperti para pensiunan, saya biasanya membeli koran sesudah sembahyang Subuh di surau tak jauh dari rumah. Lalu, dengan koran di tangan, saya membeli sarapan di seberang jalan toko koran. Kedua pemilik toko ini adalah dua perempuan yang setia setiap pagi melayani pembeli. Ada pelbagai koran, seperti Sinar Harian, Berita Harian, New Straits Time, Metro, Harakah, Suara Keadilan, Kosmo!, Malay Mail dan The Star. Ada juga koran Indonesia, namun tak banyak, seperti Jawa Pos dan KOMPAS, yang dibeli ketika dalam perjalanan kembali ke Kedah dari Yogyakarta atau Surabaya.
Sebelum menjualnya, saya bertanya pada seorang lelaki 30-an yang sedang memperbaiki sepeda anak orang Arab yang juga tinggal di perumahan tempat saya tinggal. Dengan senyum, ya, kami menerima koran bekas. Serta merta saya meminjam troli Pasaraya Yawata untuk mengangkut koran tersebut. Di sana, dua lelak…

Angka Sial?

Image
Benarkah angka ini tidak membawa keberuntungan? Lalu, mengapa sebuah pasar swalayan masih menggunakannya? Lalu, benarkah ada angka sial? Ini hanya mengingatkan saya pada angka 9 yang dianggap keramat dalam tradisi keluarga saya. Apa pun, angka itu perlu hadir agar kita bisa mengukur sejauh mana kita telah melangkah. Namun demikian, ke mana pun kita mengayunkan kaki, kita akan menuju angka 1. Sebanyak apa pun angka yang kita dapat, kita ingin menjadi nomor satu.