Posts

Showing posts from July, 2005

pertemuan dengan penyelia [ke lima]

Hari ini jam 11, ada janji temu dengan penyelia [supervisor] untuk membicarakan proposal yang memasuki tahap final untuk diseminarkan. Tampak, untuk pertemuan ke sekian kalinya, aku telah merasakan 'kedekatan' intelektual, yang biasanya tak terjadi. Ada pertukaran ide, meskipun kadang lebih banyak mendengar banyak hal.
Saya ungkapkan bahwa saya percaya-diri untuk menulis tajuk Hubungan Tuhan, Manusia dan alam di dalam al-Qur'an: Sebuah kajian Terhadap analisis Semantik Toshihiko Izutsu melalui Pendekatan Hermeneutik. Tentu saja, profesor senang tapi juga memberikan masukan dan poin yang harus mendapat perhatian karena penulisan ini juga akan diuji oleh pakar. Saran beliau adalah memahami dengan kukuh, luas dan baik beberapa subjek, di antaranya:

1. Kemampuan bahasa Arab
2. Sejarah kesarjanaan Tafsir, meliputi tokoh utama, kaedah baik di dalam warisan tradisionalis, modern dan orientalis
3. Hermeneutik dan Semantik
4. Izutsu, sebagai pribadi, kesarjanaan, karya [secara menyelu…

Hanyut

Tenggelam
dalam matamu
tak kuasa
tepis gundah
Ingin ku berlari
tapi lelah
pesonamu
hunjam dalam
tak terperi

kenapa harus memilih?

Awalnya, perkumpulanm [baca: Persatuan Pelajar Indonesia Malaysia] ditabalkan untuk ajang mengatur pelbagai kepentingan menjadi kekuatan tunggal yang mempercepat tercapainya tujuan bersama. Namun, lain di komitmen, lain juga di perbuatan. Setiap individu ingin memaksakan keinginannya. Tentu saja, banyak alasan yang diungkapkan dengan dikemas secara meyakinkan.
Tak ada yang perlu dirisaukan, sebenarnya. Perbedaan itu, pada dasarnya, adalah wujud dari kehendak kuasa yang perlu dijelmakan jadi kenyataan. Tapi, kenapa harus menginjak 'jempol' kaki orang lain? Bukankah, dengan kebersamaan semua tampak lebih ringan?
Lagi-lagi, saya juga harus memilih antara dua hal yang dilema. Jika, saya memilih satu, tetapi saya tetap bertegur-sapa dengan yang lain. Bagaimanapun, keduanya disatukan oleh perasaan primordial sejati, kemanusiaan.

bola

Kemarin, saya bermain bola dengan anak-anak Indonesia. Meskipun, terpisahkan jurang emosional, kita bermain sportif. Di sinilah, saya menemukan dunia yang tidak disodori tentang persoalan benar dan tidaknya sesuatu. Kita hanya ingin keriangan, itu saja. Permainan inilah yang menerabas aturan dan norma yang memenjara keseharian.
Lalu, jika kita merasa nyaman, masihkah kita digelayuti gundah?
Masalahnya, kenapa kita acapkali berkelompok dengan 'entitas primordial', yaitu keindonesiaan?
Image
di sini, saya mencari ilham!
Image
inilah pantai Batu Ferrighi itu. Apakah ia punya makna? Tidak! Kita yang memberinya. Ironisnya, tak ungkap nyata!
Image
pada diri yang narsis, aku protes!

bening, mengapa?

Bening biasa digunakan di dalam air yang tak keruh, sehingga dari permukaan mata bisa menembus dasar, tak ada yang tersembunyi. Berbeda dengan keruh, mata ini jadi sepat dan itu membuat suasana hati terbawa resah.
kotor, tidak hanya sekedar keruh. Ia menghalangi asa untuk berlama-lama dan menikmati air kehidupan.

puisi itu: pasrah atau kalah?

Aku sangat tersentuh dengan puisi itu, meski tak ada tajuk. Miris membacanya. Namun, terbersit ragu. Apakah kita adalah makhluk yang tak punya kuasa untuk mencabar Sang Penguasa? Bukankah, ketidakberdayaan kadang ditutupi dengan penyerahan diri padaNya? Tak jarang, bukan Tuhan yang memaksa kita untuk memilih, tapi mereka yang berkehendak atas nama kebajikan. Semoga tidak!

mesin

Aku bukan mesin. Tapi, sehari-hari aku seperti mesin. Tubuhku dipenuhi oleh jam, jadual, dan bahan bakar [karbohidrat]. Lalu, di manakah jiwa?

Aku, mahasiswa sejati?

Catatan Kecil

Paling tidak, sebagai mahasiswa, kita mempunyai dua keuntungan, yaitu ekonomi dan politik. Secara ekonomi, kita adalah sebagian kecil anak bangsa yang mampu menikmati bangku kuliah sementara ratusan ribu hanya mengecapi pendidikan sekolah menengah. Secara politik, kita adalah komunitas yang mempunyai kedudukan diperhitungkan dalam percaturan kehidupan berbangsa karena kritisismenya mempunyai daya dobrak.
Lalu pernahkah kita memikirkan dua hal ini sebagai sebuah anugerah? Jika kita menganggap demikian, maka ini adalah awal untuk menjaga kepercayaan, mengukuhkan komitmen dan menjalaninya dengan sepenuh hati – belajar. Tetapi, belajar bukan hanya membaca teks, ia juga membuat teks itu berbicara dalam tindakan konkret. Teks tentang keadilan akan mendorong kita untuk tidak melakukan pembedaan terhadap orang lain. Teks tentang pembelaan terhadap yang terpinggirkan akan mengajak kita untuk menyapa mereka dan bertanya apa derita yang sedang dipikulnya. Di sini, negara jiran Malay…

Perkumpulan Pelajar Indonesia

Hari Ahad, pelajar Indonesia berkumpul untuk berbagi. Masing-masing mengusung dirinya sendiri, mengusulkan banyak hal, dan mencoba untuk memahami satu sama lain.

Saya tidak tahu, jika mereka adalah makhluk yang sama, pikiran dan keinginannya. Mungkin, ruang sapa tak akan tercipta. Tak juga kehidupan.

Ann dan Anna

Aku awam dalam sastra. Aku belajar pada mereka tentang kata-kata. Tapi. selalu saja aku menyela dengan pikiranku sendiri. Inikah pertemuan horizon itu?

Sebuah catatan: kedua teman ini adalah dua mahasiswa sastra di jurusan Ilmu Humaniora di Universitas Sains Malaysia. Yang pertama berasal dari etnik Cina Sabah dan yang terakhir berdarah Melayu Kelantan. Biasanya, kedua etnik ini berjarak. Agak jarang kita menemukan keduanya bisa akrab.