Posts

Showing posts from May, 2017

Ramadan di Bukit Kachi [4]

Image
Sahur hari ke-empat berjalan seperti biasa. Gerimis turun. Menu berupa nasi, sayur, dan berlauk tempe dan telur terhidang. Secawan kopi jahe menghangatkan badan. Sesudah Subuh, hujan deras mengguyur tanah. Saya sempat berdiri di balkon untuk menikmati suara air yang tumpat dari langit, sekali-kali melemparkan pandangan ke asrama mahasiswa. Suasana tenang. Meskipun ribuan orang tinggal di sana, mereka tidak bising.

Pada hari ke-dua, Biyya sempat bertanya kapan mau pergi ke Bazar Ramadan. Mengingat persediaan kebutuhan pokok masih ada, kami menunda. Baru hari ini kami pergi ke Changlun. Di tengah menyusuri lapak, saya sempat mengambil gambar kedai Nasi Ambeng. Ada banyak pelanggan antri. Namun, sebelumnya kami telah memesan makan berbuka di warung Thailand, sehingga tak membeli nasi yang dicampur dengan parutan kelapa, ayam, mie, dan sayur dalam satu piring ini. Di depan warung ini, saya sempat bertemu dengan Dr Hilmi, dosen fakultas Bahasa, Peradaban dan Filsafat.

Hikmah berbuka adala…

Ramadan di Bukit Kachi [3]

Image
Hingga hari ketiga, selain menikmati kurma, kami mengudap buah mangga. Heran, tak bosan-bosan. Mungkin, saya tak bisa sepenuhnya menjadi penjemu hanya karena mengulang hal yang sama, seperti dalam film Cafe (2010).

Tapi, makan hanya memenuhi beberapa menit dalam 24 jam keseharian kita. Aneh, jika kebiasaan ini tidak betul-betul dijaga untuk menyangga tubuh. Sejauh ini, kelezatan terkait dengan rasa yang yang dibiasakan dalam pola makan sehari-hari. Hingga ke hari ini, saya belum bisa menikmati mayoinnase sesedap sambal, baik petis, kacang, dll.

Asupan lain adalah bermain dan berhibur. Itupun ada batas. Beruntung, di tengah kesenangan membaca teks filsafat dan disiplin lain, saya juga bisa menikmati dalam versi dokumenter, seperti yang dihasilkan oleh The School of Life. Ini hiburan lain yang bisa dinikmati dari fasilitas internet yang disediakan tak terbatas oleh universitas. Dalam persembahan dengar-pandang (audio-visual), tokoh-tokoh pemikir seakan hidup kembali. Ternyata, mereka s…

Ramadan di Bukit Kachi [2]

Image
Beruntung di pagi pertama Ramadhan, hujan mengguyur Bukit Kachi. Saya membayangkan pohon-pohon berpendaran karena tetesan air ditimpa oleh matahari. Tak seperti malam pertama, saya menunaikan salat Tarawih di dalam masjid, tidak di teras, karena tak panas. Di tengah menunggu sembahyang, saya sempat memerhatikan aneka pakaian mahasiswa, seperti kaos, baju Melayu, celana, dan tentu merek sarung. Alamak, ada jenama Raja Unta!

Saya bangun lebih awal satu jam dari biasa, jam 4. Melihat tumpukan baju yang telah dicuci, saya tak membangunkan ibu Biyya karena ia perlu istirahat dan mengambil alih tugas di dapur: mencuci penanak nasi dan memasak beras. Tebersit, betapa mudah hidup hari ini karena banyak pekerjaan yang dulu dilakukan dalam waktu lama, sekarang hanya dalam waktu singkat selesai. Jadi, apa yang sering kita lakukan pada waktu luang?

Pada hari kedua, kami berbuka dengan soto. Sebelumnya, dua butir kurma hingga di mulut untuk memulai ritual yang selalu mendatangkan keriangan, disus…

Ramadan di Bukit Kachi [1]

Image
Saya hanya membawa kunci rumah ke masjid asrama. Beruntung, Kai, mahasiswa dari Sabah, membawa telepon genggam. Saya meminta seorang pegiat tersebut mengambil foto ketika para mahasiswa hendak menunaikan salat Isya'. Sementara mahasiswi berbaris di belakang dengan pemisah.

Di malam pertama, masjid ini dipenuhi oleh mahasiswa dan mahasiswi yang juga hendak menunaikan sembahyang tarawih. Encik Shahidan Abdullah, seorang hafiz, memimpin ibadah malam. Setelah lebih dari satu jam, kami mengakhiri salat malam ini dengan tiga rakaat witir. Suasana tak seperti biasa. Ada aura magis yang menyelimuti bukit yang berbatasan dengan negeri Gajah Putih itu.

Sebagai lelaki yang besar di kampung dan lama belajar di pondok, saya terbiasa dengan amalan di atas. Dulu, saya bersama teman-teman sebaya malah melanjutkan dengan tadarus al-Qur'an yang dipancarkan melalui pelantang TOA. Sekarang, saya mendaras kitab suci di rumah agar anak-anak melihat ayahnya tidak hanya asyik dengan gawai dan menamb…

Lautan Fragmen

Image
Setelah membaca pengantar dan beberapa tulisan untuk menjawab pertanyaan, "Is the internet changing the way what you think", saya memunggah coretan di dinding Facebook apa yang ditulis oleh Kevin Kelly, penulis What Technology Wants, "Saya bahagia berenang dalam lautan fragmen".

Ya, internet telah membuat penggunanya berpikir lebih aktif, kurang perenungan. Mereka acapkali melompat dari satu isu ke isu yang lain. Tidak ada kedalaman. Lihat, sampul buku ini memperlihatkan patung Rodin tidak lagi berpikir, tetapi berselancar menikmati gelora.

Tetapi, buku ini tak menjadi hakim atas internet sebagai terdakwa. Cliffort Pickover dalam "The Rise of Internet Prosthetic Brains and Soliton Personhood" mengutip kajian tentang pengaruh individu dalam jaringan sosial terhadap kesehatan dan kebahagian pengguna (hlm. 309). Jadi, internet bisa digunakan untuk secara sadar memilih sesuatu yang mendatangkan faedah.

Saya sendiri tentu perlu memeriksa kembali jam penggunaa…