Wednesday, October 27, 2010

Ruang Bersama

Kebun bunga adalah ruang bersama masyarakat. Di sana, pengunjung tinggal memilih, menikmati bunga dan pepohonan atau merenggangkan otot untuk bugar. Malah, siapa pun bisa menyendiri, seperti tampak pada ujung kanan bawah. Seseorang merenung di bawah atap.

Monday, October 25, 2010

Peristiwa Dua Hari

Selama dua hari di Surabaya, kami hanya mengumpul kelaziman orang ramai, berbincang dan melancong. Tak jauh beda dengan orang kebanyakan, keperluan hidup itu bisa diringkas dengan kesungguhan memahami realitas dan merenung dengan penuh seluruh tentang alam. Gambar pertama, saya melihat semangat mahasiswa yang membuncah untuk berdialog tentang ekspresi Muslim Asia Tenggara dalam Politik.

Hakikatnya diskusi serupa bisa ditemukan di mana-mana, namun kadang perlu ruang yang lebih nyaman dan teratur agar pertukaran pendapat tak melahirkan rasa masygul. Meski pembicara dan peserta berlainan tempat duduk, namun kesetaraan adalah harga mati dalam menyampaikan gagasan. Pengaturan waktu dibuat agar semua mau mendengar dan berbicara sesuai kesepakatan. Siapa pun tahu dan tak perlu ragu. Toh, akhirnya seusai acara, masing-masing akan berjumpa sebagai manusia. Padangan dan ideologi yang sempat mencuat di ruangan terbatas itu tidak akan membuatnya harus menjaga jarak dari 'seterunya'.

Lalu, ruangan yang jauh lebih besar adalah kenyataan. Panitia konferensi tahu betul bahwa ide-ide besar yang sempat bergemuruh di ruangan akan layu di tengah kenyataan yang rumit di lapangan. Ya, kawasan lumpur Sidoarjo seakan-akan membuat mandul siapa pun untuk mengurai benang kusut. Kami pun yang lincah di ruangan hanya tertegun melihat kemarahan alam dengan menyemburkan lumpur dari dalam dan menenggelamkan tempat tinggal warga. Kalaupun semua kuasa, akademikus, politikus dan media bersekutu, mereka tak sepenuhnya memahami fenomena bencana ini secara tuntas, namun siapa pun harus menahan diri untuk tidak merusak kehendak menyelesaikan masalah yang ditimbulkan oleh keabaian manusia.

Hanya saja, mereka yang cuai harus bertanggungjawab. Sementara, pemerhati tidak menangguk untung di air keruh. Lagi-lagi, pandangan ideal semacam ini tertera di atas kertas, sementara kenyataan selalu lebih rumit. Tentu, di tengah hiruk-pikuk, ada tangan-tangan tersembunyi yang bergerak untuk menyelesaikan masalah yang membelit. Rumus ini harus dipakai untuk semua masalah antara sesama. Wajib, segelintir kita bekerja dalam 'diam'.


Friday, October 22, 2010

Kuala Lumpur di Sidoarjo


Di sela-sela acara konferensi di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Surabaya, para peserta dari luar negeri mengunjungi kawasan yang digenangi lumpur di daerah Sidoarjo. Sejauh mata memandang, kami hanya melihat lumpur yang telah mengering. Sisa-sisa atap rumah yang masih menyembul menjadi penanda betapa semburan dahsyat itu menenggelamkan banyak perumahan penduduk dan pabrik. Malah, beberapa hari sebelumnya, televisi lokal menyiarkan sebaran semburan yang menjangkau rumah penduduk lain yang jauh dari lokasi ini.

Hingga sekarang, masalah lumpur ini menyeret banyak pihak untuk urun rembug. Tidak hanya terkait ganti rugi yang harus diberikan pada penduduk, tantangan terbesar pemerintah adalah memanfaatkan lahan ini untuk kegiatan produktif. Dengan menjadikan areal di atas sebagai tujuan wisata, sesaat tempat ini berguna untuk menarik turis, meskipun ia bukan tempat yang nyaman untuk menghabiskan waktu beberapa saat. Sebagai persinggahan ke titik lain, seperti daerah kerajinan kulit Tanggulangin Sidoarjo, agen pariwisata bisa memasukkan 'Kuala Lumpur' ini sebagai daya tarik Surabaya secara keseluruhan.

Wednesday, October 20, 2010

Bersama Anak Yatim


Sebagai perantara, saya bergembira bersama anak yatim di kampung. Teman baik saya, Dr Zailani Yusoff, menyumbang untuk menambah kas asrama anak yatim. Dosen Universitas Utara Malaysia ini sempat menitipkan uang sebelum kami berpisah setelah sama-sama mengikuti acara di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sementara, Sayyid Abdur Rahman, perintis rumah anak-anak yang kehilangan orang tua ini tak bisa menyembunyikan rasa gembira karena mendapatkan perhatian dari dermawan. Tentu, pekerjaan yang akan segera dilakukan selanjutnya adalah memastikan rumah ini didaftarkan ke Dinas Sosial untuk mendapatkan bantuan rutin.

Ada lima belas anak yang tinggal di rumah yang terletak di lingkungan Madrasah Islamiyah al-Khairat. Kebanyakan mereka berasal dari Jambi, Sumatera. Selain harus mengikuti pendidikan agama di waktu sore, mereka juga belajar di Sekolah Dasar Negeri sebagai bekal mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Pendek kata, pihak pengelola asrama memberikan hak-hak anak yatim sepenuhnya. Sebagai rintisan asrama anak yatim di kampung, siapa pun dituntut untuk turut serta membantu agar keberadaan rumah ini benar-benar menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi mereka hingga remaja.

Pak Arif, salah seorang dari tetangga Madrasah, berupaya untuk menyerahkan berkas-berkas persyaratan agar asrama ini bisa mendapatkan pengakuan dari pihak berwenang sehingga bantuan yang jauh lebih teratur akan bisa diterima. Masih segar di ingatan, kami membicarakan hal ihwal ini di sebuah pondok (hut) dari bambu di sebelah pagar Madrasah. Meski terkesan tak resmi, namun ini akan menjadi landasan agar pada masa yang akan datang semua orang akhirnya bisa melihat papan tanda nama bahwa sekolah yang dirintis oleh Sayyid Toha, pendiri sekolah agama pertama di kampung ini, juga mempunyai asrama anak yatim. Semoga!

Tuesday, October 12, 2010

Membela TKI, Membela Kedaulatan

Jurnal Nasional, 12 Oktober 2010

PERISTIWA tragis kembali menimpa pembantu Indonesia di Malaysia. Win Faidah, buruh migran dari Lampung kelahiran Pacitan, menahan sakit luar biasa di rumah sakit Pulau Pinang. Bekas kekerasan masih terlihat jelas di punggung. Bahkan, menurut kepala sosial budaya Konsulat RI Pulau Penang, Irzani Ratni, kakinya bengkak dan berair karena harus menahan luka akibat pukulan kayu. Sambil menahan sakit, dia masih bisa berbicara dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Dai Bachtiar, duta besar RI untuk Kuala Lumpur. Dia memegang telepon genggam yang ditempelkan di telinga kanan. Bagaimanapun, penyiksaan dan pemerkosaan oleh majikan ini sangat menyiksa terlebih bagi seorang perempuan yang berada jauh dari kampung halaman.

Bagi mahasiswa Indonesia yang belajar di Pulau Penang, Malaysia, berita ini tentu sangat menghentak. Ia begitu dekat dengan mereka. Tempat pembuangan korban tak jauh dari kampus tempat kebanyakan mahasiswa belajar, Nibong Tebal. Namun, pembantu yang bekerja di dalam rumah memang susah disentuh. Padahal, di ruang publik kami acap kali melihat banyak pembantu Indonesia bersama majikan dan anak tampak kompak dan akrab. Kami pun tidak mengetahui apa yang terjadi di balik tembok tebal itu tempat mereka bekerja. Tentu, libur sehari dalam seminggu yang disepakati dua negara baru-baru ini memungkinkan pembantu itu keluar dari rumah majikan untuk menikmati dunia luar.

Masalahnya, adakah pihak terkait mampu mengawasi perilaku pembantu dalam bersosialiasi, mengingat keberadaan mereka di negeri tetangga sangat riskan menghadapi kejahatan terorganisasi. Di sini, pelbagai masalah bisa menghadang, terutama umpan sindikat menjebak mereka menjadi pekerja ilegal. Sebagian besar pembantu di Indonesia disalurkan ke majikan Tionghoa dan sebagian kecil India. Sebagai pengetahuan umum, pembantu rumah tangga (PRT) yang mengalami penyiksaan, seperti Nirmala Bonat, Ceriyati dan Muntik, di bawah majikan Tionghoa dan India. Tentu, ini tidak untuk menyudutkan ras tertentu, namun ingin mengungkap bahwa terdapat jurang kebudayaan yang membuat pembantu dan majikan terperangkap dalam kemungkinan kesalahpahaman yang berujung perselisihan.

Kedaulatan

Kedaulatan adalah istilah yang sering kali dikaitkan dengan sebuah kekuasaan terhadap sebuah kawasan (teritori). Tak ayal, persengketaan batas laut antara Indonesia-Malaysia baru-baru ini telah turut memantik protes rakyat dan pada waktu yang sama memaksa pemerintah kedua negara duduk berunding di Kinabalu. Sejatinya, pesan yang hendak disampaikan, masing-masing negara harus menghormati kedaulatan masing-masing. Jauh dari itu, harus saling menghargai dan menyemai kerja sama mengingat keduanya bertetangga dan mempunyai akar kebudayaan yang sama. Apalagi dua negara ini terikat perjanjian sebagai sesama warga ASEAN, yang ingin membentuk komunitas warga se-Asia Tengara yang kuat tahun 2015.

Mengingat kedaulatan juga menunjukkan sebuah kekuasaan memaksa warga untuk bertindak atas dasar kebaikan bersama, penyelesaian kasus penyiksaan pembantu oleh majikan ini harus dilihat sebagai tugas bersama. Karena kebetulan melibatkan warga kedua negara. Bagaimanapun masalah tidak sesederhana penangkapan si pelaku dan perlindungan terhadap korban, juga terkait kebijakan pengiriman buruh migran. Dalam sebuah workshop tentang buruh migran di Pulau Penang, Ustaz Azmi, dari lembaga swadaya masyarakat Teras, meminta Pemerintah Indonesia menghentikan pengiriman pembantu muslim untuk keluarga Tionghoa. Dengan alasan rentan terhadap benturan karena perbedaan praktik kehidupan keseharian. Secara tersirat ini menunjukkan imbauan kepada pihak terkait menghentikan pengiriman pembantu pada keluarga berkebangsaan India, karena hambatan sama.

Tentu, ide di atas adalah gagasan ekstrem. Mengingat tidak semua pembantu Indonesia mengalami perlakuan tidak manusiawi. Secara persentase, mereka yang mengalami masalah dengan majikan itu kecil, dengan menengok jumlah pekerja yang berada di tempat perlindungan (shelter) Konsulat. Namun, gagasan itu perlu dipertimbangkan mengingat kebanyakan korban kekerasan pembantu rumah tangga asal Indonesia terjadi di keluarga Tionghoa dan India. Padahal, hal ini tidak terjadi di Singapura, di mana kebanyakan Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia bekerja pada majikan berkebangsaan Tionghoa dan sedikit keluarga India. Di sinilah, gagasan atase sosial di perwakilan luar negeri menjadi penting untuk mengantisipasi dan mendampingi korban kekerasan.

Kepastian

Dari beberapa percakapan pribadi, para pekerja yang berada di bawah perlindungan Konsulat Pulau Penang hanya ingin kepastian pulang ke Tanah Air. Namun pada waktu yang sama, sebagian mereka memilih bertahan karena ingin mendapatkan gaji yang belum terbayar. Tentu, korban kekerasan tidak bisa menuntut gaji dengan segera karena mereka harus menjalani proses pengadilan. Perwakilan sebenarnya telah berusaha semaksimal mungkin untuk membantu warga Indonesia dengan memberikan tempat berlindung dan pendampingan di pengadilan. Tentu mereka tidak ingin penantian Nirmala Bonat selama empat tahun juga menimpa mereka.

Sebagian yang lain lari dari rumah majikan karena mereka tertipu. Seorang ibu setengah baya dari Sampang Madura, berijazah S1, tidak betah harus menjadi pembantu, sementara dalam perjanjian dengan agen di Indonesia dijanjikan sebagai pengajar dengan gaji yang lumayan. Inilah modus operandi yang telah dikenal orang ramai, di mana banyak pekerja merasa tertipu. Tentu mereka akan mudah bertikai dengan majikan. Cerita lain, seorang ibu muda dari Surabaya yang harus menunggu lebih tiga bulan di penampungan karena gaji belum dibayar oleh bekas majikan. Dalam sebuah pertemuan, saya pun terkejut karena mata mereka kosong menyiratkan keputusasaan. Dengan tenang, dia mengatakan, tidak bersembahyang, karena ibadah tak bisa memberikan jalan keluar.

Nah, dalam keadaan ketidakpastian, perwakilan pemerintah telah memberikan pilihan pada mereka untuk pulang tanpa harus menunggu gaji. Namun tidak semua memilih jalan ini karena utang untuk modal bekerja akan ditagih. Sama juga dengan Win Faidah, buruh migran malang itu hanya perlu kepastian kembali ke kampung halaman. Bantuan uang Rp5,5 juta dari duta besar tentu tidak akan menghapus pengalaman buruk, Namun dukungan dari banyak pihak tentu akan meringankan bebannya. Tentu saja, pelaku harus ditindak segera tanpa menunggu waktu lama seperti dialami oleh Yim Pek Ha, majikan Nirmala Bonat dari Lombok, yang masih bernapas di luar karena memberi uang jaminan RM200.000 sambil menunggu keputusan kasasi. Meski putusan hakim telah ditetapkan, 18 tahun penjara.

Semua pihak harus memerhatikan proses pengadilan ini dengan cermat. Perhatian yang sangat besar dari Pemerintah Indonesia dan respons cepat dari kepolisian lokal patut dihargai. Korban sempat diselamatkan dan pelaku bisa ditangkap dalam waktu cepat. Kasus semacam ini tentu menjadi pelajaran berharga bagi kedua negara betapa perdagangan manusia (human trafficking) berakibat sangat buruk pada martabat buruh migran. Ketiadaan jaminan seorang pekerja telah menyebabkan "majikan" bisa seenaknya memperlakukan pekerja tanpa prikemanusiaan. Iklan layanan masyarakat di televisi Malaysia tentang human trafficking mendorong setiap warga turut membantu aparat menangkap sindikat yang mengambil keuntungan dari ketidakberdayaan calon pekerja. Harapan tentu dilayangkan kepada lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memberi perhatian pada buruh migran untuk melihat dari dekat bagaimana pembantu rumah tangga di Malaysia asal Indonesia didampingi. Bukan hanya menceritakan nasib di media yang memilukan sambil mengkritik ketidakbecusan pemerintah. Dengan bersama, benang kusut masalah pekerja rumah tangga di luar negeri akan bisa diurai.

Ahmad Sahidah, Fellow Peneliti Pascadoktoral di Universitas Sains Malaysia

Asing dan Karib


Gambar di atas diambil dari kursi sebuah warung makan di pinggir jalan. Kalau tidak ada tulisan Heap Seng Hin & Co, saya akan menggeleng kepala kalau diminta membaca huruf China di atas. Sesuatu yang asing. Bagaimana jika ditulis dengan huruf Arab? Serta-merta saya akan mengatakan tidak asing, dekat. Padahal jika ditilik dari asal-muasal saya, sejatinya keduanya sama-sama asing. Namun karena huruf Arab telah menjadi bagian kesadaran sejak kecil, ia tidak lagi merupakan sesuatu yang ada di seberang.

Mungkin pada waktu tertentu, huruf-huruf itu menyampaikan maksud yang sama, namun kedekatan kepada keduanya mempengaruhi emosi, karena berkait dengan perjalanan panjang sejarah, yang di dalamnya berkelindan hal ihwal kebudayaan, politik dan sosial. Huruf Arab jauh lebih mempunyai daya magis karena ia terpahat dalam kitab suci dan terpampang di ukiran tiang masjid. Samar-samar, saya masih mengingat dengan baik dulu di kampung saya pernah menemukan huruf Arab dijadikan jampi-jampi untuk segala keperluan.

Lalu, apa sebenarnya asing dan karib itu? Mungkin anekdot seorang ibu dan anaknya perlu ditimbang. Ketika si kecil bercerita pada ibunya, "Bu, tadi saya bertemu orang Asing." Lalu, Ibu itu menukas, "Bukan, Nak! Ia adalah orang yang belum kamu kenal". Jadi, asing dan tidak itu bisa dilihat dari sudut perjalan waktu. Hanya saja, maukah kita melaluinya atau abai hanya karena kita telah merasa cukup dengan tetangga yang telah dikenal sebelumnya?

Monday, October 11, 2010

Kebun Bunga




Hari Minggu kemarin, kami bersama Mas Zulheri Rani berkunjung ke Kebun Bunga untuk berlari, memanaskan badan di pagi hari. Jalan berkonblok di atas adalah laluan pengunjung untuk berlari, sementara di sisi kanan kiri terdapat rumah yang menyimpan banyak jenis pepohonan. Di tempat lain, kita juga bisa menikmati hamparan rerumputan hijau yang luas, dan tak jarang ada setitik orang yang sedang mempraktikkan yoga. Malah, di titik yang lain, saya melihat sejumlah orang yang sedang mengikuti acara Amazing Hunter.

Tidur Pulas


Andai dunia ini dilihat dari mata anak kecil, mungkin hidup akan terasa lebih nyaman. Ia bisa tidur dengan lelap, tanpa harus direpotkan dengan tempat. Mungkin, sebagai orang dewasa kita tak perlu meniru polah sekasat mata di atas, tetapi siapa pun perlu rehat jika lelah. Kita pun bisa memejamkan mata untuk tak membelalak sepanjang hari dan malam. Dunia tak akan tunduk dengan terus menjaganya.

Friday, October 08, 2010

Profesor Carl Ernst


Sebelum sampai ke ruangan ini, saya berjalan kaki ke banyak tempat di kampus, kantor penerbit, kantin Alumni dan baru ke Dewan Persidangan Universitas untuk mengikuti ceramah umum oleh Profesor Karl Enst yang akan mengungkap sikap Eropa dan Amerika terhadap Islam. Hampir setiap detik langkah, dada ini ditaburi angin segar dan telinga sekali-kali dipenuhi cericit burung. Matahari bersinar lembut, karena pagi baru datang. Aha, saya menjejaki lorong baru, melewati laboratorium biodiversitas, yang tembus ke penerbit. Biasanya dengan sepeda motor, saya mengambil jalan beraspal, namun dengan kaki saya bisa merasakan lebih banyak ruang yang bisa dibaui.

Tak perlu waktu lama, saya hanya menyerahkan bungkusan kepada pegawai yang bertugas di jantung kampus, dunia perbukuan. Lalu, saya beranjak pergi dengan mengambil jalan lain, sekolah bahasa, dan menuju ke kantin alumni. Niat hati ingin duduk sendirian, saya akan meneruskan pembacaan Sang Pencerah di pinggir panggung yang menghadap laut dan jurang hijau. Namun kehendak itu tak menjadi kenyataan, saya malah mendekati seorang teman yang juga duduk bersama kawannya. Kami pun ngobrol ke sana-kemari, mengusir pagi.

Setelah hampir sejam, saya pamit untuk menghadiri ceramah. Sesampai di tempat, saya berjumpa dengan banyak orang, sebagian mereka saya kenal dengan baik. Di dalam ruangan, saya memerhatikan peserta dari pelbagai latar belakang. Nah, dari perbedaan inilah, sesi tanya-jawab menggambarkan ketidaksamaan pandangan tentang Islam, Kristen dan Barat. Sementara, salah seorang dari media, Encik Kamarul menggugat profesor tentang peran media dalam menyampaikan informasi. Tentu, yang menarik dari pernyataan guru besar itu adalah tentang siapa sesungguhnya yang mempunyai kekuasaan pemujukan (a power of persuasion)? Media, intelektual atau politisi? Menurut saya, jawabannya mudah, mereka semua memiliki daya itu. Masalahnya siapa yang lebih mampu menggerakkan agar dorongan itu menjadi tindakan? Saya berpikir otoritas, dalam pengertian hermeneutik dan politik.

Tuesday, October 05, 2010

Mengatasi Konflik


Coretan di atas merupakan sebagian pembentangan (padanan presentation, kata pembentangan juga digunakan dalam bahasa Indonesia, namun jarang digunakan, tetapi tidak di Malaysia. Kebanyakan pengguna bahasa Indonesia lebih menyukai menggunakan kata presentasi) dalam acara Hari Perdamaian Dunia, 21 September 2010, yang diselenggarakan oleh Unit Perdamaian kampus. Pertanyaan yang tampak sederhana itu sebenarnya mengandaikan upaya yang rumit berhubung dengan pertikaian antarkelompok, yang dipicu oleh pelbagai kehendak, seperti perebutan sumber ekonomi, kekuasaan dan agama.

Sejatinya keberhasilan merumuskan jawaban atas pertanyaan di atas mengantarkan kita pada jalan penyelesaian yang menyeluruh. Pihak ketiga kadang memang perlu hadir agar kedua belah pihak yang berseteru bisa menunda idealisme masing-masing. Seraya menuju kesepakatan bersama, perundingan akan berjalan lebih baik. Namun, dalam konflik tidak serta merta kehadiran pihak pendamai berhasil melerai pertengkaran. Untuk itu, dua pertanyaan di atas perlu diteliti ulang, apakah jawaban yang diberikan mengandaikan tanggapan langsung terhadap persoalan. Jika tidak, semua yang terlibat harus merombak ulang anggapan, tantangan dan tuntutan. Pendek kata, semua pihak harus menahan diri dan mencoba melakukan pengubahan (transformation) terhadap penyebab perselisihan.

Monday, October 04, 2010

Ketenangan

Salah satu sudut di Taman Belia yang membuat saya ingin diam di sana dan merenung. Ketenangan menyemburat ketika untuk pertama kalinya saya melihatnya.

Saturday, October 02, 2010

Halal Bihalal Warga

Saling memaafkan memang membuat nyaman siapapun. Kadang pertengkaran itu muncul karena kata-kata yang disalahpahami. Oleh karena itu, hal penting yang perlu diberi perhatian bersama adalah ketaksaan makna dari kata. Dengan menjernihkan pemahaman terhadap kemungkinan polisemik, sejatinya kita bertarung dengan pikiran kita sendiri tentang orang lain, demikian juga sebaliknya. Lalu, mengapa kita melemparkan kesalahan pada liyan? Boleh jadi orang lain memang keliru, namun ia tak sepenuhnya menanggung kesalahan itu. Jika kita yakin ingin melakukan perbaikan, maka setiap individu mengusung tugas suci dengan segala resikonya.