Wednesday, February 24, 2010

Ruang Rehat (2)


Kembali ke ruang istirahat perpustakaan, saya mengambil CD musik bertuliskan Sufi Music: Islamic Mystics harness the power of music. Lalu, saya bergegas menyebut nomor pada petugas untuk memainkan cakra padat itu. Seharusnya diam, saya tak perlu membaca buku Amartya Sen berjudul Rationality and Freedom. Seraya memejamkan mata, saya mencoba menikmati musik instrumental yang didominasi oleh gitar, fluit dan gendang. Hanya lagu pertama, selanjutnya lirik lagu mengiringi alunan bebunyian: Arab dan India. Mereka berbicara cinta, ruh, hati, dan kekasih. Kata teman, jangan berpikir ketika memanjakan rasa, agar dahi tidak berkerut. Ekstase itu masih di awang-awang, belum diraih. Atau perasaan nyaman yang menjalar itu sebenarnya puncak pengalaman, seperti digagas Maslow?

Nanti, saya akan kembali lagi untuk menikmati musik etnik dan tradisional di tempat yang sama, agar tidak melulu mendengar lagu populer yang berserak di radio dan televisi, sebab kata Theodor W Adorno, itu produksi massal yang cocok untuk kerumunan. Masalahnya, saya merasa nyaman dengan yang populer itu? Di ruang itu juga tersedia musik jazz, tetapi terus terang kuping saya tak akrab, paling-paling masih bisa dipaksa jika mendengar Andin dan Saharani bernyanyi. Mungkin ini terkait dengan masa kecil yang tak pernah bersentuhan dengan musik berat, sebab anak tetangga kos dulu, meski masih belajar di sekolah menengah, Aji, nama anak profesor itu, telah berceloteh tentang musik yang ditelorkan oleh kaum Afro-Amerika.

Lalu, mengapa saya bisa menikmati musik sufi itu? Karena, musiknya akrab di telinga, tak lebih dari nyanyian Arab dan India. Mungkin, keakraban itu lah kata kunci dari keterasingan. Pendek kata kata, tidak ada yang asing, sebab saya bisa berusaha untuk mengenalnya.

Sunday, February 21, 2010

Menemukan Intelektual di Media

Koran Tempo, 21 Februari 2010


Ahmad Sahidah PhD POSTDOCTORAL RESEARCH FELLOW PADA UNIVERSITAS SAINS MALAYSIA


Judul di atas tidak dimaksudkan untuk menjawab tulisan Dian R Basuki, “Di manakah Kaum Cendekia Kita?” (Koran Tempo, 7/2/10). Namun, ia hadir sebagai cara memandang lebih luas sosok cendekia. Tentu kita bisa merasakan kegundahan peminat masalah sains tersebut yang bermula dari ketiadaan jawaban dari hiruk pikuk perdebatan di ruang publik. hampir-hampir kepentingan politik berhasil menyembunyikan kejujuran. kehadiran para sarjana itu hanya menambah hingar bingar, bukan jalan keluar. Saya sendiri juga takjub, betapa media kita saban hari menghadirkan para ahli mengulas banyak isu, namun carut marut kehidupan di negeri ini bertambah sengkarut.


Kerisauan penulis juga bermuara pada intelektual muda yang berlomba-lomba menuju tangga kekuasaan. Magnet ini telah memerangkap mereka dan menjadikannya pribadi yang kelu. Namun, pernyataan ini tidak dengan sendirinya menafikan betapa banyak di luar sana kaum muda yang berpikir dan bekerja untuk sebuah perubahan. Mereka berkarya dan membincangkan gagasan baru untuk menjawab tantangan. Hampir setiap hari kita disuguhi beragam pandangan, baik di media cetak maupun televisi. Belum lagi, mereka yang bekerja di tempat sepi, yang tak terjangkau tangan-tangan media komunikasi.


Agar tak melulu pesimis, mungkin pengertian intelektual perlu dihadirkan. Edward Shil, misalnya, menegaskan bahwa sosok ini intelektual adalah orang yang memahami nilai-nilai tertinggi (ultimate values), baik yang bersifat kognitif maupun estetik, demikian pula hasratnya akan kesepaduan. Dia mempunyai kepekaan terhadap hal yang suci (the sacred), dan mencari serta hal yang acapkali berhubungan dengan simbol-simbol keseharian bukan konkret dan referensinya jauh melampaui ruang dan waktu. Meski tampak ideal, hakikatnya penulis The Intellectual and the Powers and Other Essays, memasukkan profesi dosen, seniman, pegiat dan wartawan sebagai sosok yang layak mendapatkan label intelektual.


Dengan demikian, tugas mengurai persoalan nilai berada di pundak siapa saja yang tak dikerangkeng oleh pandangan sempit dan mengutamakan keterjalinan pelbagai pendekatan. Boleh jadi kehadirannya mewakili kelompok tertentu, namun ia tidak menghalangi keterbukaannya untuk bertegur sapa dengan orang lain. Tidak susah menemukan mereka yang bekerja untuk tugas mulia ini. Kematian Gus Dur tidak berarti menenggelamkan mereka yang mempunyai pandangan terbuka dan gandrung kebebasan. Kepergiaan pembela multikulturalisme itu tidak secara otomatik mematikan api perjuangan.

Hanya saja, kebebasan pada waktu yang sama menantang suara intelektual sejati terdengar. Mereka yang anti-pluralisme pun mempunyai pemikirnya sendiri yang memproduksi gagasan melalui ceramah, radio, dan bahkan menyusup ke layar kaca. Bukankah kaum borjuis dan proletar juga telah melahirkan kelas intelektualnya sendiri? Patut diacungi jempol, jika media kita mencoba menengahi dua kelompok yang berbeda kontras ini untuk duduk bersama mendiskusikan isu yang sedang dipertaruhkan. Sayangnya, mereka yang selalu bersuara garang tak berubah, selalu saja dialog dianggap perang.


Namun tak dapat dielakkan, para intelektual pun berebut ruang di media. Mereka harus berlomba untuk tampil agar kebenaran memenangkan pertarungan. Masalahnya, khalayak yang beragam menuntut gagasan cemerlang itu tak perlu dibebani teori yang berlebihan. Effendi Ghazali akan membawa gaya bicara di depan televisi dengan bahasa kebanyakan, berbeda dengan tulisan kritisnya yang dimuat di koran. Jadi, tuntutannya sekarang adalah sejauh mana para intelektual itu menyampaikan pesan di medium yang berbeda. Jauh dari sekadar tuduhan liar tentang selebritas intelektukal, keterbukaan ruang ini membuat siapapun bisa menagih satunya kata dan perbuatan.


Tentu, intelektual yang disodorkan oleh Dian dalam tulisannya layak mendapatkan penghormatan. Soedjatmoko, Kuntowijoyo dan Sartono Kartodirdjo telah memainkan peranan penting sebagai mercusuar keadaban. Buah pikirannya telah mengilhami generasi intelektual sesudahnya. Namun, pada waktu yang sama, kita juga memerlukan intelektual yang menjadi kaki untuk menerjemahkan pemikiran para begawan. Selanjutnya mereka tampil di pelbagai lini kehidupan. Mengharamkan mereka memasuki kekuasaan hakikatnya mengebiri gagasan menjadi tindakan. Bukankah Václac Havel, bekas presiden Ceko, tidak menampik ketidak didaulat sebagai presiden?


Nah, dengan membuka ruang yang luas bagi peran intelektual, maka wajah muram debat publik yang menghiasi layar kaca setiap hari memantik sepercik harapan. Bagaimanapun, program ini telah memberikan kesempatan luas kepada masyarakat untuk aktif dan belajar bagaimana menyelesaikan persoalan. Paling tidak, mengikuti Jürgen Habermas, kesediaan pelbagai kelompok yang berseberangan untuk duduk satu meja mencerminkan proses komunikasi yang efektif, yaitu kesetaraan. Kehadiran moderator telah mengajarkan pembela kebenaran itu untuk mendengar dan sejajar di hadapan kelompok yang lain.


Demikian pula, kehadiran intelektual dalam acara pertunjukan wicara (talk show) yang menghibur, seperti Kick Andy (Metro TV) atau Satu Jam Lebih Dekat (TV One), memberikan pelajaran berharga bagi khalayak luas untuk turut merasakan apa yang dipikirkan oleh panutan mereka. Coba lihat, seorang intelektual pun adalah orang biasa yang mempunyai teman-teman biasa pula, sehingga terkesan manusiawi. Di sini, pikiran-pikiran cemerlang lebih mudah dikomunikasikan karena tak terganggu oleh aturan akademik yang kaku. Bukankah, sebuah gagasan itu bukan untuk diperam, tetapi disebarkan? Menjadikan gagasannya terpatri dalam buku hanya membuatnya dibaca segelintir orang.


Bagi saya, Mario Teguh dalam acara The Golden Ways telah berhasil menyemai ide tentang kearifan dengan bahasa yang mudah dicerna oleh orang ramai. Kehadirannya malah menantang para filsuf yang selalu berasyik-masyuk dengan neologisme rumit, yang pesan-pesannya hanya bersemayam di buku dan bundelan jurnal berdebu. Sejatinya, mereka yang bergelar orang pintar memanggul amanah untuk menjadi penerang bagi masyarakatnya. Bukankah para intelektual itu juga sebagian ada yang berperan sebagai penceramah dan pendeta? Tidakkah kata Stephen Hawking, penulis A Brief History of Time, puncak dari pencapaian pengetahuan adalah ketika pesan-pesannya bisa dipahami oleh setiap orang?


Bagaimanapun, kebebasan media yang dinikmati setelah era reformasi merupakan berkah. Isu yang selama ini dilipat telah mendapat tempat. Tak ada lagi patgulipat. Para intelektual diberi panggung untuk mengabarkan apa yang dipikirkan. Diam-diam, mereka sebenarnya sedang berusaha menyampaikan apa yang selama ini menjadi kegelisahan, apa yang disebut Dian, intelektual sejati. Rasanya, tidak terlalu sulit untuk merasakan ketulusan mereka yang acapkali tampil menyapa kita setiap hari. Namun, tidak jarang pula kita menemukan intelektual yang berburu kekuasaan sesaat turut mematut diri. Tetapi, adakah jutaan orang bisa dibohongi?

Friday, February 19, 2010

Ruang Rehat


Inilah ruang istirahat jika pengunjung perpustakaan kampus ingin mengendorkan urat saraf. Setelah bergelut dengan buku, mereka bisa duduk manis sambil mendengarkan pelbagai jenis musik, dari pop sampai klasik. Tinggal memilih lagu yang disukai, siapapun hanya perlu mencatat di buku dan petugas akan memutarkan lagu kesukaan.

Wednesday, February 17, 2010

Kecabulan dalam Politik

Koran Surya, 17 Februari 2010

Ahmad Sahidah
Postdoctoral Research Fellow pada Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan,
Universiti Sains Malaysia

“Politics can’t be any diertier of a job than the one I am already in,” Stormy Daniels, Porn-film star, on running for Lousiana US Senate seat held by Dave Vitter (Times, 23 Februari 2009).

Kalimat di atas semacam ironi karena “kesucian politik” disindir justru oleh seorang pemain film cabul, Stormy Daniels. Atau boleh jadi makna pernyataan itu adalah bahwa politik termasuk bidang yang sama kotornya dengan profesi Stormy Daniels. Ini semua tergantung pada konteks yang melingkarinya. Namun, jamak diketahui politik acapkali menghalalkan segala cara. Untuk meraih jabatan, politisi harus memoles dirinya agar tampak cantik di mata orang dan akhirnya dipilih dengan cara yang tak jarang culas.

Tapi, benarkah dunia politik senaif itu? Pada dasarnya, politik adalah proses kontestasi kekuasaan secara berkeadaban. Kehadiran politikus diharapkan menjadi perantara agar suara masyarakat menemukan saluran. Namun, jalan ke arah itu telah menimbulkan keluhan karena sifat ‘kotor’ itu melekat pada praktik meraih kedudukan, seperti sejak awal, para calon itu telah merusak pohon.

Poster yang ditebarkan telah merusak pohon dengan pemakuan gambar atau selebaran janji-janji. Banyak ruang publik tampak kotor oleh selebaran yang tak sempat dibersihkan. Celakanya lagi, setelah terpilih, para politikus dianggap sebagai biang masalah. Carut marut penyelesaian Undang-undang bukan rahasia umum lagi, belum lagi kongkalingkong untuk meloloskannya dengan uang sogok, praktik yang telah mengantarkan sebagian anggota dewan yang ‘terhormat’ itu ke bui.

Malah, sebagian lain menjadi makelar (broker) proyek tidak halal yang telah makin menebalkan kantong uangnya, lagi-lagi sebagian telah mendekam di hotel prodeo. Sekarang, berita tentang separuh anggota DPR yang tidak mempunyai nomor pokok wajib pajak (NPWP) telah menambah daftar wajah muram politikus.

Menyoal Anggaran

Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) menegaskan bahwa anggaran DPR untuk 2010 sarat dengan hura-hura. Dana tersebut dialokasikan untuk acara kunjungan ke luar negeri dengan pelbagai dalih. Mulai dari studi komparasi, kunjungan kerja, kunjungan kerja spesifik, hingga delegasi kunjungan parlemen ke luar negeri.

Menurut Sekretaris Jenderal Fitra, Yuna Farhan, minimal akan ada 58 kunjungan ke luar negeri dengan anggaran lebih dari Rp 100 miliar tahun ini. Maruarar Sirait, anggota Badan Anggaran DPR, membenarkan perjalanan ke luar negeri sepanjang ia bisa dipertanggungjawabkan. Masalahnya, benarkah mereka bisa memanggul amanah?

Tentu kenyataan di atas menambah sikap antipati rakyat terhadap prilaku anggota dewan. Betapa tahun-tahun sebelumnya, kunjungan anggota parlemen ke luar negeri telah menimbulkan kritik keras dari pelbagai pihak, namun mereka bergeming. Selain biaya yang sangat besar, hasil kunjungan yang dilakukan juga tidak dipertanggungjawabkan.

Lagipula, mereka mempunyai staf ahli yang bekerja dan dibayar mahal. Di tangan para sarjana inilah seharusnya anggota DPR mengasup bahan yang diperlukan untuk menunaikan tugas. Demikian pula, di era informasi, siapa pun dengan mudah mengumpulkan maklumat untuk mendapatkan sebanyak mungkin data bagi keperluan kerja dewan.

Sepatutnya, dengan keuangan negara terbatas, mereka tidak menghambur-hamburkan anggaran. Kalaupun begitu berhasrat untuk jalan-jalan, gaji dan tunjangan mereka lebih dari cukup untuk memenuhi keinginan berpelesiran. Adalah aneh jika mereka tetap memaksakan program yang tidak ada manfaatnya sama sekali bagi khalayak luas. Tentu, anggota parlemen yang masih mempunyai nurani dituntut untuk menyangkal kunjungan seperti ini. Jika dipaksakan, mereka yang menyandang wakil rakyat itu tidak lebih dari orang udik yang ingin terpandang dengan bertandang ke luar negeri.

Menyoal Anggaran

Salah satu tugas anggota dewan adalah menjadi wakil yang tanggap dengan hal ihwal konstituen. Tentu tugas-tugas pokok lainnya juga menuntut kesungguhan, yaitu pengawasan, anggaran dan legislasi. Seperti dijelaskan oleh Patrick Zieganhain dalam The Indonesian Parliament and Democratization (2008) berkait dengan fungsi keterwakilan bahwa mereka harus memerhatikan kepentingan khusus yang ada di kawasan yang mereka wakili.

Keberhasilan pemilihan kembali tergantung pada kemampuan wakil bersangkutan dalam memerantai dana dan pelayanan pemerintah dengan konstituennya. Bagaimanapun, posisi anggota legislatif sangat diperhitungkan karena mereka memiliki akses pada departemen pemerintahan pusat dan anggota-anggota pemerintahan yang tidak diragukan lebih besar dibandingkan warga kebanyakan.

Sayangnya sebagai mediasi, mereka acapkali menuntut komisi. Alih-alih membantu daerah mendapatkan anggaran, mereka telah menjadikan daerah pemilihannya sebagai sapi perahan. Sepatutnya, kehadiran mereka betul-betul menjadi wakil yang turut meringankan beban, bukan malah menjadi beban. Di sini, masyarakat luas berhak untuk mendapatkan akses apa yang telah dilakukan wakilnya.

Selagi hubungan konstituen dan wakilnya selesai setelah penghitungan surat usai, maka ikatan batin antara mereka tidak kokoh. Boleh jadi, sistem pemilihan kita yang bersifat distrik proporsional tidak melahirkan calon yang betul-betul mewakili sebuah kawasan.
Andaikan pemilihan anggota DPR itu mensyaratkan dua kursi, calon yang kalah bersabar dan yang menang betul-betul memikul tanggung jawab. Di sini, kepercayaan pemilih tumbuh subur. Mereka akan menilai apakah nantinya wakil tersebut benar-benar memperjuangkan kepentingan masyarakat, sehingga perlu dipilih kembali atau dihukum dengan tidak dicontreng. Siapa yang bersih dan berdedikasi akan terpilih. Jadi, siapa bilang politik itu dengan sendirinya kotor atau cabul?

Saturday, February 13, 2010

Burung Hitam


Gambar burung berwarna hitam itu saya ambil ketika sedang tepekur di depan komputer. Karena dihalangi kaca, ia tidak merasa kalau sedang disorot kamera. Sampai hari ini saya tak tahu namanya, namun kehadirannya acapkali menyita. Suaranya pendek, tak seindah burung jalak. Hampir di setiap pojok kampus, hewan ini bisa ditemukan. Tak hanya nama binatang bersayap itu, nama pohon tempat ia bertengger, saya pun tak mengenalinya.

Heran, saya bisa menikmati nyanyian burung yang saya tak tahu riwayatnya dan warna hijau daun pohon yang tegak berdiri di depan jendela. Ya, pohon yang memiliki bunga berwarna merah menyala. Memang, tak setiap pohon diberi papan nama, seperti pohon Semarak Api di depan kantor pos. Meski tak kenal, saya menyayangi keduanya, hingga hari ini.

Friday, February 12, 2010

Melihat Kajian Islam Negara Tetangga

Sumber: Solo Pos, 12 Februari 2010


Ahmad Sahidah

Postdoctoral Research Fellow di Universitas Sains Malaysia


Perbincangan Kajian Islam keindonesiaan perlu mendapat keutamaan dalam wacana keagamaan. Meskipun kehadiran Islam Liberal atau Revivalis tidak dapat dielakkan karena pengaruh kesarjanaan Barat dan Timur Tengah yang begitu kuat, apatah lagi keduanya dipandang sebagai kuasa akademik yang telah mewarnai pergolakan pemikiran di seluruh pelosok dunia Muslim, namun sejatinya kekuatan dua kubu ini tidak menjadi penghalang tumbuhnya kelompok baru. Bagaimanapun, masing-masing mempunyai peran dan ranah yang diperlukan untuk akhirnya masyarakat menemukan sintesis yang makin meneguhkan penghayatan keagamaan mereka.


Harus diakui kegairahan untuk menghidupkan perbincangan isu keagamaan di sini membuncah, di mana kedua kelompok yang berseteru sama-sama berupaya agar pandangannya mengisi ruang publik secara dominan. Pendukung kedua belah pihak sama-sama merayakan kebesarannya masing-masing. Pada masa yang sama, muncul kelompok penengah yang mencoba untuk keluar dari kebuntuan ini. Mereka menamakan dirinya Progresif, yang percaya bahwa sudah saatnya umat menerjemahkan idealisme sosial di dalam al-Qur’an dan ajaran Islam ke dalam sebuah tindakan yang berkait dengan keadilan sosial. Lebih jauh, komunitas Muslim secara keseluruhan tidak bisa mencapai keadilan tanpa menjamin keadilan bagi perempuan Muslimah (Omid Safi, 2003).


Menengok liyan


Selama belajar di Universitas Sains Malaysia, saya tidak menemukan kegiatan seminar di kampus yang mencoba untuk mendatangkan para sarjana Muslim kritis seperti Abdullahi al-Naim, Abu Fadl, Nasr Abu Zayd dan Mohammed Arkoun, sebagaimana banyak dilakukan banyak kampus Indonesia. Di sana, kesarjanaan Islam Malaysia tidak bisa dilepaskan oleh bayang-bayang kebesaran Naquib al-Attas yang dikenal dengan gagasan Islamisasi pengetahuan. Boleh dikatakan sarjana negara tetangga lebih menitik beratkan kajian keislaman pada persoalan praktis, seperti ekonomi Islam, produktivitas zakat dan pengelolaan haji yang efektif.


Demikian pula, di media kita tidak menemukan diskursus keagamaan yang diperebutkan oleh banyak aliran sebebas di sini. Bahkan, Sisters in Islam, Lembaga Swadaya Masyarakat yang dianggap pengusung aliran liberal, tak bisa meninggalkan kepercayaan arus utama dengan mengasuh satu rubrik konsultasi berkait dengan isu wanita di harian terkemuka Utusan dengan tetap memanfaatkan undang-undang syariah yang diberlakukan di negeri jiran. Namun tetap saja, ulama, institusi agama dan perguruan tinggi tidak memberikan ruang pada NGO yang dimotori oleh Zainah Anwar ini untuk menyuarakan gagasan di khalayak lebih luas. Malah, mereka merekomendasikan agar lembaga yang berbasis di Petaling Jaya ini dibubarkan.


Para sarjana Muslim di sana lebih banyak menekuri kembali tradisi khazanah Muslim dan mencoba untuk menyalakan semangat Andalusia di mana kajian keilmuan Islam mencakup pelbagai disiplin. Menjadi sarjana Muslim tak cukup hanya dengan hanya menekuni ilmu-ilmu keislaman yang telah mapan, tetapi juga sains dan teknologi. Oleh karena itu, banyak sarjana mencoba untuk mengkaji banyak isu dengan pelbagai disiplin, tentu saja sarjana disiplin lain dilibatkan untuk menerjemahkan pesan Islam tentang pelbagai isu. Malah, warisan Mohammad Natsir tetap dilestarikan dengan pelbagai kegiatan, seperti penyelenggaraan konferensi pemikiran tokoh Masyumi dan Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII) ini di Kolej Universiti Islam Selangor yang dihadiri oleh Anwar Ibrahim, ikon reformasi, dan pemikiran Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan HAMKA diapresiasi dengan penerbitan kembali karya ulama yang juga novelis ini.


Teori dan Praktik


Sebenarnya, secara teoretik, diskursus keislaman berpijak pada tujuan syariah (maqasid al-syariah), namun praktiknya bagaimana memelihara agama, nyawa, akal, kehormatan, dan harta telah menimbulkan pertikaian pendapat, yang justeru tidak banyak tempat untuk diperdebatkan. Keasyikan berselisih pendapat mengenai kawin antaragama, kebenaran mutlak dan negara Islam, sebenarnya hanya memperlihatkan kegenitan kalau tidak berupaya mencoba mengurus persoalan khalayak yang lebih besar berkait dengan kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan.


Keberhasilan Malaysia dalam mengurus haji melalui Yayasan Tabung Haji sebenarnya tidak dilepaskan dari tangan-tangan terampil dalam bidang ekonomi dan manajemen. Jadi, persoalan haji tidak hanya menjadi wewenang sarjana agama, tetapi juga ahli lain yang terkait dengan pengurusan keperluan calon jamaah haji dari hulu ke hilir. Di sana, para sarjana tidak mengotak-atik hukum haji dengan menggugat kewajiban dan kemungkinan waktunya tidak hanya pada bulan Dzulhijjah saja, sehingga bisa menghindari kesesakan, justeru mereka menjadikan haji sebagai tantangan untuk menaikkan produktivitas, dengan mendorong pihak terkait menginvestasikan dana keuntungan pengelolaan haji dalam bidang perkebunan, perhotelan dan kegiatan ekonomi lain, dan bahkan mendorong para sarjana untuk membuat pengurusan haji lebi baik. Dari keuntungan inilah, rata-rata calon jamaah haji Malaysia mendapatkan pelayanan lebih baik dibandingkan sejawatnya dari Indonesia, berkaitan dengan penginapan, catering dan transportasi.


Demikian pula manajemen zakat yang melibatkan banyak sarjana ekonomi dan manajemen telah membuat Lembaga Zakat di pelbagai negara bagian menangguk dana yang melimpah. Dana tersebut telah banyak membantu kaum fakir Miskin, sehingga gubernur Selangor pernah mewacanakan untuk membagikan hasil zakat tersebut kepada warga non-Muslim, meskipun akhirnya ditentang banyak pihak. Dengan dana ini juga, banyak para pelajar yang mendapatkan faedah dari zakat melalui pemberian beasiswa. Perolehan dana yang besar itu disebabkan lembaga yang tidak hanya bertumpu pada zakat perorangan tetapi jaga zakat profesi dan perusahaan.


Adalah tidak salah membongkar kembali kemapanan sebuah dogma, namun pada waktu yang sama seharusnya kritisisme itu mempunyai jalan keluar mengubah keadaan. Justeru, penglibatan sarjana Muslim bidang lain dalam isu keagamaan merupakan solusi dari kebuntuan nilai-nilai formalitas yang dianggap melumpuhkan spirit nilai-nilai luhur. Selagi persoalan agama hanya dibingkai dalam perdebatan etik dan epistemologi, tanpa beranjak pada praktik, maka nilai-nilai pembebasan dari agama itu sendiri telah dikebiri. Jika tujuan syariah itu sendiri adalah memperbaiki kualitas manusia, maka diskursus keagamaan itu perlu memerhatikan pelbagai aspek. Dengan kata lain, Ia tidak terjebak pada gagasan untuk gagasan, tapi untuk tindakan dan perubahan. Kesadaran inilah yang tampaknya mendorong banyak sarjana di sana mengkaji Islam dari buminya sendiri.

Tuesday, February 09, 2010

Pasukan Irak di Kampus


Pasukan yang dimaksud adalah tim sepakbola mahasiswa Irak di kampus. Mereka tampil dalam pertandingan futsal untuk merayakan hari mahasiswa pascasarjana Universitas Sains Malaysia. Meski matahari hampir bergeser tepat di atas kepala, pemain tetap bersemangat untuk terus mengocek bola.

Sunday, February 07, 2010

Mempromosikan Jakarta

Koran Jakarta, 6 Februari 2010


Ahmad Sahidah

Postdoctoral Research Fellow pada Universitas Sains Malaysia


Tahun 2009 lalu, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mengiklankan visit Indonesia 2009 di televisi 3 Malaysia, kotak kaca yang paling banyak ditongkrongi warga jiran. Dengan menggunakan ikon Adibah Noor, artis lokal ternama, diharapkan keindahan negeri ini akan lebih mudah dipahami warga di sana. Beberapa situs yang ditampilkan di antaranya adalah Tanah Abang, Ancol, TMII, dan Museum Jakarta. Lalu, pada iklan berikutnya juga ditawarkan Yogyakarta dan Makasar. Tentu, pemilihan Jakarta adalah wajar mengingat ibu kota tesebut merupakan daerah tujuan wisata pertama setelah Bali. Pengambilan gambar lokasi yang apik tentu akan menerbitkan liur siapapun untuk segera bisa menikmati kota yang dulunya bernama Batavia.


Saya mencoba membuka situs yang memberikan informasi tentang dunia turisme Jakarta di alamat www.tourism-jakarta.go.id. Dengan memberikan empat kategori besar, kuliner, situs bersejarah, budaya dan pusat belanja, para wisatawan diharapkan bisa leluasa dalam memilih pelbagai menu yang ditawarkan. Dengan tulisan Enjoy Jakarta, pihak terkait ingin menampilkan pesan bahwa di sinilah para ‘wisatawan’ akan menikmati suguhan yang ditawarkan. Sayangnya, hingga tulisan ini dibuat, akses ke pendidikan dan rumah sakit belum bisa dibuka, hanya tertulis coming soon. Padahal dua yang terakhir ini bisa dimanfaatkan untuk mendukung pariwisata dalam kedua bidang yang dimaksud.


Tapi, masalahnya, pintu masuk ke Jakarta, Bandara Internasional Soekarno Hatta, menimbulkan rasa tidak nyaman. Padahal, inilah gerbang pertama yang menerima kedatangan orang luar. Selain atapnya rendah, pemilihan warna gelap memberikan kesan muram dan desain interior dan eksterior yang tak jelas, apakah tradisional atau modern mengganggu pemandangan. Bandingkan dengan Kuala Lumpur Internasional Airport (KLIA) yang sepenuhnya mengadopsi desain modern dengan langit-langit yang menjulang tinggi. Siapa pun yang datang akan merasa bernapas lega, meskipun begitu banyak penumpang berhamburan. Dengan warna terang, ruangan tampak luas, berbeda dengan warna gelap yang membuat ruang terasa sempit.


Negara tetangga ini sebenarnya bisa dijadikan rujukan dalam pengembangan dunia pariwisata di sini. Tidak saja negara bekas jajahan Inggeris tersebut mampu mendatangkan turis hingga 20 juta, angka yang hampir menyamai jumlah penduduknya, tetapi kemampuan kerjasama antardepartemen untuk menyukseskan program visit Malaysia. Dalam sebuah kesempatan, saya bersama mahasiswa Indonesia pernah mengalami kejadian unik. Dalam sebuah perjalanan ke Cameron Highland, sebuah puncak wisata di daerah Pahang, tempat kelahiran Siti Nurhaliza, kami dihentikan oleh polisi, yang ternyata tidak melakukan razia, melainkan membagikan souvenir bertuliskan visit Malaysia 2007. Sesuatu yang tak biasa terjadi di sini.


Tak ada kemacetan yang parah menuju Cameron Highland seperti Puncak Bogor. Jalannya lebar dan pengguna jalan tertib. Kami pun bisa menikmati kebun teh dengan leluasa, selain pelbagai tanaman buah-buahan. Boleh dikatakan, sebagian besar pengunjung adalah orang lokal. Ini disebabkan promosi yang genjar dari kementerian pelancongan untuk mengajak warganya menikmati hari libur atau di sana lebih dikenal dengan cuti. Setiap pengunjung tentu merasa nyaman karena bisa berjalan tanpa diganggu penjual asongan sebagaimana banyak tempat wisata di sini. Bukankah kenyamanan itulah yang dicari pelancong? Adalah tidak keliru jika Mahathir Muhammad, bekas Perdana Menteri Malaysia, menyebut Jakarta sebagai frenetic life (kehidupan hingar bingar) dalam blognya (25/1/10), dan bahkan menyarankan warganya untuk ke Makasar, di mana banyak ditemukan pantai yang cantik, penginapan yang indah, makanan lain yang melimpah dan penduduknya yang ramah.


Keberhasilan Malaysia dalam mengelola pariwisata sepatutnya mendorong pihak terkait di sini untuk mempertimbangkan sebagai negara contoh. Dengan karakter pengelola yang sama, yaitu dunia Melayu, selayaknya Jakarta mampu bersaing secara sehat dengan Kuala Lumpur untuk meraup devisa dari sektor ini. Apatah lagi, kekayaan budaya, luas area dan kebebasan Jakarta melebihi ibu kota Malaysia, sehingga para wisatawan akan lebih banyak memilih destinasi yang dinginkan. Mungkin juga, para anggota dewan perwakilan rakyat perlu melirik Kuala Lumpur untuk melakukan studi banding, selain dekat juga tidak mahal. Daripada jauh-jauh ke Amerika atau Eropah, para wakil rakyat itu tentu lebih layak mencari perbandingan ke negara tetangga.


Teman Malaysia saya, Aqil Fithri, tampak tidak bisa menyembunyikan kekesalannya bahwa dia harus banyak menghabiskan waktu di jalan. Selain transportasi yang terbatas, ketertiban acapkali diterabas sehingga membuat kebat-kebit penumpang. Adalah tidak salah jika, Paman Tyo, pemilik blog www.antyo.rentjoko.net ini, menyatakan bahwa masalah di Jakarta adalah jarak, transportasi dan waktu (9/9/09). Pengalaman saya sendiri menikmati angkutan umum di Jakarta menegaskan masalah tersebut. Tak hanya itu, saya acapkali disergap waswas. Tidak saja pengemudi menjalankan angkutan umum dengan ugal-ugalan, tetapi jarak antara kendaraan yang begitu dekat.


Nah, jika moda transportasi dan prilaku pengendara tidak diperbaiki, maka ia akan menjadi berita buruk bagi calon wisatawan yang lain. Malah, dana besar yang digelontorkan oleh pihak pariwisata untuk mendongkrak jumlah wisatawan akan mubazir. Padahal Maskapai Penerbangan Air Asia jurusan Kuala Lumpur dan Jakarta telah melayani rute ini sebanyak enam kali, sebuah jadual penerbangan yang cukup padat untuk menjaring wisatawan asal negeri tetangga. Demikian pula, jika tingkat kenyamanan tak kunjung membaik, maka upaya menaikkan pendapatkan dari sektor pariwisata sia-sia. Padahal, biaya untuk menjual Jakarta di luar negeri cukup besar. Bagaimanapun, Rhenald Kasali, pakar manejemen UI, mengusulkan bahwa pemerintah harus lebih serius untuk menggarap potensi kedatangan wisatawan dari negara tetangga.


Jauh dari itu, kematangan warga di sini dalam mengungkapkan pendapat perlu dipertimbangkan kembali. Kecenderungan anarki masyarakat dalam melakukan aksi hanya berbuah citra tidak aman bagi negeri ini. Demikian pula, tindakan ngawur Benteng Demokrasi Rakyat melakukan aksi sweeping (di sana disebut sapu) telah menimbulkan respons emosional dari Kuala Lumpur. Meski hanya dilakukan di Jalan Diponegoro oleh segelintir orang, dampak pemberitaan di media telah menyulap kekhawatiran yan g meluas di kalangan warga serumpun. Bahkan, beberapa agen perjalanan telah membatalkan kunjungan wisatawan Malaysia karena isu yang terakhir ini. Tentu, keadaan yang seperti tidak dinginkan oleh banyak orang. Lalu, mengapa Jakarta tidak membuka pintu lebar-lebar untuk saudaranya dengan ramah?