Tuesday, December 27, 2011

Menolak Hedonisme Wakil Rakyat


Oleh Ahmad Sahidah

Suara karya, Selasa, 27 Desember 2011

Judul di atas tampak merupakan susunan kata yang sulawan. Bagaimana mungkin seorang wakil yang diamanahkan tanggungjawab untuk memperjuangkan nasib rakyat malah berkhianat dengan hidup bermewah-mewah? Setidak-tidaknya, kalau pun janji kesejahteraan yang dibualkan ketika kampanye tidak menjadi kenyataan, mereka cukup menahan diri untuk tidak menghamburkan uang negara untuk memenuhi citarasa gaya hidup mewah di tengah kemiskinan yang tidak terperi.

Celakanya, prilaku memuakkan ini kadang diongkosi dari keculasan mereka menilep anggaran. Malah, segelintir anggota dewan itu tidak malu-malu menjadi calo penggelontoran dana pusat ke daerah untuk menangguk keuntungan materi. Lalu, mengapa tiba-tiba isu hedonisme menyeruak setelah Busyro Muqaddas menyampaikan pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki mengenai kecenderungan anggota DPR untuk hidup pragmatis dan hedonis? Karena, yang dikritik kebakaran jenggot dan media memaparkan tingkah mereka yang memang menyebalkan.

Menariknya, sosok mantan ketua Komite Pemberantasan Korupsi yang berbicara lembut ini lebih jauh mengungkap prilaku culas anggota parlemen dengan khazanah istilah lokal, seperti politik dasamuka, lembu peteng, bromocorah, paguyuban kumuh dan kaliyuga. Betapa sesungguhnya, negeri ini mempunyai khazanah yang kaya tentang bagaimana keculasan elite telah menutup jalan bagi kesejahteraan orang ramai.

Pragmatis dan Hedonis

"Pragmatis" acapkali dipahami sebagai sikap dan tindakan yang cenderung memudahkan segala sesuatu tanpa bersusah payah. Jika kata pragmatis merupakan turunan dari pemikiran falsafah pragmatisme lebih jauh sejatinya ia mengandaikan bangunan pemikiran yang tidak sesederhana di atas.

Merujuk pada pengertian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa pragmatis adalah bersifat praktis dan berguna untuk umum, dengan sendirinya tidak serta merta ia bisa disandingkan dengan hedonis. Namun, kadang kita tidak bisa menghindari anggapan umum bahwa pragmatis itu adalah kata sifat yang dilekatkan untuk mereka yang menyukai jalan pintas. Sementara, jamak orang mengetahui bahwa hedonis adalah sikap etik yang menggelorakan kesenangan, sebagaimana jargon Aristippus, makan, minum dan bersenanglah-senanglah karena besok kita mati.

Sebenarnya, mudah dipahami prilaku hedonisme sebagai pemuasaan nafsu badaniah, sesuatu yang sebenarnya dikatakan Plato sebagai kesenangan yang berada di tingkat bawah, sementara yang tertinggi adalah dunia ide. Kesenangan itu bersifat sementara, dangkal dan rendah.

Sejatinya, akal sehat kita pun bisa mencerna bahwa prilaku hedonis itu tidak baik. Tanpa harus membaca Republic-nya Plato, bahwa pemuasan terhadap kehendak tubuh hanya akan mendatangkan penyakit. Demikian pula, adalah sesat pikir bahwa kekayaan itu acapkali ditunjukkan dengan barang mewah. Padahal, ketika kita memamerkan kekayaan berupa mobil mahal, sejatinya kita telah memberhalakan benda (besi dan mesin), yang sebenarnya ia bekerja untuk fungsi, bukan gengsi.

Apatah lagi, menurut Alfred Marshall dalam The Practices of Happiness Political Economy, Religion and Wellbeing, seraya mengutip Buddha bahwa kekayaan yang sesungguhnya itu adalah bukan berkelimpahan bunda, tetapi menekan laju hasrat (The real rich consist not in the abundance of goods, but a paucity of wants).

Wakil Culas

Seorang wakil rakyat yang mempunyai mobil Bentley dengan lugas mengatakan bahwa menjadi anggota DPR tidak harus tampak miskin. Malah yang lain menukas bahwa gaya hidup itu subjektif. Celakanya lagi, anggota DPR lain yang tak memiliki kendaraan mahal itu berujar bahwa tak semestinya mereka yang berpenampilan sederhana mempunyai kinerja yang baik. Sebagai pidato kebudayaan, ceramah ketua KPK itu sejatinya mengusung ide-ide tentang filsafat dan etika dalam konteks kebudayaan. Sayangnya, para anggota DPR itu gagal melihat hal ini adalah sebuah wacana yang perlu dilihat sebagai persoalan etika dan falsafah.

Sepatutnya anggota DPR itu memperdebatkan isu ini dalam ranah falsafah, di mana prilaku hedonisme menurut Epictetus adalah jalan yang paling mungkin untuk mendapatkan kesenangan, dan pada gilirannya kebahagiaan. Sementara, Epicurus, meksipun berkeyakinan bahwa kita tidak bisa menafikan kesenangan inderawi, namun pada masa yang sama ia tidak mendapatkan kesakitan dan penderitaan. Oleh karena itu, tokoh yang acapkali disalahpahami sebagai pembela hedonisme ini menegaskan bahwa pencarian kekayaan dan kekuasaan itu adalah sia-sia dan mungkin membawa pada ketidakenakan, alih-alih kebahagiaan. Sayangnya, anggota dewan yang terhormat itu malas membaca, sehingga tanggapan yang diberikan dangkal.

Lebih jauh, jika mengacu pada Plato bahwa philosopher-king adalah dikiaskan kepada nahkoda kapal, maka ia harus menimbang angin, bintang, cuaca agar sampai pada tujuan. Sebagai anggota DPR tentu saja di tangannya ada kekuasaan (rule) yang bisa mengantarkan negeri ini pada kemakmuran dan kesejahteraan. Alih-alih mereka menyelesaikan tugasnya dengan baik, di mana banyak pengesahan undang-undang (UU) terbengkalai, mereka tidak mempunyai ciri-ciri sebagai philosopher king, pencinta kebenaran dan kearifan, dengan tidak memuaskan hasrat untuk seks, makanan dan properti. Adalah jamak, setiap kali mereka menilep anggaran, kesepakatan dengan koruptor dilakukan di hotel mewah.

Lebih mengenaskan lagi, di tengah isu tersebut prilaku hedonis anggota parlemen mencuat ke permukaan, di dalam rapat paripurna masa persidangan II 2011-2012, hanya 88 anggota dari 560 yang hadir di Senayan. Lagi-lagi ini menunjukkan bahwa kita sebagai konstituen telah ditipu bulat-bulat dan pada masa yang sama pemandangan ini menunjukkan bahwa mereka tidak hanya suka bersenang-senang, seperti jalan-jalan, tetapi juga malas berpikir. ***

Penulis adalah dosen Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia

Monday, December 26, 2011

Barang Indonesia di Malaysia

Dalam troli itu, ada pelbagai barang buatan Indonesia, sementara teh Boh yang dipegang oleh tangan adalah buatan Malaysia. Lalu, adakah kita bisa memastikan bahwa itu benar-benar barang lokal? Inilah pertanyaan yang seringkali menganggu orang ramai terkait kampanye yang menyerukan membeli barang setempat, bukan impor. Tentu, mie sedap, serbuk pembersih Daia, adalah buatan Wings yang bertapak di Surabaya, yang telah dikenal oleh khalayak. Lalu, bagaimana dengan Indocafe dan kecap ABC yang tertulis buatan Indonesia dan terdapat logo halal MUI? Kedua jenama ini sememangnya berasal dari Indonesia, namun dalam perkembangan selanjutnya perusahaan luar, Danone, Perancis, dan Heinz asal Jerman, telah membeli keduanya. Lalu, masihkah keduanya disebut barang lokal dari Indonesia?

Apa sebenarnya makna mencintai barang lokal itu? Adakah ini sekadar sahutan terhadap kampanye nasionalisme dan patriotisme baru yang diwujudkan dengan membeli barang buatan sendiri? Lalu, apakah batas-batasnya? Nah, di sinilah kita akan sering berseberangan pandangan, sebab batas (had, hudud) itu adalah pengandaian tentang asal-muasal. Ketika dunia ini dilipat, simulakra Jean Baudrillard merajalela, dan patriotisme kadang tak lebih dari bualan, maka mari berpikir jernih tentang keperluan manusia terhadap 'barang' (goods).

Dengan merujuk pada Nabi, bahwa pemborosan itu adalah serupa dengan prilaku setan, kita bisa memulai sikap dan pandangan kita terhadap apa sesungguhnya yang kita perlu, bukan mau dalam hidup ini. Ukurannya tentu tak sama, namun ada hal objektif yang bisa dikongsi. Kalau kita berbagi dengan jiran yang dekat, maka kita telah menciptakan perhubungan kemanusiaan yang paling mungkin untuk menciptakan rasa nyaman. Tak semestinya kita menolak sesuatu yang datang dari jauh. Bayangkan, beberapa hari yang lalu, saya membeli pencukur kumis buatan Brasil. Adakah saya masih memikirkan tentang jauh dan dekat dalam hal ini? Adakah pertimbanganya hanya karena ia murah semata-mata? Padahal, kecenderungan barang mahal kadang menyergap akal sehat kita untuk memilih agar tampak bergengsi. Betapa sulawan, bukan?

Lebih-lebih, pembenaran pada sebuah tindakan secara senyap menyembunyikan kepentingan. Agar tampak gagah, saya bisa membenarkan barang yang dibeli itu sebagai pembelaan terhadap negara Brasil yang sama-sama berjuang dengan warga di negara Selatan untuk menjadi negeri yang maju. Padahal, pencukur itu berjenama Gillette, sebuah perusahaan yang berpangkalan di Amerika, dan telah disenaraikan di bursa dengan nama G saja, setelah dibeli oleh P & G. Pendek kata, betapa modal itu cair seperti air, mengalir ke segala arah, mencari keuntungan, yang kata Adorno dan Hokheimer dalam The Dialectic of Enlightenment, tak mempunyai mata (baca: modal buta). Nah, jika demikian, kita lah sebagai manusia yang merawat mata kita agar tak menjadi buta.

Saturday, December 24, 2011

Masjid dan Perubahan

Saya mengambil gambar tersebut dari lantai dua. Kemarin, saya menunaikan sembahyang Jum'at di Masjid Muttaqin. Sebelumnya, saya melakukannya di Masjid Al-Bukhari, 20 menit dari rumah. Tema khotbah pada waktu itu adalah peningkatan mutu aqidah umat. Pengkhotbah masih muda dan bersuara keras terkait bahaya serbuan keyakinan lain. Jamaah tampak tepekur. Manakala, anak-anak kecil tak jarang membuat gaduh. Biasanya, khotib mengingatkan agar anak-anak di tingkat dua tak bising.

Tentu, selain mencermati isi khotbah, saya memerhatikan mode pakaian jamaah. Kebanyakan jamaah memakai kopiah putih, meskipun mereka belum menunaikan ibadah haji. Selain sarung, yang di Malaysia, dikenal dengan kain pelikat, setengah mereka memakai jubah dan serban. Sementara, pekerja dari Pakistan, Bangladesh, dan India mengenakan baju 'takwa' khas mereka. Kebanyakan sarung yang dipakai oleh mereka berjenama Gadjah Duduk, selain itu Atlas, Wadimor, dan Mangga. Ada seorang warga Indonesia yang menutup tubuhnya dengan sarung bermerek BHS, meskipun sudah tampak lusuh, si pemakainya tampak senang dengan kain mahal itu.

Saya sendiri memakain baju koko yang dibeli di kedai depan madrasah ibtidaiyah, tempat saya menghabiskan masa kecil di kampung halaman dulu. Dengan sarung bercap wadimor dan kopiah bersulam benang berwarna 'emas' dan kecoklatan, saya menekuri isi khotbah. Ketiganya tampak berwarna sejalan, coklat dan warna keemasan. Dulu, waktu kecil, saya sekenanya memakai baju dan sarung, tanpa pernah memikirkan keserasian. Mengapa? Karena anak kecil itu tahu bahwa fungsi pakaian itu adalah penutup tubuh, sementara orang dewasa itu berlagak, dengan pakaian yang melekat pada tubuhnya, diharapkan kehadirannya akan menyerlah. Ironik!

Friday, December 23, 2011

Buku itu adalah Rindu


Rindu itu adalah perasaan akan sesuatu yang tidak ada di depan mata kita. Demikian pula, buku itu adalah jejeran huruf-huruf yang menerakan tentang ide yang belum diwujudkan. Oleh karena itu, seperti mendaki, untuk mencapai sesuatu, yang dalam buku Climbing: Philosophy for Everyone, mengapa orang ramai mendaki gunung-ganang (Kata majemuk ini sering digunakan di Malaysia, sebagaimana bukit-bakau, bukan bukit-bukit), apa sebenarnya yang kita cari? Jawabnya, because it's there.

Kebetulan Perpustakaan Sultanah Bahiyah UUM mempunyai beberapa lantai. Untuk menuju tempat di atas, saya harus menaiki tangga. Mungkin tak sama dengan mendaki, tetapi langkah kaki ini kadang tersendat bila ingin mengunjungi puncak gedung tersebut. Tanpa kerinduan, siapa pun tidak akan pergi ke ruangan yang berisi banyak bahan bacaan. Mungkin mahasiswa tak mengalami kesulitan untuk mencapai lantai 4, tetapi tantangan untuk menggapainya tak jauh berbeda dengan seorang pendaki yang harus mempunyi azam yang kuat untuk menuju mercu.

Oh ya, tentang rindu, mengapa kita menggunakan kata kenangan, tetapi jarang mengucapkan rinduan, tetapi kerinduan? Tentu, untuk menjawab pertanyaan ini kita bisa melayari internet dengan membuka mesin pencari google atau yahoo. Namun, kalau langkah ini sering dilakukan, kita akan menumpuk penyakit pengetahuan, berupa kesegeraan mendapatkan maklumat tanpa usul-periksa. Ini tak jauh berbeda dengan kesukaan kita terhadap makanan mie segera (instant), enak di mulut, tetapi akan menuai bencana apabila selalu dilakukan. Oleh karena itu, mari kita tutup sejenak internet, lalu mencoba membaui buku 'apak' di perpustakaan!

Thursday, December 22, 2011

Uzbekistan


Saya berjumpa dengan mahasiswa Uzbekistan yang sedang menghelat pameran negeri Asia Tengah di depan perpustakaan. Tanpa harus pergi jauh, saya merasakan negeri ini secara sederhana, melalui tatapan dan perasaan, bukan tubuh kasat ini.

Tuesday, December 20, 2011

Merawat Lingkungan Kita

Hampir setiap kali membeli kue-muih di sebelah warung minuman ini, saya akan memesan secawan kopi panas di kedai yang menempelkan ajakan untuk katakan ya pada Eco-Pack. Styrofoam tentu tidak baik, karena penggunaan bahan ini dalam waktu yang lama memungkinkan pengguna terpapar penyakit kanker. Elok, kampanye seperti ini dilakukan agar masyarakat luas tidak menanggung penderitaan yang disebabkan wadah yang tak aman untuk makanan. Masalahnya, apakah kesadaran ini telah dimiliki oleh khalayak secara keseluruhan?

Apa yang harus dilakukan? Tentu, selain kampanye, pihak berkuasa, di mana pun, memastikan agar warung makanan tidak lagi menggunakan bahan di atas. Kebenaran itu tidak hanya terkait dengan proposisi, tetapi juga otoritas yang memahami kebenaran untuk mewujudkan ide menjadi tindakan. Mungkin, pemaksaan tak bisa dilakukan, karena sejatinya dalam hierarki etika Lawrence Kohlberg, kesadaran adalah wujud dari budi pekerti tertinggi, bukan karena takut pada hukuman atau undang-undang.

Kampus tentu memang peranan penting untuk menyadarkan orang ramai bahwa apa yang telah diterimajadi sebagai keumuman sebenarnya menyimpan bahaya. Untuk itu, penyadaran dan penguatkuasaan (pemberdayaan) oleh pihak berkuasa harus serta-merta digerakkan. Kita harus melihat situasi dalam hal sebegini. Jika tidak, kita akan tunduk pada pemodal yang hanya ingin mengaut keuntungan.

Monday, December 19, 2011

Made in China


Tak hanya barang di atas, begitu banyak produk yang dibuat di Negeri Tirai Bambu. Bahkan, kopiah putih saya yang dibeli di kampung halaman juga buatan negeri Mao Tse-tung. Padahal, toko penjual yang ada di pinggir jalan raya itu terletak jauh dari kota dan berada di atas bukit. Setiap kali berjamaah di surau, saya sering memakainya. Tak hanya itu, hadiah magic jar, tempat menaruh kue agar tetap hangat, yang didapatkan dari pembelian susu untuk susu si kecil pun buatan rakyat Republik China. Sebenarnya, ini bukan hal baru, karena semasa saya kecil, orang-orang kampung telah menggunakan barang(an) yang bertuliskan made in China, seperti kunci, piring, dan jarum.

Lalu, kalau keperluan kita sehari-hari telah dibuat di negeri Mao Zedong, apa yang akan kita lakukan? Menikmati hidup seraya ongkang-ongkang kaki? Tidak. Dengan kekayaan yang seluas gunung, laut, dan hutan belantara, Republik Indonesia sepatutnya makmur tak terkira. Sayangnya, kita abai. Petinggi tinggi hati, akar rumput bingung, sebab mengaku pintar dengan memilih wakil yang bisa membayar, ternyata sang wakil mengambil hak mereka jauh lebhi besar. Cerita Nazar (Nazaruddin, bekas bendahara Partai Demokrat) bagi saya adalah tak lebih kisah burung Nazar yang memakai bangkai.

Nah, selagi angin perubahan itu tak redup, kita berbenah dengan memulakan hal-hal sederhana yang bisa kita lakuan untuk kebaikan bersama. Tak perlu menunggu 2014 untuk mendapatkan pemimpin dan wakil rakyat yang berjiwa rakyat. Kita lihat dari dekat, apakah wakil Anda betul-betul memenuhi kehendak orang ramai? Jika tidak, kita akan senantiasa kebanjiran barang dari negeri luar, tanpa kita bisa mencegahnya karena kealpaan kita bersama. Betapa persekongkolan jahat antara wakil rakyat dan pengusaha telah mematikan napas alat produksi kita. Mereka bersekongkol mendatangkan barang dari luar agar mendapatkan keuntungan di atas angin. Masihkan Anda ingat kasus daging yang menimpa Partai putih itu?

Saturday, December 17, 2011

(H)ujung Minggu

Untuk keempat kalinya, kami menikmati tasik atau danau buatan D'Aman, yang berada tak jauh dari rumah. Gambar di atas adalah pengalaman kedua kami menyusuri lorong berkonblok. Dengan membawa roti untuk dilempar ke danau, kami berharap ikan-ikan itu berlompatan. Kegirangan tiba-tiba membuncah melihat ikan itu saling berebut dan secara bergantian melahap remahan roti. Pada pengalaman pertama, kami pernah menaiki kendaraan yang sering digunakan di lapangan golf untuk mengelilingi danau bersama keluarga Pak Bunyan.

Nah, pakaian berwarna kulit jeruk itu adalah pakaian keselamatan untuk mereka yang menaiki kayak atau perahu berbentuk binatang angsa. Untuk dua yang terakhir ini, kami belum menikmatinya. Tentu, kami masih ingin merasakan berada di tengah-tengah air sambih mengayuh dayung. Berbeda dengan kunjungan kedua di atas, pada kali keempat, pengunjung yang datang sangat ramai. Ada yang berlari, bermain layangan, duduk-duduk di tepi danau, dan sebagian yang lain memenuhi kursi kantin yang menyediakan kudapan dan minuman ringan.

Bagaimanapun, ruang publik seperti di atas merupakan katup dari pelepasan rutinitas yang membosankan, baik di tempat kerja maupun di rumah. Diharapkan, setelah berekreasi mereka akan menemukan kesegaran dan kebugaran dan kembali pada pekerjaan masing-masing. Kami sendiri pun memetik peluh karena berlarian sambil menikmati segala macam rupa pemandangan. Bayangkan, kalau kami memeram diri di rumah, hanya tembok putih, suara musik dan program televisi mengisi hari, yang tentu saja tak baik bagi hati kami. Kita hanya perlu keluar dari rumah untuk mendapatkan perasaan segar-bugar.

Friday, December 16, 2011

Nikmat itu adalah Membaca

Halim dan kelompok 3 yang membahas makalah bertajuk "Kaitan Hiburan Kapitalisme" membuka penjelasan hiburan dengan kutipan dari Mary Worley Montagu, no entertainment is so cheap as reading, nor any pleasure so lasting. Dengan lugas mahasiswa Falsafah dan Etika tersebut menjelaskan bahawa hiburan tak semestinya anggapan umum yang sebatas keseronokan, seperti musik, film, rekreasi. Dengan petikan di atas, hiburan yang murah seperti membaca layak diketengahkan.

Tapi, seperti gambar buku di atas, Climbing: Philosophy for Everyone, membaca memerlukan iltizam dan tubuh yang kuat, karena kita layaknya mendaki gunung-ganang untuk mencapai kepuasan. Oleh karena itu, kita sering melihat iklan layanan masyarakat yang mendorong khalayak untuk rajin membaca. Malangnya, iklan komersial lebih mendapatkan perhatian dan pengutamaan orang ramai. Betapa, pengguna (konsumen) tak berdaya menghadapi keperkasaan pengeluar (produsen) barang-barang, yang mungkin tak begitu diperlukan, tetapi dima(h)ukan karena pencitraan yang digambarkan terkait dengan keunggulan jenama (merek) yang ditawarkan.

Lalu, bagaimana dengan buku yang masih mahal, apakah membaca memang benar-benar kegiatan yang tak memerlukan uang? Tentu kita tak perlu membelinya apabila kita bisa mendapatkannya secara percuma dengan meminjam di perpustakaan. Bagaimanapun, kata Cicero, pemikir Romawi, kita akan meraih kehidupan yang sempurna dengan perpustakaan dan taman, tidak bererti (berarti) kita harus memiliki keduanya, karena kita bisa menikmati buku dan pepohonan di Perpustakaan Sultanah Bahiyah dan sekujur tubuh Universiti Utara.

Thursday, December 15, 2011

Mahasiswa dan Pergerakan

Bagi saya, prestasi mahasiswa tidak saja dipandang dari perolehan nilai A+ dalam ujian (peperiksaan), tetapi juga kegiatan yang ditekuni dalam masa perkuliahan. Asraf, misalnya, sebagai pelajar yang mengambil subjek Falsafah dan Etika, lelaki asal Kedah ini telah berhasil mewujudkan keterkaitan antara teori dan praktik, tanpa harus membolak-balik buku tebal filsafat secara keseluruhan. Tentu, ia perlu mendatangi perpustakaan untuk melihat kembali buku-buku filsafat yang begitu banyak di rak, namun pada waktu yang sama, ia akan ditakdirkan untuk memilih pemikiran yang dirasa nyaman dalam hidupnya.

Saya pun juga turu mendengar pelajar lain, Mohd Aizat, atau nama facebooknya Jat Jenin, yang merupakan pegiat mahasiswa, bersama teman karibnya Syauqi. Sekali waktu, saya pernah berbincang ringan dan santai di kantin seraya mereguk segelas minuman tentang isu-isu baru, misalnya pandangan orang ramai tentang kelompok terpinggir, seperti orang-orang yang mengalami masalah disorientasi seksual. Sebelumnya, lajang dari Pulau Pinang bercerita bahwa ia pernah bergiat dalam lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam pembelaan ODHA (Orang Dengan HIV AIDS). Tak dielakkan, pengalaman inilah yang mendorongnya untuk mengirim pertanyaan di twitter saya, apa pandangan saya tentang LGBTI?

Lalu, saya juga pernah berbual (baca dalam bahasa Malaysia) ringan dengan Sumayyah dan dua orang teman dekatnya. Karena berasal dari Johor, mereka bercerita bahwa di tanah berdekatan dengan Batam itu, warga Malaysia bisa menikmati acara televisi SCTV. Tak pelak, mereka bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Meskipun ketiganya merupakan kawan akrab, tetapi dalam beberapa segi, masing-masing mengusung pandangan yang berbeda tentang dunia fashion. Ternyata, kedekatan itu tak mensyaratkan kesamaan, tetapi pengertian (bukan pengartian, padahal kata dasarnya arti, bukan erti). Apa pun, mahasiswa itu ada karena mereka bergerak, tak diam di bilik seraya berharap bila masa kuliah yang menyebalkan ini usai.

Wednesday, December 14, 2011

Makanan Lokal dan Perlawanan

Kudapan di atas adalah makanan yang dibuat dari beras. Jipang, jajanan yang berwarna putih, masih disukai ibu saya hingga hari ini. Tapi, pernahkah kita menemukan pelbagai jenis jajanan di atas di mal? Kita hanya menemukannya di pasar tradisional atau toko pusat jajanan di pinggir jalan. Mengapa ia tak layak mengisi rak kedai di sejumlah mal? Adakah namanya yang tak gagah? Rasanya tak menendang lidah? Jawabannya tentu tak tunggal.

Lagi pula, setelah mengisi ruang mewah, apakah makanan itu akan berbeda rasa? Tentu, tidak. Malah, harganya akan semakin mahal berbanding di pasar. Belum lagi, penampi yang menjadi wadah itu jelas-jelas menggambarkan kerajinan tangan lokal yang perlu dilestarikan. Adakah ia akan dijadikan wadah untuk restoran mahal? Restoran mahal tentu lebih memilih bahan yang mengandung melamin yang berbahaya. Lalu, adakah kegairahan untuk memunculkan kembali masa lalu itu adalah bentuk perlawanan atau keputusasaan? Hanya karena tidak mampu membelinya, kita pun membela secuil yang kita punya? Sebagaimana, slogan yang diterakan di kaos (t-shirt) seorang mahasiswa yang baru melek pergerakan, "kehendak melawan kapitalisme adalah wujud kebosanan terhadap kemiskinan", diam-diam perlawanan itu berkelindan dengan kecemburuan sosial.

Makanan itu hakikatnya merupakan habitus, kebiasaan yang lahir dari latarbelakangan sosial bersangkutan. Mungkin, kita tak perlu risau hal-hal etis. Bagaimanapun boleh jadi makanan di atas menjadi menu di hotel mewah. Orang-orang kaya baru dari kampung tentu akan menikmatinya karena mereka kembali menemukan masa lalunya, meskipun harus merogoh kantong lebih dalam. Pendek kata, asupan itu bukan sekadar menghilangkan lapar, tetapi juga pemenuhan cita-rasa yang berkait dengan gengsi dan prestasi. Meskipun saya tak pasti, apakah orang-orang kaya dari kampung itu akan menggunakan tangan atau garpu ketika mengudap jajanan di atas. Tak hanya itu, mereka pun mungkin meletakkan serbet di paha agar remah-remah jajanan itu tak mengotori celana yang telah disetrika rapi dan licin agar tetap tampak elok di mata khalayak. Diam-diam, di ujung kursi sana, mata orang kaya sejati bergumam, "permata bisa dibedakan dengan kaca".

Monday, December 12, 2011

Kelab Rekreasi, Sukan dan Kebajikan

Hari Ahad lalu, sejumlah dosen dan staf di tempat saya bekerja mendirikan organisasi yang dinamakan kelab. Meskipun bersifat sukarela, Dr Ishak Din menjadikan perkumpulan ini sebagai wadah untuk berbagi sesama rekan terkait kegiatan olahraga, rekreasi dan kebajikan bersama secara sungguh-sungguh. Oleh karena itu, sebelum disahkan, semua yang hadir pada acara pada waktu itu membahas perlembagaan atau AD/ART agar kami mempunyai panduan untuk mewujudkan kehendak. Tak perlu lama, perlembagaan bisa diterima oleh semua pihak.

Sebagai wujud dari kebersamaan di atas, yang merupakan napas dari perkumpulan ini, salah seorang ustaz dari Pusat Islam UUM mengetuai pembacaan tahlil untuk rekan yang baru saja meninggal dunia dalam perjalanan pulang dari tanah suci. Dalam waktu 30 menitan, zikir dan doa telah dipanjatkan. Kami tentu merasakan kehilangan karena yang bersangkutan masih muda. Namun, Tuhan telah mengambilnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan tabah dan terus menjalani kehidupan dengan tegar.

Acara di atas diakhiri dengan acara ramah-tamah, seraya menikmati makanan dan minuman. Kami pun bertukar cerita di tempat terbuka. Tempat di atas memang sering digunakan untuk acara silaturahim antar staf. Kadang, acara-acara seperti ini menjadi pilihan yang menyenangkan setelah civitas academica disibukkan dengan kegiatan rutin resmi yang dihelat dalam gedung berpendingin udara. Meskipun kipas tetap dinyalakan, udara alamiah yang menembus leluasa di setiap sudut bangunan itu tentu lebih menyegarkan. Belum lagi, suara burung yang menyelingi dengus napas kami membuat suasana beitu menentramkan. Adakah kita memerlukan lebih dari ini untuk bergembira?

Sunday, December 11, 2011

Petani dan Padi


Setelah mengunjungi Musium Padi, tak jauh dari Gunung Keriang Kedah, saya meletakkan gambar di atas sebagai penghargaan terhadap para petani. Mereka telah bekerja keras agar manusia di dunia ini tetap bisa menarik napas. Hidup petani!

Friday, December 09, 2011

Kocor dan Masa Kecil

Untuk ketiga kalinya, saya mengambil kudapan kocor, kue berwarna coklat yang dibuat dari adonan tepung dan campuran gula Jawa atau Melaka. Pertama kali,ketika menemukannya di kantin kampus di bulan November, saya ingin melonjak karena kegirangan. Kalau tidak dilakukan, tidak berarti saya tak merasa gembira, namun tak elok berteriak di tengah orang ramai yang sedang menikmati makan. Ditemani surat kabar, saya menggigit kocor dengan nikmat.

Mengapa kocor begitu nikmat dan istimewa? Karena ia menyeret saya ke masa lalu, masa kecil di kampung halaman. Ia tak bisa dibandingkan dengan burger McDonald, karena yang terakhir ini dulu tak pernah hadir di lidah. Lagipula, kocor hanya hadir pada waktu tertentu, tidak setiap hari. Sekali waktu, ibu membawanya dari kenduri perkawinan tetangga. Di lain waktu, kami menikmatinya di perayaan Maulid Nabi. Lalu, perlukan saya menyebut bahwa kesukaan ini adalah nostalgia yang perlu dirayakan? Tak sama dengan panganan dari luar, kocor adalah wujud dari falsafah lokal, oleh karena itu ia harus diselitkan dalam bungkusan kue-muih sebagai bawaan pulang dari kenduri kawin.

Tapi, pernahkan kita mau menjadikannya setara dengan burger? Misalnya, ia disajikan di Mal yang berdinding kaca dengan gerai berjenama Kedai Tradisi. Apakah penolakan terhadap barang luar mencerminkan kecintaan pada milik sendiri ketika batas-batas keduanya luruh? Namun, saya yakin, kenyataan ini bisa diurai. Diam-diam, kita tak percaya diri bahwa milik kita sejajar dengan kegagahan makanan 'asing' dengan menyergah, sudah bukan masanya lagi kita berbicara batas. Sememangnya, siapakah yang mempunyai kuasa untuk menyatakan itu lebih baik dan sesuai denga kita?

Hanya pada saya, kocor itu jauh lebih menendang daripada burger di lidah. Terus terang, ketika saya menikmati burger di McDonald, saya senantiasa terbayang bacaan Fast Food Nation (Eric Schlosser, 2011) yang menyebutnya sebagai makanan sampah. Sementara kocor mengantarkan pada kenyamanan, karena ia adalah keriangan semata-mata. Selera itu tak lagi subjektif, tetapi memiliki cerita, yang kata Pierre Bordieau, sosiolog Perancis, habitus.

Monday, December 05, 2011

Bahasa Kita Tak Ringkas?

Bahasa Indonesia dan Malaysia tak terelakkan harus menyerap bahasa Inggeris, karena yang terakhir telah digunakan sebagai bahasa antarabangsa. Kadang dua bahasa menyerap begitu saja atau memindahkan konsep kata tertentu dalam bahasa sendiri, seperti kata locker di atas menjadi peti simpanan barang. Mengapa tidak peti saja agar padanan untuk locker juga ringkas? Adakah pembentukan kata dasar yang didahului awalan pe bisa mengandaikan susunan bahasa Inggeris lock+er? Mungkingkah pepeti?

Tak jarang, penggunaan bahasa Melayu dipinggirkan karena susunannya yang tak ringkas. Belum lagi, ikhtiar bahasa Indonesia dan Malaysia untuk kekal teperbaharui menyebabkan keduanya mengambil jalan mudah menyerap begitu saja atau membiarkan susunan aslinya. Kata 'fashion', misalnya, masih ditulis apa adanya dengan huruf miring 'fashion' dalam pelbagai karangan atau berita atau diserap dengan mengambil bunyi kata bersangkutan, fesyen. Sekali waktu, kita masih mendengar tata busana untuk menggantikannya.

Kehadiran sistem pesanan ringkas (short message system) dalam telepon genggam dan media sosial, seperti facebook dan twitter, telah mendorong orang ramai untuk lebih memilih bahasa Inggeris karena keringkasannya. Bayangkan, hanya untuk menyebut locker, kita perlu mengungkapkan tiga kosa kata dalam tiga tarikan napas. Lalu, mengapa bahasa Malaysia tidak menjadikan locker sebagai loker, sebagaimanna message berubah mesej? Bagaimanapun struktur kata dasar yang diakhiri dengan er dalam bahasa Inggeris menyulitkan kita untuk bersikap tegas. Sekali waktu, kita menerimanya, tetapi kita pun bisa mengandaikan struktur sendiri, yakni pe ditambah kata dasar. Tampaknya, kedua bahasa ini akan terus diuji dengan khazanah milik sendiri, meskipun orang ramai pun bisa menggugat, mengapa harus Sanskrit sebagai ukuran?

Lalu, mengapa kita tidak beranjak pada semantik? Makna itu jauh lebih penting daripada sibuk dengan urusan remeh-temeh terkait susunan bentukan kata. Kalau ahli bahasa dan orang ramai memperakui bentuk kata tertentu, bukankah tugas kita adalah bergulat dengan usaha menyepakati makna yang mungkin tersedia secara tersirat? Perlukah, kita menyoal locker, sementara para mahasiswa dan guru mereka bisa memanfaatkan tempat penyimpanan barang tanpa kebingungan dengan asal-muasal? Ehm, saya pun menghela napas, adakah cetusan ini sia-sia?

Saturday, December 03, 2011

Fasilitas Umum


Fasilitas Umum? Ya, telepon itu bisa digunakan oleh orang ramai. Namun, tak seperti dulu, banyak orang tak lagi memanfaatkannya, karena tergantikan oleh telepon genggam pribadi. Tapi, saya masih sempat sekali-kali melihat seseorang menggunakan kemudahan, kata Malaysia untuk fasilitas. Pada waktu yang sama, fasilitas awam (yang terakhir padanan dari umum) ini seringkali disebut harta awam. Dengan sendirinya, siapa pun harus menjaga dan merawatnya. Bukankah begitu, kawan?