Posts

Showing posts from December, 2011

Gadjah Duduk

Image

Menolak Hedonisme Wakil Rakyat

Image
Oleh Ahmad SahidahSuara karya, Selasa, 27 Desember 2011Judul di atas tampak merupakan susunan kata yang sulawan. Bagaimana mungkin seorang wakil yang diamanahkan tanggungjawab untuk memperjuangkan nasib rakyat malah berkhianat dengan hidup bermewah-mewah? Setidak-tidaknya, kalau pun janji kesejahteraan yang dibualkan ketika kampanye tidak menjadi kenyataan, mereka cukup menahan diri untuk tidak menghamburkan uang negara untuk memenuhi citarasa gaya hidup mewah di tengah kemiskinan yang tidak terperi. Celakanya, prilaku memuakkan ini kadang diongkosi dari keculasan mereka menilep anggaran. Malah, segelintir anggota dewan itu tidak malu-malu menjadi calo penggelontoran dana pusat ke daerah untuk menangguk keuntungan materi. Lalu, mengapa tiba-tiba isu hedonisme menyeruak setelah Busyro Muqaddas menyampaikan pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki mengenai kecenderungan anggota DPR untuk hidup pragmatis dan hedonis? Karena, yang dikritik kebakaran jenggot dan media memaparkan tingkah m…

Barang Indonesia di Malaysia

Image
Dalam troli itu, ada pelbagai barang buatan Indonesia, sementara teh Boh yang dipegang oleh tangan adalah buatan Malaysia. Lalu, adakah kita bisa memastikan bahwa itu benar-benar barang lokal? Inilah pertanyaan yang seringkali menganggu orang ramai terkait kampanye yang menyerukan membeli barang setempat, bukan impor. Tentu, mie sedap, serbuk pembersih Daia, adalah buatan Wings yang bertapak di Surabaya, yang telah dikenal oleh khalayak. Lalu, bagaimana dengan Indocafe dan kecap ABC yang tertulis buatan Indonesia dan terdapat logo halal MUI? Kedua jenama ini sememangnya berasal dari Indonesia, namun dalam perkembangan selanjutnya perusahaan luar, Danone, Perancis, dan Heinz asal Jerman, telah membeli keduanya. Lalu, masihkah keduanya disebut barang lokal dari Indonesia?
Apa sebenarnya makna mencintai barang lokal itu? Adakah ini sekadar sahutan terhadap kampanye nasionalisme dan patriotisme baru yang diwujudkan dengan membeli barang buatan sendiri? Lalu, apakah batas-batasnya? Nah, d…

Masjid dan Perubahan

Image
Saya mengambil gambar tersebut dari lantai dua. Kemarin, saya menunaikan sembahyang Jum'at di Masjid Muttaqin. Sebelumnya, saya melakukannya di Masjid Al-Bukhari, 20 menit dari rumah. Tema khotbah pada waktu itu adalah peningkatan mutu aqidah umat. Pengkhotbah masih muda dan bersuara keras terkait bahaya serbuan keyakinan lain. Jamaah tampak tepekur. Manakala, anak-anak kecil tak jarang membuat gaduh. Biasanya, khotib mengingatkan agar anak-anak di tingkat dua tak bising.
Tentu, selain mencermati isi khotbah, saya memerhatikan mode pakaian jamaah. Kebanyakan jamaah memakai kopiah putih, meskipun mereka belum menunaikan ibadah haji. Selain sarung, yang di Malaysia, dikenal dengan kain pelikat, setengah mereka memakai jubah dan serban. Sementara, pekerja dari Pakistan, Bangladesh, dan India mengenakan baju 'takwa' khas mereka. Kebanyakan sarung yang dipakai oleh mereka berjenama Gadjah Duduk, selain itu Atlas, Wadimor, dan Mangga. Ada seorang warga Indonesia yang menutup t…

Buku itu adalah Rindu

Image
Rindu itu adalah perasaan akan sesuatu yang tidak ada di depan mata kita. Demikian pula, buku itu adalah jejeran huruf-huruf yang menerakan tentang ide yang belum diwujudkan. Oleh karena itu, seperti mendaki, untuk mencapai sesuatu, yang dalam buku Climbing: Philosophy for Everyone, mengapa orang ramai mendaki gunung-ganang (Kata majemuk ini sering digunakan di Malaysia, sebagaimana bukit-bakau, bukan bukit-bukit), apa sebenarnya yang kita cari? Jawabnya, because it's there.
Kebetulan Perpustakaan Sultanah Bahiyah UUM mempunyai beberapa lantai. Untuk menuju tempat di atas, saya harus menaiki tangga. Mungkin tak sama dengan mendaki, tetapi langkah kaki ini kadang tersendat bila ingin mengunjungi puncak gedung tersebut. Tanpa kerinduan, siapa pun tidak akan pergi ke ruangan yang berisi banyak bahan bacaan. Mungkin mahasiswa tak mengalami kesulitan untuk mencapai lantai 4, tetapi tantangan untuk menggapainya tak jauh berbeda dengan seorang pendaki yang harus mempunyi azam yang kuat…

Uzbekistan

Image
Saya berjumpa dengan mahasiswa Uzbekistan yang sedang menghelat pameran negeri Asia Tengah di depan perpustakaan. Tanpa harus pergi jauh, saya merasakan negeri ini secara sederhana, melalui tatapan dan perasaan, bukan tubuh kasat ini.

Merawat Lingkungan Kita

Image
Hampir setiap kali membeli kue-muih di sebelah warung minuman ini, saya akan memesan secawan kopi panas di kedai yang menempelkan ajakan untuk katakan ya pada Eco-Pack. Styrofoam tentu tidak baik, karena penggunaan bahan ini dalam waktu yang lama memungkinkan pengguna terpapar penyakit kanker. Elok, kampanye seperti ini dilakukan agar masyarakat luas tidak menanggung penderitaan yang disebabkan wadah yang tak aman untuk makanan. Masalahnya, apakah kesadaran ini telah dimiliki oleh khalayak secara keseluruhan?
Apa yang harus dilakukan? Tentu, selain kampanye, pihak berkuasa, di mana pun, memastikan agar warung makanan tidak lagi menggunakan bahan di atas. Kebenaran itu tidak hanya terkait dengan proposisi, tetapi juga otoritas yang memahami kebenaran untuk mewujudkan ide menjadi tindakan. Mungkin, pemaksaan tak bisa dilakukan, karena sejatinya dalam hierarki etika Lawrence Kohlberg, kesadaran adalah wujud dari budi pekerti tertinggi, bukan karena takut pada hukuman atau undang-undang.
K…

Made in China

Image
Tak hanya barang di atas, begitu banyak produk yang dibuat di Negeri Tirai Bambu. Bahkan, kopiah putih saya yang dibeli di kampung halaman juga buatan negeri Mao Tse-tung. Padahal, toko penjual yang ada di pinggir jalan raya itu terletak jauh dari kota dan berada di atas bukit. Setiap kali berjamaah di surau, saya sering memakainya. Tak hanya itu, hadiah magic jar, tempat menaruh kue agar tetap hangat, yang didapatkan dari pembelian susu untuk susu si kecil pun buatan rakyat Republik China. Sebenarnya, ini bukan hal baru, karena semasa saya kecil, orang-orang kampung telah menggunakan barang(an) yang bertuliskan made in China, seperti kunci, piring, dan jarum.
Lalu, kalau keperluan kita sehari-hari telah dibuat di negeri Mao Zedong, apa yang akan kita lakukan? Menikmati hidup seraya ongkang-ongkang kaki? Tidak. Dengan kekayaan yang seluas gunung, laut, dan hutan belantara, Republik Indonesia sepatutnya makmur tak terkira. Sayangnya, kita abai. Petinggi tinggi hati, akar rumput bingung…

(H)ujung Minggu

Image
Untuk keempat kalinya, kami menikmati tasik atau danau buatan D'Aman, yang berada tak jauh dari rumah. Gambar di atas adalah pengalaman kedua kami menyusuri lorong berkonblok. Dengan membawa roti untuk dilempar ke danau, kami berharap ikan-ikan itu berlompatan. Kegirangan tiba-tiba membuncah melihat ikan itu saling berebut dan secara bergantian melahap remahan roti. Pada pengalaman pertama, kami pernah menaiki kendaraan yang sering digunakan di lapangan golf untuk mengelilingi danau bersama keluarga Pak Bunyan.
Nah, pakaian berwarna kulit jeruk itu adalah pakaian keselamatan untuk mereka yang menaiki kayak atau perahu berbentuk binatang angsa. Untuk dua yang terakhir ini, kami belum menikmatinya. Tentu, kami masih ingin merasakan berada di tengah-tengah air sambih mengayuh dayung. Berbeda dengan kunjungan kedua di atas, pada kali keempat, pengunjung yang datang sangat ramai. Ada yang berlari, bermain layangan, duduk-duduk di tepi danau, dan sebagian yang lain memenuhi kursi kanti…

Nikmat itu adalah Membaca

Image
Halim dan kelompok 3 yang membahas makalah bertajuk "Kaitan Hiburan Kapitalisme" membuka penjelasan hiburan dengan kutipan dari Mary Worley Montagu, no entertainment is so cheap as reading, nor any pleasure so lasting. Dengan lugas mahasiswa Falsafah dan Etika tersebut menjelaskan bahawa hiburan tak semestinya anggapan umum yang sebatas keseronokan, seperti musik, film, rekreasi. Dengan petikan di atas, hiburan yang murah seperti membaca layak diketengahkan.
Tapi, seperti gambar buku di atas, Climbing: Philosophy for Everyone, membaca memerlukan iltizam dan tubuh yang kuat, karena kita layaknya mendaki gunung-ganang untuk mencapai kepuasan. Oleh karena itu, kita sering melihat iklan layanan masyarakat yang mendorong khalayak untuk rajin membaca. Malangnya, iklan komersial lebih mendapatkan perhatian dan pengutamaan orang ramai. Betapa, pengguna (konsumen) tak berdaya menghadapi keperkasaan pengeluar (produsen) barang-barang, yang mungkin tak begitu diperlukan, tetapi dima(h…

Mahasiswa dan Pergerakan

Image
Bagi saya, prestasi mahasiswa tidak saja dipandang dari perolehan nilai A+ dalam ujian (peperiksaan), tetapi juga kegiatan yang ditekuni dalam masa perkuliahan. Asraf, misalnya, sebagai pelajar yang mengambil subjek Falsafah dan Etika, lelaki asal Kedah ini telah berhasil mewujudkan keterkaitan antara teori dan praktik, tanpa harus membolak-balik buku tebal filsafat secara keseluruhan. Tentu, ia perlu mendatangi perpustakaan untuk melihat kembali buku-buku filsafat yang begitu banyak di rak, namun pada waktu yang sama, ia akan ditakdirkan untuk memilih pemikiran yang dirasa nyaman dalam hidupnya.
Saya pun juga turu mendengar pelajar lain, Mohd Aizat, atau nama facebooknya Jat Jenin, yang merupakan pegiat mahasiswa, bersama teman karibnya Syauqi. Sekali waktu, saya pernah berbincang ringan dan santai di kantin seraya mereguk segelas minuman tentang isu-isu baru, misalnya pandangan orang ramai tentang kelompok terpinggir, seperti orang-orang yang mengalami masalah disorientasi seksual. …

Makanan Lokal dan Perlawanan

Image
Kudapan di atas adalah makanan yang dibuat dari beras. Jipang, jajanan yang berwarna putih, masih disukai ibu saya hingga hari ini. Tapi, pernahkah kita menemukan pelbagai jenis jajanan di atas di mal? Kita hanya menemukannya di pasar tradisional atau toko pusat jajanan di pinggir jalan. Mengapa ia tak layak mengisi rak kedai di sejumlah mal? Adakah namanya yang tak gagah? Rasanya tak menendang lidah? Jawabannya tentu tak tunggal.
Lagi pula, setelah mengisi ruang mewah, apakah makanan itu akan berbeda rasa? Tentu, tidak. Malah, harganya akan semakin mahal berbanding di pasar. Belum lagi, penampi yang menjadi wadah itu jelas-jelas menggambarkan kerajinan tangan lokal yang perlu dilestarikan. Adakah ia akan dijadikan wadah untuk restoran mahal? Restoran mahal tentu lebih memilih bahan yang mengandung melamin yang berbahaya. Lalu, adakah kegairahan untuk memunculkan kembali masa lalu itu adalah bentuk perlawanan atau keputusasaan? Hanya karena tidak mampu membelinya, kita pun membela se…

Kelab Rekreasi, Sukan dan Kebajikan

Image
Hari Ahad lalu, sejumlah dosen dan staf di tempat saya bekerja mendirikan organisasi yang dinamakan kelab. Meskipun bersifat sukarela, Dr Ishak Din menjadikan perkumpulan ini sebagai wadah untuk berbagi sesama rekan terkait kegiatan olahraga, rekreasi dan kebajikan bersama secara sungguh-sungguh. Oleh karena itu, sebelum disahkan, semua yang hadir pada acara pada waktu itu membahas perlembagaan atau AD/ART agar kami mempunyai panduan untuk mewujudkan kehendak. Tak perlu lama, perlembagaan bisa diterima oleh semua pihak.
Sebagai wujud dari kebersamaan di atas, yang merupakan napas dari perkumpulan ini, salah seorang ustaz dari Pusat Islam UUM mengetuai pembacaan tahlil untuk rekan yang baru saja meninggal dunia dalam perjalanan pulang dari tanah suci. Dalam waktu 30 menitan, zikir dan doa telah dipanjatkan. Kami tentu merasakan kehilangan karena yang bersangkutan masih muda. Namun, Tuhan telah mengambilnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan tabah dan terus menjalani kehidupan dengan te…

Petani dan Padi

Image
Setelah mengunjungi Musium Padi, tak jauh dari Gunung Keriang Kedah, saya meletakkan gambar di atas sebagai penghargaan terhadap para petani. Mereka telah bekerja keras agar manusia di dunia ini tetap bisa menarik napas. Hidup petani!

Kocor dan Masa Kecil

Image
Untuk ketiga kalinya, saya mengambil kudapan kocor, kue berwarna coklat yang dibuat dari adonan tepung dan campuran gula Jawa atau Melaka. Pertama kali,ketika menemukannya di kantin kampus di bulan November, saya ingin melonjak karena kegirangan. Kalau tidak dilakukan, tidak berarti saya tak merasa gembira, namun tak elok berteriak di tengah orang ramai yang sedang menikmati makan. Ditemani surat kabar, saya menggigit kocor dengan nikmat.
Mengapa kocor begitu nikmat dan istimewa? Karena ia menyeret saya ke masa lalu, masa kecil di kampung halaman. Ia tak bisa dibandingkan dengan burger McDonald, karena yang terakhir ini dulu tak pernah hadir di lidah. Lagipula, kocor hanya hadir pada waktu tertentu, tidak setiap hari. Sekali waktu, ibu membawanya dari kenduri perkawinan tetangga. Di lain waktu, kami menikmatinya di perayaan Maulid Nabi. Lalu, perlukan saya menyebut bahwa kesukaan ini adalah nostalgia yang perlu dirayakan? Tak sama dengan panganan dari luar, kocor adalah wujud dari fal…

Bahasa Kita Tak Ringkas?

Image
Bahasa Indonesia dan Malaysia tak terelakkan harus menyerap bahasa Inggeris, karena yang terakhir telah digunakan sebagai bahasa antarabangsa. Kadang dua bahasa menyerap begitu saja atau memindahkan konsep kata tertentu dalam bahasa sendiri, seperti kata locker di atas menjadi peti simpanan barang. Mengapa tidak peti saja agar padanan untuk locker juga ringkas? Adakah pembentukan kata dasar yang didahului awalan pe bisa mengandaikan susunan bahasa Inggeris lock+er? Mungkingkah pepeti?
Tak jarang, penggunaan bahasa Melayu dipinggirkan karena susunannya yang tak ringkas. Belum lagi, ikhtiar bahasa Indonesia dan Malaysia untuk kekal teperbaharui menyebabkan keduanya mengambil jalan mudah menyerap begitu saja atau membiarkan susunan aslinya. Kata 'fashion', misalnya, masih ditulis apa adanya dengan huruf miring 'fashion' dalam pelbagai karangan atau berita atau diserap dengan mengambil bunyi kata bersangkutan, fesyen. Sekali waktu, kita masih mendengar tata busana untuk men…

Fasilitas Umum

Image
Fasilitas Umum? Ya, telepon itu bisa digunakan oleh orang ramai. Namun, tak seperti dulu, banyak orang tak lagi memanfaatkannya, karena tergantikan oleh telepon genggam pribadi. Tapi, saya masih sempat sekali-kali melihat seseorang menggunakan kemudahan, kata Malaysia untuk fasilitas. Pada waktu yang sama, fasilitas awam (yang terakhir padanan dari umum) ini seringkali disebut harta awam. Dengan sendirinya, siapa pun harus menjaga dan merawatnya. Bukankah begitu, kawan?