Friday, July 29, 2005

pertemuan dengan penyelia [ke lima]

Hari ini jam 11, ada janji temu dengan penyelia [supervisor] untuk membicarakan proposal yang memasuki tahap final untuk diseminarkan. Tampak, untuk pertemuan ke sekian kalinya, aku telah merasakan 'kedekatan' intelektual, yang biasanya tak terjadi. Ada pertukaran ide, meskipun kadang lebih banyak mendengar banyak hal.
Saya ungkapkan bahwa saya percaya-diri untuk menulis tajuk Hubungan Tuhan, Manusia dan alam di dalam al-Qur'an: Sebuah kajian Terhadap analisis Semantik Toshihiko Izutsu melalui Pendekatan Hermeneutik. Tentu saja, profesor senang tapi juga memberikan masukan dan poin yang harus mendapat perhatian karena penulisan ini juga akan diuji oleh pakar. Saran beliau adalah memahami dengan kukuh, luas dan baik beberapa subjek, di antaranya:

1. Kemampuan bahasa Arab
2. Sejarah kesarjanaan Tafsir, meliputi tokoh utama, kaedah baik di dalam warisan tradisionalis, modern dan orientalis
3. Hermeneutik dan Semantik
4. Izutsu, sebagai pribadi, kesarjanaan, karya [secara menyeluruh]
5. Konteks pemikiran Izutsu di dalam kesarjanaan Jepun kaitannya dengan Pengajian Islam
6. Tema yang dibahas, iaitu, Hubungan Tuhan, Manusia dan Alam
7. Al-Qur'an dan Pemikiran Islam
8. Tafsir dan perkembangan masa kini

Acapkali, setiap pertemuan, bahkan sejak pertama kali bersua, ada sebuah kata yang ditekankan, yakni, kukuh [strong]. Ya, kata terakhir ini memang sering menari di benak ini.

Seminggu lagi, naskah proposal akan diberikan untuk diseminarkan. Semoga!

Hanyut

Tenggelam
dalam matamu
tak kuasa
tepis gundah
Ingin ku berlari
tapi lelah
pesonamu
hunjam dalam
tak terperi

Thursday, July 28, 2005

kenapa harus memilih?

Awalnya, perkumpulanm [baca: Persatuan Pelajar Indonesia Malaysia] ditabalkan untuk ajang mengatur pelbagai kepentingan menjadi kekuatan tunggal yang mempercepat tercapainya tujuan bersama. Namun, lain di komitmen, lain juga di perbuatan. Setiap individu ingin memaksakan keinginannya. Tentu saja, banyak alasan yang diungkapkan dengan dikemas secara meyakinkan.
Tak ada yang perlu dirisaukan, sebenarnya. Perbedaan itu, pada dasarnya, adalah wujud dari kehendak kuasa yang perlu dijelmakan jadi kenyataan. Tapi, kenapa harus menginjak 'jempol' kaki orang lain? Bukankah, dengan kebersamaan semua tampak lebih ringan?
Lagi-lagi, saya juga harus memilih antara dua hal yang dilema. Jika, saya memilih satu, tetapi saya tetap bertegur-sapa dengan yang lain. Bagaimanapun, keduanya disatukan oleh perasaan primordial sejati, kemanusiaan.

bola

Kemarin, saya bermain bola dengan anak-anak Indonesia. Meskipun, terpisahkan jurang emosional, kita bermain sportif. Di sinilah, saya menemukan dunia yang tidak disodori tentang persoalan benar dan tidaknya sesuatu. Kita hanya ingin keriangan, itu saja. Permainan inilah yang menerabas aturan dan norma yang memenjara keseharian.
Lalu, jika kita merasa nyaman, masihkah kita digelayuti gundah?
Masalahnya, kenapa kita acapkali berkelompok dengan 'entitas primordial', yaitu keindonesiaan?

Tuesday, July 26, 2005

bening, mengapa?

Bening biasa digunakan di dalam air yang tak keruh, sehingga dari permukaan mata bisa menembus dasar, tak ada yang tersembunyi. Berbeda dengan keruh, mata ini jadi sepat dan itu membuat suasana hati terbawa resah.
kotor, tidak hanya sekedar keruh. Ia menghalangi asa untuk berlama-lama dan menikmati air kehidupan.

puisi itu: pasrah atau kalah?

Aku sangat tersentuh dengan puisi itu, meski tak ada tajuk. Miris membacanya. Namun, terbersit ragu. Apakah kita adalah makhluk yang tak punya kuasa untuk mencabar Sang Penguasa? Bukankah, ketidakberdayaan kadang ditutupi dengan penyerahan diri padaNya? Tak jarang, bukan Tuhan yang memaksa kita untuk memilih, tapi mereka yang berkehendak atas nama kebajikan. Semoga tidak!

mesin

Aku bukan mesin. Tapi, sehari-hari aku seperti mesin. Tubuhku dipenuhi oleh jam, jadual, dan bahan bakar [karbohidrat]. Lalu, di manakah jiwa?

Monday, July 25, 2005

Aku, mahasiswa sejati?

Catatan Kecil

Paling tidak, sebagai mahasiswa, kita mempunyai dua keuntungan, yaitu ekonomi dan politik. Secara ekonomi, kita adalah sebagian kecil anak bangsa yang mampu menikmati bangku kuliah sementara ratusan ribu hanya mengecapi pendidikan sekolah menengah. Secara politik, kita adalah komunitas yang mempunyai kedudukan diperhitungkan dalam percaturan kehidupan berbangsa karena kritisismenya mempunyai daya dobrak.

Lalu pernahkah kita memikirkan dua hal ini sebagai sebuah anugerah? Jika kita menganggap demikian, maka ini adalah awal untuk menjaga kepercayaan, mengukuhkan komitmen dan menjalaninya dengan sepenuh hati – belajar. Tetapi, belajar bukan hanya membaca teks, ia juga membuat teks itu berbicara dalam tindakan konkret. Teks tentang keadilan akan mendorong kita untuk tidak melakukan pembedaan terhadap orang lain. Teks tentang pembelaan terhadap yang terpinggirkan akan mengajak kita untuk menyapa mereka dan bertanya apa derita yang sedang dipikulnya. Di sini, negara jiran Malaysia, kita menunjukkan empati pada tenaga kerja yang telah mengalami penghisapan luar biasa sehingga mengikis tulang sumsumnya.

Selain itu, sebagai manusia yang sadar politik, kita harus menunjukkan posisi kita sebagai kelompok penekan agar para aparatus negara tidak mengabaikan nasib mereka yang teraniaya, baik oleh orang maupuan sistem. Tentu, kita banyak membaca perlakuan buruk terhadap mereka dan gajinya yang lebih rendah dari orang lokal. Padahal, acapkali bangsa Indonesia didaku sebagai saudara yang mempunyai latar belakang yang sama. Lalu, tidakkah ini adalah jargon yang tidak memiliki arti apa-apa?

Mencari sosok

Sekarang Film Gie sedang menarik perhatian banyak kalangan. Ia telah berupaya untuk mengusung ide-ide Gie ke dalam dunia filmis, yang menghadirkan sosok Nicholas Saputra sebagai Soe Hok Gie dan Wulan Guritno sebagai Sinta, pacarnya yang pernah dicium, tapi disensor dalam film. Namun, perlu diingat bahwa dalam buku Gie, Catatang Sang Demonstran (Jakarta: LP3ES, 2005) nama pacarnya adalah Maria, yang telah membuatnya patah hati.

Gie adalah mahasiswa di UI yang berperan tidak hanya sebagai mahasiswa, tapi juga pencinta, intelektual dan pendaki gunung yang tangguh [baca: pencinta alam]. Menjadi mahasiswa yang baik tidak berarti hanya berkutat dengan buku, bukan? tetapi juga melakukan aktivitas ragawi, yang membuat jiwa lebih kuat (mungkin sepak bola di sini, atawa bola keranjang?).

Gie, tidak hanya garang terhadap pemerintah yang korup pada waktu itu, tetapi juga pada teman-temannya di legislatif dengan dikirimi alat makeup [gincu]. Mereka adalah para komprador yang telah menginjak-injak idealisme yang dulu didengungkan dan sekarang menyanyikan kebobrokan yang sama.

Sebagai mahasiswa, Gie banyak membaca dan menulis. Salah satu tulisannya adalah kutipan dari kata-kata Filsuf Yunani... nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda." Akhirnya, ia memang mati muda di puncak Gunung karena serangan gas.

Akhirnya, kita sekarang yang akan mengepalkan tangan dan mengatakan Lawan!

Bumi Restu, 23 Juli 2005
Untuk teman-teman mahasiswa baru Universiti Sains Malaysia

Perkumpulan Pelajar Indonesia

Hari Ahad, pelajar Indonesia berkumpul untuk berbagi. Masing-masing mengusung dirinya sendiri, mengusulkan banyak hal, dan mencoba untuk memahami satu sama lain.

Saya tidak tahu, jika mereka adalah makhluk yang sama, pikiran dan keinginannya. Mungkin, ruang sapa tak akan tercipta. Tak juga kehidupan.

Ann dan Anna

Aku awam dalam sastra. Aku belajar pada mereka tentang kata-kata. Tapi. selalu saja aku menyela dengan pikiranku sendiri. Inikah pertemuan horizon itu?

Sebuah catatan: kedua teman ini adalah dua mahasiswa sastra di jurusan Ilmu Humaniora di Universitas Sains Malaysia. Yang pertama berasal dari etnik Cina Sabah dan yang terakhir berdarah Melayu Kelantan. Biasanya, kedua etnik ini berjarak. Agak jarang kita menemukan keduanya bisa akrab.