Posts

Showing posts from June, 2010

Mall dan Ruang Publik

Image
Ruang publik merupakan arena interaksi diskursif, tempat pelbagai kelompok berbagi gagasan dan kepentingan untuk kehidupan bersama yang lebih baik. Mall sekarang telah menempati fungsi itu karena pelbagai kegiatan untuk keperluan khalayak juga dihelat di sini, seperti perbincangan tentang kehendak untuk membuat lingkungan lebih ramah lingkungan (sustainable environment). Gambar di atas adalah pelengkap dari sebuah ikhtiar untuk menghijaukan lingkungan di sebuah pasaraya, Pulau Mutiara. Bagaimanapun, masyarakat lah semestinya memelopori perubahan cara berpikir dan bertindak menghadapi pemanasan global yang diakibatkan percepatan teknologi. Jika masyarakat abai, maka kita memerlukan pemerintahan yang kuat yang bisa memaksa warga untuk menaati aturan penjagaan lingkungan.

Singapura berhasil melakukan itu. Indonesia tersengal-sengal mewujudkan masyarakat yang peduli terhadap sampah, misalnya. Demikian pula yang mendesak adalah undang-undang berkaitan dengan pembatasan rokok yang mangkrak h…

Mengurus TKI

Image
Jika segenap persoalan bisa dibicarakan dengan tenang, maka riuh rendah itu tak akan menjadi kegaduhan. Mereka sedang membincangkan jalan keluar dari kebuntuan komunikasi. Dari kiri, Pak Moenir Arisunanda, konsulat jenderal RI Pulau Pinang, Pak Fani Habibi, ketua Pokja TKI, Iqbal, pegiat advokasi buruh, Prof Madya Mad Yusoff, dosen komunikasi Universiti Sains Malaysia dan Prof Madya Arndt Graft, dosen tamu Sastra Bandingan dari Jerman di USM. Mungkin benar apa kata pembicara terakhir bahwa selagi persoalan ekonomi belum kelar, masalah TKI akan terus muncul ke permukaan.

Nah, berita Sinar Harian (28/6/10)tentang kemasukan 3000 pembantu rumah tangga dari Kemboja, Vietnam dan Filipina patut disambut gembira. Setelah Indonesia membekukan pengiriman tenaga kerja sektor ini, Malaysia mengambil pilihan lain. Sekilas, langkah ini bisa dilihat untuk mengukuhkan masyarakat ASEAN. Tapi, saya juga melihat kegagalan kementerian tenaga kerja Indonesia yang terlalu lama menggantung penyelesaian morat…

Menemukan Tujuan

Image
Kalau kita memiliki peta, tujuan itu bisa dicapai, tidak tersesat.

Mengekalkan Sejarah

Image

Jalan Kaki

Image
Kemarin, saya tak naik motor ke kampus, tapi berjalan kaki. Sebenarnya jarak rumah ke kampus tidak jauh, namun karena saya harus memutar, masa tempuh yang dihabiskan lebih lama. Malah boleh dikatakan saking dekatnya, tak lebih dari sepelemparan batu. Pagar telah menghalang kedekatan, namun tentu itu diperlukan untuk keamanan. Untuk menjalani ritual ini, saya sengaja menyetel radio, Sinar FM, radio lokal yang acapkali memperdengarkan lagu-lagu retro atawa lama. Di perjalanan, lagu Menghitung Hari Kris Dayanti menempati deretan lagu yang diputar. Langkah kaki ringan, karena pagi itu sisa basah hujan masih kuat. Udara segar menyerbu masuk rongga dada.

Niat hati untuk menikmati taman kampus dengan berjalan tak menjadi kenyataan. Di pintu masuk, teman Yaman, Ali, berhenti di pos satuan pengaman (satpam), menanyakan sesuatu pada petugas tersebut sambil menghentikan langkah saya. Lalu, setelah usai berbincang, dia mengajak saya untuk diantar ke tempat tujuan. Alamak! jadilah saya masuk ke mob…

Makan Malam dan Politik

Image
Makam malam adalah peristiwa biasa. Namun jika dilakukan dengan kawan, siapapun akan menemukan banyak cerita. Di sini, kehidupan bermula. Tak percaya? Tanyakan saja pada Mas Yun, Mas Yatno, Mas Ayi dan Mas Taufik. Di sini, saya berkumpul dengan orang yang mempunyai pelbagai keahlian, seperti politik, manajemen dan biologi. Namun, herannya latar-belakang itu tidak memenjara mereka untuk bertukar pendapat.

Perjalanan menuju ke tempat makan tentu merupakan permulaan ngobrol apa saja. Mas Ayi sengaja memutar lagu-lagu lembut. Tak jarang tawa berhamburan. Isu politik nyelonong begitu saja. Partai Demokrat membuat langkah penyegaran dengan merekrut orang-orang muda. Lalu, Partai Keadilan Sejahtera berusaha bergeser ke tengah. Setelah sampai di lokasi, Pak Yatno membuka sedikit 'data' penelitian di lapangan tentang prilaku politik lokal. Nah, di sinilah cerita-cerita yang beredar di warung kopi tak sepenuhnya omong kosong. Dari informan, mahasiswa PhD sains politik itu menemukan banya…

Klinik

Image
Kemarin saya pergi ke Klinik, berobat. Namun sebelum dokter menyapa, saya merasa nyaman melihat lingkungan klinik kampus. Sambil menunggu giliran, saya pun membuka buku, kadang berhenti sejenak untuk menikmati gambar abstrak berwarna. Anda mungkin bisa menafsirkan lukisan itu. Tak hanya di dinding itu, beberapa karya serupa menghiasi tembok di lorong menuju apotek. Jadilah, klinik itu tempat yang nyaman bagi pesakit. Demikian pula, di ruang tengah ada sejumlah sofa dan kursi untuk pengunjung.

Ketika mendaftar, saya pun bisa memilih dokter. Dengan nomor giliran di tangan saya akan melalui konter bagian pengukuran tensi, lalu bersiap-siap menemui dokter. Dengan catatan yang diterakan perawat, dokter masih menanyakan hal lain berkait dengan penyakit, lalu memberikan resep. Keramahan dokter ini turut mengurangi rasa sakit. Lalu, beranjak dari ruangan, saya pun bergegas ke apotek untuk mengambil obat. Selalu seperti itu.

Pulang dengan langkah ringan, saya melangkah ke tempat parkir dan menu…

Rapid yang Menyeronokkan

Image
Sambil duduk, saya mengambil gambar Bas Rapid Penang. Bersama calon penumpang lain, saya bersama Ibunya Nabiyya menunggu bus jurusan Sungai Dua (USM) bernomor 301. Tak lama, angkutan umum yang ditunggu pun datang. Duh, gembiranya. Ternyata, banyak orang yang menunggu dan kami pun tertib masuk melalui pintu depan. Dengan RM 4, saya memperoleh dua karcis, 2268 dan 2269, dan si kecil tak perlu membayar. Angin pendingin udara (air conditioner) menyergap, menerjang udara panas yang sempat hinggap di tubuh. Sepanjang jalan, mata ini menikmati lalu-lalang orang, perumahan, pertokoan, dan yang paling menyenangkan adalah pepohonan yang berdiri kokoh di pinggir jalan. Mereka seakan-akan menyangga jalan agar tidak oleng dilalui kendaraan berbadan besar.

Sebenarnya, bus ini mempunyai fasilitas wifi, namun tak seorangpun menaruh laptop di haribaan untuk berselancar. Rasanya asyik membuka internet di kendaraan umum, mungkin pada masa yang akan datang kami pun ingin mencobanya. Toh, laluan bus itu te…

Penafsir Permainan

Image
Ketika pemahaman kita terhadap materi permainan terbatas, hanya keyakinan dan harapan menyembul kuat. Siapapun yang menghadapi keadaan seperti ini akan berharap yang sama. Tim Thailand di bawah 15 tahun berhadapan dengan Villa 2000 Indonesia. Saya pun melemparkan pandangan mata, tak hanya ke arena, namun juga ke sekeliling. Terus terang, saya terpana dengan semangat Wiwik yang tampak berlari kencang dan terpendar semangat di wajahnya. Tak hanya itu, salah seorang official tim asal Tangerang ini selalu berteriak dari pinggir lapangan, memberikan instruksi agar para pemain mengikuti arahannya. Sementara, Pak Asir Siregar, ketua tim tampak tenang, tak satupun kata keluar.

Menunggu Giliran

Image
Hidup itu menunggu giliran.

Musuh dalam Cermin

Image
Meskipun musuh tampak jelas di seberang, sosok 'yang perlu' dihadapi adalah lawan yang bersemayam dalam diri.

Pengajian Mahasiswa

Image
Pengajian agama biasa menampilkan pembicara di atas podium dan jamaah duduk bersila, sekali-kali mengangkat lutut. Namun, kal ini, tidak. Sang ustaz cukup duduk dan jemarinya memainkan tuts komputer untuk menyampaikan materi melalui power point. Hebatnya lagi, mahasiswa PhD bidang teknologi makanan ini menyodorkan grafis dalam menerangkan hubungan agama dan budaya. Jadilah, saya mengerutkan kening. Alamak!

Kenapa Merokok Dilarang

Image
Menghisap asap rokok tidak hanya membahayakan tubuh, tetapi juga lingkungan. Gambar di atas saya ambil di tempat parkir. Saya tak habis mengerti mengapa perokok dengan mudah membuang puntung dan bungkus begitu saja. Padahal matahari telah meninggi, dan penjaga kebersihan telah menunaikan tugasnya. Sampah ini akan dibersihkan keesokan harinya. Tentu, pengunjung perpustakaan akan selalu bersirobok dengan bungkus rokok yang bertuliskan AMARAN dan gambar mulut hangus karena nikotin. Apakah Anda masih berdegil untuk terus membuat liyan tak nyaman dan menimbun penyakit untuk diri sendiri?

Kadang tebersit, seperti kata eksistensialis, hidup itu adalah pilihan yang memikul tanggungjawab sendiri. Jadi, perokok itu dengan sadar telah menanggung akibat yang akan ditimbulkan dengan mengasup asap. Ia telah menukar kesakitan yang mungkin muncul pada masa yang akan datang dengan kenikmatan, mungkin tidak sesaat. Masalahnya, ia juga harus menghormati kekebasan orang lain, yang tak ingin mereguk asap d…

Jalan Itu

Image
Tak pernah bosan melewati jalan ini.

Biyya dan Bola

Image
Saya membawanya menonton bola di stadion kampus. Meski tak sepenuhnya memerhatikan, si kecil menemukan gelegak, riuh-rendah dan tak jarang teriakan memekakkan telinga. Herannya, salah seorang penonton perempuan membawa anaknya yang masih 'bayi', mungkin 4-5 bulanan. Apapun, malam itu semua orang melepaskan penat dengan berteriak, bertepuk tangan dan akhirnya ada yang senang dan kecewa. Hidup tak jauh dari itu.

Asar

Sukarelawan

Image
Petugas medis ini acapkali tak diliput dalam sebuah pertandingan. Saya menerakannya agar mereka mendapatkan tempat untuk diceritakan hingga tuntas.

Wartawan Bola

Image
Di balik pertandingan olahraga, selalu ada kuli tinta. Mas Helmy dengan tekun mengikuti jalannya permainan. Beliau adalah wartawan dari KOMPAS. Selain koran dari Jalan Palmerah ini, ada lagi tabloid Bola, Mas Yosia, yang turut merekam jejak tim Villa 2000 menuju Old Trafford, Inggeris.

Rehat Sejenak

Image
Dua pekerja berhenti sejenak untuk menonton permainan sepak bola. Bekerja dan beristirahat memang perlu.

Indonesia vs Singapura

Image

Permainan Congkak

Image
Mungkin, gambar di atas samar-samar menyeret generasi 70-an pada masa kecil. Meski banyak dimainkan anak perempuan, dulu saya pernah melakukannya. Hanya dengan melubangi tanah dan batu kerikil, anak-anak di kampung bisa melakukannya. Waktu pulang ke kampung, saya tak lagi menemukan permainan congkak ini.