Wednesday, March 21, 2012

Huruf Jawi

Saya mendapatkan tulisan Arab pegon ini di sebuah kitab Yasin di surau tak jauh dari rumah. Ini mengingatkan saya pada masa belajar di pondok pesantren, di mana saya harus memberi arti kata Arab satu persatu di bawah barisan. Sejauh ini, saya tidak mengikuti pedoman penulisan huruf Jawi. Tapi, kami bisa memahami satu sama lain cara menulis bahasa Indonesia dalam Arab pegon. Ibu saya pun hanya bisa menulis huruf Jawi, dan tidak Latin.

Kenapa huruf Jawi di Indonesia mati suri, sementara di Malaysia tak lagi dibanggakan oleh pemiliknya? Mari cari tahu dengan menanyakan pada kawan-kawan Anda.

Tuesday, March 20, 2012

Tertawankah Pikiran Anda?

Membaca buku ini, saya menemukan sudut pandangan baru tentang orang Malaysia memandang dirinya dan orang lain. Sebagai hasil perenungan, ia tidak berpihak, tapi mencoba mengetengahkan pikiran yang seimbang tentang agama, negara, sarjana dan kebudayaan. Berkat Amir Mahmud, seniman, saya bisa menjejaki rumah penulis. Kebetulan, ia tidak terdaftar di facebook dan twitter. Aha, seniman ini betul-betul hidup dengan pikirannya yang melawan arus utama.

Saturday, March 17, 2012

Kecantikan dan Iklan

Mengapa untuk cantik perempuan harus membaca Cosmopolitan? Mengapa perempuan harus cantik di luar rumah dan tidak di dalam rumah? Lalu, untuk apa kecantikan itu? Untuk keluarga atau orang lain? Mengapa perempuan yang bercadar atau berburqa tampak salah di banyak mata kaum feminis? Bukankah mereka tidak mengobral tubuhnya untuk orang ramai? Adakah kebebasan itu mendedahkan tubuh, lalu ketidakbebasaan menutup aurat?

Mari tengok sejenak gambar-gambar perempuan di majalah, baik di Malaysia maupun Indonesia! Kalau Tuhan menciptakan manusia, lalu melahirkannya ke dunia dalam keadaan tak berpakaian dan memakai alat solekan, mengapa manusia kemudian merepotkan dirinya dengan desain pakaian terbaru dan merek alat kecantikan? Adakah mereka tak lagi memercayai Tuhannya? Bukankah kecantikan yang didapatkan dari alat solekan adalah palsu dan dangkal? Bukankah perempuan terpedaya oleh iklan bahwa cantik itu bisa diperoleh dari alat solekan berjenama luar yang mahal?

Tanpa memikirkan kembali apa itu cantik, maka keluarga kita akan tersendera oleh persepsi bahwa kaum remaja dan ibu akan mendapatkan kehormatan dengan menumpahkan segala bedak, gincu dan eye shadow ke mukanya. Mereka akan merasa tak nyaman dengan tubuhnya sendiri. Betapa saya kadang tak bisa menahan haru ketika melihat ibu-ibu dan kaum remaja puteri tak begitu menikmati makan siangnya di warung makan karena mereka harus begitu hati-hati dengan sesuap nasi yang mungkin merusak 'wajahnya'. Lalu, cantik itu apa jika ia ternyata hanya membuat pemiliknya tersiksa?

Thursday, March 15, 2012

Pecel Ayam dan Es Alpokat (Avocado)


Warung makan ini terletak di bawah Pusat Perbelanjaan Bukit Jambul, Pulau Pinang. Menikmati pecel ayam dengan segelas alpokat tentu menjadi menu makan siang yang hebat. Berada di bawah Pasaraya Mydin, warung ini menjadi tempat rehat setelah berbelanja di tingkat satu. Saya begitu menikmati rasa pedas sambal. Tanpa harus tidak menghormati makanan cepat saji, seperti McDonald dan Pizza Hut, saya lebih memilih makanan seperti ini. Lidah saya tak cocok dengan mayones.

Tapi, dalam waktu tertentu, saya juga mencoba menikmati setiap gigitan makanan dari Amerika dan Italia ini. Memang mengenyangkan, namun cita rasa asal saya tak bertemu dengan menu. Ia bukan kegenitan tentang kecintaan terhadap makanan lokal. Dalam Bourdieu, La Distinction, selera itu kadang hadir untuk menyampaikan kelas. Lalu, apakah dengan hot dog yang saya beli di pinggir jalan, bukan McDonald, saya membawakan diri sebagai kelas menengah sebagaimana fenomena masyarakat Perancis yang diteliti oleh Bourdieu?

Mungkin jawaban dari pertanyaan di atas tak mudah, namun siapa pun akan mengalami keterpecahan kepribadian terkait kelas. Penolakan terhadap kelas tertentu sejatinya adalah penegasan kelas lain, yang sama-sama berebut kepentingan. Hanya saja, kita hanya perlu mempertemukan kepentingan, agar persaingan tidak berbuah pertikaian. Saya akan membiarkan orang lain menikmati hidupnya di restoran cepat saji, meskipun saya akan menyatakan bahwa prilaku ini adalah bukan gaya hidup sehat.

Wednesday, March 14, 2012

Lobi Izrael dan Kebijakan Amerika


Citra pelobi Izrael yang tangguh itu hanya isapan jempol belaka. Buktinya, sampai hari ini, negeri Zionis ini tak mampu menggoda Republik Indonesia untuk membuka hubungan diplomatik.

Tuesday, March 13, 2012

Tertib itu Penting

Dua anak kecil ini tanpa harus diminta meletakkan sepatu dan sandal di rak yang telah disediakan oleh pusat perbelanjaan. Dari hal sederhana inilah, orang tua seharusnya melakukan perubahan dalam masyarakat luas. Mari belajar menempatkan sesuatu di tempatnya, yang pada gilirannya kita akan belajar bagaimana kita membawakan diri dalam kehidupan kita yang terkait dengan kewajiban dan hak-hak dalam hubungan sosial.

Friday, March 09, 2012

Anak Kecil Menyukai Gambar

Sebagaimana anak seusianya, Nabbiyya akan mendatangi raku buku-buku untuk anak-anak yang bergambar. Meskipun belum bisa membaca, ia sangat menyukai majalah yang dipenuhi aneka gambar, seperti Donald Bebek, Barney dan lain-lain. Malah Tante Dewi, Ibu Arkana, menghadiahkan majalah Barney untuk Nabbiyya.

Mengapa anak kecil menyukai gambar? Karena secara alamiah, gambar itu mampu mencerminkan kenyataan dengan tepat. Ia bisa merasakan wajah senang, cemberut, tertawa dan sinis dari raut muka tokoh di majalah. Kelucuan sering hadir dalam gambar-gambar itu, sehingga anak-anak kadang memilih bacaan daripada melihat orang tuanya. Mungkin, para orang tua harus mengubah wajah mereka menghadapi anak-anak mereka.

Lebih jauh, kehadiran anak-anak di toko buku adalah penting agar mereka tidak selalu menemukan keriangan di arena permainan, yang malah bersebelahan dengan Kedai Buku Populer ini. Sementara, saya akan mengunjungi rak non-fiksi, karena saya masih berharap bahwa hidup yang rumit ini bisa dilihat dalam satu buku. Ternyata tidak! Kenyataan itu jauh lebih kompleks dibandingkan dengan barisan huruf-huruf yang bertebaran di halaman buku.

Thursday, March 08, 2012

Ke manakah Buku Anda Disumbangkan?

Sebagai pengajar Falsafah dan Etika atau Sains Pemikiran dan Etika, saya merasa bangga karena mahasiswa akhirnya menyumbangkan buku teks pada perpustakaan. Menurut saya, secara deontologikal, manusia melakukan kebaikan karena pelbagai alasan yang mulia. Bagaimana dengan Anda? Haruskah kita memegang teguh prinsip teleologikal, di mana kita berbuat baik karena kita mendapatkan hasil dari apa yang kita lakukan? Apakah prinsip pertama, yang juga kadang dikenal sebagai duty (kewajiban) atau Theory of God Cammand, masih mendapatkan tempat di tengah-tengah masyarakat yang cenderung merayakan hedonisme?

Tentu, penyumbang buku itu tidak dikenal oleh pengunjung perpustakaan. Meskipun, ada sebagian yang menuliskan nama di buku yang disumbangkan, namun bukankah kadang pembaca tidak mengenalnya? Selain itu, ternyata ada banyak nama-nama penyumbang dari Eropa dan Amerika yang juga mengisi rak-rak buku Perpustakaan Sultanah Bahiyah Universitas Utara Malaysia. Selain juga ada tokoh lokal tertentu yang begitu banyak mendermakan koleksi pribadinya, sehingga perpustakaan membuat ruangan khusus untuk memelihara warisan tersebut dan meletakkan nama yang bersangkutan di atas pintu masuk.

Apa pun, sumbangan itu hanya untuk kebaikan, tanpa harus dibebani apakah nama kita akan diingat atau diberikan penghargaan oleh lembaga tertentu. Seperti kata Nabi, ketika tangan kanan kita memberi, tangan kiri kita tak perlu tahu. Apakah kita telah melakukannya, Sahabat? Namun, kalau pun kita tidak menyumbang buku, dengan membacanya kita sebenarnya kita telah berbuat kebaikan yang sama. Bagaimanapun, saya telah melakukan yang terakhir ini. Anda, bagaimana?

Tuesday, March 06, 2012

Mengatasi Konflik Sesama


Saya mengambil gambar sebuah halaman buku yang membicarakan penyelesaian konflik. Kita harus memusatkan perhatian pada penyelesaian, bukan membesarkan konflik. Hanya orang bodoh yang menemukan hidup pada pertikaian, bukan pada resolusi.

Saturday, March 03, 2012

Surat K(h)abar Bekas

Setelah sekian lama surat kabar itu menumpuk, saya bersama Nabbiyya membawanya ke toko sepeda yang juga menerima koran lama. Seperti para pensiunan, saya biasanya membeli koran sesudah sembahyang Subuh di surau tak jauh dari rumah. Lalu, dengan koran di tangan, saya membeli sarapan di seberang jalan toko koran. Kedua pemilik toko ini adalah dua perempuan yang setia setiap pagi melayani pembeli. Ada pelbagai koran, seperti Sinar Harian, Berita Harian, New Straits Time, Metro, Harakah, Suara Keadilan, Kosmo!, Malay Mail dan The Star. Ada juga koran Indonesia, namun tak banyak, seperti Jawa Pos dan KOMPAS, yang dibeli ketika dalam perjalanan kembali ke Kedah dari Yogyakarta atau Surabaya.

Sebelum menjualnya, saya bertanya pada seorang lelaki 30-an yang sedang memperbaiki sepeda anak orang Arab yang juga tinggal di perumahan tempat saya tinggal. Dengan senyum, ya, kami menerima koran bekas. Serta merta saya meminjam troli Pasaraya Yawata untuk mengangkut koran tersebut. Di sana, dua lelaki dan perempuan tua menyambutnya dan membawanya ke dalam untuk ditimbang. Si anak menunjuk angka 20, yang berarti koran itu seberat 20 Kg. Ibu tua itu pun membuka laci meja dan menyerahkan 4 lembar ringgit dan 10 sen. Tentu harga murah ini hanya membeli kertas bekas, bukan berita yang ditulis di dalamnya, apalagi pendapat yang ditulis dalam kolom opini.

Dulu, ketika saya tinggal di Pulau Pinang, saya tak menjual koran bekas, tapi memberikannya pada Ibu Yati, TKW asal Jawa Tengah yang bekerja sebagai petugas kebersihan di flat kami. Kadang, saya memberikan tumpukan koran pada tetangga kami yang juga bekerja mengumpulkan barang-barang bekas, seperti alat eletronik dan sepeda. Dengan melakukan hal ini, saya berharap koran itu tidak sia-sia, apatah lagi dibakar, tidak didaur ulang (bahasa Malaysia kitar semula). Menyelamatkan bumi dari sampah adalah tugas para khalifah.

Thursday, March 01, 2012

Angka Sial?

Benarkah angka ini tidak membawa keberuntungan? Lalu, mengapa sebuah pasar swalayan masih menggunakannya? Lalu, benarkah ada angka sial? Ini hanya mengingatkan saya pada angka 9 yang dianggap keramat dalam tradisi keluarga saya. Apa pun, angka itu perlu hadir agar kita bisa mengukur sejauh mana kita telah melangkah. Namun demikian, ke mana pun kita mengayunkan kaki, kita akan menuju angka 1. Sebanyak apa pun angka yang kita dapat, kita ingin menjadi nomor satu.